7.7.10

Lenong Betawi

Di atas panggung setinggi pinggang orang dewasa. Satu perempuan berkebaya dan empat orang lelaki sedang berdialog. Bahasanya rada kasar. Bila tak terbiasa mendengar logat suaranya, menduga sedang marah. Serius, tapi membuat penonton tertawa.

Di panggung itu juga, beberapa orang pada posisi siaga dengan alat musiknya. Yang bermain drum, gitar, kecrek, kempor, suling dan gendang. Yang manjadi khas dari pengiring musik ini, satu orang memegang sukong. Ini adalah alat musik gesek khas betawi yang menyerupai biola. Musik sukong menjadi nada dominasi dari musik-musik lainnya.


“Enak aje lu mau ngawinin anak gue. Anak gue kudu ditanyain,” ujar perempuan berkebaya khas betawi dalam dialognya.

Itulah suatu malam di Bulan November, pada musim penghujan. Tumben langit Jakarta cerah. Di Taman Ismail Marzuki alias TIM yang berada di Jalan Cikini, sudah ramai orang yang duduk di parkiran halamannya. Dari anak-anak sampai orang yang sudah berusia senja.

Hari itu sedang ada penghelatan ulang tahun TIM ke 41. Kelompok musik gambang kromong yang akan mengiringin pementasan lenong betawi. Judulnya, Dasar Jodoh. Nama pemainnya sudah cukup kawakan, ada Kubil, Edi Oglek, Jaya, Rita Hamzah, Sanan, dan Engkar.

Gambang Kromong adalah satu kesenian masyarakat Betawi (kini Jakarta). Alat musik ini terdiri dari alat musik tehyan, kongahyan, dan sukong. Dan alat lainnya, gendang, kecrek dan gong. Kesenian ini, sebenarnya perpaduan antara etnis Tionghoa dan Betawi.

Dalam masyarakat Betawi, gambang kromong biasanya menjadi pengiring acara-acara pernikahan, sunatan, dan lainnya. Kesenian ini juga menjadi musik pembuka pementasan lenong betawi. Kesenian musik Betawi lainnya yang terkenal, yakni tanjidor dan topeng betawi sebagai seni teaternya.

Dulunya, lenong betawi diperdengarkan untuk masyarakat strata sosial dari kalangan raja dan bangsawan. Dari lingkungan itulah, akhirnya ada ungkapan yang terlontar dari kalangan sosial jelata; kayak raja lenong. Sindiran ini ditunjukkan kepada orang yang bergaya feodal.

Dalam perkembangan kesenian lenong betawi, terdapat jenis lenong; lenong dines dan lenong preman. Keduanya memunyai perbedaan dari penampilan dan penggambaran cerita yang akan dipentaskan.

Lenong dines dalam dialek Betawi berarti dinas atau resmi. Lakon ini diperankan dengan mengenakan busana formal dan penggambaran ceritanya berlatar kerajaan atau lingkungan kaum bangsawan. Bahasa Betawi yang digunakan denan logat Betawi halus. Untuk jenis lenong ini, sudah tidak sering dilakonkan saat ini.

Sedangkan lenong preman, lakon dimainkan dengan mengenakan gaya pakaian seadanya. Kisah pementasannya, banyak menyinggung kehidupan sehari-hari. Pun bahasa atau dialek yang dipergunakan. Sehingga yang mendengarnya, seperti orang sedang naik pitam. Lenong inilah, yang sekarang banyak diperankan.

“Kalo masih pake gunain bahasa kamu, Anda, atau saya. Itu bukan lenong betawi. Itu udeh lenong modern,” ujar Malih Tong-Tong, pelenong senior kepada saya. “Kayak muke gile, nah itu baru lenong betawi.” Nadanya keras. Serius. Seperti marah. Kemudian tertawa.

Malih adalah sosok senior kesenian lenong betawi yang mendirikan sanggar lenong ‘Sinar Jaya’. Sosok lainnya yang masih hidup dan seangkatan dengannya, Bolot, Pak Bodong, Bang Jali, Haji Nirin dan Mpok Nori. Mareka masih mempertahankan kesenian tradisi Betawi lenong, dengan membentuk kelompok-kelompok. Bahkan hingga melibatkan anak dan cucunya.

“Kalo dirunut-runut, pemain lenong tua sekarang ni…yee… yang usianya kayak gue, udeh masuk ke angkatan ketiga. Sekarang yang muda-muda udeh masuk ke angkatan lenong keempat,” ujar Malih.

Malih berbadan kurus. Kini berusia 59 dengan kerutan di bagian wajahnya begitu kentara . Jika tersenyum atau tertawa, terlihat kerutan kulitnya. Intonasi bicaranya cukup keras. Saya menemuinya saat melangsungkan suting di kawasan Otista Jakarta untuk serial Betawi bertajuk ‘Numpang Idup’ yang ditayangkan oleh salah satu televisi swasta negeri ini.

Kariernya sebagai pemain lenong betawi bermula di tahun tahun 1980-an. Ia kali pertama adalah pemain topeng betawi ‘Setia Warga’ pimpinan Haji Bokir. Sedangkan abangnya, Dimin menjadi pemain lenong betawi pimpinan Haji Tohir. Topeng betawi dan lenong betawi, keduanya adalah kesenian masyarakat Betawi. Perbedaannya, hanya pengenaan topeng pada saat pementasan.

Dimin menemuinya saat Malih manggung dan mengatakan sanggarnya kekurangan pemain lenong. Malih tidak langsung menerima. “Saya apa mampu. Karena peran beda,” ujar Malih. Ia akhirnya mencobanya dan menemui Haji Tohir di rumahnya.

“Sekarang begini aja deh. Elu bisa tulungin gue nggak,” ujar Haji Tohir dengan dialek Betawi.

“Tulungin apa nih, Pak Haji,” tanya Malih.

“Elu nggak usah di topeng lagi, dah,” katanya. “Karena di lenong kurang bodor-nya (pelawak),” ujarnya.

“Saya nggak bisa jawab dah. Karena gua udeh jadi pelawaknya Pak Bokir,” jawab Malih.

“Ya udah, sekarang ngomong aja ama dia (Bokir). Bilang aja dari gue,” pintanya.
Dari ajakan itu, Malih menemui Bang Bokir di rumahnya. Ia menyampaikan tawaran Haji Tohir untuk bergabung dengan lenong betawi asuhannya.

“Pak Haji! kayaknya kalo pemain di sini udeh kebanyakan nih. Kebetulan Haji Tohir ngebon, ngajakin main di tempatnya,” ujar Malih kepada Bokir.

“Sebenarnya sih gue nggak ngasih. Kalo ibarat bintang, elu itu bintang gue,” ujar Pak Haji. “Tapi, ya udeh elu main dua tempat deh,” ujar Bokir.

Akhirnya Malih bermain pada dua pertunjukan di dua tempat berbeda. Topeng bermain di Jagakarsa, Lenteng agung dan Lenong di perkampungan Taman Mini. Jam 9 malam, topeng selesai, Malih langsung dijemput motor meluncur ke acara lenong. Pementasan di dua tempat itu, masing-masing dapet upah Rp500 rupiah. Sekarang setara ama Rp500 ribu.

Akhirnya, dua acara itu berhasil. Setelah sukses ke Lenong, Malih kembali ke Topeng sanggar Haji Bokir. Perpindahan itu, tiba-tiba Haji Bokir mengajaknya untuk syuting di TVRI.

“Dia (Bokir, Alm) guru saya. Saya banyak ngambil ilmunya. Dia seorang berpesan agar, jangan sombong dan selalu rendah diri,” kata Malih, pelenong dengan enam anak dan memiliki sebelas cucu ini.
Kesenian lenong pada tempo dulu, memang kerap mudah dipertontonkan di Jakarta. Dari panggung ke panggung hingga dari kampung ke kampung. Zaman berubah dan keberadaan lenong telah tergerus oleh pesatnya kota. Kondisi semakin sempitnya ruang, lenong pun ikut menyempit.

Cucu sebelas, anak enam. Lahir Kampung rambutan , sianya 59

Kondisi perubahan zaman itulah, akhirnya karakter lenong ikut menyesuaikan karakter zaman. Tahun 1970-an dan 1980-an, musik lenong benar-benar murni, gambang kromong. Sekarang lain lagi, ada drum, gitar dan musik lainnya. Agar tidak mudah membosankan, ditambah musik dangdut.

Di masa-masa itu juga, cerita lenong kebanyakan silat. Karekter penokohan lebih ditonjolkan sebagai tampilannya. Sekarang, sudah tidak mengenal kisah jagoan Betawi yang menjadi musuh Belanda, Si Pitung atau Bang Jampang jago betawi. Sayangnya lagi, tak ada pelenong yang tahu persis karakter tokoh betawi itu.

“Lenong akan tetep jalan terus. Nggak ada matinya. Generasi tiap generasi, lenong tetap menarik untuk dipentaskan. Buktinya, ampe sekarang lenong tetep aje ade tuh,” ujar Haji Bolot, tokoh senior lenong betawi.

Kalau terjadinya perubahan jaman, Bolot yang sering menjadi tokoh budek ini mengatakan, tinggal diperlukan kemasan agar tidak membosankan. Namun sejak dulu sampai sekarang, lenong betawi tetap menjadi tontonan yang diminati masyarakatnya. “Dibuktiin deh, lenong tuh tetap ada selama masih ada generasinya,” ujarnya.

“Kalo ada yang bilang lenong udeh mulai sepi dan kurang diminati lagi kayak dulu. Biarin aja dah. Orang itu nggak ngerti aja. Gue tetep melenong dan generasi abis gue juga udeh siap-siap gantiin,” ujar Bolot.

Keberadaan lenong betawi, memang kian menjamur saat ini. Apalagi pemerintah DKI Jakarta memberikan apresiasi yang besar bagi kelestarian kesenian Betawi ini. Namun tidak sedikit pula yang akhirnya harus tenggelam akibat sepi order mentas. Pelenong kebanyakan berasal dari teturunan atau dari sanggar yang sudah punya nama di blantika panggung komedian.

Lenong masih dikuasai oleh sosok angkatan ketiga pada era Bang Bolot, Mpok Nori, dan Bang Haji Malih. Kelompok tua ini berawal dari panggung dan akhirnya merambah ke televisi. Sedangkan untuk angkatan keempat pada era Mandra, Ucup, Kubir dan lainnya, masih berkutat dari panggung ke panggung dan tidak sering merambah televisi.
Walaupun saat ini lenong lebih banyak dikenal di televisi. Sayangnya, sudah tidak seperti dulu lagi. Sudah terjadi kombinasi musik dan alur cerita yang dimainkan. Yang sama, masih gaya bahasa dan logat Betawi yang dipertahankan. Cerita lenong sudah tidak murni lagi.

Lenong betawi sudah tidak sering lagi menceritakan tentang kehebatan jagoan Betawi menumpas penjajahan. Tidak lagi bergaya seperti seorang jawara dengan golok di pinggangnya. Bahkan ceritanya juga, sudah dipengaruhi oleh naskah skenario bagi para pemainnya.

“Itu bukan lenong,” kata Malih.

“Kalo kayak gitu sih, enak banget. Seniman lenong udeh tahu karakternya sendiri. Nggak perlu naskah,” ujar Bolot.

“Bener ntuh. Itu namanya lenong modern. Ya…mereka klaim bahwa itu lenong,” ujar Malih lagi.

Bagaimana Lenong betawi yang sebenarnya? Malih mengemukakan, lenong yang sebenarnya berdialog tanpa harus menggunakan naskah. Setiap ada tokoh yang diserahkan, seniman lenong sudah harus tahu karakter dan dialog yang akan dikemukakan saat di panggung.

Ada lagi ciri lenong yang sebenarnya. Lenong selalu masuk dari pintu kanan dan keluar dari pintu kiri, begitu juga sebaliknya. “Jadi kalo ada yang masuk dari kanan, dan keluar dari kiri, itu juga bukan lenong,” papar Malih.

Generasi lenong, tidak setangguh dulu. Seniman lenong sekarang lebih banyak mengedepankan material dan bukan menghargai idealisme kesenimannya. Pada prinsipnya sebagai pemain lenong, yang terpenting tidak sombong dengan identitasnya. Tidak angkuh sebagai orang Jakarta asli.

“Keangkuhan yang kita khawatirin untuk generasi mendatang. Jangan merasa sudah besar, tapi kita lupa asal usulnya. Kalo memang ada masyarakat yang menginginkan kita bersama, harus kita layani. Seniman harus dekat dengan masyarakatnya,” ujar Malih. Lenong betawi tak ingin mati.

No comments:

My Link

Search This Blog

Loading...