Ia mendirikan sanggar Bumi Tarung di Yogyakarta. Karena kemelut politik, ia kemudian ditahan dan disiksa tanpa pengadilan. Kini ia merintis sebuah sanggar seni di perkampungan.
***
Dinihari tahun 1968 di Jakarta. Dingin. Satu rumah warga yang berdinding bambu di kawasan Grogol, senyap. Penghuninya tertidur pulas. Rumah itu berlantai tanah.
"Tok…tok…tok!" tiba-tiba pintu rumah itu diketuk seseorang. Amrus pemilik rumah yang dengan beralas papan, terbangun.
Amrus membukakan pintu. Ternyata Ketua Rukun Tetangga (RT) setempat yang diapit oleh beberapa orang tak dikenal berbadan tegap berdiri di belakangnya. "Anda mau dimintai keterangan oleh pihak berwajib," ujar Ketua RT.
Ajakan itu sudah tak membuatnya kaget lagi. Amrus hanya mengiyakan. Ia sudah tahu, malam itu ia akan ditangkap dan disiksa oleh tim ‘operasi kalong’. Tim ini bekerja untuk menangkap orang-orang yang dianggap pendukung Partai Komunis Indonesia (PKI). Partai politik yang sempat menghebohkan negeri ini pada kasus penculikan para jenderal di Lubang Buaya, Jakarta, pada 31 September 1965.
Amrus masuk daftar orang yang dicari. Ia termasuk pendiri Bumi Tarung di Yogyakarta, sebuah sanggar senirupa Lekra (lembaga kesenian rakyat). Nama pendiri lainnya; Ng Sembiring, Sutopo, Isa Hasanda, Kuslan Budiman, Misbach Thamrin, Joko Pekik, Suharjiyo Pudjonadi, Gumelar dan lainnya.
Amrus pasrah saat akan digelandang keluar rumah. Saat itu, Acil anak ketiganya yang masih kecil, terbangun dan langsung berteriak. "Papa…ikut!! Papa…ikut!!!" teriaknya sambil dipegangi ibunya.
"Kamu sengaja bangunin anak kamu ya," bentak seseorang penjemput berbadan tegap.
“Kamu sengaja agar semua orang tahu ya,” bentak si orang berbadan tegap lagi. Amrus tak banyak bicara. Pasrah.
Isi rumahnya langsung digeledah, Amrus tak bisa berkutik. Semua surat-surat dan barang pribadi miliknya diangkutnya. Termasuk kamera yang diandalkan untuk mencari penghasilan sebagai tukang potret keliling kampung selama masa persembunyian.
Dari rumah tinggalnya, Amrus dibawa ke satu rumah di Jalan Gunung Sahari IV, Jakarta yang dijadikan markas tim operasi kalong. Di tempat ini, sudah banyak tahanan politik lainnya.
Situs vhrmedia.net menuliskan, hampir semua Tapol alias tahanan politik 1965 disiksa di Jalan Gunung Sahari itu. Para Tapol menyebutnya markas ‘Kalong’. Dulunya, tempat itu adalah kantor Persatuan Pengayuh Becak yang kebanyakan anggotanya orang Tionghoa. Sejak 1965, akhirnya dikuasai oleh tentara Indonesia dan dijadikan tempat interogasi.
“Kamu anggota Lekra!” bentak tentara yang menginterogasi.
Amrus diam. “Mengaku tetap disiksa, tidak mengaku tetap disiksa untuk mengaku,” pikirnya saat itu. “Iya saya orang Lekra,” Amrus mengakui.
Sejak itulah, Amrus menjalani masa-masa penyiksaan. Kena tendangan, pemukulan, cambukan, dan lainnya. Setiap malam, ia juga mendengarkan suara orang menjerit kesakitan. Setiap hari mendengar kabar ada orang yang mati. Di benaknya, ia sudah pasrah jika nyawanya ikut melayang seperti tahanan lainnya.
******
Nama lengkapnya Amrus Natalsya. Dilahirkan di Kota Natal yang terletak di pesisir Tapanuri bagian utara, Sumatera Utara pada 21 Oktober 1933. Ia anak pertama dari tujuh bersaudara pasangan Rustam Syah Alam dan Aminah. Ayahnya seorang pegawai swasta di perusahaan perkapalan Horison Grossfield di Medan.
Sejak duduk di Sekolah Dasar (SD) di Kota Natal, Amrus kecil sudah gemar menggambar kapal dan perahu. Pada 1946, bersama keluarganya ia hijrah ke Pematang Siantar. Di situ ia menamatkan sekolah hingga SMA.
Ayahnya menyarankan Amrus melanjutkan pendidikan di daerahnya. Mereka berharap Amrus bisa menjadi pegawai negeri atau bekerja di perusahaan swasta. Amrus menolak. Ia keukeh ingin melanjutkan sekolahnya di Yogyakarta, di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI). Di sana ia membayangkan bisa berkenalan dengan banyak sosok terkenal negeri ini.
