Feature Story News

Malam di lobi Bengkel Night Park, kawasan SCBD Sudirman, Jakarta. Para wanita muda yang cantik, sibuk melayani anak-anak muda. Mereka menu...

Segelas Bir untuk God Bless


Malam di lobi Bengkel Night Park, kawasan SCBD Sudirman, Jakarta. Para wanita muda yang cantik, sibuk melayani anak-anak muda. Mereka menuangkan minuman bir bermerek Bintang. Minuman itu diteguknya. Kelihatan sangat menikmati. Tak hanya pria, pun pasangan wanitanya.

Di dalam ruangan, anak-anak muda lainnya melakukan hal yang sama; minum bir bintang. Namun suasananya berbeda. Selain meneguk sambil berdiri, tak sedikit minuman itu diteguknya bergeromboran dengan berhampar di lantai. Asap rokok begitu pekat menyelubung seluruh ruangan yang cukup besar.


Bagian depan ruangan itu, ada panggung berukuran besar. Lampu-lampu bersinaran warna-warni. Hampir semua sudut tempat terpampang iklan Bir Bintang. Musik sound dan layar lebar di dekat panggung, Bir Bintang melulu yang ditayangkan. Malam itu memang sedang ada hajatan. Bir Bintang melakukan iven bertema “Bersama Kita Bintang”.

Pukul sembilan malam, acara di mulai. “God Bless…God Bless…God Bless,” teriak penonton.

“Tenang. Ada jadwalnya God Bless nyanyi,” ujar pemandu acara pria sambil berkelakar dengan pemandu perempuan di sebelahnya.

God Bless, ini kelompok musik rock legendaries negeri ini. Kelompok ini didirikan tahun 1973 di Jakarta yang digawangi kali pertama oleh Ahmad Albar alias Iyek, Donny Fatah, Fuad Hassan, Jockie Soerjoprayogo, Ludwig Lemans. Kemudian menyusul bergabung Ian Antono. Nama personil silih berganti; antara lain eddy Stanzah, Rudi Gagola, Abadi Soesman, Dodo Zakaria, Oding, Debby, Keenan Nasution.

Namun di malam Bir Bintang, sebagian masih formasi lama. Iyek masih menjadi vokalis, Donny Fatah dengan gitar basnya. Ian Antono gitaris, Abadi Soesman keyboard dan Yaya Moektio menjadi drummernya.

Kecuali Yaya Moektio, wajah personil lainnya sudah tidak muda lagi. berkerut, tubuhnya kerempeng, dan lipatan kulit muka mereka sudah kentara cekungannya. Tapi, gaya God Bless tempo dulu tak berubah. Ian Antono dan Donny Fatah masih menjadi dua gitaris piawai dengan gayanya; memetik gitar sambil lari berjingkrat.

Malam itu, God Bless benar-benar kembali menjadi raja. Mereka menyanyikan lagu-lagu lawasnya; semut-semut hitam, syair kehidupan, dan lainnya. Antusias God Bless Community (GBC), juga tak kalah hebohnya. Semua lagu yang dinyanyikan, sudah hapal di kepala penonton.

***
Matahari baru saja kembali ke peraduannya. Lelaki perokok Sampoerna Mild menthol itu duduk santai di kursi berkain putih. Celana pendek dan kaos hitam membalut tubuhnya yang cengkar. Rambutnya klimis tipis. Kerut menghiasi wajahnya. Ia tak muda lagi, sudah 55 tahun. Sesekali ia meneguk kopi, lalu menghisap lagi rokoknya.

“Badan gue udeh mulai stabil. Emang kurus banget. Dulu badan gue bagus. Salah satu penyebabnya, ya… mikirin God Bless,” ujar Jockie Soerjoprajogo, lelaki itu.

Kini formasi God Bless sudah sedemikian berubah. Gonta-ganti personil menandai karir mereka. Keadaan ini dipicu oleh sejumlah determinan, antara lain beberapa personilnya sibuk bersolo karier dengan proyeknya masing-masing. Itulah yang membuat Jockie Soerjoprajogo prihatin. Ia adalah salah satu personil awal sejak God Bless berdiri, sekaligus inspiratornya. Di God Bless ia pemain keyboard. Selain dirinya, ada Ahmad Albar (vokalis), Donny Fatah (bas), Fuad Hassan (drum) dan Ludwig Lemans (gitar).

“Sayang tuh kelompok. Udeh tenar tapi orangnya susah diatur. Maunya jalan sendiri-sendiri. Nggak konsisten. Gue ampe capek mikirin bisa nostalgia lagi. Susah,” ujarnya lagi. “Sampe sekarang aja, album terakhirnya udeh nggak digarap lagi. Musik udeh jadi, tinggal masukin vokal aja, eh…malah vakum. Stress, kan?”

Album terakhir God Bless yang bertajuk Apa Kabar dirilis pada 1997. Sejak itu mereka praktis tak lagi mengeluarkan lagu. “Jadi kalau ada yang bilang God Bless mau bikin album baru lagi, omong kosong. Gue sih ketawa aja. Gile banget. Yang lama aja masih utang ama produser.”

