22.3.17

Musim Semi di Kota Beijing





div style="text-align: justify;">Sebelum pesawat itu terbang dari Bandara Soekarno Hatta, Jakarta sudah membayangkan satu negara yang sudah puluhan tahun ingin sekali saya datangi. Negara besar yang terkenal dengan keragaman seni dan budaya, aliran politik yang disegani dunia, bahkan negara yang begitu hormat para leluhurnya, adalah China.

Pagi di awal November 2011. Bandara Internasional Beijing, China, tidak begitu riuh dari orang  yang  berdatangan ke negara itu. Hampir semua petugas bandara, perawakan wajah tak sangar dengan tubuhnya yang kecil. Tapi mereka terlihat wibawa dan tegas.  Pengamatan mereka ketat,  apalagi terhadap orang asing. Tak sungkan-sungkan mereka membuang isi tas, walau hanya sekedar makanan atau air mineral. 


RA. Kosasih: Bertarung untuk Hidup




Pekan ketiga November 2009. Ijun mendapat kabar, RA. Kosasih masuk Rumah Sakit Int’l Bintaro, Jakarta Selatan. Malam hari, Ijun langsung meluncur dengan motornya. Ia mengenakan baju kaos, jaket, dan celana jeans.

Di ruangan type ’Merak’, kelas 3 kamar 260, rumah sakit itu, Ijun terkesima. Ia melihat RA. Kosasih yang mengenakan kemeja putih dan celana kain sudah berbaring di tempat tidur. Lemah. Namun, matanya masih jelas melihat tamu yang datang menjenguk. Dokter melarang RA. Kosasih diajak bicara. Ijun hanya menatapi selang infus dan alat oksigen yang menutupi mulutnya.

11.5.14

Di Antara Pekerja dan Pelancong

Middle RD, Singapura di pengujung Desember 2013. Saya berdiri tak jauh dari Hotel Fragrance. Menikmati roti berisi mentega dan kopi dari cangkir yang dipindahtuangkan ke bekas botol air mineral. Pagi itu, usai berlari memutari tiga blok kawasan Bugis, Singapura. Olahraga yang jalang dilakukan di Jakarta, apalagi dengan polusi udara yang mengerikan.

Cuaca pagi itu tidak biasanya bersinar terang. Namun jalanan belum banyak dilalui kendaraan pribadi. Hanya sesekali bus dan taksi yang melintas. Udara tanpa polusi terasa nyaman terhirupnya. Dari kejauhan di ujung perapatan, banyak orang berjalan kaki menyeberang jalan dengan teratur.

Antara Budaya Indonesia dan Merlion Park


Hotel Fragrance, Middle RD, Singapura. Telepon kamar berdering begitu kencang. Saya terbangun dan melihat jam dari telepon seluler, pukul 05.00 waktu Singapura. Suara seorang resepsionis hotel menyampaikan, ada tamu bernama Talyta yang menunggu di lobi.

Sekedar membasuh muka dan rambut dengan air kamar mandi, saya bergegas menemuinya. Talyta, perempuan ini yang mengatur seluruh jadwal seluruh kegiatan Rumah Budaya Indonesia (RBI) 2013 di Singapura yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Dia dari Dyandra Convex, Event Organizer (EO) yang menjadi mitra kegiatan tersebut. Acara itu digelar 30 November sampai 1 Desember 2013.

Menanti Malam di Singapura


BANDARA Changi, Singapura, jam 14.00 waktu setempat. Cuaca mendung. Terminal bandara itu dari dalam pesawat, biasa saja. Seperti kotakan korek api yang tidak mempunyai ciri khas negara. Tak banyak pesawat yang parkir. 

Berbeda dengan Bandara Soekarno Hatta di Indonesia, mempunyai ciri khas Indonesia pada ornamen bangunannya. Pesawat yang parkir tak terhitung jumlahnya, padat. Bahkan terlihat sibuk jadwal penerbangannya.

3.4.12

Musim Semi di Kota Beijing


 
Sebelum pesawat itu terbang dari Bandara Soekarno Hatta, Jakarta membayangkan satu negara yang sudah puluhan tahun ingin sekali saya datangi. Negara besar yang terkenal dengan keragaman seni dan budaya, aliran politik yang disegani dunia, bahkan negara yang begitu hormat para leluhurnya, adalah China.

Pagi di awal November 2011. Bandara Internasional Beijing, China, tidak begitu riuh dari orang  yang  berdatangan ke negara itu. Hampir semua petugas bandara, perawakan wajah tak sangar dengan tubuhnya yang kecil. Tapi mereka terlihat wibawa dan tegas.  Pengamatan mereka ketat,  apalagi terhadap orang asing. Tak sungkan-sungkan mereka membuang isi tas, walau hanya sekedar makanan atau air mineral. 



15.3.12

Jangan Bersedih, Ramang.


Patung berwajah seorang pria yang sedang membawa bola, telah runtuh dari penyanggah prasasti. Tak ada lagi patung itu, yang dulunya berdiri di pintu utara bagian depan lapangan Karebosi, Makassar, Sulawesi Selatan. Memang hanya sebuah patung. Namun, sosok itu adalah Ramang. Sang legendalis sepak bola Indonesia era 50 sampai 60-an.

Kini ia memang sudah tiada. Tubuhnya terkulai di Pemakaman Panaikang, Makassar. Namun, ia punya kenangan luar biasa bagi bentangan sejarah sepakbola Indonesia. Ia bahkan menjadi sosok yang paling ditakuti dan menjadi ikon keemasan sepak bola Indonesia yang pernah dijuluki ‘Macan Asia’.

My Link

Search This Blog