Feature Story News

Rabu, 21 Juli 2010. Kota Aceh sedang ada razia besar-besar di depan mesjid raya, sasarannya adalah wanita yang dianggap melanggar peraturan...

Syariat Atjeh Ala Linda Christanty


Rabu, 21 Juli 2010. Kota Aceh sedang ada razia besar-besar di depan mesjid raya, sasarannya adalah wanita yang dianggap melanggar peraturan Syariat Aceh; tidak mengenakan jilbab.

Seorang perempuan ditangkap. Ia di bawa dan mendapat nasehat dan ceramah yang semuanya dikaitkan dengan syariat Islam. Perempuan itu diam dan hanya mendengarkan.


“Ini sudah yang kedua kalinya. Kalau ketiga kalinya, Anda akan dibina dalam ruangan,” ujar petugas razia.

Mendengar kata “bina” dalam ruangan itu, perempuan itu langsung stress. Ia ingat pemerkosaan Langsa yang pelakunya tiga polisi syariah. Apalagi polisi itu menyebutkan ada penjara khusus perempuan yang melanggar aturan jilbab.

Setelah mendengarkan nasehat dan mendapat peringatan, perempuan itu akhirnya dibebaskan. Perempuan itu menuju kantor acehfeature.org. Di sana bertemu Linda Cristanty, atasan kerjanya.

Perempuan itu bernama Donna. Seorang perempuan yang bekerja sebagai sekretaris kantor di situs acehfeature.org. Ini lembaga media yang menerbitkan tulisan-tulisan yang isinya soal aceh melulu. Lembaga ini juga, awalnya di bawah koordinasi Yayasan Pantau di Jakarta. Namun akhirnya berdiri sendiri.

Kepada Linda Cristanty, Donna menceritakan proses penangkapan dan pidato polisi syariah itu. "Kalau tak mau mengikuti peraturan di sini, silakan keluar dari Aceh,” tutur Donna menirukan ancaman polisi syariah.

Mendengar cerita bawahannya, Linda langsung mengirimkan status di jejaring sosial facebook: “Donna, sekretaris kantor, ditangkap polisi syariah hari ini, yang mengatakan bahwa ia akan dibina di ruangan kalau melanggar wajib jilbab ketiga kalinya. Kata 'dibina' dan 'ruangan' membuat Donna stres, karena ia teringat kasus pemerkosaan Langsa yang pelakunya adalah tiga polisi syariah. Polisi itu juga menyebutkan bahwa ada penjara khusus untuk perempuan yang melanggar aturan jilbab”.

Banyak komentar dengan status Linda. Berikut ini tanggapannya yang dikutip dari facebook pribadinya;
Donna adalah orang Aceh dan tak mungkin pindah ke pulau lain. Sejak kapan Islam diperlakukan sebagai monster oleh aparat negara? Marilah kita lihat kepentingan ekonomi dan politik yang berada di belakangnya. Sebab surga seperti dikatakan Allah merupakan rahasiaNya, bukan berada di tangan segelintir orang yang menentukan hak miliknya.

Memang aneh. Maksiat tak ditentukan dari cara perempuan berbusana. Di Arab lebih banyak perempuan diperkosa ketimbang di negara Eropa yang perempuannya tak menutup sekujur tubuh mereka seperti lemper. Dalam kasus pemerkosaan Langsa, yang diperkosa perempuan berjilbab kok.

Linda mengatakan, bukan nasib dan karena itu harus diubah. Ketika agama menjadi monster, artinya ada hal yang harus kita waspadai di balik itu semua. Penerapan syariat Islam ini pertama kali didengungkan di masa Darurat Militer di Aceh.

Pemerintah dan militer punya kepentingan dalam pelaksanaannya untuk membuat Aceh jadi daerah yang terisolasi. Kekayaannya bisa diambil sewenang-wenang dan rakyatnya ditindas tanpa ada yang tahu. Itu politik di belakang syariat. Apalagi setelah tsunami dan konflik ditemukan sumber-sumber alam baru yang bisa dieksplorasi.

