Header Ads

30.7.07

Banjir Komik Jepang

Komik tidak hanya asyik dibaca. Sebab, komik dapat dijadikan teman, baik saat sendiri maupun menjelang tidur. Tak hanya anak-anak. Remaja pun tidak sedikit yang mengoleksinya. Di antara berbagai macam bacaan, komik versi Jepang menjadi bacaan favorit.

“Komik Jepang ceritanya lucu-lucu dan nggak muluk. Sosok yang ditampilkan unik dan bikin gemes,” ujar Hartini, 17, siswi kelas 3 SMUN 3 Jakarta Timur.

Dia tidak tertarik dengan komik lokal atau dari negeri lainnya. Alasannya, sosok yang ditampilkan cenderung membosankan dan ceritanya tidak menarik. Kebanyakan, menurut dia, komik buatan selain Jepang selalu tentang superhero. Misalnya, tokoh Spiderman, Superman, dan Batman.

Hartini hobi mengoleksi komik Jepang sejak duduk di SMP. Komik koleksinya kini berjumlah ratusan. Sayangnya, satu persatu dipinjam oleh temannya, dan tidak dikembalikan. Dari semua komik Jepang yang dimilikinya, ia mengandrungi sosok Doraemon, Doremi, dan Chibi Maruko Chan,.

Menjaga dan merawat komik harus lebih perhatian. Apalagi menyangkut pinjam meminjam. Ada dua kemungkinan: komik tidak dikembalikan. Atau, meski dikembalikan, sudah dalam kondisi rusak dan lecek. “Gue beli kan pake duit. Emangnya gratis,” ujarnya, mendumal.

“Makanya, gue ngak mau lagi minjamin komik ke temen. Mending cari aja sendiri. Sekarang, gue udeh mulai sampulin supaya awet,” ujarnya lagi, kesal.

Bagi remama ini, membaca komik bisa menghibur hati yang sedih, dan menghilangkan kepenatan. Tak aneh, ia akhirnya tertawa sendiri. Sebab, gambar-gambar dalam komik lucu dan menarik. “Cerita dan gambarnya sering bikin gue ketawa sendiri. Komik lain ceritanya nggak bisa bikin ketawa. Kesannya norak,” tutur dia.

Tak aneh, Jepang menjadi sentra komik Asia. Negeri itu menjadi pelopor kemunculan komik sejak setelah akhir Perang Dunia ke-2. Kali pertama oleh Osama Tezuka dengan karyanya: New Treasure Island dan Shintakarajima. Di Jepang, komik dikenal dengan sebutan Manga. Sedangkan pembacanya disebut Otaku.

Konon, The Adventures of Obadiah Oldbuck adalah komik pertama di dunia. Terbit tahun 1873 di Eropa. Beberapa tahun kemudian, tepatnya 1896, muncul komik stripe pertama di Amerika Serikat. Judulnya The Yellow Kid karangan Richard Felton.

Komik Indonesia sebetulnya tak kalah menarik. Bahkan sejak tahun 1831, ada Put On karangan Kho Wang Ghie. Put On pernah dimuat di Harian Sin Pi. Kemudian ada lagi Gundala, Caroq, Mahabrata, dan Petruk. Sayangnya, komik-komik itu lambat laun hilang dari pasaran.

Akhirnya komik ala Jepang favorit bagi berbagai kalangan. Di toko buku maupun pasar buku loak, komik Negeri Sakura selalu diburu. Tidak hanya oleh kalangan pelajar. Banyak orang dewasa pun mencarinya. Bagi pengemar komik Jepang, Naruto, Rave, dan Chibi Maruko Chan telah menjadi sosok akrab.

Di pasar buku loak di kawasan Senen, Jakarta Pusat, komik Jepang tidak hanya dijual dengan versi bahasa Indonesia. Pedagang di sana juga menjual seri asli berbahasa Jepang. Menurut pedagangnya, Dirman (41), komik berbahasa Jepang sengaja didatangkan khusus untuk para kolektor.

“Biasanya, ada saja orang yang mencari untuk melengkapi koleksinya. Kita melihat, pangsa komik Jepang sedang banyak diminati. Komik lainnya juga laku sih, tapi nggak segencar komik Jepang,” ujar Dirman.

Kondisi buku komik yang dijual di pasar loak memang tidak sebagus yang dijual di toko buku. Namun, masih bisa dinikmati dan dibaca. Harganya pun lebih murah. Sekitar Rp10 ribu sampai Rp20 per jilid. Sedangkan di toko buku, harga komik baru bisa mencapai Rp40 ribu sampai Rp250 ribu.

Komik Jepang yang sedang digandrungi dewasa ini antara lain Baby Love, Silver Toe Shoes, Pansy, Alice, Nishimuku Samurai, Rose of Versailles sampai Canon Special. Judul terakhir diterbitkan sebanyak 25 jilid. Harga pasaran di toko buku mencapai Rp250 ribu per jilid.n

No comments:

Comments System

Disqus Shortname

Search This Blog

My Link