Suatu hari, Amrus nekad merantau tanpa sepengetahuan keluarganya ke Yogyakarta. Ia tak membawa uang yang cukup. Untuk ongkos kapal laut dari Pelabuhan di Medan ke Pelabuhan Tanjung Priuk, Jakarta, Amrus terpaksa menjual semua alat olahraganya.
Dari Pelabuhan Tanjung Priuk, Amrus melanjutkan perjalanan ke Kota Solo, Jawa Tengah. Ia menemui kerabatnya yang tinggal di Pasar Legi, Solo. Tak lama kemudian, ia akhirnya berangkat ke Kampus ASRI yang berada di Jalan Bintaran Lor, Yogyakarta.
Ia mendaftar di ASRI. Sayang, jurusan seni rupa sudah tidak menerima mahasiswa lagi. Amrus akhirnya diterima di jurusan dekorasi dan reklame. Perkenalannya dengan Michael Wowor yang dikenal sebagai pematung, menumbuhkan semangatnya. Ia mulai menekuni seni patung.
Patung pertama buatannya berjudul ‘Orang Buta yang Terlupakan’. Saat berlangsungnya Lustrum pertama ASRI tahun 1955, patung itu terpajang di ruang depan utama gedung Sono Budoyo, Yogyakarta. Presiden Soekarno yang hadir, kepincut dengan patung Amrus dan langsung membelinya. Karya lainnya yang menjadi koleksi Soekarno bertajuk Kawan-kawanku.
“Bangga banget. Patung yang pertama saya buat, langsung ditaksir oleh Presiden Soekarno yang saat itu paling dibanggakan negeri ini,” tutur Amrus.
Tahun 1959, Amrus menikahi Prayati, seorang gadis anak petani asal desa Polowadi, Sleman yang sehari-hari menjadi pedagang bawang merah di Pasar Brongharjo, Yogyakarta. Pasangan ini dikaruniai lima orang anak. “Banyak kenangan manis selama bersama Prayati,” tutur Amrus.
“Kenangan yang bagaimana, pak,” tanya saya. Amrus terdiam. Wajahnya tertunduk seakan ingin mengenang kembali masa-masa manis dengan istri yang pertama kali dinikahinya.
Ia bercerita. Saat masa-masa sulit hidupnya, ia kerap membuat istrinya harus berpikir untuk mengatur keuangan rumah tangga. Tak banyak uang yang dimiliki. Hanya dari lukisan ia menafkahi keluarganya.
Suatu hari di rumahnya, Prayati mendekati Amrus. Ia nampak bingung untuk menyampaikan keluhannya. “Pa, warung-warung sudah pada nagih,” ujar istrinya kepada Amrus.
“Ya udeh, saya melukis dulu untuk bayar utang,” jawab Amrus.
Satu lukisan selesai. Amrus membawanya untuk dijual. Menjelang sore, Amrus pulang. Istrinya kaget. Lukisan yang dibuatnya tadi, dibawa pulang kembali.
“Kok lukisannya dibawa pulang lagi,” tanya istrinya.
“Nggak laku, melukisnya kan kamu yang suruh, jadi tidak laku,” jawab Amrus. Istrinya terdiam dan hanya bersabar.
Sejak saat itu, Prayati tidak mau lagi memaksa Amrus melukis. Pada 1975, Prayati meninggal akibat kanker payudara. “Istri saya sangat sabar dan selalu mengerti kondisi saya. Itu yang tidak bisa saya lupakan,” ujar Amrus.
Setahun setelah Prayati meninggal, Amrus menikah lagi dengan Sulastri, mantan model poseren asal Solo yang tinggal di Ancol. Kemudian dengan Baena, seorang janda asal Cirebon yang tinggal di Grogol sebagai istri ketiganya. Dan dengan Atai, perempuan asal Lido yang tinggal di Lido. Ketiga istrinya, hingga saat ini masih menjadi pendamping Amrus.
Pada 1961, Amrus bersama Isa Hasanda, Misbach Thamrin, dan Joko Pekik mendirikan sanggar Bumi Tarung, lembaga kesenian di Yogyakarta yang bernaung di bahwa lembaga kebudayaan rakyat (Lekra). Lembaga ini onderbouw Partai Komunis Indonesia (PKI). Amrus didaku menjadi Ketua. NG Sembiring, Sutopo, Kuslan Budiman menjadi Sekretaris. Sedangkan Ida Hasanda dan Misbach Thamrin jadi anggota.
Misbach Thamrin pada bukunya berjudul Amrus Natalsya dan Bumi Tarung terbitan tahun 2008 menuliskan, Bumi Tarung adalah satu-satunya sanggar seni di Yogyakarta yang berafiliasi ke Lekra. Anggotanya kebanyakan mahasiswa ASRI.
Perkembangan politik di negeri ini belum beres saat itu. Para seniman merasa gerah jika tanpa bersikap dengan keberpihakan yang lebih tegas. Muncul sanggar gurem, ada Merah Putih, Baja Biru, Banteng Lanang, Klenting Kuning, Kuda Binal, dan Bima Sakti.
