Feature Story News

Jumat malam, sekitar pukul 20.30 WITA, 11 Oktober 1996, salah satu rumah di Jalan Andi Mappaodang, Kota Ujungpandang (sekarang Makassar), Su...

Akbar Endra : Tetap Seorang Orator

Jumat malam, sekitar pukul 20.30 WITA, 11 Oktober 1996, salah satu rumah di Jalan Andi Mappaodang, Kota Ujungpandang (sekarang Makassar), Sulawesi Selatan, didatangi lima orang tak dikenal berpakaian preman. Badannya tegap seperti tentara. Dua dari mereka masuk ke halaman rumah. Sisanya menunggu di luar pagar.

Dewi, perempuan berusia 20 tahun membukakan pintu. Salah seorang dari mereka memperkenalkan diri lengkap dengan pangkat militernya, Letnan Dua Maksum. Kedatangannya untuk mencari Akbar Endra. “Akbar tidak ada di rumah,” jawab Dewi. Orang tak dikenal itu tetap menunggu.

Sejam kemudian, Akbar Endra datang. Ia langsung berbicara dengan Letnan Dua Maksum. Dewi menguping pembicaraan mereka. Kakaknya, Akbar Endra dipertanyakan alasannya tidak memenuhi undangan dari Bakorstanasda Sulawesi Selatan untuk menjelaskan rencana membentuk Partai Mahasiswa Pro Demokrasi (PMPD) di Ujungpandang.

“Buat apa saya penuhi. Bukannya tidak wajib dan undangan itu tidak jelas apa isi dari pertemuan,” ujar Akbar.

Para tentara itu kesal. Akbar langsung dipaksa ikut naik ke mobil Toyota Kijang berwarna hijau tentara. Dewi yang mengetahui pemaksaan itu berupaya untuk ikut, namun dihalangi oleh tamu tentara itu.

Penangkapan paksa Akbar Endra, membuat kalangan mahasiswa, akademisi kampus, kalangan LSM, dan praktisi hukum langsung mencari tahu keberadaan dan kondisinya di Markas Kodam VII Wirabuana. Bahkan dibentuk tim pengacara beranggotakan Adnan Buyung Nasution, Harjono Tjitrosoebono, Nasirudin Pasigai, dan Rudiyanto Asapa.

Dan hari itu, 13 Oktober 1996, Pangdam VII Wirabuana merangkap Ketua Bakorstanasda Sulawesi, Mayjen TNI Agum Gumelar bikin jumpa pers di kediamannya. Kepada wartawan ia mengatakan, Akbar Endra bukan penangkapan. “Ia hanya hendak dimintai keterangan,” ujar Agum singkat dan menolak untuk memberikan komentar lagi.

Tak lama kemudian, Akbar Endra dibebaskan. Kepada saya ia mengatakan, “Itu masa lalu yang baru kali pertama saya diculik dan dimintai keterangan oleh tentara. Tapi sempat ngeri ‘dilenyapkan‘ juga.”

***
Akbar Endra. Ia pria kelahiran di Dusun Akkapeng, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan pada 3 Maret 1972, sekitar 165 km dari Kota Makassar, ibukota Provinsi Sulawesi Selatan. Ayahnya seorang wartawan bernama Andi Hasanuddin Sultan dan ibunya Andi Seram Tabrang.

Nama depan Andi yang disematkan kedua orang tuanya, adalah gelar bangsawan bagi orang Bugis. Namun, Akbar menolak mencantumkan gelar itu untuk namanya.

“Ketika tamat SD di Soppeng, saya temui Kepala Sekolah untuk menghilangkan gelar Andi di Ijazah saya, karena saya mau bermain-main dengan anak penggembala sapi dan anak-anak petani. Gelar Andi membuat saya tidak enak bergaul,” ujar Akbar.

Setelah SD, Akbar melanjutkan ke SMP Negeri 2 Makassar dan SMA Negeri 11 Makassar, kemudian diterima di Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar.

Akbar bersama rekannya mendirikan Aliansi Mahasiswa Pro Demokrasi (AMPD). Wadah gerakan mahasiswa ini didirikan dan inspirator pada 27 Desember 1994 oleh Isradi Zaenal, aktivis mahasiswa Unhas yang menjabat Ketua Majelis Perwakilan Mahasiswa (Maperwa) dan aktivis pers mahasiswa di Universitas Hasanuddin.

Aksi pertamanya AMPD menuntut reformasi pimpinan nasional. Wadah mahasiswa menuntut agar segera terjadi reformasi dari sistem pemerintah yang dikuasai oleh rezim Presiden Soeharto. Dari dibentuk hingga tahun 1996, koordinator aksi Isradi Zainal dan kemudian diserahkan Akbar Endra. Tahun 1998, coordinator diserahkan kepada Hasbi.

Bersama AMPD, Akbar tak pernah absen berunjukrasa menentang kebijakan pemerintah. “Masih ikutan-ikutan,” ujar Akbar. Lama-lama, akhirnya didaulat untuk orasi di gedung DPRD Sulawesi Selatan. “Ketika itu kaki saya gemetar.”

“Akhirnya saya keluarkan pandangan apa adanya, eh ternyata banyak orang yang tepuk tangan. Saya tambah percaya diri dan makin kritis. Setelah itu, saya dianggap punya bakat jadi orator,” ujar Akbar, tertawa.

Aksi-aksinya selalu membuat pemerintah dan wakil rakyat di Sulawesi Selatan, “merah telinganya”. Tak ayal, ia ditikam seorang lelaki kekar. Selamat, meski lengan kirinya luka. Meski kejadian ini dilaporkan ke Poltabes Ujungpandang, sampai sekarang kasus penikaman tak berlanjut.

Kini, Akbar Endra tak lagi menjadi raja “jalanan” demonstrasi. Ayah tiga anak dari istri Herlina ini, pada pemilu 2009, terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan dari Partai Demokrat.

Ia mengatakan, banyak yang tak menyangka dan bahkan beberapa temannya mengirimkan pesan yang membuat dirinya senyum sendiri. Satu hari setelah dilantik, fotonya terpajang di media massa. Akbar mendapat pesan seluler; “Akbar ternyata kamu ganteng jadi wakil rakyat!”
“Dulu kelihatan kurang gagah karena rambut gondrong, dan tidak ada yang urus. waktu itu kan masih kuliah. Tapi itulah kali pertama saya memakai jas yang harganya mahal. Terasa tidak pede aja. Tapi lama-lama akhirnya sudah terbiasa,” ujar Akbar.

Walaupun dirinya menjadi wakil rakyat, Akbar Endra mengatakan, perjuangan tak pernah usai. Menurutnya, harus terus mengawal proses kejujuran, kebenaran, dan keadilan. Jika proses itu dilanggar, maka akan menimbulkan gejolak di dalam batin, dan membuat hidup tidak tentram.
Akbar mengatakan, menjadi wakil rakyat hanya modal semangat dan kerja keras. Dan akhirnya menghasilkan dukungan yang signifikan untuk meraih kursi di DPRD Maros. Juga karena masyarakat melihat dan percaya pada Partai Demokrat dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menjadi ikon partai.

“Jadi kita di bawah sangat diuntungkan. Tinggal bagaimana meyakinkan rakyat dengan memaparkan visi dan misi partai serta tujuan kita menjadi wakil rakyat,” ujarnya.

Sebagai seorang mantan orator unjukrasa, tak pernah pudar sampai sekarang. Ia ditugaskan oleh Partai Demokrat menjadi juru kampanye di Kabupaten Maros dan di Kabupaten Soppeng sebagai Master Campaign pasangan calon bupati yang diusung Partai Demokrat. Juga menjadi jurkam wilayah Maros untuk pemenangan SBY menjadi Presiden.

“Tidak ada bedanya ketika tampil orasi sebagai demonstran dan sebagai juru kampanye. Materinya mirip, dan tetap mengajak dan menggali kehendak rakyat untuk bergerak mewujudkan harapan yang lebih besar. Juga berubah dan bekerja keras untuk memberikan yang terbaik bagi daerah, bangsa, dan negara tercinta,” ujar Akbar Endra. Berjuanglah.

0 komentar: