Header Ads

30.1.07

Pisau Parang Pak Rodji

Pak Rodji, 52 tahun, mengayuhkan pisau parang di bagian pinggir buah kelapa. Setengah jam, 30 kelapa tak lagi berkulit tebal. Hanya sabut putih yang tersisa dengan isi kelapa utuh. Hari itu, dia harus menyelesaikan 100 kelapa pesanan tanpa sabut bagian luar.

Tak terlihat ada tetesan keringat dari raut wajahnya. Padahal hari itu, tak biasanya Kota Jakarta di minggu kedua Januari terasa panas menyengat. Bagi dia, itulah rejeki. Sebagai pedagang buah kelapa pinggir jalan di tepi jalur Pramuka, Jakarta, panasnya matahari akan menarik orang untuk singgah membelinya.

“Ini jadi kerjaan setiap hari. Emang cuma ini dan lumayan dapat duitnya. Sudah puluhan tahun cari duit dari menjual kelapa,” tuturnya sambil terus mengupas kelapa yang terhampar di dekat meja dagangannya.

Di atas tanah sewaan berukuran 4 x 4 meter itulah, menjadi tempat mata pencarian hidupnya. Hanya beratap seng yang disanggah dari kayu. Dua jejer meja dan bangku sudah dipersiapkan. Meja bagian depan dekat jalan, sebagian digunakan untuk menaruh gelas, sendok, dan termos berisi parutan kelapa yang sudah dicampur es. Tak tertinggal, toples kaca berisi air gula sebagai pemanis rasa.

Tempat jualannya, relatif strategis. Di pinggir jalan raya dan hanya beberapa depa langkah, tempat pencucian kendaraan dengan sajian rumah makan. Tak ayal lagi, pemilik kendaraan tergoda untuk singgah ke warungnya. Deru kendaraan yang bising di kala panas, membuat tenggorok terasa tertantang untuk menikmati es kelapanya.

Kepada saya dia mengisahkan penjalannya hidupnya. Tahun 1970-an di dusun Welahan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Radji bujangan, migrasi ke Jakarta mengadu nasib. Berawal menjadi penjual buku di koperasi-koperasi sekolah di Ibukota.

Profesi penjual buku, mungkin tidak aneh dari tanah kelahirannya. Jepara sebagai kabupaten yang dikenal sebagai bumi Kartini. Anak priyayi Jawa yang bercita-cita memajukan pemikiran kaum wanita pribumi tanpa mengenal status kepriyayian maupun kebangsawanan. Kota itu pun, dikenal sebagai kota ukir. Banyak pusat-pusat kerajinan ukiran kayu yang ketenarannya hingga ke luar negeri.

“Ternyata dari jual buku, tidak cukup untuk biaya hidup di Jakarta. Akhirnya berdagang kelapa sejak tahun 1980-an,” kata dia.

Sejak tahun itulah, dia tidak pernah berpindah tempat dari lokasi dagangannya yang sekarang. Istri dan enam anaknya, tinggal di wilayah Pasar Rebo, Jakarta Timur. Empat anaknya, hanya tamatan Sekolah Teknik Menengah (STM), satu anaknya kuliah di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan anak satunya yang paling bungsu, sekolah dasar.

Era tahun 1980-an, modal untuk beli kelapa Rp150 per buah. Dua sampai tiga truk, diturunkan dari perkebunan kelapa di Narogong, Bekasi, Jawa Barat. Tempat tumpahannya, hanya beberapa meter saja dari tempat dagangannya yang sekarang. Tempat itulah, menjadi suplay kelapa muda untuk wilayah Jakarta.

Memasuki tahun 1990-an, pasokan kelapa kian meningkat. Apalagi menjelang bulan puasa. Harganya sudah menjadi Rp300 per buah. “Semua pedagang, ngambilnya dari tempat itu,” ujarnya sambil menunjuk tempat yang kini berubah menjadi bengkel mobil.

Kini, harga kelapa jenis biasa Rp3000 per buah dan untuk jenis kelapa hijau di jualnya Rp5000 per buahnya. Khususnya untuk jenis kelapa kopyor, dia berani menjual seharga Rp25.000. Padahal dipasaran harganya sudah mencapai Rp27.000. Untuk jenis Kopyor, Rodji tidak menjualnya. Hanya pemesanan banyak dengan uang cash, dia berani layani.

Dia tidak pernah merasa rugi dari usahanya. Paling, hanya sepi ketika musim hujan datang. Di saat musim hujan itu, kelapa hijau tetap diminati. “Kelapa hijau khasiatnya kan bisa untuk kesehatan,” ujarnya.

“Keuntungan untuk satu kelapa saja Rp200. Bayangkan kalo kali banyak sampai ratusan buah. Anda bisa hitung sendiri uang yang saya peroleh,” ujarnya. Sayangnya, dia mengatakan, “anak saya tidak semuanya mau kuliah. Mereka lebih senang cukup sampai STM saja. Apalagi, mereka laki-laki,” ujarnya.

Soal lelah dan usianya, dia mengatakan, bukan menjadi halangan untuk membiayai kehidupan anak dan istrinya. Setiap hari, pukul 09.00 atau 10.00 WIB, dia sudah meninggalkan rumahnya di Pasar Rebo, Jakarta Timur. Perjalanan melelahkan dengan naik angkutan umum. Tiba di jalan Pramuka, sekitar pukul 12.00 WIB.

Jam 21.00 WIB, dia meninggalkan dagangnya untuk kembali ke rumah. Kelap jika sedang lelah, dia memilih tinggal di tempat jualannya yang tak berdinding. “Soal dingin, sudah biasa. Panas dan dingin, itu sudah ada dimana-mana,” ujarnya.

Tubuhnya masih terlihat kekar dan kuat untuk mengupas kelapa. Dia merasa tak pernah lelah di usia tua. Anak-anaknya menyarankan untuk tidak berjualan lagi, karena usianya sudah terbilang tua. “Tapi saya tetap ingin berjualan, karena masih mampu dan kuat,” ujarnya. Dia kembali duduk diatas kelapa sambil mengayuhkan pisau parangnya, mengupas kembali kelapa.

No comments:

Comments System

Disqus Shortname

Search This Blog

My Link