Rusman

Feature Story News

Sebelum pesawat itu terbang dari Bandara Soekarno Hatta, Jakarta sudah membayangkan satu negara yang sudah puluhan tahun ingin ...






Sebelum pesawat itu terbang dari Bandara Soekarno Hatta, Jakarta sudah membayangkan satu negara yang sudah puluhan tahun ingin sekali saya datangi. Negara besar yang terkenal dengan keragaman seni dan budaya, aliran politik yang disegani dunia, bahkan negara yang begitu hormat para leluhurnya, adalah China.

Pagi di awal November 2011. Bandara Internasional Beijing, China, tidak begitu riuh dari orang  yang  berdatangan ke negara itu. Hampir semua petugas bandara, perawakan wajah tak sangar dengan tubuhnya yang kecil. Tapi mereka terlihat wibawa dan tegas.  Pengamatan mereka ketat,  apalagi terhadap orang asing. Tak sungkan-sungkan mereka membuang isi tas, walau hanya sekedar makanan atau air mineral. 

Pekan ketiga November 2009. Ijun mendapat kabar, RA. Kosasih masuk Rumah Sakit Int’l Bintaro, Jakarta Selatan. Malam hari, Iju...




Pekan ketiga November 2009. Ijun mendapat kabar, RA. Kosasih masuk Rumah Sakit Int’l Bintaro, Jakarta Selatan. Malam hari, Ijun langsung meluncur dengan motornya. Ia mengenakan baju kaos, jaket, dan celana jeans.

Di ruangan type ’Merak’, kelas 3 kamar 260, rumah sakit itu, Ijun terkesima. Ia melihat RA. Kosasih yang mengenakan kemeja putih dan celana kain sudah berbaring di tempat tidur. Lemah. Namun, matanya masih jelas melihat tamu yang datang menjenguk. Dokter melarang RA. Kosasih diajak bicara. Ijun hanya menatapi selang infus dan alat oksigen yang menutupi mulutnya.

Middle RD, Singapura di pengujung Desember 2013. Saya berdiri tak jauh dari Hotel Fragrance. Menikmati roti berisi mentega dan kopi dari...

Middle RD, Singapura di pengujung Desember 2013. Saya berdiri tak jauh dari Hotel Fragrance. Menikmati roti berisi mentega dan kopi dari cangkir yang dipindahtuangkan ke bekas botol air mineral. Pagi itu, usai berlari memutari tiga blok kawasan Bugis, Singapura. Olahraga yang jalang dilakukan di Jakarta, apalagi dengan polusi udara yang mengerikan.

Cuaca pagi itu tidak biasanya bersinar terang. Namun jalanan belum banyak dilalui kendaraan pribadi. Hanya sesekali bus dan taksi yang melintas. Udara tanpa polusi terasa nyaman terhirupnya. Dari kejauhan di ujung perapatan, banyak orang berjalan kaki menyeberang jalan dengan teratur.

Hotel Fragrance, Middle RD, Singapura. Telepon kamar berdering begitu kencang. Saya terbangun dan melihat jam dari telepon seluler, puku...


Hotel Fragrance, Middle RD, Singapura. Telepon kamar berdering begitu kencang. Saya terbangun dan melihat jam dari telepon seluler, pukul 05.00 waktu Singapura. Suara seorang resepsionis hotel menyampaikan, ada tamu bernama Talyta yang menunggu di lobi.

Sekedar membasuh muka dan rambut dengan air kamar mandi, saya bergegas menemuinya. Talyta, perempuan ini yang mengatur seluruh jadwal seluruh kegiatan Rumah Budaya Indonesia (RBI) 2013 di Singapura yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Dia dari Dyandra Convex, Event Organizer (EO) yang menjadi mitra kegiatan tersebut. Acara itu digelar 30 November sampai 1 Desember 2013.

BANDARA Changi, Singapura, jam 14.00 waktu setempat. Cuaca mendung. Terminal bandara itu dari dalam pesawat, biasa saja. Seperti kotak...


BANDARA Changi, Singapura, jam 14.00 waktu setempat. Cuaca mendung. Terminal bandara itu dari dalam pesawat, biasa saja. Seperti kotakan korek api yang tidak mempunyai ciri khas negara. Tak banyak pesawat yang parkir. 

Berbeda dengan Bandara Soekarno Hatta di Indonesia, mempunyai ciri khas Indonesia pada ornamen bangunannya. Pesawat yang parkir tak terhitung jumlahnya, padat. Bahkan terlihat sibuk jadwal penerbangannya.