Minyak, gas alam, emas, nikel, dan mungkin juga uranium. Di lapangan tentu saja hal itu tak akan terlihat. Yang tampak adalah wujud polisi syariah akan sibuk membacakan ayat tertentu dan setelah itu sibuk berceramah tentang surga, lalu ketika dibantah dia akan berkata, "Itu sudah peraturan." Ketika didesak lagi, dia akan berkata jujur, "Itu peraturan pemerintah." Marilah kita usut apa kepentingan pemerintah terhadap syariat Islam di Aceh secara kritis, pasti bukan agar seluruh orang Aceh masuk surga.

Hal lain yang dikhawatirkan Donna adalah keluarganya diintimidasi dan dapat tekanan sosial juga. Maklumlah, bisa saja para polisi syariah dan pendukungnya mengeluarkan isu macam-macam untuk itu. Apalagi mereka merasa sebagai ahli waris surga. Aku sendiri tak peduli masuk surga atau neraka, bahkan tak pernah memikirkannya.

“Waktu kecil saja aku sering mendengar kalimat bahwa surga dan neraka urusan Allah. Sekalipun kita berbuat baik, menurut kita, kalau Allah bilang masuk neraka ya masuk neraka. Baru di Aceh inilah aku tahu ternyata surga ada juru kuncinya. Mereka menggunakan Alquran yang mana ya?”, tulis Linda.

Menurutku syariat itu justru salah satu alat paling efektif yang membuat para pendukungnya punya alasan kuat untuk tak mensejahterakan ekonomi rakyat dan mengalihkan perhatian kita dari isu pelanggaran hak asasi manusia di Aceh. Semakin ketat syariat ingin diterapkan dan semakin banyak kekerasan yang terjadi dalam pelaksanaannya, semakin kita harus mencurigai apa motif di balik ini.

Syariat di Aceh bahkan membasmi tradisi dan budaya Aceh, seperti busana perempuan, dan hendak menukarnya dengan tradisi dan budaya Arab. Ampuuuuun, deh. Bagiku, perempuan mau pakai jilbab silakan, nggak pakai jilbab juga boleh. Adikku saja berjilbab dan dia nggak pernah menyuruhku pakai jilbab dengan mengatasnamakan Islam.

“Perempuan berhak menentukan pakaian apa yang melekat di tubuh mereka. Mereka yang punya tubuh kok. Jilbab atau bukan, itu fashion, terserah perempuan yang memilih mana yang cocok untuk diri mereka,” tulis Linda.

Yang bisa dilakukan kaum laki-laki di Aceh dan di mana pun adalah mendukung aksi solidaritas terhadap perempuan untuk menolak negara mengatur tubuh dan busana perempuan. Bisa melalui aksi tanda tangan atau dengan menulis yang bersifat mengeritik setiap upaya mengatasnamakan agama untuk menista perempuan.

Perjuangan perempuan untuk kesetaraan dan melawan kesewenang-wenangan tak bisa dilakukan hanya oleh perempuan, tapi juga memerlukan dukungan dan keterlibatan kaum laki-laki. Sebab tujuan dari perjuangan ini bukan semata-mata untuk perempuan melainkan untuk masa depan umat manusia.

Bagaimana kalau para pemerkosa dihukum tembak dengan senjata otomatis saja seperti di Yaman, kalau memang mau memakai cara Islam? Polisi syariah di Langsa yang memperkosa perempuan usia 20-an itu cuma dihukum delapan tahun penjara. Sungguh tak sebanding dengan perbuatannya. Seorang pelaku malah kabur dan tak ditemukan sampai hari ini.

Itulah gaya Linda kalau memposting sesuatu yang berkaitan dengan hak perempuan. Ia akan terus nyerocos sampai lelah untuk bertemu endingnya. Gaya keras. Gaya yang tak perlu pakem.

0 komentar: