Header Ads

19.7.10

Video : Demokrasi Ruang Kelas


Demokrasi. Satu kata ini kerap jadi perbincangan. Jadi isue seksi di dunia. Dari ranah diskusi, ruang perdebatan, sampai aroma mitos yang belum terlihat penampakannya. Bahkan, sudah banyak orang yang mendefinisi ‘bentuk’ demokrasi. Pemahaman sederhana untuk masyarakat awam; demokrasi adalah satu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.


Pemahaman yang lebih rada jenius; demokrasi itu pengelolaan kekuasaan secara beradab yang dilandasi etika martabat manusia, memahami hak dan semua warga punya kesempatan berpendapat dengan saling menghormati. Meminjam teori almahum Gus Dur, demokrasi adalah keadilan.

Jawaban soal demokrasi di Indonesia, ada di film pendek berjudul democracy is yet to learn alias demokrasi kita masih harus belajar. Video pendek berdurasi 2 menit 10 detik yang dibuat oleh anak-anak muda Indonesia ini, sarat kritik dan sindiran. Hanya diperankan oleh beberapa orang saja dan setting seadanya, film ini justru ‘menampar’ demokrasi negeri ini.

Video yang tertayang di youtube ini, menyirat pada kondisi demokrasi di Indonesia. Berawal di satu ruangan kelas, di situ pada muridnya diibaratkan dari berbagai kalangan. Dari dokter, pengusaha, insinyur, polisi, selebritis, sampai petani. Gaya pengusaha yang mengibaskan uang di mukanya, polisi yang duduk tegap, dokter yang duduk santai, dan wajah petani yang kusam.

Seorang guru perempuan menuliskan kalimat di papan tulis, “demokrasi adalah….”. Para murid diminta untuk menjawabnya. Semua dalam ruangan terdiam. Bisu dengan gayanya masing-masing.

Dari pertanyaan demokrasi itu, jadi awal lakon kritis itu mulai bergulat. Seorang lelaki yang diibaratkan sebagai “wakil rakyat” berbicara dengan lantang. Seorang pengusaha langsung menyumpal mulutnya dengan uang kertas seratus ribuan. Bungkam.

Tak lama kemudian, seorang petani yang duduk di bangku paling belakang mengacungkan tangannya. Sebelum berbicara, seorang polisi pria di sampingnya langsung mencengkram lehernya. Bungkam.

Setelah itu, akhirnya ada pria besar yang diibaratkan seorang siswa sekolah dasar. Mengenakan baju putih celana merah. Ia berjalan tegap. Langkah demi langkah, menuju papan tulis untuk menjawabnya. Tangannya gemetar saat menulis. Bel sekolah berbunyi. Tak ada yang bisa menjawabnya. Endingnya? (Demokrasi adalah), “Masih harus belajar”.

Singkat, padat, dan menggelitik bagi orang yang menontonya. Lucu dengan banyolan politik, dan hidup dengan realitas sosial yang terjadi di Indonesia. Demokrasi yang semestinya hak berbicara, dibungkam oleh uang dan kekuatan aparatnya. Demokrasi dijadikan sebagai ungkapan tabu.

Atas kekuatan sindiran itu, di ajang kompetisi pembuatan film “democracy video challenge” yang digelar departeman luar negeri Amerika serikat, video itu terpilih sebagai salah satu pemenangnya dari 700 peserta lainnya di dunia. Selain Indonesia, pemenang lainnya adalah Iran, Kolombia, Spanyol, Ethiopia dan Nepal.


No comments:

Comments System

Disqus Shortname

Search This Blog

My Link