Banyak sanggar seni di Yogya masa itu, tulis Misbach, dengan kegiatan kolektif dan arah politik yang tidak jelas. Konon tampil ke permukaan karena ingin menghadapi Bumi Tarung yang dianggap gerakan radikal bahkan anarkis.
Bumi Tarung punya sekretariat organisasi. Persisnya di sudut persimpangan jalan dekat gedung ASRI. Tempat itu milik Mbah Rono yang biasa dijadikan tobong pembakarang gamping. Oleh Bumi Tarung direnovasi dan akhirnya menjadi kantor Bumi Tarung sekaligus tempat kumpul-kumpul seniman untuk bekarya.
Pada 1965, situasi politik Indonesia mencekam, khususnya di Jakarta dengan isu dewan jenderal. Beberapa jenderal diculik dan ditemukan tewas di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Soeharto yang saat itu didapuk oleh Soekarno untuk memulihkan keamanan, menuding PKI di balik kasus penculikan jenderal.
Sejak itulah, semua orang yang dituding sebagai anggota PKI ditangkapi. Bahkan pengejaran berlangsung di seluruh Indonesia. Penangkapan juga dialami organisasi sayap PKI lainnya; Sobsi (Sentra Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), HIS (Himpunan Sarjana Indonesia), Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), dan Pemuda Rakyat.
“Sebenarnya saya dan anggota lainnya tidak tahu menahu soal insiden di Jakarta yang menewaskan para jenderal. Tapi, kenapa kami yang jadi korbannya. Sampai sekarang, saya tidak pernah mengerti. Sudah ribuan orang yang mati tak pernah diadili,” tutur Amrus.
Tahun 1968 Amrus ditangkap dan baru dibebaskan pada 1973. Ia beruntung tak sempat merasakan tahanan Pulau Buru, seperti dialami yang lainnya. Penjara pertamanya di LP Tangerang, kemudian pindah ke Salemba, dan menjelang akhir pembebasannya ia kembali ditahan di Tangerang. Amrus memulai hidup baru. Hingga kini, tak ada pengadilan atas kesalahannya.
*****
Siang hari, hujan mengguyur sepanjang jalan poros dari Ciawi menuju Sukabumi, Jawa Barat di bulan Januari 2009. Sudah tak aneh lagi, arus lalu lintas macet. Banyaknya kendaraan yang melintas, tidak dibarengi pelebaran jalan. Kondisinya tak berubah, seperti puluhan tahun lampau. Di sisi kiri jalan, terpampang pemandangan Gunung Gede yang eksotis dengan kabut tebal melingkari setiap sisi gunung.
Dua pria berdiri di tepi jalan, persis dekat pintu masuk Lido Resort, Cigombong, Kabupaten Bogor. Keduanya mengenakan topi pet. Pakaian mereka kelihatan kusut dengan warna kusam.
Pria pertama bernama Amrus Natalsya. Ia mengenakan celana pendek gomblong berwarna biru dan kemeja kotak-kotak berlengan pendek. Mengenakan sandal. Kaca mata bertali, tergantung di kerah depan yang satu lobangnya tak berkancing. Kumisnya tebal. Ubannya lebat di sekitar cambang dekat kuping.
“Ini kawan saya, Misbach Thamrin,” ujar Amrus memperkenalkan temannya. Gaya berpakaian Misbach sedikit rapi. Berkacamata. Mengenakan switer lengan panjang dan celana panjang katun serta bersepatu abu-abu.
“Kita mau ke mana, Pak,” tanya saya. Saat keduanya menaiki mobil.
“Ke studio saya saja. Nanti saya tunjukkan jalannya,” kata Amrus.
Mobil kami belok kiri, melintasi gapura bercat kuning. Masuk ke perkampungan Cigombong. Sekira 300 meter, ada gang yang cukup untuk satu mobil di sebelah kiri. Amrus memerintahkan berhenti di satu rumah yang belum jadi. Temboknya masih berwarna semen. Tak ada kaca. Kelihatan awut-awutan. Suasananya kontra dengan alam pergunungan di sekitar.
Amrus membuka pintu rumah. Terkuak ruangan yang lebih awut-awutan. Berantakan. Kabel tergantung tak beraturan, lantai semen coran, dan hanya ada satu lampu neon 20 watt. Di situ ada bangku plastik. Lalu ada satu lukisan pahatan kayu di sebelah kiri, dan satu lukisan kanvas besar di sebelah kanan.
“Itu lukisan Yin-Yanq. Yin mengambarkan kehidupan yang putih dan Yanq mengambarkan kehidupan hitam,” ujar Amrus menunjuk ke lukisan pahatan kayu.
“Ini buku tentang Amrus,” Misbach memberikan sebuah buku. Judulnya, Amrus Natalsya dan Bumi Tarung. Dari buku itu saya baru tahu, nama Misbach tercantum sebagai penulisnya.
Mereka sudah berkawan akrab sejak di ASRI. Amrus angkatan 1954 dan Misbach angkatan 1959. Misbach berasal dari Amuntai, Kalimantan Selatan, kelahiran 25 Agustus 1941. Ia juga pernah ditahan selama 13 tahun, tanpa pengadilan.
“Bumi Tarung mau bikin pameran dengan tema, 50 tahun Bumi Tarung. Rencananya 2011 nanti,” ujar Misbach.
“Ada 9 orang yang berpameran. Semuanya orang-orang Bumi Tarung,” ujar Amrus. Ia menyebutkan nama: Djoko Pekik, Misbach Thamrin, Isa Hasanda, Adrianus Gumelar, Hardjija Pudjanadi, Sudiyono SP, Dj. M. Gultom, dan Sudjatmoko.
“Dua orang lagi sudah keburu meninggal. Sabri Jamal dan Mulyono,” Misbach menambahkan deretan nama seniman Bumi Tarung lainnya.
“Mudah-mudahan semua masih tetap hidup sampai pameran puncaknya 2011 nanti. Di ulang tahun Bumi Tarung ke- 50,” ujar Amrus.
----------
Karya yang sedang dipersiapkan oleh Amrus adalah tentang sosok-sosok yang semestinya bertanggung jawab atas penangkapan, pembantaian dan penangkapan orang-orang PKI di banyak daerah.
Menurut dia, selama ini tidak ada pihak yang mengakui kesalahannya. Tidak ada pihak yang pernah bersalah membantai rakyatnya sendiri. Bahkan, semua pihak yang dulu ikut mengganyang orang-orang tak bersalah, seakan-akan sudah benar.
”Mungkin saja yang bersalah Aidit Cs dan lainnya sebagai sosok PKI di Jakarta. Tapi banyak yang tidak tahu menahu, terkena imbasnya. Seakan-akan semua orang PKI lainnya sama. Ini yang ingin saya ungkapkan, agar semua orang satria mengakui bila ternyata salah,” tuturnya.
Era Presiden Soeharto sudah usai. Amrus berharap era reformasi menjadikan Indonesia berdemokrasi. Apalagi, sejak awal Megawati Soekarno Putri sebagai anak Presiden Soekarno maju sebagai calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia (PDIP) Perjuangan. Ia dan rekan-rekannya berharap Megawati berpihak kepada wong cilik.
”Hasilnya nihil. Justru banyak rumah-rumah orang kecil yang digusur. Bahkan Mega tidak sama jiwa dengan ayahnya (Soekarno) yang selalu berpihak kepada rakyat kecil. Pemilu selanjutnya, saya tidak lagi ikut memilih,” ujar Amrus.
Masa mudanya, Amrus banyak membuat karya yang mengangkat tema penderita rakyat. Dua karya patung fenomenalnya bertajuk Orang Buta yang Dilupakan, Jeritan yang Tak Terdengar. Karya kanvasnya bertajuk Seorang Ibu Petani menggendong Daun Keladi.
Tak sedikit karyanya yang dibakar massa. Di antaranya, Keluarga Tandus di Senja, Epos Perjuangan Revolusi 1945 yang baru diselesaikan untuk Hotel Duta dan karya Keluarga Tandus di Senja di Akademi Ali Archam Padang.
Pada Juni 2008, Sanggar Bumi Tarung melangsungkan Pameran Seni Rupa ke-2 di Galeri Nasional, Jakarta. Yang pertama tahun 1962. Pameran kedua ini, sebagai petanda bahwa Bumi Tarung masih eksis dalam dunia seni di Indonesia. Mereka adalah, Amrus Natalsya, Djoko Pekik, Misbach Tamrin, Isa Hasanda, Adrianus Gumelar, Hardjija Pudjanadi, Sudiyono SP, Sabri Jamal, Dj. M. Gultom, Muryono, danSudjatmoko.
Amrus menampilkan karya-karyanya; lukisan kanvas bertajuk Tiga Mata Air di Tanah Airku. Lukisan kayunya berjudul; Panorama Pecinan, Perahu Nabi Nuh, Perahu Layar Seribu Layar, Bahtera Antar Pulau, dan Bahtera Indonesiaku.
--------
Kesibukan Amrus tidak hanya mempersiapkan peringatan Bumi Tarung yang ke 50 tahun. Ia sedang sibuk mengawasi pembangunan galerinya yang belum rampung di atas lahan 700 meter di Cigombong, Kabupaten Bogor itu.
Saya dan Amrus mengitari lahan yang akan dibangun untuk menjadi sentra kesenian miliknya. Di bagian samping galeri akan dibuatkan panggung kesenian. Sehingga, warga sekitar bisa berapresiasi terhadap seni. Bahkan akan diberikan pendidikan seni.
“Kesenian harus dikembalikan kepada masyarakat. Kesenian kita kebanyakan dikuasai para toke. Sudah lemah idealismenya. Dan selama ini, semua berkiblat ke kota. Seni harus dikembalikan kepada rakyat,” kata Amrus.
Denah tempat seninya dirancang sendiri oleh Amrus. Kertas rancangannya tertempel di dinding yang belum dicat dengan menggunakan pulpen. Gedung utamanya sebelah kanan, didirikan galeri tiga lantai yang difungsikan untuk pameran. Sedangkan di bagian kiri, ada panggung terbuka dan sanggar tari. Amrus juga menginginkan dibangunnya klinik kesehatan untuk masyarakat.
