Header Ads

30.7.07

Santapan Ikan di Muara Angke

Bagi orang Jakarta, nama kawasan Muara Angke, Jakarta Utara, sudah tidak asing lagi. Baik sebagai pelabuhan kapal ikan maupun tempat menyantap makanan serba hasil tangkapan nelayan. Dari jenis ikan baronang, kakap, cumi, udang, sampai kerang. Pengunjung bebas berbelanja sendiri sekaligus memilih ikan yang diinginkan. Soal harga dijamin terjangkau.

Malam pekan lalu, saya bersama rombongan wartawan Jurnal Nasional berkunjung ke kawasan itu. Untuk masuk dikenakan biaya Rp2.000 untuk kendaraan pribadi. Suasana di dalam kawasan ramai. Beberapa nelayan sedang menurunkan ikan hasil tangkapan. Pedagang kerang, udang dan kepiting menawarkan harga ke setiap pengunjung yang melintas. Semua jenis ikan yang digelar terlihat masih segar dan besar-besar.

Masuk ke kawasan lebih dalam, pengunjung akan menemui pedagang otak-otak ikan yang menggelar dagangannya di pinggir jalan. Mereka tampak sibuk membakar. Harga makanan yang dibungkus daun pisang ini relatif murah. Rp600 per pucuk. Semakin enak jika dimakan dengan sambal buatan mereka.

Rumah-rumah makan punya tempat dan gerbang sendiri. Tertulis, “Selamat Datang di Pusat Jajan Serba Ikan”. Di tempat itu pengunjung bebas menyantap ikan yang diinginkan. Tidak perlu bingung mencari tempat. Sudah ada pedagang yang langsung menyambut dan mengajak ke tempat ia berjualan. Tidak ada paksaan. Pengunjung hanya diberi arahan.

Jangan merasa aneh jika semua rumah makan yang ada serba mengatasnamakan ciri khas Sulawesi Selatan. Ada rumah makan bernama Kota Makassar, Pantai Losari, Maros, dan Pangkep. Maklum, sebagian besar pedagang dan nelayan umumnya berasal dari Bugis-Makassar.

Sebagai anggota rombongan, kami memilih tempat di rumah makan bernama Pantai Losari, Makassar. Aroma asap ikan panggang di sekitar lokasi merangsang selera pengunjung sehingga ingin segera menyantapnya. Apalagi usai menempuh perjalanan jauh: dari kantor kami di Rawamangun.

Sebenarnya tidak sulit-sulit banget berkunjung ke Muara Angke. Bagi yang punya kendaraan pribadi, mobil dapat melaju lewat jalan tol, kemudian keluar di pintu tol Pluit. Dari situ, jarak ke Muara Angke sekitar 4 kilometer. Atau dari jalan utama Grogol ke arah Pluit. Sedangkan bagi pengunjung yang memilih pergi dengan angkutan umum, dapat langsung turun di Terminal Muara Angke.

Sabrin, salah seorang pedagang setempat mengatakan, Muara Angke sebagai tempat untuk “berpesta ikan bakar” sudah ada sejak awal tahun 1990-an. Saat itu memang masih sepi. Sebab, dulu Muara Angke lebih dikenal hanya sebagai pelabuhan bagi nelayan usai mencari ikan di laut. Juga sebagai tempat pelelangan ikan.

Karena jumlah pengunjung dari tahun ke tahun semakin banyak, akhirnya dibuatlah kios-kios bagi para pengunjung. Di situlah para pengunjung dapat bersantai sembari menyantap ikan, khususnya ikan bakar.

Lamban laun, tepatnya sejak tahun 1994, kawasan Muara Angke mulai ramai. Apalagi pada tahun 1996 ketika Presiden Soeharto mencanangkan gerakan makan ikan. Tidak hanya warga Jakarta, warga pendatang dan turis pun banyak berkunjung dan menikmati ikan bakar di tempat itu. Bahkan pengusaha dan politisi pun sering datang.

Pengunjung tidak diharuskan membeli ikan di rumah makan setempat. Ada pasar ikan yang jaraknya tidak jauh dari rumah-rumah makan. Pengunjung bebas memilih ikan yang diinginkan. Soal harga juga bebas bertransaksi.

Soal harga, tergantung transaksi penawaran. Ikan baronang, dipasaran seharga Rp20 ribu sekilonya, di Muara Angke bisa seharga Rp10 ribu per kilonya. Konsep bebas memilih dan belanja sendiri itulah, kesan paling terasa jika berkunjung ke Muara Angke.

“Pengunjung bebas memilih dan membeli sendiri jenis ikan yang diinginkan. Pelayan warung hanya membakar dan memasak sesuai keinginan pengunjung. Pengunjung lebih banyak yang memilih sendiri jenis ikan yang diinginkan dibanding dipilihkan oleh pelayan rumah makan,” ujar Sabrin.

Anda pasti akan kaget dengan hitungan mereka. Untuk semua makanan yang kami santap: ikan bawal, baronang, kepiting, udang dan kerang serta otak-otak ikan tenggiri plus minuman, kami dikenakan biaya Rp500 ribu. Biaya itu sudah termasuk untuk jasa pelayanan membakar ikan serta bumbu-bumbu yang dipakai. Rombongan kami beranggotakan 16 orang betul-betul puas.

Untuk bersantai dan menghilangkan kepenatan, Muara Angke memang layak dijadikan pilihan.n

1 comment:

henryaja said...

wah..asik banget ya kuliner di muara angke,,,jg pengen ksana..trims infonya,,,slm...henryaja.wordpress.com

Comments System

Disqus Shortname

Search This Blog

My Link