Feature Story News

Mereka bukan kelompok musik papan atas , dengan karya-karya masterpiece. Mereka datang dari lingkungan sederhana, kemampuan bermusik alakada...

Kangen Band: Anomali Musik Kita

Mereka bukan kelompok musik papan atas, dengan karya-karya masterpiece. Mereka datang dari lingkungan sederhana, kemampuan bermusik alakadarnya, lirik lagu biasa-biasa saja, dan gaya panggung apa adanya. Menariknya,mereka justru mendapat sambutan hangat dan terus memperpanjang barisan fansnya. Tawaran manggung dari pelbagai penjuru kota, tak henti-hentinya mengalir. Nama mereka pun tak urung menjadi santapan rupa-rupa media. Mereka benar-benar telah berubah dari ’anak-anak tanggung asal kampung’ menjadi selebritis nasional dalam arti sebenarnya. Mereka bahkan didaulat untuk mengikuti talkshow di berbagai televisi. Mereka adalah Kangen Band, yang tahun ini berhasil menyabet Double Platinum Award dan Ringtone Award. Tahun 2007 benar-benar menjadi milik mereka, dan hampir tak ada teori sosiologis yang dapat menjelaskan anomali ini. Laporan akhir tahun ini mencoba memeriksa sisi faktual mereka, mulai pergaulan sosial, kemampuan musikal, pengalaman mereka menapaki popularitas, hingga caci-maki terhadap mereka lantaran dianggap sebagai ’perusak musik’.

I

Pagi di penghujung Desember 20007. Hujan mengguyur Pelabuhan Merak, Banten. Tempat penyeberangan antarpulau Jawa dan Sumatera itu padat . Berbagai jenis kendaraan, mulai sepeda motor, sedan hinga truk, antri menunggu giliran masuk ke dek kapal feri.

Dek paling bawah berisi truk dan bis, dek kedua bermuatan mobil dan motor pribadi, dan dek selanjutnya berisi penumpang dengan tempat duduk seadanya. Di dek penumpang ini, suasananya ramai. Walaupun tempatnya semi terbuka udara, tapi kelihatan begitu sumpek.

Empat orang anak berenang di pinggir kapal, menanti lemparan uang dari penumpang kapal. Mereka menyelam untuk menjumputnya. Atraksi ini tak membuyarkan konsentrasi saya pada sebuah nama: Kangen Band.

Sejam setelah menginjakkan kaki di geladak, kapal feri meninggalkan pelabuhan.

Penumpang datang dari berbagai kelas dan status sosial. Ada pedagang rokok keliling, penjaja koran, yang menawarkan buku teka teki silang alias TTS, sampai tukang jamu gendong. Ada pula copet dan tukang jarah barang.

Tiga jam terombang-ambing di laut melelahkan juga. Setiba di Pelabuhan Bakauheni yang masuk wilayah Lampung Selatan cuaca panas. Bis yang saya tumpangi sudah bersiap-siap melanjutkan perjalanan menuju Kota Bandar Lampung.

Sepanjang perjalanan yang berbukit-bukit, hutan tandus menjadi pemandangan yang tidak menyedapkan. Kawasan tandus itu hanya ditanami pohon pisang yang berdaun kering. Pohon kelapa terlihat tak segar. Rumah penduduk di sisi kanan kiri jalan, nampak renta.

Di daerah Panengahan, Lampung Selatan, bis jalan merambat. Di sana sedang ada razia yang dilakukan oleh tiga polisi yang berdiri dan satu polisi yang duduk di depan gubuk di pinggir kanan jalan. Semua truk barang diberhentikan. Usai menghadap polisi yang duduk, truk bebas melaju. “Biasa, upeti,” ujar penumpang lelaki di sebelah saya.

Satu jam sebelum tiba di Lampung, kendaraan melintasi pabrik, pembangkit listrik, dan menelurusi jalan yang tak jauh dari lintasan kereta api. Masuk ke perkotaan, dari atas bis, kota ini begitu bersih. Tapi tahun 2006, kota berjulukan ‘tapis berseri’ ini pernah mendapat julukan lainnya sebagai kota terkotor ketiga di Indonesia.

“Sebenarnya memang sudah bersih. Tapi anehnya, tidak pernah mendapat penghargaan Adipura dari Jakarta,” ujar Oyos Saroso, seorang wartawan setempat. Adipura yang dimaksud adalah penghargaan bagi daerah yang dinyatakan bersih lingkungan dari pemerintah pusat negeri ini.

Baru kali ini saya mengunjungi Bandar Lampung, ibukota propinsi. Kota ini cukup ramai. Jalanannya berbukit-bukit. Angin cukup kencang, hempasan dari laut. Jalanan nyaman untuk dilalui, tak ada kemacetan sama sekali. Bahkan sebagian besar jalan, terlihat sepi dari kendaraan.

Deretan mal dan hotel, banyak berdiri di sana. Yang paling marak saya jumpai, baliho ukuran besar di hampir setiap sudut jalan. Ada isinya iklan rokok, telepon seluler, dan iklan pelayanan masyarakat dengan poster wajah pejabat setempat. Lapak-lapak kaki lima, tak banyak terlihat.

Bandar Lampung, itulah tempat cikal bakal munculnya grup musik Kangen Band yang sedang naik pamornya dalam blantika musik Indonesia. Mereka memiliki banyak hit dengan lagu-lagu romantisnya. Pada saat yang sama, mereka juga terkenal karena diledek dan dicaci pemusik lain.

Kangen Band terdiri atas enam personil. Mereka Hendro ”Andika” Handika, Dodi ”Dodi” Hardianto, Novri ”Bebe” Azwat, Halim ”Iim” Kurniawan, Barri ”Izzi” Alfaizi, dan Rustam ”Utam” Wijaya.

Kangen Band kini telah berkibar di blantika musik Indonesia. Mereka mengubah nasib keluarga dan dirinya masing-masing. Kehidupan yang tak mulus di Bandar Lampung, ditapaki di Jakarta. Anak-anak gang itu kini merambah panggung di banyak tempat negeri ini.

II

Malam di ujung Gang Jangkung, Jalan Soetomo, Bandar Lampung. Tiga orang pria duduk santai sambil merokok di pos ronda yang berdiri di kanan jalan. Sedangkan di sebelah kiri, sekelompok anak muda berkumpul.

“Nunggu giliran main band di studio barunya Dodol,” ujar Bayu, satu dari tiga anak di pos ronda mengenai kelompok anak muda itu. Dodol adalah nama panggilan Dodi, gitaris Kangen Band, di wilayah itu. Studio milik Dodi baru saja dibuat setelah sukses di musik.

Di ujung gang itulah anak-anak Kangen Band biasa nongkrong. Inilah jembatan tempat mangkalnya. Dulunya, jembatan ini berupa kayu. Ada sungai kecil yang mengarah ke arah rumah Dodi yang hanya berjarak 40 meter. Rumah Eren, backing vokalnya yang sekarang bikin album sendiri, hanya berjarak 20 meter. Selisih tiga rumah ke tempat tinggal Dodi.

Jembatan itu kini sudah rapi. Tak terlihat ada sungai kecil yang melintas. Sudah tertutup dengan aspal. “Dulu emang di sini nongkrongnya. Biasanya sore baru pada main gitar. Kadang sampe malam baru pada bubaran,” ujar Lingga.

“Dodi kalau datang dari Jakarta, sekarang keren. Udeh pake mobil. Dia masih sering ikutan nongkrong juga di sini,” ujar Wahid.

Dari pos ronda itu, rumah keluarga Dodi terlihat. Ada empat rumah ukuran sekira masing-masing tipe 21. Rumahnya sederhana. Gentengnya masih model lawas.

Petak pertama, menjadi rumah induk dengan dua kamar tidur. Ruang tamunya berukuran sekira 4x6 meter. Ada satu set sofa empuk, televisi berukuran 21 inci, kipas angin, dan satu set audio. Ada dua kamar tidur, salah satunya kamar Dodi. Ukurannya 3x3 meter. Kasur tidur yang tipis dan lemari pakaian yang sudah tua, hingga saat ini belum diganti.

“Ini Dodi yang belikan. Tadinya sofa nggak seempuk begini,” ujar Sumarni, ibunya Dodi. “Lantainya juga sudah dipasangi keramik. Ini juga dari Dodi.”

Petak kedua dijadikan rumah cadangan. Rumah petak ketiga dibuatkan studio rekaman mini, dan rumah petak keempat dibuatkan studio musik. Tarifnya Rp 20 ribu per dua jam.

Ayah Dodi bernama Paijo berusia 55 tahun dan ibunya Sumarni berusia 53 tahun. Dodi bernama lengkap Dodi Hardianto. Dia anak bungsu dari empat bersaudara. Kakak pertamanya bernama Eko, yang kedua Ati dan ketiga Dede. Dodi sudah menikah dan punya satu anak. Istrinya bernama Ucha berusia 20 tahun dan anaknya bernama Satura Eka Erlangga yang usianya baru masuk dua bulan pada Mei tahun mendatang.

“Dodi lepas netek dari ibunya sampai usia enam tahun. Pokoknya dia gelisah kalau nggak kena tetek ibunya. Ampe tetek ibunya abis terkuras ama dia,” ujar Paijo. Sumarni mengiyakan. Di rumahnya itu juga, saya diperkenalkan oleh pamannya yang biasa dipanggil Pa’de. Nama lengkapnya Sunaryo, berusia 55 tahun.

Sebelum Dodi tenar, Paijo membesarkan Dodi dan tiga kakaknya dengan menarik becak. Pekerjaan ini dilakoninya sejak tahun 1975. Sedangkan ibunya, berdagang makanan. Sesekali membuat sarapan untuk para pekerja bangunan yang dimandori Sunaryo. Setelah Dodi tenar, ayahnya sudah tak lagi ngurusin becak dan ibunya yang mengelola studio musik milik Dodi.

Dodi sering membantu Sunaryo menjadi anak buahnya dalam urusan kuli bangunan. Pekerjaan menjadi kuli, tidak sehari atau dua hari saja. Bahkan berbulan-bulan lamanya. “Nah, ibunya juga ikut nginap menjadi pembuat makanannya, kalau dapat proyek di luar kota,” ujar Sunaryo.

“Kalau tidak ada proyek, ya Dodi nganggur. Di rumah aja. Kalau tidak punya uang, dia minta ama Pa’de-nya,” ujar Paijo.

Soal perempuan, Dodi memang jagonya. Ibunya saja sampai bingung yang mana sebenarnya pacar anaknya. Namun yang paling berkesan, kata Ibunya, pacar Dodi yang bernama Mey. Dodi duduk di Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Mey masih Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Perjalanan romantis antara Mey dan Dodi, akhirnya berakhir. Orang tua Mey tidak menyetujui. Maklum, usia gadis itu masih belum cukup. Mey juga, menjadi catatan sedih bagi keluarga Dodi. Gadis ini pernah minggat dari rumahnya dan menginap di rumah Dodi. Mey, Dodi dan Ibunya, tidur satu kamar. Ibunya tidur di antara dua pasangan itu.

Yang terjadi kemudian, orangtua Mey kalap. Marah besar. Rambut panjang Mey diplontos habis oleh orangtuanya. Mey gundul. Hubungan romantis Dodi dan Mey berakhir dengan ironis. Kenangan itulah, akhirnya dibuatkan lagunya oleh Dodi, bertajuk: Mey, dalam album kedua Kangen Band.

“Kami semua sedih dengan kejadian itu. Mey sudah saya anggap anak sendiri. Sampai sekarang, Mey masih menanyakan kabar Dodi,” ujar Sumarni.

III

Di sela obrolan, Pa’de yang duduk di dekat pintu melihat ayahnya Bebe melintas di depan rumah Dodi. “Tuh ayahnya Novri (Bebe),” ujar Pa’de. “Nah, itu sekalian aja, langsung di foto, pasti lagi bawa belanjaan untuk jualan besok,” ujar Sumarni.

Pa’de menghentikan langkah ayahnya Bebe. Saya langsung menyalami. Ayahnya Bebe, sedang menenteng dua kresek plastik di tangan kanan dan kirinya. “Abis belanja buat jualan besok,” ujarnya.

Saya pun langsung menuju ke rumah Bebe. Melintas satu gang sempit, bertemu jalan besar, kemudian menyeberang jalan besar dan masuk lagi ke gang sempit. Dari rumah Dodi sekira 200 meter.

Rumah Bebe terlihat sederhana. Cat rumahnya masih terlihat baru. Ruangan tamunya, sekira 3x4 meter yang hanya dilengkapi sofa baru yang empuk pembelian Bebe. Rumah itu masih kontrakan. Pemiliknya keluarga Dodi.

Nama asli Bebe sebenarnya Novri Azwat. Dia kelahiran 7 November 1988. Nama Bebe jadi beken, sindiran Andika kepada Novri. “Bebe terhanyut,” ujarnya dengan meniru logat Padang kental ala ayahnya Novri. Sejak itu, Novri akhirnya dipanggil Bebe oleh rekannya.

Ayah Bebe bernama Nasri berusia 51 tahun dan ibunya bernama Murni berusia 46 tahun. Bebe anak bungsu cum pria satu-satunya dari tiga bersaudara. Kakak pertamanya bernama Leni dan kedua bernama Nova. Ayahnya masih berjualan cendol dan ibunya berdagang nasi uduk dan lontong sayur. Lokasi lapaknya di depan Rumah Sakit Abdul Muluk. Persisnya di belakang Korem alias markas tentara, di Bandar Lampung.

Bulan pertama Bebe di Jakarta, ibunya ditransfer uang Rp 1 juta. Setelah meluncur album pertama Kangen Band, Bebe mengirim uang lagi Rp 18 juta. Nasri kaget dan ingin rasanya menangis. Baru kali ini ada anaknya yang kasih uang. “Biasanya Bebe yang minta, tapi kali ini orangtuanya yang terima uang dari anaknya. Terharu rasanya,” ujar Nasri.

Tidak hanya itu, Bebe juga mengirimkan uang untuk mengganti bangku kusam menjadi sofa empuk, mengecet rumah, dan Bebe meminta orangtuanya mencari rumah sendiri agar tidak mengontrak lagi. “Dia juga tawarin kami naik haji. Saya bilang, jangan dulu. Uang disimpan aja untuk tabungan,” ujar Nasri.

Keesokan harinya, saya menemui orangtua Bebe saat berjualan. Lapak nasi uduk Murni terbuat dari triplek. Hanya beberapa depa saja dari gerobak cendol Nasri. Setiap pagi, Murni sudah menggelar nasi uduk dan lontong sayurnya hingga pukul 11 siang. Sedangkan Nasri berjualan es cendol sejak pukul 10 pagi hingga sore hari.

“Sesekali saja, Bebe bantuin bawain. Dari rumah ke sini, dekat aja. Kan sewa tukang angkut pake dorongan becak,” ujar Murni. “Sudah puluhan tahun, kita jualan di sini.”

“Rumah Andika di mana,” tanya saya kepada Nasri.

“Andika kan udeh di Jakarta. Kalau nyari di sini, bingung. Nggak jelas anak itu. Udeh nggak ada keluarganya lagi. Kita juga nggak pernah tahu di mana persisnya. Rumahnya udeh kosong beberapa bulan ini,” jawabnya.

Usai bertemu dengan orangtua Bebe, saya langsung menuju ke rumah Utam. Dia bernama lengkap Rustam Wijaya, di Kangen Band memainkan gitar dua. Utam kelahiran 26 Oktober 1984. Tempat tinggalnya di Gang Hamin, Jalan W.R. Mongisidi, Bandar Lampung. Persisnya di belakang Bakso Sony.

Rumahnya sederhana sekira ukuran tipe 36. Dari jalan besar, sekira 300 meter masuk gang menuju rumah Utam. Saya ditemui oleh ibunya bernama Romlah dan kakaknya, Rusdiansyah. Utam anak bungsu. Kakak pertamanya Rosnaeni yang belum lama ini meninggal dunia akibat kecelakaan, kakak keduanya Rabudin dan ketiga Rusdiansyah.

“Dari kecil, Utam sudah ditinggal ayahnya. Cerai. Setahun yang lalu, ayah kandungnya itu meninggal dunia,” ujar Romlah.

Sejak Kangen Band tenar, rumah keluarga Utam sudah tak kusam lagi. Dulunya, setiap hujan selalu bocor. Lantainya saja tidak semulus sekarang. Kini, rumahnya sudah nampak bersih dan tak lagi ada tetesan hujan yang masuk. Utam membelikan kursi sofa yang empuk, motor untuk kakaknya, dan perabotan rumah.

“Sekarang udeh legaan. Rumah sudah tidak bocor lagi. Utam tidak membolehkan saya bekerja. Saya diminta untuk menikmati hidup saja,” ujar Romlah.

Hidup Utam kini sudah berubah. Utam dulu adalah pedagang sandal kaki lima di eperan depan Central Plaza Bandar Lampung. Dari pagi sampai malam hari, pekerjaan ini dilakoninya. Tempat itu kini sudah bersih ditertibkan oleh aparat pemerintah setempat. Utam memperoleh sandal dari kakaknya, Rosnaeni yang di belinya dari Jawa.

Sedangkan ibunya, bekerja sekedarnya. Kadang berjualan kue, membantu rumah tangga orang, kadang juga menjadi tukang cuci pakaian. Sedangkan hidup kakak yang lain, juga tak bisa diharapkan. Rusdiansyah, kakaknya Utam, bahkan harus merantau untuk mengais rejeki di negeri orang.

“Mudah-mudahan karier Utam dan Kangen Band terus seperti ini. Jadi kami tidak susah lagi,” ujar Romlah, tersenyum.

IV

Dari situ saya langsung menuju rumah Iim yang lumayan jauh dari rumah personil lainnya di Jalan Pulau Buru, Gang Balan, Bandar Lampung. Saya ditemui oleh ayahnya, M Noer Halim usianya 56 tahun. Sedangkan ibunya bernama Rostiati berusia 50 tahun. Rumah keluarganya berhalaman luas. Rumah baru yang dibelinya hasil penjualan rumah lama yang hanya selisih dua rumah saja.

Ada satu mobil sedan terparkir di garasi sebelah rumahnya yang bermerk Twin Cam tahun 89, yang dibeli Iim seharga Rp 35 juta pada 13 Agustus 2007. Iim bernama lengkap Halim Kurniawan, kelahiran 28 November 1987. Dia anak ketiga dari empat bersaudara. Kakak pertamanya Rudi Irawan, kedua Triyandi, dan adik bungsunya bernama Ayu.

Iim di Kangen Band memainkan drum. Hobi ini turun dari kakak pertamanya. Bukan drum beneran, tapi drum yang terbuat dari kaleng cat. Setelah kakaknya diterima menjadi polisi, Iim yang kerap meneruskannya menabuh drum kaleng cet. Kehidupan keluarga Iim sederhana, ayahnya bekerja di perusahaan kontraktor.

Usai tamat dari SMA Adiguna, Bandar Lampung, ayahnya memberikan dua pilihan kepada Iim: melanjutkan kuliah atau menjadi polisi seperti kakaknya. Iim justru berkecimpung di dunia musik. “Tapi saya tetap ingin kuliah dulu,” ujar Iim kepada saya saat bertemu di Jakarta.

“Dia kirim uang langsung ke ibunya. Kata ibunya, saya tidak usah lagi mikirin urusan listrik, air, dan telepon. Semua Iim yang tanggung. Ya udah mau gimana lagi. Tapi saya sarankan Iim tetap kuliah,” ujar Nunung, nama beken ayahnya Iim sambil tersenyum.

Satu personil Kangen Band lainnya adalah Izzi, yang kini berusia 18 tahun. Pemain keyboard ini tinggal dengan neneknya sejak kecil di Jalan Pahlawan, Kedaton, Bandar Lampung. Neneknya bernama Murniati kelahiran tahun 1951 dan ibu kandungnya bernama Evayanti kelahiran 1968. Ayahnya sudah lama tidak lagi bersama ibunya, cerai. Izzi anak semata wayang.

Rumah neneknya Izzi cukup besar dengan halaman yang luas. Ada tujuh petak kamar kos yang disewakan di halaman bagian kiri dan toko di sudut depan kiri. Sedangkan persis di depan rumahnya, Izzi membuat dua toko lagi untuk usaha neneknya. “Belum kepikiran mau usaha apa nantinya,” ujar Murniati, neneknya Izzi yang saya temui di rumahnya.

Dari Kangen Band, Izzi membeli mobil sedan bekas bermerk BMW seharga Rp60 juta. Mobil itu disimpannya di Lampung. Menurut neneknya, sejak kecil Izzi gemar membongkar pasang otomotif. Sejak dia bisa membawa mobil, dia juga yang kerap mengendarai mobil sedan merek Timor milik neneknya. “Izzi pernah hilangin satu motor keluarga,” ujar Murniati.

“Izzi itu anak yang makannya paling kuat dan banyak. Makanya, badannya cepat besar. Padahal usianya paling muda. Apalagi kalau sudah disiapkan sambel teri, bisa langsung ludes.”

Kehidupan keluarga neneknya cukup mapan. Namun tak sebanding dengan urusan rumah tangga orangtua kandungnya. Sejak kecil, ayahnya sudah berpisah dengan ibunya. Izzi akhirnya ditampung di rumah neneknya. Kakeknya bekerja di Inpeksi Pajak di Bandar Lampung. “Syukur dia sudah bisa dapat uang. Setiap Izzi memberikan uang, saya tolak. Saya sarankan, uangnya ditabung untuk masa depannya nanti.”

V

Dalam kancah musik Indonesia, Kangen Band hanyalah debutan baru. Beda dengan di kotanya. Kelompok band itu bisa dibilang telah lama singgah di hati publik.

“Di Lampung, bukan cuma anak musik aja yang kenal Kangen Band. Saya aja sering dengerin lagu mereka waktu belum tenar. Tapi, suaranya malah makin bagus pas ngetop di Jakarta,” ujar Sahudin, pedagang sate di jalan Raden Intan, Kota Bandar Lampung. “Saya baca di koran-koran, ternyata mereka bukan orang kaya,” ujarnya lagi.

Anak musik yang dimaksud umumnya mengacu pada kelompok-kelompok musik indie label, yang kini bertebaran di Lampung. Jumlah komunitas musik Indie di sana begitu marak. Jumlahnya diperkirakan mencapai ratusan kelompok yang sudah punya compack disc (CD) sendiri. Bisnis studio musik maupun studio rekaman jadi bidikan usaha menarik.

“Komunitas Indie di Bandar Lampung, benar-benar meriah. Mereka tidak memperlihatkan langsung seperti kota lainnya di Jawa. Musik Indie yang saya tangani saja mencapai 200 sampai 300 kelompok yang rekaman,” ujar Firman, pemilik studio rekaman “Ibong”. Dari ratusan komunitas musik indie yang buat rekaman di tempatnya, salah satunya adalah Kangen Band.

Saya menemui Firman ”Ibong” di rumahnya di Kali Awi, Bandar Lampung. Tempat studio miliknya, tak berpapan nama, masuk gang kecil, dan berada di antara rumah padat penduduk. Di rumah milik Ibong yang sederhana, ada satu kamar berukuran 2x3 meter yang menjadi tempat studio rekaman. Di situ, ada seperangkat komputer dan mixing enam channel. Ada juga mik dan gitar yang tergantung di dinding.

“Kangen Band masih ada ‘sesuatu’ yang belum diselesaikan sampai sekarang,” ujar dia sambil mengunyah nasi santapan siangnya di meja makan.

“Apa itu?”

“Pembayarannya. Tapi nggak masalah. Saya juga tidak itung-itungan kok. Yang penting mereka sekarang udeh tenar dan kali aja inget masalahnya,” ujarnya sambil tersenyum. Untuk rekaman, Ibong memasang tarif Rp 250 ribu untuk satu lagu.

Dia memperlihatkan hasil rekaman Kangen Band yang tersimpan dalam folder komputernya. Judul lagu “Menanti” tercatat sebagai lagu pertama yang tersimpan di komputernya pada 21 Juli 2005. Lagu ini akhirnya berganti judul menjadi ‘Penantian’. Ada juga lagu berjudul “Tentang Aku dan Dia”. Tercatat pada tanggal 21 Juli 2005 yang kemudian judul ini berubah jadi “Antara Aku, Kau, dan Dia.

“Ada satu lagu yang belum banyak orang tahu sampai sekarang. Kalau saya mau jahat, mungkin lagu ini sudah beredar. Saya masih simpan hasil recordingnya. Judulnya ’14 Hari’. Andika duet dengan Eren,” ujar Firman.

14 hari

Ku mencari dirimu

Untuk mengatakan

Tentang cita cintamu

Firman langsung menghentikan lagu itu. Satu persatu, dia mendengarkan semua album rekaman Kangen Band. “Lagu 14 hari ini, masih akan selalu saya simpan. Ini sebenarnya menjadi hak saya, kalau ada pihak yang menginginkannya,” ujar Firman.

Saat saya konfirmasi melalui telepon seluler mengenai judul ‘14 Hari’ itu kepada Dodi, dia kaget. “Kok tahu. Emangnya sekarang lagu itu ada di mana,” tanya Dodi, penasaran. “Ada di Ibong,” jawab saya, mengacu pada ”Firman”.

“Oh..iya..lagu itu masih tentang romantis saya. Judulnya 14 hari itu tentang rasa kangen selama 14 hari tidak bertemu dengan pacar saya,” ujar Dodi. Ia menyebut sebuah nama: Mey. Nama gadis ini akhirnya menjadi judul lagu untuk album keduanya.

Firman Ibong ingat cerita awal Kangen Band masuk studio rekaman miliknya. Dodi yang langsung menemuinya. Awalnya Ibong tidak mengenal Dodi. Dia hanya mendengar nama Kangen Band di kalangan komunitas musik indie di Lampung. Di mata Ibong, Dodi yang paling banyak berperan dalam hal lagu dan musiknya. Ibong hanya sekedar membantu memberikan sarannya.

Saat proses studio rekaman, satu persatu personil masuk ke dalam kamar studio yang sempit itu. Untuk memasukan suara vokal dan musiknya, sehari membutuhkan waktu tujuh sampai delapan jam lamanya. Itu hanya untuk satu lagu saja.

Yang paling melelahkan, papar Ibong, ketika memasukan vokal Andika. Menurutnya, suara Andika memang paling pas untuk karakter lagu-lagu ciptaan Dodi. Tapi, Ibong harus bekerja super keras. “Kalau mau dibayangin, setiap kata dalam vokal, pasti harus di potong,” ujarnya.

“Kayaknya, tersiksa banget pas Andika harus isi vokal. Kerja keras banget mengatur untuk menyambung setiap liriknya. Ada lirik yang Andika tidak punya kekuatan vokal, Andika harus mengatur nafas dulu. Terus lanjut lagi. Begitu seterusnya,” ujar Ibong.

“Bagaimana dengan personil lainnya,” tanya saya.

Ibong, menarik nafas dan mengatakan, ”permainan musik personil lainnya, standar,” jawabnya. “Semua lebih banyak diarahkan oleh Dodi. Karena basik musik lainnya, belum ada kemampuan apa-apa. Dari lirik lagu sampai arasemen musik, Dodi menjadi leader-nya.”

“Kalau soal musik, saya akui Dodi. Dia begitu menghayati antara lagu yang diciptakan dengan musiknya. Dan vokal yang paling pas dengan lirik Dodi, ya cuma suaranya Andika yang pas-pasan itu juga,” ujarnya tertawa.

Ibong masuk ke dalam studio rekaman mini miliknya. Dia mendengarkan hasil recording kelompok indie lainnya kepada saya. Usai itu, dia mengatakan, Kangen Band memang menang didengar musiknya. Musiknya enak, dan itu diakuinya. Tapi kalau mendengar langsung tanpa mixing, bubar semua,” ujarnya.

“Tapi mereka kan sekarang tetap tenar. Saya cuma sarankan, Kangen Band bisa menjadi leader anak-anak indie lainnya di Lampung untuk meramaikan kancah musik Indonesia,” sarannya.

Analis industri musik Indonesia, Bens Leo mengatakan Kangen Band harus banyak belajar soal kualitas musik. Mereka, lanjut Bens, tidak boleh berpuas diri dengan ketenarannya saat ini. Khususnya, saat Kangen Band membawakan lagunya secara langsung kepada masyarakat.

“Jika mendengarkan lagu mereka dari pengaturan mixing yang baik, saya salut. Tapi jika melihat dan mendengarkan langsung, di sini kelemahan Kangen Band. Harus segera diperbaiki kualitasnya,” ujarnya Bens.

VI

Cikal bakal Kangen Band tak hanya berawal dari ‘gubuk’ milik Ibong, ketika kali pertama recording untuk bikin CD demo. Dua studio musik juga tercatat menjadi catatan karier mereka. Adalah studio musik Sulva dan Rifan. Studio Rifan ternyata sudah tutup beberapa bulan yang lalu.

Studio Sulva berada di seberang jalan depan mesjid Babussalam, Penengahan, Bandar Lampung. Tak jauh dari situ, ada juga studio musik Ruru. Tempatnya tidak terlalu mewah. Tempat ini bersebelahan dengan warung internet Sulva. Bagian depan studio, terlihat kusam. Di dinding luar tertempel kertas yang isinya; menjual semua perlengkapan alat musik.

“Alat musiknya mau kami jual. Ada rencana ganti dengan alat baru. Karena yang lama sudah usang,” ujar Joko, pemilik studio yang kami temui. Joko dan keluarganya tinggal di belakang studio itu yang masuk melalui pintu besi dan gang sempit.

Dalam studio Sulva, banyak tergantung poster-poster kelompok musik asing. Hanya satu poster dalam negeri yang tertempel, Iwan Fals. Ruangannya cukup besar, sekira 4 x 6 meter. Alat musiknya yang tersedia cukup lengkap.

Joko memperkenalkan saya kepada seseorang bernama Acep. Pria ini berusia 18 tahun dan bekerja sebagai operator studio Sulva. Dia yang banyak tahu di saat-saat Kangen Band main musik. Karena di studio itulah Kangen Band merintis main musik sungguhan.

Acep cukup mengenal Dodi, Andika, dan Bebe. Ketiga orang ini, rumahnya berdekatan dengannya. Acep tidak pernah menyangka, Kangen Band bisa tenar seperti sekarang ini. Dia berpikir, mereka hanya dikenal di kalangan musik indie Lampung saja.

Studio inilah yang punya kenangan, utang piutang ala Kangen Band. Walaupun biaya sewanya Rp 15 ribu per dua jam, Kangen Band kerap utang terlebih dulu. Bahkan, Bebe yang sering jadi jaminan. Karena Acep dekat dengan mereka, dia tidak pernah perdulikan dibayar atau tidak tunggakannya.

“Yang saya ingat, semuanya sudah langsung dilunasi. Kalau bayarnya ditunda, emang sering. Nanti mereka mau main lagi, baru dibayar sekaligus. Begitu seterusnya. Jadi, nggak ada utang lagi,” ujar Acep.

Acep cukup tahu perilaku Andika, Bebe dan Dodi. Kepada saya dia mengatakan, Bebe dan Dodi, orangnya tidak banyak bergaul. Dua orang pendiam dan tidak pernah terlibat tawuran antarkampung atau ikutan geng-geng. Tapi Andika, sebaliknya.

Jalan raya di depan mesjid Babussalam, dulunya dikenal sebagai daerah yang kerap tawuran antarkampung. Setiap tawuran, wajah Andika tak pernah absen dari pertarungan itu. “Kalau ada tawuran, pasti ada Andika,” ujar Acep. Joko mengiyakan dan mengatakan, “di daerah sini, semua orang tahu perilaku Andika,” ujarnya.

“Makanya, waktu Andika ditangkap bawa narkoba, nggak aneh lagi,” ujar Acep menambahkan. “Tapi sekarang, kehidupan mereka pasti sudah berubah. Kita berharap sih, mereka tetap eksis di Jakarta dan menjadi orang musik yang mewakili musik dari Lampung.”

Satu lagi tempat yang punya jasa dengan Kangen Band adalah Pro2 FM. Radio ini bermarkas di lantai tiga, masih satu kompleks dengan Radio Republik Indonesia alias RRI. Radio lawas milik pemerintah ini punya radio lainnya: Pro1, Pro2 dan Pro3.

Di situ saya ditemui Firdaus, jabatannya Sekretaris Tim Kreatif RRI Bandar Lampung. Kata dia, tak aneh kalau Kangen Band bisa mengudara di radio ini. Karena, ada program yang memang khusus untuk musik indie untuk disiarkan langsung di studio musik yang disiapkan.

“Kami juga menampung semua CD demo musik indie. Mereka cukup mengirimkan proposalnya, kami kaji dan langsung kami siarkan. Namun untuk Kangen Band, tidak pernah datang. Tapi lagunya kami siarkan berdasarkan permintaan,” ujar dia.

“Anda tahu siapa yang meminta lagu Kangen Band disiarkan,” tanya saya. Firdaus menjawab, tidak tahu.

Kangen Band kini sudah merajalela di banyak panggung dalam dan luar negeri. Mereka tidak pernah lagi mendatangi tempat-tempat yang dulu punya kenangan mengasah musik untuk menjadi tenar.

VII

Malam di awal November 2007. Jakarta mulai memasuki musim penghujan. Mobil Honda Jazz warna merah terparkir di halaman belakang Sekolah Duta Bangsa yang berada di kawasan Kemang, selatan Jakarta. Di situ ada juga mobil minivan bertuliskan Positif Art Entertaiment (PAE).

Mobil yang terparkir tadi, milik Andika, dan minivan milik PAE adalah kendaraan operasional antarjemput sebagian personil Kangen Band. Andika sudah memiliki rumah di Bogor dan Dodi membeli rumah di kawasan Cibubur. Dua orang ini juga sudah memiliki kendaraan pribadi.

Sementara empat personil lainnya, Bebe, Izzi, Tama, dan Iim, memilih tidur di rumah kontrakan di kawasan Cibubur, Jakarta Timur, dan memakai kendaraan operasional yang disiapkan oleh PAE.

“Tuh mobil baru beli. Tadinya masih mulus. Langsung dari Showroom. Eh, udeh penyok. Ditabrak mobil juga,” ujar Adji kepada saya tentang mobil milik Andika.

Saya mendekati mobil Andika. Body depan dekat lampu kanan, ringsek. “Maklumlah, Andika baru punya mobil. Itu kan hasil Kangen Band. Dia bawa mobil sendiri. Pikirnya jalan Jakarta sama dengan Lampung kali,” kata Adji.

Di lantai tiga Sekolah Duta Bangsa, ada studio rekaman Aluna yang dikelola seorang musisi ternama negeri ini, Erwin Gutawa. Studio itu menjadi rekanan PT. Warner Music Indonesia untuk mengorbitkan Kangen Band. Perusahaan rekaman musik jejaring dengan Warner Music Inc yang berpusat di Amerika ini, mempunyai anak perusahaan di seluruh dunia.

Di luar kamar studio Aluna, sudah ada Andika yang sedang ditemani perempuan bertubuh tinggi. Namanya Bunga. Perempuan ini belum genap setahun dinikahi Andika. Ia sedang menyantap mie yang dilengkapi nasi dengan lauk ikan. Di situ ada juga Doddy, si mantan kenek angkot itu, gitaris, dan Izzi yang sedang mengembuskan asap rokok.

“Sedang persiapan album kedua,” ujar Dodi usai menyalami saya.

“Om, makan yuk,” kata Andika pada saya. “Om, kami ini musisi kampungan. Banyak dihinanya. Tapi biarin aja orang mau nyebut apa soal Kangen Band. Kami tetap lanjut saja,” ujarnya lagi sambil menyedok nasi dan mengunyahnya.

“Biarin aja orang mau ngomong apa. Buktinya lagi Kangen Band banyak diminati juga. Iya nggak Om,” tegas Dodi. Saya mengiyakan.

“Ada saatnya yang sudah naik, bisa jatuh juga. Yang di bawah, ada waktunya untuk naik. Dunia ini berputar,” tambah Andika.

“Sudah siap semua lagunya? Berapa lagu? Siapa saja penciptanya?” tanya saya.

“Lagu sudah siap, tinggal isi musik saja. Kalau lagu, ada 10 lagu. Semua masih ciptaan saya,” jawab Dodi.

Andika dan Dodi, saya perhatikan postur tubuh dan model rambutnya beda-beda tipis saja. Badan Andika lebih tinggi. Karakter Andika terlihat lebih santai dengan gaya duduknya yang sedikit malas. Dia senang menyelonjorkan tubuhnya di kursi. Sedangkan Dodi lebih memperlihatkan kewibawaan. Ia terus berpikir untuk persiapan lagu Kangen Band. Ia sering bolak-balik keluar masuk studio.

Di Aluna, saya juga diperkenalkan dengan Bebe, Izzi, Tama, dan Iim. Semua potongan rambutnya, tak jauh beda dengan Andika dan Dodi. Model rambut bagian depannya agak panjang menjuntai di mata. Hanya Iim yang rambutnya beda, pendek. Rambut tengahnya, tegak kuncup.

Bebe, anak ini badannya kurus. Raut wajahnya kecil mungil, dengan mimik yang kerap memperlihatkan keluguan. Tinggi badannya sekira 1.50 meter. Ia tampak tak banyak bicara dan kerap memperhatikan sesuatu yang baginya terlihat mengasyikkan.

“Baru tahu, kalau ternyata studio rekaman peralatannya selengkap ini. Baru tahunya, pas rekaman Kangen Band. Waktu bikin CD demo, alatnya nggak secanggih ini,” tutur dia sambil memperhatikan operator studio mengatur musik Kangen Band dengan seperangkat alat rekaman modern.

Izzi, berbadan rada gemuk. Anaknya banyak bicara dan kerap becanda. Ia sering memegangi rambut dan perutnya yang gendut. Ia sedang berusaha mengecilkan kembali perutnya. Malam itu, ia tidak bertelanjang dada.

Tama dan Iim, juga kurus. Dua orang ini tidak terlalu banyak bicara. Perawakannya tenang. Dua orang ini tampak senang menyendiri. Tama orangnya santai. Sedangkan Iim rada susah diajak tersenyum dan selalu terlihat serius. Dia senang cerita pribadiannya. Hanya dia personil Kangen Band yang keturunan dari Jawa, Sumenep.

VIII

Studio rekaman Aluna. Tempatnya cukup besar dan nyaman dengan pendingin ruangan yang sejuk. Lampunya tidak terlalu terang. Studio itu punya dua ruangan. Ruangan pertama isinya perlengkapan mixing dengan komputer. Di situ ada keyboard, dan gitar serta ada satu sofa panjang. Ruangan satunya lagi, isinya hanya satu set drum. Ruangan itu, dibatasi kaca tembus pandang.

“Kata Dodi, ada yang harus diganti suara musik drum dan keyboard,” ujar operator studio Aluna.

“Emangnya kenapa,” tanya Andika. “Kedengarannya udeh bagus,” timpal Izzi. operator Aluna tak menjawab. Bebe cuma bisa merengut sambil memperhatikan operator memainkan komputer memasukkan musik untuk diproses. Dodi sedang tidak ada di ruangan itu.

“Lagu mana yang mau diganti,” tanya Izzi kepada Bebe.

“Lagu yang judulnya ‘Untuk Jan’. Keyboard sama drum kurang enak didengar. Nggak tau tuh, maunya Dodi gimana,” jawab Bebe.

“Mana Dodi,” teriak Andika sambil rebahan di kursi sofa. Tama yang rebahan di lantai berkarpet di sebelah sofa, dengan gaya tangan kanan menahan kepalanya, terdiam saja. Sedangkan Iim, hanya berdiri di dekat pintu. Membisu.

“Di luar. Kebanyakan dengar komentar orang sih. Ngapain didengerin,” ujar Izzi.

Tak lama, Dodi masuk. Semua terdiam. Dodi langsung mendekati keyboard yang tadi dimainkan Izzi. “Kayaknya harus direvisi sedikit saja suara keyboard sama drum,” ujar Dodi. Semua masih terdiam.

Operator mendengarkan vokal Andika dan Dodi langsung memainkan keyboard. Dia test satu persatu tuts-nya. Kedengaran saya, beda-beda tipis suara keyboard yang sudah dimainkan Izzi dan revisi yang dilakukan Dodi.

Iim sudah ada di dalam ruangan drum. Dia juga mengubahnya menjadi lebih lembut lagi. Drum Iim, memang rada kasar. Bahkan terdengar kaku. Dodi meminta ada variasinya. Hasilnya, memang cukup bagus. Malam itu, tiga lagu baru rampung digarapnya untuk album kedua Kangen Band.

“Sudah selesai kan. Gue mau pulang nih. Gue mau istirahat. Capek. Sudah malam, ngantuk,” ujar Andika. Izzi mengiyakan.

Andika dengan pacarnya dan dua orang teman, bergegas meninggalkan studio. Yang lainnya belum bergeming dari tempat itu. Saya pun ikutan pamit. Di parkiran Sekolah Duta Bangsa, Andika sudah ada di dalam mobil. Dia yang menyetir mobil Honda Jazz yang body depannya penyok itu. Pasangannya, Bunga, duduk di sebelahnya. Sedangkan dua orang lagi, duduk di bangku belakang.

“Nekad Om,” ujarnya kepada saya dari dalam mobil. “Mau dibawa ke bengkel, masih garansi kok.” Andika langsung injak gas mobilnya, menuju rumah barunya di kawasan Bogor, Jawa Barat.

IX

Siang itu Jakarta Selatan, panas menyengat. Di hotel Grand Mahakam lantai empat, sedang ada acara media gathering dengan Kangen Band. Suasana tempatnya, nyaman. Terbuka. Ada kolam renang dan taman dengan pemandangan gedung tinggi Jakarta.

Untuk acara media gathering sendiri, disiapkan ruangan yang pintunya terhubung ke tempat terbuka itu. Wartawan diatur satu persatu untuk bisa mewancarainya. Di situ, ada pihak PAE dan dari Warner Music Indonesia. Personil Kangen Band yang datang, Bebe, Izzi, Iim, Andika dan hadir juga Eren, backing vokalnya.

Dodi dan Tama sedang dalam perjalanan dari Lampung menuju Jakarta mengendarai mobil Dodi. Tama baru saja berduka: Rosnaeni kakak kandungnya, meninggal dunia akibat kecelakaan motor.

Di ruangan media gathering itu, Kangen Band sedang diwawancarai oleh seorang wartawan. Dua award dari Warner Music Indonesia tergeletak di kursi berkain putih; Double Platinum Awards dan Ringtone Award. Dua penghargaan itu, mendulang sukses dari album pertamanya, Antara Aku, Kau dan Dia.

“Bagaimana tanggapan kalian dengan kritikan kelompok lain,” tanya seorang wartawan kepada Kangen Band.

Izzi menjawabnya, “Kita sih terima saja. Tidak perlu dijadikan masalah buat Kangen Band untuk bermusik. Bagi kami, kritikan itu justru membangkitkan Kangen Band untuk berkiprah di musik Indonesia.”

Andika yang dari tadi sibuk dengan telepon selulernya, menambahkan, “Bagus saja dengan semua kritikan. Ini akan menjadi bahan introspeksi diri untuk lebih baik lagi di masa mendatang. Kita tidak akan memusuhi orang yang kritik. Mungkin saja, pengkritik itu lebih hebat dari kami.” Bebe, Iim, dan Eren hanya menganggukkan kepalanya.

Kritik dan hujatan, sudah bukan hal baru menimpa Kangen Band. Ketika kelompok ini mencuat di pentas musik Indonesia, hujatan datang bertubi-tubi. Band senior mereka mencaci dari semua lini. Menghujat suara dan wajah Andika yang tak bagus didengar dan dilihat. Lagunya dianggap kampungan dan merusak musik Indonesia. Cacian tentang latar belakang hidupnya juga dilontarkan. Dari ejekan anak tukang nasi, kuli bangunan, sampai tudingan anak mantan tahanan.

Situs berita detik.com, edisi Selasa, 08/05/2007 memuat pernyataan David vokalis grup Naif yang menyindir Kangen Band. “Tega bener. Mau dikemanain musik Indonesia. ‘Kangen Band’ please deh jangan band-band kayak gitu lagi yang dikeluarin.”

Yang paling mengerikan, beredar lagu rap melalui jaringan telepon genggam di awal September 2007. “Kami masih menyimpan musik rapp yang menggunakan kata kotor dan sangat lebih tidak pantas keberadaannya di musik Indonesia,” ujar Sudjana. Dia memberikan telepon selelurnya, dan mendengarkan kepada saya lagu yang menghujat Kangen Band.

Sedikit kutipan lagu hip-hop caciannya yang berjudul Kangen Bitch:

Paling enak hari gini cari-cari perkara

Yo, amit-amit baru sekali ini kejadian

Seumur hidup baru ada sampah jadi perhatian

You know Kangen Band yang personilnya, udik dan jelek

…….(lirik jorok) sama Kangen Band (8x)

…….(lirik kotoran binatang) lebih pantas jadi pengamen.

Mereka adalah contoh kebodohan yang dipuja

Sama seperti pertama kali tenarnya Radja

Orang bilang bener, kalau kalian tolol

Kayak rombongan waria yang tidak punya …….(lirik jorok)

Bahkan harga diri elu lebih rendah dari ……(lirik nama binatang)

Saya dan Sudjana tertawa. Lirik lagunya menggunakan bahasa sangat kotor. Musik rap ini, bagi saya cukup enak didengar. Tapi cacian ke Kangen Band dengan bahasa jorok dan nama binatang, membuat saya tak habis pikir.

Situs rileks.com, memuat tulisan permintaan maaf dari pembuat dan pelantun lagu cacian Kangen Band. Adalah M. Iqbal, seorang rapper asal Yogyakarta. Isi sebagian pernyataannya; “Saya sendiri tidak mengira lagunya akan seheboh sekarang, hingga muncul anggapan bahwa saya mencari sensasi dari lagu “sampah” saya itu. Saya merasa terkejut ketika diberitakan hendak “membunuh” secara fisik, sungguh tidak ada niatan hal tersebut saya lakukan, saya cuma membuat lagu itu untuk “fun” representasi dari perasaan saya, dan juga mewakili perasaan teman-teman agar terekspresikan.”

“Kami berencana mau menggugat mereka. Tapi kami pikir-pikir, buat apa. Nanti malah jadi sensasi dan perhatian buat mereka,” ujar Sudjana tentang musik rap hujatan sambil bergegas menuju ruangan media gathering.

Usai berbincang dengan Sudjana, saya dihampiri Bebe. “Lagu apaan tuh, Om,” tanyanya.

“Lagi dengerin lagu makian Kangen Band,” jawab saya.

“Wah, kalau itu, aku juga udeh nyimpan di HP. Ternyata bukan cuma Kangen Band. Agnes Monica juga dikatain pake bahasa jorok dan kotor. Ada juga yang semua band pop dimaki-maki. Kecuali Dewa,” ujar Bebe. Bebe duduk di sebelah kanan saya. Dia mengatur telepon selulernya untuk saya download lagu makian-makian itu.

Di sela download, Andika menghampiri kami. Dia menyingkirkan tas bawaan saya yang ditaruh di bangku kiri. Andika nampak lelah. Wajahnya dibaluri kosmetik perawatan wajahnya. Saya pun bergurau menanyakannya, “Wajah elu di apain?”

Andika menjawabnya, “Biasa Om, perawatan wajah nih. Supaya mulus kembali,” jawab Andika. “Ini bukan sekedar bedak, ini obat juga. Biasa, sebulan sekali harus pemeriksaan dokter.” Belakangangan saya baru tahu, Andika harus mengeluarkan kocek setiap bulannya dua juta rupiah untuk memuluskan wajahnya. Dokternya di Bogor dan rutin melakukan pemeriksaan.

Saya pun menanyai kasus narkoba yang pernah menjeratnya. Dia mengaku pernah di penjara. Tapi dia menjawabnya berbeda. Kata dia, kasusnya adalah tawuran saat masih sekolah dan belum bergabung dengan Kangen Band. “Biasalah Om, dulu kan sering ikut tawuran. Di penjara semalam aja kok,” ujarnya.

Yang sebenarnya, Andika pernah divonis satu tahun oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Bandar Lampung. Dia terbukti melanggar pasal 85 huruf a Undang-undang No.22/1997 tentang Narkotika jenis daun ganja. Andika ditangkap kedapatan membawa empat linting daun ganja saat razia di Jokker Biliard pada 9 Maret 2006.

Saat akan dibacakan vonis hukumannya, Andika sempat membacakan puisi di depan Majelis Hakim Pengadilan. Bahkan, dia juga pernah diminta Majelis Hakim untuk bernyanyi dulu di depan sidang.

X

Lampung, tahun 2004. Sekelompok anak muda nongkrong di atas jembatan sungai kecil di Jalan Soetomo, Bandar Lampung. Mereka nyanyi-nyanyi diiringi alat musik sekedarnya. Sesekali, dengan siulan, mereka menggoda perempuan yang melintas di depannya.

Mereka bukan geng ’pemalak’ orang lewat. Mereka sedang membangun kreativitas. Dan kreativitas terbentuk ketika mereka memutuskan untuk melahirkan embrio kelompok musik Kangen Band itu. Ada vokalis, pemain gitar, kibod, juga pemain drum. Dua yang disebut terakhir, menggunakan kibod mainan dan drum eks ember cat plastik.

”Kelompok musik” itu biasa berkumpul sore hari, usai beberapa dari mereka pulang sekolah, atau usai mengais rejeki sebagai kuli bangunan atau berdagang sandal jepit. Mereka memang datang dari kelas pancaragam. Ada murid sekolah, ada juga buruh serabutan.

Dengan alat seadanya, mereka membawakan musik dan lagu grup-grup band terkenal Indonesia. Mereka melahap habis lagu-lagu yang biasa dinyanyikan kelompok Padi yang dimotori Piyu dengan vokalis Fadli, dan Peterpan dengan vokalis Ariel. Gaya vokalisnya bahkan mirip dengan dua vokalis grup papan atas itu.

Bosan dengan permainan alat sekedarnya, mereka akhirnya memikirkan untuk bermusik dengan alat sesungguhnya. Mereka meluncur ke studio musik sewaan Sulva, yang berada di Jalan Ratulangi, Bandar Lampung. Lagu-lagu yang dimainkan masih karya-karya Peterpan dan Padi. Saat itu mereka belum menyematkan nama band.

Mulanya Iim yang agak kagok menyesuaikan diri dengan drum. Ia yang biasanya main drum pakai penampung cat, kali ini memegang stik dan drum sebenarnya. Yang lain tidak bermasalah dengan alat musiknya masing-masing.

Untuk membayar sewa studio musik, dananya patungan. Namun tanpa ada kocek di kantong pun mereka tetap nekad masuk studio. Soal bayar sewa, dipikirkan belakangan. Yang penting bermain musik dulu. Kalau malu karena utang belum dibayar, mereka pindah ke studio Rifan yang jaraknya tak jauh dari studio Sulfa.

Padahal uang sewa studio musik di sana tidak terlalu mahal. Rp20 ribu setiap jam. Tapi bagi mereka, uang segitu termasuk besar. “Sampe gua yang jadi korbannya,” kisah Bebe yang berbadan paling kecil dan dikenal juga sebagai Novri.

Bebe dijadikan jaminan kepada pemilik studio. Alasan teman-temannya, mereka lupa membawa uang. Padahal mereka meluncur ke rumah Doddy untuk makan. Saat mana Bebe hanya celingak-celinguk di dalam studio.

Bak anak tahanan yang berada di rumah penjara, dia mendapat pengawasan dari penjaga studio. Dua jam kemudian, pemilik studio melihat mimik Bebe. Kasihan. Dia disuruh pulang. Dengan rasa jengkel, Bebe berjalan kaki ke rumah Dodi.

Baru saja mereka akan berangkat untuk menebusnya, Bebe sudah ada di dekat rumah dengan wajah sayu. Mereka semua tertawa dan meminta maaf. “Eh, Bebe kan kita titipin di studio,” Izzi teringat kawan paling kecilnya itu. Izzi dan Bebe satu sekolah di SMA Bina Mulia, Bandar Lampung. Bebe menggerutu dengan perut kelaparan. Dia langsung menyantap makanan yang masih tersisa sambil terus mengoceh tak karuan. Yang lainnya hanya mesem-mesem.

Hampir setahun, mereka keluar masuk studio musik. Iim sudah tidak kagok lagi main meiankan drum sungguhan. Suatu hari mereka berangan-angan untuk bisa nyanyi di kafe-kafe. Semakin serius di dunia musik, akhirnya membuat mereka mulai terpikir untuk mengantongi nama band. Persisnya 4 Juli 2005, nama Kangen Band dicetuskan oleh Dodi, gitarisnya.

Personil tidak berubah sejak mereka kongkow-kongkow di atas jembatan. Dodi pada gitar dan vokal, Andika (vokal), Thama (gitar), Bebe (bas), Iim (drum), dan Izzy (keyboards). Filosofi nama Kangen Band, sederhana. Di saat sendirian atau tidak berkumpul sehari saja, Doddy kangen bertemu dengan teman musiknya itu.

Namun cerita lain, Kangen Band diambil dari julukan panggilan untuk Dodi. Dia dikenal sering berganti nama jika berkenalan dengan perempuan yang ditaksirnya. Kadang ia menyebutkan nama panggilan Genta, sesekali Tesar, dan seringkali dia mengaku bernama Kangen. “Dodi banyak ceweknya,” ucap Bebe dan Izzi.

“Kalo aku sih, belum punya pacar,” kata Bebe sambil mengusap rambutnya. Izzi menyambungnya, “Sama, aku juga belum punya.” Bebe langsung nyeletuk membalas, “Boong, pacarnya ada di Lampung.” Izzi tak kalah membalas, “Maksudnya cewek di Jakarta.” Izzi tertawa. “Dasar Playboy,” celetuk Bebe.

XI

Mereka tidak lagi bermain di jembatan, tapi mulai memberanikan diri naik panggung. Untuk promosi, mereka melibatkan Iit Bahtera, orang Lampung dan masih berkeluarga dengan Dodi. Dia-lah yang mencarikan orderan untuk Kangen Band.

Mereka ngeband keliling. Dari undangan acara sunatan sampai ke kafe-kafe, semua dilayani. Sekali mereka keluar daerah, mentas di perhelatan perkawinan di Palembang. Lagu-lagu Padi dan Peterpan serta lagu hits Indonesia lainnya jadi andalan.

Pentas pertama mereka di Pringsewu, Bandar Lampung dengan honor Rp 800 ribu. Mereka gembira mendapatkan uang sebesar itu. Tapi mereka juga pernah mendapat honor Rp 125 ribu. Uang itu dibagi rata, seorang dapat Rp 25 ribu. Tak jarang mereka hanya mendapatkan ucapan ”terima kasih” atau ”proyek tengkiu”.

“Honor terima kasih itu waktu acara perkawinan di Bandar Jaya. Cuma dikasih makan doang,” kenang Izzi.

“Iya, udeh cape-cape nyanyi. Nggak dapat apa-apa. Kesel banget,” ujar Andika.

Bebe mengiyakan.

”Luntang-lantung” bermain musik, membuat Kangen Band bosan. Ada pemikiran untuk bikin lagu sendiri. Dodi punya banyak catatan puisi. Ia sering menulis syair romanti. Dari kisah pacarnya selingkuh sampai harus bertemu kekasihnya dengan diam-diam.

“Semua lagu adalah kisah nyata yang saya alami. Sebelum ada Kangen Band, syair itu memang sudah ada. Akhirnya saya jadikan lagu,” tutur Dodi.

“Kebanyakan cewek sih lu,” ledek Iim. Dodi tersenyum. “Pacaran jadi kandas terus,” timpal Bebe.

Pertengahan 2005, Kangen Band akhirnya punya dua lagu yang sudah diaransemen: ‘Penantian’ dan ‘Antara Aku, Kau, dan Dia’. Setiap dapat order manggung, dua lagu itu mereka nyanyikan sebagai perkenalan. Lagu itu akhirnya disulap ke dalam CD demo. Untuk bayar sewa studio rekaman, mereka patungan.

Walaupun sudah punya lagu di CD demo, mereka tak tahu cara mengirimkannya ke perusahaan rekaman. Juga tak pernah berangan-angan masuk dapur rekaman major label. Bagi mereka, CD demo saja sudah jadi kebanggaan tersendiri. Mereka cukup puas dengan lagu bikinan sendiri, direkam sendiri, dan didengar sendiri. “Maklum orang kampung. Kalo kata Tukul, katrok,” ujar Andika.

“CD demo dikirim saja ke radio,” ujar Yaya, perempuan yang dekat dengan Dodi. Dia yang membawa CD demo ke Radio Pro2 FM, salah satu sayap perusahaan milik Radio Republik Indonesia alias RRI. Radio ini oleh Kangen Band dianggap paling digemari oleh orang Lampung.

Gagal. Lagu mereka tak juga diperdengarkan. Bahkan tak ada kabarnya.

Suatu hari, Izzi punya siasat. “Kita harus request ke radio minta disetelin,” ujarnya. Yang lain setuju. Personil Kangen Band dan teman dekat mereka pun gencar menghubungi Radio Pro2 FM. Mereka hanya minta disetelin lagunya sendiri.

Siasat itu jitu. Radio lawas negeri ini menyiarkan lagu Kangen Band. “Akhirnya disetel juga,” ujar Izzi. Request tetap dilakukan agar lagu mereka tetap terdengar setiap hari.

Tidak hanya itu siasat yang dijalankan. Doddy seorang kenek angkutan kota alias angkot di Lampung, teman dekat Dodi gitaris Kangen Band, juga ikut andil mempopulerkannya. Ia sering menyetel lagu Kangen Band di kendaraannya. “Pokoknya cuma ada lagu Kangen Band saja,” ujar Doddy, kenek angkot itu.

Doddy pula yang pertama kali mendengar lagu Kangen Band di lapak CD bajakan di Pasar Tengah, Tanjung Karang, Bandar Lampung. Dia langsung menyampaikan kabar gembira itu ke semua personil Kangen Band.

Sejak itulah, lagu mereka kerap terdengar di seantero Bandar Lampung. CD demo mereka ternyata banyak dibajak dan beredar di sana. Tak ayal, lapak-lapak bajakan semakin banyak memperdengarkan CD lagu mereka. Dari pasar tradisional sampai mal di Lampung, kerap menyetel lagu Kangen Band.

“Kami tidak menyangka lagu Kangen Band banyak beredar bajakan. Tapi kami senang, ada yang mendengarkan,” ujar Dodi.

Nama Kangen Band sudah banyak dikenal di telinga masyarakat Lampung. Orang sana mengira, mereka kelompok musik ternama di Indonesia. Tapi, banyak orang Lampung yang tidak pernah melihat penampilan Kangen Band di televisi. Koran di Lampung pun tak pernah memberitakannya. Kenal nama, tak kenal wajah.

XII

Januari 2006, kapal feri antarpulau meluncur dari Jakarta menyeberangi Lampung. Sudjana, seorang Direktur Positif Art Entertainment (PAE) mendengarkan lagu aneh selama berada di kapal itu. Hampir di tiap dek dan lorong kapal, lagu aneh itu selalu terdengar. Dia hanya mengacuhkan. Dalam pikirannya, kelompok yang menyanyikan lagu itu, tidak terkenal.

Positif Art Entertaiment yang disingkat PAE adalah lembaga naungan Rakyat Merdeka Group di bidang manajemen artis sejak tahun 2005. PAE mencari bakal artis baru untuk diorbitkan sekaligus jadi manajer artisnya. Dan Sudjana adalah wartawan Rakyat Merdeka. Sudah 10 tahun lamanya dia bergabung dengan media milik Jawa Pos Group itu. Jabatannya selain di PAE, juga redaktur khusus desk hiburan.

Setibanya di Pelabuhan Bakauheni, dia naik mobil travel menuju Bandar Lampung selama 1.5 jam. Lagi-lagi, di dalam mobil dia mendengarkan lagu aneh itu. Sudjana hanya bisa menikmati. “Kok lagu aneh itu lagi,” pikirnya.

“Pokoknya sepanjang perjalanan dari Jakarta sampai Bandar Lampung, lagu-lagu Kangen Band terus aku dengar. Yang ada di benak, lagu ini enak tapi aku nggak tahu siapa yang nyanyi,” tuturnya.

Tujuan awalnya ke Bandar Lampung bukan untuk mencari kelompok musik yang akan ditenarkan. Dia sedang hunting bersama rekan kerjanya untuk program acara ‘rejeki nomplok’ yang biasa ditayangkan televisi swasta TV7 yang berkantor pusat di Jakarta.

Di Bandar Lampung, lagi-lagi lagu aneh itu didengarnya. Yang bikin ia heran, di hampir semua tempat yang dikunjunginya, lagu aneh itu diputar. Di angkutan kota, pedagang CD bajakan, sampai di mal-mal. Sudjana penasaran. “Ini lagunya Kangen Band,” jawab pengunjung mal yang ditanyainya. “Kangen Band!” pikir Sudjana bingung. Sebagai wartawan hiburan, nama grup ini tak tercatat dalam ingatannya.

Dia tak memperdulikan nama Kangen Band. Tapi dalam benaknya, dia penasaran ingin tahu tentang kelompok musik itu. Seminggu kemudian, Sudjana kembali ke Jakarta. Di kantor PAE, dia menceritakan kepada rekan kerjanya mengenai lagu aneh Kangen Band.

Di Jakarta pun, dia sempat kaget. Lagu aneh yang dinyanyikan Kangen Band, juga terdengar di lapak CD bajakan, Roxy. “Setiap saat, jadi kepikiran lagu mereka,” ujar Sudjana.

Seorang rekan kerjanya yang juga pendiri PAE, Susilowati, memberikan informasi keberadaan Kangen Band. Dia dapatkan kontaknya dari keluarganya di Lampung. Sudjana mengantongi nama manajernya, Iit Bahtera dan Budi Pamungkas. Sudjana menghubungi Iit dari Jakarta dan janjian bertemu di Bandar Lampung.

Sudjana dan beberapa rekan dari PAE meluncur lagi ke Lampung. Di sana, dikenalkan dengan Budi Pamungkas, manajer baru Kangen Band. Di rumah orang itu, PAE bertemu dengan personil Kangen Band. Sudjana mengutarakan rencananya, membawa Kangen Band ke Jakarta untuk mengisi acara di ulang tahun Rakyat Merdeka yang berlangsung di Hotel Mulia, Jakarta.

“Om, kami kepengen bisa main musik di Jakarta nih,” ujar Dodi. “Iya Om, kali aja bisa jadi kayak selebritis,” ujar Izzi. Sudjana dipanggil Om oleh mereka.

“Saya usahakan. Tapi saya tidak bisa janjikan,” jawab Sudjana.

Di pertemuan itu Sudjana belum mengenal Andika. Dia tidak dilibatkan oleh Kangen Band. Andika sedang menjalani masa tahanan akibat terlibat kasus Narkoba. Dia kedapatan membawa lintingan ganja saat razia di Jokker Biliard, Bandar Lampung. Andika digantikan Riko yang terpilih menjadi vokalis berdasarkan audisi yang diadakan Kangen Band.

Kangen Band akhirnya mengisi acara penutup di ulang tahun Rakyat Merdeka yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, serta beberapa menteri dan pejabat tinggi lainnya di Jakarta. “Nggak tahu yang mana mukanya Presiden. Jusuf Kalla aja nggak tahu juga,” ujar Bebe.

Usai dari acara itu, Kangen Band kembali ke Lampung. Dan seminggu kemudian, Sudjana dikontak oleh Budi Pamungkas. Di sela percakapan itu, Sudjana langsung menyampaikan keinginannya untuk memanajeri Kangen Band. Terjadi perdebatan dan tidak ada kesepakatan. Akhirnya Sudjana mengalah. Nama Kangen Band hanya tersimpan dalam benaknya.

Sebulan kemudian, barulah Sudjana ada firasat lagi untuk mengorbitkan Kangen Band. Pada saat itu, Budi Pamungkas sudah tidak menjadi manajer Kangen Band. Sudjana kembali mendatangi mereka di Lampung.

Sudjana menemui Dodi di rumahnya. Andika sudah bebas masa tahanan. Vokalis akhirnya kembali lagi dari Riko ke Andika. Betapa kaget Sudjana ketika mengetahui wajah vokalis lawas Kangen Band. Dia tak menyangka, wajah Andika tidak sebagus lagu yang dinyanyikannya. Sudjana ciut. Terbesit di benaknya untuk mengganti Andika dengan vokalis lain.

“Sambil ngobrol, saya memikirkan Andika. Akhirnya saya putuskan, biarkan apa adanya Kangen Band aja deh,” ujar Sudjana. Di rumah Dodi, Sudjana menyuruh personil Kangen Band menyanyi dengan alat seadanya dan merekamnya.

“Saya tertarik dengan tekad mereka (Kangen Band). Mereka dari keluarga biasa, tapi punya keinginan kuat untuk berkembang di musik. Modal saya cuma insting. Saya tidak tahu jenis musik, tapi setiap lagu mereka, sangat saya nikmati,” ujarnya.

“Om, kami bisa nyanyi dan main musik di Jakarta kan?” tanya Izzi. Dodi juga mengemukakan hal sama. Personil lain terdiam. Sudjana tetap belum bisa memastikan. “Saya usahakan,” jawabnya singkat sambil melihat mata ayah dan ibu Dodi yang memancarkan pengharapan.

Dari pertemuan itu, Sudjana membawa CD master demo yang isinya tujuh lagu Kangen Band ke Jakarta. Dia belum tahu, ke mana CD ini diperkenalkan. Seminggu kemudian, dia ingat seorang penyanyi cum pencipta lagu era tahun 80-an, Ali Tasman. Sosok ini sudah lama dikenalnya.

Sudjana langsung menghubunginya melalui telepon seluler. “Kang, ini ada lagu baru yang saya perkenalkan. Bisa nggak. Dengerin aja dulu,” ujar Sudjana.

“Ya sudah, bawa ke sini. Saya ingin dengar,” jawab Ali Tasman.

XIII

Oktober 2006, Sudjana mendatangi kantor Ali Tasman di kawasan Harco Mangga Dua. Dia menyerahkan CD demo Kangen Band. Sore hari, Ali Tasman langsung menghubungi Sudjana. “Bawa langsung anak-anak itu ke Jakarta,” ujar Ali Tasman. Anak-anak yang dimaksud adalah Kangen Band.

Sudjana menghubungi Dodi, Iim dan Izzi. Semua personil diminta untuk segera datang ke Jakarta. Pihak PAE tidak memberikan dana pemberangkatan. Kata Sudjana kepada saya, “Saya ingin tahu tekad mereka untuk maju. Jadi tidak perlu dicarikan dana ke Jakarta.”

“Om, kami kumpulin uang dulu untuk berangkat ke Jakarta,” jawab Dodi saat menerima telepon dari Sudjana.

Dodi langsung menghubungi semua personil Kangen Band. Mereka mendengar kabar itu dengan senang hati. Tapi, semuanya bingung untuk mencari ongkos ke Jakarta. Mereka tak mungkin minta uang dadakan dari orangtuanya. Maklum, ekonomi terbatas.

Andika terpaksa harus berjualan cendol. Dia pinjam salah satu gerobak cendol tetangganya. Setiap hari dia mendorong gerobak cendol pinjaman menuju Rumah Sakit Abdul Muluk, Bandar Lampung. Dari usaha ini, dia mengumpulkan uang Rp 300 ribu untuk persiapan ke Jakarta.

Semua personil Kangen Band, punya cara sendiri-sendiri. Tama dengan giat menjual sandal jepit dan Dodi ikutan mengeneki angkutan kota. Iim dan Bebe, dananya dari orangtua. Dua orang ini baru saja tamat sekolah.

Seminggu lamanya mereka pontang-panting mengumpukan uang. Mereka tidak menyerah. Akhirnya berangkat juga ke Jakarta. “Pokoknya, semua personil cuma mikirin dana untuk berangkat ke Jakarta,” ujar Iim.

Setiba di Pelabuhan Merak, Banten, rombongan anak Lampung ini harus menunggu cukup lama. Kendaraan jemputan yang disiapkan PAE terlambat beberapa jam. “Biasalah, Jakarta macet,” ujar Sudjana.

Dari pelabuhan Merak, rombongan Kangen Band langsung meluncur ke rumah pribadi Sudjana di daerah Cengkareng. Sepanjang perjalanan, mereka menikmati suasana hiruk-pikuk jalanan yang macet dan memandangi gedung-gedung tinggi. Di rumah Sudjana, mereka istirahat sejenak.

Sudjana tertegun melihat tentengan mereka. Persis kayak orang pelosok yang baru datang ke Jakarta. Bawaan seadanya. Baju kusam dan semua terlihat lusuh. Dia menggeleng-gelengkan kepala. Sudjana meminta semua personil Kangen Band untuk mandi dan berpakaian lebih baik.

“Gue nggak abis pikir. Baru kali ini gue lihat orang kayak Kangen Band. Asli kayak orang dari pelosok aja. Kumel dan kusam abis,” ujar Sudjana kepada saya.

Usai beristirahat dan mandi, malam harinya, Sudjana langsung membawa mereka ke studio rekaman Blackboard, di Muara Karang, Jakarta Utara. Di sana sudah ada Ali Tasman. Mereka terkesima melihat ruangan studio rekaman. Saling berpelukan, dan beberapa di antaranya meneteskan air mata. Ali Tasman dan Sudjana mencoba tersenyum, tapi keharuan lebih cepat menyergap mereka.

P r o l o g

Ali Tasman tertawa ketika saya mengatakan hendak mewawancarainya. “Jujur, ini sangat tidak pernah saya duga. Baru kali ini saya disinggung dalam keterlibatan nama besar Kangen Band,” ujarnya. “Selama ini, tidak pernah ada wartawan atau siapa pun yang pernah tahu keterlibatan saya. Ini sebuah penghargaan. Dan besarnya Kangen Band, merupakan anugerah yang luar biasa. Saya kagum dengan anak-anak itu.”

Ali Tasman pun bercerita.

Katanya, usai menerima CD demo dari Sudjana, Ali Tasman langsung kepincut. “Saya suka lirik lagunya. Sederhana dan sangat bagus. Liriknya seakan mengalir begitu saja. Vokalnya, begitu pas dengan liriknya,” katanya kepada saya. “Tapi saat itu, saya belum kepikiran apa-apa. Saya cuma tertarik. Apalagi yang saya dengarkan cuma CD bajakan. Saya mau dengar langsung suaranya.”

Tak ayal, CD demo Kangen Band hanya diletakkan di dashboard mobil pribadinya. Suatu hari, dia mengajak anaknya yang masih berusia tujuh tahun, Ananda Satrya namanya. Bocah ini mengutak-atik mencari lagu baru. Ananda penasaran dengan disket Kangen Band.

Disetelnya lagu itu. Ali Tasman hanya bisa mengacuhkan. Esoknya, dia mencari disk Kangen Band di mobil pribadinya. Hilang. Ali Tasman bingung. Ternyata disket itu sudah pindah ke mobil yang biasa mengantar anaknya. Si supir melaporkan, Ananda sering menyetel CD lagu Kangen Band setiap menuju sekolah.

Bahkan setiap diajak makan malam dengan mobil pribadi Ali Tasman, Ananda mengambil dulu disket Kangen Band dari mobil antarannya, dan menyetelnya lagi. Sepanjang perjalanan, cuma Kangen Band yang disetelnya.

“Ada apa dengan lagu ini. Kok kayaknya jadi candu,” pikir Ali Tasman.

Dari kejadian itu, Ali Tasman mulai semakin yakin bahwa Kangen Band pasti akan banyak digemari. “Ternyata, ada racun yang disebarkan oleh Kangen Band. Ternyata racunnya di lirik lagu yang sederhana tapi punya makna. Liriknya seakan dibuat mengalir begitu saja. Tidak berat dan mudah dicerna oleh siapa pun,” ujar Ali Tasman pada saya.

“Saya langsung buat kontrak untuk tiga album dengan Kangen Band,” ujarnya.

Kontrak ditandatangani. Ali Tasman menjadi produser langsung. Dia yang pernah bekerja di banyak perusahaan rekaman, hanya berusaha menitipkan edarnya saja kepada perusahaan rekaman yang dikenalnya. “Saya tidak kepikiran untuk menyerahkan kepada pihak mayor label,” ujarnya.

“Bagaimana Kangen Band bisa di pegang Warner Music,” tanya saya.

“Nah, itu ada ceritanya lagi. Lucu dan tidak pernah diduga sama sekali. Ternyata, diam-diam pihak Warner Music lagi ngincar Kangen Band,” jawabnya.

“Kok bisa,” tanya saya lagi.

Ali Tasman menceritakan, menjelang lebaran tahun 2006, Ali Tasman mengirimkan pesan pendek dari telepon selulernya kepada Yusak, Direktur PT. WMI, untuk mengucapkan selamat lebaran. Yusak, bagi Ali Tasman, adalah seorang sahabat yang pernah sama-sama bekerja di perusahaan musik bendera Universal.

Dia tak menyangka, pesan pendek itu dibalasnya dengan telepon langsung Yusak. Bos Warner Music Indonesia ini menanyai kabarnya. Yusak dan Ali Tasman sudah sekian lama tidak pernah berhubungan lagi. Ali Tasman kerap mengganti nomor telepon selulernya.

Di sela obrolan itu, Yusak mencari informasi Kangen Band. Kata Yusak kepada Ali Tasman, perusahaannya sudah lama mencari keberadaan dan menelusuri Kangen Band hingga datang ke Lampung. Seorang staf WMI mengendus CD master Kangen Band milik Ali Tasman tersimpan di major label Blackboard.

“Katanya kamu yang pegang,” tanya Yusak.

“Iya, emangnya kenapa,” jawab Ali Tasman.

“Gue yang pegang deh. Warner yang edarin Kangen Band.”

Ali Tasman mengiyakan. Dia menerima tawaran itu, karena tahu cara kerja profesional WMI. “Saya juga berpikir saat itu, ini mungkin sudah jadi anugerah buat Kangen Band kalau ditangani perusahaan besar. Kalau saya kan, cuma titip edar saja,” kata Ali Tasman kepada saya.

Sebulan lamanya, personil Kangen Band berada di Jakarta. Mereka tidak tahu sama sekali alur cerita pascarekaman dengan Ali Tasman. “Tahunya, kita sempat kontrak dengan Om Ali Tasman,” ujar Bebe.

Selama Kangen Band di Jakarta, PAE menanggung biaya hidupnya. Tempatnya tinggalnya berpencar. Ada yang menginap di Cibubur, rumah rekan kerja staf PAE, dan ada juga yang menginap di rumah Sudjana. Sudjana sudah punya insting, Kangen Band akan tenar.

Dari insting itu, Sudjana melatih vokal Andika dan musik personilnya. Tak hanya itu, ia membawa mereka ke salon, membelikan pakaian yang layak, mengajak makan di restoran, dan berkeliling mengenal kota Jakarta. “Benar-benar bawa orang kampung banget,” ujar Sudjana.

“Waktu makan di restoran Jepang. Daging dan sayuran masih mentah, disikat langsung,” Sudjana tertawa. “Woi, dimasak dulu,” teriak Sudjana saat itu. Ia akhirnya mencontohkan cara mengolahnya agar bisa dimakan.

“Kita mana tahu. Main makan aja. Nggak pernah makan yang enak. Jangankan makan masakan Jepang. Masuk restoran aja belum pernah. Baru di Jakarta aja,” ujar Bebe. “Iya, pokoknya kayak orang bego gitu,” tambah Izzi.

Sebulan lamanya, Ali Tasman mengabarkan, Warner Music Indonesia yang akan melanjutkan kontraknya dengan Kangen Band sekaligus sebagai produser. “Ternyata kekuasaan Tuhan begitu dahsyat..... Ini karunia luar biasa buat Kangen Band,” tutur Ali Tasman.

Kangen Band pun beralih ke studio berbendera PT. Warner Music Indonesia. Entah sampai kapan mereka bisa bertahan dalam kaki-kaki raksasa industri musik. [END]

7 komentar:

Doris said...

Keep up the good work.

Anonymous said...

i just wanna say..T.O.P B.G.T ^_^
bisa tau lbh jauh personil Kangen Band..Dan saya pikir mmg pantas klo qta mengagumi Karya-Karya nya Kangen Band yg gak kalah dgn band2 papan atas..juga gak kalah pjuangan mereka..
Sudah takdir Tuhan..n bisa tcapai karena usaha pjuangan keras mereka..
Maju terus Kangen Band...
-Someone Cibubur-

erick Fladio said...

Salut buat anak - anak kangen Band... semoga semakin sukses ke depan dalam menghadirkan hiburan di blantika musik tanah air dan merambat ke manca negara, pesan: jangan pernah sombong ya...? ingat masa - masa sulit yg pernah di alami sebagai batu loncatan agar semakin sukses lagi...
"salam hangat buat semua Personiel Kangen Band...!!!"
from : "Temen Kangen" Erick Medan - Sumut.

http//www.aldicoconuthead.blogspot.com said...

salut buat kangen band

Anonymous said...

SMA BINA MULYA... . . !!!!
^_^

gendru said...

Salut dengan perjuangannya meski karya2 nya sulit untuk gw (gw : pendpat pribadi)katakan bagus.

Anonymous said...

Gue bukan orang indo tapi gue salut sama kangen band dan juga gue ngefans berat banget sampei cari semua lagu-lagu mereka dan skarang gue punya lebih 50 lagu-lagu kangen band