Bangunan kesenian di tengah kampung itu akan ia biayai sendiri. Lokasinya dibangun mulai dari tahun 2008 dan tahun 2011 ditargetkan selesai. Untuk mencari dana operasional selanjutnya, ia akan mendirikan yayasan sebagai jembatan yang tidak mengikat dengan pihak ketiga.
“Yayasannya mau dikasih nama, Amrus and Son and Friend,” ujar Amrus, tersenyum.
Misbach memotong perbincangan. “Amrus, kasih tahu juga kalau mau buat kuburan keluarga.”
“Iya. Di bagian belakang disiapkan kuburan keluarga. Jika saya mati, itu kuburannya. Saya mau pindahkan juga kuburan istri pertama yang akan bersebelahan dengan makam saya nanti,” tutur Amrus.
Amrus kini berusia 76 tahun. Terbilang senja. Ia juga harus bertahan dengan sakit jantung koronernya. “Kalau saya mati, mudah-mudahan ada yang bisa dikenang generasi nanti,” katanya.
25.11.09
Amrus Natalsya : Membangun Seni untuk Rakyat
Diposting oleh
Salam Kebebasan
di
8:11 PM
2
komentar
12.11.09
Lenong Betawi
Di atas panggung setinggi pinggang orang dewasa. Satu perempuan berkebaya dan empat orang lelaki sedang berdialog. Bahasanya rada kasar. Bila tak terbiasa mendengar logat suaranya, menduga sedang marah. Serius, tapi membuat penonton tertawa.
Di panggung itu juga, beberapa orang pada posisi siaga dengan alat musiknya. Yang bermain drum, gitar, kecrek, kempor, suling dan gendang. Yang manjadi khas dari pengiring musik ini, satu orang memegang sukong. Ini adalah alat musik gesek khas betawi yang menyerupai biola. Musik sukong menjadi nada dominasi dari musik-musik lainnya.
“Enak aje lu mau ngawinin anak gue. Anak gue kudu ditanyain,” ujar perempuan berkebaya khas betawi dalam dialognya.
Itulah suatu malam di Bulan November, pada musim penghujan. Tumben langit Jakarta cerah. Di Taman Ismail Marzuki alias TIM yang berada di Jalan Cikini, sudah ramai orang yang duduk di parkiran halamannya. Dari anak-anak sampai orang yang sudah berusia senja.
Hari itu sedang ada penghelatan ulang tahun TIM ke 41. Kelompok musik gambang kromong yang akan mengiringin pementasan lenong betawi. Judulnya, Dasar Jodoh. Nama pemainnya sudah cukup kawakan, ada Kubil, Edi Oglek, Jaya, Rita Hamzah, Sanan, dan Engkar.
Gambang Kromong adalah satu kesenian masyarakat Betawi (kini Jakarta). Alat musik ini terdiri dari alat musik tehyan, kongahyan, dan sukong. Dan alat lainnya, gendang, kecrek dan gong. Kesenian ini, sebenarnya perpaduan antara etnis Tionghoa dan Betawi.
Dalam masyarakat Betawi, gambang kromong biasanya menjadi pengiring acara-acara pernikahan, sunatan, dan lainnya. Kesenian ini juga menjadi musik pembuka pementasan lenong betawi. Kesenian musik Betawi lainnya yang terkenal, yakni tanjidor dan topeng betawi sebagai seni teaternya.
Dulunya, lenong betawi diperdengarkan untuk masyarakat strata sosial dari kalangan raja dan bangsawan. Dari lingkungan itulah, akhirnya ada ungkapan yang terlontar dari kalangan sosial jelata; kayak raja lenong. Sindiran ini ditunjukkan kepada orang yang bergaya feodal.
Dalam perkembangan kesenian lenong betawi, terdapat jenis lenong; lenong dines dan lenong preman. Keduanya memunyai perbedaan dari penampilan dan penggambaran cerita yang akan dipentaskan.
Lenong dines dalam dialek Betawi berarti dinas atau resmi. Lakon ini diperankan dengan mengenakan busana formal dan penggambaran ceritanya berlatar kerajaan atau lingkungan kaum bangsawan. Bahasa Betawi yang digunakan denan logat Betawi halus. Untuk jenis lenong ini, sudah tidak sering dilakonkan saat ini.
Sedangkan lenong preman, lakon dimainkan dengan mengenakan gaya pakaian seadanya. Kisah pementasannya, banyak menyinggung kehidupan sehari-hari. Pun bahasa atau dialek yang dipergunakan. Sehingga yang mendengarnya, seperti orang sedang naik pitam. Lenong inilah, yang sekarang banyak diperankan.
“Kalo masih pake gunain bahasa kamu, Anda, atau saya. Itu bukan lenong betawi. Itu udeh lenong modern,” ujar Malih Tong-Tong, pelenong senior kepada saya. “Kayak muke gile, nah itu baru lenong betawi.” Nadanya keras. Serius. Seperti marah. Kemudian tertawa.