Kini Jockie hanya bisa mengumpat. Berkeluh soal kondisi God Bless. Umpatan itu pula yang ditumpahkan kepada saya pertengahan Juni lalu, ketika saya temui di rumahnya di Bumi Serpong Damai (BSD) Tanggerang.

Ia tinggal di sebuah rumah yang cukup besar, sekira tipe 70. Kontras dengan luas keseluruhan, ruang tamu rumah Jockie kelihatan sempit. Banyak perabotan yang membuat ruangan berukuran sekira 4 x 8 meter ini kelihatan sesak. Televisi berukuran 21 inci terletak dekat bangku tamu. Terdengar suara gemericik air dari kolam taman dalam rumahnya.

Walaupun dia personil God Bless, tak ada foto atau lukisan yang terpanjang di dinding rumahnya. Ia juga tidak punya koleksi album foto maupun album lagu kelompok rock yang pernah kondang di negeri ini. “Gua nggak punya. Memang dari dulu gue nggak pernah simpan,” tuturnya.

Ia terdengar seperti mutung saat diajak bicara soal kelompok band yang sempat melambungkan namanya. “God Bless cuma menang sebagai kelompok rock legendaris. Hanya sekedar itu saja. Tapi kalau soal internal, nggak pernah beres-beres. Jadi, kalau habis bikin album terus vakum dan begitu seterusnya, bukan hal aneh.”

Ia kini sibuk bersolo karier membuat musik bersama Eros Jarot. Walaupun hari-hari banyak diluangkan waktu di rumah, ia tetap menulis lagu dan memainkan musiknya. God Bless, seakan diabaikan untuk waktu yang tak ada ujungnya.

*******************

Tahun 1973, Donny Fattah dan Fuad Hassan mendatangi rumah Jockie di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Dua orang ini mengajak untuk bergabung latihan band bersama di Cibogo, Puncak, Bogor, Jawa Barat.

“Kenapa harus di puncak,” tanya Jockie.

“Supaya kita bisa mudah konsolidasi latihan selama sebulan dan waktunya bisa diperpanjang sesuai kebutuhannya. Karena juga, ada anggotanya yang dari Belanda yang berdomisili di Indonesia,” jawab Donny.

Jockie setuju. Ia akhirnya berangkat ke puncak. Tiba di sana, ternyata benar, ada dua orang yang dikatakan berasal dari Belanda. Ahmad Albar yang kemudian dikenal bernama Iyek dan Ludwig Lemans. Sebelumnya, Jockie tidak mengenal dua orang yang disebutkan terakhir.

Iyek dilahirkan di Surabaya pada 16 Juli 1964. Di Belanda, ia belajar di sekolah musik jurusan gitar klasik di Bergen OP Zon. Di sana, ia berkenalan dengan Ludwig. Berdua pernah membentuk Clover Leaf. Tujuh album dan satu piringan hitam dihasilkan. Diantaranya; Veronica, North Sea, dan Hilversum. Album ini masuk tangga lagu popular di sana. Alhasil, Clover mengadakan tur ke Jerman, Belgia, dan Luxemburg.

Sebulan lamanya, mereka latihan tanpa ada nama grup musik. Nama grup yang sempat disematkan adalah Crazy Will.

Akhirnya, berlima punya agenda untuk turun gunung dan ingin segera memainkan musik di Jakarta. Pada tanggal 4 dan 5 Mei 1973, konser kali pertama Taman Ismail Marzuki (TIM). Di situ, disematkan nama God Bless. Nama ini diambil dari kartu pos kiriman teman Iyek di Belanda saat latihan di puncak. Di surat itu, bagian bawahnya tertulis God Bless You (Tuhan Memberkatimu).

Konser di TIM membawakan lagu-lagu berasal dari grup band asing; Deep Purple, Grand Funk Railroad, ELP, King Ping Me, James Gang dan Genesis. Pentas itu mendapat sambutan penonton. Antusias. Walaupun belum rekaman dan hanya jago panggung, God Bless mulai dikenal pengemarnya sebagai band rock papan atas saat itu. Tak lama, Ludwig akhirnya kembali ke Belanda. Iyek tetap di Indonesia.

Setelah Ludwig pulang, posisi gitar digantikan Soman Lubis. Nahasnya, pada tahun 1974, Soman dan Fuad Hassan meninggal dunia. Tabrakan mobil di dekat Tugu Pancoran, Jakarta Selatan. Keadaan diperburuk lagi dengan pengunduran diri Jockie. Kepada saya Jockie mengakui, dirinya sosok anak muda yang nakal. “Gue dulu pemakai Narkoba...Bukan cuma itu saja, gue orang yang nggak bisa diam. Mau cari suasana untuk terus berekspresi. Nggak cuma di God Bless aja.”

Tak ada Jockie, God Bless hanya sesekali saja mentas. Personilnya tinggal Iyek dan Donny. Akhirnya, sejumlah musisi dilibatkan untuk konser panggung. Antara lain Deddy Stanzah, Rudi Gagola, Abadi Soesman, Dodo Zakaria, Oding, Debby, Keenan Nasution.

Semuanya tidak ada yang cocok bermain di God Bless. Abadi Soesman mengundurkan diri. Ia ingin bermain musik lagi di aliran Jazz. God Bless seakan hilang dari peredaran. Iyek dan Donny menemui Jockie untuk bergabung kembali di God Bless.

“Kalau saya masuk lagi, siapa yang mau main drum ama gitarnya,” tanya Jockie.

“Ada nggak yang kira-kira main sama kita,” tanya balik Iyek.

“Kalau di Jakarta, sulit. Kalau di Malang, mungkin ada.”

“Siapa ya? Iyek lagi bertanya.

“Cobalah nanti saya tanya dulu orangnya, mau nggak ke Jakarta,” kata Jockie Soerjoprajogo. Donny dan Iyek akhirnya memercayai Jockie mencari pemain baru God Bless.

Di Malang, Jawa Timur, Jockie tidak kesulitan untuk mencari pemain band. Di sana, ia banyak kenal kelompok musik, ada Jaguar, Bentoel dan lainnya. Ia dipertemukan dengan seorang lelaki bernama Ian Ling, lelaki keturunan Tionghoa yang dikenal dengan panggilan Ling sebagai gitaris di kelompok Bentoel. Ling setuju.

Jockie menanyakan ke Ian untuk pemain drum. “Teddy Sujaya aja, pemain drum gue,” saran Ian. Teddy pemain drum di kelompok Bentoel. Kelompok ini berada dalam perusahaan rokok Bentoel.

Kemudian bertiga berangkat ke Jakarta dan menginap di rumah Jockie. Esoknya, langsung dikenalkan ke Iyek dan Donny. Pada umumnya orang Tionghoa mengubah namanya jadi Indonesia. Situasi politik Orde Baru tidak berpihak kepada warga Tionghoa, ganti nama jadi cara untuk menaturalisasi identitas. Akhirnya Ling mengganti namanya menjadi Ian Antono.

“Gue nginapnya pindah-pindah. Kadang di rumah Jockie, di rumah Donny, sering juga di rumah Iyek. Pokoknya, nggak netap gitu,” ujar Ian.

Bergabungnya Ian dan Teddy, God Bless akhirnya mulai mengibarkan kembali benderanya. Formasinya; Achmad Albar, Ian Antono, Donny Fattah, Jockie Suryoprayogo dan Teddy Sujaya. Latihan dilakukan di rumah Jockie.

Tahun 1975, mereka mentas lagi di TIM, Jakarta. Konser ini, God Bless buat atraksi dan sebagai warna kreatifitas dari kelompok ini. Di sela lagu, tiba-tiba lampu dipadamkan. Gelap. Tak lama kemudian, satu lampu sorot mengarah ke peti mati di sudut panggung.

Peti terbuka. Kemudian keluar hantu berpakaian putih dengan ikat kepala, pocong. Sosok yang memerankan pocong adalah Jose Rizal Manua yang kini menjadi penyair. Semua penonton kaget. Sebagian kabur.

Konser ini juga yang membuat mereka tertawa. Ceritanya, esok harinya, harian Sinar Harapan memuat karikatur yang menggambarkan malaikat yang sedang berteriak dan mengajak malaikat lainnya untuk turun ke bumi. Akhirnya, malaikat berbondong datang ke TIM. “Ada God Bless mau bikin siraman rohani,” kenang Jockie.

Di karikatur itu, malaikatnya pada kabur. Dan ada tulisan, “Ini bukan siraman ronani, ini setan,” tiru Jockie. Tertawa.

****

God Bless mulai kondang. Pada 1975, almahum Sjoemandjaja, menawarkan mereka membuat lagu Indonesia. Tidak lagi menyanyikan lagu grup asing melulu. Sjoemandjaja memberikan beberapa lirik lagunya agar dijadikan musik untuk filmya. Liriknya berjudul Laela Majenun dan Si Doel Anak Betawi.

Lirik karya Sjoemandjaja digarap jadi musik. Kali pertama itulah God Bless membawakan lagu Indonesia. Dari situ, perusahaan rekaman kaset bernama Pramaqua –perusahaan gabungan Prambors dengan Aquarius- mendekati God Bless untuk masuk studio rekaman.

God Bless setuju. Mereka akhirnya meluncur ke studio rekaman Tri Angkasa yang terletak di Jalan Hang Tuah, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan dengan berdera PT. Pramaqua.

Album perdananya bertajuk Huma di Atas Bukit. Formasinya, Iyek, Ian, Donny, Teddy, dan Joeckie. Di tahun yang sama, God Bless mendapat kehormatan menjadi band pembuka ketika grup terkenal asal Inggris Deep Purple bertandang ke Jakarta.

Lima tahun kemudian, tahun 1980 barulah meluncurkan album keduanya bertajuk Cermin. Rekaman berlangsung di J.C Record. Jockie keluar dan digantikan oleh Abadi Soesman yang sudah bergabung sejak tahun 1979. Abadi ikut terlibat pembuatan album. Nasib album ini tak beruntung dari segi komersial di Indonesia. Gagal. Tetapi mendulang sukses di Malaysia dan Singapura.

Dua tahun kemudian, Abadi mengundurkan diri. God Bless seakan hilang dari peredaran. Semua personil sibuk bersolo karier. Donny Fatah berangkat ke Amerika Serikat sejak tahun 1981 dan kembali tahun 1984. Sekembalinya Donny, Iyek menyarankan God Bless berkumpul lagi.

Jockie diajak untuk bergabung kembali. Log Zhelebour turut membantu untuk mempertemukan dan mengaktifkan kembali God Bless. Program pertamanya adalah masuk ke studio rekaman untuk album barunya.

Tahun 1988, meluncurlah album ketiga bertajuk Semut Hitam. Rekaman dilakukan di studio Musica. Produsernya Log Zhelebour, ‘bankir’ yang membiayai seluruh rekaman God Bless sampai konser-konsernya. Album ini meledak di pasaran dengan penjualan 600 ribu kaset dan merupakan prestasi yang luar biasa untuk ukuran rock kawasan nasional bahkan ASEAN di masa itu.

Lagu semut hitam diciptakan oleh Donny. Kepada saya ia mengatakan, lagu ini spontan dibuatnya. Ia hanya ingin menyimbolkan bahwa semut adalah sosok binatang yang mempunyai jiwa tolerasi kepada sesamanya. “Binatang ini kelihatannya sederhana tapi punya toleransi yang tinggi. Begitu seharusnya manusia,” ujarnya.

Lirik Semut Hitam;

semut-semut hitam yang berjalan
melintasi segala rintangan
satu semboyan di dalam tujuan
cari makan lalu pulang
yok .. ikut langkah yang terdepan

yok .. ikut ke kiri ke kanan
semut-semut seirama
semut-semut yang senada
nanyikan hymne bersama
makan ! makan ! makan !

Setahun kemudian di penghujung tahun 1989, Log kembali menawarkan membuat album baru. God Bless sepakat mengatur jadwal latihan. Ironisnya, Ian Antono keluar saat God Bless akan rekaman album keempatnya.

Ceritanya, semua personil sedang mempersiapkan album Raksasa di studio rekaman MMM studio di Jalan Juanda, Jakarta Pusat. Selama tiga hari, setting alat musik dan rekaman sedang dipersiapkan. Di hari keempat saat akan mulai rekaman, tiba-tiba ada sepucuk surat dari Ian Antono. Isi surat itu; “Terpaksa dengan berat hati, saya mengundurkan diri dari God Bless.”

“Gue mundur nggak serta merta mundur gitu aja. Sebenarnya udeh lama gue ungkapin masalahnya,” ujar Ian kepada saya.

“Kenapa?” tanya saya.

“Ya...gue mau mau main solo aja. Kalau nggak salah, sibuk di album Mata Dewa bersama Iwan Fals sama orbitin penyanyi Nicky Astria.”

Saat pengunduran diri Ian, semua personil God Bless kaget. Bingung dengan surat dadakan itu. Iyek kemudian menanyakan ke Jockie, “Gimana nih?”

“Sekarang harus dipastiin dulu, soal Ian gimana nih. Kalau nggak ada penyelesaian, kita tetap terusin aja,” jawabnya.

“Kalau kita mau terusin, siapa yang main gitar,” kata Iyek.

“Kita cari aja dulu pemain addition. Pokoknya kita harus jalan dulu buat rekaman,” kata Jockie.

Jockie sempat mengusulkan temannya asal Filipina bernama Robin yang bermain gitar di grup Progresif. Semua setuju. Namun tiba-tiba Log memanggil semua personil God Bless tanpa Robin.

“Nih repot juga kalau Robin dilibatkan God Bless,” ujar Log.

Log khawatir masuknya robin akan bermasalah proses hukumnya dengan pihak imigrasi. Karena, Robin datang ke Indonesia dengan visa kunjungan, bukan visa kerja. Dengan terpaksa, Robin akhirnya dibatalkan bergabung. Jockie diminta lagi untuk mencari penggantinya.

“Bukan saya yang putuskan tentang Robin . Tapi God Bless, saya cuma ngasih saran terbaik saja,” ujar Log kepada saya.

Dalam pertemuan itu, Jockie mengusulkan pemain gitar bernama Eet Syahranie. Saat itu, Eet sudah bergabung dengan Faridz RM dalam grup WOW. Di GIN Studio, Jockie menemui Eet untuk diajak bergabung. Ketika disebutkan nama God Bless, Eet kaget. Ia langsung menerima ajakan itu. Rekaman album Raksasa sukses sebagai album keempat.

****

God Bless mulai menyambangi berbagai kota di Indonesia seiring keberhasilan album Semut Hitam dan Raksasa. Konser yang digelar secara spektakuler meraih sukses besar. Sayangnya, Log sebagai produser langsung menghentikan konser di sisa beberapa kota lagi.

Kepada saya Log mengatakan, penghentian konser karena personil God Bless tiba-tiba punya kesibukan masing-masing. Ia kecewa. Karena di tengah jalan, justru membuat kelompok. Ian Antono, Iyek, dan Donny Fatah membentuk GONG 2000 dan Jockie Soerjoprajogo sibuk dengan KANTATA TAKWA dan SWAMI.

“Itulah God Bless, cuma sekedar kelompok lihat tampang ke pengemarnya saja Kalau ada yang lebih baik, mereka seenaknya saja mengabaikan God Bless. Seenaknya saja, mengacak-acak jadwal konser,” ujar Log

“Karena tidak konsisten itu, saya akhirnya putuskan, lebih baik dihentikan saja konsernya.”

Pembentukan Gong 2000, kata Iyek, tidak ada hubungannya dengan God Bless. “Kita mendukung Ian untuk membentuk Gong 2000. Apalagi cuma sampai tahun 2000 saja. God Bless jalan dan Gong 2000 tetap jalan.” Personilnya, Ian, Iyek dan Donny, dan melibatkan Abadi Soesman serta Yaya Moekti.

Saat itu, Ian tidak bergabung dengan God Bless. Gong 2000 dikerjakan karena kerja samanya dengan perusahaan rokok, Djarum. “Makanya, namanya Gong 2000. Perjanjiannya memang sampai tahun 2000 saja,” kata Ian. Kelompok ini dibubarkan oleh Ian Antono di penghujung tahun 2000.

Di sela tahun itu, God Bless tak terdengar kabar. Semua personilnya kembali sibuk masing-masing. Tahun 1997, Iyek berupaya mempertemukan kembali personil God Bless dan membicarakan rekaman lagi. Di pertemuan itu, tanpa kehadiran Ian Antono. Iyek menyarankan agar Ian Antono kembali diajak bergabung.

Jockie setuju dengan rekaman tapi bingung dengan saran Iyek tentang Ian Antono untuk diajak bergabung. “Loh…jadi bagaimana dengan Eet, apa kita harus pakai dua gitaris,” tanya Jockie.

“Ya..nggak apa-apa. Kita pakai dua gitar aja,” ujar Iyek.

Jockie sempat menentang rencana dua gitar. Dalam pertemuan itu, Eet langsung mengatakan, “Nggak apa-apa mas, tidak masalah dua gitar. Nanti biar mas Ian yang di depan, saya bantu di belakang saja,” ujar Eet.

Akhirnya, semua personil bertemu di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. Dalam pertemuan itu, God Bless meminta Log Zhelebour untuk kontrak dua album sekaligus. Log Setuju. Di sana, mereka melangsungkan latihan selama dua bulan. Dan akhirnya turun gunung lagi. Hasilnya, hadir album Apa Kabar. Duo gitaris menjadi andalannya, Eet dan Ian.

Formasinya, Iyek, Donny, Jockie, Eet Syahranie, Teddy, dan Ian. Di album ini, mereka akan kembali menyapa pengemarnya dalam tur ke lima kota. Nahas, rencana tur keliling Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina, harus kandas lantaran di tahun 1998, Indonesia terkena krisis moneter dan banyak terjadi huru - hara.

Waktu itu, nilai mata uang Indonesia atas dollar Amerika tiba-tiba melonjak dahsyat. Dari angka Rp2500 terus merambat hingga mencapai Rp12 ribu. Semua harga kebutuhan pokok ikut naik. Aksi unjuk rasa menentang pemerintah Soeharto dengan antek orde barunya, berlangsung di seluruh negeri. Soeharto akhirnya mundur dari kekuasaannya, 11 Mei 1998.

Lagi-lagi, vakum. Tahun 1999, Log akhirnya menemui Jockie agar God Bless menyelesaikan album kedua yang pernah disepakati di Puncak. Jockie setuju. Ia akhirnya menemui pesonilnya secara personal. Ia mendatangi Ian Antono, Iyek, Donny Fattah, dan Teddy. Semuanya sepakat untuk kembali rekaman.

Hanya Eet yang menolaknya. Ia ingin konsentrasi memperkuat grup musik, EDANE yang sudah dibentuk sejak tahun 1992. Grup ini sudah meliris album perdananya berjudul, The Beast. Mundurnya Eet, formasi God Bless kembali ke awal lagi. Akhirnya, tempat latihan yang disepakati di studio milik Jockie.

Kesepakatan untuk rekaman lagi setelah album Apa Kabar, kandas di tengah jalan. Iyek secara tiba-tiba tidak datang. Padahal, rekaman untuk musik sudah selesai. Tinggal isi vokal Iyek saja.

“Jock, mendingan elu panggil deh si Iyek dan kita rapat. Kita tuntasin aja masalah ini gimana maunya?” saran Ian.

“Kenapa bukan elu aja yang ngomong,” tanya balik Jockie kepada Ian.

“Gue udeh nggak bisa ngomong. Gue udeh nggak sanggup,” jawab Ian.

Akhirnya, Jockie setuju memanggil Iyek. God Bless rapat. Hasilnya, tidak ada kesepakatan. Log akhirnya turun tangan agar masalah bisa segera diselesaikan. Namun, Jockie sudah menyatakan mengundurkan diri. “Saya sudah tidak sanggup,” ujar Jockie.

“Kita stop album itu, karena tipe lirik dan arasemen musiknya tidak lagi punya warna untuk God Bless. Tidak ada persoalan pribadi. Hanya itu saja masalahnya,” papar Donny Fatah.

