Feature Story News

Di lantai sembilan Rumah Sakit Husni Thamrin Internasional, saya duduk di ruang tunggu tamu. Suasana tempat itu tidak ada yang istime...

Untung Rugi Rumah Sakit


Di lantai sembilan Rumah Sakit Husni Thamrin Internasional, saya duduk di ruang tunggu tamu. Suasana tempat itu tidak ada yang istimewa. Dari balik kaca kearah luar, landasan helipad terlihat. Hanya ada seorang satuan pengamanan (satpam) yang sibuk mendengar dan menjawab suara dari handy talky (HT), Serius. Hari itu menjelang petang pukul 15.00 Wib, kamis (28/12). Cuaca agak mendung.

“Beliau sudah datang dan masih di lantai satu sedang meluncur naik,” ujar Satpam kepada saya.

Tak lama, lift terbuka. Satpam itu langsung memberikan hormat tangan di kepala. Lelaki itu hanya mengangguk. Badannya gemuk dengan heandset telepon seluler menggantung dilehernya. Nampak sederhana. Hanya mengenakan kemeja biru dan dasi biru tua yang bercorak garis warna putih.

Dia memberikan kartu nama. Tertera bernama Abdul Barry, SE dengan jabatan di RS Husni Thamrin itu sebagai Managing Director. Saya tersenyum dengan kartu nama miliknya. Tidak seperti kartu nama pengusaha atau kalangan ekslusif lainnya. Kartu nama miliknya, sederhana. Dari bahan kertas biasa dengan background gambar karikatur berwarna kuning.

Siapa nyana, dialah yang mengendalikan RS yang berlokasi di Jalan Salemba Tengah Nomor 24-28 Jakarta Pusat. RS ini dimiliki oleh keluarga Abdul Radjak. Barry anak ketiga. Keluarga ini memiliki dua RS sakit, satu RS Husni Thamrin di Salemba dan satunya berada di kawasan Cileungsi, Jawa Barat. Keluarga ini juga punya tujuh klinik dan dua RS bersalin.

Di jalan Salemba yang paling besar. Tersedia 108 tempat tidur yang tersebar dari lantai satu sampai delapan. Sedangkan lantai sembilan untuk para direktur dan lantai 10 untuk pengurus Yayasan Husni Thamrin. Untuk para medisnya, 10 dokter spesialis dan 100-an dokter tamu.

Nama RS Husni Thamrin mengingatkan saya kepada mantan Gubernur Aceh, Abdullah Puter yang menjadi tersangka kasus korupsi. Puteh pernah dirawat di ruangan yang paling mewah. Tepatnya di presidential suite yang berada dilantai delapan.

“Bukan cuma Puteh, beberapa kalangan juga pernah menginap di ruang itu. Untuk ruangan itu, tarifnya Rp3 juta semalam,” tutur Abdul Barry.

Saya langsung diajak ke ruangan yang pernah menjadi kamar perawatan mantan Gubernur Aceh. Seorang satpam memberikan hormat. Kamar itu berada di bagian samping lift. Resepsionis wanita menyambutnya. Terlihat kamera CCTV di bagian atas mejanya mengarah pintu. Untuk menuju ke kamar ekslusif itu, ada dua pintu yang harus dilalui dan dua meja resepsionis.

Saya terkesima melihat seluruh isi kamarnya. Ada tiga ruangan. Satu kamar dengan satu tempat tidur untuk pasien, satu ruangan disebelah kanan dengan dua tempat tidur untuk penunggu. Ada ruang tamu. Setiap ruangan dilengkapi penyejuk, televisi 29 inci dan kulkas serta dengan kamar mandi di tiap sudutnya.

Fasilitasnya tidak hanya itu saja, ada meja makan, kitchen set, lemari pakaian, sofa relaks dan kamar mandi air panas. Dan terlihat juga, dispencer, microwave, dan telepon. Suasana ruangan itu, terasa nyaman dan serasa di hotel berbintang. Tidak aneh, jika RS ini memasang tarif kamar saja Rp3 juta semalamnya.

Dilantai yang sama dengan kelas presidential suite ini, ada tertera nama ruangan diamond. Ruangan ini termasuk kelas VVIP dengan empat kamar yang masing-masing satu kamar tidur dengan tarif Rp900 ribu semalam. Dan kelas VIP dengan nama ruangan emerald memiliki 19 kamar dengan tarif Rp650 ribu.

Kedua kelas ini memiliki fasilitas yang nyaris sama dengan presidential suite. Ada Televisi ukuran besar, kamar mandi air panas, penyejuk ruangan, kursi tamu dan sofa relaks. Bedanya dengan presidensial suite, hanya besaran ruangan. Dari ketiga ruangan itu, disediakan ruangan lobby untuk pengunjung.

“Tempat ini kita siapkan memang untuk kalangan kelas ekslusif. Sehingga, sarana dan prasarana penunjang untuk pasien dan keluarganya bisa lebih nyaman dan serasa di rumah sendiri,” papar Abdul Borry.

Dia memberikan lembaran kertas dengan tertera tarif kamar dan fasilitasnya. Tarif terendah adalah kelas standar dengan nama ruangan guest house Rp.200.000. Fasilitasnya, penyejuk, kulkas, televise 20 inci, dan kamar mandi. Dan variasi tarif kelas lainnya, dari Rp400.000 sampai Rp800.000.

Kepada saya dia mengatakan, mahalnya tarif RS swasta, karena pemerintah sendiri sudah menganggap RS seperti usaha bisnis tapi juga diminta bersifat sosial. Namun, peran sosialnya sudah pasti dikesampingkan oleh RS swasta. Dia mencontohkan, penggunaan tarif listrik dan air yang dikenakan setara dengan tarif bisnis dan bukan tarif sosial.

“Akhirnya, kita juga harus mensesuaikan tarifnya juga untuk pasien menjadi tariff bisnis. Jadi, tidak ada harapan untuk pasien dari kalangan tidak mampu yang bisa berobat di RS swasta,” paparnya.

Bagaimana bila suatu saat ada warga tak mampu yang mendesak untuk segera berobat di RS ini, karena jauh dengan RS lain? Tanya saya.

“Biasanya yang tak mampu berdasarkan rujukan dari RS lain,” jawabnya. Dia melanjutkan, “jika ada tanpa rujukan, kita akan layani, tapi tetap dengan ketentuan RS Husni Thamrin, termasuk biayanya. Kita terpaksa berpikir bisnis.”

Hari menjelang pukul 17.00. Saya pamit dan langsung menuju ke lantai satu. Dilantai itu, suasana terlihat sepi. Hanya seorang wanita berjilbab duduk di ruang tunggu yang tak jauh dari meja reseptionis. Hiasan tangan dan lehernya, parlente. Gelang emas kuning dan dan emas putih menjadi hiasannya. Serasa serasi dengan tarif RS itu.

1 komentar:

Aunul Fauzi said...

Iseng iseng ketik Abdul Barry, di Google, ketemu ini. Aku tahu Abdul Barry suka mobil blazer ..:D Sekali kayuh dua tiga pula terlampaui. Iseng-iseng malah jadi ketemu dengan saudara tua dari Pantau. Aku ikut Kursus Pantau beberapa waktu lalu dan jadi senang dengan latihan tulis menulis. Salam kenal Bang.