Header Ads

12.8.07

Nostalgia Lawas di Kaset Tua

Rumah milik Choa Linge, di Jalan Pratama, Pondok Kelapa, Jakarta Timur, terlihat sederhana. Tapi jika masuk ke dalamnya, ribuan kaset terpajang menyesaki rumah. Tak hanya ruangan tamu, tiga kamarnya juga sudah penuh. Ada yang tersimpan di laci-laci lemari, kotak kayu, sampai dalam kulkas. Semuanya kaset melulu.

“Sudah empat tahun saya mengumpulkan kaset-kaset ini. Ini tergolong paling cepat. Sekali dapat, bisa bertas-tas banyaknya,” ujar Choa.

Awalnya, lelaki pekerja swasta ini gemar mengumpuli seni patung kayu. Sudah ratusan koleksi seni ini terpajang di rumahnya. Ruang tamunya bahkan sudah sesak dengan patung. Kebanyakan patung bermotif wajah. Dia juga menyimpan rumah adat Tongkonan dari Suku Toraja, Sulawesi Selatan.

Dari perburuan koleksi patung itu di berbagai tempat di Jakarta, ia melihat pedagang patung selalu bersandingan dengan penjual kaset-kaset keluaran lawas. Spontan, ia langsung memborong kaset-kaset itu. Akhirnya, dari kolektor seni patung menjadi kolektor kaset.

Perburuan mulai dilancarkan. Ia mendatangi banyak penjual kaset-kaset seantero Jakarta. Setiap ke daerah, kaset jadul alias jaman dulu inilah yang menjadi incarannya. Kaset yang dikoleksinya adalah kaset khusus musik Indonesia. Ia tidak berminat mengoleksi musik-musik dari luar Indonesia.

Alasannya sederhana, “Saya sangat menghargai musik Indonesia. Musik Indonesia zaman dulu lebih kaya dibandingkan musik luar. Siapa lagi yang menghargai musik dari negeri sendiri. Dari situlah ide awal menjadi kolektor kaset,” ujarnya.

Semua kaset penyanyi maupun grup lawas ia punya. Dari yang keroncong sampai orkes Melayu jadi target buruannya. Ia memiliki album lengkap penyanyi cilik Yenny Sriwahyuni yang mendapat julukan Si Burung Tantina, dan Chicha Koeswoyo. Chicha duet dengan Adi Bing Slamet pun jadi koleksinya.

Ada kaset lawas lainnya. Titiek Puspa, Dara Puspita, No Koes, Koes Bersaudara, Koes Plus, Leo Kristi, Kembar, Panbers, The Mercy’s, D’Lloyd, The Rollies, Kembar Group, God Bless, Harry Rusli, Farid Harja, dan ribuan kaset lainnya.

Yang membuat saya terkesima, ia juga memperlihatkan kaset penyanyi single dan grup musik lainnya yang tidak pernah terdengar di zaman sekarang. Seperti Pretty bersaudara, Nasution Sister, Ge&Ge, Sorry Boy, Favourite’s Grup, Mashabi, Tetty Kadi, The Phoenix, dan nama besar lainnya yang pernah memenuhi blantika musik Indonesia.

“Semua kaset ini original. Tidak ada bajakan. Dari isi sampai sampulnya, semua masih aslinya,” ujarnya lelaki kelahiran Sinjai, Sulawesi Selatan, 17 Februari 1965 ini.

Memeroleh kaset-kaset ini baginya merupakan perjuangan. Ia tidak sungkan-sungkan memesannya dari pedagang loakan yang setiap hari melintasi rumahnya. Dan soal harga, biasanya tidak mahal-mahal banget. Harga paling mahal koleksinya adalah Rp50 ribu. Ada juga yang dibeli dengan harga Rp2 ribu sampai Rp5 ribu.

Beberapa lokasi penjualan kaset di Indonesia sudah semua ia datangi. Modalnya hanya dua, membawa walkman dan tas besar. Jika ada kaset lawas yang ditemukan dan belum dimiliki, ia langsung tes keasliannya. “Kalau perlu, langsung saya borong. Satu tas kadang penuh,” ujarnya.

Agar kaset-kaset itu tetap terjaga keasliannya dan tidak rusak, Choa punya cara sendiri. Jika kali pertama membeli, kaset langsung dimasukkan ke dalam kulkas dengan suhu rendah. Tujuannya menghilangkan lumut yang ada di dalam maupun luar kaset. “Biasanya dua sampai tiga hari. Tergantung dari kondisi kaset itu,” ujarnya.

Setelah itu, dibersihkan pita kaset agar tetap terjaga. Jika pita kaset yang kusut, dia tak sungkan-sungkan menyetrikanya sehingga pita kembali bersih dan rapi. Cara setrika juga dilakukan untuk merapikan sampul album kaset. Jika ada bagian dalam kaset yang rusak, ia ganti dengan yang baru. “Yang penting, jangan sampai pita kasetnya yang rusak,” tuturnya.

Beberapa penyanyi lawas sempat kaget mengetahui hasil koleksinya. Titiek Puspa misalnya. Kata Choa, Titiek langsung meminta Choa untuk merekam ulang lagunya untuk ditrasfer ke VCD. Choa tidak menolak, tapi dia tidak ingin memperbanyak koleksinya. “Saya cuma minta biaya transfernya, tidak untuk diperbanyak dan dijual lagi. Saya berikan hanya khusus bagi si penyanyi langsung,” ujarnya.

Kini ia masih terus berburu untuk melengkapi koleksinya. Kaset yang belum ia miliki saat ini adalah kelompok The Singer dan beberapa album lainnya. Ia mengenal salah satu personilnya, Titi Saelan, yang sekarang menjadi istri Ian Antono.

“Rasanya belum pas sebagai kolektor kalau ada yang kurang lengkap. Semua penyanyi dan grup lawas sudah saya temukan, justru The Singer yang hingga saat ini belum saya miliki satu album pun.”

5 comments:

Anonymous said...

mohon informasinya dimana saya bisa beli kaset the rollies dan losmorenos, mohon informasinya di email ke tjahja.sarjo@gmail.com atau ke tjahja_2000@yahoo.com
terima kasih atas kerja samanya

. said...

Untuk tjahya, mungkin Anda bisa mencarinya di Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta. terima kasih

Anonymous said...

he3x..lengkap juga yah koleksinya, cuman pengen aja nih..,doi punya ga kasetnya Tan Chen Bok ( Mak item ) kasetnya cuman satu2nya alias satu album doang tuh...kalo doi mau , saya akan jual he3x...numpang dagang

eddi kurnianto said...

ceritanya menarik sekali mas Rusman. Saya Eddi Kurnianto, seorang jurnalis juga di sebuah stasiun televisi.
Saya tertarik tulisan mas Rusman tentang kolektor kaset lagu Indonesia lawas itu.
Bolehkah saya tahu alamat lengkap dan nomer kontaknya kalau ada?

Silahkan mengontak saya di email, kalau mas Rusman kurang nyaman mem postingnya di publik. Email saya: eddi.kurnianto@gmail.com

sebelumnya saya ucapkan terima kasih.

zalfa said...

Oke.... mas ?? punya kaset Koes Plus Pop Melayu...- Oke Boss ,amelinda ? saya tunggu jawabannya .

Comments System

Disqus Shortname

Search This Blog

My Link