“Yang kita inginkan, album itu dirombak. Tapi hasilnya, nggak ada kesepakatan. Ya...akhirnya tidak dilanjutin,” ujar Donny lagi.

Iyek juga menyatakan sama. Kepada saya ia mengatakan, persoalan yang terjadi saat itu adalah, arasemen musik seenaknya saja diubah oleh Joeckie. Bayangkan saja, kata Iyek, saat latihan sudah siap, tiba-tiba besoknya arasemen sudah diubah. “Joecky seenaknya mengubah arasemen ciptaan Ian atau ciptaan personil lain. Kalau ciptaan Joeky yang di ubah, kita tidak permasalahkan,” ujar Iyek.

Log akhirnya tidak berbuat apa-apa. Padahal, ia sudah membayar kontrak untuk semua personil God Bless. Dari sepuluh lagu, baru lima lagu yang selesai. Masternya ada di perusahaan miliknya berbendera Logiss Record. “Mungkin ada perselisahan paham saja antar personil. Dalam kontraknya, Eet juga sudah masuk. Ia sudah mengambil uang muka,”

“Silahkan saja kalau God Bless pengen bikin album di tempat lain. Tapi, kembaliin dulu dong duit yang sudah dibayar,” ujar Log.

“Saya sudah cukup pengertian dengan God Bless. Tapi, mereka saja yang mau seenaknya. Saya tunggu saja, kapan mereka tuntaskan tanggung jawabnya.”

Donny membatah pembayaran itu. Begitupun Iyek dan Ian. Kata Donny, kontrak dengan Log memang hanya sebatas album Apa Kabar. “Jadi, otomotis, kontrak sudah tidak berlaku lagi. Walaupun album tertunda itu akhirnya berhenti di tengah jalan,” ujar Donny.

Di era tahun 2000-an, God Bless kembali memperlihatkan eksistensinya sebagai grup rock. Tak ayal, tanpa meliris album baru lagi mereka tetap tampil. Sayangnya, era kejayaan baru pascareuni itu tak berlangsung lama. Jockie dan Teddy mundur.

Nasibnya God Bless ditangan sisa personilnya, Iyek, Donny dan Ian. Kemudian Abadi Soesman, Iwang dan Inang dirangkulnya. Tapi tak lama. Kedua nama terakhir, mengundurkan diri. Kemudian diganti Yaya Moektio.

Dari berdirinya tahun 1972 hingga kini, cuma punya lima album. Yaitu; God Bless (1975), Cermin (1980), Semut Hitam (1988), Raksasa (1989), dan Apa Khabar (1997), dan sebuah album yang diaransemen ulang, The Story of God Bless (1990).

God bless termasuk band yang memelopori banyak warna di musik Rock Indonesia. Itu diiyakan Log Zhelebour. Sayangnya, kata dia, personilnya egoistis semua. Untuk membentuk kelompok band yang solid, memang agak kacau. Dirinya sudah lelah. “Istilah orang itu, sudah patah semangat. Sudah keburu tua. Waktunya ke buang sia-sia. Hanya untuk rapat, ngobrol tapi tidak bekerja,” ujarnya.

“Kalau dibandingkan dengan band lain, jauh. Band lain produktif dan taat dengan manajemen. Mereka jalankan dengan senang hati dan sebagai karier profesinya. God Bless banyak buang waktu dan tidak cocok dengan hasilnya.

Iyek mengatakan, “God Bless tidak punya manajemen. Log hanya sebagai produser. Pikirannya bisnis. Tidak bisa disamakan dengan yang lain. God Bless adalah God Bless.”

“God Bless hanya dijadikan tonggak sejarah musik rock. Mereka hanya mencari populeritas. Setelah sukses, akhirnya mereka mencari kerja sampingan. Karena, masing-masing punya kelompok sendiri-sendiri,” Kata Log.

“Ada rencana album tertunda ini dibuat kembali?” tanya saya kepada Log.

Log mengatakan, semuanya diserahkan kepada God Bless. Ia hanya meminta kesadaran mereka saja. Mau diberesin atau tidak, kata Log, kesadaran mereka sendiri. “Mereka udeh tua dan tidak bisa dipaksa,. Yang penting kewajiban soal dana sudah saya bereskan. Dan kebutuhan mereka sudah dibayar. Kalau mereka tidak menuntaskan, saya tidak memaksa.”

Soal album itu, Iyek kepada saya mengatakan, album tertunda itu tidak akan pernah dilanjutkan. God Bless, kata dia, akan membuat lirik album yang baru lagi. “Musiknya sudah berubah. Ciri khas God Bless pada album tertunda itu, sudah tidak menarik lagi. Dan kita sepakat, album tertunda itu tidak usah dilanjutkan lagi.”

Vakum dan tak ada album, terus melanda grup rock ini. Pada Juli 2002, Albar menyatakan God Bless bangkit lagi dengan formasi baru melibatkan Gilang Ramadhan dan Abadi Soesman. Iyek mengajak tiga punggawanya, Ian Antono dan Donny Fattah untuk membangkitkan nama besar God Bless. Hingga kini, album belum ada dan hanya tetap jago panggung lagi.

*****
Siang hari sepekan lalu, hujan deras membasahi kawasan Cibubur, Depok, Jawa Barat. Salah satu rumah di perumahan Cibubur Indah Vila terlihat sepi. Di situ Ian Antono tinggal dengan keluarganya. Donny Fatah keluar menemui saya dan menyapanya.

“Silahkan masuk. Ini hari pertama pertemuan God Bless yang sudah delapan bulan tidak bertemu lagi,” ujarnya. Tersenyum.

Di ruangan tengah, sudah ada Abadi Soesman dan Yaya Moektio. Wajah Donny sudah tidak sangar seperti dulu. Donny muda, dulunya berambut gondrong. Kini, potongan rambutnya pendek. Abadi Soesman, raut wajahnya sudah tua. Rambutnya sudah memutih. Yaya relatif yang paling muda. Rambutnya masih gondrong.

“Kita ini lagi reunian. Sekalian mau latihan buat mentas di PRJ tanggal 5 Juli,” ujar Donny kepada saya. PRJ singkatan dari Pekan Raya Jakarta di Kemayoran. Perhelatan tahunan memeringati ulang tahun Kota Jakarta.

“Udeh berapa lama nih, kita nggak ketemuan?” tanya Yaya.

“Udeh delapan bulan. Terakhir kita ketemuan abis konser di Kediri. Kalo nggak salah bulan Oktober 2006,” kata Donny.

Tak lama kemudian, Ian Antono datang usai mengatur studio musiknya. Wajahnya juga tidak sangar. Rambutnya masih panjang dan sudah beruban. Ia hanya mengenakan celana pendek sedengkul kaki dan kaos oblong putih.

“Iyek datang nggak ya,” tanya Donny kepada Ian.

“Mana gue tahu.”

“Mudah-mudahan datang. Mungkin terlambat,” ujar Ibu Titi, Istri Ian Antono.

“Ya udeh, kita latihan aja. Tuh semua alat udeh siap semua,” kata Ian.

Berempat masuk ke studio yang berada di belakang. Ruangan itu, hanya diterangi enam lampu pijar. Luasnya sekira 4 x 4 meter. Semua alat musik sudah lengkap. Donny duduk di bangku tinggi memainkan bas. Ian posisi berdiri memainkan gitar. Abadi berdiri memainkan Keyboard. Dan Yaya menabuh drum.

Pada latihan itu, Iyek belum datang. Hanya musik yang terdengar keras. Di latihan ini, sering salah. “Maklum, udeh lama nggak main lagu God Bless,” ujar Donny. Ian, Abadi, dan Yaya hanya tersenyum saja. Yang paling banyak lupa menabuh drum adalah Yaya. Yang lainnya, hanya sesekali saja.

Pukul 16.45 WIB, Iyek baru datang dari perjanjian pertemuan pukul 13.00 WIB. Iyek membawa buku. Ia langsung memegang microphone yang terbungkus busa berwarna pink. Rambutnya tidak kribo seperti dulu. Raut wajahnya tetap mudah dikenali. Ian menggeser posisi gitarnya di antara Abadi dan Iyek.

Iyek langsung menyanyikan beberapa lagu sambil memegangi buku yang isinya catatan lirik God Bless. Urat lehernya mudah dilihat ketika Iyek menyanyikan lagu.

God Bless, memang tidak lepas dari sosok Iyek. Dunia seni, bukan hal yang aneh baginya. Selain musik, seni peran pun pernah dijabaninya.

Ia pernah menjadi peran utama dalam film berjudul Jenderal Kancil di usia 12 tahun. Dalam Festival Film Singapura, film ini mendapatkan penghargaan film anak-anak terbaik. Usai mendulang sukses di film, Iyek akhirnya menapaki kembali dunia musik. Ia membentuk band bernama Bintang Remaja.

Di festival band bocah yang berlangsung di Lapangan Banteng, Jakarta, bandnya menjadi juara pertama. Sayangnya, hanya bertahan dua tahun. Bubar. Lalu bersama Titi Qadarsih, membentuk Kuarta Nada. Bubar lagi.

Tahun 1965, selepas SMA, Iyek terbang ke Belanda. Ia melanjutkan sekolah musik jurusan gitar klasik di Bergen OP Zoon. Di sana membentuk The Big Five sebagai kegiatan luar sekolah. Grup ini sering main di pub dan sesekali mengikuti festival. Iyek pernah terpilih sebagai vokalis terbaik. Usai itu, lagi-lagi bubar.

Bersama dengan Ludwig Lemans, Iyek membentuk Clover Leaf. Era grup ini, dari jago panggung akhirnya ke rekaman. Tujuh album dan satu piringan hitam dihasilkan. Beberapa lagu diantaranya; Veronica, North Sea, dan Hilversum, masuk tangga lagu popular di Belanda. Alhasil, grup ini sering mengadakan tur ke Jerman, Belgia, dan Luxemburg.

Tahun 1972, Iyek kembali ke Jakarta membawa Ludwig Lemans. Masa itulah, ia mengamati musik Indonesia. Setiap malam, ia mengunjungi club malam sambil mengamati musik ala anak-anak Jakarta. Akhirnya mencari musisi untuk bergabung. Orang yang kali pertama direkrutnya adalah Fuad Hassan, adik iparnya.

Di sela God Bless vakum, ia membuat album solo berjudul Dunia Huru-Hara yang dikerjakan barengan dengan Areng Widodo sebagai pencipta lagunya. Ia juga bikin album Dua Kribo bersama Ucok Harahap. Selain di musik, ia sibuk mengisi membintangi film Si Doel Anak Modern, Pacar Seorang Perjaka, Laila Majenun, dan Duo Kribo.

Di tahun 1997 bersama adik tirinya, Camelia Malik, Indra Lesmana, Budjana dan Jalu, membentuk Trakebah. Sebuah grup yang niatnya ingin menggabungkan musik dangdut dengan rock dan jazz. Grup ini pernah tampil dalam Jak Jazz 1997.

Walaupun sudah ada God Bless, bersama dengan Ian Antono, menggarap album Syair Kehidupan. Ian dalam album ini dibantu oleh pencipta lagu andal seperti Areng Widodo, Tommie Marie, dan Abadi Soesman.

“Kalau personil bersolo karier, karena God Bless sedang vakum,” ujar Iyek.

“Semuanya sampai sekarang sibuk masing-masing. Kalau pas ada pementasan, baru kita kumpul,” kata Donny.

Selain God Bless, Donny sibuk dengan grup barunya, Don’z Gank. Personilnya terdiri dari mantan band rock yang seangkatan dengannya. Baruna (Vokalis) mantan personil Elpamas, Yaya Moektio (drum), Mando (keyboard) mantan personil Grass Rock, dan Mauly dan Pray (gitaris) mantan Legend Bee dan Gank Pengangsaan.

“Tapi, udeh nggak lagi. Gue sekarang banyak di rumah aja. Palingan kalau diajak main,” ujarnya.

Teddy Sujaya, kini sibuk dengan musik-musik rohaninya. Komunikasi terakhir dengan Donny empat bulan lalu. Kata Teddy kepada Donny, ia sudah tidak lagi main musik untuk band. “Itu sudah menjadi pilihannya sendiri.”

“Yang gue tahu sebulan lalu, Teddy sibuk jadi guru private drum. Ini selain sibuk di musik rohani,” tambah Iyek.

Iyek sendiri, kini lebih banyak di rumahnya di kawasan puncak. “Gue sekarang, lagi renovasi villa.”

Sedangkan Ian Antono, kini sibuk pulang pergi Jakarta-Surabaya. Di sana, ia sedang membantu menggarap grup band asal Surabaya, Jawa Timur bernama Trans Band. “Gue jadi Music Director-nya. Mereka band baru, jadi harus dibimbing sepenuhnya.”

“Rencana ke depannya gimana nih,” tanya Yaya.

“Abis dari main di PRJ, kita main di Bali bulan Agustus. Kan ada Soundrenaline Bali 2007,” jawab Donny.

“Kita upayakan bikin album tahun 2008. Kan bertepatan dengan 35 tahun God Bless,” timpal Iyek.

“Sip...sip,” ujar Yaya sambil memandang Abadi yang cuma tersenyum.

“Selesaikan album tertunda yang sekarang masternya ada di Logis Record?” tanya saya kepada Iyek.

“Ya..nggak lah. Kita bikin album dengan musik dan lagu yang baru lagi. Kita coba kerja sama dengan produser lain. Tapi tidak menutup-kemungkinan, kita akan berdialog dengan Log Zhelebour untuk kerja sama lagi.”

“Kenapa Teddy dan Jockie tidak diundang ke pertemuan reuni ini?”

“Ya..memang nggak dipake main lagi ama God Bless. Kalau Teddy, memang memilih di jalur sendiri sebagai musik rohani.”

****

Di ruang tamu, lima personilnya berkumpul sambil mendengarkan album lama God Bless. Foto personil lama didirikan di bawah televisi. Wajah menyeramkan yang terlihat. Pose sangar Joecky, Ian, Iyek, Donny, dan Teddy yang dipotret tahun 1975.

Mata Iyek dan Donny seringkali memandangi foto diri sendiri. “Nih..waktu gila-gilanya. Masih senang teler,” ujar Donny tertawa. Semuanya tertawa. “Ampe sekarang nggak mabok lagi?” timpal tanya Yaya.

“Sekarang udeh tua. Malu ama anak,” ujar Donny, semua tertawa lagi.

“Joeckie kurusan kembali kayak foto itu. Gue terakhir ketemu waktu Chrisye meninggal. Rambutnya pendek,” kenang Iyek sambil memandang foto Joeckie.

Matahari surup di ufuk barat. Adzan Isya berkumandang dari mesjid yang tak jauh dari rumah Ian. Donny Fatah dan Yaya pamitan lebih dulu. Dua orang ini diantar keluar oleh tuan rumahnya, Ian Antono dan Istrinya. Pertemuan usai album Apa Kabar sambil menanti cemas ‘Sampai Jumpa’. ■

0 komentar: