Feature Story News

Usianya sudah tak muda lagi, 65 tahun. Rambut putih berhias di kepalanya. Jalannya sudah tak setegap sejak beberapa bulan yang lalu. Penyak...

Luwu Timur di Mata Seorang Perantau

Usianya sudah tak muda lagi, 65 tahun. Rambut putih berhias di kepalanya. Jalannya sudah tak setegap sejak beberapa bulan yang lalu. Penyakit tua sudah mengerogoti persendian tulang di bagian kakinya. Namun, pria ini tetap saja tak pernah perduli. Ia tetap saja melangkah menelusuri lorong Kota Jakarta.

Pria ini punya nama yang sangat singkat; Nibe. Dia merantau ke pulau Jawa pada saat terjadinya peristiwa Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Sulawesi Selatan pimpinan Kahar Muzakar pada era tahun 1950-an dan akhir tahun 1960-an. Di perantauan, dia menambahkan identitas di belakang namanya; Nibe Ruslan.

Tahun 1955, Ia melarikan diri ke Jakarta. Saat pasukan TNI pimpinan AE. Kawilarang yang memimpin penumpasan DI/TII di Sulawesi Selatan. Sebagai anggota pasukan dari Kompi V wilayah Tenggara DI/TII, kondisi pasukan pemberontakan sudah dalam posisi terjepit.

“Malili menjadi wilayah yang relatif aman dibandingkan daerah lainnya yang merupakan kawasan pergerakan pemberontakan. Dan belum ada istilah DI/TII. Dulu hanya mengenal pemberontakan atau gerombolan,” kenangnya.

Begitu panjang kisah perjalanannya. Ia tidak mampu merunut satu persatu kisah hidupnya. Yang mudah dikenang, Malili hanyalah satu kecamatan di bawah wilayah pemerintah Kotamadya Luwu. Dan Malili adalah sebuah wilayah yang belum berkembang pesat, nama oleh Belanda sudah dinyatakan sebagai kawasan kota.

Dan yang paling mudah dikenangnya, kegagahan Pergunungan Velbek. Dari puncak gunung ini, terlihat ularan Sungai Malili yang menjuntai terus hingga ke laut. Di puncak ini juga, pemandangan rumah penduduk yang kebanyakan dari kayu yang sederhana, serta perahu kayu (ketinting) yang melintas di sungai. Hamparan perbukitan berwarna hijau, seakan terhampar begitu indah.

“Yang paling awet sampai sekarang, Jembatan Malili. Dari sejak zaman kekuasaan Belanda, jembatan gantung itu masih terlihat kokoh,” ujarnya.

Di usia yang sudah senja, Nibe masih ingat benar situasi Luwu Timur tempo dulu hingga kedatangan terakhirnya tahun 2004. Pria yang dilahirkan dari cerita legenda daerah, dari sebuah dusun yang menjadi cikal bakal daerah itu, Cerekang. Nama dusun yang dikaitkan dengan kebesaran sosok Sawerigading.

“Dari keturunan Cerekang, kita belajar rendah diri. Tidak memperlihatkan kesombongan dan berupaya untuk bertahan hidup dengan prinsip apa adanya. Dan harus memahami untuk saling menghargai,” ujarnya.

Usai cerita kenangan itu, Nibe mengambil teh yang baru saja diseduhnya. Ia ingin bercerita kembali masa kecilnya di Cerekang dan Kota Malili. Dua tempat yang berjauhan sekira 15 kilometer. “Waduh, kalau ingat kampung, bawaannya jadi kangen. Mau nengokin cucu,” ujarnya.

Di Malili. Nibe punya empat orang cucu dari anak lelaki keduanya. Di Malili juga, ia masih punya adik kandung bungsunya. Juga istri dari adik kandungnya yang beberapa tahun lalu meninggal dunia. “Tapi semua teman-teman seperjuangan dulu, sudah pada meninggal dunia,” tuturnya.

Kini, Malili sudah menjadi ibukota Luwu Timur. Kabupaten yang dimekarkan dari Kabupaten Luwu Utara pada tahun 2003. Dan tahun 2005, menjadi moment penting demokrasi negeri itu dengan melangsungkan Pilkada kali pertama. DRS. H. Andi Hatta Marakarma, MP dan H.Saldy Mansyur SE menjadi Bupati dan Wakil Bupati priode 2005-2010.

“Kekayaan yang paling dahyat dari Luwu Timur, adalah coklat. Wah, dulu hampir semua penduduk pasti punya kebun. Dan coklat jadi andalannya utama,” ujarnya.

Selain komoditi tanaman coklat, sagu dan perikanan juga jadi potensial untuk dikembangkan. Dua komoditi terakhir ini, sebagai pangan yang bisa menjadi pengganti beras. “Sampai sekarang, penduduk asli masih banyak mempertahankan kebun sagu untuk kebutuhan pangan rumah tangga,” tuturnya.

“Potensi yang belum tergarap adalah pertambangan. Selama ini, hanya mengenal kawasan Soroako dengan INCO-nya. Padahal, ada beberapa kawasan yang merupakan wilayah yang memunyai kekayaan cukup besar. Mungkin terbesar dibandingkan daerah lainnya,” tuturnya.


Dan yang terpenting, kata dia, Pemerintah Luwu Timur mesti memperhatikan kembali tradisi-tradisi warisan yang pernah diteturunkan oleh nenek moyang. Bagaimana kekuatan leluhur atas kebesaran Sawerigading, agar tidak hanya menjadi legenda semata. Namun, kebesaran yang menganut ketidaksombongan dan saling menghargai satu sama lain.

“Karena kehadirannya di tanah Luwu Timur, Sawerigading mengamanatkan pentingnya perdamaian dan mensejahterakan penduduk negeri. Amanat itu yang harus dijaga oleh teturunannya yang sampai saat ini masih hidup dan bertahan untuk generasi mendatang,” ujarnya.

Nibe menghabiskan teh yang sejak tadi diminumnya pelan-pelan. Ia merindukan kembali kenangannya di Luwu Timur. Ia ingin sekali menghabiskan waktu tuanya di kampung halamannya. Bernostalgia kembali dari bukit ke bukit, dari kampung ke kampung dan menelusuri sungai Malili untuk menyantap ikan tangkapannya. Berharap Luwu Timur lebih pesat dari daerah lainnya.

2 komentar:

Afatchur said...

Sayang tidak diceritakan apa pekerjaan Nibe Ruslan ini, sampai dia harus menelusuri lorong-lorong Jakarta.
Sedikit koreksi; pegunungan Veerbek, dari geolog Belanda yang memetakan potensi nikel kawasan ini. Juga tidak diceritakan sedikit apa itu Inco, karena Inco terlalu besar untuk diabaikan jika bicara Luwu Timur.
Selain itu dalam hal Sawerigading perlu sedikit ilustrasi kalau ini adalah naskah kuno yang sangat panjang, mungkin melebihi Mahabarata, dan sudah diadaptasi untuk pentas oleh Robert Wilson, sutradara Amerika, di berbagai negara. Diperkirakan ditulis antara abad 11-13 dalam buku Manusia Bugis.
*pernah tinggal di Sorowako 2 tahun*

. said...

Terima kasih afatchur dengan koreksinya. Tulisan ini memang tidak selengkap yang biasa saya buat. Naskah panjang yang melebihi Mahabrata, mungkin lebih tepatnya naskah I Laga Ligo.