Feature Story News

Seorang lelaki terbaring lemah. Tak bisa menggerakkan tubuhnya. Matanya sayu seakan ada beban yang memberati kelopaknya. Ingin sekali berbic...

Berdamai dengan Maut

Seorang lelaki terbaring lemah. Tak bisa menggerakkan tubuhnya. Matanya sayu seakan ada beban yang memberati kelopaknya. Ingin sekali berbicara, tapi dari bibirnya hanya mengeluarkan ludah berbusa. Hanya terdengar suara sayup-sayup sambil tangannya bergerak memberi isyarat.

Dia terbujur tak berdaya, di sebuah kamar yang nampak lusuh dan kusam. Di kasur berukuran kecil, badannya lebih banyak meringkuk dengan kaki dikepit tangannya sendiri. Dingin. Ruangan itu tanpa pendingin udara dan kipas angin, tapi badannya tetap bertutupkan selimut tebal. Hanya bagian muka yang tersisa.

Lelaki itu bernama Sudraji, berusia 33 tahun. Keluarganya terhenyak kaget ketika dokter memvonis dia mengidap HIV (human immunodeficiency virus) . Istrinya, Rahtia, hanya terdiam, matanya meneteskan air mata. Sedih. Dia mendekap anaknya yang masih berusia satu tahun.

Rahtia panik. Ia khawatir di tubuhnya serta anaknya sudah ditulari penyakit itu. Dia memeriksakan kesehatannya dan anaknya. Bersyukur, dokter menyatakan negatif alias virus itu tidak menular ke dirinya juga anaknya.

“Saya usahakan memisahkan anak agar tak melihat kondisi ayahnya supaya mentalnya tidak terganggu. Saya hanya berdoa, semoga virus mematikan itu bisa segera hilang dan dia dapat kembali menjalankan aktivitas kerjanya,” ujar Rahtia.

Virus HIV adalah sebuah retrovirus yang menginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia, terutama CD4+ T cell dan macrophage, yang merupakan komponen vital dari sistem sistem kekebalan tubuh. HIV merupakan penyebab dasar AIDS (acquired immune deficiency syndrome).

Data statistik dari Departemen Kesehatan RI, penderita HIV/AIDS hingga Desember 2007 mencapai 11.141 jiwa. Tertinggi di Provinsi Papua, DKI Jakarta, Bali, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Maluku, Papua Barat, Bangka Belitung, dan Sulawesi Utara. Pada kelompok umur 20—29 tahun sebanyak 54,05 persen, disusul kelompok umur 30—39 tahun 27,96 persen, dan kelompok umur 40—49 tahun kisaran 8,03 persen.

Penderita yang tertular akibat jarum suntik (IDU) kisaran 49,9 persen. Heteroseksual 41,9 persen, dan homoseksual 3,9 persen. Suradji menjadi satu sekian ribu penderita lainnya yang tertular dari jarum suntik narkoba yang dikonsumsi beramai-ramai.

“Nggak ada yang nyangka. Padahal sudah setahun ini dia tidak pernah menyentuh narkoba lagi. Pokoknya, sejak menikah dan punya anak, dia sudah langsung berangkat ke Palembang untuk bekerja,” ujar Andri, adik Sudraji.

Andri penasaran, Ingin tahu asal muasal virus mematikan itu hingga bersarang di tubuh kakaknya. Sudraji dipaksa menceritakan semua. Samar-samar Sudraji ingat, terakhir kali menikmatinya dengan teman sekolahnya dulu. Satu jarum suntik berisi cairan narkoba digunakan bersama-sama dengan empat temannya.

Berdasar informasi itu, Andri pergi melacak. Dia datangi tempat yang biasa jadi tongkrongan kakaknya yang hanya berjarak 200 meter dari rumahnya. Andri kaget. Seorang ibu bercerita sambil menangis. Satu dari empat orang teman Sudraji ternyata sudah meninggal lebih dulu oleh HIV/AIDS. Kini, anak ibu itu juga sedang bertarung dengan virus itu.

Tak ada yang dapat disalahkan. Sudraji harus menjalani pengobatan. Ia diisolasi di dalam kamar. Sebulan setelah vonis itu, kondisi tubuhnya semakin layu. Hanya bisa berbaring dan rebahan di atas kasurnya. Saat saya melihatnya, Sudraji tak seperti sosok lelaki yang saya kenal tiga tahun lalu.

Andri dan Rahtia setiap saat selalu menengoknya. Menanyakan kemauannya. Dari minta dibuatkan minuman hingga minta bantu dibukakan celana saat ingin buang hajat. Suaranya lemah. Setiap minta dibacakan Alquran, Andri nampak bersedih. Dia memenuhi keinginan abangnya.

Alquran yang ditaruh di samping kepala Suradji dibaca Andri persis di telinga kirinya. Tak lama kemudian, Suradji terlelap tidur. Andri terlihat bersedih. Ingin menangis. Saat ingin meninggalkannya, Andri menyempatkan diri mengambil baskom yang menjadi tempat penampungan air kencing kakaknya.

“Sering, kalau minta ngaji, aku sering ketakutan. Ngebayangi hal yang tidak-tidak,” ujar Andri. Rahtia bahkan tak bisa memberikan cerita apa-apa tentang suaminya. “Tak tega”, katanya.

Karena tubuhnya kian lemah, Suradji harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta. Macam-macam obat disuntikkan ke tubuhnya. Keluarga sudah pasrah jika memang harus melepas Sudraji saat itu. Istrinya selalu menangis, namun tak bisa berbuat banyak selain berdoa.

Memasuki bulan kedua di rumah sakit, kesehatannya mulai pulih. Dia sudah bisa tersenyum dan kembali mengendong anaknya. Namun virus HIV masih mengendap di sel-sel darahnya. Dia harus tetap memasukan cairan obat untuk mengurangi penyebaran virus itu ke sel darahnya.

Kini, Sudraji sudah kembali bekerja. Menjalani aktivitas hari-hari bersama istri dan anaknya di Palembang, Sumatera Selatan. “Tobat. Sesak rasanya. Seakan-akan maut sudah siap menanti setiap saat,” ujarnya.

1 komentar:

Anonymous said...

Persoalan HIV bukan sekedar berbicara ttg penyakit, tapi menyentuh banyak persoalan kemanusiaan. HIV bukan hal yg membuat kita berhenti berkarya. Maju dan layari kehidupan. Bless.(penderita HIV, Hep.C)