Patung berwajah seorang pria yang sedang membawa bola, telah runtuh dari penyanggah prasasti. Tak ada lagi patung it...














Patung berwajah seorang pria yang sedang membawa bola, telah runtuh dari penyanggah prasasti. Tak ada lagi patung itu, yang dulunya berdiri di pintu utara bagian depan lapangan Karebosi, Makassar, Sulawesi Selatan. Memang hanya sebuah patung. Namun, sosok itu adalah Ramang. Sang legendalis sepak bola Indonesia era 50 sampai 60-an.
Kini ia memang sudah tiada. Tubuhnya terkulai di Pemakaman Panaikang, Makassar. Namun, ia punya kenangan luar biasa bagi bentangan sejarah sepakbola Indonesia. Ia bahkan menjadi sosok yang paling ditakuti dan menjadi ikon keemasan sepak bola Indonesia yang pernah dijuluki ‘Macan Asia’.

Seorang lelaki berusia senja, terkulai l...

Seorang lelaki berusia senja, terkulai lemas dalam satu kamar tidur berukuran 3x3 meter. Ia sudah bersiap pasrah untuk menyambut kematiannya. Tanda-tanda itu sudah bisa diduganya. Dari kedatangan sosok mahluk gaib berpakaian hitam dalam mimpinya. Sosok itu membawa ke alam bawah sadarnya, ke suatu tempat yang sudah asing baginya.

“Semalam ada sosok hitam datang. Ia datang tersenyum dan mengajak ke suatu tempat yang indah,” ujar pria tua itu. Ia terdiam sambil mengatur kembali nafasnya.

Kemudian bercerita lagi. “Tempat itu begitu indah. Ada air terjun yang airnya jernih. Bukit-bukit dan rumput yang hijau. Dan sungai yang mengalir dengan airnya yang bersih.”

Hutan belantara itu berubah menjadi lapangan luas. Kayu tebangan masih berhamburan. Orang-orang itu, masih terus menebangi pohon lainnya. ...

Hutan belantara itu berubah menjadi lapangan luas. Kayu tebangan masih berhamburan. Orang-orang itu, masih terus menebangi pohon lainnya. Beberapa orang lainnya, membabati semak berduri. Tetes keringat dari dahinya, menjadi pengganti air minum yang bercampur dengan ludah untuk melepas haus.

Panas menyengat, mereka harus menyeka peluh di sekujur wajah dengan kaos rusuh yang dikenakannya. Malam yang dingin, sambil duduk mereka mengapit kaki dengan tangan untuk menutupi perutnya. Mencari kehangatan.

Peti mati coklat bertuliskan nama Pino Damayanto alias Ahmad Urip, diturunkan dalam lubang kubur Pondok Rangon, Jakarta Timur, Selasa (...


Peti mati coklat bertuliskan nama Pino Damayanto alias Ahmad Urip, diturunkan dalam lubang kubur Pondok Rangon, Jakarta Timur, Selasa (27/9). Adalah sosok yang membuat syok masyarakat Indonesia yang meledakkan diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Solo, Jawa Tengah pada minggu (25/9).

Inisial Pino cukup mentereng, alias Ahmad Yosepa alias Hayat. Oleh banyak pihak, ia dikaitkan dengan teroris jejaring Cirebon. Kelompok teroris baru yang dikejar kepolisian ini, memulai aksi ledakannya kali pertama di Mesjid Al Dzikra yang berada dalam komplek kepolisian Resort Cirebon, Jawa Barat.

“Sebelum ledakan di Mesjid Al Dzikra pada April 2011 terjadi, kelompok ini juga sempat melakukan pembunuhan terhadap tentara di Cirebon. Itulah kali pertama teror dijalankan,” ujar Taufik Andrie, peneliti teroris dari Yayasan Prasasti Perdamaian.

Jumat malam, sekitar pukul 20.30 WITA, 11 Oktober 1996, salah satu rumah di Jalan Andi Mappaodang, Kota Ujungpandang (sekarang Makassar), Su...

Jumat malam, sekitar pukul 20.30 WITA, 11 Oktober 1996, salah satu rumah di Jalan Andi Mappaodang, Kota Ujungpandang (sekarang Makassar), Sulawesi Selatan, didatangi lima orang tak dikenal berpakaian preman. Badannya tegap seperti tentara. Dua dari mereka masuk ke halaman rumah. Sisanya menunggu di luar pagar.