Feature Story News

Pertengahan Mei di musim hujan. Seorang lelaki tua berkaus putih bercelana jins, sedang menyendiri di kios berpetak ukuran sekitar 3x3 meter...

Pasar Seni, Riwayatmu Kini

Pertengahan Mei di musim hujan. Seorang lelaki tua berkaus putih bercelana jins, sedang menyendiri di kios berpetak ukuran sekitar 3x3 meter. Kacamata tebal yang terapit di hidungnya, kelihatan serius memandangi ukiran keramik yang belum jadi. Sesekali lelaki itu menyentuh bagian ujung keramik dengan jarinya.

Kios petakan tempat lelaki itu, teduh. Semuanya terbuat dari kayu. Ada 114 kios lainnya yang setiap lorongnya dirimbuni pohon-pohon merambat yang disanggah dengan kayu. Jika ke tempat itu, yang ditemui karya seni melulu. Setiap kios punya karya seni andalan, dari lukisan, pahatan, ukiran, hingga suvenir seni.


Lelaki tua itu nama lengkapnya Sri Hartono yang berusia 75 tahun. Ia seorang perupa. Kios petak yang ditempatinya berada di area Pasar Seni yang berada di kawasan wisata Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta. Sejak kali pertama didirikan tahun 1975 oleh Gubernur DKI Jakarta era Ali Sadikin, Sri Hartono sudah menjajakan karya seni di situ. Ia bahkan menyandang seniman paling tua di Pasar Seni Ancol.

Kali pertama didirikan, Pasar Seni berada di area yang sekarang menjadi arena Gelanggang Samudra. Belum berbentuk kios berpetakan seperti saat ini, masih gepe-gepe, istilah para seniman untuk menyebut gubuk-gubuk. Tempatnya terbuka dan jadwal bazar karya seni berlangsung selama 14 hari setiap bulannya.

“Banyak orang datang pas jadwal bazar karya seni berlangsung. Bahkan, kayak pasar pengunjungnya,” kenang Sri Hartono.

Tahun 1977, Pasar Seni akhirnya berpindah ke area yang tak jauh dari tempat sebelumnya yang kini ditempati. Dibuatkan ratusan kios berpetak-petak. Seniman bisa membuat karya seni yang konsepnya bisa dilihat langsung oleh masyarakat penikmat seni. Dan di situ juga masyarakat bisa membelinya langsung.

“Masa-masa itu juga, pengunjung ramai. Pengunjung nggak segan-segan datang melihat-lihat. Dari yang sekadar beli ukiran, dan kebanyakan meminta dilukis berpasangan muda-mudi,” tutur Sri Hartono lagi, mengenangnya.

Kini, kejayaan itu hilang. Pasar Seni Ancol sudah tak riuh lagi seperti dahulu. Namanya sudah tak seindah lukisan yang terpajang dan terukir dengan apiknya di tempat itu. Jangankan hari biasa, hari libur pun tak terlihat ada pengunjung. Sepi. Hanya kesibukan seniman yang sedang melukis, mengukir, kongkow sambil diskusi dan minum kopi, juga seniman yang sibuk menata lukisan di dalam kiosnya.

Suasana itu kontra dengan arena permainan Dunia Fantasi alias Dufan. Di situ pengunjung ramai bahkan antrean cukup panjang. Permainan itu menjadi ikon dari Taman Impian Jaya Ancol. Dan banyak lagi permainan lainnya. Ikon Pasar Seni pun akhirnya terusik rendam.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo sempat gelisah. Saat meresmikan Galeri Seni North Art Space (NAS) di Ancol belum lama ini, ia mendukung revitalisasi Pasar Seni menjadi bagian pengembangan ekonomi yang akan mendukung Jakarta menjadi kota berbudaya.

Bahkan, Direktur Utama Pembangunan Jaya Ancol, Budi Karya Sumadhi, akan menjadikan galeri seni NAS sebagai “Ancol Creative City”. Upayanya, akan menjadi panggung dan ajang nyaman untuk komunitas kreatif yang memenuhi kebutuhan ruang publik pelaku kreatif.

Hasilnya? “Ya sampai sekarang Pasar Seni tetap saja tak ada pengunjung. Kayaknya ada kesalahan yang harus segera diperbaiki oleh pihak manajemen kalau menginginkan Pasar Seni menjadi ajang kreativitas,” ujar Sri Hartono.

Beliau menceritakan, era kejayaan Pasar Seni mulai memudar sejak penghujung abad 90-an. Banyak seniman yang sudah laris manis karyanya, akhirnya memilih hengkang. Padahal, dahulu Pasar Seni menjadi ajang kreativitasnya. Misalnya, Amrus Natalsya, Hariyadi, Nyoman Gunarsa, Sudarso, dan Abas Alibasyah.

Di saat bertemu dengan Sri Hartono, Amrus Natalsya tiba-tiba datang ke Pasar Seni. Saya mengenal sosoknya sejak setahun yang lalu. Ia alumnus Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Yogyakarta. Pria kelahiran tahun 1933 ini, dahulunya adalah pendiri sanggar seni rupa Bumi Tarung yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Ia sempat diinterogasi dan ditahan.

Penampilan Amrus tak pernah berubah. Ia mengenakan topi, baju kemeja dan celana pendeknya. Beberapa bagian wajahnya memerah. Kata Amrus, alergi. Soal Pasar Seni, Amrus tahu banget sejak awal berdirinya. Tahun 1975, ia menjadi pengurus Pasar Seni. Dan tahun 1978 sampai 1982, Amrus menjadi koordinator pasar seni. Kemudian ia akhirnya hengkang dari sana.

Amrus mengatakan, Pasar Seni mempunyai peran penting untuk mengusung karya seni Indonesia. Ia bahkan menemukan gagasan dan membuat namanya makin besar karena berada di Pasar Seni. Namun, karena terjadinya perbedaan antara manajemen yang birokrat dan seniman, akhirnya ia memilih meninggalkan Pasar Seni.

“Jujur saja. Kalau seandainya pengelolaan Pasar Seni lebih baik, maka saya memilih akan menetap di Pasar Seni. Saya mungkin akan sampai tua terus bersama Sri Hartono sebagai seniman tua,” ujar Amrus, tertawa.

Namun semua itu tak bisa disalahkan. Amrus mengatakan, kehengkangan banyak seniman besar lantaran nilai-nilai awal adanya Pasar Seni sudah berubah. Penyebab lainnya, sudah maraknya galeri di setiap sudut Jakarta, hingga ke mal-mal.

“Dan seniman akhirnya banyak yang memilih berkiprah di luar pasar seni, walau tadinya senang berada di Pasar Seni,” ujar Amrus. Sri Hartono, mengiyakan.

Sri Hartono yang pernah didapuk menjadi koordinator Pasar Seni tahun 1982 sampai 1984 menggantikan Amrus Natalsya mengatakan, koordinasi antara seniman dengan adanya kelembagaan koordinator seniman sebenarnya menjadi wadah yang baik. Namun sayangnya, sekitar tahun 2008 kelembagaan itu akhirnya ditiadakan dan seluruhnya dipegang oleh pihak manajemen Taman Impian Jaya Ancol.

“Dan tidak ada lagi seleksi bagi seniman baru yang akan berkiprah di Pasar Seni. Dulu tidak mudah, seleksinya ketat dan harus berkarya dengan tim penilai dari seniornya. Sekarang, asal punya koneksi maka diperbolehkan memakai kios yang kosong,” tutur Sri Hartono.

Sepi pengunjung juga dirasakan Arifin. Pelukis berambut gondrong yang baru dua tahun menempati salah satu kios di Pasar Seni itu mengatakan, kemungkinan paling besar karena menjamurnya galeri di Indonesia. Kemudian ditambah jarang dilangsungkan pameran dan kurangnya promosi dari pihak pengelola.

“Kondisinya? ya, seperti ini. Sepi dan tak ada pengunjung. Melihat pengunjung datang walau tidak membeli saja, kami sudah senang,” ujar Arifin.

Hari menjelang senja, Pasar Seni di malam minggu malah semakin sepi. Warung-warung makan yang ada di bagian depan, juga hanya diduduki beberapa orang saja. Pasar Seni Ancol sudah tak setangguh ukiran kayu jati bikinan Amrus Natalsya yang berdiri kokoh di pintu masuknya. Sepi dan berdiri sendiri.

4 komentar:

agusugih said...

sedih ya mas...walupun sudah ada Jakarta Art Award..robahnya dikit.

DP Komala said...

Betul sekali dulu sekitar 1978-1983 saya sering sekali mampir ke Pasar seni menemani almarhum ayah untuk menikmati lukisan di sana. Kini saya hanya memaksakan diri ke Pasar Seni pada saat ada Jambore Seni Rupa.

Kenapa demikian? Karena saya menemukan seniman2 residen disana cenderung over value karyanya.

Juga ada pelukis yang katanya pernah menang PM award yang membuat saya kecewa karena saya yakin sekali telah menukar karya yang sudah saya beli dengan karya lain dengan dalih mau diperbaiki ternyata karyanya jadi berubah padahal karya yang mau diperbaiki sudah saya foto sehingga jelas terlihat perbedaannya.

Kalau pasar seni mau maju harus dikelola non seniman. Harus banyak diskusi2 seni yang di lakukan disana agar kembali menjadi nadi seniman di Jakarta.

Saya juga pernah berebut karya dengan salah satu Direktur nya dalam bazaar antara tahun 1998-2002. Saat saya mau bayar dikatakan sudah di pesan petinggi Pasar Seni padahal tidak ada sticker tanda sudah laku. Setelah adu argument saya berhasil membawa pulang lukisan tersebut. Tapi kesel nya sampai sekarang.

minggu lalu saya ke pasar seni malah banyak penjual kaos atau pakaian sehingga semakin mengikis citra Pasar Seni sebagai nadi perupa.

Anonymous said...

http://berdikarionline.com/suluh/20100806/pokok-pokok-masalah-realisme-dewasa-ini.html

http://berdikarionline.com/suluh/20100805/diskusi-seni-rupa-ini-soal-revolusi-soal-menuntaskan-kemerdekaan.html

agusugih, itulah kondisi pasar seni yang konon sudah tak terdengar lagi di kalangan awam.