Malih adalah sosok senior kesenian lenong betawi yang mendirikan sanggar lenong ‘Sinar Jaya’. Sosok lainnya yang masih hidup dan seangkatan dengannya, Bolot, Pak Bodong, Bang Jali, Haji Nirin dan Mpok Nori. Mareka masih mempertahankan kesenian tradisi Betawi lenong, dengan membentuk kelompok-kelompok. Bahkan hingga melibatkan anak dan cucunya.
“Kalo dirunut-runut, pemain lenong tua sekarang ni…yee… yang usianya kayak gue, udeh masuk ke angkatan ketiga. Sekarang yang muda-muda udeh masuk ke angkatan lenong keempat,” ujar Malih.
Malih berbadan kurus. Kini berusia 59 dengan kerutan di bagian wajahnya begitu kentara . Jika tersenyum atau tertawa, terlihat kerutan kulitnya. Intonasi bicaranya cukup keras. Saya menemuinya saat melangsungkan suting di kawasan Otista Jakarta untuk serial Betawi bertajuk ‘Numpang Idup’ yang ditayangkan oleh salah satu televisi swasta negeri ini.
Kariernya sebagai pemain lenong betawi bermula di tahun tahun 1980-an. Ia kali pertama adalah pemain topeng betawi ‘Setia Warga’ pimpinan Haji Bokir. Sedangkan abangnya, Dimin menjadi pemain lenong betawi pimpinan Haji Tohir. Topeng betawi dan lenong betawi, keduanya adalah kesenian masyarakat Betawi. Perbedaannya, hanya pengenaan topeng pada saat pementasan.
Dimin menemuinya saat Malih manggung dan mengatakan sanggarnya kekurangan pemain lenong. Malih tidak langsung menerima. “Saya apa mampu. Karena peran beda,” ujar Malih. Ia akhirnya mencobanya dan menemui Haji Tohir di rumahnya.
“Sekarang begini aja deh. Elu bisa tulungin gue nggak,” ujar Haji Tohir dengan dialek Betawi.
“Tulungin apa nih, Pak Haji,” tanya Malih.
“Elu nggak usah di topeng lagi, dah,” katanya. “Karena di lenong kurang bodor-nya (pelawak),” ujarnya.
“Saya nggak bisa jawab dah. Karena gua udeh jadi pelawaknya Pak Bokir,” jawab Malih.
“Ya udah, sekarang ngomong aja ama dia (Bokir). Bilang aja dari gue,” pintanya.
Dari ajakan itu, Malih menemui Bang Bokir di rumahnya. Ia menyampaikan tawaran Haji Tohir untuk bergabung dengan lenong betawi asuhannya.
“Pak Haji! kayaknya kalo pemain di sini udeh kebanyakan nih. Kebetulan Haji Tohir ngebon, ngajakin main di tempatnya,” ujar Malih kepada Bokir.
“Sebenarnya sih gue nggak ngasih. Kalo ibarat bintang, elu itu bintang gue,” ujar Pak Haji. “Tapi, ya udeh elu main dua tempat deh,” ujar Bokir.
Akhirnya Malih bermain pada dua pertunjukan di dua tempat berbeda. Topeng bermain di Jagakarsa, Lenteng agung dan Lenong di perkampungan Taman Mini. Jam 9 malam, topeng selesai, Malih langsung dijemput motor meluncur ke acara lenong. Pementasan di dua tempat itu, masing-masing dapet upah Rp500 rupiah. Sekarang setara ama Rp500 ribu.
Akhirnya, dua acara itu berhasil. Setelah sukses ke Lenong, Malih kembali ke Topeng sanggar Haji Bokir. Perpindahan itu, tiba-tiba Haji Bokir mengajaknya untuk syuting di TVRI.
“Dia (Bokir, Alm) guru saya. Saya banyak ngambil ilmunya. Dia seorang berpesan agar, jangan sombong dan selalu rendah diri,” kata Malih, pelenong dengan enam anak dan memiliki sebelas cucu ini.
Kesenian lenong pada tempo dulu, memang kerap mudah dipertontonkan di Jakarta. Dari panggung ke panggung hingga dari kampung ke kampung. Zaman berubah dan keberadaan lenong telah tergerus oleh pesatnya kota. Kondisi semakin sempitnya ruang, lenong pun ikut menyempit.
Cucu sebelas, anak enam. Lahir Kampung rambutan , sianya 59
Kondisi perubahan zaman itulah, akhirnya karakter lenong ikut menyesuaikan karakter zaman. Tahun 1970-an dan 1980-an, musik lenong benar-benar murni, gambang kromong. Sekarang lain lagi, ada drum, gitar dan musik lainnya. Agar tidak mudah membosankan, ditambah musik dangdut.
Di masa-masa itu juga, cerita lenong kebanyakan silat. Karekter penokohan lebih ditonjolkan sebagai tampilannya. Sekarang, sudah tidak mengenal kisah jagoan Betawi yang menjadi musuh Belanda, Si Pitung atau Bang Jampang jago betawi. Sayangnya lagi, tak ada pelenong yang tahu persis karakter tokoh betawi itu.
“Lenong akan tetep jalan terus. Nggak ada matinya. Generasi tiap generasi, lenong tetap menarik untuk dipentaskan. Buktinya, ampe sekarang lenong tetep aje ade tuh,” ujar Haji Bolot, tokoh senior lenong betawi.
Kalau terjadinya perubahan jaman, Bolot yang sering menjadi tokoh budek ini mengatakan, tinggal diperlukan kemasan agar tidak membosankan. Namun sejak dulu sampai sekarang, lenong betawi tetap menjadi tontonan yang diminati masyarakatnya. “Dibuktiin deh, lenong tuh tetap ada selama masih ada generasinya,” ujarnya.
“Kalo ada yang bilang lenong udeh mulai sepi dan kurang diminati lagi kayak dulu. Biarin aja dah. Orang itu nggak ngerti aja. Gue tetep melenong dan generasi abis gue juga udeh siap-siap gantiin,” ujar Bolot.
Keberadaan lenong betawi, memang kian menjamur saat ini. Apalagi pemerintah DKI Jakarta memberikan apresiasi yang besar bagi kelestarian kesenian Betawi ini. Namun tidak sedikit pula yang akhirnya harus tenggelam akibat sepi order mentas. Pelenong kebanyakan berasal dari teturunan atau dari sanggar yang sudah punya nama di blantika panggung komedian.
Lenong masih dikuasai oleh sosok angkatan ketiga pada era Bang Bolot, Mpok Nori, dan Bang Haji Malih. Kelompok tua ini berawal dari panggung dan akhirnya merambah ke televisi. Sedangkan untuk angkatan keempat pada era Mandra, Ucup, Kubir dan lainnya, masih berkutat dari panggung ke panggung dan tidak sering merambah televisi.
Walaupun saat ini lenong lebih banyak dikenal di televisi. Sayangnya, sudah tidak seperti dulu lagi. Sudah terjadi kombinasi musik dan alur cerita yang dimainkan. Yang sama, masih gaya bahasa dan logat Betawi yang dipertahankan. Cerita lenong sudah tidak murni lagi.
Lenong betawi sudah tidak sering lagi menceritakan tentang kehebatan jagoan Betawi menumpas penjajahan. Tidak lagi bergaya seperti seorang jawara dengan golok di pinggangnya. Bahkan ceritanya juga, sudah dipengaruhi oleh naskah skenario bagi para pemainnya.
“Itu bukan lenong,” kata Malih.
“Kalo kayak gitu sih, enak banget. Seniman lenong udeh tahu karakternya sendiri. Nggak perlu naskah,” ujar Bolot.
“Bener ntuh. Itu namanya lenong modern. Ya…mereka klaim bahwa itu lenong,” ujar Malih lagi.
Bagaimana Lenong betawi yang sebenarnya? Malih mengemukakan, lenong yang sebenarnya berdialog tanpa harus menggunakan naskah. Setiap ada tokoh yang diserahkan, seniman lenong sudah harus tahu karakter dan dialog yang akan dikemukakan saat di panggung.
Ada lagi ciri lenong yang sebenarnya. Lenong selalu masuk dari pintu kanan dan keluar dari pintu kiri, begitu juga sebaliknya. “Jadi kalo ada yang masuk dari kanan, dan keluar dari kiri, itu juga bukan lenong,” papar Malih.
Generasi lenong, tidak setangguh dulu. Seniman lenong sekarang lebih banyak mengedepankan material dan bukan menghargai idealisme kesenimannya. Pada prinsipnya sebagai pemain lenong, yang terpenting tidak sombong dengan identitasnya. Tidak angkuh sebagai orang Jakarta asli.
“Keangkuhan yang kita khawatirin untuk generasi mendatang. Jangan merasa sudah besar, tapi kita lupa asal usulnya. Kalo memang ada masyarakat yang menginginkan kita bersama, harus kita layani. Seniman harus dekat dengan masyarakatnya,” ujar Malih. Lenong betawi tak ingin mati.
Diposting oleh
Salam Kebebasan
di
10:46 PM
0
komentar
Panggil Aku Limbuk
Limbuk, nama lengkapnya Theodora Retno Maruti. Ia dilahirkan di Solo, Jawa Tengah pada 8 Maret 1947. Pendidikan formalnya dihabiskan di Solo, dari Sekolah Dasar Pamardi Putri, SMP VI, SMEA negeri 1 dan Akademi Administrasi Niaga. Pada akhirnya, ia berprofesi menjadi Dosen di Fakultas Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta. Juga menjadi penari cum penata tarinya. Dan mendirikan sanggar Tari Padnecwara.
Nama Limbuk adalah sosok dalam pewayangan. Anak Cangik, seorang dayang, puteri kerajaan. Limbuk ditampilkan sebagai perempuan berbadan gemuk dengan suaranya yang keras. Dikenal juga berkarakter genit dan selalu berhias. Tak pernah ketinggalan membawa sisir.
Dalam cerita pewayangan, Limbuk bermata bulat, hidung kepik, sanggul gede dikembangi, bersubang besar (Jawa: suweng blong), kain batik slobog dengan berkain dodot. Sosok ini juga, diperankan jenaka dan kerap dalam adegan minta kawin. Setiap ia berjalan, selalu ditabuh alat musik gendang yang menjadi ciri khas seorang yang berbadan besar dan bertingkah laku serba membuat orang tertawa.
Retno atau Limbuk, anak kedua dari tujuh bersaudara. Ayahnya bernama Susiloatmodjo dan ibunya Siti Marsiyam. Ayahnya dikenal sebagai seorang dalang, penari dan dosen tari. Limbuk kerap diajaknya menemani ayahnya mendalang semalam suntuk untuk mengambilkan tokoh wayang yang hendak dimainkan ayahnya. Dari ayahnya juga, ia pernah menyepi ke makam pujangga Jawa, Ronggowarsito.
Usia lima tahun, Limbuk sudah dimasukkan ayahnya ke perkumpulan seni Baluwarti. Dengan senangnya, dari situ ia mulai mengenal tarian, gamelan, macapat, dan suluk. Saat di kelas III SD, ia sudah mempelajari tarian keraton bimbingan RT. Kusumokisowo. Juga dibimbing penari terkenal Laksminto Rukmi, selir kesayangan Pakubuwono X dengan tarian luar keraton, seperti ledek.
Ketika beranjak di SMP, Limbuk berkesempatan menari di Candi Prambanan saat pagelaran kisah Ramayana dengan peran sebagai Kijang Kencana, anak buah Prabu Rahwana yang memperdaya Dewi Sinta. Peran itu juga, akhirnya menjadi julukannya untuk Retno Maruti.
Presiden Soekarno, saat itu kagum dengan penampilan Limbuk sebagai Kijang Kencana. Maruti kecil, digendongnya oleh Soekarno dan ditempatkan di atas meja. Sehingga, semua hadirin bisa melihatnya secara langsung kepiawaian tarian Retno Maruti.
Sampai tamat SMEA, sang Kijang Kencana ini semakin tekun belajar menari. Padahal saat itu, menari hanya kesenangannya sehari-hari. Tak ada pikiran untuk menjadi penari professional. Cita-citanya yang diidamkan adalah menjadi seorang sekretaris. Itu pula yang akhirnya ia melanjutkan pendidikan di Akademi Administrasi Negara. Sambil kuliah, ia bekerja di Batik Danar Hadi,
Tahun 1964, Limbuk diundang menari di New York. Setahun kemudian, terpilih sebagai penari dalam misi kepresidenan ke Jepang. Sepulangnya, Limbuk akhirnya mulai tertarik. Pada tahun 1969, ia akhirnya menciptakan tarian Langendriyan Darmawan. Ini tarian kali pertamanya karyanya.
Tahun-tahun selanjutnya, Abimanyu Gugur (1976), Roro Mendut (1977), Sawitri (1977), Palgunadi (1978), Rara Mendut (1979), Sekar Pembayun (1980), Keong Emas (1981), Begawan Ciptoning (1983), Kongso Dewo (1989), Dewabrata (1998), Surapati (2001), Alap-alapan Sukesi (2004), dan Portraits of Javanese Dance (2005). . Tahun 2006, kreasi tarian bertajuk Calonarong dan tahun yang sama berkarya filmografi berjudul Opera Jawa.
Selain menari dan mengajar tari Jawa klasik di Institut Kesenian Jakarta, Retno juga seorang perias pengantin. Sebelumnya, dia pernah kursus rambut pada Rudy Hadisuwarno, dan kursus make up pada Martha Tilaar.
+++
Nama suaminya Arcadilus Sentot Sudiharto. Nama anaknya, Genoveva Noiruri Nostalgia Setyowati Retno Yahnawi.
Karena berbagai pengabdiannya itu Paku Buwono XII, diberi gelar Kanjeng Mas Ayu (KMA) Kumalaningrum dan suaminya Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Honggodipuro.
Di tengah kesenangan dan kreativitasnya menari, Retno menikah dengan sesama penari yang sudah dikenalnya sejak kecil, Sentot Sudiharto, di Osaka Jepang. Pasangan ini dikaruniai satu anak, Genoveva Rury Nostalgia. Sejak kecil, Sang Anak, diperkenalkan pada seni budaya. Walau bukan berarti anaknya diharuskan menjadi penari. Namun, kebetulan anaknya juga senang pada tari dan belajar menjadi koreografer.
Penghargaannya yakni; Wanita Pembangunan Citra Adikarsa Budaya (1978); Penghargaan Teknologi Seni Budaya Kalyana Kretya Utama dari Menristek BJ Habibie (1997); Citra Adhikarsa Budaya dari Citra Beauty Lotion dan SCTV (1994).
Juga mendapatkan Anugerah Kebudayaan dari Departemen Kesenian dan Kebudayaan RI (2003); Perempuan Pilihan dan Maestro dari Metro TV (2003), Nominator Women of the Year dari ANTV (2004), Penghargaan Akademi Jakarta (2005) untuk Pencapaian dan Pengabdian di Bidang Kesenian/Humaniora.
Diposting oleh
Salam Kebebasan
di
10:44 PM
0
komentar
