<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376</id><updated>2012-02-16T19:21:21.808-08:00</updated><title type='text'>Rusman</title><subtitle type='html'>Feature Story News</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>125</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-5936559574734988128</id><published>2010-07-26T02:42:00.000-07:00</published><updated>2010-07-30T09:04:18.407-07:00</updated><title type='text'>Akbar Endra : Tetap Seorang Orator</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TE1ZUiqebuI/AAAAAAAAAak/oS2iV6awN-s/s1600/endeng.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 84px; height: 108px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TE1ZUiqebuI/AAAAAAAAAak/oS2iV6awN-s/s320/endeng.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5498148929526460130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Jumat malam, sekitar pukul 20.30 WITA, 11 Oktober 1996, salah satu rumah di Jalan Andi Mappaodang, Kota Ujungpandang (sekarang Makassar), Sulawesi Selatan, didatangi lima orang tak dikenal berpakaian preman. Badannya tegap seperti tentara. Dua dari mereka masuk ke halaman rumah. Sisanya menunggu di luar pagar. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Dewi, perempuan berusia 20 tahun membukakan pintu. Salah seorang dari mereka memperkenalkan diri lengkap dengan pangkat militernya, Letnan Dua Maksum. Kedatangannya untuk mencari Akbar Endra. “Akbar tidak ada di rumah,” jawab Dewi. Orang tak dikenal itu tetap menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejam kemudian, Akbar Endra datang. Ia langsung berbicara dengan Letnan Dua Maksum. Dewi menguping pembicaraan mereka. Kakaknya, Akbar Endra dipertanyakan alasannya tidak memenuhi undangan dari Bakorstanasda Sulawesi Selatan untuk menjelaskan rencana membentuk Partai Mahasiswa Pro Demokrasi (PMPD) di Ujungpandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buat apa saya penuhi. Bukannya tidak wajib dan undangan itu tidak jelas apa isi dari pertemuan,” ujar Akbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para tentara itu kesal. Akbar langsung dipaksa ikut naik ke mobil Toyota Kijang berwarna hijau tentara. Dewi yang mengetahui pemaksaan itu berupaya untuk ikut, namun dihalangi oleh tamu tentara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penangkapan paksa Akbar Endra, membuat kalangan mahasiswa, akademisi kampus, kalangan LSM, dan praktisi hukum langsung mencari tahu keberadaan dan kondisinya di Markas Kodam VII Wirabuana. Bahkan dibentuk tim pengacara beranggotakan Adnan Buyung Nasution, Harjono Tjitrosoebono, Nasirudin Pasigai, dan Rudiyanto Asapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hari itu, 13 Oktober 1996, Pangdam VII Wirabuana merangkap Ketua Bakorstanasda Sulawesi, Mayjen TNI Agum Gumelar bikin jumpa pers di kediamannya. Kepada wartawan ia mengatakan, Akbar Endra bukan penangkapan. “Ia hanya hendak dimintai keterangan,” ujar Agum singkat dan menolak untuk memberikan komentar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, Akbar Endra dibebaskan. Kepada saya ia mengatakan, “Itu masa lalu yang baru kali pertama saya diculik dan dimintai keterangan oleh tentara. Tapi sempat ngeri ‘dilenyapkan‘ juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Akbar Endra. Ia pria kelahiran di Dusun Akkapeng, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan pada 3 Maret 1972, sekitar 165 km dari Kota Makassar, ibukota Provinsi Sulawesi Selatan. Ayahnya seorang wartawan bernama Andi Hasanuddin Sultan dan ibunya Andi Seram Tabrang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama depan Andi yang disematkan kedua orang tuanya, adalah gelar bangsawan bagi orang Bugis. Namun, Akbar menolak mencantumkan gelar itu untuk namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketika tamat SD di Soppeng, saya temui Kepala Sekolah untuk menghilangkan gelar Andi di Ijazah saya, karena saya mau bermain-main dengan anak penggembala sapi dan anak-anak petani. Gelar Andi membuat saya tidak enak bergaul,” ujar Akbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah SD, Akbar melanjutkan ke SMP Negeri 2 Makassar dan SMA Negeri 11 Makassar, kemudian diterima di Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akbar bersama rekannya mendirikan Aliansi Mahasiswa Pro Demokrasi (AMPD). Wadah gerakan mahasiswa ini didirikan dan inspirator pada 27 Desember 1994 oleh Isradi Zaenal, aktivis mahasiswa Unhas yang menjabat Ketua Majelis Perwakilan Mahasiswa (Maperwa) dan aktivis pers mahasiswa di Universitas Hasanuddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi pertamanya AMPD menuntut reformasi pimpinan nasional. Wadah mahasiswa menuntut agar segera terjadi reformasi dari sistem pemerintah yang dikuasai oleh rezim Presiden Soeharto.  Dari dibentuk hingga tahun 1996, koordinator aksi Isradi Zainal dan kemudian diserahkan Akbar Endra. Tahun 1998, coordinator diserahkan kepada Hasbi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama AMPD, Akbar tak pernah absen berunjukrasa menentang kebijakan pemerintah. “Masih ikutan-ikutan,” ujar Akbar. Lama-lama, akhirnya didaulat untuk orasi di gedung DPRD Sulawesi Selatan. “Ketika itu kaki saya gemetar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akhirnya saya keluarkan pandangan apa adanya, eh ternyata banyak orang yang tepuk tangan. Saya tambah percaya diri dan makin kritis. Setelah itu, saya dianggap punya bakat jadi orator,” ujar Akbar, tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi-aksinya selalu membuat pemerintah dan wakil rakyat di Sulawesi Selatan, “merah telinganya”. Tak ayal, ia ditikam seorang lelaki kekar. Selamat, meski lengan kirinya luka. Meski kejadian ini dilaporkan ke Poltabes Ujungpandang, sampai sekarang kasus penikaman tak berlanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Akbar Endra tak lagi menjadi raja “jalanan” demonstrasi. Ayah tiga anak dari istri Herlina ini, pada pemilu 2009, terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan dari Partai Demokrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan, banyak yang tak menyangka dan bahkan beberapa temannya mengirimkan pesan yang membuat dirinya senyum sendiri. Satu hari setelah dilantik, fotonya terpajang di media massa. Akbar mendapat pesan seluler; “Akbar ternyata kamu ganteng jadi wakil rakyat!”&lt;br /&gt;“Dulu kelihatan kurang gagah karena rambut gondrong, dan tidak ada yang urus. waktu itu kan masih kuliah. Tapi itulah kali pertama saya memakai jas yang harganya mahal. Terasa tidak pede aja. Tapi lama-lama akhirnya sudah terbiasa,” ujar Akbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun dirinya menjadi wakil rakyat, Akbar Endra mengatakan, perjuangan tak pernah usai. Menurutnya, harus terus mengawal proses kejujuran, kebenaran, dan keadilan. Jika proses itu dilanggar, maka akan menimbulkan gejolak di dalam batin, dan membuat hidup tidak tentram.&lt;br /&gt;Akbar mengatakan, menjadi wakil rakyat hanya modal semangat dan kerja keras. Dan akhirnya menghasilkan dukungan yang signifikan untuk meraih kursi di DPRD Maros. Juga karena masyarakat melihat dan percaya pada Partai Demokrat dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menjadi ikon partai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi kita di bawah sangat diuntungkan. Tinggal bagaimana meyakinkan rakyat dengan memaparkan visi dan misi partai serta tujuan kita menjadi wakil rakyat,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang mantan orator unjukrasa, tak pernah pudar sampai sekarang. Ia ditugaskan oleh Partai Demokrat menjadi juru kampanye di Kabupaten Maros dan di Kabupaten Soppeng sebagai Master Campaign pasangan calon bupati yang diusung Partai Demokrat. Juga menjadi jurkam wilayah Maros untuk pemenangan SBY menjadi Presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada bedanya ketika tampil orasi sebagai demonstran dan sebagai juru kampanye. Materinya mirip, dan tetap mengajak dan menggali kehendak rakyat untuk bergerak mewujudkan harapan yang lebih besar. Juga berubah dan bekerja keras untuk memberikan yang terbaik bagi daerah, bangsa, dan negara tercinta,” ujar Akbar Endra. Berjuanglah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-5936559574734988128?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/5936559574734988128/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=5936559574734988128' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/5936559574734988128'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/5936559574734988128'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2010/07/akbar-endra-tetap-seorang-orator.html' title='Akbar Endra : Tetap Seorang Orator'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TE1ZUiqebuI/AAAAAAAAAak/oS2iV6awN-s/s72-c/endeng.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-5885989170577447714</id><published>2010-07-23T02:54:00.000-07:00</published><updated>2010-07-23T03:59:53.412-07:00</updated><title type='text'>Divestasi KPC Makan Korban</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TElnsCl7TfI/AAAAAAAAAac/X0B0WSQnQwU/s1600/DSC00123.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 112px; height: 132px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TElnsCl7TfI/AAAAAAAAAac/X0B0WSQnQwU/s320/DSC00123.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5497038826490252786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang kawan mengirimkan pesan pendek seluler beberapa hari yang lalu. “Awang gerilya ke Jakarta, nyari dukungan karena dijadikan tersangka saham KPC,” isi pesan itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Awang yang dimaksud adalah Awang Faroek Ishak, Gubernur Kalimantan Timur. Ia gubernur pertama pelaksanaan pemilihan langsung di negeri penghasil tambang dan migas terbesar itu untuk priode 2008-2013. Sebelum jadi orang nomor satu, ia Bupati Kutai Timur, daerah penghasil batu bara yang seluruh lahannya dieskplorasi PT. Kaltim Prima Coal (KPC).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saham PT. KPC sebelumnya milik British Petroleum (BP) dan Rio Tinto (RT). Pada tahun  2004, saat alotnya divestasi 51 persen saham KPC karena keinginan pemerintah Kalimantan Timur menguasai divestasi itu, secara mengejutkan terjadi penjualan saham KPC ke Bumi Resources (BR), ini perusahaan milik pengusaha Bakrie yang sekarang sebagai Ketua Umum Partai Golkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat benar saat itu, situasi begitu tegang. Aksi demontrasi kerap terjadi di Kota Samarinda sebagai ibukota Kalimantan Timur, juga berlangsung di Sanggata, Kutai Timur. Lontar opini terjadi di semua media lokal dan nasional, bahkan ancaman blokade produksi KPC juga dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan di kalangan pemerintah daerah, hampir setiap malam dilangsungkan rapat jajaran pemerintah Kalimantan Timur dan Kutai Timur, juga melibatkan tokoh masyarakat dan anggota DPRD. Debat dan perang argumentasi, berseliweran di setiap rapat. Saling curiga ada kepentingan pribadi, bukan jadi rahasia umum lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pilihan terakhir yang harus kita lakukan adalah melayangkan gugatan abitrase,” ujar Syaiful Teteng, Sekretaris Daerah (Sekda) Kalimantan Timur saat itu. Dan usulan itu diaminin oleh Suwarna Abdul Fatah, Gubernur Kalimantan Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun rencana itu sempat didebat. Bupati Kutai Timur Mahyudin sebagai pengganti Awang Faroek Ishak yang mengundurkan diri menjadi calon Gubernur Kalimantan Timur, rada sinis dengan usulan itu. Tak perlu kaget. Mahyudin memang dikenal kedekatannya dengan Bakrie. Kini ia menjadi Ketua Bidang  Organisasi, Kader, dan Kepemudaan DPP Partai Golkar era Abu Rizal Bakrie alias Ical.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abitrase tetap berjalan yang hasilnya belum jelas hingga saat ini. Penjualan saham ke BR akhirnya tak lagi digubris ramai lagi. Pasalnya, 51 persen saham KPC dibagi-bagi berdasarkan rapat kabinet terbatas  31 Juli 2002, diputuskan, komposisi dari 51 persen antara lain; 20 persen jatah pemerintah pusat melalui PT. Tambang Batubara Bukit Asam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan 31 persen dari 51 persen saham PT. KPC jatah, Pemerintah Kalimantan Timur memeroleh 12 persen melalui Perusda Melati Bhakti Satya (MBS), dan 18,6 persen jatah Pemerintah Kutai Timur  melalui Perusda Pertambangan dan Energi Kutim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, pembagian inilah, ternyata dirudung kasus. Kejaksaan Agung menemukan adanya indikasi penyalahgunaan pengelolaan keuangan denga adanya dugaan korupsi hasil penjualan saham Rp576 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada April 2010, Kejaksaan Agung dibantu Kejaksaan Tinggi Kaltim dan Kejaksaan Negeri Kutai Timur menyita dokumen Perusahaan Daerah (Perusda) Kutai Timur, yakni PT. Kutai Timur Energi (KTE) dan PT. Kutai Timur Investama (KTI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil penyidikan itu, Kejagung menetapkan dua tersangka, yaitu Anung Nugroho (Direktur Utama PT Kutai Timur Energy) dan Apidian Tri Wahyudi (Direktur PT Kutai Timur Energy).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pejabat perusda, Kejaksaan sudah memeriksa orang penting yang mengetahui pengelolaan dana saham itu, Sejumlah anggota DPRD Kutai Timur priode 2000-2004 juga sudah dimintai keterangan. Namun, belum ada yang dijadikan tersangka baru hingga saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pada awal Juli 2010, tiba-tiba Kejaksaan Agung melalui Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, M. Amari, menetapkan Gubernur Kaltim Awang Faroek sebagai tersangka kasus divestasi saham PT Kaltim Prima Coal. Ia dijerat Pasal 1 ayat (1), Pasal 3 ayat (5), Pasal 6 Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tindakan Awang Faroek itu bertentangan dengan UU tentang Keuangan Negara," katanya M. Amari seperti dikutip Antara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjelaskan berdasarkan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKB2B) Nomor J2/Ji.D4/16/82 tanggal 8 April 1982 dan Frame Work Agreement tanggal 5 Agustus 2002 antara PT KPC dengan pemerintah RI, pihak KPC berkewajiban menjual sahamnya sebesar 18,6 persen kepada Pemda Kutai Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 10 Juni 2004, hak membeli saham PT KPC itu dialihkan ke PT KTE.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"PT KTE ternyata tidak memiliki uang untuk membeli saham, sehingga PT KTE berdasarkan Suplemental Atas Perjanjian Jual Beli Saham tanggal 23 Februari 2005, mengalihkan hak membeli sahamnya sebesar 13,6 persen ke PT Bumi Resources," kata Amari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubernur Kaltim, Awang Faroek Ishak meradang. Ketetapan itu sangat tidak profesional sebagai aparat penegak hukum. Ia mengganggap, ada kepentingan politik dan bisnis hingga dirinya menjadi tersangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kesannya, penetapan tersangka lebih cenderung bersifat ada kepentingan. Selama ini belum ada pemeriksaan, sudah ditetapkan sebagai tersangka. Ini, kan lucu. Kejaksaan seolah ingin mengacaukan kondisi Kaltim yang kondusif dengan keputusan yang tidak bisa diterima oleh akal sehat,” ujar Awang Faroek Ishak usai pertemuan dengan Komisi III DPR di  Jakarta, Kamis (22/7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awang mengemukakan, soal kepemilikan 5 persen  saham KPC di PT. KTE, dirinya tidak tahu menahu dan bukan menjadi tanggung jawabnya saat itu. “Karena pada saat kepemilikan saham itu, jabatan bupati Kutai Timur adalah Mahyudin. Itu tahun 2003. Dan tahun 2006, baru saya terpilih kembali menjadi Bupati Kutai Timur,” ujar Awang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, ketika terjadinya kepemilikan saham 18,6 persen akhirnya mengecil jadi 5 persen. Kemudian dibentuknya PT. KTE, saya tidak tahu sama sekali. Ini yang semestinya menjadi kajian pihak Kejaksaan Agung untuk meneliti data terlebih dahulu,” ujar Awang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada RUPS PT. KTE saya diundang sebagai Bupati Kutai Timur berkapasitas sebagai Pemegang saham PT. KTI yang merupakan induk PT, KTE. Perusahaan ini melaporkan telah diterima devide sebesar US$2,25 juta yang akan masuk disetorkan ke kas daerah dan laporan penjualan saham 5 persen,” ujar Awang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dana dari hasil penjualan itulah, Awang mengatakan, agar hasil penjualan 5 persen saham itu sebesar US$63 juta dimasukkan ke Bank Pembangunan Kaltim (Bank Kaltim) selaku kas daerah dan rencana penyertaan modal ke Bank Kaltim sebesar US$ 15 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kan tidak salahnya. Dengan saran itu, justru akan mendapatkan hasil yang lebih baik. Dan uang itu juga akan dikelola untuk pembangunan juga. Kan tidak salahnya,” ujar Awang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kemana dana bagi hasil itu? Awang mengatakan, ia tidak mengetahui karena dirinya sedang sibuk mengikuti pemilihan Gubernur Kaltim secara langsung pada tahun 2008. “Saya tidak mengikuti kegiatan-kegiatan soal saham itu. Dan semua di luar sepengetahuannya,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waktu akhirnya menjadi Gubernur Kaltim, saya tidak pernah menjalin komunikasi  dengan Dirut PT. KTE dan perusahaan itu tidak pernah lagi membuat laporan tentang rencana penggunaan Hasil penjualan saham. Saya pun tidak pernah menerima honor,” ujar Awang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ditetapkannya dirinya sebagai tersangka, Awang mengatakan, ia tetap akan mempertanyakan kinerja Kejaksaan Agung. Ia menyatakan diri tidak gentar dengan proses yang akan dihadapinya. Namun yang sangat disayangkan, Awang mengatakan, keputusan kejaksaan yang tak berdasar itu justru akan memalukan citra penegakan hukum di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya sangat yakin, Presiden SBY akan marah apabila ternyata penegakan hukum oleh Kejaksaan Agung tidak berdasarkan kajian yang mendalam dan lebih banyak mengedepankan  sisi kepentingan politis dan bisnis,” ujar Awang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakannya lagi, ini bukan yang kali pertamanya dijadikan  tersangka oleh Kejaksaan Agung. Sebelumnya, Awang pernah ditetapkan tersangka dalam kasus bukit pelangi yang dianggap merugikan negara. “Tapi hasilnya, ternyata tidak ada yang dirugikan, malah menguntungkan,” ujar Awang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau sekarang dianggap lagi merugikan negara, tunjukan kerugiannya. Tidak asal bikin ketetapan. Ini sama saja Kejaksaan Agung bikin resah masyarakat yang memilih saya menjadi Gubernur dan sangat jelas merugikan dan pembunuhan karakter,” ujar Awang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara Awang dan Kejaksaan, kini sudah saling lempar opini. Kejaksaan tetap keukeh adanya dugaan keterlibatan Awang. Pun Awang yang tetap menyanggah dirinya tidak terlibat sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari silang sekarut ini, surat dari Kejaksaan Agung kepada Presiden SBY untuk izin pemeriksaan Awang, ternyata belum disikapi orang nomor satu negara ini. Sedangkan Menteri Dalam Negeri menyatakan dirinya sudah mengetahui adanya Gubernur Kaltim yang ditetapkan jadi tersangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita akan nonaktifkan kalau tersangka sudah jadi terdakwa. Kalau terbukti bersalah, langsung diberhentikan,” ujar Gawaman Fauzi, Menteri Dalam Negeri. Rusman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-5885989170577447714?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/5885989170577447714/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=5885989170577447714' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/5885989170577447714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/5885989170577447714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2010/07/divestasi-kpc-makan-korban.html' title='Divestasi KPC Makan Korban'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TElnsCl7TfI/AAAAAAAAAac/X0B0WSQnQwU/s72-c/DSC00123.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-7883986813566762367</id><published>2010-07-21T20:16:00.000-07:00</published><updated>2010-07-21T20:29:00.886-07:00</updated><title type='text'>Konser God Bless</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TEe6yOjGYNI/AAAAAAAAAaU/dDzufjtMnJM/s1600/DSC01274.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 211px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TEe6yOjGYNI/AAAAAAAAAaU/dDzufjtMnJM/s320/DSC01274.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496567242290520274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic; color: rgb(153, 153, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Vokalis God Bless, Ahmad Albar alias Iyek saat konser di Bengkel, SCBD Jakarta. Kelompok musik rock legendalis ini masih tetap menyapa penggemarnya. Mereka menyanyikan lagu andalannya, semut hitam, syair kehidupan, dan lainnya. Hingga kini, God Bless tak juga tergerus zaman.(Rusman)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-7883986813566762367?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/7883986813566762367/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=7883986813566762367' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/7883986813566762367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/7883986813566762367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2010/07/konser-god-bless.html' title='Konser God Bless'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TEe6yOjGYNI/AAAAAAAAAaU/dDzufjtMnJM/s72-c/DSC01274.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-4798372364227770667</id><published>2010-07-21T10:49:00.000-07:00</published><updated>2010-07-21T10:59:27.108-07:00</updated><title type='text'>Segelas Bir untuk God Bless</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TEc1SMujX9I/AAAAAAAAAaM/_u2ypLpkfnM/s1600/DSC01438.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 183px; height: 87px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TEc1SMujX9I/AAAAAAAAAaM/_u2ypLpkfnM/s320/DSC01438.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496420456999378898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Malam di lobi Bengkel Night Park, kawasan SCBD Sudirman, Jakarta. Para wanita muda yang cantik,  sibuk melayani anak-anak muda. Mereka menuangkan minuman bir bermerek Bintang. Minuman itu diteguknya. Kelihatan sangat menikmati. Tak hanya pria, pun pasangan wanitanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam ruangan, anak-anak muda lainnya melakukan hal yang sama; minum bir bintang. Namun suasananya berbeda. Selain meneguk sambil berdiri, tak sedikit minuman itu diteguknya bergeromboran dengan berhampar di lantai. Asap rokok begitu pekat menyelubung seluruh ruangan yang cukup besar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bagian depan ruangan itu, ada panggung berukuran besar. Lampu-lampu bersinaran warna-warni. Hampir semua sudut tempat terpampang iklan Bir Bintang. Musik sound dan layar lebar di dekat panggung, Bir Bintang melulu yang ditayangkan. Malam itu memang sedang ada hajatan. Bir Bintang melakukan iven bertema “Bersama Kita Bintang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul sembilan malam, acara di mulai. “God Bless…God Bless…God Bless,” teriak penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenang. Ada jadwalnya God Bless nyanyi,” ujar pemandu acara pria sambil berkelakar dengan pemandu perempuan di sebelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;God Bless, ini kelompok musik rock legendaries negeri ini. Kelompok ini didirikan tahun 1973 di Jakarta yang digawangi  kali pertama oleh Ahmad Albar alias Iyek, Donny Fatah, Fuad Hassan, Jockie Soerjoprayogo, Ludwig Lemans. Kemudian menyusul bergabung Ian Antono. Nama personil silih berganti; antara lain eddy Stanzah, Rudi Gagola, Abadi Soesman, Dodo Zakaria, Oding, Debby, Keenan Nasution.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di malam Bir Bintang, sebagian masih formasi lama. Iyek masih menjadi vokalis, Donny Fatah dengan gitar basnya. Ian Antono gitaris, Abadi Soesman keyboard dan Yaya Moektio menjadi drummernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali Yaya Moektio, wajah personil lainnya sudah tidak muda lagi. berkerut, tubuhnya kerempeng, dan lipatan kulit muka mereka sudah kentara cekungannya. Tapi, gaya God Bless tempo dulu tak berubah. Ian Antono dan Donny Fatah masih menjadi dua gitaris piawai dengan gayanya; memetik gitar sambil lari berjingkrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, God Bless benar-benar kembali menjadi raja. Mereka menyanyikan lagu-lagu lawasnya; semut-semut hitam, syair kehidupan, dan lainnya. Antusias God Bless Community (GBC), juga tak kalah hebohnya. Semua lagu yang dinyanyikan, sudah hapal di kepala penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Matahari baru saja kembali ke peraduannya. Lelaki perokok Sampoerna Mild menthol itu duduk santai di kursi berkain putih. Celana pendek dan kaos hitam membalut tubuhnya yang cengkar. Rambutnya klimis tipis. Kerut menghiasi wajahnya. Ia tak muda lagi, sudah 55 tahun. Sesekali ia meneguk kopi, lalu menghisap lagi rokoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Badan gue udeh mulai stabil. Emang kurus banget. Dulu badan gue bagus. Salah satu penyebabnya, ya… mikirin God Bless,” ujar Jockie Soerjoprajogo, lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini formasi God Bless sudah sedemikian berubah. Gonta-ganti personil menandai karir mereka. Keadaan ini dipicu oleh sejumlah determinan, antara lain beberapa personilnya sibuk bersolo karier dengan proyeknya masing-masing. Itulah yang membuat Jockie Soerjoprajogo prihatin. Ia adalah salah satu personil awal sejak God Bless berdiri, sekaligus inspiratornya. Di God Bless ia pemain keyboard. Selain dirinya, ada Ahmad Albar (vokalis), Donny Fatah (bas), Fuad Hassan (drum) dan Ludwig Lemans (gitar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayang tuh kelompok. Udeh tenar tapi orangnya susah diatur. Maunya jalan sendiri-sendiri. Nggak konsisten. Gue ampe capek mikirin bisa nostalgia lagi. Susah,” ujarnya lagi. “Sampe sekarang aja, album terakhirnya udeh nggak digarap lagi. Musik udeh jadi, tinggal masukin vokal aja, eh…malah vakum. Stress, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Album terakhir God Bless yang bertajuk Apa Kabar dirilis pada 1997. Sejak itu mereka praktis tak lagi mengeluarkan lagu. “Jadi kalau ada yang bilang God Bless mau bikin album baru lagi, omong kosong. Gue sih ketawa aja. Gile banget. Yang lama aja masih utang ama produser.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Jockie hanya bisa mengumpat. Berkeluh soal kondisi God Bless. Umpatan itu pula yang ditumpahkan kepada saya pertengahan Juni lalu, ketika saya temui di rumahnya di Bumi Serpong Damai (BSD) Tanggerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tinggal di sebuah rumah yang cukup besar, sekira tipe 70. Kontras dengan luas keseluruhan, ruang tamu rumah Jockie kelihatan sempit. Banyak perabotan yang membuat ruangan berukuran sekira 4 x 8 meter ini kelihatan sesak. Televisi berukuran 21 inci terletak dekat bangku tamu. Terdengar suara gemericik air dari kolam taman dalam rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun dia personil God Bless, tak ada foto atau lukisan yang terpanjang di dinding rumahnya. Ia juga tidak punya koleksi album foto maupun album lagu kelompok rock yang pernah kondang di negeri ini. “Gua nggak punya. Memang dari dulu gue nggak pernah simpan,” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terdengar seperti mutung saat diajak bicara soal kelompok band yang sempat melambungkan namanya. “God Bless cuma menang sebagai kelompok rock legendaris. Hanya sekedar itu saja. Tapi kalau soal internal, nggak pernah beres-beres. Jadi, kalau habis bikin album terus vakum dan begitu seterusnya, bukan hal aneh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kini sibuk bersolo karier membuat musik bersama Eros Jarot. Walaupun hari-hari banyak diluangkan waktu di rumah, ia tetap menulis lagu dan memainkan musiknya. God Bless, seakan diabaikan untuk waktu yang tak ada ujungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1973, Donny Fattah dan Fuad Hassan mendatangi rumah Jockie di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Dua orang ini mengajak untuk bergabung latihan band bersama di Cibogo, Puncak, Bogor, Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa harus di puncak,” tanya Jockie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Supaya kita bisa mudah konsolidasi latihan selama sebulan dan waktunya bisa diperpanjang sesuai kebutuhannya. Karena juga, ada anggotanya yang dari Belanda yang berdomisili di Indonesia,” jawab Donny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jockie setuju. Ia akhirnya berangkat ke puncak. Tiba di sana, ternyata benar, ada dua orang yang dikatakan berasal dari Belanda. Ahmad Albar yang kemudian dikenal bernama Iyek dan Ludwig Lemans. Sebelumnya, Jockie tidak mengenal dua orang yang disebutkan terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iyek dilahirkan di Surabaya pada 16 Juli 1964. Di Belanda, ia belajar di sekolah musik jurusan gitar klasik di Bergen OP Zon. Di sana, ia berkenalan dengan Ludwig. Berdua pernah membentuk Clover Leaf. Tujuh album dan satu piringan hitam dihasilkan. Diantaranya; Veronica, North Sea, dan Hilversum. Album ini masuk tangga lagu popular di sana. Alhasil, Clover mengadakan tur ke Jerman, Belgia, dan Luxemburg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan lamanya, mereka latihan tanpa ada nama grup musik. Nama grup yang sempat disematkan adalah Crazy Will.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, berlima punya agenda untuk turun gunung dan ingin segera memainkan musik di Jakarta. Pada tanggal 4 dan 5 Mei 1973, konser kali pertama Taman Ismail Marzuki (TIM). Di situ, disematkan nama God Bless. Nama ini diambil dari kartu pos kiriman teman Iyek di Belanda saat latihan di puncak. Di surat itu, bagian bawahnya tertulis God Bless You (Tuhan Memberkatimu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konser di TIM membawakan lagu-lagu berasal dari grup band asing; Deep Purple, Grand Funk Railroad, ELP, King Ping Me, James Gang dan Genesis. Pentas itu mendapat sambutan penonton. Antusias. Walaupun belum rekaman dan hanya jago panggung, God Bless mulai dikenal pengemarnya sebagai band rock papan atas saat itu. Tak lama, Ludwig akhirnya kembali ke Belanda. Iyek tetap di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Ludwig pulang, posisi gitar digantikan Soman Lubis. Nahasnya, pada tahun 1974, Soman dan Fuad Hassan meninggal dunia. Tabrakan mobil di dekat Tugu Pancoran, Jakarta Selatan. Keadaan diperburuk lagi dengan pengunduran diri Jockie. Kepada saya Jockie mengakui, dirinya sosok anak muda yang nakal. “Gue dulu pemakai Narkoba...Bukan cuma itu saja, gue orang yang nggak bisa diam. Mau cari suasana untuk terus berekspresi. Nggak cuma di God Bless aja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada Jockie, God Bless hanya sesekali saja mentas. Personilnya tinggal Iyek dan Donny. Akhirnya, sejumlah musisi dilibatkan untuk konser panggung. Antara lain Deddy Stanzah, Rudi Gagola, Abadi Soesman, Dodo Zakaria, Oding, Debby, Keenan Nasution.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya tidak ada yang cocok bermain di God Bless. Abadi Soesman mengundurkan diri. Ia ingin bermain musik lagi di aliran Jazz. God Bless seakan hilang dari peredaran. Iyek dan Donny menemui Jockie untuk bergabung kembali di God Bless.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau saya masuk lagi, siapa yang mau main drum ama gitarnya,” tanya Jockie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada nggak yang kira-kira main sama kita,” tanya balik Iyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau di Jakarta, sulit. Kalau di Malang, mungkin ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa ya? Iyek lagi bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cobalah nanti saya tanya dulu orangnya, mau nggak ke Jakarta,” kata Jockie Soerjoprajogo. Donny dan Iyek akhirnya memercayai Jockie mencari pemain baru God Bless.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Malang, Jawa Timur, Jockie tidak kesulitan untuk mencari pemain band. Di sana, ia banyak kenal kelompok musik, ada Jaguar, Bentoel dan lainnya. Ia dipertemukan dengan seorang lelaki bernama Ian Ling, lelaki keturunan Tionghoa yang dikenal dengan panggilan Ling sebagai gitaris di kelompok Bentoel. Ling setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jockie menanyakan ke Ian untuk pemain drum. “Teddy Sujaya aja, pemain drum gue,” saran Ian. Teddy pemain drum di kelompok Bentoel. Kelompok ini berada dalam perusahaan rokok Bentoel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian bertiga berangkat ke Jakarta dan menginap di rumah Jockie. Esoknya, langsung dikenalkan ke Iyek dan Donny. Pada umumnya orang Tionghoa mengubah namanya jadi Indonesia. Situasi politik Orde Baru tidak berpihak kepada warga Tionghoa, ganti nama jadi cara untuk menaturalisasi identitas. Akhirnya Ling mengganti namanya menjadi Ian Antono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue nginapnya pindah-pindah. Kadang di rumah Jockie, di rumah Donny, sering juga di rumah Iyek. Pokoknya, nggak netap gitu,” ujar Ian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergabungnya Ian dan Teddy, God Bless akhirnya mulai mengibarkan kembali benderanya. Formasinya; Achmad Albar, Ian Antono, Donny Fattah, Jockie Suryoprayogo dan Teddy Sujaya. Latihan dilakukan di rumah Jockie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1975, mereka mentas lagi di TIM, Jakarta. Konser ini, God Bless buat atraksi dan sebagai warna kreatifitas dari kelompok ini. Di sela lagu, tiba-tiba lampu dipadamkan. Gelap. Tak lama kemudian, satu lampu sorot mengarah ke peti mati di sudut panggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peti terbuka. Kemudian keluar hantu berpakaian putih dengan ikat kepala, pocong. Sosok yang memerankan pocong adalah Jose Rizal Manua yang kini menjadi penyair. Semua penonton kaget. Sebagian kabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konser ini juga yang membuat mereka tertawa. Ceritanya, esok harinya, harian Sinar Harapan memuat karikatur yang menggambarkan malaikat yang sedang berteriak dan mengajak malaikat lainnya untuk turun ke bumi. Akhirnya, malaikat berbondong datang ke TIM. “Ada God Bless mau bikin siraman rohani,” kenang Jockie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di karikatur itu, malaikatnya pada kabur. Dan ada tulisan, “Ini bukan siraman ronani, ini setan,” tiru Jockie. Tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;God Bless mulai kondang. Pada 1975, almahum Sjoemandjaja, menawarkan mereka membuat lagu Indonesia. Tidak lagi menyanyikan lagu grup asing melulu. Sjoemandjaja memberikan beberapa lirik lagunya agar dijadikan musik untuk filmya. Liriknya berjudul Laela Majenun dan Si Doel Anak Betawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lirik karya Sjoemandjaja digarap jadi musik. Kali pertama itulah God Bless membawakan lagu Indonesia. Dari situ, perusahaan rekaman kaset bernama Pramaqua –perusahaan gabungan Prambors dengan Aquarius- mendekati God Bless untuk masuk studio rekaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;God Bless setuju. Mereka akhirnya meluncur ke studio rekaman Tri Angkasa yang terletak di Jalan Hang Tuah, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan dengan berdera PT. Pramaqua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Album perdananya bertajuk Huma di Atas Bukit. Formasinya, Iyek, Ian, Donny, Teddy, dan Joeckie. Di tahun yang sama, God Bless mendapat kehormatan menjadi band pembuka ketika grup terkenal asal Inggris Deep Purple bertandang ke Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima tahun kemudian, tahun 1980 barulah meluncurkan album keduanya bertajuk Cermin. Rekaman berlangsung di J.C Record. Jockie keluar dan digantikan oleh Abadi Soesman yang sudah bergabung sejak tahun 1979. Abadi ikut terlibat pembuatan album. Nasib album ini tak beruntung dari segi komersial di Indonesia. Gagal. Tetapi mendulang sukses di Malaysia dan Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun kemudian, Abadi mengundurkan diri. God Bless seakan hilang dari peredaran. Semua personil sibuk bersolo karier. Donny Fatah berangkat ke Amerika Serikat sejak tahun 1981 dan kembali tahun 1984. Sekembalinya Donny, Iyek menyarankan God Bless berkumpul lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jockie diajak untuk bergabung kembali. Log Zhelebour turut membantu untuk mempertemukan dan mengaktifkan kembali God Bless. Program pertamanya adalah masuk ke studio rekaman untuk album barunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1988, meluncurlah album ketiga bertajuk Semut Hitam. Rekaman dilakukan di studio Musica. Produsernya Log Zhelebour, ‘bankir’ yang membiayai seluruh rekaman God Bless sampai konser-konsernya. Album ini meledak di pasaran dengan penjualan 600 ribu kaset dan merupakan prestasi yang luar biasa untuk ukuran rock kawasan nasional bahkan ASEAN di masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu semut hitam diciptakan oleh Donny. Kepada saya ia mengatakan, lagu ini spontan dibuatnya. Ia hanya ingin menyimbolkan bahwa semut adalah sosok binatang yang mempunyai jiwa tolerasi kepada sesamanya. “Binatang ini kelihatannya sederhana tapi punya toleransi yang tinggi. Begitu seharusnya manusia,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lirik Semut Hitam;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semut-semut hitam yang berjalan&lt;br /&gt;melintasi segala rintangan&lt;br /&gt;satu semboyan di dalam tujuan&lt;br /&gt;cari makan lalu pulang&lt;br /&gt;yok .. ikut langkah yang terdepan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yok .. ikut ke kiri ke kanan&lt;br /&gt;semut-semut seirama&lt;br /&gt;semut-semut yang senada&lt;br /&gt;nanyikan hymne bersama&lt;br /&gt;makan ! makan ! makan !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun kemudian di penghujung tahun 1989, Log kembali menawarkan membuat album baru. God Bless sepakat mengatur jadwal latihan. Ironisnya, Ian Antono keluar saat God Bless akan rekaman album keempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya, semua personil sedang mempersiapkan album Raksasa di studio rekaman MMM studio di Jalan Juanda, Jakarta Pusat. Selama tiga hari, setting alat musik dan rekaman sedang dipersiapkan. Di hari keempat saat akan mulai rekaman, tiba-tiba ada sepucuk surat dari Ian Antono. Isi surat itu; “Terpaksa dengan berat hati, saya mengundurkan diri dari God Bless.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue mundur nggak serta merta mundur gitu aja. Sebenarnya udeh lama gue ungkapin masalahnya,” ujar Ian kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa?” tanya saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya...gue mau mau main solo aja. Kalau nggak salah, sibuk di album Mata Dewa bersama Iwan Fals sama orbitin penyanyi Nicky Astria.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pengunduran diri Ian, semua personil God Bless kaget. Bingung dengan surat dadakan itu. Iyek kemudian menanyakan ke Jockie, “Gimana nih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang harus dipastiin dulu, soal Ian gimana nih. Kalau nggak ada penyelesaian, kita tetap terusin aja,” jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kita mau terusin, siapa yang main gitar,” kata Iyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita cari aja dulu pemain addition. Pokoknya kita harus jalan dulu buat rekaman,” kata Jockie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jockie sempat mengusulkan temannya asal Filipina bernama Robin yang bermain gitar di grup Progresif. Semua setuju. Namun tiba-tiba Log memanggil semua personil God Bless tanpa Robin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nih repot juga kalau Robin dilibatkan God Bless,” ujar Log.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Log khawatir masuknya robin akan bermasalah proses hukumnya dengan pihak imigrasi. Karena, Robin datang ke Indonesia dengan visa kunjungan, bukan visa kerja. Dengan terpaksa, Robin akhirnya dibatalkan bergabung. Jockie diminta lagi untuk mencari penggantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan saya yang putuskan tentang Robin . Tapi God Bless, saya cuma ngasih saran terbaik saja,” ujar Log kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan itu, Jockie mengusulkan pemain gitar bernama Eet Syahranie. Saat itu, Eet sudah bergabung dengan Faridz RM dalam grup WOW. Di GIN Studio, Jockie menemui Eet untuk diajak bergabung. Ketika disebutkan nama God Bless, Eet kaget. Ia langsung menerima ajakan itu. Rekaman album Raksasa sukses sebagai album keempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;God Bless mulai menyambangi berbagai kota di Indonesia seiring keberhasilan album Semut Hitam dan Raksasa. Konser yang digelar secara spektakuler meraih sukses besar. Sayangnya, Log sebagai produser langsung menghentikan konser di sisa beberapa kota lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada saya Log mengatakan, penghentian konser karena personil God Bless tiba-tiba punya kesibukan masing-masing. Ia kecewa. Karena di tengah jalan, justru membuat kelompok. Ian Antono, Iyek, dan Donny Fatah membentuk GONG 2000 dan Jockie Soerjoprajogo sibuk dengan KANTATA TAKWA dan SWAMI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah God Bless, cuma sekedar kelompok lihat tampang ke pengemarnya saja Kalau ada yang lebih baik, mereka seenaknya saja mengabaikan God Bless. Seenaknya saja, mengacak-acak jadwal konser,” ujar Log&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena tidak konsisten itu, saya akhirnya putuskan, lebih baik dihentikan saja konsernya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembentukan Gong 2000, kata Iyek, tidak ada hubungannya dengan God Bless. “Kita mendukung Ian untuk membentuk Gong 2000. Apalagi cuma sampai tahun 2000 saja. God Bless jalan dan Gong 2000 tetap jalan.” Personilnya, Ian, Iyek dan Donny, dan melibatkan Abadi Soesman serta Yaya Moekti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, Ian tidak bergabung dengan God Bless. Gong 2000 dikerjakan karena kerja samanya dengan perusahaan rokok, Djarum. “Makanya, namanya Gong 2000. Perjanjiannya memang sampai tahun 2000 saja,” kata Ian. Kelompok ini dibubarkan oleh Ian Antono di penghujung tahun 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sela tahun itu, God Bless tak terdengar kabar. Semua personilnya kembali sibuk masing-masing. Tahun 1997, Iyek berupaya mempertemukan kembali personil God Bless dan membicarakan rekaman lagi. Di pertemuan itu, tanpa kehadiran Ian Antono. Iyek menyarankan agar Ian Antono kembali diajak bergabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jockie setuju dengan rekaman tapi bingung dengan saran Iyek tentang Ian Antono untuk diajak bergabung. “Loh…jadi bagaimana dengan Eet, apa kita harus pakai dua gitaris,” tanya Jockie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya..nggak apa-apa. Kita pakai dua gitar aja,” ujar Iyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jockie sempat menentang rencana dua gitar. Dalam pertemuan itu, Eet langsung mengatakan, “Nggak apa-apa mas, tidak masalah dua gitar. Nanti biar mas Ian yang di depan, saya bantu di belakang saja,” ujar Eet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, semua personil bertemu di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. Dalam pertemuan itu, God Bless meminta Log Zhelebour untuk kontrak dua album sekaligus. Log Setuju. Di sana, mereka melangsungkan latihan selama dua bulan. Dan akhirnya turun gunung lagi. Hasilnya, hadir album Apa Kabar. Duo gitaris menjadi andalannya, Eet dan Ian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formasinya, Iyek, Donny, Jockie, Eet Syahranie, Teddy, dan Ian. Di album ini, mereka akan kembali menyapa pengemarnya dalam tur ke lima kota. Nahas, rencana tur keliling Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina, harus kandas lantaran di tahun 1998, Indonesia terkena krisis moneter dan banyak terjadi huru - hara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, nilai mata uang Indonesia atas dollar Amerika tiba-tiba melonjak dahsyat. Dari angka Rp2500 terus merambat hingga mencapai Rp12 ribu. Semua harga kebutuhan pokok ikut naik. Aksi unjuk rasa menentang pemerintah Soeharto dengan antek orde barunya, berlangsung di seluruh negeri. Soeharto akhirnya mundur dari kekuasaannya, 11 Mei 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi, vakum. Tahun 1999, Log akhirnya menemui Jockie agar God Bless menyelesaikan album kedua yang pernah disepakati di Puncak. Jockie setuju. Ia akhirnya menemui pesonilnya secara personal. Ia mendatangi Ian Antono, Iyek, Donny Fattah, dan Teddy. Semuanya sepakat untuk kembali rekaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya Eet yang menolaknya. Ia ingin konsentrasi memperkuat grup musik, EDANE yang sudah dibentuk sejak tahun 1992. Grup ini sudah meliris album perdananya berjudul, The Beast. Mundurnya Eet, formasi God Bless kembali ke awal lagi. Akhirnya, tempat latihan yang disepakati di studio milik Jockie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesepakatan untuk rekaman lagi setelah album Apa Kabar, kandas di tengah jalan. Iyek secara tiba-tiba tidak datang. Padahal, rekaman untuk musik sudah selesai. Tinggal isi vokal Iyek saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jock, mendingan elu panggil deh si Iyek dan kita rapat. Kita tuntasin aja masalah ini gimana maunya?” saran Ian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa bukan elu aja yang ngomong,” tanya balik Jockie kepada Ian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue udeh nggak bisa ngomong. Gue udeh nggak sanggup,” jawab Ian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Jockie setuju memanggil Iyek. God Bless rapat. Hasilnya, tidak ada kesepakatan. Log akhirnya turun tangan agar masalah bisa segera diselesaikan. Namun, Jockie sudah menyatakan mengundurkan diri. “Saya sudah tidak sanggup,” ujar Jockie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita stop album itu, karena tipe lirik dan arasemen musiknya tidak lagi punya warna untuk God Bless. Tidak ada persoalan pribadi. Hanya itu saja masalahnya,” papar Donny Fatah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang kita inginkan, album itu dirombak. Tapi hasilnya, nggak ada kesepakatan. Ya...akhirnya tidak dilanjutin,” ujar Donny lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iyek juga menyatakan sama. Kepada saya ia mengatakan, persoalan yang terjadi saat itu adalah, arasemen musik seenaknya saja diubah oleh Joeckie. Bayangkan saja, kata Iyek, saat latihan sudah siap, tiba-tiba besoknya arasemen sudah diubah. “Joecky seenaknya mengubah arasemen ciptaan Ian atau ciptaan personil lain. Kalau ciptaan Joeky yang di ubah, kita tidak permasalahkan,” ujar Iyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Log akhirnya tidak berbuat apa-apa. Padahal, ia sudah membayar kontrak untuk semua personil God Bless. Dari sepuluh lagu, baru lima lagu yang selesai. Masternya ada di perusahaan miliknya berbendera Logiss Record. “Mungkin ada perselisahan paham saja antar personil. Dalam kontraknya, Eet juga sudah masuk. Ia sudah mengambil uang muka,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Silahkan saja kalau God Bless pengen bikin album di tempat lain. Tapi, kembaliin dulu dong duit yang sudah dibayar,” ujar Log.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya sudah cukup pengertian dengan God Bless. Tapi, mereka saja yang mau seenaknya. Saya tunggu saja, kapan mereka tuntaskan tanggung jawabnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Donny membatah pembayaran itu. Begitupun Iyek dan Ian. Kata Donny, kontrak dengan Log memang hanya sebatas album Apa Kabar. “Jadi, otomotis, kontrak sudah tidak berlaku lagi. Walaupun album tertunda itu akhirnya berhenti di tengah jalan,” ujar Donny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era tahun 2000-an, God Bless kembali memperlihatkan eksistensinya sebagai grup rock. Tak ayal, tanpa meliris album baru lagi mereka tetap tampil. Sayangnya, era kejayaan baru pascareuni itu tak berlangsung lama. Jockie dan Teddy mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasibnya God Bless ditangan sisa personilnya, Iyek, Donny dan Ian. Kemudian Abadi Soesman, Iwang dan Inang dirangkulnya. Tapi tak lama. Kedua nama terakhir, mengundurkan diri. Kemudian diganti Yaya Moektio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berdirinya tahun 1972 hingga kini, cuma punya lima album. Yaitu; God Bless (1975), Cermin (1980), Semut Hitam (1988), Raksasa (1989), dan Apa Khabar (1997), dan sebuah album yang diaransemen ulang, The Story of God Bless (1990).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;God bless termasuk band yang memelopori banyak warna di musik Rock Indonesia. Itu diiyakan Log Zhelebour. Sayangnya, kata dia, personilnya egoistis semua. Untuk membentuk kelompok band yang solid, memang agak kacau. Dirinya sudah lelah. “Istilah orang itu, sudah patah semangat. Sudah keburu tua. Waktunya ke buang sia-sia. Hanya untuk rapat, ngobrol tapi tidak bekerja,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau dibandingkan dengan band lain, jauh. Band lain produktif dan taat dengan manajemen. Mereka jalankan dengan senang hati dan sebagai karier profesinya. God Bless banyak buang waktu dan tidak cocok dengan hasilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iyek mengatakan, “God Bless tidak punya manajemen. Log hanya sebagai produser. Pikirannya bisnis. Tidak bisa disamakan dengan yang lain. God Bless adalah God Bless.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“God Bless hanya dijadikan tonggak sejarah musik rock. Mereka hanya mencari populeritas. Setelah sukses, akhirnya mereka mencari kerja sampingan. Karena, masing-masing punya kelompok sendiri-sendiri,” Kata Log.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada rencana album tertunda ini dibuat kembali?” tanya saya kepada Log.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Log mengatakan, semuanya diserahkan kepada God Bless. Ia hanya meminta kesadaran mereka saja. Mau diberesin atau tidak, kata Log, kesadaran mereka sendiri. “Mereka udeh tua dan tidak bisa dipaksa,. Yang penting kewajiban soal dana sudah saya bereskan. Dan kebutuhan mereka sudah dibayar. Kalau mereka tidak menuntaskan, saya tidak memaksa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal album itu, Iyek kepada saya mengatakan, album tertunda itu tidak akan pernah dilanjutkan. God Bless, kata dia, akan membuat lirik album yang baru lagi. “Musiknya sudah berubah. Ciri khas God Bless pada album tertunda itu, sudah tidak menarik lagi. Dan kita sepakat, album tertunda itu tidak usah dilanjutkan lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vakum dan tak ada album, terus melanda grup rock ini. Pada Juli 2002, Albar menyatakan God Bless bangkit lagi dengan formasi baru melibatkan Gilang Ramadhan dan Abadi Soesman. Iyek mengajak tiga punggawanya, Ian Antono dan Donny Fattah untuk membangkitkan nama besar God Bless. Hingga kini, album belum ada dan hanya tetap jago panggung lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Siang hari sepekan lalu, hujan deras membasahi kawasan Cibubur, Depok, Jawa Barat. Salah satu rumah di perumahan Cibubur Indah Vila terlihat sepi. Di situ Ian Antono tinggal dengan keluarganya. Donny Fatah keluar menemui saya dan menyapanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Silahkan masuk. Ini hari pertama pertemuan God Bless yang sudah delapan bulan tidak bertemu lagi,” ujarnya. Tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruangan tengah, sudah ada Abadi Soesman dan Yaya Moektio. Wajah Donny sudah tidak sangar seperti dulu. Donny muda, dulunya berambut gondrong. Kini, potongan rambutnya pendek. Abadi Soesman, raut wajahnya sudah tua. Rambutnya sudah memutih. Yaya relatif yang paling muda. Rambutnya masih gondrong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita ini lagi reunian. Sekalian mau latihan buat mentas di PRJ tanggal 5 Juli,” ujar Donny kepada saya. PRJ singkatan dari Pekan Raya Jakarta di Kemayoran. Perhelatan tahunan memeringati ulang tahun Kota Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udeh berapa lama nih, kita nggak ketemuan?” tanya Yaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udeh delapan bulan. Terakhir kita ketemuan abis konser di Kediri. Kalo nggak salah bulan Oktober 2006,” kata Donny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, Ian Antono datang usai mengatur studio musiknya. Wajahnya juga tidak sangar. Rambutnya masih panjang dan sudah beruban. Ia hanya mengenakan celana pendek sedengkul kaki dan kaos oblong putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iyek datang nggak ya,” tanya Donny kepada Ian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana gue tahu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mudah-mudahan datang. Mungkin terlambat,” ujar Ibu Titi, Istri Ian Antono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya udeh, kita latihan aja. Tuh semua alat udeh siap semua,” kata Ian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berempat masuk ke studio yang berada di belakang. Ruangan itu, hanya diterangi enam lampu pijar. Luasnya sekira 4 x 4 meter. Semua alat musik sudah lengkap. Donny duduk di bangku tinggi memainkan bas. Ian posisi berdiri memainkan gitar. Abadi berdiri memainkan Keyboard. Dan Yaya menabuh drum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada latihan itu, Iyek belum datang. Hanya musik yang terdengar keras. Di latihan ini, sering salah. “Maklum, udeh lama nggak main lagu God Bless,” ujar Donny. Ian, Abadi, dan Yaya hanya tersenyum saja. Yang paling banyak lupa menabuh drum adalah Yaya. Yang lainnya, hanya sesekali saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 16.45 WIB, Iyek baru datang dari perjanjian pertemuan pukul 13.00 WIB. Iyek membawa buku. Ia langsung memegang microphone yang terbungkus busa berwarna pink. Rambutnya tidak kribo seperti dulu. Raut wajahnya tetap mudah dikenali. Ian menggeser posisi gitarnya di antara Abadi dan Iyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iyek langsung menyanyikan beberapa lagu sambil memegangi buku yang isinya catatan lirik God Bless. Urat lehernya mudah dilihat ketika Iyek menyanyikan lagu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;God Bless, memang tidak lepas dari sosok Iyek. Dunia seni, bukan hal yang aneh baginya. Selain musik, seni peran pun pernah dijabaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pernah menjadi peran utama dalam film berjudul Jenderal Kancil di usia 12 tahun. Dalam Festival Film Singapura, film ini mendapatkan penghargaan film anak-anak terbaik. Usai mendulang sukses di film, Iyek akhirnya menapaki kembali dunia musik. Ia membentuk band bernama Bintang Remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di festival band bocah yang berlangsung di Lapangan Banteng, Jakarta, bandnya menjadi juara pertama. Sayangnya, hanya bertahan dua tahun. Bubar. Lalu bersama Titi Qadarsih, membentuk Kuarta Nada. Bubar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1965, selepas SMA, Iyek terbang ke Belanda. Ia melanjutkan sekolah musik jurusan gitar klasik di Bergen OP Zoon. Di sana membentuk The Big Five sebagai kegiatan luar sekolah. Grup ini sering main di pub dan sesekali mengikuti festival. Iyek pernah terpilih sebagai vokalis terbaik. Usai itu, lagi-lagi bubar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama dengan Ludwig Lemans, Iyek membentuk Clover Leaf. Era grup ini, dari jago panggung akhirnya ke rekaman. Tujuh album dan satu piringan hitam dihasilkan. Beberapa lagu diantaranya; Veronica, North Sea, dan Hilversum, masuk tangga lagu popular di Belanda. Alhasil, grup ini sering mengadakan tur ke Jerman, Belgia, dan Luxemburg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1972, Iyek kembali ke Jakarta membawa Ludwig Lemans. Masa itulah, ia mengamati musik Indonesia. Setiap malam, ia mengunjungi club malam sambil mengamati musik ala anak-anak Jakarta. Akhirnya mencari musisi untuk bergabung. Orang yang kali pertama direkrutnya adalah Fuad Hassan, adik iparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sela God Bless vakum, ia membuat album solo berjudul Dunia Huru-Hara yang dikerjakan barengan dengan Areng Widodo sebagai pencipta lagunya. Ia juga bikin album Dua Kribo bersama Ucok Harahap. Selain di musik, ia sibuk mengisi membintangi film Si Doel Anak Modern, Pacar Seorang Perjaka, Laila Majenun, dan Duo Kribo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 1997 bersama adik tirinya, Camelia Malik, Indra Lesmana, Budjana dan Jalu, membentuk Trakebah. Sebuah grup yang niatnya ingin menggabungkan musik dangdut dengan rock dan jazz. Grup ini pernah tampil dalam Jak Jazz 1997.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun sudah ada God Bless, bersama dengan Ian Antono, menggarap album Syair Kehidupan. Ian dalam album ini dibantu oleh pencipta lagu andal seperti Areng Widodo, Tommie Marie, dan Abadi Soesman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau personil bersolo karier, karena God Bless sedang vakum,” ujar Iyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semuanya sampai sekarang sibuk masing-masing. Kalau pas ada pementasan, baru kita kumpul,” kata Donny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain God Bless, Donny sibuk dengan grup barunya, Don’z Gank. Personilnya terdiri dari mantan band rock yang seangkatan dengannya. Baruna (Vokalis) mantan personil Elpamas, Yaya Moektio (drum), Mando (keyboard) mantan personil Grass Rock, dan Mauly dan Pray (gitaris) mantan Legend Bee dan Gank Pengangsaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, udeh nggak lagi. Gue sekarang banyak di rumah aja. Palingan kalau diajak main,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teddy Sujaya, kini sibuk dengan musik-musik rohaninya. Komunikasi terakhir dengan Donny empat bulan lalu. Kata Teddy kepada Donny, ia sudah tidak lagi main musik untuk band. “Itu sudah menjadi pilihannya sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang gue tahu sebulan lalu, Teddy sibuk jadi guru private drum. Ini selain sibuk di musik rohani,” tambah Iyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iyek sendiri, kini lebih banyak di rumahnya di kawasan puncak. “Gue sekarang, lagi renovasi villa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Ian Antono, kini sibuk pulang pergi Jakarta-Surabaya. Di sana, ia sedang membantu menggarap grup band asal Surabaya, Jawa Timur bernama Trans Band. “Gue jadi Music Director-nya. Mereka band baru, jadi harus dibimbing sepenuhnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rencana ke depannya gimana nih,” tanya Yaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abis dari main di PRJ, kita main di Bali bulan Agustus. Kan ada Soundrenaline Bali 2007,” jawab Donny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita upayakan bikin album tahun 2008. Kan bertepatan dengan 35 tahun God Bless,” timpal Iyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sip...sip,” ujar Yaya sambil memandang Abadi yang cuma tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selesaikan album tertunda yang sekarang masternya ada di Logis Record?” tanya saya kepada Iyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya..nggak lah. Kita bikin album dengan musik dan lagu yang baru lagi. Kita coba kerja sama dengan produser lain. Tapi tidak menutup-kemungkinan, kita akan berdialog dengan Log Zhelebour untuk kerja sama lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa Teddy dan Jockie tidak diundang ke pertemuan reuni ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya..memang nggak dipake main lagi ama God Bless. Kalau Teddy, memang memilih di jalur sendiri sebagai musik rohani.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruang tamu, lima personilnya berkumpul sambil mendengarkan album lama God Bless. Foto personil lama didirikan di bawah televisi. Wajah menyeramkan yang terlihat. Pose sangar Joecky, Ian, Iyek, Donny, dan Teddy yang dipotret tahun 1975.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Iyek dan Donny seringkali memandangi foto diri sendiri. “Nih..waktu gila-gilanya. Masih senang teler,” ujar Donny tertawa. Semuanya tertawa. “Ampe sekarang nggak mabok lagi?” timpal tanya Yaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang udeh tua. Malu ama anak,” ujar Donny, semua tertawa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Joeckie kurusan kembali kayak foto itu. Gue terakhir ketemu waktu Chrisye meninggal. Rambutnya pendek,” kenang Iyek sambil memandang foto Joeckie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari surup di ufuk barat. Adzan Isya berkumandang dari mesjid yang tak jauh dari rumah Ian. Donny Fatah dan Yaya pamitan lebih dulu. Dua orang ini diantar keluar oleh tuan rumahnya, Ian Antono dan Istrinya. Pertemuan usai album Apa Kabar sambil menanti cemas ‘Sampai Jumpa’. ■&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-4798372364227770667?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/4798372364227770667/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=4798372364227770667' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/4798372364227770667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/4798372364227770667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2010/07/segelas-bir-untuk-god-bless.html' title='Segelas Bir untuk God Bless'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TEc1SMujX9I/AAAAAAAAAaM/_u2ypLpkfnM/s72-c/DSC01438.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-2691722118224519616</id><published>2010-07-21T03:39:00.000-07:00</published><updated>2010-07-21T03:47:50.468-07:00</updated><title type='text'>Syariat Atjeh Ala Linda Christanty</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TEbQPGX00YI/AAAAAAAAAaE/5QQ05ety2b4/s1600/828485.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 72px; height: 91px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TEbQPGX00YI/AAAAAAAAAaE/5QQ05ety2b4/s320/828485.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496309353079427458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rabu, 21 Juli 2010. Kota Aceh sedang ada razia besar-besar di depan mesjid raya, sasarannya adalah wanita yang dianggap melanggar peraturan Syariat Aceh; tidak mengenakan jilbab.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang perempuan ditangkap.  Ia di bawa dan mendapat nasehat dan ceramah yang semuanya dikaitkan dengan syariat Islam. Perempuan itu diam dan hanya mendengarkan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Ini sudah yang kedua kalinya. Kalau ketiga kalinya, Anda akan dibina dalam ruangan,” ujar petugas razia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Mendengar kata “bina” dalam ruangan itu, perempuan itu langsung stress. Ia ingat pemerkosaan Langsa yang pelakunya tiga polisi syariah. Apalagi polisi itu menyebutkan ada penjara khusus perempuan yang melanggar aturan jilbab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengarkan nasehat dan mendapat peringatan, perempuan itu akhirnya dibebaskan. Perempuan itu menuju kantor acehfeature.org. Di sana bertemu Linda Cristanty, atasan kerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu bernama Donna.  Seorang perempuan yang bekerja sebagai sekretaris kantor di situs acehfeature.org. Ini lembaga media yang menerbitkan tulisan-tulisan yang isinya soal aceh melulu.  Lembaga ini juga, awalnya di bawah koordinasi Yayasan  Pantau di Jakarta. Namun akhirnya berdiri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada Linda Cristanty, Donna menceritakan proses penangkapan dan pidato polisi syariah itu. "Kalau tak mau mengikuti peraturan di sini, silakan keluar dari Aceh,” tutur Donna menirukan ancaman polisi syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar  cerita bawahannya, Linda langsung mengirimkan status di jejaring sosial facebook: “Donna, sekretaris kantor, ditangkap polisi syariah hari ini, yang mengatakan bahwa ia akan dibina di ruangan kalau melanggar wajib jilbab ketiga kalinya. Kata 'dibina' dan 'ruangan' membuat Donna stres, karena ia teringat kasus pemerkosaan Langsa yang pelakunya adalah tiga polisi syariah. Polisi itu juga menyebutkan bahwa ada penjara khusus untuk perempuan yang melanggar aturan jilbab”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak komentar dengan status Linda. Berikut ini tanggapannya yang dikutip dari facebook pribadinya;&lt;br /&gt;Donna adalah orang Aceh dan tak mungkin pindah ke pulau lain. Sejak kapan Islam diperlakukan sebagai monster  oleh aparat negara? Marilah kita lihat kepentingan ekonomi dan politik yang berada di belakangnya. Sebab surga seperti dikatakan Allah merupakan rahasiaNya, bukan berada di tangan segelintir orang yang menentukan hak miliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang aneh. Maksiat tak ditentukan dari cara perempuan berbusana. Di Arab lebih banyak perempuan diperkosa ketimbang di negara Eropa yang perempuannya tak menutup sekujur tubuh mereka seperti lemper. Dalam kasus pemerkosaan Langsa, yang diperkosa perempuan berjilbab kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Linda mengatakan, bukan nasib dan karena itu harus diubah. Ketika agama menjadi monster, artinya ada hal yang harus kita waspadai di balik itu semua. Penerapan syariat Islam ini pertama kali didengungkan di masa Darurat Militer di Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah dan militer punya kepentingan dalam pelaksanaannya untuk membuat Aceh jadi daerah yang terisolasi. Kekayaannya bisa diambil sewenang-wenang dan rakyatnya ditindas tanpa ada yang tahu. Itu politik di belakang syariat. Apalagi setelah tsunami dan konflik ditemukan sumber-sumber alam baru yang bisa dieksplorasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minyak, gas alam, emas, nikel, dan mungkin juga uranium. Di lapangan tentu saja hal itu tak akan terlihat. Yang tampak adalah wujud polisi syariah akan sibuk membacakan ayat tertentu dan setelah itu sibuk berceramah tentang surga, lalu ketika dibantah dia akan berkata, "Itu sudah peraturan." Ketika didesak lagi, dia akan berkata jujur, "Itu peraturan pemerintah." Marilah kita usut apa kepentingan pemerintah terhadap syariat Islam di Aceh secara kritis, pasti bukan agar seluruh orang Aceh masuk surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang dikhawatirkan Donna adalah keluarganya diintimidasi dan dapat tekanan sosial juga. Maklumlah, bisa saja para polisi syariah dan pendukungnya mengeluarkan isu macam-macam untuk itu. Apalagi mereka merasa sebagai ahli waris surga. Aku sendiri tak peduli masuk surga atau neraka, bahkan tak pernah memikirkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waktu kecil saja aku sering mendengar kalimat bahwa surga dan neraka urusan Allah. Sekalipun kita berbuat baik, menurut kita, kalau Allah bilang masuk neraka ya masuk neraka. Baru di Aceh inilah aku tahu ternyata surga ada juru kuncinya. Mereka menggunakan Alquran yang mana ya?”, tulis Linda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku syariat itu justru salah satu alat paling efektif yang membuat para pendukungnya punya alasan kuat untuk tak mensejahterakan ekonomi rakyat dan mengalihkan perhatian kita dari isu pelanggaran hak asasi manusia di Aceh. Semakin ketat syariat ingin diterapkan dan semakin banyak kekerasan yang terjadi dalam pelaksanaannya, semakin kita harus mencurigai apa motif di balik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syariat di Aceh bahkan membasmi tradisi dan budaya Aceh, seperti busana perempuan, dan hendak menukarnya dengan tradisi dan budaya Arab. Ampuuuuun, deh. Bagiku, perempuan mau pakai jilbab silakan, nggak pakai jilbab juga boleh. Adikku saja berjilbab dan dia nggak pernah menyuruhku pakai jilbab dengan mengatasnamakan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perempuan berhak menentukan pakaian apa yang melekat di tubuh mereka. Mereka yang punya tubuh kok. Jilbab atau bukan, itu fashion, terserah perempuan yang memilih mana yang cocok untuk diri mereka,” tulis Linda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bisa dilakukan kaum laki-laki di Aceh dan di mana pun adalah mendukung aksi solidaritas terhadap perempuan untuk menolak negara mengatur tubuh dan busana perempuan. Bisa melalui aksi tanda tangan atau dengan menulis yang bersifat mengeritik setiap upaya mengatasnamakan agama untuk menista perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan perempuan untuk kesetaraan dan melawan kesewenang-wenangan tak bisa dilakukan hanya oleh perempuan, tapi juga memerlukan dukungan dan keterlibatan kaum laki-laki. Sebab tujuan dari perjuangan ini bukan semata-mata untuk perempuan melainkan untuk masa depan umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kalau para pemerkosa dihukum tembak dengan senjata otomatis saja seperti di Yaman, kalau memang mau memakai cara Islam? Polisi syariah di Langsa yang memperkosa perempuan usia 20-an itu cuma dihukum delapan tahun penjara. Sungguh tak sebanding dengan perbuatannya. Seorang pelaku malah kabur dan tak ditemukan sampai hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah gaya Linda kalau memposting sesuatu yang berkaitan dengan hak perempuan. Ia akan terus nyerocos sampai lelah untuk bertemu endingnya. Gaya keras. Gaya yang tak perlu  pakem.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-2691722118224519616?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/2691722118224519616/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=2691722118224519616' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/2691722118224519616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/2691722118224519616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2010/07/syariat-atjeh-ala-linda-christanty.html' title='Syariat Atjeh Ala Linda Christanty'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TEbQPGX00YI/AAAAAAAAAaE/5QQ05ety2b4/s72-c/828485.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-3483807894065694625</id><published>2010-07-19T21:28:00.000-07:00</published><updated>2010-07-19T21:46:10.554-07:00</updated><title type='text'>Video : Demokrasi Ruang Kelas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TEUpnWX9tEI/AAAAAAAAAZ0/WkPZlUGHyYU/s1600/MASIH+BELAJAR+Publicity+still+03lowres.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 157px; height: 98px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TEUpnWX9tEI/AAAAAAAAAZ0/WkPZlUGHyYU/s320/MASIH+BELAJAR+Publicity+still+03lowres.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5495844676273288258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demokrasi. Satu kata ini kerap jadi perbincangan. Jadi isue seksi di dunia. Dari ranah diskusi, ruang perdebatan, sampai aroma mitos yang belum terlihat penampakannya. Bahkan, sudah banyak orang yang mendefinisi ‘bentuk’ demokrasi. Pemahaman sederhana untuk masyarakat awam; demokrasi adalah satu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman yang lebih rada jenius; demokrasi itu pengelolaan kekuasaan secara beradab yang dilandasi etika martabat manusia, memahami hak dan semua warga punya kesempatan berpendapat dengan saling menghormati.  Meminjam teori almahum Gus Dur, demokrasi adalah keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban soal demokrasi di Indonesia, ada di film pendek berjudul democracy is yet to learn alias demokrasi kita masih harus belajar. Video pendek berdurasi 2 menit 10 detik yang dibuat oleh anak-anak muda Indonesia ini, sarat kritik dan sindiran. Hanya diperankan oleh beberapa orang saja dan setting seadanya, film ini justru ‘menampar’ demokrasi negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Video yang tertayang di youtube ini, menyirat pada kondisi  demokrasi di Indonesia. Berawal di satu ruangan kelas, di situ pada muridnya diibaratkan dari berbagai kalangan. Dari dokter, pengusaha, insinyur, polisi, selebritis, sampai petani.  Gaya pengusaha yang mengibaskan uang di mukanya, polisi yang duduk tegap, dokter yang duduk santai, dan wajah petani yang kusam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru perempuan menuliskan kalimat di papan tulis, “demokrasi adalah….”. Para murid diminta untuk menjawabnya. Semua dalam ruangan terdiam. Bisu dengan gayanya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pertanyaan demokrasi itu, jadi awal lakon kritis itu mulai bergulat. Seorang lelaki yang diibaratkan  sebagai “wakil rakyat” berbicara dengan lantang. Seorang pengusaha langsung menyumpal mulutnya dengan uang kertas seratus ribuan. Bungkam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, seorang petani yang duduk di bangku paling belakang mengacungkan tangannya. Sebelum berbicara, seorang polisi pria di sampingnya langsung mencengkram lehernya. Bungkam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, akhirnya ada pria besar yang diibaratkan seorang siswa sekolah dasar. Mengenakan baju putih celana merah. Ia berjalan tegap. Langkah demi langkah,  menuju papan tulis untuk menjawabnya. Tangannya gemetar saat menulis. Bel sekolah berbunyi. Tak ada yang bisa menjawabnya. Endingnya? (Demokrasi adalah), “Masih harus belajar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat, padat, dan menggelitik bagi orang yang menontonya. Lucu dengan banyolan politik, dan hidup dengan realitas sosial yang terjadi di Indonesia. Demokrasi yang semestinya hak berbicara, dibungkam oleh uang dan kekuatan aparatnya. Demokrasi dijadikan sebagai ungkapan tabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas kekuatan sindiran itu, di ajang kompetisi pembuatan film “democracy video challenge” yang digelar departeman luar negeri Amerika serikat, video itu terpilih sebagai salah satu pemenangnya dari 700 peserta lainnya di dunia. Selain Indonesia, pemenang lainnya adalah Iran, Kolombia, Spanyol, Ethiopia dan Nepal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-3483807894065694625?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/3483807894065694625/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=3483807894065694625' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/3483807894065694625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/3483807894065694625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2010/07/berawal-dari-entrok_19.html' title='Video : Demokrasi Ruang Kelas'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TEUpnWX9tEI/AAAAAAAAAZ0/WkPZlUGHyYU/s72-c/MASIH+BELAJAR+Publicity+still+03lowres.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-9006835621855433960</id><published>2010-07-19T19:39:00.001-07:00</published><updated>2010-07-19T21:40:29.104-07:00</updated><title type='text'>Buku : Berawal dari Entrok</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TEUXOlMZPZI/AAAAAAAAAZs/jpzdb60TPqs/s1600/entrok.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 92px; height: 128px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TEUXOlMZPZI/AAAAAAAAAZs/jpzdb60TPqs/s320/entrok.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5495824459545263506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Satu rumah di Magetan, Jawa Timur, sedang pada sibuk menata. Dari yang pasang janur kuning hingga menata kursi. Rumah itu kelihatan marak. Para pria sibuk mengatur tenda dan yang perempuannya sibuk di dapur. Saat itu, akan ada persiapan perhelatan pernikahan yang izabnya akan berlangsung di malam harinya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Siang hari di penghujung tahun 2008. Satu kamar pengantin yang belum beres, &lt;span style="display: block;" id="formatbar_Buttons"&gt;&lt;span class="" style="display: block;" id="formatbar_JustifyFull" title="Rata Penuh" onmouseover="ButtonHoverOn(this);" onmouseout="ButtonHoverOff(this);" onmouseup="" onmousedown="CheckFormatting(event);FormatbarButton('richeditorframe', this, 13);ButtonMouseDown(this);"&gt;&lt;img src="img/blank.gif" alt="Rata Penuh" class="gl_align_full" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Okky dan neneknya, Sainem duduk di kasur. Wajah Sainem nampak serius sambil menatap Okky yang hanya hitungan jam akan melepas masa lajangnya. Kelihatan sedih. Seakan-akan Sainem ingin memberikan kata-kata penting untuk cucu yang akan menjadi seorang istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya cuma bisa ngasih doa. Tidak bisa ngasih apa-apa buat kamu,” tutur Sainem dengan bicara rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya. Doa saja sudah cukup,” jawab Okky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okky terkesan dengan ucapan neneknya. Di benak Okky, Nenek ingin memberikan sesuatu yang terbaik untuk dirinya. Tapi, belum mampu. Okky menyadarinya. Dan yang diberikannya saat itu sudah lebih baik dari hadiah-hadiah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Doakan juga, semoga kehidupan nenek bisa pulih kembali seperti dulu,” ujar Sainem lagi kepada Okky. Okky mengiyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan berlanjut. Sainem bercerita tentang hidupnya di masa dulu. Ketika ia hidup dari mengupas kulit singkong sampai ia menjadi seorang perempuan yang mapan. Sainem bercerita, entrok yang membuat dirinya ingin maju dan berusaha untuk mengenakan di tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita itu, bagi Okky adalah membosankan. Setiap bertemu neneknya, itu lagi yang dijadikan semangat hidupnya. Bahkan saking bosannya, Okky pun hafal betul alur ceritanya. Dan dari situ juga, tiba-tiba ada keinginan untuk dirangkai menjadi cerita. Okky mulai merekontruksi ulang alur cerita dari nenek dan semua keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil rekonstruksinya, terbit novel berjudul “Entrok” yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama. Novel setebal 288 halaman ini tak mudah diterbitkan. Okky membawa sendiri tulisannya dan diserahkan langsung ke sekretaris Gramedia. Enam bulan lamanya Okky menanti, dan akhirnya cerita Entrok dinyatakan akan diterbitkan. “Selama tiga bulan langsung dikerjakan,” ujar Okky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okky bernama lengkap Okky Puspa Madasari. Ia sosok perempuan berjilbab yang sebelumnya bekerja menjadi seorang jurnalis di Jakarta. Novel yang dibuatnya adalah rangkaian dari kisah nyata kehidupannya sendiri. Istilah Entrok adalah padanan kata dari BH alias kutang. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia definisi kutang adalah pakaian dalam perempuan untuk menutupi payudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari entrok, ternyata membawa cerita panjang. Penulis menguraikan entrok sejenis barang yang identik dengan kemapanan seseorang. Karena entrok juga yang membuat seseorang terpacu berusaha menaikkan derajat keluarga. Namun gara-gara entrok, setiap hari harus berurusan dengan tentara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alur novel “Entrok” ini, diawali tentang filosofi entrok. Sarana penutup dada ini, pada masa-masa dulu memang tak sembarang dikenakan oleh seseorang. Seakan menjadi barang kemapanan dan jadi kebanggaan bagi perempuan yang mengenakan. Entrok ternyata menjadi inspirasi tokoh "aku" untuk berani tampil beda dengan lawan jenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena entrok, tokoh "aku" yang seorang perempuan itu harus nekad menjadi kuli panggul pasar. Harus berbaur dengan pria-pria berbadan besar. Dan tidak pernah menyerah memikul untuk mendapatkan uang recehan. Dalam pikiran tokoh aku, hanya berharap recehan itu bisa membeli entrok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak pernah ada cita-cita lain yang diturunkan orangtuaku selain bisa makan hari ini. Tapi aku menyimpan harapan dan mimpi. Setidaknya untuk entrok. Cukup dengan harapan itu saja aku bisa melakukan apa saja”. (hlm 45).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini cukup menarik untuk membuka kembali ingatan lama fase kehidupan negeri ini. Fase yang mengarah kepada kebungkaman ekonomi dan politik ketika Presiden Soeharto berkuasa setelah meruntuhkan Soekarno. Kondisi politik yang waktu bisa menjadi instan untuk kemenangan partai politik Golongan Karya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis memaparkan secara gamblang peran tentara yang memihak kepada kekuasaan melalui partai Golkar. Tentara dianggap sebagai simbol yang berjuang, maka punya hak semaunya. Tentara dianggap berjasa, maka punya hak mengintimasi masyarakatnya. Jika melawan, langsung dicap sebagai PKI. Konsekuensinya, masyarakat takut dipenjara dan disiksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah yo, Mbakyu, Kang, sudah beres urusan. Kalian tadi belum nyoblos, to? Sudah sekarang giliran kalian. Jangan lupa yang gambarnya pohon. Kalian bukan PKI,to? (hlm 65).&lt;br /&gt;Dan karena entrok-lah, tokoh Marni dalam novel ini, yang tadinya hidup dari menjual panci keliling akhirnya beralih menjadi seorang rentenir. Memberikan pinjaman kepada orang lain dengan mengenakan bunga yang tinggi. Dari bunga pinjaman itulah, ia menjadi keluarga mapan. Keluarga terpandang di kampungnya. Tapi menjadi korban pemerasan oleh tentara dan aparat desanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamban laun, usaha rentenir Marni bangkrut. Ia menuding perbankan yang membuat bangkrut usaha rentenirnya karena memberikan bunga pinjaman rendah kepada pelanggan-pelanggannya. Apalagi anaknya, Rahayu, harus bebas dengan uang jaminan 10 juta rupiah karena dianggap PKI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal kepercayaan, juga menjadi bagian yang menarik dari novel “Entrok”. Cerita orang tua dan anak yang memunyai keyakinan berbeda. Marni meyakini yang memberikan rezeki dan membuat hidupnya sukses atas bantuan “Mbah Ibu Bumi Bapa Kuasa”. Juga, Marni kerap memberikan sesaji kepada leluhur yang dianggap “Maha Kuasa”. Bagi Rahayu, itu adalah dosa. Namun, Marni tetap keukeuh dengan keyakinannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini secara utuh cukup menarik. Walau ada kata yang lengah dipergunakan oleh penulis, namun tidak mengubah esensi dari alur cerita. Juga ada beberapa cerita yang berulang-ulang, khususnya tentang makna entrok. Mungkin maksud penulis, dilakukan untuk memperjelas makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel "Entrok" akan membawa pembaca ke ranah pencerahan tentang hidup dan penyadaran diri. Bagi generasi masa Presiden Soeharto, situasi dari novel itu tidak memiliki kekuatan secara tematik. Baik dari soal entrok sendiri, keyakinan orang Jawa terhadap leluhur, bahkan tentara yang kerap berdiri di kepala orang miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bagi generasi pasca Presiden Soeharto, novel ini penting. Banyak digambarkan tentang peran tentara, pemberlakukan tiga partai politik, ketakutan tuduhan PKI, bahkan keyakinan sembah leluhur yang (mungkin) sampai sekarang masih dipertahankan. Rusman&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-9006835621855433960?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/9006835621855433960/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=9006835621855433960' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/9006835621855433960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/9006835621855433960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2010/07/berawal-dari-entrok.html' title='Buku : Berawal dari Entrok'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TEUXOlMZPZI/AAAAAAAAAZs/jpzdb60TPqs/s72-c/entrok.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-2497178795460660450</id><published>2010-07-19T08:16:00.001-07:00</published><updated>2010-07-19T21:39:31.745-07:00</updated><title type='text'>Seniman Yang (Tak) Tersingkir Zaman</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TEUKbz8pwzI/AAAAAAAAAZc/L6fB_CrnIWw/s1600/IMG_8238.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 90px; height: 120px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TEUKbz8pwzI/AAAAAAAAAZc/L6fB_CrnIWw/s320/IMG_8238.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5495810393192907570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Nama besar Ling Nan Lung yang besar di era tahun 1940-1990an,  seakan sudah redup ditelan masanya. Bahkan, tak banyak referensi sosok dari seniman Indonesia keturunan China ini. Padahal, karya  seni rupa bercorak ‘chinese painting’ goresan Ling Nan Lung  dikagumi banyak negara.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya seni rupa, Ling Nan Lung juga diakui karya seni pahatnya. Presiden  Soekarno sempat terpicut dengan karya pahatnya yang bertajuk ‘Soekarno’. Kini, karya-karyanya seakan jaya kembali. Tak sedikit orang yang masih memburu semua goresan karya Ling Nan Lung hingga ke mancanegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas Ling Nan Lung. Ia  dilahirkan di Pangkalpinang, Bangka pada 17 Mei 1915. Belajar melukis di China Institute of Arts di Hang Zhao. Ia pernah bekerja di museum seni di  Tiongkok. Dari sana, kembali ke Indonesia dan tahun 1955 mendirikan ‘Yin Hua yang diketua Lee Man Fong dan Yap Thay Hua sebagai Wakil Ketua. Ling Nan Lung di organisasi kumpulan seniman China Indonesia itu menjabat Bendahara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1965, di Jakarta  ‘meledak’ kasus pembunuhan para jenderal  yang dikenal dengan gerakan 30 September. Partai Komunis Indonesia (PKI) dituding sebagai pihak yang bertanggung jawab. Ironis, kejadian tersebut juga terjadi pembersihan para seniman-seniman yang berafiliansi ke PKI. Tak hanya itu, kekuasaan Soeharto juga merangsek habis semua budaya China di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua seniman China ketar-ketir. Ling Nan Lung pindah dari satu tempat ke tempat lain. Hidupnya tak beraturan. Tahun 1970-an, ia diketahui bersembunyi di salah satu rumah petak berukuran kecil di daerah Slipi, Jakarta. Walau rasa takut melukis masih berkecamuk, namun dari persembunyiannya itu, Ling Nan Lung diam-diam tetap melukis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari, ia merobek kertas kalender berukuran 17x15 sentimeter. Ia goreskan cat air, sehingga menjadi satu lukisan penuh makna. Dari goresan itu, ia menghasilkan ratusan karya beraliran  abstrak. Sulit memaknai karyanya, namun bagi beberapa orang yang mengenal Ling Nan Lung, karyanya  lebih dikenal dengan kepribadian dan mempertahankan corak budaya China dari karya abstrak beraksara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Era sebelum masa persembunyian, Ling Nan Lung gemar melukis objek yang dilihatnya. Karya realis-nya cukup punya makna kenyataan hidup. Ia melukis pasar, pedagang, pencari ikan, dan lainnya. Dari bentuk chinese painting, ia melukis ikan, burung, bambu, dan pemandangan alam. Yang tak kalah menariknya, ia menggambarkan  suasana kota-kota  di China dan Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Ling Nan Lung meninggal pada Mei 1999, ia terus menyempatkan diri melukis dan menyalurkan kepiawaiannya ke banyak orang keturunan China di Indonesia untuk berlatih melukis chinese painting.  Semua karyanya kini terkumpul rapi oleh salah seorang kolektor di Indonesia yang juga mantan muridnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumpulan karya Ling Nan Lung baru beberapa tahun terakhir ini akhirnya ditemukan. Semua karyanya terpendam dan ditemukan dalam peti di gudang tua yang dekat dengan persembunyiannya. Bagaikan menemukan harta karun yang selama ini terpendam puluhan tahun lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya karya bentuk chinese painting, kolektor ini juga menyimpan dengan rapi karya abstraknya, karya sketnya, karya lanskap, bahkan foto-foto pribadi Ling Nan Lung. Hingga sekarang, kolektor ini masih terus mencari dan ingin mengoleksi karya lainnya untuk dijadikan buku kumpulan karya Ling Nan Lung. ADVERTORIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biografi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1951 : Born in Pangkalpinang, Bangka, Indonesia&lt;br /&gt;1935 : Education at The National Arts Academy at Hang Zhao, China&lt;br /&gt;1937 : The 1st winner of Sculpture Competition at Hang Zhao, China.&lt;br /&gt;1942 : The 1st Chinese Art National Exhibition, Kwei Yang&lt;br /&gt;1944 : Exhibition at Chungking&lt;br /&gt;1945 : Join Exhibition with Qi Bai Shi, Lin Feng Mian, Pan Tian Shou, etc.&lt;br /&gt;1946 : Ling Nan Lung Art exhibition at Hang Zhao, China.&lt;br /&gt;1950 : Exhibition at Amsterdam, China, Taiwan, Singapore, Kuala Lumpur, Jakarta, Central Academy of Fine Arts, Beijing.&lt;br /&gt;1951 : Exhibition at M.L. de Boer, Amsterdam.&lt;br /&gt;1951-1952 : Recruited by Marten Tooder’s Studio made of 65 painting at Edinberg, New York&lt;br /&gt;1952-1958 : Exhibition at Jakarta, Medan, Surabaya, Makassar.&lt;br /&gt;1975 : received bronze medallion of his music and dance sculpture in Paris&lt;br /&gt;1975-1999 : Exhibition at Hongkong, Shanghai, Taiwan, Beijing, Nanjing, Indonesia and last known as Chinese Painting professor which tought at Hilton social services, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-2497178795460660450?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/2497178795460660450/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=2497178795460660450' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/2497178795460660450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/2497178795460660450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2010/07/nama-besar-ling-nan-lung-yang-besar-di.html' title='Seniman Yang (Tak) Tersingkir Zaman'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TEUKbz8pwzI/AAAAAAAAAZc/L6fB_CrnIWw/s72-c/IMG_8238.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-4346565699897629768</id><published>2010-07-09T02:03:00.001-07:00</published><updated>2010-07-13T06:27:36.016-07:00</updated><title type='text'>Ginjalku Sayang, Ginjalku Malang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TDbsSzJd4jI/AAAAAAAAAU0/MStP9wklIp8/s1600/DSC04793.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 85px; height: 123px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TDbsSzJd4jI/AAAAAAAAAU0/MStP9wklIp8/s320/DSC04793.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5491836603336614450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ari Tamba berjalan turun menelurusi tangga dari lantai dua gedung pustaka HB Yassin di kompleks Taman Ismal Marzuki, Jakarta. Tubuhnya tak gemuk-gemuk banget, tapi langkahnya tak terlalu cepat untuk berjalan. Mengenakan kaos berlengan panjang warna hitam, bagian perutnya terlihat kembung. Ia tak banyak bicara. Terus berjalan menuju ke areal parkiran mobil.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ia langsung bersandar di jok mobil bagian belakang. Di situ sudah ada satu kantung plastik cairan bening. Dan di bagasi mobilnya, ada beberapa kotak dus yang isinya sama. Di bantu supir pribadinya, cairan-cairan itu disiapkan. Ari Tamba membuka baju sebatas perut kirinya. Di situ terlihat pipa plastik (catheter) yang menyatu dengan daging perutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kantung kosong ia taruh di dekat kakinya. Pipanya, disambungkan dengan catheter di bagian perutnya. Ada cairan putih keluar dari catheter di perutnya, meluncur ke kantung kosong tadi. “Ini cairan yang dibuang dulu. Ini cairan lama,” ujar Ari Tamba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah jam kemudian, cairan pertama terbuang. Ia kemudian menggantung satu kantung yang berisi cairan di dekat kepalanya. Sambungan cairan itu tersambung dengan catheter di perutnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cairan itu mengalir masuk ke dalam perutnya. Belakangan baru tahu, nama cairan itu CAPD alias Continuous Ambulatory Peritoneal Dyalisis. “Ini cairan yang barunya, pengganti cairan yang tadi terbuang,” ujar Ari Tamba. Selesai. Lega, terlihat dari raut wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ginjal kiri sudah ‘mati’, yang kanan sisa 40 persen yang berfungsi,” ujar Ari Tamba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari Tamba, kelahiran di Tamba, wilayah Samosir, Tobasa, Sumatera Utara 9 April 1961. Pernah kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bandung (STIEB) dan Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran Bandung. Ia dikenal sebagai seorang penulis puisi, cerpen, esai, novel, skenario, dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ginjal adalah organ tubuh penting yang memiliki banyak pembuluh darah. Di dalam tubuh manusia terdapat sepasang yang berfungsi sebagai sistem filter dan membuang sampah dari tubuh, keseimbangan cairan, memproduksi hormon yang mengatur tekanan darah, membantu pembuatan sel darah merah, dan mengaktifkan vitamin D untuk kesehatan tulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CAPD adalah metode cuci darah manual bagi penderita gagal ginjal. Selain CAPD, metode lainnya menggunakan mesin. CAPD yang dipakai Ari Tamba berkadar 1,5 persen. Dan setiap ritual itu juga, ia harus mencabut dan memasang catheter di daging perut yang terhubung dengan ginjal yang sedikit masih berfungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya soal waktu, uang membeli cairan dan obat pendukung juga harus dipikirkan. Setiap cuci darah, ia menghabiskan satu kantong CAPD. Harganya, tak tanggung-tanggung yakni Rp1,6 juta untuk 30 kantung CAPD yang dipakai selama seminggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama satu bulan sebanyak 120 kantung CAPD, ia menyiapkan kocek total Rp6,4 juta. Belum obat pendukung bulanan Rp300 ribu. Itu juga, obat generic yang harganya murah. Ada lagi, setiap 6 bulan harus cek catheter di perutnya dengan biaya Rp400 ribu. “Cuma itu cara untuk menyambung hidup. Cara lainnya, tidak mungkin lagi,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kondisi Ari Tamba berbeda dengan Ira. Ia perempuan berusia 27 tahun asal Medan, Sumatera Utara. Kedua ginjalnya masih sehat. Namun ia mengirimkan posting ke satu media blogspot tentang keinginannya menjual salah satu ginjalnya. “Benar, saya ingin menjualnya,” ujarnya kepada saya melalui telepon selelurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di media blogspot itu, puluhan orang lainnya menulis posting yang sama; menjual ginjal. Hanya sedikit yang memberikan saran dan pendapat agar mempertimbangkan ide itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal harga penawarannya, bervariasi. Ada yang ingin menjual Rp200 juta, bahkan ada yang mencantumkan penawaran Rp700 juta untuk satu ginjalnya. Calon penjual ginjal ini, lengkap menggambarkan kondisi kesehatan. Juga identitas email dan nomor telepon yang bisa dihubunginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasannya bermacam-macam. Kebanyakan menyangkut himpitan ekonomi. Dari yang terlilit hutang, biaya pengobatan orang tua, membiayai hidup hari-hari untuk keluarga, dan membahagiakan rumah tangga. “Saya bingung butuh uang untuk menutupi utang-utang saya, dan ingin membahagiakan keluarga. Saya berniat menjual ginjal saya,” tulis seseorang bernama Adhe di posting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duh… jangan jual ginjal dong. Boro-boro punya niat, cuma dengar aja sudah ngeri banget!!! Memang nggak ada yang bisa dilakuin lagi, sampai kepikiran jual ginjal sendiri. Coba deh, bagi yang berniat menjual ginjal mohon dipikirin lagi,” ujar penulis posting lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengutip dari Scientificamerican, jika hanya memiliki satu ginjal saja, maka organ tersebut harus bekerja lebih keras. Karena nefron ginjal atau suatu unit terkecil dari ginjal yang memiliki fungsi untuk menyaring darah dan terletak pada lapisan luar ginjal, akan berkurang fungsinya sebesar 1 persen setiap tahunnya setelah seseorang berusia 40 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya ingin tetap menjual salah satu ginjal saya. Apapun dampak negatifnya,” ujar Ira. Tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ira mengatakan, terlilit hutang pinjaman dengan pihak Bank Mandiri puluhan juta rupiah. Ia tak tahu lagi, harus bagaimana melunasi cicilan utang itu yang setiap bulannya Rp4 juta. Utang itu dipinjam untuk membuka usaha warung internet di Kota Medan sebesar Rp50 juta dengan jaminan sertifikat tanah milik orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari, Ira harus berpikir mencari uang untuk membayar cicilan bank. Putus asa. Dari internet ia akhirnya tahu bahwa yang memungkinkan untuk mendapatkan uang banyak adalah dengan menjual salah satu ginjalnya. “Harganya besar juga. Saya ingin menjualnya 700 juta (rupiah),” ujar Ira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uang segitu pasti banyak. Dan tidak pernah liat uang sebanyak itu. Uang itu, selain untuk lunasi utang, bisa buat bantu orang tua, perbaiki tempat usaha, dan lainnya,” ujar Ira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niat menjual ginjal juga sempat dilakukan Adriani, perempuan kelahiran Bogor, Jawa Barat 11 Juni 1979 yang kini bekerja dan menetap di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Pada November 2009, ia menawarkan jual ginjalnya di media blogspot yang sama dengan Ira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada saya melalui telepon selulernya. Ide ‘gila’ itu terpaksa dilakukan karena usaha orang tuanya kena tipu oleh rekanannya, dan harus menanggung utang dengan bank sebesar Rp350 juta. Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, Ira harus berani mengambil resiko mempertahankan kondisi keluarganya. “Jalan terakhir adalah menawarkan ginjalnya,” ujar dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah posting itu, sudah ada beberapa orang mengirimkan email yang menyatakan berminat untuk membeli ginjalnya. Namun tiba-tiba niat jual ginjal dibatalkan. Ia mencoba menggadaikan SK pengangkatan dirinya menjadi PNS untuk mendapatkan pinjaman. Hasilnya, pinjaman sebesar Rp90 juta dari bank diperolehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kadang yang bikin aku putus asa adalah, gajiku tinggal 400 ribu (rupiah), karena dipotong bayar cicilan ke bank. Tapi, sekarang sudah legaan. Ada jalan lain untuk lepas dari masalah,” ujar Ira.&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-4346565699897629768?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/4346565699897629768/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=4346565699897629768' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/4346565699897629768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/4346565699897629768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2010/07/ginjalku-sayang-ginjalku-malang_09.html' title='Ginjalku Sayang, Ginjalku Malang'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TDbsSzJd4jI/AAAAAAAAAU0/MStP9wklIp8/s72-c/DSC04793.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-8525601852973843454</id><published>2010-07-08T08:20:00.000-07:00</published><updated>2010-07-09T02:57:30.650-07:00</updated><title type='text'>RA. Kosasih: Bertarung untuk Hidup</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TDbrnnFIZdI/AAAAAAAAAUs/0P1WlGFcpAA/s1600/DSC08182.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 78px; height: 114px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TDbrnnFIZdI/AAAAAAAAAUs/0P1WlGFcpAA/s320/DSC08182.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5491835861362828754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pekan  ketiga November 2009. Ijun mendapat kabar, RA. Kosasih masuk Rumah Sakit  Int’l Bintaro, Jakarta Selatan. Malam hari, Ijun langsung meluncur  dengan motornya. Ia mengenakan baju kaos, jaket, dan celana jeans.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di ruangan type ’Merak’, kelas 3 kamar  260, rumah sakit itu, Ijun terkesima. Ia melihat RA. Kosasih yang  mengenakan kemeja putih dan celana kain sudah berbaring di tempat tidur.  Lemah. Namun, matanya masih jelas melihat tamu yang datang menjenguk.  Dokter melarang RA. Kosasih diajak bicara. Ijun hanya menatapi selang  infus dan alat oksigen yang menutupi mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ijun  bukan keluarga RA. Kosasih. Ia mengenal RA. Kosasih sebagai seorang  legendaris komik Indonesia. Ijun satu dari banyak pengemar komik yang  tergabung dalam Komunitas Akademi Samali. Oleh kalangan komunitas komik,  RA. Kosasih didaku sebagai Bapak Komik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RA. Kosasih  juga memeroleh Anugerah Lifetime Achievement tahun 2005 dari konsorsium  komik Indonesia. Pun di tempat kelahirannya, sebuah jalan menggunakan  namanya: Jalan RA. Kosasih. Tahun 2008, Departemen Kebudayaan dan  Pariwisata menyematkan Satyalancana Kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ijun mengenal  langsung RA. Kosasih sejak tahun 2000 saat seminar komik di Jakarta.  Sejak itulah ia sering sowanan, diskusi dan banyak bercengkerama dengan  RA. Kosasih. Akrab. Tak ayal, melihat kondisi RA. Kosasih, Ijun pun kini  terdiam. Sedih. Ijun mendatangi anak semata wayang RA. Kosasih,  Yudowati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana kejadiannya, Mbak,” tanya Ijun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malam  hari, nafasnya langsung sesak, badannya dingin sekali. Karena sudah  tengah malam, jam 6 pagi bapak baru dibawa rumah sakit. Langsung masuk  UGD,” tutur Yudowati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sakitnya,” tanya Ijun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kayaknya,   paru-paru. Harus periksa darah dulu, nanti dari hasilnya baru ketahuan  penyakitnya,” kata Yudowati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari delapan hari perawatan, selama  lima hari Ijun mendampingi RA. Kosasih di rumah sakit. Ia membantu  menjaganya dari jam sembilan malam sampai jam enam subuh. Ini bukan kali  pertama RA. Kosasih masuk rumah sakit. Pada 6 Januari 2009, ia juga  sempat dirawat di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan. “Ia  satu-satunya sosok legenda komik negeri ini,” tutur Ijun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Desa  Bondongan, Bogor, Jawa Barat, 4 April 1919, pasangan Raden Wirakusumah  dan Rasmani melahirkan anak bungsu dari delapan bersaudara yang diberi  nama: Raden Ahmad Kosasih atau disingkat RA. Kosasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orangtuanya  berdarah ningrat. Ia disekolahkan di Inlands School yang ditamatkannya  pada 1932. Sejak kelas satu Inlands School, RA. Kosasih kecil senang  membaca cerita Tarzan dan menjadi bacaan pertama yang digandrunginya.  Kemudian sekolahnya belanjut ke Hollandsc Inlands School (HIS) Pasundan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarzan  adalah tokoh fiktif Amerika yang diciptakan Edgar Rice Burroughs yang  mulai muncul sejah tahun 1912. Tarzan sosok anak bangsawan Britania yang  ditinggalkan di Pantai Afrika. Ketika orangtuanya meninggal, Tarzan  dibesarkan oleh kera-kera besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kegandrungan cerita itulah,  RA. Kosasih iseng-iseng menggambarnya. Hasilnya tak jelek. Ketika di  HIS, keisengannya itu mulai mengarah serius. Buku catatannya sering  menjadi korban. Selalu habis karena dipenuhi gambar-gambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setamat  dari HIS, RA. Kosasih tak ingin melanjutkan sekolah. Sebenarnya ia  punya kesempatan menjadi pamong praja, namun ditolaknya. Karena  menganggur, ia justru berkesempatan menyalurkan hobinya, menggambar dan  menonton wayang golek. Untuk hobi terakhir, pulang pagi dilakukannya.  Apalagi kalau tokoh lakonnya Arjuna, Bima, atau Gatotkaca. RA. Kosasih  selalu terbayang-bayang dengan peran-peran itu. Ia sampai hapal semua  cerita pewayangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1939, RA. Kosasih melamar kerja sebagai  juru gambar di Departemen Pertanian Bogor. Ia diterima. Tugasnya,  menggambar hewan dan tumbuhan. Serangga yang digambarnya, persis sama.  Walau ia harus terlebih dulu melihatnya dengan mikroskop.&lt;br /&gt;Ketika  Jepang ekspansi ke Indonesia tahun 1942, RA. Kosasih kelimpungan.  Hidupnya tak karuan. Pekerjaan berantakan. Ia tak lagi mendapatkan  komik-komik kegemarannya. Yang ia dapatkan hanya komik Flash Gordon dari  bekas kertas pembungkus. Flash Gordon adalah sosok pahlawan fiksi  Australia yang digambar Alex Raymond yang diterbitkan sejak tahun 1934.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  17 Agustus 1945, Indonesia memproklamirkan kemerdekaan. Banyak peluang  pekerjaan di koran-koran. Tahun 1953, ia melamar kerja menjadi komikus  di harian Pedoman, Bandung. Diterima. Setiap hari RA. Kosasih membagi  waktu. Siang bekerja di Departemen Pertanian, malamnya ia bekerja di  Pedoman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1953, salah satu majalah terbitan Jakarta  memuat iklan. Isinya, penerbitan Melodie mencari penggambar komik. RA.  Kosasih tertarik, ia mengirimkan karyanya. Tatang Atmadja, pemilik  penerbitan Melodi kepincut dengan karya RA. Kosasih dan menemuinya di  Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pertemuan itu, RA. Kosasih diberikan komik-komik  Amerika. Dia diminta untuk meniru, namun harus dijadikan tokoh  Indonesia. RA. Kosasih tertarik dengan superhero Wonder Woman terbitan  King Feature Syndicate. RA. Kosasih menyulapnya menjadi tokoh Sri Asih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serial  komik Sri Asih dirampungkan sebagai komik pertamanya. Sri Asih  dikarakterkan sebagai superhero perempuan berkostum wayang. Memakai kain  kebaya dan kemben. Rambutnya panjang dengan mata besar. Bermahkota  giwang dan manik di dahi. Perempuan yang jago berkelahi, bertenaga kuat,  dan bisa terbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komiknya laku keras di pasar dengan cetak 3000  eksemplar. Honornya tak tanggung-tanggung, RA. Kosasih mengantongi  Rp4.000. Jauh lebih besar dibandingkan honornya menjadi pegawai  Departemen Pertanian yang hanya Rp150.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sukses komik pertama.  Wah..semangat lagi bikin komik. Akhirnya bikin serial keduanya, namanya  Siti Gahara. Ini pendekar. Seorang wanita,” tutur RA. Kosasih.&lt;br /&gt;Sosok  Gahara adalah plesetan dari Sahara. Ratu Kerajaan Turkana yang  berpakaian Timur Tengah. Kostumnya, dengan perut terbuka, lengan baju  sebatas siku, dan bercelana panjang. Keheroan perempuan ini, bisa  terbang dan jago berkelahi. Musuh bebuyutannya, nenek sihir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laku  juga,” tanya saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini juga laku keras di pasar. Apalagi Siti  Gahara saya gambar dengan pakaian kayak aladin dari kisah 1001 malam  itu,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pundi-pundi honor hasil komiknya mulai terus  mengalir. RA. Kosasih tak tinggal diam. Ia terus berimajinasi.  Selanjutnya RA. Kosasih menggambar serial Sri Dewi. Sosok yang dikenal  sebagai dewi kesuburan yang oleh orang Jawa dan Bali identik dengan&lt;br /&gt;Dewi  Padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada serial ini, sosok Sri Dewi kontra dengan Dewi  Sputnik. Pada komik ini, RA. Kosasih menggambarkan Sri Dewi merupakan  perempuan dengan gaya tradisional dan Dewi Sputnik bersosok modern.  “Saya ingin memperlihatkan kepada pembaca bahwa Sri Dewi tak bisa  dikalahkan dan selalu menang,” ujar RA. Kosasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari larisnya  komik, uang mengalir terus. Namun, ia belum juga menikah. Padahal,  banyak perempuan yang ingin merebut hatinya. Tapi RA. Kosasih tak  kepikiran untuk mencari pendamping hidupnya. Hingga pada 1950, pamannya  menyuruh RA. Kosasih menikah. “Kamu mau saya perkenalkan perempuan.  Cocok untuk kamu nikahkan,” ujar pamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh, bawa saja.  Saya ingin melihatnya,” ujar RA. Kosasih.&lt;br /&gt;Esoknya, pamannya membawa  seorang perempuan cantik. Namanya Lili Karsilah yang saat itu berusia 25  tahun. Dan RA. Kosasih berusia 31 tahun. RA. Kosasih langsung kepincut  dan bersedia menikahinya. Setahun kemudian, RA. Kosasih dan Lili  Karsilah menikah. Dari perkawinan mereka dikarunia dua orang anak. Anak  pertama seorang lelaki diberi nama Kusumandana. Dan yang kedua,  perempuan bernama Yudowati Ambiyana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup Kusumandana tak  berlangsung lama. Tahun 1957 pada usia empat tahun, ia meninggal dunia  terkena serangan demam. Kemudian dikuburkan di pemakaman Dreded,  Bondongan, Bogor, Jawa Barat. Dan tahun 1994, Lili Karsilah, istrinya  meninggal dunia akibat terserang stroke dan asma. Dikubur di pemakaman  Tanah Kusir, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan komik, RA. Kosasih menafkahi  keluarganya. Jika sedang berimajinasi, ia menolak untuk diganggu oleh  siapa pun, termasuk istri dan anak-anaknya. RA. Kosasih bahkan tak  segan-segan mengunci kamarnya. Hingga makan pun terkadang luput dari  ingatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu, kalau ada tamu yang tidak penting. Bilang saja  saya sedang pergi,” ujar RA. Kosasih kerap kepada istrinya jika sedang  ‘semedi’ untuk menggambar. “Istri saya cuma bisa mengiyakan saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RA.  Kosasih bahkan tak ingin orang lain tahu mengenai dirinya yang tenar  dari komiknya. Pun dengan wartawan. Apalagi dengan tetangga rumahnya. Ia  selalu mewanti-wanti agar tidak memberikan alamat tempat tinggalnya.  Tapi sepintar-pintarnya sembunyi, akhirnya identitasnya terbongkar juga.  Seorang wartawan Kompas bernama Arswendo Atmowiloto pada 1970-an  mengetahui alamatnya saat berada di Paris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arswendo langsung  mendatangi rumahnya di Bogor. RA. Kosasih bersedia menemuinya. Dan  wawancara berlangsung. Tidak lama kemudian, Kompas memuat tulisan  tentang sosok RA. Kosasih. Sejak itu, pengemar komik buatan RA. Kosasih  pun mulai berdatangan. Tetangga mulai menaruh hormat padanya. Bahkan,  banyak pengemar perempuan yang mengirimi surat. Bermacam-macam isinya,  ada yang memberikan apresiasi karyanya, sekadar menyapa berkenalan,  bahkan tak sedikit yang mengajak menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saat itu, semua surat  saya baca sambil tersenyum. Kan saya sudah menikah. Masa mau menikah  lagi. Ya...diabaikan saja,” ujar RA. Kosasih tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesibukan  di komik, membuat RA. Kosasih tahun 1955 mengambil keputusan berhenti  menjadi pegawai Departemen Pertanian. Tahun 1960-an, kondisi politik  membuat dirinya menghentikan dulu komiknya. Saat itu, PKI melalui  Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) mengecam komiknya, karena dianggap  berunsur ke barat-baratan. Tak ayal, tiras komiknya berkurang. Justru  yang banyak beredar adalah komik-komik keluaran China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RA.  Kosasih tak tinggal diam, ia menyiasatinya dengan menggambar sosok  wayang. Komiknya antara lain, Mundinglaya Dikusuma, Ganesha Bangun,  Burisrawa Gandrung, dan Burisrawa Merindukan Bulan. Dua komik terakhir  menjadi komik terlaris di pasar. Dan komik-komik RA. Kosasih kembali  merajai pasar komik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RA. Kosasih akhirnya membuat komik  Ramayana dan Mahabrata. Idenya dari bacaan Bhagawat Gita terjemahan  Balai Pusaka. Bom. Angka penjualannya mencapat 30 ribu eksemplar. Tiras  paling besar sepanjang sejarah komik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun-tahun  selanjutnya, ia tetap menguasai pasar komik Indonesia dengan kembali  membuat komik wanita superhero, Cempaka. Sosok perempuan berbaju loreng,  kekar, tinggi dan seksi. Sosok Cempaka diilhami oleh sosok Tarzan.  Sayangnya, komik itu tak laris seperti komik sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika  popularitas komik wayang menyusut, RA. Kosasih membuat komik berkarakter  lain dengan imajinasinya sendiri. Ia beralih ke komik dari legenda.  Misalnya, komik tentang Lutung Kasarung, Sangkuriang dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun  1964, RA. Kosasih hijrah ke Jakarta dan bekerja untuk penerbitan  Lokajaya. Ia membuat serial Kala Hitam dan Setan Cebol. Lagi-lagi, ia  tak seberuntung dulu. Komiknya hanya laku 2000 eksemplar. Empat tahun  kemudian, kesehatannya mulai tidak stabil. Kosasi memilih istirahat  setahun lamanya dan kembali ke Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun setelah  istirahat, tahun 1970-an, ia diminta oleh penerbit Maranatha Bandung  untuk membuat komik ulang Mahabrata. Karyanya berbeda dengan gambar yang  kali pertama dibuatnya. Tak syak lagi, hasilnya dianggap gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia  tak ingin gagal. Dengan sisa kekuatan imajinasi, ia terus menggambar.  Tahun 1984, ketika sedang menggambar, tangannya gemetaran. Pensilnya  sulit dikendalikan. Tangannya secara tiba-tiba membuat gambarnya menjadi  berantakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejak saat itu sampai sekarang, sudah benar-benar  tidak pernah lagi menggambar. Tangan selalu menggigil. Sudah pasti,  hasilnya jelek. Daripada dipaksakan, lebih baik berhenti total jadi  pembuat komik aja,” ujar RA. Kosasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RA. Kosasih akhirnya kalah.  Tahun 1994, ia menyatakan diri ‘pensiun’ dari dunia komik. Ia memilih  duduk manis menikmati sisa hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Senja menjelang  akhir Januari 2010. Rumah sederhana berpagar besi hijau dan bertembok  putih, terlihat sepi. Ukuran lebar rumahnya sekira 20 meter. Rumah itu  nampak sudah tua. Catnya sudah kusam. Halamannya hanya ditumbuhi  reremputan. Satu set bangku besi, mangkrak di dekat pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup  lama saya mengetuk pintu. Tapi tak ada jawaban dari yang empunya rumah.  Tiba-tiba seorang lelaki keluar dari pintu garasi yang berada di bagian  kiri rumah. Ia tak melihat saya berdiri di depan pintu bagian tengah  rumah. Saya menyapa dari belakangnya. Lelaki itu menoleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mencari  siapa,” sapa lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak RA. Kosasihnya ada,” tanya saya  balik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anda sudah membuat janji,” tanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum,”  jawab saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kemudian meminta saya menunggu dan langsung masuk  ke dalam rumah. Tak lama pintu tengah di buka. Ia mempersilahkan saya  duduk dan meminta saya menunggu sebentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu, saya  mengamati rumah itu. Dari ruang tamu, bagian dalam rumah itu terlihat  luas. Kursi tamu berwarna coklat lengkap dengan mejanya yang dihampari  karpet berwarna krem. Di dindingnya terpajang ukiran kayu. Lantainya  kuning. Di situ juga ada televisi berukuran sekira 21 inci dengan  background lemari tamu yang dijejari barang-barang keramik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak  lama, seseorang lelaki tua melangkah dari pintu belakang yang tak jauh  dari dapur. Ia mengenakan baju kemeja putih dan celana katun panjang  biru. Tangan kanannya menggenggam tongkat terbuat dari besi untuk  membantunya melangkah. Rambut kepala dan bulu matanya sudah memutih.  Namun tatapan matanya masih tajam. Meski usianya senja, sesekali saja ia  mengenakan kacatama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana kabarnya, Pak Kosasih,” tanya saya,   menyapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sehat dan beginilah keadaannya,” Ia duduk menghadap  pintu dan mempersilahkan saya duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap bulan masih harus  periksa ke rumah sakit. Tuh, di Rumah Sakit Bintaro . Ngecek bagian  dalam,” ujarnya sambil memegang dada kirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain memeriksa  kondisi tubuhnya, setiap hari di rumah sakit, RA. Kosasih harus  mengonsumsi obat dari dokter. Tiada hari tanpa obat. Setiap usai  periksa, ia memeroleh obat baru lagi. Dan begitu seterusnya sejak  setahun belakangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada saya, ia mengatakan, sakitnya  adalah jantung. Bagian dadanya kerap sakit jika satu hari saja dia tidak  mengonsumsi obat. Setiap harinya, empat jenis obat ditenggaknya. Ada  yang diminum tiga kali sehari dan ada juga yang satu kali sehari.  “Sehari harus minum air putih satu liter,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin juga pengaruh  usia,” ujar dia. Pada 4 April 2010, usianya mencapai 91  tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi  matanya masih cukup baik untuk pria seusianya. Pun langkah kakinya.  Saat ia berjalan tanpa menggunakan tongkat, ia menapak masih cukup  sempurna. “Tongkat ini hanya untuk membantu. Kalau kacamata, sesekali  saja dipakai jika diperlukan,” tutur RA. Kosasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun  1990-an, RA RA. Kosasih sudah hijrah ke rumah anak keduanya, perempuan  bernama Yudowati di daerah Rempoa, Ciputat, Jakarta Selatan. RA. Kosasih  menempati satu kamar yang berada di lantai dua. Sedangkan rumah di  Bogor, dijualnya. Alasannya, agar dekat dengan anak dan cucu  satu-satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah itu, saya ditemui anak perempuannya,  Yudowati. Ia baru saja pulang kerja di Departemen Kehutanan, Jakarta. Ia  mengenakan baju bermotif batik. Orangnya berbadan sedang, rambutnya  sebahu, ramah. Yudowati berusia 50 tahun, suaminya bernama Sumarman  berusia 67 tahun dan anak satu-satunya bernama Adinadra yang berusia 22  tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada saya Yudowati mengatakan, ayahnya sudah tidak  dibolehkan banyak bicara. Karena akan terjadi pengeringan cairan pada  bagian paru-parunya. Penyakitnya tidak boleh kekurangan dan kelebihan  air putih. Untuk itu, ayahnya tidak boleh jauh dari air minum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami  sangat mengawasi kesehatannya. Maklum, biaya pengobatannya tidak  murah,” tutur Yudowati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat RA. Kosasih masuk RS Bintaro pada  Januari 2009, dana yang disiapkan mencapai Rp15 juta. Dan ketika masuk  rumah sakit itu kembali pada November 2009, mengeluarkan dana kisaran  Rp18 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penggemar komik tak tinggal diam. Apalagi  diketahui, RA. Kosasih keluar dari rumah sakit karena keluarganya tidak  punya biaya lagi. Para komunitas komik Indonesia tak tinggal diam,  mereka menggalang dana untuk kesembuhan RA. Kosasih. Dari daftar donasi,  Menteri Riset dan Teknologi, Kusmayanto Kadiman turut menyumbang Rp2  juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk donasi lainnya, bisa melalui rekening di Bank Central  Asia (BCA) dengan nomor rekening : 2281288620, atas nama Yudowati  Ambiyana. Nomor telepon; 081210033049.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap awal bulan, RA.  Kosasih harus periksa ke dokter. Dan setiap periksa, ia mendapatkan obat  baru yang habis setiap bulan sekali. Biaya periksa dan obat-obatan,  Yudowati harus menyiapkan uang sekira minimal sejuta.&lt;br /&gt;“Bapak masih  dapat royalti,” tanya saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak,” jawab Yudowati. “Saya tidak  tahu, bagaimana kesepakatannya dulu antara penerbit dengan bapak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dulu  mana ada royalty-royaltian. Kita dibayar sesuai dengan pesanan. Kalau  sekarang kan enak, ada royalti,” ujar RA. Kosasih menyela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di  kasih pas kita yang minta sendiri. Atau pas ada yang sedang ke Bandung.  Kalau tidak minta, ya tidak pernah dikasih. Kesannya, kami mengemis aja.  Tapi biar aja, kan penerbitan komik bapak dulu masih terus cetak dan  tetap laku,” ujar Yudowati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba RA. Kosasih berbicara.  “Pengennya cepat dipanggil Tuhan saja. Supaya cepat selesai,” tutur dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yudowati  menyela. “Itu urusan Tuhan, Pak,” ujar Yudowati kepada RA.RA. Kosasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak  ini dari keluarganya punya keturunan berumur panjang. Jadi tidak aneh  kalau sampai sekarang masih kelihatan segar,” ujar Yudowati kepada saya.&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-8525601852973843454?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/8525601852973843454/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=8525601852973843454' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/8525601852973843454'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/8525601852973843454'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2010/07/ra-kosasih-bertarung-untuk-hidup_08.html' title='RA. Kosasih: Bertarung untuk Hidup'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TDbrnnFIZdI/AAAAAAAAAUs/0P1WlGFcpAA/s72-c/DSC08182.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-5362578995181247574</id><published>2010-07-07T03:17:00.000-07:00</published><updated>2010-07-09T02:57:56.198-07:00</updated><title type='text'>Kabar dari Kampung PKI Argosari</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TDRYba6ND9I/AAAAAAAAARk/l67DP-sveIE/s1600/argosari_25.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 80px; height: 107px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TDRYba6ND9I/AAAAAAAAARk/l67DP-sveIE/s320/argosari_25.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5491111073774637010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Gapura terbuat dari kayu selebar 3 meter, tertancap di ujung jalan. Itu pintu masuk menuju Kelurahan Argosari, Kutai Kertanegera, Kalimantan Timur. Jalan masuk daerahnya belum beraspal. Tak ada rumah penduduk. Sunyi. Sejauh mata memandang, hanya ditemui rumput ilalang. Seperti tak ada kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sekira satu kilometer, baru ditemui rumah penduduk. Kebanyakan terbuat dari kayu dengan atap seng. Sedikit rumah bertembok batu beratap genting. Setiap penduduk yang dijumpai, matanya tajam dengan tatapan menyelidik. Seakan ingin tahu, jika ada orang asing yang masuk ke wilayah itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karman sopir angkutan umum yang saya sewa untuk mengantar ke Argosari. Awalnya ia sempat bingung mendengar nama Argosari. Ketika menyebutkan daerah pengungsian orang-orang Partai Komunis Indonesia (PKI). Ia tersenyum. “Kalau tadi nyebutnya Argosari orang PKI, saya pasti tahu. Daerah itu lebih dikenal sebagai kampung PKI,” ujar dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendatangi rumah Ismari. Ternyata masih seperti empat tahun yang lalu. Dinding rumah bata dengan atap seng, memasak dari kayu, dan masih saja rumahnya diterangi lampu tempel berbahan bakar minyak tanah. Ia dengan istrinya, menempati rumah yang paling berjauhan dengan tetangga lainnya. Menyendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ismari, dulunya adalah tokoh Serikat Buruh Pertamina yang menjadi underbouw PKI. Kini berusia 78 tahun. Istrinya, Sukarmi usianya 70 tahun. Di rumah itu, mereka hanya hidup berdua. Keduanya nampak sehat. Ismari berbadan kurus dan tidak tinggi-tinggi banget. Sedangkan istrinya, lumayan tinggi dan badannya sedang saja. Di usia senja, pasangan ini mampu berjalan kaki untuk mendatangi rumah tetangga dekatnya sejauh dua kilometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak berubah, Nak. Masih seperti yang dulu. Masih hidup jauh dari rumah warga lainnya. Ini juga terancam digusur. Kondisi kami masih tetap sehat. Cuma pendengaran yang sudah tidak peka kayak dulu lagi,” tutur Ismari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya Ismari, sekitar 175 tapol lainnya yang menjadi tertuduh sebagai anggota PKI di Kalimantan Timur, juga bermukim di kawasan seluas 2.000 hektare itu sejak tahun 1977. Hanya Ismari yang ditempatkan paling jauh dari warga Tapol lainnya. Yang lainnya, hidup berdekatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalo mau charge baterai handphone, mesti jalan kaki dulu ke rumah tetangga. Supaya hemat, cuma bisa mengirim dan menerima SMS saja. Kalo nelpon, langsung lowbat,” ujar Ismari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka direlokasikan ke tempat itu oleh Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban alias Kopkamtib yang dibentuk setelah peristiwa penculikan jenderal tahun 1965 di Jakarta. Mayjen Soeharto yang menjadi komando pertama. Dan pada tahun 1977, pelaksana tugas hariannya diserahkan dari Presiden Soeharto kepada Laksamana Soedomo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulunya, kawasan itu adalah hutan belantara. Tak ada penghuni sama sekali. Wilayah itu masuk ke wilayah Desa Amborawang Darat, Samboja. Tahun 2002, oleh Pemerintah Kutai Kertanegara, statusnya berubah dari desa menjadi kelurahan. Para eks tapol yang membuka hutan untuk dijadikan lahan pertanian dan kayunya dijadikan rumah. Hasil bertaninya, dijadikan makan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupannya eks tapol mendapat pengawasan yang sangat ketat dari tentara. Dulunya, ada pintu palang terbuat dari besi yang menjadi posko pengawasan hidup mereka. Keluar kawasan, harus mendapatkan izin dari tentara penjaga. Tak ada komunikasi dengan masyarakat luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dulu benar-benar sangat terisolasi. Tak bisa keluar dari hutan. Setiap hari harus wajib lapor di posko pengawasan tentara. Nama Argosari saya yang usulkan. Artinya daerah pembuangan,” kenang Oentong Suyanto.&lt;br /&gt;Oentong adalah seorang pria kelahiran Sangasanga, Kalimantan Timur yang kini berusia 69 tahun. Tubuhnya tegap dengan rambut dan janggut yang seluruhnya sudah beruban. Ia memunyai 5 putra dan 2 putri. Istrinya bernama Suripah yang berusia 54 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah yang ia tempati bersama istrinya berada di perkampungan yang saling berdekatan dengan eks Tapol lainnya. Rumahnya sudah semi permanen bertembok batako, beratap genting dan juga dilengkapi listrik. Jarak dengan rumah Ismari sekira dua kilometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia satu dari 37 orang tentara yang kali pertama yang bermukim di pengungsian. Ia berpangkat terakhir Kopral Dua yang bertugas di Batalyon Infanteri (Yonif) 611 Kodam IX Mulawarman, Kalimantan (sekarang Kodal VI Tanjung Pura). Ditangkap 16 Maret 1970 dan dibebaskan pada 12 Desember 1977.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah hidup ironisnya di "pembuangan" Argosari dimulai sejak tahun 1977. Ia bersama 200 warga sipil yang juga dituduh sebagai anggota PKI harus menempati kawasan hutan. Oentong dan pengungsi lainnya, tak tahu menahu kasus penculikan jenderal yang terjadi di Jakarta pada tahun 1965.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selain menjadi tentara, saya juga senang bermain ludruk. Gara-gara berkesenian itulah, saya akhirnya ditangkap dan dipaksa untuk mengaku sebagai anggota PKI. Dan benar-benar tidak tahu menahu tentang PKI. Tapi terkena juga imbasnya,” tutur Oentong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oentong mengatakan, pada tahun 1980 sudah secara resmi dinyatakan bebas. Namun ia bingung. Kata dia, hingga saat ini belum ada pengadilan yang menyatakan dirinya bersalah. “Sampai sekarang, posisi sebagai tentara tidak jelas. Karena tidak pernah menerima surat pemecatan,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, ia tetap menjalani hidup di pengungsian. Berharap dari bantuan anak-anaknya yang hidupnya sudah berpisah dengannya. “Kebutuhan sehari-hari sekedarnya saja. Makan dari hasil berkebun, bantuan anak, atau sesekali bantuan dari pemerintah,” tutur Oentong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup belum nyaman, kini warga eks tapol Argosari dirudung gundah. Kian tak tenang. Sejak Mei 2008, Gubernur Kalimantan Timur, Yurnalis Ngayoh menyetujui keinginan Kodam VI/Tanjung Pura untuk menjadikan sebagian tanah areal proyek resetlmen dan pembinaan tahanan G30S/PKI golongan B tahun 1977 untuk dijadikan latihan militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap saat terdengar letusan tembakan. Banyak penduduk yang usianya sudah tua merasa ketakutan. Mereka masih trauma dari hal-hal militer. Setiap hari, bawaan tidak pernah tenang. Sudah protes, tapi tak punya daya melawan,” ujar Oentong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usianya yang senja, penyakit maag dan jantung membayangi buruk hidupnya. Istrinya mengidap penyakit kencing manis. Hidup pasangan ini dihabiskan untuk kontrol kesehatan di Puskesmas atau di rumah sakit. Ironisnya, program kesehatan untuk warga miskin tak pernah diterimanya. Oentong dan lainnya menanti kabar kematian dirinya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-5362578995181247574?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/5362578995181247574/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=5362578995181247574' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/5362578995181247574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/5362578995181247574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2010/07/kabar-dari-kampung-pki-argosari.html' title='Kabar dari Kampung PKI Argosari'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TDRYba6ND9I/AAAAAAAAARk/l67DP-sveIE/s72-c/argosari_25.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-7531410473383263150</id><published>2010-07-07T03:13:00.001-07:00</published><updated>2010-07-09T02:58:16.774-07:00</updated><title type='text'>Lenong Betawi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TDRiqGvfbOI/AAAAAAAAARs/FuYUxcQP2sc/s1600/DSCN2238.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 77px; height: 102px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TDRiqGvfbOI/AAAAAAAAARs/FuYUxcQP2sc/s320/DSCN2238.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5491122321175309538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di atas panggung setinggi pinggang orang dewasa. Satu perempuan berkebaya dan empat orang lelaki sedang berdialog. Bahasanya rada kasar. Bila tak terbiasa mendengar logat suaranya, menduga sedang marah. Serius, tapi membuat penonton tertawa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Di panggung itu juga, beberapa orang pada posisi siaga dengan alat musiknya. Yang bermain drum, gitar, kecrek, kempor, suling dan gendang. Yang manjadi khas dari pengiring musik ini, satu orang memegang sukong. Ini adalah alat musik gesek khas betawi yang menyerupai biola. Musik sukong menjadi nada dominasi dari musik-musik lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enak aje lu mau ngawinin anak gue. Anak gue kudu ditanyain,” ujar perempuan berkebaya khas betawi dalam dialognya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah suatu malam di Bulan November, pada musim penghujan. Tumben langit Jakarta cerah. Di Taman Ismail Marzuki alias TIM yang berada di Jalan Cikini, sudah ramai orang yang duduk di parkiran halamannya. Dari anak-anak sampai orang yang sudah berusia senja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu sedang ada penghelatan ulang tahun TIM ke 41. Kelompok musik gambang kromong yang akan mengiringin pementasan lenong betawi. Judulnya, Dasar Jodoh. Nama pemainnya sudah cukup kawakan, ada Kubil, Edi Oglek, Jaya, Rita Hamzah, Sanan, dan Engkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambang Kromong adalah satu kesenian masyarakat Betawi (kini Jakarta). Alat musik ini terdiri dari alat musik tehyan, kongahyan, dan sukong. Dan alat lainnya, gendang, kecrek dan gong. Kesenian ini, sebenarnya perpaduan antara etnis Tionghoa dan Betawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masyarakat Betawi, gambang kromong biasanya menjadi pengiring acara-acara pernikahan, sunatan, dan lainnya. Kesenian ini juga menjadi musik pembuka pementasan lenong betawi. Kesenian musik Betawi lainnya yang terkenal, yakni tanjidor dan topeng betawi sebagai seni teaternya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulunya, lenong betawi diperdengarkan untuk masyarakat strata sosial dari kalangan raja dan bangsawan. Dari lingkungan itulah, akhirnya ada ungkapan yang terlontar dari kalangan sosial jelata; kayak raja lenong. Sindiran ini ditunjukkan kepada orang yang bergaya feodal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangan kesenian lenong betawi, terdapat jenis lenong; lenong dines dan lenong preman. Keduanya memunyai perbedaan dari penampilan dan penggambaran cerita yang akan dipentaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lenong dines dalam dialek Betawi berarti dinas atau resmi. Lakon ini diperankan dengan mengenakan busana formal dan penggambaran ceritanya berlatar kerajaan atau lingkungan kaum bangsawan. Bahasa Betawi yang digunakan denan logat Betawi halus. Untuk jenis lenong ini, sudah tidak sering dilakonkan saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan lenong preman, lakon dimainkan dengan mengenakan gaya pakaian seadanya. Kisah pementasannya, banyak menyinggung kehidupan sehari-hari. Pun bahasa atau dialek yang dipergunakan. Sehingga yang mendengarnya, seperti orang sedang naik pitam. Lenong inilah, yang sekarang banyak diperankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalo masih pake gunain bahasa kamu, Anda, atau saya. Itu bukan lenong betawi. Itu udeh lenong modern,” ujar Malih Tong-Tong, pelenong senior kepada saya. “Kayak muke gile, nah itu baru lenong betawi.” Nadanya keras. Serius. Seperti marah. Kemudian tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malih adalah sosok senior kesenian lenong betawi yang mendirikan sanggar lenong ‘Sinar Jaya’. Sosok lainnya yang masih hidup dan seangkatan dengannya, Bolot, Pak Bodong, Bang Jali, Haji Nirin dan Mpok Nori. Mareka masih mempertahankan kesenian tradisi Betawi lenong, dengan membentuk kelompok-kelompok. Bahkan hingga melibatkan anak dan cucunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalo dirunut-runut, pemain lenong tua sekarang ni…yee… yang usianya kayak gue, udeh masuk ke angkatan ketiga. Sekarang yang muda-muda udeh masuk ke angkatan lenong keempat,” ujar Malih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malih berbadan kurus. Kini berusia 59 dengan kerutan di bagian wajahnya begitu kentara . Jika tersenyum atau tertawa, terlihat kerutan kulitnya. Intonasi bicaranya cukup keras. Saya menemuinya saat melangsungkan suting di kawasan Otista Jakarta untuk serial Betawi bertajuk ‘Numpang Idup’ yang ditayangkan oleh salah satu televisi swasta negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kariernya sebagai pemain lenong betawi bermula di tahun tahun 1980-an. Ia kali pertama adalah pemain topeng betawi ‘Setia Warga’ pimpinan Haji Bokir. Sedangkan abangnya, Dimin menjadi pemain lenong betawi pimpinan Haji Tohir. Topeng betawi dan lenong betawi, keduanya adalah kesenian masyarakat Betawi. Perbedaannya, hanya pengenaan topeng pada saat pementasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimin menemuinya saat Malih manggung dan mengatakan sanggarnya kekurangan pemain lenong. Malih tidak langsung menerima. “Saya apa mampu. Karena peran beda,” ujar Malih. Ia akhirnya mencobanya dan menemui Haji Tohir di rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang begini aja deh. Elu bisa tulungin gue nggak,” ujar Haji Tohir dengan dialek Betawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tulungin apa nih, Pak Haji,” tanya Malih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Elu nggak usah di topeng lagi, dah,” katanya. “Karena di lenong kurang bodor-nya (pelawak),” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya nggak bisa jawab dah. Karena gua udeh jadi pelawaknya Pak Bokir,” jawab Malih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya udah, sekarang ngomong aja ama dia (Bokir). Bilang aja dari gue,” pintanya.&lt;br /&gt;Dari ajakan itu, Malih menemui Bang Bokir di rumahnya. Ia menyampaikan tawaran Haji Tohir untuk bergabung dengan lenong betawi asuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Haji! kayaknya kalo pemain di sini udeh kebanyakan nih. Kebetulan Haji Tohir ngebon, ngajakin main di tempatnya,” ujar Malih kepada Bokir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya sih gue nggak ngasih. Kalo ibarat bintang, elu itu bintang gue,” ujar Pak Haji. “Tapi, ya udeh elu main dua tempat deh,” ujar Bokir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Malih bermain pada dua pertunjukan di dua tempat berbeda. Topeng bermain di Jagakarsa, Lenteng agung dan Lenong di perkampungan Taman Mini. Jam 9 malam, topeng selesai, Malih langsung dijemput motor meluncur ke acara lenong. Pementasan di dua tempat itu, masing-masing dapet upah Rp500 rupiah. Sekarang setara ama Rp500 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, dua acara itu berhasil. Setelah sukses ke Lenong, Malih kembali ke Topeng sanggar Haji Bokir. Perpindahan itu, tiba-tiba Haji Bokir mengajaknya untuk syuting di TVRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia (Bokir, Alm) guru saya. Saya banyak ngambil ilmunya. Dia seorang berpesan agar, jangan sombong dan selalu rendah diri,” kata Malih, pelenong dengan enam anak dan memiliki sebelas cucu ini.&lt;br /&gt;Kesenian lenong pada tempo dulu, memang kerap mudah dipertontonkan di Jakarta. Dari panggung ke panggung hingga dari kampung ke kampung. Zaman berubah dan keberadaan lenong telah tergerus oleh pesatnya kota. Kondisi semakin sempitnya ruang, lenong pun ikut menyempit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cucu sebelas, anak enam. Lahir Kampung rambutan , sianya 59&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi perubahan zaman itulah, akhirnya karakter lenong ikut menyesuaikan karakter zaman. Tahun 1970-an dan 1980-an, musik lenong benar-benar murni, gambang kromong. Sekarang lain lagi, ada drum, gitar dan musik lainnya. Agar tidak mudah membosankan, ditambah musik dangdut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa-masa itu juga, cerita lenong kebanyakan silat. Karekter penokohan lebih ditonjolkan sebagai tampilannya. Sekarang, sudah tidak mengenal kisah jagoan Betawi yang menjadi musuh Belanda, Si Pitung atau Bang Jampang jago betawi. Sayangnya lagi, tak ada pelenong yang tahu persis karakter tokoh betawi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lenong akan tetep jalan terus. Nggak ada matinya. Generasi tiap generasi, lenong tetap menarik untuk dipentaskan. Buktinya, ampe sekarang lenong tetep aje ade tuh,” ujar Haji Bolot, tokoh senior lenong betawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau terjadinya perubahan jaman, Bolot yang sering menjadi tokoh budek ini mengatakan, tinggal diperlukan kemasan agar tidak membosankan. Namun sejak dulu sampai sekarang, lenong betawi tetap menjadi tontonan yang diminati masyarakatnya. “Dibuktiin deh, lenong tuh tetap ada selama masih ada generasinya,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalo ada yang bilang lenong udeh mulai sepi dan kurang diminati lagi kayak dulu. Biarin aja dah. Orang itu nggak ngerti aja. Gue tetep melenong dan generasi abis gue juga udeh siap-siap gantiin,” ujar Bolot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan lenong betawi, memang kian menjamur saat ini. Apalagi pemerintah DKI Jakarta memberikan apresiasi yang besar bagi kelestarian kesenian Betawi ini. Namun tidak sedikit pula yang akhirnya harus tenggelam akibat sepi order mentas. Pelenong kebanyakan berasal dari teturunan atau dari sanggar yang sudah punya nama di blantika panggung komedian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lenong masih dikuasai oleh sosok angkatan ketiga pada era Bang Bolot, Mpok Nori, dan Bang Haji Malih. Kelompok tua ini berawal dari panggung dan akhirnya merambah ke televisi. Sedangkan untuk angkatan keempat pada era Mandra, Ucup, Kubir dan lainnya, masih berkutat dari panggung ke panggung dan tidak sering merambah televisi.&lt;br /&gt;Walaupun saat ini lenong lebih banyak dikenal di televisi. Sayangnya, sudah tidak seperti dulu lagi. Sudah terjadi kombinasi musik dan alur cerita yang dimainkan. Yang sama, masih gaya bahasa dan logat Betawi yang dipertahankan. Cerita lenong sudah tidak murni lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lenong betawi sudah tidak sering lagi menceritakan tentang kehebatan jagoan Betawi menumpas penjajahan. Tidak lagi bergaya seperti seorang jawara dengan golok di pinggangnya. Bahkan ceritanya juga, sudah dipengaruhi oleh naskah skenario bagi para pemainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu bukan lenong,” kata Malih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalo kayak gitu sih, enak banget. Seniman lenong udeh tahu karakternya sendiri. Nggak perlu naskah,” ujar Bolot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bener ntuh. Itu namanya lenong modern. Ya…mereka klaim bahwa itu lenong,” ujar Malih lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Lenong betawi yang sebenarnya? Malih mengemukakan, lenong yang sebenarnya berdialog tanpa harus menggunakan naskah. Setiap ada tokoh yang diserahkan, seniman lenong sudah harus tahu karakter dan dialog yang akan dikemukakan saat di panggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi ciri lenong yang sebenarnya. Lenong selalu masuk dari pintu kanan dan keluar dari pintu kiri, begitu juga sebaliknya. “Jadi kalo ada yang masuk dari kanan, dan keluar dari kiri, itu juga bukan lenong,” papar Malih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi lenong, tidak setangguh dulu. Seniman lenong sekarang lebih banyak mengedepankan material dan bukan menghargai idealisme kesenimannya. Pada prinsipnya sebagai pemain lenong, yang terpenting tidak sombong dengan identitasnya. Tidak angkuh sebagai orang Jakarta asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keangkuhan yang kita khawatirin untuk generasi mendatang. Jangan merasa sudah besar, tapi kita lupa asal usulnya. Kalo memang ada masyarakat yang menginginkan kita bersama, harus kita layani. Seniman harus dekat dengan masyarakatnya,” ujar Malih. Lenong betawi tak ingin mati.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-7531410473383263150?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/7531410473383263150/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=7531410473383263150' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/7531410473383263150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/7531410473383263150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2010/07/lenong-betawi.html' title='Lenong Betawi'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TDRiqGvfbOI/AAAAAAAAARs/FuYUxcQP2sc/s72-c/DSCN2238.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-6054140283559147959</id><published>2010-07-07T03:12:00.001-07:00</published><updated>2010-07-09T10:21:00.503-07:00</updated><title type='text'>Panggil Aku Limbuk</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TDRoKcBxrpI/AAAAAAAAAR0/hBsYgF7zIxM/s1600/DSC03555.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 100px; height: 157px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TDRoKcBxrpI/AAAAAAAAAR0/hBsYgF7zIxM/s320/DSC03555.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5491128374203100818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Limbuk, nama lengkapnya Theodora Retno Maruti. Ia dilahirkan di Solo, Jawa Tengah pada 8 Maret 1947. Pendidikan formalnya dihabiskan di Solo, dari Sekolah Dasar Pamardi Putri, SMP VI, SMEA negeri 1 dan Akademi Administrasi Niaga. Pada akhirnya, ia berprofesi menjadi Dosen di Fakultas Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta. Juga menjadi penari cum penata tarinya. Dan mendirikan sanggar Tari Padnecwara.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Nama Limbuk adalah sosok dalam pewayangan. Anak Cangik, seorang dayang, puteri kerajaan. Limbuk ditampilkan sebagai perempuan berbadan gemuk dengan suaranya yang keras. Dikenal juga berkarakter genit dan selalu berhias. Tak pernah ketinggalan membawa sisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam cerita pewayangan, Limbuk bermata bulat, hidung kepik, sanggul gede dikembangi, bersubang besar (Jawa: suweng blong), kain batik slobog dengan berkain dodot. Sosok ini juga, diperankan jenaka dan kerap dalam adegan minta kawin. Setiap ia berjalan, selalu ditabuh alat musik gendang yang menjadi ciri khas seorang yang berbadan besar dan bertingkah laku serba membuat orang tertawa.&lt;br /&gt;Retno atau Limbuk, anak kedua dari tujuh bersaudara. Ayahnya bernama Susiloatmodjo dan ibunya Siti Marsiyam. Ayahnya dikenal sebagai seorang dalang, penari dan dosen tari. Limbuk kerap diajaknya menemani ayahnya mendalang semalam suntuk untuk mengambilkan tokoh wayang yang hendak dimainkan ayahnya. Dari ayahnya juga, ia pernah menyepi ke makam pujangga Jawa, Ronggowarsito.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia lima tahun, Limbuk sudah dimasukkan ayahnya ke perkumpulan seni Baluwarti. Dengan senangnya, dari situ ia mulai mengenal tarian, gamelan, macapat, dan suluk. Saat di kelas III SD, ia sudah mempelajari tarian keraton bimbingan RT. Kusumokisowo. Juga dibimbing penari terkenal Laksminto Rukmi, selir kesayangan Pakubuwono X dengan tarian luar keraton, seperti ledek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika beranjak di SMP, Limbuk berkesempatan menari di Candi Prambanan saat pagelaran kisah Ramayana dengan peran sebagai Kijang Kencana, anak buah Prabu Rahwana yang memperdaya Dewi Sinta. Peran itu juga, akhirnya menjadi julukannya untuk Retno Maruti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Soekarno, saat itu kagum dengan penampilan Limbuk sebagai Kijang Kencana. Maruti kecil, digendongnya oleh Soekarno dan ditempatkan di atas meja. Sehingga, semua hadirin bisa melihatnya secara langsung kepiawaian tarian Retno Maruti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai tamat SMEA, sang Kijang Kencana ini semakin tekun belajar menari. Padahal saat itu, menari hanya kesenangannya sehari-hari. Tak ada pikiran untuk menjadi penari professional. Cita-citanya yang diidamkan adalah menjadi seorang sekretaris. Itu pula yang akhirnya ia melanjutkan pendidikan di Akademi Administrasi Negara. Sambil kuliah, ia bekerja di Batik Danar Hadi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1964, Limbuk diundang menari di New York. Setahun kemudian, terpilih sebagai penari dalam misi kepresidenan ke Jepang. Sepulangnya, Limbuk akhirnya mulai tertarik. Pada tahun 1969, ia akhirnya menciptakan tarian Langendriyan Darmawan. Ini tarian kali pertamanya karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun-tahun selanjutnya, Abimanyu Gugur (1976), Roro Mendut (1977), Sawitri (1977), Palgunadi (1978), Rara Mendut (1979), Sekar Pembayun (1980), Keong Emas (1981), Begawan Ciptoning (1983), Kongso Dewo (1989), Dewabrata (1998), Surapati (2001), Alap-alapan Sukesi (2004), dan Portraits of Javanese Dance (2005). . Tahun 2006, kreasi tarian bertajuk Calonarong dan tahun yang sama berkarya filmografi berjudul Opera Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menari dan mengajar tari Jawa klasik di Institut Kesenian Jakarta, Retno juga seorang perias pengantin. Sebelumnya, dia pernah kursus rambut pada Rudy Hadisuwarno, dan kursus make up pada Martha Tilaar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+++&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama suaminya Arcadilus Sentot Sudiharto. Nama anaknya, Genoveva Noiruri Nostalgia Setyowati Retno Yahnawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena berbagai pengabdiannya itu Paku Buwono XII, diberi gelar Kanjeng Mas Ayu (KMA) Kumalaningrum dan suaminya Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Honggodipuro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kesenangan dan kreativitasnya menari, Retno menikah dengan sesama penari yang sudah dikenalnya sejak kecil, Sentot Sudiharto, di Osaka Jepang. Pasangan ini dikaruniai satu anak, Genoveva Rury Nostalgia. Sejak kecil, Sang Anak, diperkenalkan pada seni budaya. Walau bukan berarti anaknya diharuskan menjadi penari. Namun, kebetulan anaknya juga senang pada tari dan belajar menjadi koreografer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghargaannya yakni; Wanita Pembangunan Citra Adikarsa Budaya (1978); Penghargaan Teknologi Seni Budaya Kalyana Kretya Utama dari Menristek BJ Habibie (1997); Citra Adhikarsa Budaya dari Citra Beauty Lotion dan SCTV (1994).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga mendapatkan Anugerah Kebudayaan dari Departemen Kesenian dan Kebudayaan RI (2003); Perempuan Pilihan dan Maestro dari Metro TV (2003), Nominator Women of the Year dari ANTV (2004), Penghargaan Akademi Jakarta (2005) untuk Pencapaian dan Pengabdian di Bidang Kesenian/Humaniora.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-6054140283559147959?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/6054140283559147959/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=6054140283559147959' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/6054140283559147959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/6054140283559147959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2010/07/panggil-aku-limbuk.html' title='Panggil Aku Limbuk'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TDRoKcBxrpI/AAAAAAAAAR0/hBsYgF7zIxM/s72-c/DSC03555.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-4492628802627029738</id><published>2010-07-07T03:09:00.001-07:00</published><updated>2010-07-07T05:18:27.193-07:00</updated><title type='text'>Amrus Natalsya  : Membangun Seni untuk Rakyat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TDRpBSMLRrI/AAAAAAAAAR8/7ikxiVGFaEY/s1600/DSC04515.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 214px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TDRpBSMLRrI/AAAAAAAAAR8/7ikxiVGFaEY/s320/DSC04515.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5491129316455171762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dinihari tahun 1968 di Jakarta. Dingin. Satu rumah warga yang berdinding bambu di kawasan Grogol, senyap. Penghuninya tertidur pulas. Rumah itu berlantai tanah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;"Tok…tok…tok!" tiba-tiba pintu rumah itu diketuk seseorang. Amrus pemilik rumah yang dengan beralas papan, terbangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amrus membukakan pintu. Ternyata Ketua Rukun Tetangga (RT) setempat yang diapit oleh beberapa orang tak dikenal berbadan tegap berdiri di belakangnya. "Anda mau dimintai keterangan oleh pihak berwajib," ujar Ketua RT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ajakan itu sudah tak membuatnya kaget lagi. Amrus hanya mengiyakan. Ia sudah tahu, malam itu ia akan ditangkap dan disiksa oleh tim ‘operasi kalong’. Tim ini bekerja untuk menangkap orang-orang yang dianggap pendukung Partai Komunis Indonesia (PKI). Partai politik yang sempat menghebohkan negeri ini pada kasus penculikan para jenderal di Lubang Buaya, Jakarta, pada 31 September 1965.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amrus masuk daftar orang yang dicari. Ia termasuk pendiri Bumi Tarung di Yogyakarta, sebuah sanggar senirupa Lekra (lembaga kesenian rakyat). Nama pendiri lainnya; Ng Sembiring, Sutopo, Isa Hasanda, Kuslan Budiman, Misbach Thamrin, Joko Pekik, Suharjiyo Pudjonadi, Gumelar dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amrus pasrah saat akan digelandang keluar rumah. Saat itu, Acil anak ketiganya yang masih kecil, terbangun dan langsung berteriak. "Papa…ikut!! Papa…ikut!!!" teriaknya sambil dipegangi ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu sengaja bangunin anak kamu ya," bentak seseorang penjemput berbadan tegap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu sengaja agar semua orang tahu ya,” bentak si orang berbadan tegap lagi. Amrus tak banyak bicara. Pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi rumahnya langsung digeledah, Amrus tak bisa berkutik. Semua surat-surat dan barang pribadi miliknya diangkutnya. Termasuk kamera yang diandalkan untuk mencari penghasilan sebagai tukang potret keliling kampung selama masa persembunyian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari rumah tinggalnya, Amrus dibawa ke satu rumah di Jalan Gunung Sahari IV, Jakarta yang dijadikan markas tim operasi kalong. Di tempat ini, sudah banyak tahanan politik lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs vhrmedia.net menuliskan, hampir semua Tapol alias tahanan politik 1965 disiksa di Jalan Gunung Sahari itu. Para Tapol menyebutnya markas ‘Kalong’. Dulunya, tempat itu adalah kantor Persatuan Pengayuh Becak yang kebanyakan anggotanya orang Tionghoa. Sejak 1965, akhirnya dikuasai oleh tentara Indonesia dan dijadikan tempat interogasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu anggota Lekra!” bentak tentara yang menginterogasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amrus diam. “Mengaku tetap disiksa, tidak mengaku tetap disiksa untuk mengaku,” pikirnya saat itu. “Iya saya orang Lekra,” Amrus mengakui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itulah, Amrus menjalani masa-masa penyiksaan. Kena tendangan, pemukulan, cambukan, dan lainnya. Setiap malam, ia juga mendengarkan suara orang menjerit kesakitan. Setiap hari mendengar kabar ada orang yang mati. Di benaknya, ia sudah pasrah jika nyawanya ikut melayang seperti tahanan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama lengkapnya Amrus Natalsya. Dilahirkan di Kota Natal yang terletak di pesisir Tapanuri bagian utara, Sumatera Utara pada 21 Oktober 1933. Ia anak pertama dari tujuh bersaudara pasangan Rustam Syah Alam dan Aminah. Ayahnya seorang pegawai swasta di perusahaan perkapalan Horison Grossfield di Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak duduk di Sekolah Dasar (SD) di Kota Natal, Amrus kecil sudah gemar menggambar kapal dan perahu. Pada 1946, bersama keluarganya ia hijrah ke Pematang Siantar. Di situ ia menamatkan sekolah hingga SMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya menyarankan Amrus melanjutkan pendidikan di daerahnya. Mereka berharap Amrus bisa menjadi pegawai negeri atau bekerja di perusahaan swasta. Amrus menolak. Ia keukeh ingin melanjutkan sekolahnya di Yogyakarta, di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI). Di sana ia membayangkan bisa berkenalan dengan banyak sosok terkenal negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, Amrus nekad merantau tanpa sepengetahuan keluarganya ke Yogyakarta. Ia tak membawa uang yang cukup. Untuk ongkos kapal laut dari Pelabuhan di Medan ke Pelabuhan Tanjung Priuk, Jakarta, Amrus terpaksa menjual semua alat olahraganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Pelabuhan Tanjung Priuk, Amrus melanjutkan perjalanan ke Kota Solo, Jawa Tengah. Ia menemui kerabatnya yang tinggal di Pasar Legi, Solo. Tak lama kemudian, ia akhirnya berangkat ke Kampus ASRI yang berada di Jalan Bintaran Lor, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mendaftar di ASRI. Sayang, jurusan seni rupa sudah tidak menerima mahasiswa lagi. Amrus akhirnya diterima di jurusan dekorasi dan reklame. Perkenalannya dengan Michael Wowor yang dikenal sebagai pematung, menumbuhkan semangatnya. Ia mulai menekuni seni patung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patung pertama buatannya berjudul ‘Orang Buta yang Terlupakan’. Saat berlangsungnya Lustrum pertama ASRI tahun 1955, patung itu terpajang di ruang depan utama gedung Sono Budoyo, Yogyakarta. Presiden Soekarno yang hadir, kepincut dengan patung Amrus dan langsung membelinya. Karya lainnya yang menjadi koleksi Soekarno bertajuk Kawan-kawanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bangga banget. Patung yang pertama saya buat, langsung ditaksir oleh Presiden Soekarno yang saat itu paling dibanggakan negeri ini,” tutur Amrus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1959, Amrus menikahi Prayati, seorang gadis anak petani asal desa Polowadi, Sleman yang sehari-hari menjadi pedagang bawang merah di Pasar Brongharjo, Yogyakarta. Pasangan ini dikaruniai lima orang anak. “Banyak kenangan manis selama bersama Prayati,” tutur Amrus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenangan yang bagaimana, pak,” tanya saya. Amrus terdiam. Wajahnya tertunduk seakan ingin mengenang kembali masa-masa manis dengan istri yang pertama kali dinikahinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bercerita. Saat masa-masa sulit hidupnya, ia kerap membuat istrinya harus berpikir untuk mengatur keuangan rumah tangga. Tak banyak uang yang dimiliki. Hanya dari lukisan ia menafkahi keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari di rumahnya, Prayati mendekati Amrus. Ia nampak bingung untuk menyampaikan keluhannya. “Pa, warung-warung sudah pada nagih,” ujar istrinya kepada Amrus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya udeh, saya melukis dulu untuk bayar utang,” jawab Amrus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lukisan selesai. Amrus membawanya untuk dijual. Menjelang sore, Amrus pulang. Istrinya kaget. Lukisan yang dibuatnya tadi, dibawa pulang kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok lukisannya dibawa pulang lagi,” tanya istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak laku, melukisnya kan kamu yang suruh, jadi tidak laku,” jawab Amrus. Istrinya terdiam dan hanya bersabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, Prayati tidak mau lagi memaksa Amrus melukis. Pada 1975, Prayati meninggal akibat kanker payudara. “Istri saya sangat sabar dan selalu mengerti kondisi saya. Itu yang tidak bisa saya lupakan,” ujar Amrus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun setelah Prayati meninggal, Amrus menikah lagi dengan Sulastri, mantan model poseren asal Solo yang tinggal di Ancol. Kemudian dengan Baena, seorang janda asal Cirebon yang tinggal di Grogol sebagai istri ketiganya. Dan dengan Atai, perempuan asal Lido yang tinggal di Lido. Ketiga istrinya, hingga saat ini masih menjadi pendamping Amrus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1961, Amrus bersama Isa Hasanda, Misbach Thamrin, dan Joko Pekik mendirikan sanggar Bumi Tarung, lembaga kesenian di Yogyakarta yang bernaung di bahwa lembaga kebudayaan rakyat (Lekra). Lembaga ini onderbouw Partai Komunis Indonesia (PKI). Amrus didaku menjadi Ketua. NG Sembiring, Sutopo, Kuslan Budiman menjadi Sekretaris. Sedangkan Ida Hasanda dan Misbach Thamrin jadi anggota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misbach Thamrin pada bukunya berjudul Amrus Natalsya dan Bumi Tarung terbitan tahun 2008 menuliskan, Bumi Tarung adalah satu-satunya sanggar seni di Yogyakarta yang berafiliasi ke Lekra. Anggotanya kebanyakan mahasiswa ASRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan politik di negeri ini belum beres saat itu. Para seniman merasa gerah jika tanpa bersikap dengan keberpihakan yang lebih tegas. Muncul sanggar gurem, ada Merah Putih, Baja Biru, Banteng Lanang, Klenting Kuning, Kuda Binal, dan Bima Sakti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sanggar seni di Yogya masa itu, tulis Misbach, dengan kegiatan kolektif dan arah politik yang tidak jelas. Konon tampil ke permukaan karena ingin menghadapi Bumi Tarung yang dianggap gerakan radikal bahkan anarkis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumi Tarung punya sekretariat organisasi. Persisnya di sudut persimpangan jalan dekat gedung ASRI. Tempat itu milik Mbah Rono yang biasa dijadikan tobong pembakarang gamping. Oleh Bumi Tarung direnovasi dan akhirnya menjadi kantor Bumi Tarung sekaligus tempat kumpul-kumpul seniman untuk bekarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1965, situasi politik Indonesia mencekam, khususnya di Jakarta dengan isu dewan jenderal. Beberapa jenderal diculik dan ditemukan tewas di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Soeharto yang saat itu didapuk oleh Soekarno untuk memulihkan keamanan, menuding PKI di balik kasus penculikan jenderal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itulah, semua orang yang dituding sebagai anggota PKI ditangkapi. Bahkan pengejaran berlangsung di seluruh Indonesia. Penangkapan juga dialami organisasi sayap PKI lainnya; Sobsi (Sentra Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), HIS (Himpunan Sarjana Indonesia), Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), dan Pemuda Rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya saya dan anggota lainnya tidak tahu menahu soal insiden di Jakarta yang menewaskan para jenderal. Tapi, kenapa kami yang jadi korbannya. Sampai sekarang, saya tidak pernah mengerti. Sudah ribuan orang yang mati tak pernah diadili,” tutur Amrus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1968 Amrus ditangkap dan baru dibebaskan pada 1973. Ia beruntung tak sempat merasakan tahanan Pulau Buru, seperti dialami yang lainnya. Penjara pertamanya di LP Tangerang, kemudian pindah ke Salemba, dan menjelang akhir pembebasannya ia kembali ditahan di Tangerang. Amrus memulai hidup baru. Hingga kini, tak ada pengadilan atas kesalahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Siang hari, hujan mengguyur sepanjang jalan poros dari Ciawi menuju Sukabumi, Jawa Barat di bulan Januari 2009. Sudah tak aneh lagi, arus lalu lintas macet. Banyaknya kendaraan yang melintas, tidak dibarengi pelebaran jalan. Kondisinya tak berubah, seperti puluhan tahun lampau. Di sisi kiri jalan, terpampang pemandangan Gunung Gede yang eksotis dengan kabut tebal melingkari setiap sisi gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua pria berdiri di tepi jalan, persis dekat pintu masuk Lido Resort, Cigombong, Kabupaten Bogor. Keduanya mengenakan topi pet. Pakaian mereka kelihatan kusut dengan warna kusam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria pertama bernama Amrus Natalsya. Ia mengenakan celana pendek gomblong berwarna biru dan kemeja kotak-kotak berlengan pendek. Mengenakan sandal. Kaca mata bertali, tergantung di kerah depan yang satu lobangnya tak berkancing. Kumisnya tebal. Ubannya lebat di sekitar cambang dekat kuping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini kawan saya, Misbach Thamrin,” ujar Amrus memperkenalkan temannya. Gaya berpakaian Misbach sedikit rapi. Berkacamata. Mengenakan switer lengan panjang dan celana panjang katun serta bersepatu abu-abu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita mau ke mana, Pak,” tanya saya. Saat keduanya menaiki mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ke studio saya saja. Nanti saya tunjukkan jalannya,” kata Amrus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil kami belok kiri, melintasi gapura bercat kuning. Masuk ke perkampungan Cigombong. Sekira 300 meter, ada gang yang cukup untuk satu mobil di sebelah kiri. Amrus memerintahkan berhenti di satu rumah yang belum jadi. Temboknya masih berwarna semen. Tak ada kaca. Kelihatan awut-awutan. Suasananya kontra dengan alam pergunungan di sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amrus membuka pintu rumah. Terkuak ruangan yang lebih awut-awutan. Berantakan. Kabel tergantung tak beraturan, lantai semen coran, dan hanya ada satu lampu neon 20 watt. Di situ ada bangku plastik. Lalu ada satu lukisan pahatan kayu di sebelah kiri, dan satu lukisan kanvas besar di sebelah kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu lukisan Yin-Yanq. Yin mengambarkan kehidupan yang putih dan Yanq mengambarkan kehidupan hitam,” ujar Amrus menunjuk ke lukisan pahatan kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini buku tentang Amrus,” Misbach memberikan sebuah buku. Judulnya, Amrus Natalsya dan Bumi Tarung. Dari buku itu saya baru tahu, nama Misbach tercantum sebagai penulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sudah berkawan akrab sejak di ASRI. Amrus angkatan 1954 dan Misbach angkatan 1959. Misbach berasal dari Amuntai, Kalimantan Selatan, kelahiran 25 Agustus 1941. Ia juga pernah ditahan selama 13 tahun, tanpa pengadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bumi Tarung mau bikin pameran dengan tema, 50 tahun Bumi Tarung. Rencananya 2011 nanti,” ujar Misbach.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada 9 orang yang berpameran. Semuanya orang-orang Bumi Tarung,” ujar Amrus. Ia menyebutkan nama: Djoko Pekik, Misbach Thamrin, Isa Hasanda, Adrianus Gumelar, Hardjija Pudjanadi, Sudiyono SP, Dj. M. Gultom, dan Sudjatmoko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dua orang lagi sudah keburu meninggal. Sabri Jamal dan Mulyono,” Misbach menambahkan deretan nama seniman Bumi Tarung lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mudah-mudahan semua masih tetap hidup sampai pameran puncaknya 2011 nanti. Di ulang tahun Bumi Tarung ke- 50,” ujar Amrus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;Karya yang sedang dipersiapkan oleh Amrus adalah tentang sosok-sosok yang semestinya bertanggung jawab atas penangkapan, pembantaian dan penangkapan orang-orang PKI di banyak daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, selama ini tidak ada pihak yang mengakui kesalahannya. Tidak ada pihak yang pernah bersalah membantai rakyatnya sendiri. Bahkan, semua pihak yang dulu ikut mengganyang orang-orang tak bersalah, seakan-akan sudah benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mungkin saja yang bersalah Aidit Cs dan lainnya sebagai sosok PKI di Jakarta. Tapi banyak yang tidak tahu menahu, terkena imbasnya. Seakan-akan semua orang PKI lainnya sama. Ini yang ingin saya ungkapkan, agar semua orang satria mengakui bila ternyata salah,” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Era Presiden Soeharto sudah usai. Amrus berharap era reformasi menjadikan Indonesia berdemokrasi. Apalagi, sejak awal Megawati Soekarno Putri sebagai anak Presiden Soekarno maju sebagai calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia (PDIP) Perjuangan. Ia dan rekan-rekannya berharap Megawati berpihak kepada wong cilik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hasilnya nihil. Justru banyak rumah-rumah orang kecil yang digusur. Bahkan Mega tidak sama jiwa dengan ayahnya (Soekarno) yang selalu berpihak kepada rakyat kecil. Pemilu selanjutnya, saya tidak lagi ikut memilih,” ujar Amrus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa mudanya, Amrus banyak membuat karya yang mengangkat tema penderita rakyat. Dua karya patung fenomenalnya bertajuk Orang Buta yang Dilupakan, Jeritan yang Tak Terdengar. Karya kanvasnya bertajuk Seorang Ibu Petani menggendong Daun Keladi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sedikit karyanya yang dibakar massa. Di antaranya, Keluarga Tandus di Senja, Epos Perjuangan Revolusi 1945 yang baru diselesaikan untuk Hotel Duta dan karya Keluarga Tandus di Senja di Akademi Ali Archam Padang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Juni 2008, Sanggar Bumi Tarung melangsungkan Pameran Seni Rupa ke-2 di Galeri Nasional, Jakarta. Yang pertama tahun 1962. Pameran kedua ini, sebagai petanda bahwa Bumi Tarung masih eksis dalam dunia seni di Indonesia. Mereka adalah, Amrus Natalsya, Djoko Pekik, Misbach Tamrin, Isa Hasanda, Adrianus Gumelar, Hardjija Pudjanadi, Sudiyono SP, Sabri Jamal, Dj. M. Gultom, Muryono, danSudjatmoko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amrus menampilkan karya-karyanya; lukisan kanvas bertajuk Tiga Mata Air di Tanah Airku. Lukisan kayunya berjudul; Panorama Pecinan, Perahu Nabi Nuh, Perahu Layar Seribu Layar, Bahtera Antar Pulau, dan Bahtera Indonesiaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesibukan Amrus tidak hanya mempersiapkan peringatan Bumi Tarung yang ke 50 tahun. Ia sedang sibuk mengawasi pembangunan galerinya yang belum rampung di atas lahan 700 meter di Cigombong, Kabupaten Bogor itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan Amrus mengitari lahan yang akan dibangun untuk menjadi sentra kesenian miliknya. Di bagian samping galeri akan dibuatkan panggung kesenian. Sehingga, warga sekitar bisa berapresiasi terhadap seni. Bahkan akan diberikan pendidikan seni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kesenian harus dikembalikan kepada masyarakat. Kesenian kita kebanyakan dikuasai para toke. Sudah lemah idealismenya. Dan selama ini, semua berkiblat ke kota. Seni harus dikembalikan kepada rakyat,” kata Amrus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denah tempat seninya dirancang sendiri oleh Amrus. Kertas rancangannya tertempel di dinding yang belum dicat dengan menggunakan pulpen. Gedung utamanya sebelah kanan, didirikan galeri tiga lantai yang difungsikan untuk pameran. Sedangkan di bagian kiri, ada panggung terbuka dan sanggar tari. Amrus juga menginginkan dibangunnya klinik kesehatan untuk masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan kesenian di tengah kampung itu akan ia biayai sendiri. Lokasinya dibangun mulai dari tahun 2008 dan tahun 2011 ditargetkan selesai. Untuk mencari dana operasional selanjutnya, ia akan mendirikan yayasan sebagai jembatan yang tidak mengikat dengan pihak ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yayasannya mau dikasih nama, Amrus and Son and Friend,” ujar Amrus, tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misbach memotong perbincangan. “Amrus, kasih tahu juga kalau mau buat kuburan keluarga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya. Di bagian belakang disiapkan kuburan keluarga. Jika saya mati, itu kuburannya. Saya mau pindahkan juga kuburan istri pertama yang akan bersebelahan dengan makam saya nanti,” tutur Amrus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amrus kini berusia 76 tahun. Terbilang senja. Ia juga harus bertahan dengan sakit jantung koronernya. “Kalau saya mati, mudah-mudahan ada yang bisa dikenang generasi nanti,” katanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-4492628802627029738?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/4492628802627029738/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=4492628802627029738' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/4492628802627029738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/4492628802627029738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2010/07/amrus-natalsya-membangun-seni-untuk_07.html' title='Amrus Natalsya  : Membangun Seni untuk Rakyat'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TDRpBSMLRrI/AAAAAAAAAR8/7ikxiVGFaEY/s72-c/DSC04515.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-2794480309963590407</id><published>2010-07-07T03:03:00.001-07:00</published><updated>2010-07-07T05:18:39.993-07:00</updated><title type='text'>Pasar Seni, Riwayatmu Kini</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TDRpsfeyE0I/AAAAAAAAASE/73F_6ZcGAew/s1600/DSC00187.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 214px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TDRpsfeyE0I/AAAAAAAAASE/73F_6ZcGAew/s320/DSC00187.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5491130058757247810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pertengahan Mei di musim hujan. Seorang lelaki tua berkaus putih bercelana jins, sedang menyendiri di kios berpetak ukuran sekitar 3x3 meter. Kacamata tebal yang terapit di hidungnya, kelihatan serius memandangi ukiran keramik yang belum jadi. Sesekali lelaki itu menyentuh bagian ujung keramik dengan jarinya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kios petakan tempat lelaki itu, teduh. Semuanya terbuat dari kayu. Ada 114 kios lainnya yang setiap lorongnya dirimbuni pohon-pohon merambat yang disanggah dengan kayu. Jika ke tempat itu, yang ditemui karya seni melulu. Setiap kios punya karya seni andalan, dari lukisan, pahatan, ukiran, hingga suvenir seni. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lelaki tua itu nama lengkapnya Sri Hartono yang berusia 75 tahun. Ia seorang perupa. Kios petak yang ditempatinya berada di area Pasar Seni yang berada di kawasan wisata Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta. Sejak kali pertama didirikan tahun 1975 oleh Gubernur DKI Jakarta era Ali Sadikin, Sri Hartono sudah menjajakan karya seni di situ. Ia bahkan menyandang seniman paling tua di Pasar Seni Ancol. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kali pertama didirikan, Pasar Seni berada di area yang sekarang menjadi arena Gelanggang Samudra. Belum berbentuk kios berpetakan seperti saat ini, masih gepe-gepe, istilah para seniman untuk menyebut gubuk-gubuk. Tempatnya terbuka dan jadwal bazar karya seni berlangsung selama 14 hari setiap bulannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Banyak orang datang pas jadwal bazar karya seni berlangsung. Bahkan, kayak pasar pengunjungnya,” kenang Sri Hartono. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tahun 1977, Pasar Seni akhirnya berpindah ke area yang tak jauh dari tempat sebelumnya yang kini ditempati. Dibuatkan ratusan kios berpetak-petak. Seniman bisa membuat karya seni yang konsepnya bisa dilihat langsung oleh masyarakat penikmat seni. Dan di situ juga masyarakat bisa membelinya langsung. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Masa-masa itu juga, pengunjung ramai. Pengunjung nggak segan-segan datang melihat-lihat. Dari yang sekadar beli ukiran, dan kebanyakan meminta dilukis berpasangan muda-mudi,” tutur Sri Hartono lagi, mengenangnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kini, kejayaan itu hilang. Pasar Seni Ancol sudah tak riuh lagi seperti dahulu. Namanya sudah tak seindah lukisan yang terpajang dan terukir dengan apiknya di tempat itu. Jangankan hari biasa, hari libur pun tak terlihat ada pengunjung. Sepi. Hanya kesibukan seniman yang sedang melukis, mengukir, kongkow sambil diskusi dan minum kopi, juga seniman yang sibuk menata lukisan di dalam kiosnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Suasana itu kontra dengan arena permainan Dunia Fantasi alias Dufan. Di situ pengunjung ramai bahkan antrean cukup panjang. Permainan itu menjadi ikon dari Taman Impian Jaya Ancol. Dan banyak lagi permainan lainnya. Ikon Pasar Seni pun akhirnya terusik rendam. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo sempat gelisah. Saat meresmikan Galeri Seni North Art Space (NAS) di Ancol belum lama ini, ia mendukung revitalisasi Pasar Seni menjadi bagian pengembangan ekonomi yang akan mendukung Jakarta menjadi kota berbudaya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bahkan, Direktur Utama Pembangunan Jaya Ancol, Budi Karya Sumadhi, akan menjadikan galeri seni NAS sebagai “Ancol Creative City”. Upayanya, akan menjadi panggung dan ajang nyaman untuk komunitas kreatif yang memenuhi kebutuhan ruang publik pelaku kreatif. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hasilnya? “Ya sampai sekarang Pasar Seni tetap saja tak ada pengunjung. Kayaknya ada kesalahan yang harus segera diperbaiki oleh pihak manajemen kalau menginginkan Pasar Seni menjadi ajang kreativitas,” ujar Sri Hartono. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Beliau menceritakan, era kejayaan Pasar Seni mulai memudar sejak penghujung abad 90-an. Banyak seniman yang sudah laris manis karyanya, akhirnya memilih hengkang. Padahal, dahulu Pasar Seni menjadi ajang kreativitasnya. Misalnya, Amrus Natalsya, Hariyadi, Nyoman Gunarsa, Sudarso, dan Abas Alibasyah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di saat bertemu dengan Sri Hartono, Amrus Natalsya tiba-tiba datang ke Pasar Seni. Saya mengenal sosoknya sejak setahun yang lalu. Ia alumnus Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Yogyakarta. Pria kelahiran tahun 1933 ini, dahulunya adalah pendiri sanggar seni rupa Bumi Tarung yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Ia sempat diinterogasi dan ditahan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Penampilan Amrus tak pernah berubah. Ia mengenakan topi, baju kemeja dan celana pendeknya. Beberapa bagian wajahnya memerah. Kata Amrus, alergi. Soal Pasar Seni, Amrus tahu banget sejak awal berdirinya. Tahun 1975, ia menjadi pengurus Pasar Seni. Dan tahun 1978 sampai 1982, Amrus menjadi koordinator pasar seni. Kemudian ia akhirnya hengkang dari sana. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Amrus mengatakan, Pasar Seni mempunyai peran penting untuk mengusung karya seni Indonesia. Ia bahkan menemukan gagasan dan membuat namanya makin besar karena berada di Pasar Seni. Namun, karena terjadinya perbedaan antara manajemen yang birokrat dan seniman, akhirnya ia memilih meninggalkan Pasar Seni. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Jujur saja. Kalau seandainya pengelolaan Pasar Seni lebih baik, maka saya memilih akan menetap di Pasar Seni. Saya mungkin akan sampai tua terus bersama Sri Hartono sebagai seniman tua,” ujar Amrus, tertawa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Namun semua itu tak bisa disalahkan. Amrus mengatakan, kehengkangan banyak seniman besar lantaran nilai-nilai awal adanya Pasar Seni sudah berubah. Penyebab lainnya, sudah maraknya galeri di setiap sudut Jakarta, hingga ke mal-mal. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Dan seniman akhirnya banyak yang memilih berkiprah di luar pasar seni, walau tadinya senang berada di Pasar Seni,” ujar Amrus. Sri Hartono, mengiyakan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sri Hartono yang pernah didapuk menjadi koordinator Pasar Seni tahun 1982 sampai 1984 menggantikan Amrus Natalsya mengatakan, koordinasi antara seniman dengan adanya kelembagaan koordinator seniman sebenarnya menjadi wadah yang baik. Namun sayangnya, sekitar tahun 2008 kelembagaan itu akhirnya ditiadakan dan seluruhnya dipegang oleh pihak manajemen Taman Impian Jaya Ancol. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Dan tidak ada lagi seleksi bagi seniman baru yang akan berkiprah di Pasar Seni. Dulu tidak mudah, seleksinya ketat dan harus berkarya dengan tim penilai dari seniornya. Sekarang, asal punya koneksi maka diperbolehkan memakai kios yang kosong,” tutur Sri Hartono. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sepi pengunjung juga dirasakan Arifin. Pelukis berambut gondrong yang baru dua tahun menempati salah satu kios di Pasar Seni itu mengatakan, kemungkinan paling besar karena menjamurnya galeri di Indonesia. Kemudian ditambah jarang dilangsungkan pameran dan kurangnya promosi dari pihak pengelola. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Kondisinya? ya, seperti ini. Sepi dan tak ada pengunjung. Melihat pengunjung datang walau tidak membeli saja, kami sudah senang,” ujar Arifin. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hari menjelang senja, Pasar Seni di malam minggu malah semakin sepi. Warung-warung makan yang ada di bagian depan, juga hanya diduduki beberapa orang saja. Pasar Seni Ancol sudah tak setangguh ukiran kayu jati bikinan Amrus Natalsya yang berdiri kokoh di pintu masuknya. Sepi dan berdiri sendiri. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-2794480309963590407?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/2794480309963590407/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=2794480309963590407' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/2794480309963590407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/2794480309963590407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2010/07/pasar-seni-riwayatmu-kini_2734.html' title='Pasar Seni, Riwayatmu Kini'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/TDRpsfeyE0I/AAAAAAAAASE/73F_6ZcGAew/s72-c/DSC00187.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-6894755371490634874</id><published>2009-11-12T22:36:00.000-08:00</published><updated>2009-11-12T22:37:30.854-08:00</updated><title type='text'>KP Sulistyo Tirtokusumo</title><content type='html'>Seorang lelaki berbadan rada tegap memasang cangkang ke sebatang rokok yang terapit di jemarinya. Kemudian disulut oleh korek gas  dan dihembuskan asapnya. Seakan saat itu,  menjadi waktu yang paling nikmat. Hanya beberapa detik saja,  dikemut cangkang rokok dan dihembuskan lagi asapnya ke langit-langit dengan hembusan lembut dari mulutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tersiksa juga nih, kalau tidak merokok. Apalagi dalam ruangan yang tidak boleh merokok sambil mendengar diskusi,” ujar lelaki itu sambil tertawa,  dengan rokok yang siap dihisap kembali. Lega. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia adalah KP Sulistyo Tirtokusumo, kelahiran Solo,  6 Juli 1953.  Nama depan  KP yang disematkannya, kependekan dari Kanjeng Pangeran yang diberikan oleh Sri Susuhunan Pakubuwono XIII pada 28 Juli 2008 di Solo. Alasannya, Tirto yang dilahirkan di Kota Solo, dianggap telah melestarikan nilai-nilai kebudayaan leluhurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkesenian bukan hal baru lagi baginya. Tirto anak ke tujuh dari sepuluh bersaudara ini, dilahirkan dari keluarga yang diwajibkan mampu berkesenian sejak kelas dua Sekolah Dasar. Untuk anak lelaki, bisa menari dan pencak silat. Dan untuk yang perempuan mampu menari dan bersolek.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berkesenian dalam rumah, ia mulai merambah ke atas panggung. Pada tahun 1968 saat masih duduk di kelas 2 Sekolah Menengah Atas (SMA), akan berlangsung Sendratari Prambanan di Candi Prambanan Jawa Tengah. Perhelatan ini  diadakan setiap malam bulan purnama. Namun, yang biasa memerankan tokoh Rama, sedang terjadi kekosongan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tirto ikut audisi sebagai wakil dari Pawiyatan Kabudayaan Kraton Surakarta, Solo. Peserta banyak sekali, karena sekaligus untuk mengikuti Festival Ramayana Nasional  di Pandaan, Jawa Timur. Ia akhirnya terpilih sebagai tokoh Rama mewakili daerah kelahirannya. . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat dipertandingkan, Sulistyo gugup. Gelisah. Dadanya berdetak kencang. Karena, dari beberapa kontingen daerah lain, ia pemain yang usianya masih muda dan belum punya pengalaman. “Bahkan ingin rasanya saya kabur saat pementasan akan berlangsung. Padahal saat itu, sudah pada posisi di pinggir panggung,” ujar anak pasangan RMT Tirtokusumo dan R.Ay. Tirtokusumo. &lt;br /&gt;“Guru pembimbing seni megangin tangan saya, agar tidak lari dan ketakutan. Mereka akhirnya memberikan nasehat agar saya tidak takut di panggung,” ujar Sulistyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kenangan terakhir masa-masa sekolah dan peran pertamanya menjadi sosok Rama. Setamat SMA, Sulistyo pindah ke Jakarta. Lulus SMA ke Jakarta. Ia ketemu Sardono W. Kusumo, Retno Maruti, dan Setot. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, ia  bergabung dengan ‘Jaya Budaya’ di Taman Ismail Marzuki (TIM). Pun  pada tahun 1971, bergabung dengan grupnya Patnessuara pimpinan retno Maruti. Saat itu juga, mulai menjadi penari di Istana Negara  era Presiden Soeharto. Tak tanggung-tanggung, masa-masa di Istana berakhir hingga tahun 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap menari, saya tetap menjadi sebagai sosok Rama. Biasanya setiap ada tamu kehormatan di Istana. Sedangkan setiap bulan berlangsung di Taman Mini (TMII).   Mentas setiap bulan,Dan Soeharto sangat menyukai tarian itu. Sepertinya, sosok Rama menjadi simbolisasi Soeharto yang melekat pada karakter Rama,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Soeharto senang dengan lakon Rama,” tanya saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Soeharto tidak pernah meminta langsung untuk menari Rama dan ia sangat menyukainya. Dikit-dikit cerita Rama. Dan kalau ada tamu lainnya pun, selalu tarian Rama,” ujar Sulistyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulistyo mulai berkarya menjadi koreografer sejak tahun 1976. Karya terakhir yang dibuat tahun 1998 berjudul ‘Nyai Sembako’. Ini adalah cerita sindiran atas kondisi politik saat itu, ketika pemerintahan Soeharto sedang goyah dan reformasi memang sudah seharusnya terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulistyo mengamati, kekuatan atas kekuasaan pemerintahan Orde Baru sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Apalagi, saat itu sudah banyak kekacauan dan sistem politik menutup rapat. “Orang yang pernah saya kagumi, sudah mulai rapuh,” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kisah Nyai Sembako atau sembilan bahan pokok itu, adalah tumpahan hati nurani terhadap pemerintahan Soeharto. Saya tumpahkan perasaan kegelisahan dengan membuat kesenian,” ujar Sulistyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentas kali pertama karya ‘Nyai Sembako’ berlangsung pada 21 Februari 1998. Dan menariknya, ujar Sulistyo, hanya berselang tiga bulan kemudian Soeharto lengser, persisnya 21 Mei 1998. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu ke waktu, Sulistyo sempat menari kembali sebagai Rama di hadapan Presiden Soeharto pada 20 April 1998 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Lagi-lagi sebagai Ramayana. Namun dalam diri Sulistyo, ia menjiwai sebagai sosok Rama Pratama, tokoh demontrasi Universitas Indonesia saat itu yang sedang gencar berunjuk rasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Soeharto saat itu, tidak terlalu tersenyum dan terlihat segar lagi. Apalagi saat itu, situasi negara sedang tidak stabil,” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak berkiprah menjadi koreografer, ia sudah membuat 10 karya. Karya yang paling berkesan dan kerap dipertunjukkan hingga ke luar negeri adalah berjudul ‘Panji Sepuh’ yang dibuat tahun 1993. Kisahnya, lagi-lagi soal kesepuhan pemimpin yang sudah harus berkaca mengayomi masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ‘Nyai Sepuh’ laku dipertunjukkan di berbagai daerah di Indonesia bahkan sempat menjelajah ke Australia. Terakhir dipentaskan pada 8 Desember 2006 di Museum Nasional Singapura dan itu pementasan yang ke 30 kali. Pementasan ini bersama dengan Gunawan Muhammad yang menggarap lirik dan menjadi sutradaranya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini, ia sedang sibuk melatih penari-penari yang akan membawakan Tari Bedhoyo Durodasih yang akan dipentaskan pada 28 Desember 2008 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Tarian ini dimainkan oleh sembilan  penari perempuan sebagai simbol untuk mengontrol keinginan atau hasrat manusia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-6894755371490634874?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/6894755371490634874/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=6894755371490634874' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/6894755371490634874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/6894755371490634874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2009/11/kp-sulistyo-tirtokusumo.html' title='KP Sulistyo Tirtokusumo'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-423515054290429841</id><published>2008-12-12T00:24:00.000-08:00</published><updated>2010-07-03T12:30:01.797-07:00</updated><title type='text'>Melukis Seumur Hidup</title><content type='html'>Satu ruangan di Balai Budaya, Jakarta, terlihat bertumpuk puluhan lukisan. Sebagian kecil yang tergantung di dinding dan lainnya tertumpuk miring di tembok. Di situ juga, ada penyangah untuk melukis. Tampak sudah lama tidak ditempati lagi, karena banyak barang tak beraturan dan berdebu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah beberapa tahun ini, saya tidak lagi melukis di tempat ini. Hanya sesekali saja. Lebih banyak melukis di rumah,” tutur seorang lelaki bertopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu adalah Abas, bernama lengkap Alibasyah Natapriyatna. Sudah tak asing lagi di jagat seni rupa Indonesia. Pria kelahiran Dusun Cigalugur, Purwakarta 1 Maret 1928, sudah pantas menyematkan maestro, karena sederat anugerah sudah pernah disandangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abas pernah memeroleh Anugerah Seni oleh Pemerintah Indonesia era Presiden Soeharto tahun 1985, Cultural Award Scheme dari Pemerintah Australia tahun 1970, penghargaan Lempad Prize dari Yayasan Lempad Bali, dan tak banyak sosok seniman yang memeroleh Satya Lencana Karya Satya tahun 1990.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu pada pertengahan Agustus, Abas nampak terlihat segar. Tas hitam kecil berselempang, dikepit oleh tubuhnya. Jalannya tak tampak lemah, walau usianya saat ini sudah menggapai 80 tahun. Ia tampak sehat dan senang sekali bercerita tentang masanya sendiri. “Kuncinya jaga kesehatan. Dan sudah lama tidak merokok dan minuman alkohol lagi. Lagian sudah tua. Buktinya, tanpa merokok dan minum (alkohol) tetap bisa melukis,” tutur Abas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi fisiknya yang cukup mengganggu adalah bagian matanya. Ia mengenakan kaca mata baca yang harus terus dikenakan. Kata Abas, kerap matanya berair jika tidak mengenakan. “Tapi tidak berpengaruh untuk tidak melukis,” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain melakoni hidup dari melukis, kini Abas juga sibuk mengelola Balai Budaya yang terletak di Jalan Gereja Theresia, Jakarta. Cukup melelahkan baginya, namun ia tetap semangat. Jika ada perhelatan di Balai Budaya, Abas harus meluncur dari rumahnya di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukisan terakhir buatannya pada bulan Juli 2008, belum lama dikirim ke seorang kolektor asal Brussel, Belgia. Soal harga lukisannya itu, Abas tertawa. “Soal harga itu rahasia dong. Itu menyangkut perusahaan,” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukisannya kini sudah banyak merambah dan dikoleksi oleh banyak kalangan. Salah satu kolektornya adalah vokalis Rolling Stone, Mick Jagger yang kini menyimpan lukisannya yang bertajuk ‘Tiga Wajah”. Sedangkan kolektor yang banyak menyimpan delapan lukisannya, adalah Imelda Marcos, mantan Presiden Filipina. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abas dilahirkan dari keluarga mapan. Ibunya bernama Nyi Mas Suhaemi dan ayahnya Hoesen Adimihardja, pegawai negeri pada Jawatan Pengairan. Anak bungsu dari empat bersaudara ini, lebih banyak menghabiskan waktunya di Kota Bandung Jawa Barat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melukis digelutinya sejak berusia 12 tahun. Di Bandung, ia mengenal pelukis Barli Sasmitawinata yang usianya terpaut dua tahun lebih tua dari dirinya. Abas sempat melihat hasil lukisannya Barli, yang senang membuat lukisan diri. Dengan kertas bergambar dan pensil, Abas melakukan hal yang sama, melukis diri sendiri dengan judul “Potret Diri”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1947, Abas sudah bergabung dengan Tentara Pelajar di bawah Divisi Siliwangi. Ia terpaksa hijrah ke Yogyakarta, karena menjadi ibu kota negara saat itu. Bertiga dengan teman seperjuangannya, ia tempuh Bandung hingga Yogyakarta, sebulan lamanya dengan berjalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiba di Yogyakarta, ia bertemu kembali dengan Hendra Gunawan dan Affandi dan akhirnya berkumpul di sanggar Pelukis Rakyat. Keduanya sudah sering bertemu di Bandung. Dan keduanya juga, yang memberikan spirit pengaruh terhadap karya Abas. Affandi baginya, sosok yang mengugah kepeloporannya dan Hendra merupakan sosok yang menggugah karya seni rupanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selain Hendra dan Affandi, sosok yang banyak memberikan ilmu sejarah seni rupa dunia adalah Katamsi, Direktur pertama Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta,” ujar Abas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukisan karyanya tak seperti masa sekarang yang serba dihargai dengan uang. Dulu, cerita dia, lukisannya banyak diberikan kepada rekannya sebagai kado. Ada juga yang dibayar dengan hasil panen. Namun yang membuat ia kaget, kini beberapa lukisannya justru sempat dilelang. “Mau bagaimana lagi, tapi saya tidak marah. Itu sudah menjadi hak orang yang pernah saya berikan,” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa tuanya sekarang, Abas tetap saja terampil mengelus kuas di atas kanvasnya. Dia tetap santun dengan gelar maestro yang sekarang disematkannya. Ia Seakan ingin melukis seumur hidupnya, sambil menikmati masa tuanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-423515054290429841?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/423515054290429841/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=423515054290429841' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/423515054290429841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/423515054290429841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2008/12/melukis-seumur-hidup.html' title='Melukis Seumur Hidup'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-3817255032137729202</id><published>2008-12-12T00:17:00.000-08:00</published><updated>2010-07-03T12:28:20.223-07:00</updated><title type='text'>Antara Hobi dan Bisnis</title><content type='html'>Sosok lelaki mengenakan kemeja hijau berpadu celana katun hitam dan sepatu hitam mengkilat. Penampilannya rapi. Murah senyum dan nampak ramah. Langkah jalannya cukup lebar dan kerap sambil mengamati sekelilingnya. Agresif namun bergaya santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat kerja lelaki berpakaian necis itu, cukup berantakan. Mejanya tidak tertata rapi, beberapa lukisan terbungkus kertas dus yang berdiri di lantai. Yang tertata rapi, hanya di seluruh ruangan pada tiga lantai yang terpajang lukisan melulu. “Belum diberes-beres, masih ada lukisan yang tertumpuk,” ujarnya tentang ruang kerjanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu adalah Suprajitno Sutomo, Direktur Galeri Canna yang terletak di kawasan pertokoan Boulevard Barat Kelapa Gading, Jakarta Utara. Yang menjalani bisnis lukisan sehari-hari diserahkan sepenuhnya kepada istrinya, Inge Santoso. “Saya punya kerjaan lain, pabrik cat di Jakarta,” ujar Tommy, nama panggilan Suprajitno Sutomo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tommy gandrung lukisan sejak tahun 1993-an yang diperkenalkan oleh kakak kandungnya, Syamsul dan kakak iparnya, Anita yang lebih dulu pengemar lukisan. Tommy tertarik. Hampir setiap saat, ia sempatkan diri mengunjungi galeri lukisan di Kota Jakarta walau hanya sekedar melihat-lihat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelamaan, hobi lukisan menular ke dirinya. Setiap berkunjung ke Bali, semua galeri didatangi. Tak hanya Bali yang menjadi tambatan hatinya untuk melihat-lihat lukisan, ia juga mengunjungi lukisan karya seniman Bandung dan Yogya. Karena pada masa itu, kota-kota itulah yang sudah berkembang karya lukis di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga mulai mengoleksi lukisan-lukisan asal seniman Bali. Tidak sekedar itu, lukisan asal Bandung, Yogya, bahkan China menjadi buruannya. Soal tema lukisan, ia abaikan. Yang penting, kata dia, menyenangkan hati saat memandangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, paling sering ke Bali. Datangi kawasan Ubud dan sudah pasti tidak pernah ketinggalan kunjungi seluruh galeri hanya untuk melihat lukisan. Dan kelamaan jadi banyak kenal dengan pelukis-pelukis Bali,” ujar Tommy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelajahannya ke setiap galeri lukisan di beberapa daerah di Indonesia, pada pertengahan tahun 2000, Tommy berpikir untuk membuka bisnis galeri. “Bagaimana kalau kita buat galeri lukisan,” tutur Tommy kepada Anita, iparnya, yang langsung merespon dan mendukungnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk rencananya itu, Tommy mulai sibuk mencari tempat. Untuk yang satu ini, ia harus berpikir strategis. Maklum, galeri adalah bisnis yang cukup menjanjikan. Hatinya tertambat di Jakarta Utara, persisnya di kawasan perdagangan Kelapa Gading. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galeri miliknya, setara dengan rumah toko alias ruko. Tidak mewah-mewah banget. Ruang pamernya tiga lantai atau luasnya kisaran 500 meter yang bisa dipergunakan memajang lukisan untuk dipamerkan. Luas bangunannya 600 meter dan luas tanahnya 200 meter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jakarta Selatan sudah kebanyakan galeri. Saya berpikir, kenapa tidak bikin di Jakarta Utara saja. Apalagi, Jakarta Utara belum ada yang memelopori galeri lukisan. Ya, tidak ada salahnya saya yang memulai,” ujar anak kedua dari empat bersaudara, dari pasangan (Alm) Lim Yu Ming dan Sri Hartaty Sutomo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama enam bulan rencana itu sudah siap dimulai. Pada tahun 2001 Tommy, yang dilahirkan di Jakarta pada September 1965 ini, langsung mengibarkan nama Galeri Canna. “diambil dari nama bunga Canna,” ujar ayah Carlo dan Carina ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mudah menjalani bisnis galeri lukisan ini. Tommy sulit membagi waktu antara pekerjaan menjalankan usahanya di pabrik cat dengan bisnis barunya. Akhirnya semua diserahkan kepada istrinya, yang mengelola setiap hari. Namun jika ada kesempatan, Tommy dan sungkan-sungkan untuk turun tangan membantunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun pertama, , cukup sulit dijalaninya. Ia harus lebih banyak belajar mengenal lukisan yang layak untuk dipamerkan di galerinya. Yang harus dimiliki oleh seorang pemilik galeri, kata dia, adalah tingkat kepekaan dan keahlian untuk memahami karya seni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kemampuannya mengenal lukisan, ia punya kesan sendiri mengenai lukisan era tahun 1990-an dengan era tahun 2000-an. Tahun 1990-an, lukisan menjadi salah satu hobi oleh seniman maupun kolektornya. Lukisan menjadi hal yang ditasbihkan untuk dinikmati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun memasuki tahun 2000-an, lukisan justru menjadi bagian dari bisnis investasi. Apalagi pada saat itu, lukisan berada pada puncak kejayaannya. Lukisan akhirnya menjadi satu keutuhan bisnis yang dijalani oleh seniman dan kolektornya. Dan akhirnya, semua karya berada pada titik komersialisasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya, tidak semua orang bisa memunyai dan menikmati karya lukis. Hanya orang-orang yang kelebihan uang, karena bingung menyimpan kekayaannya. Akhirnya lukisan menjadi barang menarik untuk di investasi. Sebab, lukisan dianggap punya peluang untuk mendapat keuntungan. “Bahkan banyak cara agar lukisan yang menjadi barang investasi, bisa kembali punya nilai jual yang lebih tinggi. Dan akhirnya, seniman dan kolektor punya trik masing-masing,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi inilah, yang membuat Tommy prihatin. Ia berkeinginan agar keberadaan galeri bisa dijadikan sebagai moderator yang fair antara seniman dan pecinta seni. Ada saatnya galeri memberikan kesempatan kepada seniman muda untuk memperlihatkan karyanya kepada masyarakat. Namun, kesempatan ini juga seharusnya dimanfaatkan oleh seniman untuk membuat karya lebih bagus lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tommy mengatakan, saat ini galeri memang punya peranan penting bagi kalangan seniman yang ingin ‘bertarung’ atas karyanya. Tapi, sudah pasti galeri tidak serta merta memajang karya yang tidak memunyai nilai seni. Galeri tetap punya penilaian sendiri. “Jujur, saya tidak peduli seniman muda atau senior yang akan pameran di Canna,” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang terpenting karyanya saya senangi. Biasanya, saya melihat-lihat dulu karyanya. Saya amati dulu nilai seninya. Jika saya anggap cocok dan memang layak, langsung ajak berpameran. Tidak perduli seniman yang masih muda atau baru sekalipun,” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalamannya bergelut di bisnis galeri seni, bukan hal mudah. Ia harus berhadapan dengan banyak kalangan, dari kolektor, kurator, bahkan para seniman itu sendiri. Yang kerap membuat dirinya resah adalah, tidak ada kesepakatan antara pihak galeri dengan seniman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seniman, menurut dia, terlalu sering melanggar kesepakatan jadwal pameran yang sudah ditentukan pada hari-hari sebelumnya, walau sudah dibuat secara tertulis. Padahal, galeri sudah membuat perencanaan jadwal yang sudah tersusun setiap tahunnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada juga seniman yang diam-diam menjual lukisannya secara pribadi. Misalkan sudah sepakat yang dipamerkan 15 lukisan, ternyata hanya ada 13 lukisan. Yang dua sudah terjual tanpa sepengetahuan galeri. Ini sudah melanggar kesepakatan,” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisnis galeri ternyata tidak harus mulus. Tahun 2004, menjadi masa-masa sulit. Saat politik di Indonesia belum stabil dan bersamaan dilangsungkannya pemilihan umum (Pemilu) Presiden kali pertama yang diadakan secara langsung oleh rakyat. Konstelasi ini, sudah pasti punya pengaruh merosotnya bisnis kanvas ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang yang punya uang, sudah pasti berpikir untuk mengeluarkan uang. Mereka harus berhati-hati belanja. Apalagi, situasi politik belum aman. Setelah situasi kembali normal dan aman, maka bisnis galeri lukisan kembali mencuat,” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Galeri Canna mulai punya banyak kesibukan. Di lantai satu galerinya, para pekerja sibuk membuat peti kayu untuk pengaman lukisan yang akan dikirim ke Vietnam. “Dasar penting punya galeri adalah hobi. Walau nantinya menjadi bisnis,” tuturnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-3817255032137729202?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/3817255032137729202/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=3817255032137729202' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/3817255032137729202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/3817255032137729202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2008/12/antara-hobi-dan-bisnis.html' title='Antara Hobi dan Bisnis'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-4277073336711254484</id><published>2008-12-12T00:10:00.001-08:00</published><updated>2010-07-03T12:31:01.130-07:00</updated><title type='text'>Dalai Lama Terjual Rp700 Juta</title><content type='html'>Salah satu ruangan di lantai 18 Wisma BCA, Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, sedang ada perhelatan pada pertengahan Nopember 2008. Deretan kursi sudah hampir penuh diduduki para tamu undangan. Semua mata mengarah ke seorang perempuan yang sedang sibuk berceracau di panggung setinggi lutut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis yang tadi, menyebutkan angka-angka rupiah dengan semangat sambil menyebutkan nama pelukis dan karyanya yang diperlihatkan tak jauh dari posisinya berdiri. Undangan nampak serius, mendengarkan angka yang ditawarkan. Jika harga sesuai, buru-buru mengacungkan angka. Bak pasar, terjadi tawar menawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah suasana lelang lukisan yang dilaksanakan oleh Cempaka Fine Art. Para tamu undangan bukan orang sembarangan. Mereka adalah para pemburu lukisan yang punya nilai seni yang tinggi. Saling tawar antar kolektor dari lukisan seharga puluhan sampai ratusan juta, jadi terlihat seru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelang kali ini menghadirkan 111 perupa dengan jumlah hasil seninya mencapai 158 karya. Antara lain; Ahmad Zaki, Suraji, Ketut Teja Astawa, Jeihan Sumantoro, Hanafi, Rosid, Nyoman Gunarsa, Popo Iskandar, dan perupa lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cuma lukisan, sebagian kecil saja karya berupa seni patung. Di antaranya milik Putu Adi Gunawan yang berjudul Aku Sayang Kamu, dan Wahyu Santoso pada karya patungnya bertajuk Peniup Slompret 3/5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun buku koleksi Lee Man Fong mengenai lukisan dan patung koleksi Presiden Soekarno (Painting and Statues From The Collection Soekarno), 5 volume tahun 1964. Buku ini berada pada posisi nilai tawar Rp10 juta sampai Rp15 juta. Dan akhirnya terjual pada harga Rp9,5 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara lelang berlangsung dua sesi, yakni sesi pertama pukul 13.00 WIB dan sesi kedua pada pukul 15.30 WIB. Untuk sesi pertama memperlihatkan 82 karya yang akan dilelang. Harga lukisan terendah karya Ismansyah dengan judul BCNU (Being Seing You) dan Ugo Untoro dengan judul Sudut Ruang Hijau. Kedua karya ini ditaksir harga minimal Rp5 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sesi pertama ini, lukisan dengan nilai tawar tertinggi bahkan sempat mencegangkan para kolektor, yakni milik Alit Sembodo yang berjudul Smack Down yang dibuat tahun 1999. Karya seniman yang meninggal pada usia 30 tahun ini, dihargai Rp320 juta. Angka ini melebihi harga tertinggi yang tercantum pada buku catalog sebesar Rp120 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat terjadi lelang untuk lukisan karya Alit, suasana cukup seru. Setiap kolektor berupaya mengacungkan tangannya, saat juru lelang menyebutkan angka penawaran. Dari harga Rp70 juta, terus nilainya melambung. Seru. Kolektor yang kalah, memberikan aplaus kepada kolektor yang saling mengacungkan harga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya Alit memang terlihat sederhana pada pewarnaannya. Dominasi warna hitam putih menjadi ketajaman lukisannya dibandingkan warna lainnya. Namun yang membuat hasil seninya mahal, goresan rumit setiap objek yang digambarnya. Lukisan berjudul Smack Down ini, memperlihatkan pertikaian yang terjadi pada semua sisi kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pada sesi kedua, di mulai dari karya Arie Smit dengan judul The Village Temple, 2006 yang terjual seharga Rp48 juta dari harga terendah pada tawaran buku katalog Rp55 juta. Tawar menawar lelang yang cukup seru terjadi pada karya Dadang Christanto dengan judul Head With Red Dots. Lukisan bermediasi oil on canvas ini, tercantum pada buku catalog seharga Rp60 juta sampai Rp80 juta. Namun yang terjadi, lukisannya justru terjual Rp110 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sesi terakhir inilah, lukisan Agus Suwage menempatkan harga lelang paling tinggi dibandingkan seluruh karya seni yang dilelangnya. Karya Agus yang berjudul Dalai Lama buatan tahun 2008. Sosok dari tokoh Budhis Tibet ini, penawaran pembuka pada harga Rp500 juta hingga Rp750 juta. Lukisan berukuran 200 x 150 cm dari acrylic on canvas ini, akhirnya terjual dengan harga Rp700 juta. Wow…!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-4277073336711254484?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/4277073336711254484/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=4277073336711254484' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/4277073336711254484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/4277073336711254484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2008/12/dalai-lama-terjual-rp700-juta.html' title='Dalai Lama Terjual Rp700 Juta'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-3937745827001079564</id><published>2008-12-12T00:06:00.001-08:00</published><updated>2010-07-03T12:31:54.539-07:00</updated><title type='text'>Ketika Patung Mengalahkan Lukisan</title><content type='html'>Salah satu ruangan di lantai enam pusat pembelanjaan Senayan City, Jakarta Selatan, serba dibaluti kain hitam. Di akhir pekan awal Nopember 2008, Denindo  Art Home, satu galeri lukisan di Jakarta  sedang punya hajat besar. Melakukan pelelangan karya seni rupa. Suasana sudah ramai. Semua bangku terisi para tamu undangan, terutama para kolektor yang sengaja diundang penyelenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa tidak. Karya seni yang dilelang tak hanya karya lukisan seniman terkemuka negeri ini, tetapi juga sejumlah barang antik dengan nilai seni tinggi. Kesemuanya akan diperebutkan oleh para kolektor untuk dimilikinya. Dari patung dewa, jam antik, pintu unik hingga piring keramik yang juga tak kalah nilai seninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelang yang berlangsung dua sesi ini, menghadirkan 119 karya seniman dengan 234 karya lukisan dan barang antik. Cukup melelahkan, namun menegangkan saat terjadi tawar menawar harga antar kolektor yang dipandu oleh juru lelang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada lelang sesi pertama, Denindo sebagai penyelenggara menawarkan 134 karya seni berupa affordable artworks, antiques and artworks. Sesi ini menawarkan karya lukis milik Ketut Marra yang berjudul Full Moon at Candi Dasa, 2006 yang menjadi lelang pembuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seru-seru banget lelang ini. Mungkin karena harga jual lukisan tidak terlampau mahal. Sebut saja lukisan Ahmad Sobirin yang bertajuk Jempol Tengah (2008). Lukisan bermediasi oil on canvas ini terjual dengan harga Rp4,8 juta dari harga minimal yang tercantum pada catalog Rp6 juta sampai Rp9 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dua karya Made Gunawan, masing-masing berjudul Petting (2008) yang harga tawar minimal Rp4 juta, dan Bermain Suling (2008) yang harga tawarnya Rp5 juta, ternyata tidak diminati. Pun lukisan Ketut Teja Astawa yang berjudul Weekend Party (2005) dan karya Julnaidi M.S yang bertajuk Potret Gajah Murung (2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak karya-karya lukis lainnya yang tidak terjual pada lelang kali ini, antara lain dua karya lukisan Tisna Sanjaya yang berjudul Seri#8 Matahari di Atas Asia (2007) dan Batistuta (2004), I Made Arya Palguna dengan karyanya Kepura (2000), juga dua lukisan karya Soedjono Abdullah, yakni Market Scenery dan Menuju Pura yang keduanya bermediasi oil on canvas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sesi pertama ini, yang cukup menarik ketika karya Ahmad Zaki yang berjudul Tumbuh Kuasa (2007). Lukisan seniman kelahiran Bukittinggi, 7 Oktober 1982 ini, terjual pada harga Rp15 juta. Angka ini nyaris berada pada posisi nilai tawar tinggi Rp16 juta. Namun sudah melebihi angka minimal penawaran Rp10 jutaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukisan Ahmad Zaki ini, nampak minimalis dan membawa isu pemanasan global. Hijau dan biru muda langit, menandakan kesejukan. Lukisan ini ingin mengambarkan sebatang pohon yang hijau dengan tangkaian daun, dianggap punya arti untuk tetap tertancap pada bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya yang terjual lainnya; dua karya hitam putih Ivan Sagito yang berjudul Istirahat (1995) dan Kasih Sayang Seorang Ibu (1992). Kedua karya yang bermediasi watercolor on paper ini terjual seharga Rp8,5 juta. Juga karya Soetopo yang berjudul Gembala Sapi (1998) dengan harga Rp7 juta dari harga tawar pembuka Rp4 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sesi kedua, jenis yang dilelang adalah antiques&amp;artworks, modern &amp; contemporary art dengan jumlah lelang sebanyak 99 karya seni. Pembukaan pertama adalah patung Guan Yin yang terbuat dari kayu. Barang antik ini terjual dengan harga Rp50 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang antik yang kebanyakan sosok dewa ini, oleh para kolektor memang menjadi target untuk dimiliki. Hasilnya, tawar menawar kerap terjadi. Misalnya patung antik Fu Lo So (3 Gods) yang akhirnya terjual dengan Rp25 juta. Begitupun patung Da-Mo (Shaolin Master) yang terjual seharga Rp10 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari semua karya patung, harga penawaran tertinggi disodorkan pada patung 18 Lohan yang terjual Rp70 juta. Walaupun berukuran 14 centimeter, patung dewa budha ini, memang sangat unik. Karena berwarna kuning keemasan dengan keragaman bentuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sesi lelang terakhir ini, diramaikan karya lukis yang harganya cukup mahal dan perupa yang sudah punya jam tinggi dalam jagad seni rupa negeri ini. Seperti karya Putu Sutawijaya dengan Untitled (1998) dengan harga penawaran Rp60 juta sampai 90 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga karya Hanafi yang bertajuk Dream III (2004) yang ditaksir lelangnya seharga Rp35 juta hingga Rp50 juta. Ada juga karya SP Hidayat pada judul Wanita dan Musik (2001) dengan harga taksir Rp35 juta sampai Rp45 juta. Lelang berakhir dengan karya Ketut Tenang dengan judul Five Flowers (2008) dengan harga taksir tertinggi Rp10 juta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-3937745827001079564?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/3937745827001079564/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=3937745827001079564' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/3937745827001079564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/3937745827001079564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2008/12/ketika-patung-mengalahkan-lukisan.html' title='Ketika Patung Mengalahkan Lukisan'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-2586586558510453358</id><published>2008-12-12T00:05:00.001-08:00</published><updated>2008-12-12T00:05:54.421-08:00</updated><title type='text'>Simponi Alam Jadi Ambisi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Manusia dan alam&lt;/span&gt; menjadi satu kesatuan yang sulit dipisahkan menjadi objek menarik dalam lukisan. Bahkan menjadi gambaran menarik dari sisi persoalannya. Manusia yang lekat dengan kekuasaan dan manusia yang menjadi objek usaha memeroleh ambisinya dengan segala upaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena manusia dan alam ini, terpancar jelas pada pameran Symphony of Life karya tunggal Nyoman Sujana Kenyem yang berlangsung pada akhir Nopember  2008 Kemang Village oleh Fantastic Art Gallery.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia digambarkan sebagai sosok penghuni alam semesta yang berupaya mengejar keinginannya walau jalan yang ditempuhnya berkelok-kelok. Untuk ambisinya itu, ada yang berhasil dan tak sedikit yang gagal. Fenomena tentang manusia lainnya, saat ini berlakunya pengkotak-kotakkan status sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyoman Sujana menggambarkan manusia dari berbagai ragam masalahnya. Ia seakan menguak keliukan manusia yang berbondong-bondong mendapatkan ambisinya. Seperti pada lukisannya berjudul Perjalanan di Great  Wall. Lukisan dengan media on canvas ini mengesankan keriuhan manusia yang berjalan ke kehidupan yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamban laun pada setiap kelokan, jumlahnya semakin berkurang. Dan di fase terakhir, menjadi antrean yang satu per satu berada pada puncak ambisinya. Nyoman menggambarkan manusia pada dua warna, kuning dan putih yang akhirnya masuk bergantian di puncaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi yang hampir sama juga terlihat pada lukisannya yang berjudul Lintasi Senja di Great Wall. Namun, kelokan ketinggian mencapai puncak kehidupannya lebih terjal dengan jumlah manusia yang lebih sedikit. Untuk lukisan ini, diperankan oleh tiga warna model manusia; putih, kuning dan merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukisan Perjalanan di Great Wall dan Lintasan Senja di Great Wall, manusia hanyalah sosok kecil yang diapit oleh tembok dan pergunungan yang besar dan berdiri megah.  Gerusan kuas Nyoman bergerak searah pada satu titik dengan lintangan berkelok dengan menciptakan gelombang dan irama dinamis. Akan ditemukan jeritan himpitan manusia yang membentuk simponi kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya sebatas ambisi yang menjadi apresiasi karyanya. Manusia juga ditempatkan sebagai mahluk yang baik dengan segala upaya agar tidak terjerumus menjadi jahat. Sedangkan manusia yang berprilaku jahat mudah terjerumus dalam arus kehancurannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengoklah pada lukisan bertajuk Berjuang Melawan Arus, manusia berpakaian putih yang identik dengan kebaikan, berupaya menghambat masuk ke dalam pusaran arus  sambil  berpegang pada daun. Sedangkan sosok jahat berpakaian merah, tanpa berpegang pada apa pun, sudah berada pada pusat arus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena karya Nyoman Sujana ini, bergelut ke arah filosofi penanda. Daun dijadikan sebagai kekuatan semesta alam yang bergelut pada kehidupan. Sedangkan manusia hanyalah bagian kecil dari isi alam. Semakin banyak fenomena alam dan isinya, akan melahirkan pembentukan baru fenomena sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-2586586558510453358?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/2586586558510453358/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=2586586558510453358' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/2586586558510453358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/2586586558510453358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2008/12/simponi-alam-jadi-ambisi.html' title='Simponi Alam Jadi Ambisi'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-1885807907950886949</id><published>2008-12-12T00:01:00.000-08:00</published><updated>2008-12-12T00:03:52.639-08:00</updated><title type='text'>Foto Sunyi Leo Lumanto</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Crusman%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Sylfaen; 	panose-1:1 10 5 2 5 3 6 3 3 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:67110535 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Crusman%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Sylfaen; 	panose-1:1 10 5 2 5 3 6 3 3 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:67110535 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Sylfaen;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Sylfaen;"&gt;Leo Lumanto, banyak orang yang mengenal dengan keahliannya sebagai spiritualis. Ia juga yang kerap mendampingi film-film horror. Namun untuk kali ini, Leo tiba-tiba memperlihatkan kepiawaian barunya menjadi seorang fotografer. Tetap saja, hasilnya tak jauh-jauh dengan kesunyian, keheningan, dan beberapa suasana yang agak menyeramkan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Sylfaen;"&gt;Pameran kali pertamanya berlangsung di Marketing Office Rasuna Epicentrum, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; pada 14 Agustus 2008. Jepretan Leo bertema &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Time To Tell&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. “Biarkan waktu yang akan berbicara,” tutur Leo Lumanto.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Sylfaen;"&gt;Foto karya Leo Lumanto kebanyakan mengesankan keheningan. Objek dan pencahayaannya, cenderung memperlihatkan keseraman. Oleh Leo, semua karya yang dipajang ini lebih banyak dibentuk oleh pengaturan cahaya teknologi komputer. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Sylfaen;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Sylfaen;"&gt;Perpohonan menjadi objek utama bidikan Leo yang baru beberapa tahun mengelutinya fotografer, Pada potret berjuluk &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Bluer than Blue&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, objeknya hanya satu batang pohong berdiri kokoh dengan tektur kulit pohon. Sebenarnya biasanya saja, namun diolahnya dengan warna langit biru suram. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Sylfaen;"&gt;Pada foto yang diberi judul &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;My Way&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, sebenarnya hanya karya foto biasa saja. Jalan sunyi yang bagian sisinya dideretin perpohonan, Pada foto ini, permainan cahaya sekitarnya dibuat menjadi warna biru redup. Sehingga suasananya menjadi remang-reman dan akhirnya menjadi seram. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Sylfaen;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Sylfaen;"&gt;“Saya mencoba menterjemahkan rasa yang saya alami. Mencoba untuk merangkum emosi dan sensitifitas dalam keheningan. Spiritual fotografi hanyalah satu alternative lain untuk melihat sisi yang berbeda dari keindahan hidup,” ujar Leo. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Sylfaen;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Sylfaen;"&gt;Leo mengatakan, objek perpohonan seakan-akan bisa berbicara layaknya manusia. Pohon dianggap bisa berbisik akan semua perilaku dan seakan bisa menertawakan kemunafikan dunia yang tak lekang. Saat yang sepi dan seakan tidak ada aura kehidupan, menurut Leo, itulah yang menjadi awalan hidup bermula. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Sylfaen;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-1885807907950886949?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/1885807907950886949/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=1885807907950886949' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/1885807907950886949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/1885807907950886949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2008/12/foto-sunyi-leo-lumanto.html' title='Foto Sunyi Leo Lumanto'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-6276733936756248530</id><published>2008-08-06T04:08:00.001-07:00</published><updated>2008-08-06T04:09:49.066-07:00</updated><title type='text'>‘Sang Dealova’  di Bulgary Club</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Dengan &lt;/span&gt;mengenakan kaos berwarna pink dipadu dengan celana jeans  warna hitam, Once,  vokalis grup band ‘Dewa’ langsung memanjakan klabbing di Bulgary Club Jakarta, pada Rabu (14/5) dengan lagu-lagu hit solonya yang bernuansa romantis dan beraliran rock.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilik nama lengkap Elfonda Mekel  kelahiran Kota Makassar, Sulawesi Selatan ini, telah menjadi bintang di acara yang bertema “Chivas On The Rock” yang disponsori Pernord Ricard Indonesia yang menjadi pemasok minuman beralkohol asal Skotlandia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena saya belum ada album dan sekarang sedang cari-cari lagu, maka malam ini saya akan menghibur dengan lagu-lagu rock sesuai dengan tema acara malam ini, “ ujar Once sesaat sebelum memulai acara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, Once memang menghibur para professional muda Jakarta yang menyukai musik rock. Ada lebih dari 10 lagu yang dibawakannya,   diantaranya, Rock n Roll, I want to break free, Dealova, So Lonely, Everty Bearth. Juga beberapa lagu yang pernah dibawakannya bersama grup band Dewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Musik rock seperti kita ketahui bersama memang masih digemari oleh masyarakat di seluruh dunia dan Chivas akan terus menghibur pengunjung setia Bulgary ini dengan musik-musik yang dapat mengajak kita ikut bernyanyi juga, “ tutur  Edhi Sumadi, Country Manager Pernod Ricard Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat membawakan lagu-lagu rock, pengunjung yang memenuhi ruang The Bulgary Club Jakarta ini juga ikut bernyanyi bersama Once. Tampaknya  jenis musik ini masih punya tempat di hati masyarakat Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara itu tidak hanya dimeriahkan oleh lantunan lagu Once, DJ Delizious Davina malam itu, juga terus membakar panasnya party, setelah sebelumnya Once membawakan lagu-lagu rock-nya. Penampilan DJ Mickey, DJ Hanz, DJ Teddy dan DJ Samuel sangat berperan pada suksesnya party malam itu. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-6276733936756248530?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/6276733936756248530/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=6276733936756248530' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/6276733936756248530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/6276733936756248530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2008/08/sang-dealova-di-bulgary-club.html' title='‘Sang Dealova’  di Bulgary Club'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-3604873581640869513</id><published>2008-08-06T04:07:00.001-07:00</published><updated>2008-08-06T04:09:16.481-07:00</updated><title type='text'>Party Chivas di Kota Bandung</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Ada&lt;/span&gt; sesuatu yang berbeda malam itu di Bandung, tepatnya di Mansion Club Odeum Bulding 23 Mei 2008, sebuah party yang diselenggarakan oleh Chivas 18 menampilkan DJ-DJ ternama yang selalu ditunggu-tunggu kehadirannya. DJ Milinka, DJ Delizious Devina dan DJ Mickey Bulgary. Mereka secara khusus datang untuk menghibur partygoeser sejati Kota Kembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya Chivas Party Ultimate Duo ini juga telah diantisipasi oleh pihak manajemen Mansion Club. Informasi seputar akan tampilnya DJ-DJ ternama dan Chivas 18, sudah beredar luas di kalangan partygoeser dan mereka akan hadir memenuhi dance floor Mansion Club.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chivas 18 Party dimulai dengan penampilan Resident DJ, Lay, Melody dan Romainaki. Dilanjutkan dengan penampilan DJ Mickey. DJ cewek bertubuh mungil ini setiap harinya adalah DJ di Bulgary Club Jakarta. Penampilannya mulai menghangatkan dance floor yang mulai terisi menjelang tengah malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DJ Milinka langsung tampil di deck setelah DJ Mickey menyelesaikan tugasnya. Crowed yang memenuhi dance floor terlihat sangat terhibur dengan penampilan DJ Milinka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chivas party semakin “panas” saat DJ Delizious Devina tampil di deck. Crowed yang semakin memenuhi dance floor terlihat langsung lebih mendekat ke deck. Selain DJ Devina, memang di sebelahnya terlihat Cut Cyntiara Alona dan Muthia Gina. Mereka berdua malam itu memang ikut memeriahkan party dengan teriakan-teriakan khasnya, agar party semakin hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu DJ Devina menampilkan musik dari genre elektro dan progressive yang tampaknya CHIVAS dapat diterima oleh crowed Kota Bandung. Menjelang fajar menyingsing, crowed mulai meninggalkan Mansion Club dengan membawa kenangan indah pada Chivas Party Ultimate Duo.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-3604873581640869513?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/3604873581640869513/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=3604873581640869513' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/3604873581640869513'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/3604873581640869513'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2008/08/party-chivas-di-kota-bandung.html' title='Party Chivas di Kota Bandung'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-2474608046743002791</id><published>2008-08-06T04:00:00.000-07:00</published><updated>2008-08-06T04:10:15.332-07:00</updated><title type='text'>Dugem Abad Pertengahan</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Bayangkan&lt;/span&gt; rasanya Anda berpesta dengan iringan musik kencang dengan suguhan para model berpenampilan ala gadis abad pertengahan? Suasana unik inilah yang ditampilkan Royal Salute Scotch Whisky, lewat pesta bertema The Ultimate Tribute, di Sun City Luxury Club Jakarta pada  4 April 2008.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dengan dukungan dari Fabiola dari Flirt. Inc, pesta  kali ini mengambil tema kehidupan masyarakat di Eropa pada abad pertengahan. Kabarnya, tema ini disesuaikan dengan Royal Salute yang merupakan minuman yang khusus dipersembahkan bagi Ratu Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang tengah malam sejumlah dancer dan model tampil di catwalk Sun City. Lounge dimana party berlangsung, tampak dipenuhi profesional muda Jakarta yang telah dihibur oleh penampilan band LickyTa, D&amp;amp;D dancer dan penampilan DJ Donny. Panggung dan catwalk malam itu dihiasi dengan kain-kain warna keemasan dan sebuah pigura berukuran besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima orang dancer dengan mengenakan kostum dan tata rambut ala abad pertengahan di Eropa tampil menghangatkan pesta diiringi musik dengan beat yang cukup tinggi. Gerakan-gerakan dancer terlihat sangat harmoni dan tidak membosankan untuk dinikmati. Apalagi saat dua model papan atas, Indah Kalalo dan Chaterine Wilson ikut tampil di atas panggung. Suasana semakin meriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghangatkan suasana pesta, para pengunjung disuguhi empat macam rasa Royal Salute yang dibagikan oleh para model termasuk Indah Kalalo dan para Female Presenter Royal Salute. Beberapa profesional muda tampak mengambil botol Royal Salute yang terbuat dari keramik untuk dijadikan cindera mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Party ala kehidupan abad pertengahan di Eropa ini sesuai dengan misi yang hendak disampaikan oleh Royal Salute. Anggun, prestisius dan glamor tampak terlihat dari penampilan para model yang memperagakan atraksi fashion dance. Tema-tema party yang anggun, glamour dan prestisius ini akan terus disenggarakan oleh Royal Salute setiap bulannya. Kita akan adakan di beberapa klab-klab ternama, “ ujar Edhi Sumadi, Country Manager Pernod Ricard Indonesia, distributor resmi Royal Salute.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai penampilan fashion dance terlihat seluruh pendukung acara seperti Fabiola, Chaterine Wilson, Indah Kalalo, bergabung dengan pengunjung menikmati minuman Royal Salute. Pada booth DJ, tampak DJ Lendy dan DJ Daniel terus menghibur profesional muda yang menghabiskan waktu senggangnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-2474608046743002791?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/2474608046743002791/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=2474608046743002791' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/2474608046743002791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/2474608046743002791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2008/08/dugem-abad-pertengahan.html' title='Dugem Abad Pertengahan'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-7024073489690672226</id><published>2008-08-06T01:07:00.002-07:00</published><updated>2008-08-06T04:10:49.084-07:00</updated><title type='text'>Luwu Timur  di Mata Seorang Perantau</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Usianya&lt;/span&gt; sudah tak muda lagi, 65 tahun. Rambut putih berhias di kepalanya. Jalannya sudah tak setegap sejak beberapa bulan yang lalu. Penyakit tua sudah mengerogoti persendian tulang di bagian kakinya. Namun, pria ini tetap saja tak pernah perduli. Ia tetap saja melangkah menelusuri lorong Kota Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria ini punya nama yang sangat singkat; Nibe. Dia merantau ke pulau Jawa pada saat terjadinya peristiwa Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Sulawesi Selatan pimpinan Kahar Muzakar pada era tahun 1950-an dan akhir tahun 1960-an. Di perantauan, dia menambahkan identitas di belakang namanya; Nibe Ruslan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1955, Ia melarikan diri ke Jakarta. Saat pasukan TNI pimpinan AE. Kawilarang yang memimpin penumpasan DI/TII di Sulawesi Selatan. Sebagai anggota pasukan dari Kompi V wilayah Tenggara DI/TII, kondisi pasukan pemberontakan sudah dalam posisi terjepit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malili menjadi wilayah yang relatif aman dibandingkan daerah lainnya yang merupakan kawasan pergerakan pemberontakan. Dan belum ada istilah DI/TII. Dulu hanya mengenal pemberontakan atau gerombolan,” kenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu panjang kisah perjalanannya. Ia  tidak mampu merunut satu persatu kisah hidupnya. Yang mudah dikenang, Malili hanyalah satu kecamatan di bawah wilayah pemerintah Kotamadya Luwu. Dan Malili adalah sebuah wilayah yang belum berkembang pesat, nama oleh Belanda sudah dinyatakan sebagai kawasan kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang paling mudah dikenangnya, kegagahan Pergunungan Velbek. Dari puncak gunung ini, terlihat ularan Sungai Malili yang menjuntai terus hingga ke laut. Di puncak ini juga, pemandangan rumah penduduk yang kebanyakan dari kayu yang sederhana, serta perahu kayu (ketinting) yang melintas di sungai. Hamparan perbukitan berwarna hijau, seakan terhampar begitu indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang paling awet sampai sekarang, Jembatan Malili. Dari sejak zaman kekuasaan Belanda, jembatan gantung itu masih terlihat kokoh,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di usia yang sudah senja, Nibe masih ingat benar situasi Luwu Timur tempo dulu hingga kedatangan terakhirnya tahun 2004. Pria yang dilahirkan dari cerita legenda daerah, dari  sebuah dusun yang menjadi cikal bakal daerah itu, Cerekang. Nama dusun yang dikaitkan dengan kebesaran sosok Sawerigading.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari keturunan Cerekang, kita belajar rendah diri. Tidak memperlihatkan kesombongan dan berupaya untuk bertahan hidup dengan prinsip apa adanya. Dan harus memahami untuk saling menghargai,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai cerita kenangan itu, Nibe mengambil teh yang baru saja diseduhnya. Ia ingin bercerita kembali masa kecilnya di Cerekang dan Kota Malili. Dua tempat yang berjauhan sekira 15 kilometer. “Waduh, kalau ingat kampung, bawaannya jadi kangen. Mau nengokin cucu,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Malili. Nibe punya empat orang cucu dari anak lelaki keduanya. Di Malili juga, ia masih punya adik kandung bungsunya. Juga istri dari adik kandungnya yang beberapa tahun lalu meninggal dunia. “Tapi semua teman-teman seperjuangan dulu, sudah pada meninggal dunia,” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Malili sudah menjadi ibukota Luwu Timur. Kabupaten yang dimekarkan dari Kabupaten Luwu Utara pada tahun 2003. Dan tahun 2005, menjadi moment penting demokrasi negeri itu dengan melangsungkan Pilkada kali pertama. DRS. H. Andi Hatta Marakarma, MP dan H.Saldy Mansyur SE menjadi Bupati dan Wakil Bupati priode 2005-2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kekayaan yang paling dahyat dari Luwu Timur, adalah coklat. Wah, dulu hampir semua penduduk pasti punya kebun. Dan coklat jadi andalannya utama,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain komoditi tanaman coklat, sagu dan perikanan juga jadi potensial untuk dikembangkan. Dua komoditi terakhir ini, sebagai pangan yang bisa menjadi pengganti beras. “Sampai sekarang, penduduk asli masih banyak mempertahankan kebun sagu untuk kebutuhan pangan rumah tangga,” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Potensi yang belum tergarap adalah pertambangan. Selama ini, hanya mengenal kawasan Soroako dengan INCO-nya. Padahal, ada beberapa kawasan yang merupakan wilayah yang memunyai kekayaan cukup besar. Mungkin terbesar dibandingkan daerah lainnya,” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang terpenting, kata dia, Pemerintah Luwu Timur mesti memperhatikan kembali tradisi-tradisi warisan yang pernah diteturunkan oleh nenek moyang. Bagaimana kekuatan leluhur atas kebesaran Sawerigading,  agar tidak hanya menjadi legenda semata. Namun, kebesaran yang menganut ketidaksombongan dan saling menghargai satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena kehadirannya di tanah Luwu Timur, Sawerigading mengamanatkan pentingnya perdamaian dan mensejahterakan penduduk negeri. Amanat itu yang harus dijaga oleh teturunannya yang sampai saat ini masih hidup dan bertahan untuk generasi mendatang,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nibe menghabiskan teh yang sejak tadi diminumnya pelan-pelan. Ia merindukan kembali kenangannya di Luwu Timur. Ia ingin sekali menghabiskan waktu tuanya di kampung halamannya. Bernostalgia kembali dari bukit ke bukit, dari kampung ke kampung dan menelusuri sungai Malili untuk menyantap ikan tangkapannya. Berharap Luwu Timur lebih pesat dari daerah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-7024073489690672226?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/7024073489690672226/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=7024073489690672226' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/7024073489690672226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/7024073489690672226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2008/08/luwu-timur-di-mata-seorang-perantau_06.html' title='Luwu Timur  di Mata Seorang Perantau'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-7400543486972157638</id><published>2008-08-06T01:04:00.002-07:00</published><updated>2008-08-06T01:05:01.001-07:00</updated><title type='text'>Miss Tjitjih, Siapa Peduli Kamu?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;SENJA di Jakarta, medio April. Di halaman sebuah gedung, di kawasan Cempaka Baru, Jakarta Pusat, anak-anak bermain riang. Satu baliho berukuran sedang, terpajang di atas pintu gerbang berpagar besi. Gambarnya cukup menyeramkan buat sebagian orang: hantu pocong. Malamnya, memang akan digelar pertunjukan drama panggung dengan judul ‘Setan minta cerai’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedung itu dikenal dengan sebutan Miss Tjitjih. Nama ini diberikan untuk menghormati salah satu primadona panggung dari grup teater tradisi yang sering pentas di gedung itu. Nama Miss Tjitjih memang melegenda dalam seni pertunjukan di negeri ini, terutama di Jakarta dan Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang teater, sebut misalnya Jakob Sumardjo, selalu meletakkan grup teater yang dibintangi Miss Tjitjih ini sebagai salah satu tonggak teater modern di tanah air. Grup ini pastilah “megah” dan selalu meriah pada masanya. Kemegahannya kini masih tersisa pada gedungnya, yang nampak angkuh bertembok beton. Sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah sepi. Kalau dulu rame. Bangku bisa penuh. Sekarang mah, ada yang nonton kayak begini, sudah syukur,” kata Rohidin, lelaki berusia 47 tahun dengan logat Sunda. Sudah 18 tahun ia ikutan mengelola gedung Miss Tjitjih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang pertunjukannya cukup besar, tak kalah dengan ruang bioskop kelas mewah. Luas panggungnya mencapai 15 x 8 meter. Tapi penonton sepi. “Uang tiketnya, palingan cukup beli rokok pemain aja. Bisa dihitung mah, yang nontonnya,” kata Rohidin lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedung kesenian Miss Tjitjih hanya menyajikan drama panggung, terutama budaya dan khasanah tradisi Sunda. Musik pun tembang sebelum pertunjukan, sampai dialog pertunjukan, semua bernuansa Sunda. Kesundaan itu memang tak lekang dari tokoh Miss Tjitjih yang berasal dari Sumedang, Jawa Barat. Sosok yang sedari awal berkarier memang ingin melestarikan kesenian Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas Miss Tjitjih kini masih bertahan walau seni tradisi sedang digusur jaman. Para awak panggung tetap bermain dengan profesional. Mereka tak kecil hati, walau jumlah penonton yang hanya hitungan jari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun para awak panggung, tetap girang dengan pekerjaannya. Penata panggung setia memindahkan background sesuai dengan alur cerita. Ada yang bersibuk menaik-turunkan tirai. Penata lampu, penata rias, bekerja pada bidangnya masing-masing. “Seperti ini situasinya. Kami tetap semangat. Karena sudah teturunan. Penonton sedikit, kami tetap tampil serius,” kata Rohidin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dekade 80-an sampai 90-an, gedung ini masih selalu riuh dengan penonton. Pertunjukan jadi sering digelar. Sehari bisa dua kali pementasan. Sekarang, tentu sudah tidak sesering dulu. Kian sepi, seminggu hanya sekali pementasan. Memasuki tahun 2000-an, penonton makin surut. Pementasan akhirnya hanya sebulan dua kali, tiap minggu pertama dan keempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Miss Tjitjih memang terukir dalam sejarah seni pertunjukan di Nusantara. Perempuan ini lahir di Sumedang pada 1908. Usia 15 tahun, ia sudah berkesenian, dan dikenal dengan panggilam Nyi Tjitjih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1926 ia bertemu Aboe Bakar Bafaqih, orang Arab keturunan Bangil, Jawa Timur, yang membawakan Opera Valencia. Nyi Tjitjih pun bergabung. Dua tahun kemudian, mereka merambah Batavia. Witing tresno jalaran suko kulino (sering bertemu melahirkan perasaan citna) kata pepatah Jawa. Akhirnya, Miss Tjitjih jadi isteri kedua Aboe Bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya Aboe Bakar terbakar asmara. Istri pertamanya yang bernama Nuriah, diceraikan. Nama perkumpulan kesenian mereka pun diganti menjadi Miss Tjitjih Tonell Gezelschap pada 1928.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1931, kelompok inilah yang kali pertama mengadakan pertunjukan sandiwara di Istana Bogor. Dan, hampir seluruh pendopo kabupaten di Tanah Sunda, mengorder Miss Tjitjih untuk manggung. Bahkan mereka punya jadwal tetap di Pasar Gambir Batavia, hingga tempat itu ditutup pada 1936.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu tenarnya Mis Tjitjih, panggung akan terasa sunyi bila ia tak pentas. Ia bahkan tak pernah alfa manggung, walau penyakit TBC menggerogoti tubuhnya. Pada usia 28, Miss Tjitjih tutup usia saat mentas di Cikampek untuk lakon berjudul Gagak Solo dengan peran sebagai Tandak. Pertunjukan pun dihentikan di pertengahan cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miss Tjitjih mangkat. Seperninggalnya, Aboe Bakar tetap menebarkan nama istri keduanya itu. Sayangnya, perkawinan Miss Tjitjih dengan Aboe Bakar tidak dikaruniai anak. Untuk mengenangnya, nama besar Miss Tjitjih terus didengungkan, dan para penerusnya, mengabadikan gedung kesenian tempat mereka manggung dengan nama Gedung Kesenian Miss Tjitjih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi itu kan hanya nama besar. Sedangkan kami yang masih bertahan hidup dari jaman ke jaman, tetap saja terancam tak sanggup melangsungkan hidup,” ujar Aib Muhammad, personel Miss Tjitjih yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aib Muhammad adalah cucu terakhir almahum Aboe Bakar dari istri Nuriah. Ayah Aib bernama Sayid Harun, anak ketiga dari enam bersaudara. Aib sudah bertahun-tahun mengikuti perjalanan pementasan nama besar kelompok Miss Tjitjih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menuturkan, kelangsungan komunitas Miss Tjitjih berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Rumah-rumah peninggalan Aboe Bakar di Matraman, dijualnya. Kemudian mereka bermarkas di Jalan Angke, dekat stasiun kereta api Tanah Abang. Tanah untuk bikin gedung pertunjukan disewa dari pihak stasiun. Gedungnya terbuat dari papan dan kayu, dan tripleks sebagai dindingnya. Atapnya terbuat dari seng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa itu, tahun 1970-an, penonton selalu penuh. Gedung berkapasitas 400 orang, tak pernah lenggang. Drama yang paling seru dan diminati berjudul Jembatan Shirotul Mustaqim. “Drama itu, sampai kita mainkan sehari dua kali selama sebulan penuh. Nggak pernah sepi. Pasti rame terus. Penonton sampai berhimpitan,” ujar Aib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1987-an, kelompok ini tergusur. Untuk bertahan hidup, akhirnya bernaung atas nama lembaga Yayasan Miss Tjitjih yang turut ditangani pemerintah DKI Jakarta. Komunitas Miss Tjitjih diberikan lahan di kawasan Cempaka Baru, Jakarta Pusat. Itulah gedung yang sekarang mereka gunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpindahan itu ternyata tak membawa berkah. Kelompok Miss Tjitjih mulai sepi penonton. Apalagi memasuki awal  1990-an, ketika televisi swasta mulai tayang di negeri ini, penonton tambah jarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita tetap berteguh pada keinginan orang tua, khususnya Miss Tjitjih, untuk tetap mempertahankan budaya dan kesenian Sunda di mana saja. Tapi sampai kapan kami bisa pertahankan?” ujar Aib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat baru itu, mereka menempati kamar-kamar petak yang dijadikan mess Yayasan Miss Tjitjih, yang berada di belakang gedung pertunjukan. Mereka tak bisa bertumpu dari pementasan. Masing-masing akhirnya mengembangkan keahlian sendiri. Ada yang sering mendapat orderan perhelatan bermusik Sunda, sampai jadi dekor untuk acara pernikahan bergaya Sunda. “Kalau kayak begini, kerja jadi serabutan saja,” ujar Aib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada sama sekali bantuan dari pemerintah Jawa Barat. Padahal, kita mengupayakan melestarikan budaya dan kesenian Sunda. Kami, mungkin hanya menanti waktu tergusur kembali,” Aib mengeluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keagungan Miss Tjitjih kini pada gedung yang terlihat angkuh, namun sebenarnya rapuh di dalamnya. Tapi benarkah detik-detik kepunahan yang sedang mereka nantikan? Mereka hanya menanti waktu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-7400543486972157638?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/7400543486972157638/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=7400543486972157638' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/7400543486972157638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/7400543486972157638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2008/08/miss-tjitjih-siapa-peduli-kamu_06.html' title='Miss Tjitjih, Siapa Peduli Kamu?'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-2779204601524133301</id><published>2008-04-06T00:59:00.002-07:00</published><updated>2008-04-06T01:03:17.665-07:00</updated><title type='text'>Sebenarnya, Siapa yang Gila?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;Mereka dilahirkan untuk hidup, tetapi garis hidupnya bertempat yang tersisihkan. Mereka berbicara sendiri tanpa ada lawan bicara. Dijuluki sakit jiwa, bahkan orang gila. &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kaum ini hanya bisa berdiam diri. Tidak selalu orang miskin yang menderitanya, tapi bisa diidap semua orang. Bahkan tidak disadari ada di samping kita sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;******&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Seorang lelaki berjalan tegap di atas trotoar. Sesekali kepalanya menunduk, memungut puntung rokok, lantas berjalan lagi. Tubuhnya hitam legam, baju kausnya yang putih sudah hampir jadi coklat. Hampir seluruhnya compang-camping. Bagian ketiak kanan kirinya berlubang. Entah sobek, entah jahitannya lepas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tak hanya bajunya yang nampak lusuh. Celana coklat yang dia kenakan tak lagi punya bentuk. Pinggul dan bagian dekat kemaluannya nyaris terlihat. Celananya hanya diikat tali plastik berwarna merah sebagai pengencang pada pinggang. Sesekali, tangan kirinya sibuk memegang celananya yang hampir melorot. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hari itu awal Maret. Jakarta sedang musim penghujan. Berjalan tanpa mengenakan alas kaki, orang ini tetap saja menyusuri tepi Jalan Pramuka, Jakarta Pusat. Mulutnya berceracau sendiri tak pernah berhenti. Tak dipedulikannya bunyi klakson kendaraan atau cipratan air kotor bekas hujan tadi malam dari mobil yang melintas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dia duduk di atas trotoar. Puntung rokok yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;baru dipungutnya, dinyalakan dari korek kayu yang tersimpan di gulungan celana dekat pusarnya. Sambil menghembuskan asap rokok, mulutnya terus berceracau. Bicaranya sangat tidak jelas dan tidak dimengerti. Seperti berkomat-kamit. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Saya menghampirinya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sambil memberikan sebatang rokok yang masih utuh. Dia mengambilnya tanpa mengucapkan sepatah kata dengan kepala tertunduk. Mulutnya seperti berbicara, tapi tak terdengar ucapannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bau tubuhnya sangat menyengat. Rambutnya nyaris cepak tak beraturan, nampak ada luka basah di dekat jidatnya. Bagian luka itu, sesekali digaruk dengan kukunya yang menghitam. Dia semakin tidak peduli ketika saya memberikan lagi sebatang rokok. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Saya menduga, usia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lelaki ini belum genap 40 tahun. Tatapan matanya masih terlihat tajam. Otot tangan dan kaki masih nampak kencang dan kekar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Anak saya kemana, ya?” tiba-tiba dia mengucap. “Istri saya juga kemana, ya?” Suaranya terhenti. “Saya bangkrut, kok pada hilang,” lanjutnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kemudian dia berbicara lagi. Kali ini, lontarannya tak kurang dari bahasa kotor. Dari menyebutkan kotoran manusia, hewan, dan kata umpatan lainnya. Bahkan melontarkan kalimat, “Pecat saja,” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dia berdiam diri. Diisapnya rokok dalam-dalam. Dihembuskan lagi dengan kencang. Filter rokok digigit dan dikulumnya. “Ayo…kita makan sama-sama. Saya kan tidak salah. Saya antar sekolah lagi ya,” ucapnya lagi dengan suara yang nyaris tak terdengar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia seakan-akan sedang berbicara dengan orang lain dengan ekspresi wajah serius dan kerap tersenyum. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Bapak tinggal di mana?” tanya saya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Diam!” dia membentak. Saya kaget dan mundur beberapa langkah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Anjing, kamu,” ujarnya sambil berdiri. “Dasar orang gila,” ujarnya mengarahkan matanya ke saya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dia langsung berjalan kembali menelusuri trotoar. Sekira 100 meter dari tempat duduknya tadi, tiba-tiba hujan deras. Dia tetap tidak peduli dan terus berjalan. Sesekali matanya menoleh ke belakang, ke arah saya dengan mulut tak berhenti berbicara. Akhirnya hilang di antara kendaraan yang melintas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Satu mobil taksi berhenti di depan pintu Rumah Sakit Jiwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(RSJ) Dharmawangsa, Jakarta Selatan. Satu orang yang duduk di samping supir terlihat buru-buru keluar mobil untuk kemudian masuk ke dalam bangunan RSJ Dharmawangsa. Dia memanggil seorang satpam yang sedang berada di dekat pintu resepsionis. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Mas...mas…,pinjam kursi roda,” teriaknya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan tergesa-gesa. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kursi roda berpindah tangan. Dia langsung dorongkan ke dekat pintu taksi. Satpam tadi ikut membantu membuka pintu taksi bagian belakang. Dua orang laki-laki cepat keluar dari pintu belakang dengan wajah yang nampak ketakutan. Ternyata, tadi mereka duduk mengapit seorang lagi laki-laki yang sekarang sedang ditarik keluar taksi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kaki dan tangannya diikat dengan kain. Dia terus berontak, kakinya menendang-nendang. Dua orang pengapit itu bekerja ekstra keras menggotong, lantas meletakkannya ke atas kursi roda. Pria yang ‘ngamuk itu bertelanjang dada. Celananya terlihat kusam dan sobek-sobek.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Oleh satpam, langsung didorong ke dalam ruangan. Orang tuanya mengikuti dari belakang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Waduh, masih pagi begini sudah melayani orang gila,” ujar Tarsono, supir taksi itu kepada saya. Kesal. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tarsono mengambil kain dari &lt;i style=""&gt;dashboard&lt;/i&gt; taksinya. Dia basahi dengan air mineral dan langsung membersihkan bangku belakang taksinya. Tak lupa, ia semprotkan pengharum ruangan. “Takut &lt;i style=""&gt;apes&lt;/i&gt;,” tuturnya sambil tersenyum.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Penumpangnya itu naik dari kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Tarsono tak menyangka, penumpang yang memesan taksinya itu untuk mengakut orang tidak waras. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Tadinya, saya pikir biasa saja. Eh, pas di tengah jalan, ngamuk-ngamuk. Gila, &lt;i style=""&gt;gue&lt;/i&gt; sampai ketakutan. Akhirnya diikat oleh keluarganya.” Tarsono kemudian bergegas pergi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Satpam yang bernama Taufik, nampak lelah. “Ya, seperti ini, Mas, kerjanya. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; saja pasien yang baru masuk. Dari yang bawaannya tenang sampai yang bawaannya ngamuk.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Saya menemui orang tua pasien yang baru masuk tadi. Namanya Hadi. Dia mengenakan kopiah putih. Anaknya bernama Supri. Sudah dua bulan gelagat pikiran dan jiwanya agak terganggu. Stres akibat dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Semenjak kasus itu, Supri banyak berdiam diri. Tidak banyak bicara. Dia sudah mendatangi temannya menanyakan pekerjaan, tapi tetap tidak dapat. Ya…tiba-tiba teriak sendiri. Sesekali teriak. Sesekali juga kebanyakan diam.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Karena sudah tidak bisa dikontrol lagi amarahnya, akhirnya Hadi memutuskan agar anaknya menjalani terapi di RSJ Dharmawangsa untuk menormalkan kembali pikirannya. “Kalau malam, kadang dia mengamuk,” tuturnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;RSJ Dharmawangsa terletak di Jalan Dharmawangsa Raya, Jakarta Selatan. Tempatnya tak kelihatan seperti rumah sakit pada umumnya, melainkan seperti rumah tinggal yang mewah. Ini tempat untuk pelayanan bagi masyarakat yang membutuhkan perawatan kesehatan jiwa. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tempat ini kelihatan lebih rapi, bersih, dan tidak sumpek. Suasana ini kebalikan dengan panti-panti rehabilitasi kejiwaan milik pemerintah. Tak terawat, kotor dan nampak ironis. Maklum, RSJ Darmawangsa merupakan rumah sakit swasta untuk kalangan menengah ke atas. Tak ada kocek cukup, rasanya sulit berada di situ. Pelayanan resepsionis saja cukup tertata. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Untuk masuk ke dalam ruangan konsultasi sangatlah sulit. Hanya ada satu pintu yang dijaga seorang satpam. Setiap orang yang masuk atau keluar, pintu langsung dikunci. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Saya ditemui Danang Widodo, Public Relation RSJ Dharmawangsa. Orangnya ramah. “Kerja di tempat begini, harus selalu sabar,” ujar dia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Dulu saya pernah kena &lt;i style=""&gt;bogeman&lt;/i&gt; tangan ke muka. Yang memukul ya orang stres gitu,” ujarnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Gimana rasanya kena pukul?” tanya saya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Sakit &lt;i style=""&gt;banget&lt;/i&gt;. Tapi saya tidak boleh membalas. Harus sadar bahwa yang memukul adalah orang yang pikirannya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terganggu. Kita beruntung tidak seperti mereka,” jawabnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;RSJ Darmawangsa sudah berdiri sejak tahun 1961. Ini adalah RSJ tertua di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Tempat perawatan pasiennya tergolong lengkap. Tersedia berbagai sarana dan prasarana penunjang perawatan, seperti ruangan aktivitas kerajinan, ruangan untuk berolahraga, dan ruangan musik. Kamar pasien dibagi dalam kelas dari kelas standar hingga kelas VVIP. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jumlah pasien yang rawat inap mencapai 50 orang. Kategori gangguan jiwanya berbeda-beda, dari yang stadium rendah sampai tingkat gangguan jiwa yang paling parah. “Kita juga memberi peluang bagi masyarakat untuk mengonsultasikan kejiwaannya,” ujar Danang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Angka pasien di RSJ Darmawangsa hanya sebagian kecil dari jumlah penderita gangguan jiwa di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Data yang pernah dilansir Persatuan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa pada Juni 2007, diperkirakan 94 persen masyarakat Indonesia saat ini mengidap depresi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Depresi dapat menjadikan seseorang mengidap gangguan kejiwaan yang parah. Harus segera ditangani,” ujar Danang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Peningkatan tajam pengidap gangguan jiwa terjadi pada saat krisis moneter, tahun 1997, saat segala aspek perekonomian mulai goyah dan kalangan usaha hancur. Yang sudah pada titik depresi akhirnya meningkat ke posisi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;gangguan jiwa parah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Departemen Kesehatan memperkirakan, penderita gangguan jiwa meningkat setiap saat hingga mencapai 10 persen dari total penduduk &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sepuluh persen kategori gangguan jiwa (depresi) disebabkan kehilangan pekerjaan, harta benda, atau anggota keluarga. Untuk kategori kecemasan hanya 3—5 persen. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Waktu terus berputar. Penyakit ini tetap tak mengenal waktu dan tempat. Mungkin saja orang di sebelah Anda juga berkategori pengidap gangguan jiwa. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pagi, matahari belum memancarkan cahayanya. Di sebuah lorong di kawasan Cipayung, Jakarta Timur, tiga lelaki sibuk mengais sampah. Mereka tak banyak bicara. Satu orang yang mengenakan kaos coklat buram, membuka kantongan plastik warna hitam yang baru dipungutnya. Yang mengenakan kaos biru, berdiri sambil memandangi isinya. Dan seorang lagi yang mengenakan kaos putih, ikut membantu merogoh isinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Nasi dari kantong plastik sudah digenggam oleh lelaki berkaos putih. Dia melahapnya hingga bersih dari jari-jarinya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dua lelaki lain melakukan hal yang sama. Melahap nasi yang baru dipungutnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tak jauh dari mereka, masih di tempat sampah. Seorang lelaki duduk membelakangi jalan. Dia nampak serius menyantap potongan ayam yang baru ditemukan dari tumpukan sampah. Tak ada senyum. Tatapannya kosong. Dia sibuk mencuil sisa potongan ayam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Woi…masuk,” teriak seseorang dari kejauhan. Wajah mereka ketakutan dan langsung bergegas menuju arah orang yang memanggil.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hanya satu orang yang tidak peduli. Dia bersembunyi di dalam tempat sampah yang terbuat dari tembok sambil terus mengunyah makanan hasil kaisannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemandangan ironis ini mudah ditemukan setiap pagi di lorong sebelah kanan Panti Laras Harapan Sentosa II, Cipayung, Jakarta Timur. Ini adalah tempat penampungan penderita sakit jiwa yang diciduk dari segala penjuru jalanan Jakarta. Di situ juga berderet panti lainnya. Ada panti jompo, panti khusus balita, bahkan panti untuk kaum gelandangan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kelompok orang tak waras ini, begitu mudah ”meloloskan diri”. Setiap pagi, saat petugas akan memandikan, mereka dengan leluasa keluar sebentar mencari makanan atau puntung rokok yang berhamburan. Bahkan ada seorang yang dengan mudah berjalan ke arah keriuhan kendaraan di jalan utama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mereka lolos melalui tempat sampah panti. Sebagian lainnya, berdiri sambil berdiam diri di dekat gerbang yang terkunci. Ada yang duduk meringkuk dengan bertelanjang dada. Seorang perempuan dari balik kamar di lantai dua, terlihat tersenyum-senyum sendirian. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Panti Laras II berada di Jalan Raya Bina Marga, Cipayung. Mudah ditemukan, karena berada di sebelah kiri jalan besar arah Pondok Rangon. Ada gerbang dengan dua relief yang menggambarkan situasi yang dialami pasien di tempat itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Suasananya sejuk. Rindang oleh banyak pohon palem di dekat perkantorannya. Ditanami juga pohon rambutan dengan daunnya yang lebat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di sana ada beberapa gedung. Gedung bagian depan dijadikan perkantoran untuk staf Dinas Sosial DKI Jakarta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Gedung kedua adalah aula yang dipenuhi bangku dan kursi serta televisi yang tergantung di dinding. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Tiga orang pasien perempuan berada di tempat itu. Satu orang tertidur dan dua orang lain menikmati siaran televisi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Gedung ketiga berwarna hijau, terdiri dari dua lantai. Gedung ini menjadi tempat istirahat pasien. Di bagian kanan lantai satu jadi tempat makan dan dapurnya. Gedung ini berdekatan juga dengan ruang isolasi khusus bagi pasien ”liar” yang kerap mengamuk. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bagian belakang lainnya dijadikan tempat tinggal untuk staf tenaga honor. Mereka bertugas mengawasi dan memandikan pasien di pagi hari. Tak jauh dari aula, ada rumah kecil seperti gardu. Biasanya dijadikan tempat untuk latihan menganyam.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ada lapangan berukuran kecil yang tak jauh dari aula. Di sini biasa dijadikan tempat pasien berjemur. Mereka terlihat membisu dari balik jeruji pagar. Ada pasien lelaki yang berdiri bertelanjang dada, ada juga perempuan yang duduk meringkuk bersandar tembok aula. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Yang di sini, tempat penampungan orang gila yang liar,” ujar Teteh, seorang warga setempat. “Kalau yang agak normal, penampungannya masuk ke dalam kampung lagi.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Teteh tinggal di Cipayung sejak tahun 1980-an, karenanya tahu asal muasal Panti Laras. Dulu, cerita dia, wilayah Cipayung belum masuk listrik. &lt;/span&gt;Gelap gulita dan masih banyak pohon. Rumah-rumah penduduk belum banyak berdiri. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Jalanan belum beraspal dan rusak parah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Panti Laras belum sebagus saat ini. Sangat kumuh dan hanya dihuni 50 pasien, orang gangguan jiwa yang kena razia dari jalan-jalan di Jakarta. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Kalau ada pasien yang kabur, orang pada sibuk bawa lampu petromaks mencarinya. Pokoknya sampai dapat. Kalau tengah malam, kadang kedengaran mereka teriak-teriak. Kedengaran suara perempuan menangis. Sekarang sudah ramai, jadi agak tenang,” ujar Teteh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menurut data tahun 2007, jumlah pasien di tempat itu sudah mencapai 400 orang. Sebagian besar sudah hampir sembuh, dan ada yang masih terpaksa berada di ruang isolasi. Padahal, berdasarkan data dari dinas kesehatan DKI Jakarta, daya tampung tempat itu hanya 250 pasien. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menjelang siang, seorang pasien yang mengenakan kaos oranye bergambar mantan Gubernur DKI, Sutiyoso, keluar dari gerbang samping Panti Laras . &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;Dia berjalan ke arah warung, memesan teh botol dan mi ayam. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Makannya sangat lahap. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Sudah empat botol saya minum,” ujar dia. “Tadi pagi dua, sekarang tambah dua lagi,” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Nama saya Asep,” sapa dia mengucapkan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;namanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Umur kamu berapa,” tanya saya. Asep yang berada di sebelah kanan saya, menjawab dengan wajah bingung, “Lupa. Tanya &lt;i style=""&gt;aja&lt;/i&gt; ke petugas &lt;i style=""&gt;tuh&lt;/i&gt;.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pedagang mi ayam tersenyum dan menggelengkan kepalanya sambil memandangi wajah Asep. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Yang kamu ingat?” tanya saya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Pokoknya, saya ditangkap sudah empat tahun,” jawab Asep. “Mas, saya sudah empat tahun kan, di sini?” ujar Asep mengarah ke pedagang mi ayam yang dijawab dengan anggukan kepala. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Penilaian dari Panti Laras, Asep sekarang sudah sedikit waras dan tidak seperti dulu. “Dulu saya suka ngamuk-ngamuk. Habis, bapak saya galak. Suka ’mukul. Akhirnya saya kabur. Eh…kena razia dibawa ke sini.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Asep masih ingat tempat tinggalnya di Tanah Abang. Dia anak pertama dari enam bersaudara. Ayahnya kerap memperlakukan dirinya dengan kasar. Hampir setiap hari dia dimarahi dan dipukul orang tuanya. Kejadian ini membuat jiwa Asep terganggu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Empat tahun lalu, saat dirinya tertidur di emperan Stasiun Jatinegara, Jakarta Timur, dia kena razia, tanpa tahu hendak dibawa ke mana. “Sampai di sini, langsung dimasukkan ke isolasi. Ada yang telanjang, ada yang diikat. Macam-macam,” Asep sambil menyantap mie ayam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Saya tahu penyebabnya ya pas &lt;i style=""&gt;diceritain&lt;/i&gt; sama penjaga. Tadinya, &lt;i style=""&gt;nggak&lt;/i&gt; tahu. Mana ingat semua? Kayaknya, dulu, bawaannya selalu ketakutan terus.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Saya betah di sini,” ujarnya. “Dikasih makan gratis, terus setiap bulan dikasih uang lima ribu. Kan saya diperkerjakan juga. Bersih-bersih tempat tidur sama &lt;i style=""&gt;nyiapin&lt;/i&gt; makan,” ujarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Di sela itu, seorang perempuan berambut plontos dengan tubuh yang kurus, keluar dari gerbang. Dia berjalan lamban. Oleh Asep, perempuan ini dipanggil Erna. “Erna, mau difoto nih.” Erna tersenyum. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Erna mengambil pose berdiri. Dia tersenyum namun matanya tertutup. “Dibuka &lt;i style=""&gt;dong&lt;/i&gt; matanya,” kata Asep. Erna mengikutinya. Matanya terbuka sedikit saja. Usai difoto, Erna mendekati warung. Semangkuk mi ayam yang bukan pesanannya, disantap. Kemudian Erna masuk kembali. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Lihat anak-anak sekolah, kangen sama adik-adik saya,” ujar Asep sambil berlalu menyusul langkah Erna. Pintu gerbang kemudian tertutup rapat. Menutup kisah Asep dan Erna pagi itu di luar pintu panti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-2779204601524133301?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/2779204601524133301/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=2779204601524133301' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/2779204601524133301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/2779204601524133301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2008/04/sebenarnya-siapa-yang-gila.html' title='Sebenarnya, Siapa yang Gila?'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-272057261553956498</id><published>2008-04-06T00:59:00.001-07:00</published><updated>2008-04-06T00:59:47.824-07:00</updated><title type='text'>Berdamai dengan Maut</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Seorang lelaki &lt;/span&gt;terbaring lemah. Tak bisa menggerakkan tubuhnya. Matanya sayu seakan ada beban yang memberati kelopaknya. Ingin sekali berbicara, tapi dari bibirnya hanya mengeluarkan ludah berbusa. Hanya terdengar suara sayup-sayup sambil&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tangannya bergerak memberi isyarat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Dia terbujur tak berdaya, di sebuah kamar yang nampak lusuh dan kusam. Di kasur berukuran kecil, badannya lebih banyak meringkuk dengan kaki dikepit tangannya sendiri. Dingin. Ruangan itu tanpa pendingin udara dan kipas angin, tapi badannya tetap bertutupkan selimut tebal. Hanya bagian muka yang tersisa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Lelaki itu bernama Sudraji, berusia 33 tahun. Keluarganya terhenyak kaget ketika dokter&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memvonis&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dia mengidap HIV (&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;human immunodeficiency virus&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;) &lt;/span&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Istrinya, Rahtia,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hanya terdiam, matanya meneteskan air mata. Sedih.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia mendekap anaknya yang masih berusia satu tahun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Rahtia panik. Ia khawatir di tubuhnya serta anaknya sudah ditulari penyakit itu. Dia memeriksakan kesehatannya dan anaknya. Bersyukur, dokter menyatakan negatif alias virus itu tidak menular ke dirinya juga anaknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;“Saya usahakan memisahkan anak agar tak melihat kondisi ayahnya supaya mentalnya tidak terganggu. Saya hanya berdoa, semoga virus mematikan itu bisa segera hilang dan dia dapat kembali menjalankan aktivitas kerjanya,” ujar Rahtia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Virus HIV adalah sebuah &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Retrovirus" title="Retrovirus"&gt;&lt;span style="color: black; text-decoration: none;" lang="SV"&gt;retrovirus&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt; yang menginfeksi sel &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_kekebalan_tubuh" title="Sistem kekebalan tubuh"&gt;&lt;span style="color: black; text-decoration: none;" lang="SV"&gt;sistem kekebalan tubuh&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt; manusia, terutama &lt;i style=""&gt;CD4+ &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=T_cell&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="T cell (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="color: black; text-decoration: none;" lang="SV"&gt;T cell&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt; dan &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Macrophage&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Macrophage (belum dibuat)"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: black; text-decoration: none;" lang="SV"&gt;macrophag&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: black; text-decoration: none;" lang="SV"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;, yang merupakan komponen vital dari sistem sistem kekebalan tubuh. HIV merupakan penyebab dasar &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/AIDS" title="AIDS"&gt;&lt;span style="color: black; text-decoration: none;" lang="SV"&gt;AIDS&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt; (&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;a&lt;span style=""&gt;cquired&lt;/span&gt; i&lt;span style=""&gt;mmune&lt;/span&gt; d&lt;span style=""&gt;eficiency&lt;/span&gt; s&lt;span style=""&gt;yndrome&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Data statistik dari Departemen Kesehatan RI, penderita HIV/AIDS hingga Desember 2007 mencapai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;11.141 jiwa. Tertinggi di Provinsi Papua, DKI Jakarta, Bali, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Maluku, Papua Barat, Bangka Belitung, dan Sulawesi Utara. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada kelompok umur 20—29 tahun sebanyak 54,05 persen, disusul kelompok umur 30—39 tahun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;27,96 persen, dan kelompok umur 40—49 tahun kisaran 8,03 persen. &lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Penderita yang tertular akibat jarum suntik (IDU) kisaran 49,9 persen. Heteroseksual 41,9 persen, dan homoseksual 3,9 persen. &lt;span style="color: black;"&gt;Suradji menjadi satu sekian ribu penderita lainnya yang tertular dari jarum suntik narkoba yang dikonsumsi beramai-ramai. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Nggak ada yang nyangka. Padahal sudah setahun ini dia tidak pernah menyentuh narkoba lagi. Pokoknya, sejak menikah dan punya anak, dia sudah langsung berangkat ke Palembang untuk bekerja,” ujar Andri, adik Sudraji. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Andri penasaran, Ingin tahu asal muasal virus mematikan itu hingga bersarang di tubuh kakaknya. Sudraji dipaksa menceritakan semua. Samar-samar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sudraji ingat,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terakhir kali menikmatinya dengan teman sekolahnya dulu. Satu jarum suntik berisi cairan narkoba digunakan bersama-sama dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;empat temannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Berdasar informasi itu, Andri pergi melacak. Dia datangi tempat yang biasa jadi tongkrongan kakaknya yang hanya berjarak 200 meter dari rumahnya. Andri kaget. Seorang ibu bercerita sambil menangis. Satu dari empat orang teman Sudraji ternyata sudah meninggal lebih&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dulu oleh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;HIV/AIDS. Kini, anak ibu itu juga sedang bertarung dengan virus itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Tak ada yang dapat disalahkan. Sudraji harus menjalani pengobatan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ia diisolasi di dalam kamar. Sebulan setelah vonis itu, kondisi &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tubuhnya semakin layu. Hanya bisa berbaring dan rebahan di atas kasurnya. Saat saya melihatnya, Sudraji tak seperti sosok lelaki yang saya kenal tiga tahun lalu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Andri dan Rahtia setiap saat selalu menengoknya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Menanyakan kemauannya. Dari minta dibuatkan minuman hingga minta bantu dibukakan celana saat ingin buang hajat. Suaranya lemah. Setiap minta dibacakan Alquran, Andri nampak bersedih. Dia memenuhi keinginan abangnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Alquran yang ditaruh di samping kepala Suradji &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dibaca Andri persis di telinga kirinya. Tak lama kemudian, Suradji terlelap tidur. Andri terlihat bersedih. Ingin menangis. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Saat ingin meninggalkannya, Andri menyempatkan diri mengambil baskom yang menjadi tempat penampungan air kencing kakaknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;“Sering, kalau minta ngaji, aku sering ketakutan. Ngebayangi hal yang tidak-tidak,” ujar Andri. Rahtia bahkan tak bisa memberikan cerita apa-apa tentang suaminya. “Tak tega”, katanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Karena tubuhnya kian lemah, Suradji harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta. Macam-macam obat disuntikkan ke tubuhnya. Keluarga sudah pasrah jika memang harus melepas Sudraji saat itu. Istrinya selalu menangis, namun tak bisa berbuat banyak selain berdoa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Memasuki bulan kedua di rumah sakit, kesehatannya mulai pulih. Dia sudah bisa tersenyum dan kembali mengendong anaknya. Namun virus HIV masih mengendap di sel-sel darahnya. Dia harus tetap memasukan cairan obat untuk mengurangi penyebaran virus&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;itu ke sel darahnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Kini, Sudraji sudah kembali bekerja. Menjalani aktivitas hari-hari bersama istri dan anaknya di Palembang,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sumatera Selatan. “Tobat. Sesak rasanya. Seakan-akan maut sudah siap menanti setiap saat,” ujarnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-272057261553956498?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/272057261553956498/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=272057261553956498' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/272057261553956498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/272057261553956498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2008/04/berdamai-dengan-maut.html' title='Berdamai dengan Maut'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-5612618688411300966</id><published>2008-04-06T00:57:00.000-07:00</published><updated>2008-04-06T00:58:07.021-07:00</updated><title type='text'>Menanti Obituari</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Rumah di pinggir&lt;/span&gt; Jalan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Katamso, Sragen, Jawa Tengah, terlihat sunyi. Pintu yang terbuat dari kayu setinggi 1.5 meter, tertutup rapat. Dari luar, rumah itu nampak sederhana. Seluruh dindingnya terbuat dari kayu, bagian atapnya masih dengan genting model lawas yang kerap bocor. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Silahkan masuk ke gubuk saya,” sapa Sriniwoko Hendrasto, 42 tahun, penghuni rumah itu sambil membukakan pintu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Remang-remang. Hanya ada satu lampu pijar 25 watt yang menggantung di satu pondasi bagian tengah. Dia mengambil lampu neon 10 watt dan digantungkan di pondasi satunya lagi. Terang. Hampir seluruh ruangan berukuran sekira 4 x 3 meter itu, ternyata ditumpuki peti mayat dua susun. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tumpukan peti mati, berjajar empat baris. Baris pertama adalah dua tumpukan peti mati untuk jenazah yang beragama Islam, dan tiga deret lagi masing-masing dua tumpuk peti mati untuk jenazah beragama Nasrani. Modelnya memang beda-beda. Dari yang sudah terbungkus kain, sudah bercat putih, dan ada yang berwarna coklat kayu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Barang-barang itu adalah barang dagangannya. “Dua peti yang harganya Rp5 juta sudah dipesan, tapi orangnya belum mati-mati juga. Makin cepat mati, makin cepat juga dapat duit,” ujar Titoet, nama panggilan Sriniwoko Hendrasto. Dia tertawa menyambung kalimat terakhir. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Di kartu nama yang ia sodorkan tertulis “Obituari (Berita Kematian) : menyediakan sarana kematian dengan corak dan model beragam”. Usaha membuat peti mati ini baru dilakoninya dua tahun terakhir. Sedangkan profesi yang sudah dikerjakan sejak &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; tahun lalu adalah menjadi perias jenazah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Tadinya cuma perias mayat. Agar konsumen tidak kesulitan mendapatkan peti mati, pikir-pikir, sekalian saja saya jualan juga. Ini semua barang titipan orang yang membuatkannya,” ujar Titoet. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Profesi perias jenazah berawal ketika dirinya bekerja di pelayanan Gereja di Sragen, Jawa Tengah. Di tempat itu, dia mendapat gaji Rp600 ribu setiap bulannya. Dan setiap saat urusannya memandikan mayat melulu. Dia juga yang merias mayatnya agar terlihat lebih cantik dan gagah, bahkan bisa terlihat tersenyum.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Setelah setahun lamanya, ia memutuskan untuk membuka usaha sendiri di bidang yang sama, sambil tetap bergabung dengan pelayanan gereja. Bagi orang yang membutuhkan jasanya, setiap saat dan kapan pun, Titoet siap melayani. Tak hanya wilayah Sragen, Titoet pernah mendapat order merias jenazah di Pasuruan, Jawa Timur. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Orang mati, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; nggak bisa ditentukan jamnya. Kadang ada orang yang butuh ketika tengah malam dan pasti kebingungan mendapatkan perias mayat. Akhirnya, saya berinisiatif untuk bekerja sendiri di bidang pelayanan jenazah ini.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Suatu hari di tengah malam, telepon selulernya berdering. Seorang perempuan kenalannya menyampaikan kabar kematian suaminya akibat kecelakaan di Jawa Timur. Titoet langsung sibuk menyiapkan perlengkapannya, yakni bedak, kapas kosmetik, kain, dan perlengkapan kosmetik. Tak luput, dia juga membawa peti mati yang ditaruh di dalam mobil ambulans. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tiba di rumah duka, baru diketahui Titoet bahwa tubuh jenazah bagian muka sudah rusak. Dia mengambil benang dan jarum dari kotak perlengkapannya. Agar tak nampak bekas lukanya, perlahan-lahan dia menjahit wajah mayat itu. Hasilnya sempurna. Dia langsung memolesinya dengan bedak dan bubuk khusus lainnya untuk menutupi bekas luka. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Kalau masih bisa dijahit dan wajahnya dapat didandani, perias mayat harus memikirkan agar mayat itu terlihat tersenyum dan tidak memperlihatkan wajah sedih. Sehingga pada saat melayat, orang tidak ketakutan dan bertambah sedih.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jika kondisi mayat sudah rusak parah dan sangat tidak memungkinkan untuk didandani, dia angkat tangan alias menyerah. Jalan satu-satunya untuk menyiasati hal tersebut adalah dengan menutupi bagian yang rusak menggunakan kain dan hanya memperlihatkan bagian yang masih utuh. “Yang terpenting, keluarga tidak mudah sedih. Hanya itu yang selalu kita pikirkan,” tuturnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Yang paling mengerikan, cerita Titoet, saat mendapat orderan merias mayat dengan tubuh terbakar. Seluruh badannya sudah hitam menjadi arang. Titoet bingung. Dia kehabisan akal menyiasati kasus ini. Menyerah. Posisi jenazah hangus itu adalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;meringkuk dengan tangan memeluk kakinya yang tertekuk. Walau Titoet sudah mengolesinya dengan minyak agar tubuh jenazah itu bisa diluruskan, hasilnya tetap nihil.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tanpa pikir panjang lagi, Titoet membuatkan peti mati yang tak biasanya dia bawa. Mayat itu diangkatnya dan langsung dimasukkan dengan posisi tubuh tetap meringkuk. Seluruh bagian peti dipaku rapat. “Sebelumnya, sudah saya diskusikan dulu dengan keluarga korban. Itulah jalan terakhir, daripada pelayat ketakutan, langsung dikuburkan saja.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Orderan yang dilakoninya, tak mengenal waktu. Telepon selulernya siap melayani tanpa mengenal tempat. Soal bayaran, dia mengatakan, sifatnya sukarela. Dia tidak mematok harga untuk jasanya alias saling pengertian saja. Jika dari keluarga tidak mampu, Titoet rela tidak mendapatkan uang. Khusus peti mati, dia memasang harga. Yang termurah seharga Rp500 ribu dan termahal Rp5 juta. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Tapi, kalau pas dari keluarga tidak mampu yang menginginkan peti mati, biasanya saya siap buatkan peti mati yang sederhana saja.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ya…mungkin hanya kayu kualitas rendahan. Saya cuma siap membantu. &lt;i style=""&gt;Nggak&lt;/i&gt; harus patok harga.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sudah banyak catatan jenazah yang terdata dalam ingatannya. Sudah banyak rupa jenazah yang didandaninya. Jenazah perempuan dan laki-laki, dia tangani sendiri. Titoet juga, kini setiap saat menerima kabar kematian. Obiatuary yang berdering di telepon selulernya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-5612618688411300966?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/5612618688411300966/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=5612618688411300966' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/5612618688411300966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/5612618688411300966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2008/04/menanti-obituari.html' title='Menanti Obituari'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-1138047639221640495</id><published>2008-04-06T00:55:00.000-07:00</published><updated>2008-04-06T00:56:41.657-07:00</updated><title type='text'>Memahat Keabadian</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Satu lorong&lt;/span&gt; di Jalan Radio Muara, Jakarta Timur. Dua orang lelaki duduk di bangku plastik yang dudukannya ditempeli busa agar terasa empuk. Tangan kanannya menggenggam palu kecil yang diayunkan ke atas besi bermata tajam yang dipegang tangan kirinya, memahat granit datar. Matanya tajam mengamati setiap lekuk huruf yang dipahatnya. Sesekali ia meniup keras hasil pahatan untuk membersihkan serpihan halus granit. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mereka bukan pekerja seni patung. Dua orang itu pembuat ukiran nama yang dijadikan batu nisan. Adalah Tatung yang usianya 54 tahun dan Robin yang berusia 33 tahun. Keseharian keduanya adalah memahat nama-nama orang yang meninggal dunia. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Pekerjaan yang sudah dilakoni sejak bertahun-tahun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Rumah tempat mereka bekerja adalah &lt;span style="color: black;"&gt;milik Satiri, sang pemilik usaha&lt;/span&gt; yang menggeluti bisnis ini secara turun temurun. Tatung, Robin dan sejumlah laki-laki lain adalah pekerjanya. Ada yang bertugas membuat cetakan batu nisan di halaman depan. Dan ada yang tugasnya hanya membuat ukiran nama di batu nisan yang berada di samping gang rumah Satiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tatung terbilang paling banyak punya jam terbang, karena sudah 30 tahun memahat nisan. Dia sudah tidak gundah lagi mengukir satu persatu nama. Sudah ratusan, bahkan ribuan, nama yang dia torehkan. Di antara nama-nama yang tak dikenalnya, tak sedikit nama tetangga yang memesan batu penghias kuburan ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sudah tak ada kecanggungan lagi mengukir&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kalimat berbahasa Arab di batu marmer dan batu jenis lainnya. Dengan kaca mata tebalnya, Tatung masih mampu mengatur pahatannya di batu sekeras apa pun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Yang paling berat mengukir batu granit. Batu kan keras. Sebenarnya sih, semuanya sama keras. Marmer juga cukup alot. Untuk batuan ini, sehari bisa selesai tiga batu nisan,” ujar Tatung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada awal menjadi pemahat batu nisan, Tatung tidak punya pikiran apa pun. Dalam benaknya, pekerjaan ini hanya mendatangkan penghasilan untuk membiayai pendidikan tiga orang anaknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Namun di usia senjanya kini, kadang-kadang terlintas pikiran yang menurutnya sendiri aneh. Tatung sering membayangkan namanyalah yang terukir di batu nisan itu. “Merinding kalau &lt;i style=""&gt;ngebayangin&lt;/i&gt; itu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Apalagi usia saya sudah tua begini. &lt;i style=""&gt;Nggak&lt;/i&gt; tahu kapan maut menjemput. Ketika berhadapan dengan batu nisan yang saya pahat, ada rasa mengerikan juga. Tapi harus dipasrahkan kepada Tuhan. Kan semua orang pasti bertemu dengan mati,” ujarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Jika nanti maut benar-benar menjemput, Tatung tidak berharap anaknya akan membuatkan batu nisan mewah yang setiap hari dipahatnya. Bukan apa-apa, tak akan terjangkau harganya. Bayangkan, harga batu nisan yang paling murah saja Rp450 ribu, sedangkan yang mahal mencapai Rp4 jutaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Cukup dari kayu saja. Kasihan anak-anak kalau dibebani juga. Apalagi batu nisan bukan barang murah. Untuk hidup sehari-hari saja sudah pas-pasan,” ujarnya, tersenyum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Robin yang berada di sebelah Tatung ikut tersenyum mendengar penjelasan rekannya tersebut. “Wah, masa tukang ukir nama orang mati, terus pengukirnya mati bikin sendiri namanya. Tapi menarik juga tuh idenya,” ujar dia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Umumnya, ada dua jenis ukiran nisan yang mereka buat. Kutipan ayat Quran untuk kuburan Muslim dan salib untuk kuburan penganut Kristiani.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Banyak juga yang memesanan tulisan yang diambil dari surat di Alkitab. Pokoknya terserah keinginan pemesan saja. Kita tinggal membuatkan. Mau yang ukuran besar atau kecil, gampang &lt;i style=""&gt;dilakoni&lt;/i&gt;,” ujar Robin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dari lokasi pemahatan, Robin pindah ke lokasi pencetakan nisan di halaman depan yang hanya berjarak tiga meter dari lokasi pemahatan. Beratap seng penahan sinar matahari. Sebagian nisan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;masih separuh jadi dengan balutan semen, dan sebagian nisan sudah jadi. Nisan-nisan yang sudah jadi dijajarkan rapi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Di situ sudah ada seseorang yang mengaduk semen dan pasir sebagai bahan utama pembuatan batu nisan. “Ini proses pembuatan bahan dasarnya. Nanti, nama yang sudah diukir tinggal ditempel di cetakan yang setengah jadi,” kata orang yang biasa disapa Gondrong itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Robin sibuk memoleskan cat kuning ke seluruh lapisan batu nisan yang namanya sudah selesai diukirnya. Hasilnya memang indah. Jadi terlihat mencolok. Robin mengusapnya dengan lembut. Tahap akhirnya adalah melapisi butiran emas di setiap hurufnya. Nama yang tertera di batu nisan tampak berkilauan. Robin menggosoknya sekali lagi ke seluruh lapisan batu nisan. “Supaya kesannya mewah. Masa orang mati kesannya sedih,” kata dia, tersenyum sambil terus bekerja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Batu-batu nisan pahatan Tatung dan Robin kini tinggal menunggu diambil pemesannya. Keduanya sama-sama berharap, batu nisan itu tidak menempel pada makam mereka nanti, cukup kesan baik yang menempel di hati orang-orang tercinta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-1138047639221640495?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/1138047639221640495/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=1138047639221640495' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/1138047639221640495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/1138047639221640495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2008/04/memahat-keabadian.html' title='Memahat Keabadian'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-1763270453188160254</id><published>2008-04-06T00:54:00.000-07:00</published><updated>2008-04-06T00:55:17.170-07:00</updated><title type='text'>Pesta Zero di Embassy</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Santai sambil&lt;/span&gt; mendengarkan musik cepat. Suasana seperti inilah yang terlihat di Embassy Club, Taman Ria Senayan, Jakarta Selatan. Di lantai dansa utama, suasana Embassy tak lebih sama dengan malam-malam akhir minggu sebelumnya. DJ setempat memainkan musik yang mengiringi klaber berjoget. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bartender sesekali menampilkan atraksi &lt;i style=""&gt;juggling &lt;/i&gt;yang cukup memukau dan jadi hiburan sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Dua orang pria yang berada di dek bagian tengah, sibuk mengatur mixing DJ dengan alunan musik cepatnya. Nampak piawai. Sesekali musik terdengar dimainkan dalam tempo rendah, kencang, dan dipercepat. Bersamaan dengan kecepatan musik, lampu sorot warna hijau memancar dari atas tengah ruangan mengarah ke dancefloor yang masih sepi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Lampu-lampu yang dipancarkan tak segemerlap tempat dugem pada umumnya. Keramaian hanya terlihat memenuhi meja yang mengelilingi lantai dansa. Namun tak sedikit yang memilih berdiri hanya sekadar bercengkerama dengan temannya sambil menggenggam sebotol minuman. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Perhelatan yang paling ramai, justru berlangsung di Balcony yang terletak di lantai dua. &lt;span style="" lang="IT"&gt;Di tempat itulah perusahaan minuman Coca Cola membuat pesta peluncuran Coca Cola Zero, produk minuman bersoda dengan kandungan gula &lt;i style=""&gt;zero&lt;/i&gt; alias nol. Acara tersebut dimeriahkan alunan musik DJ Winky Wiryawan yang juga seorang aktor film. Ia tampil bersama istrinya, Kenes, sebagai pembawa acara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Acara yang berlangsung tepat pukul 00.00 WIB, Sabtu (23/2) itu, telah dipadati oleh undangan. &lt;/span&gt;Tempatnya yang tidak terlalu luas, semakin membuat suasana terasa sesak. Bangku yang dekat bertander, sudah terisi. Begitu juga &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;di dancefloor dekat dek. Selain berdisko, peluncuran tersebut dimeriahkan hiburan permainan sulap dan dancer.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Menyaksikan orang dugem dari Balcony, jadi pemandangan yang mengasyikkan. Dari lantai atas, kita bisa melihat sekeliling dancefloor Embassy Club.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Musik DJ yang tadinya dimainkan oleh dua orang pria, kini berganti dimainkan oleh seorang DJ perempuan berkemeja putih dengan rambut terurai yang didampingi oleh tiga pria. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Penataan dek DJ punya kesan berbeda dengan tempat dugem lainnya. Bagian tengahnya dihiasi kepala pesawat dan speaker kanan kirinya digambari baring-baringnya. Lampu yang menyorot lantai dansa didominasi warna ungu dan hijau. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Walaupun tidak terlalu padat dikunjungi klaber, suasana dugem tetap saja terasa. Di bagian kanan dek DJ, sekelompok pria terlihat tertawa sambil menyaksikan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; rekannya yang bergoyang dengan riangnya. Dan di sebelah kiri dek, sekelompok perempuan dengan rekan prianya, juga melakukan hal yang sama. &lt;span style="" lang="IT"&gt;Komunitas ini seakan menikmat waktu malamnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;“Suasana di sini lebih santai. Bisa ngobrol leluasa dan memang situasinya beda dengan tempat dugem yang lain. Kalau ingin dugem banget, di sini bukan tempatnya. &lt;/span&gt;Tempat lainnya, masih banyak,” ujar Ricki, pengunjung Embassy Club.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Malam sudah semakin larut. Walaupun Jakarta sedang turun hujan, Embassy Club semakin didatangi klaber yang ingin menikmati malam akhir pekan. Musik cepat permainan DJ, semakin kian kencang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-1763270453188160254?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/1763270453188160254/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=1763270453188160254' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/1763270453188160254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/1763270453188160254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2008/04/pesta-zero-di-embassy.html' title='Pesta Zero di Embassy'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-3109833085076865713</id><published>2008-04-06T00:53:00.000-07:00</published><updated>2008-04-06T00:54:06.472-07:00</updated><title type='text'>Malam Bulgary Club</title><content type='html'>&lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Bertambah &lt;/span&gt;satu lagi klab dimana para eksekutif muda dapat berkumpul bersama mitra bisnis atau hanya sekadar melepas kepenatan setelah disibukkan dengan pekerjaan. Bertambahnya klab-klab malam ini,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memang sesuai dengan kebutuhan para eksekutif muda yang dinamis dan memerlukan tempat untuk &lt;i&gt;meeting&lt;/i&gt; atau bersantai serta menikmati malam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;"&gt;Bertempat di pusat bisnis Jakarta, Bulgary Club yang berlokasi di Jalan Hayam Wuruk ini, baru saja melangsungkan acara &lt;i style=""&gt;Grand Opening&lt;/i&gt; pada pekan lalu. Sebuah pesta yang diberi tema &lt;i&gt;Fashion Unleashed&lt;/i&gt; berlangsung sangat meriah. “Dengan terus berkembangnya klab-klab eksklusif ini, para eksekutif muda dapat bersantai sambil menikmati malam,” ujar &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Edhi Sumadi, &lt;i&gt;Country Manager&lt;/i&gt; Pernod Ricard &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;"&gt;Kemeriahan Chivas Party &lt;i&gt;Fashion Unleashed&lt;/i&gt; ini terasa saat memasuki Bulgary Club yang terletak di lantai empat. Dekorasi yang sangat meriah terlihat di seluruh ruangan. Beberapa Chivas Female Presenter terlihat menyambut kehadiran para eksekutif muda yang secara khusus diundang untuk menghadiri acara &lt;i style=""&gt;grand opening &lt;/i&gt;Bulgary Club.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;"&gt;Be’Party band menjadi pembuka acara dengan membawakan lagu-lagu yang populer saat ini di tanah air.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kemeriahan bertambah dengan tampilnya Judika dan Maya dari Indonesian Idol 2005 yang malam itu, secara khusus membawakan beberapa lagu untuk menghibur pengunjung Bulgary Club. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;"&gt;Suasana semakin semarak saat Chivas Female Presenter yang berjumlah 10 orang, naik ke panggung dan mengajak para undangan untuk berdansa mengikuti musik yang dimainkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;oleh DJ Hans, DJ Mickey dan DJ Samuel secara bergantian. Tidak itu saja, gadis-gadis cantik cantik dan seksi dari Bulgary Club pun tidak mau ketinggalan. Mereka juga naik panggung dan berdansa bersama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;"&gt;Secara khusus pula, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;malam itu desainer Merdi Sihombing menampilkan beberapa gaun yang elegan dan dinamis yang disesuaikan dengan tema &lt;i style=""&gt;Fashion Unleashed&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;" lang="IT"&gt;Beberapa model tampil dengan busana yang apik, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;namun di sisi lain menampilkan simbol-simbol maskulin. Pertunjukan yang menarik untuk dinikmati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;" lang="IT"&gt;DJ Milinka yang sudah beberapa kali tampil di setiap &lt;i style=""&gt;Chivas Party&lt;/i&gt; juga ikut memeriahkan suasana.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;DJ cantik ini, mengenakan baju seksi berwarna merah. Detuman musik cepat dimainkan dengan piawai, sehingga membuat klaber terbawa suasana yang semakin meriah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;" lang="IT"&gt;Musik-musik yang dimainkan DJ Milinka,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;langsung menghangatkan &lt;i style=""&gt;dance floor&lt;/i&gt; yang memang sudah sejak awal acara berlangsung dipenuhi oleh para undangan. Semakin ramai, di akhir acara ini, penari-penari cantik yang tergabung dalam Buanika Dancer, menjadikan malam semakin riuh. &lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-3109833085076865713?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/3109833085076865713/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=3109833085076865713' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/3109833085076865713'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/3109833085076865713'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2008/04/malam-bulgary-club.html' title='Malam Bulgary Club'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-2829352547110928185</id><published>2008-04-06T00:52:00.001-07:00</published><updated>2008-04-06T00:52:53.181-07:00</updated><title type='text'>Aroma Cigar dan The Glenlivet</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen; color: windowtext;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Melangsungkan &lt;/span&gt;pertemuan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dengan suasana santai setelah jam kantor belakangan ini menjadi tren masyarakat metropolitan seperti &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;. Lounge-lounge eksklusif yang biasa menjadi tempat bertemunya para CEO dari sejumlah perusahaan nasional hingga multi nasional terlihat penuh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen; color: windowtext;"&gt;Bahkan ada beberapa lounge yang ada di lingkungan prestisius, bila akan mengadakan meeting harus RSVP terlebih dahulu. Kalaupun Anda hadir tanpa RSVP terlebih dahulu, maka Anda akan memperoleh posisi sofa yang kurang strategis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen; color: windowtext;"&gt;Sesuai dengan lokasi dimana meeting tersebut dilangsungkan, pihak pengelola lounge juga menyediakan berbagai makanan dan minuman, tentunya yang disesuaikan dengan selera para eksekutif dan CEO. Beberapa lounge hanya menyediakan makanan ringan dan berbagai minuman koktail&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang tepat sebagai pendamping saat meeting berlangsung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen; color: windowtext;"&gt;Bila akan dinner, sudah tersedia ruang restoran yang letaknya tidak jauh dari lounge tersebut. Di restauran, meeting bisanya dilanjutnya sambil menikmati pilihan menu-menu yang memang sesuai selera para eksekutif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen; color: windowtext;"&gt;Bertempat di Lounge The Ritz &lt;st1:city st="on"&gt;Carlton&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;, &lt;st1:street st="on"&gt;&lt;st1:address st="on"&gt;Pasific Place&lt;/st1:address&gt;&lt;/st1:Street&gt; saat ini sedang diselenggarakan sebuah acara yang diberi tema The Glenlivet Malt &amp;amp; Cigar. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen; color: windowtext;" lang="IT"&gt;Dimana setiap hari Kamis diadakan promosi minuman The Glenlivet dan promosi cerutu dari produk ternama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen; color: windowtext;" lang="IT"&gt;Ada hal menarik bila Anda berkunjung ke sana, sekitar pukul 21.00 ada seorang wanita yang secara khusus menggulung lembar-lembar daun tembakau menjadi gulungan-gulungan cerutu. Anda berminat menghisap cerutu, dapat langsung memesan ukuran cerutu sesuai selera Anda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen; color: windowtext;" lang="IT"&gt;“Cita rasa The Glenlivet ini punya keistimewaan, selain aroma khas yang dihasilkan dari minuman ini. Beberapa penggemar minuman ini tidak mencampur dengan cola, tapi hanya dengan es batu saja. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen; color: windowtext;"&gt;Dengan demikian rasa “malt” benar-benar terasa, “ jelas Edhi Sumadi, &lt;i&gt;Country Manager&lt;/i&gt; Pernod Rirard &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen; color: windowtext;"&gt;Memang untuk sebagian masyarakat belum terbiasa dengan rasa “malt” ini, tapi bagi eksekutif yang telah mengikuti pergaulan internasional, tentu sudah terbiasa. Meeting menjadi lebih berwarna dengan kehadiran minuman ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen; color: windowtext;"&gt;Rasa khas yang dihasilkan dari The Glenlivet ini terasa semakin nikmat jika dipadukan dengan hisapan cerutu. Menurut pendapat beberapa masyarakat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang pernah menikmati The Glenlivet dan cerutu mengakui mendapatkan kepuasan bila bisa menikmati keduannya secara bersamaan. Demikian pula aroma yang dihasilkan oleh keduanya, mengharumkan ruangan di sekitarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-2829352547110928185?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/2829352547110928185/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=2829352547110928185' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/2829352547110928185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/2829352547110928185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2008/04/aroma-cigar-dan-glenlivet.html' title='Aroma Cigar dan The Glenlivet'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-2114308414965897255</id><published>2008-04-06T00:49:00.000-07:00</published><updated>2008-04-06T00:51:18.049-07:00</updated><title type='text'>Geletar Manja Pinkan Mambo</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 102, 102);"&gt;Tempat dugem&lt;/span&gt; V2 Pub Lounge Karaoke Jakarta, sudah dipenuhi klaber. Iringan musik cepat yang dimainkan seorang DJ pria, membangkitkan adrenalin untuk menikmatinya sambil bergoyang. Sambil menikmati musik, mereka menanti puncak acara yang dijanjikan panitia. Ya. Malam itu, suasana pesta akan dimeriahkan penyanyi kenamaan ibukota, Pinkan Mambo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengusung tema The Chivas Escapade Dassling Encounter, pesta yang berlangsung pada Jumat (28/3) itu kembali menampilkan selebriti sebagai hiburan utama. Sebelumnya, merek minuman beralkohol ini pernah menghadirkan Ussy Susilowati dan artis lainnya untuk mengalunkan suaranya di tempat yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum penampilan Pinkan, para profesional muda yang hadir dalam acara ini dihibur dengan penampilan  Valencia band. Bagi profesional muda yang biasa hadir di eksekutif-eksekutif lounge di Jakarta ini tentu sudah kenal dengan penampilan grup musik ini.  Resident DJ Daniel, DJ Vito dan DJ Ardi sangat berperan dalam suksesnya pesta malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Chivas untuk rencana yang akan datang, akan selalu mengajak musisi-musisi dalam negeri untuk tampil bersama di panggung lounge, tempat dimana para profesional muda sering berkumpul. Artis yang kami pilih, selain memang sedang populer juga punya aksi panggung yang menarik untuk ditonton,” kata Edhi Sumadi, Country Manager Pernod Ricard Indonesia, sebelum acara berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki tengah malam, suasana semakin meriah, saat tampilnya Pinkan Mambo yang langsung membawakan tembang-tembang bertemakan cinta. Aksi panggung mantan anggota Ratu ini begitu kemayu dan energik. Ia tak segan sesekali menyapa pengunjung. Belum lagi lengking suaranya yang terasa manja. Sangat berpadu dengan dandanannya yang menyerupai boneka, dengan gaun dari bahan tile yang mekar seperti penari balet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu Pinkan tampil membawakan beberapa lagu yang sempat hits dan populer di masyarakat seperti Kasmaran, Biar Kau Tau Rasa, Dirimu Dirinya, Cintaku, Cinta Tak Akan Usai, Still Belive, Aku Tau Rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyanyi sederetan lagu tanpa henti, tak membuat penampilan Pinkan surut. Artis kelahiran Jakarta, 11 November 1980 ini menyuguhkan aksi prima. Sesekali, ia berlenggok manja, memperlihatkan kaki jenjang indahnya yang sangat terekspos di balik roknya. Penampilan Pinkan di panggung masih seperti biasanya, lincah, genit dan terkesan manja. Memang gaya seperti itu sudah melekat pada setiap penampilan gadis bernama lengkap Pinkan Ratnasari Mambo ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambahkan oleh Edhi, lagu-lagu tema cinta yang dibawakan oleh Pinkan Mambo memang masih punya penggemar tersendiri. Ini juga sesuai dengan tema Chivas Escapade bahwa dengan acara ini para professional muda akan mendapat sesuatu hal yang menggembirakan dan lepas dari kepenatan. “Dari aksi panggung, kostum yang dikenakan terlihat benar-benar menghibur pengunjung yang hadir dalam Chivas Party ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sesempatan itu juga, Pinkan Mambo menceritakan persiapan album solo terbarunya yang tidak lama lagi akan dirilis dan masyarakat dapat menikmati tembang-tembang terbaru. Tampaknya Pinkan masih melihat peluang mencuri perhatian pemerhati musik di tanah air di tengah-tengah banyakbermunculan nya grup musik maupun penyanyi-penyanyi baru di tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku memilih konsep yang benar-benar bisa diterima oleh masyarakat Indonesia, termasuk jenis musiknya. Supaya lebih segar kedengarannya. Aku optimis bisa diterima masyarakat Indonesia, walau ada sedikt perbedaan dengan lagu-lagu pada album sebelumnya, “ ujar Pinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada satu hal  yang tidak berubah dalam setiap album yang dirilis oleh Pinkan. Di album yang direncanakan berisi 10 lagu itu, tetap mengandalkan lagu bertema cinta. Untuk penggarapan musiknya, penyanyi berdarah Manado ini  dibantu oleh musisi Tohpati. Semoga tak kalah tenar dengan album sebelumnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-2114308414965897255?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/2114308414965897255/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=2114308414965897255' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/2114308414965897255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/2114308414965897255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2008/04/geletar-manja-pinkan-mambo.html' title='Geletar Manja Pinkan Mambo'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-6449244144150696763</id><published>2008-02-25T20:25:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T07:09:53.349-08:00</updated><title type='text'>Perenang Tangguh</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/R8OVdYdrVkI/AAAAAAAAAJo/_1KLmbeNb-U/s1600-h/IMG_2574.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/R8OVdYdrVkI/AAAAAAAAAJo/_1KLmbeNb-U/s320/IMG_2574.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5171141129167132226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di Pelabuhan Bandar Lampung, melempar koin ke laut menjadi hiburan sambil menanti kapal yang merapat lamban. Mereka menyeram dan menggigit lempengan koin. &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="color: rgb(255, 102, 102);" href="http://roesman.blogspot.com/2008/02/matinya-jenderal-besar.html"&gt; Matinya Jenderal Besar &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;26 Januari 2008. Matahari baru saja tersisihkan oleh bulan dan bintang yang mengantung di langit. Warnanya ceria. Bulan didampingi oleh warna-warni yang mengelilinginya dan bintang mengedipkan matanya. Tak ada tanda-tanda hujan. Jakarta di tengah malam, hanya sesekali saja mobil yang melintas. Sesekali bunyi sirene mobil polisi yang meraum kencang.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="color: rgb(255, 102, 102);" href="http://roesman.blogspot.com/2008/02/adalah-matahari.html"&gt; Adalah Matahari&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hujan bulan Februari, tak kunjung reda. Langit selalu berwarna redup. Matahari hanya sekian detik saja memancarkan panasnya, tapi hujan bergelimpangan berhari-hari lamanya. Angin, petir, dan pohon bergerak mengerikan. Jalan-jalan Jakarta selalu macet berjam-jam. Kumbangan air, setengah tubuh manusia dewasa.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="color: rgb(255, 102, 102);" href="http://roesman.blogspot.com/2008/02/indulge-in-fashion-di-sun-city.html"&gt; Indulge in Fashion di Sun City&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ada yang terasa berbeda malam itu di Sun City Luxury Club Jakarta. Saat memasuki club yang berlokasi di daerah Jakarta Kota ini, dua buah baliho sudah terletak di kedua sisi pintu masuk. Pada kedua baliho berukuran besar tersebut, dapat diketahui bahwa malam itu ada sebuah party yang cukup istimewa.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="color: rgb(255, 102, 102);" href="http://roesman.blogspot.com/2008/02/atraksi-barongsai-di-x2.html"&gt; Atraksi Barongsai di X2 &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dua orang pria meliuk-liuk dan berlompat-lompat dengan lincahnya. Mereka juga sibuk memutar dan menari sambil mengarahkan wajah singa kepada klabing. Satu orang lagi yang ada dibagian punggung singa membuat formasi siap menerkam, membuat klabbing bertepuk tangan meriah.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="color: rgb(255, 102, 102);" href="http://roesman.blogspot.com/2008/02/teknologi-antara-hidup-dan-matinya.html"&gt; Teknologi: Antara Hidup dan Matinya Manusia &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;27 Januari 2008, Soeharto akhirnya meninggal dunia setelah menjalani masa-masa krisis luar biasa. Televisi, radio, media cetak, bahkan dunia maya alias internet alias situs berita serta alias-alias lainnya, marak menghiasi pemberitaan di semua negeri. Tak ada yang ‘lobang’ sedikit pun. Dari Soeharto dilahirkan, menjadi tentara, menikah, dia membacakan naskah pengunduran diri, sampai foto suram detik-detik kematiannya.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="color: rgb(255, 102, 102);" href="http://roesman.blogspot.com/2008/02/martiono-hadianto-dari-bumn-singgah-di.html"&gt; Dari BUMN Singgah di Newmont &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ruang kerja untuk seorang bigbos PT. Newmont Pasific Nusantara (NPN) ternyata sederhana saja. Tak ada perabotan yang tampak mencolok mewah. Hanya seukuran sekira 5x8 meter yang dimuatin; seperangkat komputer di atas meja kerja yang berukuran 3x2 meter, dihiasi satu lukisan, sofa tamu biasa saja, lemari buku dengan sedikit isinya, dan meja kaca bundar.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-6449244144150696763?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/6449244144150696763/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=6449244144150696763' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/6449244144150696763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/6449244144150696763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2008/02/perenang-tangguh_25.html' title='Perenang Tangguh'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_93xbgcWmO50/R8OVdYdrVkI/AAAAAAAAAJo/_1KLmbeNb-U/s72-c/IMG_2574.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-7525767959093961786</id><published>2008-02-25T19:23:00.000-08:00</published><updated>2008-02-25T19:24:02.464-08:00</updated><title type='text'>Matinya Jenderal Besar</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;26 Januari 2008&lt;/span&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Matahari baru saja tersisihkan oleh bulan dan bintang yang mengantung di langit. Warnanya ceria. Bulan didampingi oleh warna-warni yang mengelilinginya dan bintang mengedipkan matanya. Tak ada tanda-tanda hujan. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; di tengah malam, hanya sesekali saja mobil yang melintas. Sesekali bunyi sirene mobil polisi yang meraum kencang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Malam itu, saya sedang memacu motor di kawasan Jalan Jenderal Soedirman, Jakarta Selatan. Usai liputan di salah satu diskotik di sekitar Kebayoran. Seorang kawan dari Kalimantan Timur menelepon ke telepon seluler saya. Motor saya tepikan di dekat SPBU yang tak jauh dari Bunderan Semanggi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;“Man, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; situasinya aman nggak?” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;“Maksudnya,” tanya balik saya. Kaget. Karena pertanyaannya tentang kondisi ibukota negeri ini. “Mau ada kekacauan apalagi,” terbesit di benak saya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;“Lah, kabarnya dari daerah. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; akan kerusuhan kalau Soeharto meninggal. Bener nggak sih?” jawabnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Saya langsung merinding mendengar ucapannya. Apalagi saat dia mengucapkan itu, satu truk yang mengangkut tentara melintas. Dan tak lama kemudian, mobil patroli sudah terlihat di belakang saya dengan lampunya yang berkedap-kedip warna biru sambil menghentikan kendaraannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Soeharto bekas Presiden &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang merebut kekuasaan dari Soekarno ini, memang sedang terkapar di Rumah Sakit Pusat Pertamina alias RSPP yang letaknya di Jakarta Selatan. Sudah beberapa pekan ini, sang penguasa orde baru ini kritis. Bahkan dikabarkan sudah meninggal diam-diam. Sehingga tak banyak masyarakat yang tahu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;“Waduh, kalau soal situasi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; dan kalau tewasnya Soeharto, gue nggak tahu. Yang aku tahu saat ini, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; memang udeh sepi. Dari tadi juga, gue sering dengerin bunyi sirene. Tuh abis lewat truk tentara,” ujar saya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;“Ya, sudah. Aku cuma mau memastikan aja. Bener atau tidaknya situasi di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; saat ini,” ujarnya. Teman saya mematikan teleponnya. Dia hanya minta dikabarin setiap hari tentang situasi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; yang menanti meninggalnya Soeharto. “Oke, nanti aku kabarin sih,” ujar saya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Terkaparnya Soeharto di RSPP memang menciptakan spekulasi. Hampir sepekan sebelumnya, banyak kabar beredar. Dari akan terjadinya kerusuhan di Jakarta, sampai spekulasi akan adanya tentara yang berontak. Tapi selama yang saya tahu, situasi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; selalu aman saja. Itu cuma issue.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Saya akhirnya aman tiba di rumah. Lelah dan ingin segera tidur. Sebelumnya, saya membuka situs berita Okezone.com. Berita tentang Soeharto, nampaknya masih belum ada perkembangan tentang kesehatan Soeharto. Hanya dinyatakan sudah bisa makan pelan-pelan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;27 Januari 2008. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; kelihatan sedikit mendung. Tapi tidak ada tanda-tanda akan hujan. Enggan rasanya untuk bangun dari tidur. “Sudah siang,” ujar pikiran saya. Terbangun, masak air panas, bikin kopi, membuka laptop, dan mengetik. Saya masih enggan membuka situs berita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Hanya hanya membuka koran Jurnal Nasional dan Tribun Kaltim versi cetaknya, serta&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sibuk mengatur tata letak blogspot saya sendiri. Tak ada kepikiran untuk menonton televisi. Sudah hampir setahun ini, saya tidak pernah nonton televisi. Bagi saya, siaran televisi tidak lagi ada yang bermutu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Palingan sedang ditayangkan sinetron kacangan dan gosipan selebritis melulu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Televisi saya setel hanya setiap tengah malam di atas pukul 11 malam. Itu pun hanya manteng di Trans TV, acaranya pasti tayangan film yang disetel hingga dinihari. Kalau yang lainnya, tak pernah tersentuh dan hanya saya lihat sekelebat saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Lelah menulis, saya ingin merebahkan tubuh. Pendingin kamar saya nyalakan. Buku, kertas dan tas yang terhambur di lantai, saya singkirkan. Nyaman rasanya. Kepala rada enakan. Remote televisi saya ambil dari sisi kiri ranjang. Bantal kepala saya saya tumpuk dua. Dan bantal guling, sudah nyaman saya peluk. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;“Klik…Klik…” tombol remote nomor 1, saya pencet. Indosiar. “Loh, kok ada rame-rama di RSPP,” ujar saya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Seorang presenter perempuan langung nongol dan menyampaikan siaran langsungnya. “Mantan Presiden Soeharto yang meninggal pada pukul dua belas lewat sepuluh menit ini, akan siap-siap diberangkatkan ke Cendana,” ujarnya dengan suara terputus-putus. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;“Soeharto meninggal,” ujar benak saya tak percaya. Saya ganti channel ke televisi lainnya. Ternyata semua siaran televisi menayangkan yang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sama,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Soeharto melulu. Ternyata benar, penguasa itu meninggal dunia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Mendengar kabar itu, saya langsung masuk kamar mandi. Nongkrong di toilet sambil merokok dan membayangkan wajah Soeharto yang hari itu sudah dinyatakan meninggal dunia oleh tim dokter. Apalagi, saat ditayangkan televisi, dia sudah dibungkus kain putih. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Saya jadi ingat ketika Soeharto menjadi penguasa. Ingat kasus Kedung Ombo, Talangsari, dan yang paling ingat dan saya rasakan adalah kasus 27 Juli dan penangkapan aktifis mahasiswa yang tergabung dalam Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan underbow-nya saat itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Saya teringat, bagaimana setiap saat harus berdemontrasi menentang kebijakan Orde Baru. Sembunyi-sembunyi mengikuti kongres Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) II, melihat penyerbuan langsung kantor pusat PDIP di Menteng, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;. Dan bagaimana rasanya, dikejar-kejar oleh aparat Soeharto bagi aktifis mahasiswa yang membangkangnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Ingat juga tentang kawan-kawan lama; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bimo Petrus, Wiji Thukul, Wawan, dan kawan PRD lainnya yang masih hilang. Gara-gara hanya ingin menjatuhkan rezim Soeharto, saya harus begadang. Membuat selebaran anti antek Soeharto, dan banyak lagi. Capek dan melelahkan. Tapi, itulah perjuangan dan pergerakan yang harus dilakukan. Dalam pikiran saya, Soeharto memang harus dihabisi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Setengah jam, perut saya rasanya sudah lega. Saya siram kotoran dari toilet dan siram air di bagian anus. Bersih-bersih. Bayangan Soeharto sudah buyar. Kemudian, saya langsung bersabunan, memberikan Shampo di kepala, dan sikat gigi. Bersih-bersih. Lega rasanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-7525767959093961786?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/7525767959093961786/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=7525767959093961786' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/7525767959093961786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/7525767959093961786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2008/02/matinya-jenderal-besar.html' title='Matinya Jenderal Besar'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-2371795953900701288</id><published>2008-02-25T19:18:00.000-08:00</published><updated>2008-02-25T19:21:30.008-08:00</updated><title type='text'>Adalah Matahari</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Hujan  bulan Februari&lt;/span&gt;, tak kunjung reda. Langit selalu berwarna redup. Matahari hanya sekian detik saja memancarkan panasnya, tapi hujan bergelimpangan berhari-hari lamanya. Angin, petir, dan pohon bergerak mengerikan. Jalan-jalan Jakarta selalu macet  berjam-jam. Kumbangan air, setengah tubuh manusia dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak kecil, justru senang. Mereka dengan riang berlari-lari mencari kucuran air yang lebih deras. Mereka menjatuhkan tubuhnya di jalanan, sambil mengayuhkan tangan dan kakinya bak orang berenang. Mereka tertawa riang, menyambut air langit yang turun dengan derasnya. Mereka bahkan, bernyanyi-nyayi senang sambil berjingkrat-jingkrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari sudah malam. Hujan belum juga reda. Saya berdiri di dekat rumah. Di sebuah kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Rumah kecil yang di atasnya melintang kabel bertegangan tinggi. Rumah yang halamannya tidak lebih dari satu meter. Sebagian kecil untuk tempat sampah yang bawahnya meteran air milik Thames PAM Jaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ponsel saya berdering isyarat nada pendek masuk. Seorang kawan lama dari Kalimantan Timur, mengucapkan,  “Selamat menempuh hidup berpasangan yang kedua kalinya. Semoga, ini menjadi lebih berkah dibandingkan hidup berpasangan sebelumnya,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih, hidup berpasangan adalah karunia. Dia tidak berjalan dengan sendirinya. Semua atas seizing dan ditentukan oleh pencipta bumi ini,” balas saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS itu menjawab pesan saya sebelumnya. Saya menyampaikan rencana pernikahan yang akan dilangsungkan pada hari Sabtu tanggal enam belas februari tahun dua ribu delapan. Tempatnya di Taman Asri Sragen Jawa Tengah. Pasangan saya bernama Nuryana Hastarani. Gadis kelahiran Sragen kelahiran 19 Januari 1976. Sedangkan saya kelahiran 19 Februari 1975.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini perkawinan saya yang kedua kalinya setelah gagal dipertarungan nikah yang pertama.  Perkawinan pertama yang tanpa diberkahi keturunan  dan sudah berjalan selama enam tahun lamanya, kandas di tengah arena. Di saat-saat biduk rumah penahan panas dan hujan sedang dibangunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Nuryana, belum pernah menikah. Gadis ini pernah bekerja di Jakarta selama enam tahun dan  sejak 1 Januari 2008, masa kerjanya berakhir di proyek infrastruktur di bawah naungan Departemen Dalam Negeri yang berkantor di Pasar Minggu, Jakarta Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia adalah perempuan Jawa yang kali pertama saya kenal ketika menginjakkan kembali Kota Jakarta. Tempat yang didaku menjadi ibukota Indonesia yang melahirkan dan mendewasakan saya. Sumpah yang sudah saya ikrarkan sebelum meninggalkan Kalimantan Timur. Isi sumpah: Siapa pun  Gadis Jawa yang saya kenal di Jakarta, itu harus menjadi pendamping hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam terus bergulir. Azan Isya sudah lewat berkumandang setengah jam yang lalu. Saya kemudian duduk di bangku meja makan. Di meja itu, sudah biasa dihuni Laptop, gelas bekas bikin kopi tadi pagi yang masih menyisakan ampasnya. Toples kosong, asbak bertumpukan putung rokok, bungkus kosong rokok, roti dengan mentega, botol plastik  minuman mineral, dan kabel data ponsel. Sumpek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kesumpekan itu, buka internet adalah pekerjaan mengasyikkan. Membaca dan menulis email, membuka situs berita dan chatting. Di sela chatting, saya menyapa perempuan bernama Siti. Dia adalah wartawan Bisnis Indonesia yang dulunya menjadi kontributor di Balikpapan, Kalimantan Timur, dan kini berstatus karyawan di perusahaan media itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Man, aku doain perkawinan elu lancer-lancar aja,” ujar dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih,” jawab saya. “Elu datang ya,” tanya saya sambil memberikan tempat dan tanggal resepsi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ada acara kantor juga. Abis jauh juga sih,” ujarnya, menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, akhirnya diduluin lagi deh. Tapi gue nggak patah hati kok,” ujarnya.  Saya  membalasnya dengan emoticon YM bergambar tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi ingat kisah perasaan Siti  yang gagal. Berharap dengan seorang lelaki yang bekerja menjadi wartawan di Aceh. Dia terlambat menyatakan ‘kecintaanya”. Mungkin tidak wajar jika dia yang memulainya, maklum perempuan. Namun lamban laun, beberapa bulan yang lalu, lelaki itu mengirimkan undangan pernikahan dengan perempuan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Siti pasti tidak sendiri. Saya, Andreas, Buset, Linda dan teman lainnya yang belum saya sebutkan, juga mengalami hal yang sama. Mereka gagal di perkawinan pertama. Semoga yang kedua, tak lagi menemukan kegagalan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kian larut malam, Jakarta masih saja turun hujan. Saya masih sendiri. Beberapa hari lagi akan melangsungkan pernikahan di suatu  negeri yang berbeda dengan masa pernikahan sebelumnya. Sambil menanti cemas mengurai satu persatu waktu yang akan datang ada saatnya nanti. 16 Februari 2008.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-2371795953900701288?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/2371795953900701288/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=2371795953900701288' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/2371795953900701288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/2371795953900701288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2008/02/adalah-matahari.html' title='Adalah Matahari'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-4438426827100171071</id><published>2008-02-25T19:15:00.000-08:00</published><updated>2008-02-25T19:16:33.816-08:00</updated><title type='text'>Indulge in Fashion di Sun City</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;" lang="EN-GB"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/span&gt;&lt;st1:city style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);" st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;" lang="EN-GB"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt; yang terasa&lt;/span&gt; berbeda malam itu di Sun City Luxury Club &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Saat memasuki club yang berlokasi di daerah Jakarta Kota ini, dua buah baliho sudah terletak di kedua sisi pintu masuk. Pada kedua baliho berukuran besar tersebut, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dapat diketahui bahwa malam itu ada sebuah party yang cukup istimewa.&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;" lang="EN-GB"&gt;Benar, sebuah party yang diberi tema &lt;i&gt;Indulge in Fashion&lt;/i&gt; berlangsung di tempat tersebut menjelang penutup bulan Januari.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Musik cepat terdengar mendentum dengan kerasnya. Klabbing berdatangan dengan berpakaian bak seorang eksekutif muda. Lampu-lampu warna remang, menerangi sebagian sisi ruangan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;" lang="EN-GB"&gt;Kilatan lampu mengiringi musik cepat Resident DJ yang dimainkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;oleh tiga orang pria dari dek yang tak jauh dari panggung. DJ ini begitu semangat menganti, dan memutar disk musik cepat miliknya. Sesekali nada musik diperlambat dan kemudian sontak dipercepat. &lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;" lang="EN-GB"&gt;Mendengar alunan musik dipercepat, klabbing langsung berteriak, bertepuk tangan, dan menggoyangkan tubuhnya. Ada juga yang berjingkrat-jingkrat dengan riang sambil menggenggam minuman. Klabing dengan pasangannya, lebih terlihat romantis sambil berpelukan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;" lang="EN-GB"&gt;Kilatan lampu dari dek yang menyorot tajam dan permainan lampu remang dari atas ruangan, meliuk berputar-putar. Para pelayan berparas cantik dengan tanduk mainan berlampu merah di kepalanya, punya ciri khas sendiri sebagai pelayan tempat dugem. &lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;" lang="EN-GB"&gt;Party bertema &lt;i style=""&gt;Indulge in Fashion&lt;/i&gt; garapan Pernod Indonesia ini, memang lebih meriah. Pemasok minuman asal Skotlandia berlabel Chivas Legal ini, menjamu para eksekutif muda untuk menikmati malam sebagai pengisi waktu kejenuhan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;" lang="EN-GB"&gt;“Eksekutif muda yang selalu hadir di ivent kami, memang sudah menjadi bagian untuk mengisi malam. Semangat dan gaya hidup mereka sesuai dengan gaya yang selalu dinamis, percaya diri dan optimis. Mereka selalu mencari hiburan untuk melepaskan kepenatan setelah disibukkan dengan bisnis yang sedang berkembang,“ ujar Edhi Sumadi, &lt;i&gt;Country Manager&lt;/i&gt; Pernod Ricard Indonesia.&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;" lang="EN-GB"&gt;“Kami memilih tema yang berkaitan dengan fashion, namun dipadukan dengan dance, agar r eksekutif muda tidak merasa jenuh dan terlihat lebih atraktif dan dinamis,” ujar Edhi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;" lang="EN-GB"&gt;Eksekutif muda yang menjadi tamu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tetap Sun City memang sangat menikmati party-party yang diselenggarakan. Klabbing eksekutif muda ini, dihibur dengan penampilan home band, Teddy Harris fashion dance dengan menampilkan model ternama ibukota, DJ Milinka dan MC Twailla dan tidak ketinggalan Resident DJ (Donny, Lendy &amp;amp; Daniel).&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;" lang="EN-GB"&gt;Menjelang tengah malam, para eksekutif muda sudah mulai memenuhi Sun City Club. Acara yang berlangsung &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mulai pukul 21.00, langsung disambut dengan kehadiran dengan pentas musik yang membawakan lagu-lagu popular dalam dan luar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;negeri. Untuk tambah menghangatkan suasana party, sejumlah dancer cantik dan berpenampilan menarik terlihat unjuk kebolehan di atas pentas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;" lang="EN-GB"&gt;Sesuai dengan tema party malam itu yaitu &lt;i&gt;Indulge in Fashion&lt;/i&gt;, sejumlah pragawati ibu kota seperti Rini, Vikan dan Sherly tampil membawakan busana-busana kasual yang cukup elegan. Bertindak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebagai koreografer malam itu adalah Teddy Harris, menampilkan kabaret dari beberapa film yang sempat fenomenal beberapa waktu lalu. &lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;" lang="EN-GB"&gt;Kehadiran DJ Milinka dan MC Twailla malam itu di deck, langsung disambut dengan meriah. Tak ayal membuat dance floor penuh oleh para eksekutif muda yang sejak tadi sudah berdatangan. Mereka menikmati musiknya dengan berteriak dan hura-hura sambil bersulang tanda persahabatan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;" lang="EN-GB"&gt;Dua jam DJ Milinka menghibur eksekutif muda di Sun City dan dance floor tidak pernah sepi. Bahkan sejumlah dari mereka rupanya tidak puas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hanya di dance floor dan langsung&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menaiki cat walk. Tata lampu yang apik, teriakan-teriakan MC Twaila menjadi salah satu pendukung yang ikut memeriahkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Chivas Indulge Fashion&lt;/i&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Malam pun tak rudung sepi. &lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;" lang="EN-GB"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Sylfaen;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-4438426827100171071?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/4438426827100171071/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=4438426827100171071' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/4438426827100171071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/4438426827100171071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2008/02/indulge-in-fashion-di-sun-city.html' title='Indulge in Fashion di Sun City'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-7324007270565380635</id><published>2008-02-25T19:12:00.000-08:00</published><updated>2008-02-25T19:14:01.249-08:00</updated><title type='text'>Atraksi Barongsai di X2</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Dua orang pria&lt;/span&gt; meliuk-liuk dan berlompat-lompat dengan lincahnya. Mereka juga sibuk memutar dan menari sambil mengarahkan wajah singa kepada klabing. Satu orang lagi yang ada dibagian punggung singa membuat formasi siap menerkam, membuat klabbing bertepuk tangan meriah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Itulah atraksi Barongsai yang dipentaskan di dancefloor X2 Club yang berada di lantai empat, Plaza Senayan, Selatan Jakarta. Dengan berjuluk “celebrate your rat earth’s new year. Emperor’s Last Dance”. Ini adalah acara yang bertepatan dengan memasuki tahun baru Imlek yang berlangsung pada 9 Februari 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atraksi Barongsai yang berlangsung pada pukul 23.30 WIB ini membuat terkesima pengunjung. Mereka menyapa klabing dari dancefloor X2 dengan iringan musik barongsai yang dimainkan oleh empat pria berpakaian Tionghoa. Musik khas Barongsai ini, juga dipadu dengan iringan musik cepat dan lampu sorot yang menyala seantero ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ruangan X2 Club, Barongsai kemudian menuju ke ruang karaoke Vintage yang ada di bagian kiri. Di sini, mereka juga meliuk menyapa klabing.  Mulut Barongsai terbuka meminta ampao dari pengunjung. Tak berhenti sampai di situ saja, atraksi  juga dilakukan di lantai dua tempat dugem di Selatan Jakarta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penampilan kali ini, X2 lebih identik dengan suasana menyambut Imlek. Dari atraksi barongsai, penataan ruangan, sampai staf X2 yang berpakaian ala Imlek,” ujar Rani, Relation Media X2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, X2 club memang berbeda. Suasananya dirancang menjadi ciri khas perayaan Imlek. Langit-langit ruangan yang tadinya biasa saja, telah disulap dengan lampu gantung berwarna merah dengan aksara Tionghoa. Para penjaga pintu yang tadinya hanya mengenakan busana seksi warna hitam, kini memakai pakaian layaknya gadis-gadis Tionghoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik Barongsai, mengalun khas yang dipadukan dengan musik cepat yang dimainan oleh seorang DJ. Tak ayal membuat klabbing tetap bisa menggoyangkan tubuhnya sambil berjingkrat-jingkrat. Mereka seakan tak pernah ingin ketinggalan setiap menit musik yan dimainkan DJ. Klabing seakan menikmati suasananya sambil menyaksikan atraksi Barongsai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita harapkan, kedatangan Barongsai di X2 Club, membuat keberuntungan klabbing semakin membaik pada tahun ini. Kita juga ingin menghargai kesenian dari daerah lainnya untuk bisa diperlihatkan. Dan malam ini, X2 Club benar-benar berubah situasi dengan warna-warni Imlek,” ujar Rani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki dini hari, atraksi Barongsai sudah usai. Klabbing di X2 Club  semakin padat mengisi semua isi ruangan. Tak ada yang spesial di malam itu, namun tempat dugem itu tetap saja penuh. Permainan DJ Deny, cukup memukau klabing. Dengan sorotan lampu dan hembusan asap  dari dek panggung, membuat suasana  semakin meriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ayal, hampir semua sisi tempat langsung padat. Orang sulit berjalan. Berdesakan. Bahkan banyak pengunjung yang langsung menaiki sofa yang ada di pinggiran lantai dancer.  Pada saat alunan musik dipercepat, klabbing langsung berteriak, bertepuk tangan, dan menggoyangkan tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alunan musik dugem membuat adrenalin klabing tak berdiam diri. Mereka berjingkrat-jingkrat dengan riang sambil menggenggam minuman. Mereka yang datang berpasangan, lebih terlihat romantis sambil berpelukan. Para pelayan berparas cantik dengan tanduk mainan berlampu merah di kepalanya, juga ikut meramaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin menjelang pagi, X2 Club mulai semakin ramai didatangi klabbing. Pintu masuk semakin mengular antre untuk pengunjung yang belum masuk. Kehidupan malam, justru seakan tidak pernah berhenti. Musik cepat semakin dipercepat dengan semakin dekatnya pagi. Dugem seakan tak menyurutkan orang untuk mengenal waktu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-7324007270565380635?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/7324007270565380635/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=7324007270565380635' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/7324007270565380635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/7324007270565380635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2008/02/atraksi-barongsai-di-x2.html' title='Atraksi Barongsai di X2'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-3565305679463416840</id><published>2008-02-25T19:07:00.000-08:00</published><updated>2008-02-25T19:09:36.266-08:00</updated><title type='text'>Teknologi: Antara Hidup dan Matinya Manusia</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;27 Januari 2008&lt;/span&gt;, Soeharto akhirnya meninggal dunia setelah menjalani masa-masa krisis luar biasa. Televisi, radio, media cetak, bahkan dunia maya alias internet alias situs berita serta alias-alias lainnya, marak menghiasi pemberitaan di semua negeri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tak ada yang ‘lobang’ sedikit pun. Dari Soeharto dilahirkan, menjadi tentara, menikah, dia membacakan naskah pengunduran diri, sampai foto suram detik-detik kematiannya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Semua cerita tentang Soeharto, begitu lengkap dibeberkan. Tak ada celah sama sekali yang tidak terungkap. Dari detik dan menit kejadian pun, media dengan mudah menemuinya. Bahkan foto-foto mantan penguasa negeri ini, sejak kecil sampai detik terakhir pun, mudah diperolehnya. Seakan-akan tidak sulit (lagi) untuk mendapatkannya. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Bagi banyak orang, cerita atau data yang dipasang media bukan hal yang aneh lagi. Pembaca mengira, bukan wartawan kalau tidak mengetahui kisah-kisah lawas siapa pun. Apalagi mengenai Soeharto yang menjadi sorotan media dunia. Padahal semua ini bergerak berdasarkan maraknya internet yang sudah mulai berkembang. Internet menjadi tumpuan harapan bagi semua pekerja jurnalis. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Makanya, saat ini pun muncul idiom-idiom yang membuat para jurnalis kerap dianggap bodoh saat tidak memperoleh data atau informasi yang diinginkan. Pasti akan mendapat jawaban, “Tanya saja dengan Mbah Google,” atau “Tuh ada Aki Yahoo,”. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Tanpa ini semua, media kelimpungan. Pun masyarakat yang ‘lapar’ informasi, akan pusing tujuh keliling&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mencari tahu tentang apa pun. Mungkin juga, kita tidak akan mengenal Onno Purbo yang saat itu masih menjadi ‘manusia biasa’. Atau Roy Suryo yang hanya mengenal teori-teori saja. Juga tidak mengenal situs netsains. Dunia maya pun, saat ini sedang &lt;i style=""&gt;trend&lt;/i&gt; menjadi ajang perjodohan. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Suatu hari, di tempat saya bekerja dulu. Perusahaan akan memberlakukan pemblokiran penggunaan email pribadi bahkan beberapa situs penting. Yang boleh digunakan hanya email yang dibuatkan dengan mengatasnamakan perusahaan dan hanya beberapa situs berita saja. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;“Woi, kok ada peraturan begitu,” tanya saya yang hanya menjabat sebagai reporter biasa. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;“Ini kebijakan,” jawab seorang penanggung jawab IT. “Kalau mau pakai email pribadi, jangan di kantor. Pergi ke&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;warnet,” lanjutnya. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;“Kamu tahu nggak. Email itu, hidup dan matinya manusia. Kalau Anda memberlakukan itu, lebih baik kalian tutup saja semua email dan kita bekerja memakai mesin ketik saja lagi,” ujar saya. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Ternyata bukan saya saja yang mengamuk. Seluruh bagian melakukan perlawanan yang sama. Dua hari kemudian, internet terbebas dari pemblokiran. Saya tersenyum dengan informasi ‘kebebasan’ itu. Dalam benak, internet itu sudah menjadi nyawa. Cobalah sehari saja kita tidak membuka internet. Separuh nyawa kita merasa hilang. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Saya ingin merunut kilas balik sedikit saja. Ini untuk mengenang lintas sejarah perjalanan teknologi informasi negeri ini. Jujur, saya mengenal internet pasca runtuhnya Soeharto. Saya bisa mengirim berita dengan email yang begitu cepat diterima. Situs berita pun, mulai satu persatu hadir dan saat ini satu persatu juga ikut ‘rubuh’. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Masa-masa rezim Soeharto, semua orang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;serba tak bisa mengenal teknologi maya. Apa itu internet? Apa itu Yahoo? Bagaimana wajah chatting? Pertanyaan ini kerap membuat buntu pikiran sendiri untuk menjawabnya. Yang bisa kita lakukan hanya, menelpon, menonton televisi, atau menanti &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; kabar yang dilempar loper di depan rumah. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Begitu rezim yang dikenal Orde Baru itu ‘patah’ dari kekuasaan. Pelan-pelan begitu dahsyat internet berkembang. Data apa pun, pasti ikut berubah. Pada hari ini, 12 Februari 2008, pukul 10.00 WIB. Untuk mencari informasi tentang &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; saja di pencarian Google, jumlah yang terdeteksi mencapai 289 juta. Soeharto pada angka 1.140.000, dan Soesilo Bambang Yudhoyono hanya pada angka 22 ribu. Beberapa menit lagi, angka itu bisa saja berubah. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Sederhananya, internet begitu punya kekuasaan. Dia berjalan dengan sangat cepat. Setiap detik, pasti menemukan hal yang baru. Semua isinya, sangat sayang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ditinggalkan atau dilewatkan begitu saja. Dia seakan menjadi nyawa bagi banyak orang. Candu. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-3565305679463416840?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/3565305679463416840/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=3565305679463416840' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/3565305679463416840'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/3565305679463416840'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2008/02/teknologi-antara-hidup-dan-matinya.html' title='Teknologi: Antara Hidup dan Matinya Manusia'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-1978841338267840245</id><published>2008-02-25T19:01:00.000-08:00</published><updated>2008-02-25T19:05:14.885-08:00</updated><title type='text'>Martiono Hadianto : Dari BUMN Singgah di PT. NPN</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Ruang kerja  &lt;/span&gt;untuk seorang bigbos PT. Newmont Pasific Nusantara (NPN) ternyata sederhana saja. Tak ada perabotan yang tampak mencolok mewah. Hanya seukuran sekira 5x8 meter yang dimuatin; seperangkat komputer di atas meja kerja yang berukuran 3x2 meter, dihiasi satu lukisan, sofa tamu biasa saja, lemari buku dengan sedikit isinya, dan meja kaca bundar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Ruangan itu didiami Martiono Hadianto, Presiden Direktur PT. NPN yang ditapuknya sejak bulan Juli 2007. Kantornya berada di lantai delapan Wisma Rajawali, kawasan Mega Kuningang, Jakarta Selatan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Dia terlihat berpenampilan sederhana. Ketika saya menemuinya, ia mengenakan kemeja putih dengan celana katun berwarna biru. Pada usia 62 tahun, kondisinya masih terlihat bugar dan sehat. “Saya tidak merokok, tidak pernah merasa stress dan sering olahraga,” ujarnya lelaki kelahiran &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Semarang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, 20 September 1945. &lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Martiono adalah alumni Institut Teknologi &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bandung (ITB) jurusan Teknik Kimia. Di kampus itu, dia aktifis Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB). Ia menikahi mahasiswa yuniornya sendiri, Hermieningsih. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Yuniornya ini ditaksir saat berlangsung lelang nama untuk mahasiswa baru di jurusannya. Semua gadis berdiri di atas panggung sambil berjalan a&lt;i style=""&gt;la&lt;/i&gt; seorang model di atas &lt;i style=""&gt;catwalk&lt;/i&gt;. Sebagai Ketua Ospek saat itu, ia berhak menaruh harga untuk para gadis dengan nama yang unik dan lucu. Ia lelang dengan harga Rp25,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan ternyata sebagai nilai tertinggi. &lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;“Aku kasih nama ‘&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;tempe&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; bosok’,” tuturnya tersenyum. Ia akhirnya terpincut dengan gadis hasil &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;lelang itu dan dinikahinya. Kini ia memunyai 3 orang anak. Ayahnya Martiono bernama &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Marsono, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;bekerja di Jawatan Perhubungan Darat dan ibunya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bernama Siti Khadijah. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Keduanya meninggal pada tahun 1986. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Martiono kecil, dulunya seorang olahragawan. Dia sering menjadi kontingen olahraga di sekolahnya. Ikut lomba lari, lompat jauh dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;basket. Dan diam-diam, dia juga pernah juara II lomba vokalis lagu Elvis Presley tingkat Kota Semarang. Lagu andalannya, Don’t Be Crue. “Dulu saya juga ikut main musik, megang &lt;i style=""&gt;keclek-keclek&lt;/i&gt;,” ujarnya tertawa. &lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;PT.NPN adalah perusahaan jasa pertambangan tembaga dan emas yang berkedudukan di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Perusahaan ini bersama dengan PT. Tanjung Serapung mulai aktif beroperasi pada tahun 1996, yaitu di Minahasa, Sulawesi Utara. Kemudian bekerja sama dengan PT. Pukuafu Indah dan sebuah konsorsium pimpinan Sumitomo Corporation, mulai operasi di Batu Hijau yang terletak di Pulau Sumbawa pada tahun 2000.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Operasional kerja Newmont terdiri dari; PT. Newmont Nusa Tenggara (PT.NNT) yaitu tambang tembaga dan emas di Nusa Tenggara Barat dan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;PT. Newmont Minahasa Raya (PT.NMR) yaitu tambang emas di Sulawesi Utara. &lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Inilah kali pertama dalam hidupnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dia memimpin perusahaan asing. Masa kariernya lebih banyak mengabdi untuk perusahaan milik negara alias BUMN. Posisi terakhirnya di BUMN sebagai Komisaris Utama Pertamina pada tahun 2005 menggantikan Laksamana &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sukardi era kepemimpinan Menteri BUMN Sugiharto. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Di Pertamina, Martiono bukan orang baru. Pada tahun 1998 sampai tahun 2000, dialah yang menjadi Direktur Utama. Jabatan lain sebelum di Pertamina; Direktur Keuangan PT. Garuda &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Komisaris Utama PT. PLN, PT. Telkom, dan pernah juga menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada tahun 1992 sampai tahun 1997. &lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Setelah masa kariernya di perusahaan negara berakhir, Newmont justru meliriknya. Baru kali inilah, ada perusahaan asing yang mengambil orang dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang berlatar belakang mantan birokrat negeri ini. “Saya juga tidak menyangka, kok ada mantan birokrat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang diincar oleh Newmont,” tuturnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Saat diberhentikan oleh Menteri BUMN dari jabatannya sebagai Komisaris &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Utama di &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Pertamina&lt;/st1:City&gt;, &lt;st1:state st="on"&gt;ia&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; sebenarnya sudah pasrah untuk menikmati masa pensiunnnya dengan keluarga. “Saya sudah tua, jadi nggak kepikiran dipakai lagi oleh negara atau tempat lain,” ujarnya. &lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Di negeri ini, ia sudah merasakan jabatan birokrat penting setiap penggantian Menteri atau&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Presiden. Martiono orang pertama yang menjabat sebagai Dirjen BUMN era Presiden Soeharto. Kemudian dia angkat menjadi Dirut Pertamina “Tapi abis diangkat, kemudian diberhentikan. Dan begitu seterusnya,” ujarnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;“Dan jabatan terakhir Dirut&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan Dewan Komisaris Pertamina yang diangkat dan diberhetikan juga oleh Menteri BUMN Soegiharto di era Presiden SBY.” SBY adalah Susilo Bambang Yudhoyono.&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Tapi rencana hidupnya itu, justru pindah haluan. Saat pelepasan jabatan itu, dia disalami&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;seorang kawan lama, Rozan Anwar. Orang itu memberikan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ucapan selamat dan mengatakan, “Bapak nampaknya tegar dan lebih banyak tersenyum walaupun harus diberhentikan,” ujar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Rozan kepada Martiono. Rozan bukan orang Newmont, dia seorang yang punya banyak hubungan dekat dengan para penentu kebijakan di perusahaan itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Beberapa bulan kemudian, Rozan menelpon lagi dan menawarkan jabatan untuk Martiono di PT. NPN. Martiono tidak langsung mengiyakan. Karena belum mengenal secara detail, dia pun langsung mencari tahu tentang PT. NPN. Martiono cuma tahu, perusahaan ini sedang banyak dibicarakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam kasus dugaan pencemaran di Teluk Buyat , Minahasa, Sulawesi Utara, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang menjadi kawasan eksplorasi PT.NPN. &lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;“Tidak semudah itu saya langsung menerima pekerjaan. Saya cari tahu dulu dari internet. Apalagi Newmont perusahaan asing. Saya tidak mau bekerja di tempat yang dikenal kulitnya saja. Saya juga perlu memahami isinya,” ujarnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Ia akhirnya menemui Bob Gallagher, &lt;i style=""&gt;Vice President for Asia Pacific Operations&lt;/i&gt; Newmont di kantor PT. NPN di Jakarta. Orang itu mengemukakan alasannya menawarkan posisi penting. Martiono dianggap sebagai sosok yang diperlukan untuk memimpin PT. NPN. “Newmont butuh sosok pemimpin yang mudah tersenyum dan menjalankan perusahaan dengan tenang,” ujar Bob kepada Martiono. &lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;“Apa jabatan untuk saya,” tanya Martiono.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;“Presiden Direktur,” jawab Bob. Ia tidak kaget. Dia hanya ingin memastikan kembali. Pada pertemuan terakhir dengan Rozan Anwar, posisi itu sudah disampaikan. Jabatan Presiden Direktur (Presdir) saat itu masih dipegang oleh Noke Kiroyan. Kini Noke sebagai Presiden Komisaris PT. NPN. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sosok Noke baginya, bukan orang yang baru dikenalnya. &lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Tanpa tendeng aling lagi, dia pun menanyakan gaji yang diperolehnya sebagai Presdir PT. NPN. “Saya perlu menanyakan itu. Itu, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;&lt;i style=""&gt;kan&lt;/i&gt;&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; menyangkut profesional,” ujarnya. Ketika disebutkan jumlahnya, ia langsung menerimanya. “Ternyata angkanya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menarik juga. Nilainya, rahasia dong,” ujarnya lagi sambil tersenyum. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;5 Juli 2007, dia akhirnya diangkat menjadi Dirut PT.NPN menggantikan Noke dan langsung bekerja dengan banyak pekerjaan yang segera ditangani. &lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; masalah yang dia catat, diantaranya adalah &lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;dugaan pencemaran Teluk Buyat di Sulawesi Utara dan divestasi saham dan pinjam pakai lahan di kawasan eksplorasi PT. NNT di Nusa Tenggara Timur. &lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;“Baru diangkat sudah mendapat tantangan pekerjaan yang cukup berat. Makanya, saya sering terbang ke Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara untuk menyelesaikan semua masalah yang terjadi di Newmont &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;,” ujarnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;“Bagaimana menghadapi semua masalah yang melanda di Newmont,” tanya saya. &lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;“Semuanya harus saya selesaikan tanpa harus konflik. Harus diselesaikan dengan tenang. Seperti komitmen awal, saya bekerja berpegang prinsip menghadapinya dengan tenang dan senyum,” katanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Dengan prinsip tenang dan senyum itulah, dia menjalankan pekerjaannya. Hanya sesekali saja, dia bersikap tegas. Dia mengerti situasi, kapan waktunya tenang dan kapan saatnya harus tegas. Dia pun, kerap yang turun tangan menyelesaikan masalah di tengah masyarakat untuk menjelaskannya. “Tidak perlu pakai kekerasan,” ujarnya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2261948608730441376-1978841338267840245?l=roesman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://roesman.blogspot.com/feeds/1978841338267840245/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2261948608730441376&amp;postID=1978841338267840245' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/1978841338267840245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2261948608730441376/posts/default/1978841338267840245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://roesman.blogspot.com/2008/02/martiono-hadianto-dari-bumn-singgah-di.html' title='Martiono Hadianto : Dari BUMN Singgah di PT. NPN'/><author><name>Salam Kebebasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17234337280921136540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2261948608730441376.post-2809414609307934029</id><published>2008-01-14T03:09:00.000-08:00</published><updated>2008-01-14T03:22:01.577-08:00</updated><title type='text'>Kangen Band: Anomali Musik Kita</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Mereka bukan kelompok musik papan atas&lt;/span&gt;, dengan karya-karya masterpiece. Mereka datang dari lingkungan sederhana, kemampuan bermusik alakadarnya, lirik lagu biasa-biasa saja, dan gaya panggung apa adanya. Menariknya,mereka justru mendapat sambutan hangat dan terus memperpanjang barisan fansnya. Tawaran manggung dari pelbagai penjuru kota, tak henti-hentinya mengalir. Nama mereka pun tak urung menjadi santapan rupa-rupa media. Mereka benar-benar telah berubah dari ’anak-anak tanggung asal kampung’ menjadi selebritis nasional dalam arti sebenarnya. Mereka bahkan didaulat untuk mengikuti talkshow di berbagai televisi. Mereka adalah Kangen Band, yang tahun ini berhasil menyabet&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt; Double Platinum Award dan Ringtone Award.&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt; &lt;span lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tahun 2007 benar-benar menjadi milik mereka, dan hampir tak ada teori sosiologis yang dapat menjelaskan anomali ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Laporan akhir tahun ini mencoba memeriksa sisi faktual mereka, mulai pergaulan sosial, kemampuan musikal, pengalaman mereka menapaki popularitas, hingga caci-maki terhadap mereka lantaran dianggap sebagai ’perusak musik’. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;I&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Pagi di penghujung Desember 20007. Hujan mengguyur Pelabuhan Merak, Banten. Tempat penyeberangan antarpulau Jawa dan Sumatera itu padat .&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Berbagai jenis kendaraan, mulai sepeda motor, sedan hinga truk, antri menunggu giliran masuk ke dek kapal feri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Dek paling bawah berisi truk dan bis, dek kedua bermuatan mobil dan motor pribadi, dan dek selanjutnya berisi penumpang dengan tempat duduk seadanya. Di dek penumpang ini, suasananya ramai. Walaupun tempatnya semi terbuka udara, tapi kelihatan begitu sumpek. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Empat orang anak berenang di pinggir kapal, menanti lemparan uang dari penumpang kapal. Mereka menyelam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk menjumputnya. Atraksi ini tak membuyarkan konsentrasi saya pada sebuah nama: Kangen Band. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Sejam setelah menginjakkan kaki di geladak, kapal feri meninggalkan pelabuhan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Penumpang datang dari berbagai kelas dan status sosial. Ada pedagang rokok keliling, penjaja koran, yang menawarkan buku teka teki silang alias TTS, sampai tukang jamu gendong. Ada pula copet dan tukang jarah barang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Tiga jam terombang-ambing di laut melelahkan juga. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Setiba di Pelabuhan Bakauheni yang masuk wilayah Lampung Selatan cuaca panas. Bis yang saya tumpangi sudah bersiap-siap melanjutkan perjalanan menuju Kota Bandar Lampung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Sepanjang perjalanan yang berbukit-bukit, hutan tandus menjadi pemandangan yang tidak menyedapkan. Kawasan tandus itu hanya ditanami pohon pisang yang berdaun kering. Pohon kelapa terlihat tak segar. Rumah penduduk di sisi kanan kiri jalan, nampak renta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Di daerah Panengahan, Lampung Selatan, bis jalan merambat. Di sana sedang ada razia yang dilakukan oleh tiga polisi yang berdiri dan satu polisi yang duduk di depan gubuk di pinggir kanan jalan. Semua truk barang diberhentikan. Usai menghadap polisi yang duduk, truk bebas melaju. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Biasa, upeti,” ujar penumpang lelaki di sebelah saya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Satu jam sebelum tiba di Lampung, kendaraan melintasi pabrik, pembangkit listrik, dan menelurusi jalan yang tak jauh dari lintasan kereta api. Masuk ke perkotaan, dari atas bis, kota ini begitu bersih. Tapi tahun 2006, kota berjulukan &lt;i&gt;‘tapis berseri’&lt;/i&gt; ini pernah mendapat julukan lainnya sebagai kota terkotor ketiga di Indonesia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Sebenarnya memang sudah bersih. Tapi anehnya, tidak pernah mendapat penghargaan Adipura dari Jakarta,” ujar Oyos Saroso, seorang wartawan setempat. Adipura yang dimaksud adalah penghargaan bagi daerah yang dinyatakan bersih lingkungan dari pemerintah pusat negeri ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Baru kali ini saya mengunjungi Bandar Lampung, ibukota propinsi. Kota ini cukup ramai. Jalanannya berbukit-bukit. Angin cukup kencang, hempasan dari laut. Jalanan nyaman untuk dilalui, tak ada kemacetan sama sekali. Bahkan sebagian besar jalan, terlihat sepi dari kendaraan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Deretan mal dan hotel, banyak berdiri di sana. Yang paling marak saya jumpai, baliho ukuran besar di hampir setiap sudut jalan. Ada isinya iklan rokok, telepon seluler, dan iklan pelayanan masyarakat dengan poster wajah pejabat setempat. Lapak-lapak kaki lima, tak banyak terlihat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Bandar Lampung, itulah tempat cikal bakal munculnya grup musik Kangen Band yang sedang naik pamornya dalam&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;blantika musik Indonesia. Mereka memiliki banyak hit dengan lagu-lagu romantisnya. Pada saat yang sama, mereka juga terkenal karena diledek dan dicaci pemusik lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Kangen Band terdiri atas enam personil. Mereka Hendro ”Andika” Handika, Dodi ”Dodi” Hardianto, Novri ”Bebe” Azwat, Halim ”Iim” Kurniawan, Barri ”Izzi” Alfaizi, dan Rustam ”Utam” Wijaya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Kangen Band kini telah berkibar di blantika musik Indonesia. Mereka mengubah nasib keluarga dan dirinya masing-masing. Kehidupan yang tak mulus di Bandar Lampung, ditapaki di Jakarta. Anak-anak gang itu kini merambah panggung di banyak tempat negeri ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;II&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Malam di ujung Gang Jangkung, Jalan Soetomo, Bandar Lampung. Tiga orang pria duduk santai sambil merokok di pos ronda yang berdiri di kanan jalan. Sedangkan di sebelah kiri, sekelompok anak muda berkumpul. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Nunggu giliran main band di studio barunya Dodol,” ujar Bayu, satu dari tiga anak di pos ronda mengenai kelompok anak muda itu. Dodol adalah nama panggilan Dodi, gitaris Kangen Band, di wilayah itu. Studio milik Dodi baru saja dibuat setelah sukses di musik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Di ujung gang itulah anak-anak Kangen Band biasa nongkrong. Inilah jembatan tempat mangkalnya. Dulunya, jembatan ini berupa kayu. Ada sungai kecil yang mengarah ke arah rumah Dodi yang hanya berjarak 40 meter. Rumah Eren, backing vokalnya yang sekarang bikin album sendiri, hanya berjarak 20 meter. Selisih tiga rumah ke tempat tinggal Dodi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Jembatan itu kini sudah rapi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Tak terlihat ada sungai kecil yang melintas. Sudah tertutup dengan aspal. “Dulu emang di sini nongkrongnya. Biasanya sore baru pada main gitar. Kadang sampe malam baru pada bubaran,” ujar Lingga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Dodi kalau datang dari Jakarta, sekarang keren. Udeh pake mobil. Dia masih sering ikutan nongkrong juga di sini,” ujar Wahid. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Dari pos ronda itu, rumah keluarga Dodi terlihat. Ada empat rumah ukuran sekira masing-masing tipe 21. Rumahnya sederhana. Gentengnya masih model lawas.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Petak pertama, menjadi rumah induk dengan dua kamar tidur. Ruang tamunya berukuran sekira 4x6 meter. Ada satu set sofa empuk, televisi berukuran 21 inci, kipas angin, dan satu set audio. Ada dua kamar tidur, salah satunya kamar Dodi. Ukurannya 3x3 meter. Kasur tidur yang tipis dan lemari pakaian yang sudah tua, hingga saat ini belum diganti. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Ini Dodi yang belikan. Tadinya sofa nggak seempuk begini,” ujar Sumarni, ibunya Dodi. “Lantainya juga sudah dipasangi keramik. Ini juga dari Dodi.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Petak kedua dijadikan rumah cadangan. Rumah petak ketiga dibuatkan studio rekaman mini, dan rumah petak keempat dibuatkan studio musik. Tarifnya Rp 20 ribu per dua jam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Ayah Dodi bernama Paijo berusia 55 tahun dan ibunya Sumarni berusia 53 tahun. Dodi bernama lengkap Dodi Hardianto. Dia anak bungsu dari empat bersaudara. Kakak pertamanya bernama Eko, yang kedua Ati dan ketiga Dede. Dodi sudah menikah dan punya satu anak. Istrinya bernama Ucha berusia 20 tahun dan anaknya bernama Satura Eka Erlangga yang usianya baru masuk dua bulan pada Mei tahun mendatang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Dodi lepas netek dari ibunya sampai usia enam tahun. Pokoknya dia gelisah kalau nggak kena tetek ibunya. Ampe tetek ibunya abis terkuras ama dia,” ujar Paijo. Sumarni mengiyakan. Di rumahnya itu juga, saya diperkenalkan oleh pamannya yang biasa dipanggil Pa’de. Nama lengkapnya Sunaryo, berusia 55 tahun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Sebelum Dodi tenar, Paijo membesarkan Dodi dan tiga kakaknya dengan menarik becak. Pekerjaan ini dilakoninya sejak tahun 1975. Sedangkan ibunya, berdagang makanan. Sesekali membuat sarapan untuk para pekerja bangunan yang dimandori Sunaryo. Setelah Dodi tenar, ayahnya sudah tak lagi ngurusin becak dan ibunya yang mengelola studio musik milik Dodi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Dodi sering membantu Sunaryo menjadi anak buahnya dalam urusan kuli bangunan. Pekerjaan menjadi kuli, tidak sehari atau dua hari saja. Bahkan berbulan-bulan lamanya. “Nah, ibunya juga ikut nginap menjadi pembuat makanannya, kalau dapat proyek di luar kota,” ujar Sunaryo. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Kalau tidak ada proyek, ya Dodi nganggur. Di rumah aja. Kalau tidak punya uang, dia minta ama Pa’de-nya,” ujar Paijo. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Soal perempuan, Dodi memang jagonya. Ibunya saja sampai bingung yang mana sebenarnya pacar anaknya. Namun yang paling berkesan, kata Ibunya, pacar Dodi yang bernama Mey. Dodi duduk di Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Mey masih Sekolah Menengah Pertama (SMP).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Perjalanan romantis antara Mey dan Dodi, akhirnya berakhir. Orang tua Mey tidak menyetujui. Maklum, usia gadis itu masih belum cukup. Mey juga, menjadi catatan sedih bagi keluarga Dodi. Gadis ini pernah minggat dari rumahnya dan menginap di rumah Dodi. Mey, Dodi dan Ibunya, tidur satu kamar. Ibunya tidur di antara dua pasangan itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Yang terjadi kemudian, orangtua Mey kalap. Marah besar. Rambut panjang Mey diplontos habis oleh orangtuanya. Mey gundul. Hubungan romantis Dodi dan Mey berakhir dengan ironis. Kenangan itulah, akhirnya dibuatkan lagunya oleh Dodi, bertajuk: Mey, dalam album kedua Kangen Band.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Kami semua sedih dengan kejadian itu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Mey sudah saya anggap anak sendiri. Sampai sekarang, Mey masih menanyakan kabar Dodi,” ujar Sumarni. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;III&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Di &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sela obrolan, Pa’de yang duduk di dekat pintu melihat ayahnya Bebe melintas di depan rumah Dodi. “Tuh ayahnya Novri (Bebe),” ujar Pa’de. “Nah, itu sekalian aja, langsung di foto, pasti lagi bawa belanjaan untuk jualan besok,” ujar Sumarni. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Pa’de menghentikan langkah ayahnya Bebe. Saya langsung menyalami. Ayahnya Bebe, sedang menenteng dua kresek plastik di tangan kanan dan kirinya. “Abis belanja buat jualan besok,” ujarnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Saya pun langsung menuju ke rumah Bebe. Melintas satu gang sempit, bertemu jalan besar, kemudian menyeberang jalan besar dan masuk lagi ke gang sempit. Dari rumah Dodi sekira 200 meter. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Rumah Bebe terlihat sederhana. Cat rumahnya masih terlihat baru. Ruangan tamunya, sekira 3x4 meter yang hanya dilengkapi sofa baru yang empuk pembelian Bebe. Rumah itu masih kontrakan. Pemiliknya keluarga Dodi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Nama asli Bebe sebenarnya Novri Azwat. Dia kelahiran 7 November 1988. Nama Bebe jadi beken, sindiran Andika kepada Novri. “Bebe terhanyut,” ujarnya dengan meniru logat Padang kental ala ayahnya Novri. Sejak itu, Novri akhirnya dipanggil Bebe oleh rekannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Ayah Bebe bernama Nasri berusia 51 tahun dan ibunya bernama Murni berusia 46 tahun. Bebe anak bungsu &lt;i&gt;cum&lt;/i&gt; pria satu-satunya dari tiga bersaudara. Kakak pertamanya bernama Leni dan kedua bernama Nova. Ayahnya masih berjualan cendol dan ibunya berdagang nasi uduk dan lontong sayur. Lokasi lapaknya di depan Rumah Sakit Abdul Muluk. Persisnya di belakang Korem alias markas tentara, di Bandar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lampung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Bulan pertama Bebe di Jakarta, ibunya ditransfer uang Rp 1 juta. Setelah meluncur album pertama Kangen Band, Bebe mengirim uang lagi Rp 18 juta. Nasri kaget dan ingin rasanya menangis. Baru kali ini ada anaknya yang kasih uang. “Biasanya Bebe yang minta, tapi kali ini orangtuanya yang terima uang dari anaknya. Terharu rasanya,” ujar Nasri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Tidak hanya itu, Bebe juga mengirimkan uang untuk mengganti bangku kusam menjadi sofa empuk, mengecet rumah, dan Bebe meminta orangtuanya mencari rumah sendiri agar tidak mengontrak lagi. “Dia juga tawarin kami naik haji. Saya bilang, jangan dulu. Uang disimpan aja untuk tabungan,” ujar Nasri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Keesokan harinya, saya menemui orangtua Bebe saat berjualan. Lapak nasi uduk Murni terbuat dari triplek. Hanya beberapa depa saja dari gerobak cendol Nasri. Setiap pagi, Murni sudah menggelar nasi uduk dan lontong sayurnya hingga pukul 11 siang. Sedangkan Nasri berjualan es cendol sejak pukul 10 pagi hingga sore hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Sesekali saja, Bebe bantuin bawain. Dari rumah ke sini, dekat aja. Kan sewa tukang angkut pake dorongan becak,” ujar Murni. “Sudah puluhan tahun, kita jualan di sini.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Rumah Andika di mana,” tanya saya kepada Nasri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Andika kan udeh di Jakarta. Kalau nyari di sini, bingung. Nggak jelas anak itu. Udeh nggak ada keluarganya lagi. Kita juga nggak pernah tahu di mana persisnya. Rumahnya udeh kosong beberapa bulan ini,” jawabnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Usai bertemu dengan orangtua Bebe, saya langsung menuju ke rumah Utam. Dia bernama lengkap Rustam Wijaya, di Kangen Band memainkan gitar dua. Utam kelahiran 26 Oktober 1984. Tempat tinggalnya di Gang Hamin, Jalan W.R. Mongisidi, Bandar Lampung. Persisnya di belakang Bakso Sony. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Rumahnya sederhana sekira ukuran tipe 36. Dari jalan besar, sekira 300 meter masuk gang menuju rumah Utam. Saya ditemui oleh ibunya bernama Romlah dan kakaknya, Rusdiansyah. Utam anak bungsu. Kakak pertamanya Rosnaeni yang belum lama ini meninggal dunia akibat kecelakaan, kakak keduanya Rabudin dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ketiga Rusdiansyah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Dari kecil, Utam sudah ditinggal ayahnya. Cerai. Setahun yang lalu, ayah kandungnya itu meninggal dunia,” ujar Romlah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Sejak Kangen Band tenar, rumah keluarga Utam sudah tak kusam lagi. Dulunya, setiap hujan selalu bocor. Lantainya saja tidak semulus sekarang. Kini, rumahnya sudah nampak bersih dan tak lagi ada tetesan hujan yang masuk. Utam membelikan kursi sofa yang empuk, motor untuk kakaknya, dan perabotan rumah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Sekarang udeh legaan. Rumah sudah tidak bocor lagi. Utam tidak membolehkan saya bekerja. Saya diminta untuk menikmati hidup saja,” ujar Romlah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Hidup Utam kini sudah berubah. Utam dulu adalah pedagang sandal kaki lima di eperan depan Central Plaza Bandar Lampung. Dari pagi sampai malam hari, pekerjaan ini dilakoninya. Tempat itu kini sudah bersih ditertibkan oleh aparat pemerintah setempat. Utam memperoleh sandal dari kakaknya, Rosnaeni yang di belinya dari Jawa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Sedangkan ibunya, bekerja sekedarnya. Kadang berjualan kue, membantu rumah tangga orang, kadang juga menjadi tukang cuci pakaian. Sedangkan hidup kakak yang lain, juga tak bisa diharapkan. Rusdiansyah, kakaknya Utam, bahkan harus merantau untuk mengais rejeki di negeri orang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Mudah-mudahan karier Utam dan Kangen Band terus seperti ini. Jadi kami tidak susah lagi,” ujar Romlah, tersenyum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;IV&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Dari situ saya langsung menuju rumah Iim yang lumayan jauh dari rumah personil lainnya di Jalan Pulau Buru, Gang Balan, Bandar Lampung. Saya ditemui oleh ayahnya, M Noer Halim usianya 56 tahun. Sedangkan ibunya bernama Rostiati berusia 50 tahun. Rumah keluarganya berhalaman luas. Rumah baru yang dibelinya hasil penjualan rumah lama yang hanya selisih dua rumah saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Ada satu mobil sedan terparkir di garasi sebelah rumahnya yang bermerk Twin Cam tahun 89, yang dibeli Iim&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;seharga Rp 35 juta pada 13 Agustus 2007. Iim bernama lengkap Halim Kurniawan, kelahiran 28 November 1987. Dia anak ketiga dari empat bersaudara. Kakak pertamanya Rudi Irawan, kedua Triyandi, dan adik bungsunya bernama Ayu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Iim di Kangen Band memainkan drum. Hobi ini turun dari kakak pertamanya. Bukan drum beneran, tapi drum yang terbuat dari kaleng cat. Setelah kakaknya diterima menjadi polisi, Iim yang kerap meneruskannya menabuh drum kaleng cet. Kehidupan keluarga Iim sederhana, ayahnya bekerja di perusahaan kontraktor. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Usai tamat dari SMA Adiguna, Bandar Lampung, ayahnya memberikan dua pilihan kepada Iim: melanjutkan kuliah atau menjadi polisi seperti kakaknya. Iim justru berkecimpung di dunia musik. “Tapi saya tetap ingin kuliah dulu,” ujar Iim kepada saya saat bertemu di Jakarta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Dia kirim uang langsung ke ibunya. Kata ibunya, saya tidak usah lagi mikirin urusan listrik, air, dan telepon. Semua Iim yang tanggung. Ya udah mau gimana lagi. Tapi saya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sarankan Iim tetap kuliah,” ujar Nunung, nama beken ayahnya Iim sambil tersenyum. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Satu personil Kangen Band lainnya adalah Izzi, yang kini berusia 18 tahun. Pemain keyboard ini tinggal dengan neneknya sejak kecil di Jalan Pahlawan, Kedaton, Bandar Lampung. Neneknya bernama Murniati kelahiran tahun 1951 dan ibu kandungnya bernama Evayanti kelahiran 1968. Ayahnya sudah lama tidak lagi bersama ibunya, cerai. Izzi anak semata wayang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Rumah neneknya Izzi cukup besar dengan halaman yang luas. Ada tujuh petak kamar kos yang disewakan di halaman bagian kiri dan toko di sudut depan kiri. Sedangkan persis di depan rumahnya, Izzi membuat dua toko lagi untuk usaha neneknya. “Belum kepikiran mau usaha apa nantinya,” ujar Murniati, neneknya Izzi yang saya temui di rumahnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Dari Kangen Band, Izzi membeli mobil sedan bekas bermerk BMW seharga Rp60 juta. Mobil itu disimpannya di Lampung. Menurut neneknya, sejak kecil Izzi gemar membongkar pasang otomotif. Sejak dia bisa membawa mobil, dia juga yang kerap mengendarai mobil sedan merek Timor milik neneknya. “Izzi pernah hilangin satu motor keluarga,” ujar Murniati. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Izzi itu anak yang makannya paling kuat dan banyak. Makanya, badannya cepat besar. Padahal usianya paling muda. Apalagi kalau sudah disiapkan sambel teri, bisa langsung ludes.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Kehidupan keluarga neneknya cukup mapan. Namun tak sebanding dengan urusan rumah tangga orangtua kandungnya. Sejak kecil, ayahnya sudah berpisah dengan ibunya. Izzi akhirnya ditampung di rumah neneknya. Kakeknya bekerja di Inpeksi Pajak di Bandar Lampung. “Syukur dia sudah bisa dapat uang. Setiap Izzi memberikan uang, saya tolak. Saya sarankan, uangnya ditabung untuk masa depannya nanti.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;V&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Dalam kancah musik Indonesia, Kangen Band hanyalah debutan baru. Beda dengan di kotanya. Kelompok band itu bisa dibilang telah lama singgah di hati publik. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Di Lampung, bukan cuma anak musik aja yang kenal Kangen Band. Saya aja sering dengerin lagu mereka waktu belum tenar. Tapi, suaranya malah makin bagus pas ngetop di Jakarta,” ujar Sahudin, pedagang sate di jalan Raden Intan, Kota Bandar Lampung.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“Saya baca di koran-koran, ternyata mereka bukan orang kaya,” ujarnya lagi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Anak musik yang dimaksud umumnya mengacu pada kelompok-kelompok musik indie label, yang kini bertebaran di Lampung. Jumlah komunitas musik Indie di sana begitu marak. Jumlahnya diperkirakan mencapai ratusan kelompok yang sudah punya compack disc (CD) sendiri. Bisnis studio musik maupun studio rekaman jadi bidikan usaha menarik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Komunitas Indie di Bandar Lampung, benar-benar meriah. Mereka tidak memperlihatkan langsung seperti kota lainnya di Jawa. Musik Indie yang saya tangani saja mencapai 200 sampai 300 kelompok yang rekaman,” ujar Firman, pemilik studio rekaman “Ibong”. Dari ratusan komunitas musik indie yang buat rekaman di tempatnya, salah satunya adalah Kangen Band. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Saya menemui Firman ”Ibong” di rumahnya di Kali Awi, Bandar Lampung. Tempat studio miliknya, tak berpapan nama, masuk gang kecil, dan berada di antara rumah padat penduduk. Di rumah milik Ibong yang sederhana, ada satu kamar berukuran 2x3 meter yang menjadi tempat studio rekaman. Di situ, ada seperangkat komputer dan mixing enam channel. Ada juga mik dan gitar yang tergantung di dinding. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Kangen Band masih ada ‘sesuatu’ yang belum diselesaikan sampai sekarang,” ujar dia sambil mengunyah nasi santapan siangnya di meja makan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Apa itu?”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Pembayarannya. Tapi nggak masalah. Saya juga tidak itung-itungan kok. Yang penting mereka sekarang udeh tenar dan kali aja inget masalahnya,” ujarnya sambil tersenyum. Untuk rekaman, Ibong memasang tarif Rp 250 ribu untuk satu lagu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Dia memperlihatkan hasil rekaman Kangen Band yang tersimpan dalam folder komputernya. Judul lagu “Menanti” tercatat sebagai lagu pertama yang tersimpan di komputernya pada 21 Juli 2005. Lagu ini akhirnya berganti judul menjadi ‘Penantian’. Ada juga lagu berjudul “Tentang Aku dan Dia”. Tercatat pada tanggal 21 Juli 2005 yang kemudian judul ini berubah jadi “Antara Aku, Kau, dan Dia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Ada satu lagu yang belum banyak orang tahu sampai sekarang. Kalau saya mau jahat, mungkin lagu ini sudah beredar. Saya masih simpan hasil recordingnya. Judulnya ’14 Hari’. Andika duet dengan Eren,” ujar Firman. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;14 hari&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Ku mencari dirimu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Untuk mengatakan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Tentang cita cintamu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Firman langsung menghentikan lagu itu. Satu persatu, dia mendengarkan semua album rekaman Kangen Band. “Lagu 14 hari ini, masih akan selalu saya simpan. Ini sebenarnya menjadi hak saya, kalau ada pihak yang menginginkannya,” ujar Firman. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Saat saya konfirmasi melalui telepon seluler mengenai judul ‘14 Hari’ itu kepada Dodi, dia kaget. “Kok tahu. Emangnya sekarang lagu itu ada di mana,” tanya Dodi, penasaran. “Ada di Ibong,” jawab saya, mengacu pada ”Firman”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Oh..iya..lagu itu masih tentang romantis saya. Judulnya 14 hari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;itu tentang rasa kangen selama 14 hari tidak bertemu dengan pacar saya,” ujar Dodi. Ia menyebut sebuah nama: Mey. Nama gadis ini akhirnya menjadi judul lagu untuk album keduanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Firman Ibong ingat cerita awal Kangen Band masuk studio rekaman miliknya. Dodi yang langsung menemuinya. Awalnya Ibong tidak mengenal Dodi. Dia hanya mendengar nama Kangen Band di kalangan komunitas musik indie di Lampung. Di mata Ibong, Dodi yang paling banyak berperan dalam hal lagu dan musiknya. Ibong hanya sekedar membantu memberikan sarannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Saat proses studio rekaman, satu persatu personil masuk ke dalam kamar studio yang sempit itu. Untuk memasukan suara vokal dan musiknya, sehari membutuhkan waktu tujuh sampai delapan jam lamanya. Itu hanya untuk satu lagu saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Yang paling melelahkan, papar Ibong, ketika memasukan vokal Andika. Menurutnya, suara Andika memang paling pas untuk karakter lagu-lagu ciptaan Dodi. Tapi, Ibong harus bekerja super keras. “Kalau mau dibayangin, setiap kata dalam vokal, pasti harus di potong,” ujarnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Kayaknya, tersiksa banget pas Andika harus isi vokal. Kerja keras banget mengatur untuk menyambung setiap liriknya. Ada lirik yang Andika tidak punya kekuatan vokal, Andika harus mengatur nafas dulu. Terus lanjut lagi. Begitu seterusnya,” ujar Ibong. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Bagaimana dengan personil lainnya,” tanya saya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Ibong, menarik nafas dan mengatakan, ”permainan musik personil lainnya, standar,” jawabnya. “Semua lebih banyak diarahkan oleh Dodi. Karena basik musik lainnya, belum ada kemampuan apa-apa. Dari lirik lagu sampai arasemen musik, Dodi menjadi &lt;i&gt;leader&lt;/i&gt;-nya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Kalau soal musik, saya akui Dodi. Dia begitu menghayati antara lagu yang diciptakan dengan musiknya. Dan vokal yang paling pas dengan lirik Dodi, ya cuma suaranya Andika yang pas-pasan itu juga,” ujarnya tertawa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Ibong masuk ke dalam studio rekaman mini miliknya. Dia mendengarkan hasil recording kelompok indie lainnya kepada saya. Usai itu, dia mengatakan, Kangen Band memang menang didengar musiknya. Musiknya enak, dan itu diakuinya. Tapi kalau mendengar langsung tanpa &lt;i&gt;mixing&lt;/i&gt;, bubar semua,” ujarnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Tapi mereka &lt;i&gt;kan&lt;/i&gt; sekarang tetap tenar. Saya cuma sarankan, Kangen Band bisa menjadi leader anak-anak indie lainnya di Lampung untuk meramaikan kancah musik Indonesia,” sarannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Analis industri musik Indonesia, Bens Leo mengatakan Kangen Band harus banyak belajar soal kualitas musik. Mereka, lanjut Bens, tidak boleh berpuas diri dengan ketenarannya saat ini. Khususnya, saat Kangen Band membawakan lagunya secara langsung kepada masyarakat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Jika mendengarkan lagu mereka dari pengaturan &lt;i&gt;mixing&lt;/i&gt; yang baik, saya salut. Tapi jika melihat dan mendengarkan langsung, di sini kelemahan Kangen Band. Harus segera diperbaiki kualitasnya,” ujarnya Bens. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;VI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Cikal bakal Kangen Band tak hanya berawal dari ‘gubuk’ milik Ibong, ketika kali pertama recording untuk bikin CD demo. Dua studio musik juga tercatat menjadi catatan karier mereka. Adalah studio musik Sulva dan Rifan. Studio Rifan ternyata sudah tutup beberapa bulan yang lalu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Studio Sulva berada di seberang jalan depan mesjid Babussalam, Penengahan, Bandar Lampung. Tak jauh dari situ, ada juga studio musik Ruru. Tempatnya tidak terlalu mewah. Tempat ini bersebelahan dengan warung internet Sulva. Bagian depan studio, terlihat kusam. Di dinding luar tertempel kertas yang isinya; menjual semua perlengkapan alat musik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Alat musiknya mau kami jual. Ada rencana ganti dengan alat baru. Karena yang lama sudah usang,” ujar Joko, pemilik studio yang kami temui. Joko dan keluarganya tinggal di belakang studio itu yang masuk melalui pintu besi dan gang sempit. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Dalam studio Sulva, banyak tergantung poster-poster kelompok musik asing. Hanya satu poster dalam negeri yang tertempel, Iwan Fals. Ruangannya cukup besar, sekira 4 x 6 meter. Alat musiknya yang tersedia cukup lengkap. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Joko memperkenalkan saya kepada seseorang bernama Acep. Pria ini berusia 18 tahun dan bekerja sebagai operator studio Sulva. Dia yang banyak tahu di saat-saat Kangen Band main musik. Karena di studio itulah Kangen Band merintis main musik sungguhan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Acep cukup mengenal Dodi, Andika, dan Bebe. Ketiga orang ini, rumahnya berdekatan dengannya. Acep tidak pernah menyangka, Kangen Band bisa tenar seperti sekarang ini. Dia berpikir, mereka hanya dikenal di kalangan musik indie Lampung saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Studio inilah yang punya kenangan, utang piutang ala Kangen Band. Walaupun biaya sewanya Rp 15 ribu per dua jam, Kangen Band kerap utang terlebih dulu. Bahkan, Bebe yang sering jadi jaminan. Karena Acep dekat dengan mereka, dia tidak pernah perdulikan dibayar atau tidak tunggakannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Yang saya ingat, semuanya sudah langsung dilunasi. Kalau bayarnya ditunda, emang sering. Nanti mereka mau main lagi, baru dibayar sekaligus. Begitu seterusnya. Jadi, nggak ada utang lagi,” ujar Acep. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Acep cukup tahu perilaku Andika, Bebe dan Dodi. Kepada saya dia mengatakan, Bebe dan Dodi, orangnya tidak banyak bergaul. Dua orang pendiam dan tidak pernah terlibat tawuran antarkampung atau ikutan geng-geng. Tapi Andika, sebaliknya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Jalan raya di depan mesjid Babussalam, dulunya dikenal sebagai daerah yang kerap tawuran antarkampung. Setiap tawuran, wajah Andika tak pernah absen dari pertarungan itu. “Kalau ada tawuran, pasti ada Andika,” ujar Acep. Joko mengiyakan dan mengatakan, “di daerah sini, semua orang tahu perilaku Andika,” ujarnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Makanya, waktu Andika ditangkap bawa narkoba, nggak aneh lagi,” ujar Acep menambahkan. “Tapi sekarang, kehidupan mereka pasti sudah berubah. Kita berharap sih, mereka tetap eksis di Jakarta dan menjadi orang musik yang mewakili musik dari Lampung.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Satu lagi tempat yang punya jasa dengan Kangen Band adalah &lt;i style=""&gt;Pro2 FM&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Radio ini bermarkas di lantai tiga, masih satu kompleks dengan Radio Republik &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; alias RRI.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Radio lawas milik pemerintah ini punya radio lainnya: &lt;i style=""&gt;Pro1, Pro2&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;Pro3. &lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Di situ saya ditemui Firdaus, jabatannya Sekretaris Tim Kreatif RRI Bandar Lampung. Kata dia, tak aneh kalau Kangen Band bisa mengudara di radio ini. Karena, ada program yang memang khusus untuk musik indie untuk disiarkan langsung di studio musik yang disiapkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Kami juga menampung semua CD demo musik indie. Mereka cukup mengirimkan proposalnya, kami kaji dan langsung kami siarkan. Namun untuk Kangen Band, tidak pernah datang. Tapi lagunya kami siarkan berdasarkan permintaan,” ujar dia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Anda tahu siapa yang meminta lagu Kangen Band disiarkan,” tanya saya. Firdaus menjawab, tidak tahu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Kangen Band kini sudah merajalela di banyak panggung dalam dan luar negeri. Mereka tidak pernah lagi mendatangi tempat-tempat yang dulu punya kenangan mengasah musik untuk menjadi tenar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;VII&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Malam di awal November 2007. Jakarta mulai memasuki musim penghujan. Mobil Honda Jazz warna merah terparkir di halaman belakang Sekolah Duta Bangsa yang berada di kawasan Kemang, selatan Jakarta. Di situ ada juga mobil minivan bertuliskan Positif Art Entertaiment (PAE). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Mobil yang terparkir tadi, milik Andika, dan minivan milik PAE adalah kendaraan operasional antarjemput sebagian personil Kangen Band. Andika sudah memiliki rumah di Bogor dan Dodi membeli rumah di kawasan Cibubur. Dua orang ini juga sudah memiliki kendaraan pribadi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Sementara empat personil lainnya, Bebe, Izzi, Tama, dan Iim, memilih tidur di rumah kontrakan di kawasan Cibubur, Jakarta Timur, dan memakai kendaraan operasional&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang disiapkan oleh PAE. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Tuh mobil baru beli. Tadinya masih mulus. Langsung dari Showroom. Eh, udeh penyok. Ditabrak mobil juga,” ujar Adji kepada saya tentang mobil milik Andika. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Saya mendekati mobil Andika. Body depan dekat lampu kanan, ringsek. “Maklumlah, Andika baru punya mobil. Itu kan hasil Kangen Band. Dia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bawa mobil&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sendiri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pikirnya jalan Jakarta sama dengan Lampung kali,” kata Adji. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Di lantai tiga Sekolah Duta Bangsa, ada studio rekaman Aluna yang dikelola seorang musisi ternama negeri ini, Erwin Gutawa. Studio itu menjadi rekanan PT. Warner Music Indonesia untuk mengorbitkan Kangen Band. Perusahaan rekaman musik jejaring dengan Warner Music Inc yang berpusat di Amerika ini, mempunyai anak perusahaan di seluruh dunia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Di luar kamar studio Aluna, sudah ada Andika yang sedang ditemani perempuan bertubuh tinggi. Namanya Bunga. Perempuan ini belum genap setahun dinikahi Andika. Ia sedang menyantap mie yang dilengkapi nasi dengan lauk ikan. Di situ ada juga Doddy, si mantan kenek angkot itu, gitaris, dan Izzi yang sedang mengembuskan asap rokok. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Sedang persiapan album kedua,” ujar Dodi usai menyalami saya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Om, makan yuk,” kata&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Andika pada saya. “Om, kami ini musisi kampungan. Banyak dihinanya. Tapi biarin aja orang mau nyebut apa soal Kangen Band. Kami tetap lanjut saja,” ujarnya lagi sambil menyedok nasi dan mengunyahnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Biarin aja orang mau ngomong apa. Buktinya lagi Kangen Band banyak diminati juga. Iya nggak Om,” tegas Dodi. Saya mengiyakan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Ada saatnya yang sudah naik, bisa jatuh juga. Yang di bawah, ada waktunya untuk naik. Dunia ini berputar,” tambah Andika. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Sudah siap semua lagunya? Berapa lagu? Siapa saja penciptanya?” tanya saya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Lagu sudah siap, tinggal isi musik saja. Kalau lagu, ada 10 lagu. Semua masih ciptaan saya,” jawab Dodi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Andika dan Dodi, saya perhatikan postur tubuh dan model rambutnya beda-beda tipis saja. Badan Andika lebih tinggi. Karakter Andika terlihat lebih santai dengan gaya duduknya yang sedikit malas. Dia senang menyelonjorkan tubuhnya di kursi. Sedangkan Dodi lebih memperlihatkan kewibawaan. Ia terus berpikir untuk persiapan lagu Kangen Band. Ia sering bolak-balik keluar masuk studio.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Di Aluna, saya juga diperkenalkan dengan Bebe, Izzi, Tama, dan Iim. Semua potongan rambutnya, tak jauh beda dengan Andika dan Dodi. Model rambut bagian depannya agak panjang menjuntai di mata. Hanya Iim yang rambutnya beda, pendek. Rambut tengahnya,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tegak kuncup. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Bebe, anak ini badannya kurus. Raut wajahnya kecil mungil, dengan mimik yang kerap memperlihatkan keluguan. Tinggi badannya sekira 1.50 meter. Ia tampak tak banyak bicara dan kerap memperhatikan sesuatu yang baginya terlihat mengasyikkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Baru tahu, kalau ternyata studio rekaman peralatannya selengkap ini. Baru tahunya, pas rekaman Kangen Band. Waktu bikin CD demo, alatnya nggak secanggih ini,” tutur dia sambil memperhatikan operator studio mengatur musik Kangen Band dengan seperangkat alat rekaman modern.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Izzi, berbadan rada gemuk. Anaknya banyak bicara dan kerap becanda. Ia sering memegangi rambut dan perutnya yang gendut. Ia sedang berusaha mengecilkan kembali perutnya. Malam itu, ia tidak bertelanjang dada. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Tama dan Iim, juga kurus. Dua orang ini tidak terlalu banyak bicara. Perawakannya tenang. Dua orang ini tampak senang menyendiri. Tama orangnya santai. Sedangkan Iim rada susah diajak tersenyum dan selalu terlihat serius. Dia senang cerita pribadiannya. Hanya dia personil Kangen Band yang keturunan dari Jawa, Sumenep.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;VIII&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Studio rekaman Aluna. Tempatnya cukup besar dan nyaman dengan pendingin ruangan yang sejuk. Lampunya tidak terlalu terang. Studio&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;itu punya dua ruangan. Ruangan pertama isinya perlengkapan mixing dengan komputer. Di situ ada keyboard, dan gitar serta ada satu sofa panjang. Ruangan satunya lagi, isinya hanya satu set drum. Ruangan itu, dibatasi kaca tembus pandang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Kata Dodi, ada yang harus diganti suara musik drum dan keyboard,” ujar operator studio Aluna. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Emangnya kenapa,” tanya Andika. “Kedengarannya udeh bagus,” timpal Izzi. operator Aluna tak menjawab. Bebe cuma bisa merengut sambil memperhatikan operator memainkan komputer memasukkan musik untuk diproses. Dodi sedang tidak ada di ruangan itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Lagu mana yang mau diganti,” tanya Izzi kepada Bebe.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Lagu yang judulnya ‘Untuk Jan’. Keyboard sama drum kurang enak didengar. Nggak tau tuh, maunya Dodi gimana,” jawab Bebe. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Mana Dodi,” teriak Andika sambil rebahan di kursi sofa. Tama yang rebahan di lantai berkarpet di sebelah sofa, dengan gaya tangan kanan menahan kepalanya, terdiam saja. Sedangkan Iim, hanya berdiri di dekat pintu. Membisu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Di luar. Kebanyakan dengar komentar orang sih. Ngapain didengerin,” ujar Izzi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Tak lama, Dodi masuk. Semua terdiam. Dodi langsung mendekati keyboard yang tadi dimainkan Izzi. “Kayaknya harus direvisi sedikit saja suara keyboard sama drum,” ujar Dodi. Semua masih terdiam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Operator mendengarkan vokal Andika dan Dodi langsung memainkan keyboard. Dia test satu persatu tuts-nya. Kedengaran saya, beda-beda tipis suara keyboard yang sudah dimainkan Izzi dan revisi yang dilakukan Dodi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Iim sudah ada di dalam ruangan drum. Dia juga mengubahnya menjadi lebih lembut lagi. Drum Iim, memang rada kasar. Bahkan terdengar kaku. Dodi meminta ada variasinya. Hasilnya, memang cukup bagus. Malam itu, tiga lagu baru rampung digarapnya untuk album kedua Kangen Band. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;“Sudah selesai &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt;. Gue mau pulang nih. Gue mau istirahat. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Capek. Sudah malam, ngantuk,” ujar Andika. Izzi mengiyakan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Andika dengan pacarnya dan dua orang teman, bergegas meninggalkan studio. Yang lainnya belum bergeming dari tempat itu. Saya pun ikutan pamit. Di parkiran Sekolah Duta Bangsa, Andika sudah ada di dalam mobil. Dia yang menyetir mobil Honda Jazz yang body depannya penyok itu. Pasangannya, Bunga, duduk di sebelahnya. Sedangkan dua orang lagi, duduk di bangku belakang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Nekad Om,” ujarnya kepada saya dari dalam mobil. “Mau dibawa ke bengkel, masih garansi kok.” Andika langsung injak gas mobilnya, menuju rumah barunya di kawasan Bogor, Jawa Barat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;IX&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Siang itu Jakarta Selatan, panas menyengat. Di hotel Grand Mahakam lantai empat, sedang ada acara media gathering dengan Kangen Band. Suasana tempatnya, nyaman. Terbuka. Ada kolam renang dan taman dengan pemandangan gedung tinggi Jakarta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Untuk acara media gathering sendiri, disiapkan ruangan yang pintunya terhubung ke tempat terbuka itu. Wartawan diatur satu persatu untuk bisa mewancarainya. Di situ, ada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pihak PAE dan dari Warner Music Indonesia. Personil Kangen Band yang datang, Bebe, Izzi, Iim, Andika dan hadir juga Eren, backing vokalnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Dodi dan Tama sedang dalam perjalanan dari Lampung menuju Jakarta mengendarai mobil Dodi. Tama baru saja berduka: Rosnaeni kakak kandungnya, meninggal dunia akibat kecelakaan motor. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Di ruangan media gathering itu, Kangen Band sedang diwawancarai oleh seorang wartawan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Dua award dari Warner Music &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; tergeletak di kursi berkain putih; Double Platinum Awards dan Ringtone Award. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Dua penghargaan itu, mendulang sukses dari album pertamanya, &lt;i style=""&gt;Antara Aku, Kau dan Dia&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Bagaimana tanggapan kalian dengan kritikan kelompok lain,” tanya seorang wartawan kepada Kangen Band.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Izzi menjawabnya, “Kita sih terima saja. Tidak perlu dijadikan masalah buat Kangen Band untuk bermusik. Bagi kami, kritikan itu justru membangkitkan Kangen Band untuk berkiprah di musik Indonesia.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Andika yang dari tadi sibuk dengan telepon selulernya, menambahkan, “Bagus saja dengan semua kritikan. Ini akan menjadi bahan introspeksi diri untuk lebih baik lagi di masa mendatang. Kita tidak akan memusuhi orang yang kritik. Mungkin saja, pengkritik itu lebih hebat dari kami.” Bebe, Iim, dan Eren hanya menganggukkan kepalanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Kritik dan hujatan, sudah bukan hal baru menimpa Kangen Band. Ketika kelompok ini mencuat di pentas musik Indonesia, hujatan datang bertubi-tubi. Band senior mereka mencaci dari semua lini. Menghujat suara dan wajah Andika yang tak bagus didengar dan dilihat. Lagunya dianggap kampungan dan merusak musik Indonesia. Cacian tentang latar belakang hidupnya juga dilontarkan. Dari ejekan anak tukang nasi, kuli bangunan, sampai tudingan anak mantan tahanan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Situs berita &lt;i&gt;detik.com&lt;/i&gt;, edisi Selasa, 08/05/2007 memuat pernyataan David vokalis grup Naif yang menyindir Kangen Band. “Tega bener. Mau dikemanain musik Indonesia. ‘Kangen Band’ please deh jangan band-band kayak gitu lagi yang dikeluarin.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Yang paling&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengerikan, beredar lagu rap melalui jaringan telepon genggam di awal September 2007. “Kami masih menyimpan musik rapp&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang menggunakan kata kotor dan sangat lebih tidak pantas keberadaannya di musik Indonesia,” ujar Sudjana. Dia memberikan telepon selelurnya, dan mendengarkan kepada saya lagu yang menghujat Kangen Band. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Sedikit kutipan lagu hip-hop caciannya yang berjudul &lt;i style=""&gt;Kangen Bitch:&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Paling enak hari gini cari-cari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perkara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Yo, amit-amit baru sekali ini kejadian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Seumur hidup baru ada sampah jadi perhatian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;You know Kangen Band yang personilnya, udik dan jelek&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;…….(lirik jorok) &lt;i&gt;sama Kangen Band&lt;/i&gt; (8x)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;…….(lirik kotoran binatang) &lt;i&gt;lebih pantas jadi pengamen. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Mereka adalah contoh kebodohan yang dipuja&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Sama seperti pertama kali tenarnya Radja&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Orang bilang bener, kalau kalian tolol&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Kayak rombongan waria yang tidak punya &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;…….(lirik jorok)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Bahkan harga diri elu lebih rendah dari&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt; ……(lirik nama binatang)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Saya dan Sudjana tertawa. Lirik lagunya menggunakan bahasa sangat kotor. Musik rap ini, bagi saya cukup enak didengar. Tapi cacian ke Kangen Band dengan bahasa jorok dan nama binatang, membuat saya tak habis pikir. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Situs &lt;i&gt;rileks.com&lt;/i&gt;, memuat tulisan permintaan maaf dari pembuat dan pelantun lagu cacian Kangen Band. Adalah M. Iqbal, seorang rapper asal Yogyakarta. Isi sebagian pernyataannya; “Saya sendiri tidak mengira lagunya akan seheboh sekarang, hingga muncul anggapan bahwa saya mencari sensasi dari lagu “sampah” saya itu. Saya merasa terkejut ketika diberitakan hendak “membunuh” secara fisik, sungguh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak ada niatan hal tersebut saya lakukan, saya cuma membuat lagu itu untuk “fun” representasi dari perasaan saya, dan juga mewakili perasaan teman-teman agar terekspresikan.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Kami berencana mau menggugat mereka. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Tapi kami pikir-pikir, buat apa. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Nanti malah jadi sensasi dan perhatian buat mereka,” ujar Sudjana tentang musik rap hujatan sambil bergegas menuju ruangan media gathering. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Usai berbincang dengan Sudjana, saya dihampiri Bebe. “Lagu apaan tuh, Om,” tanyanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Lagi dengerin lagu makian Kangen Band,” jawab saya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Wah, kalau itu, aku juga udeh nyimpan di HP. Ternyata bukan cuma Kangen Band. Agnes Monica juga dikatain pake bahasa jorok dan kotor. Ada juga yang semua band pop dimaki-maki. Kecuali Dewa,” ujar Bebe. Bebe duduk di sebelah kanan saya. Dia mengatur telepon selulernya untuk saya download lagu makian-makian itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Di sela download, Andika menghampiri kami. Dia menyingkirkan tas bawaan saya yang ditaruh di bangku kiri. Andika nampak lelah. Wajahnya dibaluri kosmetik perawatan wajahnya. Saya pun bergurau menanyakannya, “Wajah elu di apain?” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Andika menjawabnya, “Biasa Om, perawatan wajah nih. Supaya mulus kembali,” jawab Andika. “Ini bukan sekedar bedak, ini obat juga. Biasa, sebulan sekali harus pemeriksaan dokter.” Belakangangan saya baru tahu, Andika harus mengeluarkan kocek setiap bulannya dua juta rupiah untuk memuluskan wajahnya. Dokternya di Bogor dan rutin melakukan pemeriksaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Saya pun menanyai kasus narkoba yang pernah menjeratnya. Dia mengaku pernah di penjara. Tapi dia menjawabnya berbeda. Kata dia, kasusnya adalah tawuran saat masih sekolah dan belum bergabung dengan Kangen Band. “Biasalah Om, dulu kan sering ikut tawuran. Di penjara semalam aja kok,” ujarnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Yang sebenarnya, Andika pernah divonis satu tahun oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Bandar Lampung. Dia terbukti melanggar pasal 85 huruf a Undang-undang No.22/1997 tentang Narkotika jenis daun ganja. Andika ditangkap kedapatan membawa empat linting daun ganja saat razia di Jokker Biliard pada 9 Maret 2006. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Saat akan dibacakan vonis hukumannya, Andika sempat membacakan puisi di depan Majelis Hakim Pengadilan. Bahkan, dia juga pernah diminta Majelis Hakim untuk bernyanyi dulu di depan sidang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;X&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Lampung, tahun 2004. Sekelompok anak muda nongkrong di atas jembatan sungai kecil di Jalan Soetomo, Bandar Lampung. Mereka nyanyi-nyanyi diiringi alat musik sekedarnya. Sesekali, dengan siulan, mereka menggoda perempuan yang melintas di depannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Mereka bukan geng ’pemalak’ orang lewat. Mereka sedang membangun kreativitas. Dan kreativitas terbentuk ketika mereka memutuskan untuk melahirkan embrio kelompok musik Kangen Band itu. Ada vokalis, pemain gitar, kibod, juga pemain drum. Dua yang disebut terakhir, menggunakan kibod mainan dan drum eks ember cat plastik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;”Kelompok musik” itu biasa berkumpul sore hari, usai beberapa dari mereka pulang sekolah, atau usai mengais rejeki sebagai kuli bangunan atau berdagang sandal jepit. Mereka memang datang dari kelas pancaragam. Ada murid sekolah, ada juga buruh serabutan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Dengan alat seadanya, mereka membawakan musik dan lagu grup-grup band terkenal Indonesia. Mereka melahap habis lagu-lagu yang biasa dinyanyikan kelompok Padi yang dimotori Piyu dengan vokalis Fadli, dan Peterpan dengan vokalis Ariel. Gaya vokalisnya bahkan mirip dengan dua vokalis grup papan atas itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Bosan dengan permainan alat sekedarnya, mereka akhirnya memikirkan untuk bermusik dengan alat sesungguhnya. Mereka meluncur ke studio musik sewaan Sulva,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang berada di Jalan Ratulangi, Bandar Lampung. Lagu-lagu yang dimainkan masih karya-karya Peterpan dan Padi. Saat itu mereka belum menyematkan nama band.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Mulanya Iim yang agak kagok menyesuaikan diri dengan drum. Ia yang biasanya main drum pakai penampung cat, kali ini memegang stik dan drum sebenarnya. Yang lain tidak bermasalah dengan alat musiknya masing-masing. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Untuk membayar sewa studio musik, dananya patungan. Namun tanpa ada kocek di kantong pun mereka tetap nekad masuk studio. Soal bayar sewa, dipikirkan belakangan. Yang penting bermain musik dulu. Kalau malu karena utang belum dibayar, mereka pindah ke studio Rifan yang jaraknya tak jauh dari studio Sulfa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Padahal uang sewa studio musik di sana tidak terlalu mahal. Rp20 ribu setiap jam. Tapi bagi mereka, uang segitu termasuk besar. “Sampe gua yang jadi korbannya,” kisah Bebe yang berbadan paling kecil dan dikenal juga sebagai Novri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Bebe dijadikan jaminan kepada pemilik studio. Alasan teman-temannya, mereka lupa membawa uang. Padahal mereka meluncur ke rumah Doddy untuk makan. Saat mana Bebe hanya celingak-celinguk di dalam studio. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Bak anak tahanan yang berada di rumah penjara, dia mendapat pengawasan dari penjaga studio. Dua jam kemudian, pemilik studio melihat mimik Bebe. Kasihan. Dia disuruh pulang. Dengan rasa jengkel, Bebe berjalan kaki ke rumah Dodi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Baru saja mereka akan berangkat untuk menebusnya, Bebe sudah ada di dekat rumah dengan wajah sayu. Mereka semua tertawa dan meminta maaf. “Eh, Bebe kan kita titipin di studio,” Izzi teringat kawan paling kecilnya itu. Izzi dan Bebe satu sekolah di SMA Bina Mulia, Bandar Lampung. Bebe menggerutu dengan perut kelaparan. Dia langsung menyantap makanan yang masih tersisa sambil terus mengoceh tak karuan. Yang lainnya hanya mesem-mesem. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Hampir setahun, mereka keluar masuk studio musik. Iim sudah tidak kagok lagi main meiankan drum sungguhan. Suatu hari mereka berangan-angan untuk bisa nyanyi di kafe-kafe. Semakin serius di dunia musik, akhirnya membuat mereka mulai terpikir untuk mengantongi nama band. Persisnya 4 Juli 2005, nama Kangen Band dicetuskan oleh Dodi, gitarisnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Personil tidak berubah sejak mereka kongkow-kongkow di atas jembatan. Dodi pada gitar dan vokal, Andika (vokal), Thama (gitar), Bebe (bas), Iim (drum), dan Izzy (keyboards). Filosofi nama Kangen Band, sederhana. Di saat sendirian atau tidak berkumpul sehari saja, Doddy kangen bertemu dengan teman musiknya itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Namun cerita lain,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kangen Band diambil dari julukan panggilan untuk Dodi. Dia dikenal sering berganti nama jika berkenalan dengan perempuan yang ditaksirnya. Kadang ia menyebutkan nama panggilan Genta, sesekali Tesar, dan seringkali dia mengaku bernama Kangen. “Dodi banyak ceweknya,” ucap Bebe dan Izzi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Kalo aku sih, belum punya pacar,” kata Bebe sambil mengusap rambutnya. Izzi menyambungnya, “Sama, aku juga belum punya.” Bebe langsung nyeletuk membalas, “Boong, pacarnya ada di Lampung.” Izzi tak kalah membalas, “Maksudnya cewek di Jakarta.” Izzi tertawa. “Dasar Playboy,” celetuk Bebe. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;XI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Mereka tidak lagi bermain di jembatan, tapi mulai memberanikan diri naik panggung. Untuk promosi, mereka melibatkan Iit Bahtera, orang Lampung dan masih berkeluarga dengan Dodi. Dia-lah yang mencarikan orderan untuk Kangen Band.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Mereka ngeband keliling. Dari undangan acara sunatan sampai ke kafe-kafe, semua dilayani. Sekali mereka keluar daerah, mentas di perhelatan perkawinan di Palembang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lagu-lagu Padi dan Peterpan serta lagu hits Indonesia lainnya jadi andalan.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Pentas pertama mereka di Pringsewu, Bandar Lampung dengan honor Rp 800 ribu. Mereka gembira mendapatkan uang sebesar itu. Tapi mereka juga pernah mendapat honor Rp 125 ribu. Uang itu dibagi rata, seorang dapat Rp 25 ribu. Tak jarang mereka hanya mendapatkan ucapan ”terima kasih” atau ”proyek tengkiu”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Honor terima kasih itu waktu acara perkawinan di Bandar Jaya. Cuma dikasih makan doang,” kenang Izzi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;“Iya, udeh cape-cape nyanyi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Nggak dapat apa-apa. Kesel banget,” ujar Andika. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Bebe mengiyakan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;”Luntang-lantung” bermain musik, membuat Kangen Band bosan. Ada pemikiran untuk bikin lagu sendiri. Dodi punya banyak catatan puisi. Ia sering menulis syair romanti. Dari kisah pacarnya selingkuh sampai harus bertemu kekasihnya dengan diam-diam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Semua lagu adalah kisah nyata yang saya alami. Sebelum ada Kangen Band, syair itu memang sudah ada. Akhirnya saya jadikan lagu,” tutur Dodi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Kebanyakan cewek sih lu,” ledek Iim. Dodi tersenyum. “Pacaran jadi kandas terus,” timpal Bebe. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Pertengahan 2005, Kangen Band akhirnya punya dua lagu yang sudah diaransemen: &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;‘Penantian’&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan ‘Antara Aku, Kau, dan Dia’.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Setiap dapat order manggung, dua lagu itu mereka nyanyikan sebagai perkenalan. Lagu itu akhirnya disulap ke dalam CD demo. Untuk bayar sewa studio rekaman, mereka patungan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Walaupun sudah punya lagu di CD demo, mereka tak tahu cara mengirimkannya ke perusahaan rekaman. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Juga tak pernah berangan-angan masuk dapur rekaman &lt;i style=""&gt;major label&lt;/i&gt;. Bagi mereka, CD demo saja sudah jadi kebanggaan tersendiri. Mereka cukup puas dengan lagu bikinan sendiri, direkam sendiri, dan didengar sendiri. “Maklum orang kampung. Kalo kata Tukul, &lt;i&gt;katrok&lt;/i&gt;,” ujar Andika. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“CD demo dikirim saja ke radio,” ujar Yaya, perempuan yang dekat dengan Dodi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;"&gt;Dia yang membawa CD demo ke &lt;i style=""&gt;Radio Pro2 FM&lt;/i&gt;, salah satu sayap perusahaan milik Radio Republik &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; alias RRI. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Radio ini oleh Kangen Band dianggap paling digemari oleh orang Lampung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Gagal. Lagu mereka tak juga diperdengarkan. Bahkan tak ada kabarnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Suatu hari, Izzi punya siasat. “Kita harus &lt;i&gt;request&lt;/i&gt; ke radio minta disetelin,” ujarnya. Yang lain setuju. Personil Kangen Band dan teman dekat mereka pun gencar menghubungi &lt;i style=""&gt;Radio Pro2 FM&lt;/i&gt;. Mereka hanya minta disetelin lagunya sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Siasat itu jitu. Radio lawas negeri ini menyiarkan lagu Kangen Band. “Akhirnya disetel juga,” ujar Izzi. &lt;i&gt;Request &lt;/i&gt;tetap dilakukan agar lagu mereka tetap terdengar setiap hari. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Tidak hanya itu siasat yang dijalankan. Doddy seorang kenek angkutan kota alias angkot di Lampung, teman dekat Dodi gitaris Kangen Band, juga ikut andil mempopulerkannya. Ia sering menyetel lagu Kangen Band di kendaraannya. “Pokoknya cuma ada lagu Kangen Band saja,” ujar Doddy, kenek angkot itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Doddy pula yang pertama kali mendengar lagu Kangen Band di lapak CD bajakan di Pasar Tengah, Tanjung Karang, Bandar Lampung. Dia langsung menyampaikan kabar gembira itu ke semua personil Kangen Band. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Sejak itulah, lagu mereka kerap terdengar di seantero Bandar Lampung. CD demo mereka ternyata banyak dibajak dan beredar di sana. Tak ayal, lapak-lapak bajakan semakin banyak memperdengarkan CD lagu mereka. Dari pasar tradisional sampai mal di Lampung, kerap menyetel lagu Kangen Band. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Kami tidak menyangka lagu Kangen Band banyak beredar bajakan. Tapi kami senang, ada yang mendengarkan,” ujar Dodi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Nama Kangen Band sudah banyak dikenal di telinga masyarakat Lampung. Orang sana mengira, mereka kelompok musik ternama di Indonesia. Tapi, banyak orang Lampung yang tidak pernah melihat penampilan Kangen Band di televisi. Koran di Lampung pun tak pernah memberitakannya. Kenal nama, tak kenal wajah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;XII&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Januari 2006, kapal feri antarpulau meluncur dari Jakarta menyeberangi Lampung. Sudjana, seorang Direktur Positif Art Entertainment (PAE) mendengarkan lagu aneh selama berada di kapal itu. Hampir di tiap dek dan lorong kapal, lagu aneh itu selalu terdengar. Dia hanya mengacuhkan. Dalam pikirannya, kelompok yang menyanyikan lagu itu, tidak terkenal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Positif Art Entertaiment yang disingkat PAE adalah lembaga naungan Rakyat Merdeka Group di bidang manajemen artis sejak tahun 2005. PAE mencari bakal artis baru untuk diorbitkan sekaligus jadi manajer artisnya. Dan Sudjana adalah wartawan Rakyat Merdeka. Sudah 10 tahun lamanya dia bergabung dengan media milik Jawa Pos Group itu. Jabatannya selain di PAE, juga redaktur khusus desk hiburan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Setibanya di Pelabuhan Bakauheni, dia naik mobil travel menuju Bandar Lampung selama 1.5 jam. Lagi-lagi, di dalam mobil dia mendengarkan lagu aneh itu. Sudjana hanya bisa menikmati. “Kok lagu aneh itu lagi,” pikirnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Pokoknya sepanjang perjalanan dari Jakarta sampai Bandar Lampung, lagu-lagu Kangen Band terus aku dengar. Yang ada di benak, lagu ini enak tapi aku nggak tahu siapa yang nyanyi,” tuturnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Tujuan awalnya ke Bandar Lampung bukan untuk mencari kelompok musik yang akan ditenarkan. Dia sedang &lt;i&gt;hunting&lt;/i&gt; bersama rekan kerjanya untuk program acara ‘rejeki nomplok’ yang biasa ditayangkan televisi swasta TV7 yang berkantor pusat di Jakarta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Di Bandar Lampung, lagi-lagi lagu aneh itu didengarnya. Yang bikin ia heran, di hampir semua tempat yang dikunjunginya, lagu aneh itu diputar. Di angkutan kota, pedagang CD bajakan, sampai di mal-mal. Sudjana penasaran. “Ini lagunya Kangen Band,” jawab pengunjung mal yang ditanyainya. “Kangen Band!” pikir Sudjana bingung. Sebagai wartawan hiburan, nama grup ini tak tercatat dalam ingatannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Dia tak memperdulikan nama Kangen Band. Tapi dalam benaknya, dia penasaran ingin tahu tentang kelompok musik itu. Seminggu kemudian, Sudjana kembali ke Jakarta. Di kantor PAE, dia menceritakan kepada rekan kerjanya mengenai lagu aneh Kangen Band. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Di Jakarta pun, dia sempat kaget. Lagu aneh yang dinyanyikan Kangen Band, juga terdengar di lapak CD bajakan, Roxy. “Setiap saat, jadi kepikiran lagu mereka,” ujar Sudjana. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Seorang rekan kerjanya yang juga pendiri PAE, Susilowati, memberikan informasi keberadaan Kangen Band. Dia dapatkan kontaknya dari keluarganya di Lampung. Sudjana mengantongi nama manajernya, Iit Bahtera dan Budi Pamungkas. Sudjana menghubungi Iit dari Jakarta dan janjian bertemu di Bandar Lampung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Sudjana dan beberapa rekan dari PAE meluncur lagi ke Lampung. Di sana, dikenalkan dengan Budi Pamungkas, manajer baru Kangen Band. Di rumah orang itu, PAE bertemu dengan personil Kangen Band. Sudjana mengutarakan rencananya, membawa Kangen Band ke Jakarta untuk mengisi acara di ulang tahun Rakyat Merdeka yang berlangsung di Hotel Mulia, Jakarta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Om, kami kepengen bisa main musik di Jakarta nih,” ujar Dodi. “Iya Om, kali aja bisa jadi kayak selebritis,” ujar Izzi. Sudjana dipanggil Om oleh mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Saya usahakan. Tapi saya tidak bisa janjikan,” jawab Sudjana. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Di pertemuan itu Sudjana belum mengenal Andika. Dia tidak dilibatkan oleh Kangen Band. Andika sedang menjalani masa tahanan akibat terlibat kasus Narkoba. Dia kedapatan membawa lintingan ganja saat razia di Jokker Biliard, Bandar Lampung. Andika digantikan Riko yang terpilih menjadi vokalis berdasarkan audisi yang diadakan Kangen Band. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Kangen Band akhirnya mengisi acara penutup di ulang tahun Rakyat Merdeka yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, serta beberapa menteri dan pejabat tinggi lainnya di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jakarta. “Nggak tahu yang mana mukanya Presiden. Jusuf Kalla aja nggak tahu juga,” ujar Bebe.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Usai dari acara itu, Kangen Band kembali ke Lampung. Dan seminggu kemudian, Sudjana dikontak oleh Budi Pamungkas. Di sela percakapan itu, Sudjana langsung menyampaikan keinginannya untuk memanajeri Kangen Band. Terjadi perdebatan dan tidak ada kesepakatan. Akhirnya Sudjana mengalah. Nama Kangen Band hanya tersimpan dalam benaknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Sebulan kemudian, barulah Sudjana ada firasat lagi untuk mengorbitkan Kangen Band. Pada saat itu, Budi Pamungkas sudah tidak menjadi manajer Kangen Band. Sudjana kembali mendatangi mereka di Lampung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Sudjana menemui Dodi di rumahnya. Andika sudah bebas masa tahanan. Vokalis akhirnya kembali lagi dari Riko ke Andika. Betapa kaget Sudjana ketika mengetahui wajah vokalis lawas Kangen Band. Dia tak menyangka, wajah Andika tidak sebagus lagu yang dinyanyikannya. Sudjana ciut. Terbesit di benaknya untuk mengganti Andika dengan vokalis lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Sambil ngobrol, saya memikirkan Andika. Akhirnya saya putuskan, biarkan apa adanya Kangen Band aja deh,” ujar Sudjana. Di rumah Dodi, Sudjana menyuruh personil Kangen Band menyanyi dengan alat seadanya dan merekamnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Saya tertarik dengan tekad mereka (Kangen Band). Mereka dari keluarga biasa, tapi punya keinginan kuat untuk berkembang di musik. Modal saya cuma insting. Saya tidak tahu jenis musik, tapi setiap lagu mereka, sangat saya nikmati,” ujarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Om, kami bisa nyanyi dan main musik di Jakarta &lt;i&gt;kan?&lt;/i&gt;” tanya Izzi. Dodi juga mengemukakan hal sama. Personil lain terdiam. Sudjana tetap belum bisa memastikan. “Saya usahakan,” jawabnya singkat sambil melihat mata ayah dan ibu Dodi yang memancarkan pengharapan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Dari pertemuan itu, Sudjana membawa CD master demo yang isinya tujuh lagu Kangen Band ke Jakarta. Dia belum tahu, ke mana CD ini diperkenalkan. Seminggu kemudian, dia ingat seorang penyanyi &lt;i&gt;cum&lt;/i&gt; pencipta lagu era tahun 80-an, Ali Tasman. Sosok ini sudah lama dikenalnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;Sudjana langsung menghubunginya melalui telepon seluler. “Kang, ini ada lagu baru yang saya perkenalkan. Bisa nggak. Dengerin aja dulu,” ujar Sudjana. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen;" lang="SV"&gt;“Ya su
