Feature Story News

Sosok lelaki mengenakan kemeja hijau berpadu celana katun hitam dan sepatu hitam mengkilat. Penampilannya rapi. Murah senyum dan nampak rama...

Antara Hobi dan Bisnis

Sosok lelaki mengenakan kemeja hijau berpadu celana katun hitam dan sepatu hitam mengkilat. Penampilannya rapi. Murah senyum dan nampak ramah. Langkah jalannya cukup lebar dan kerap sambil mengamati sekelilingnya. Agresif namun bergaya santai.

Tempat kerja lelaki berpakaian necis itu, cukup berantakan. Mejanya tidak tertata rapi, beberapa lukisan terbungkus kertas dus yang berdiri di lantai. Yang tertata rapi, hanya di seluruh ruangan pada tiga lantai yang terpajang lukisan melulu. “Belum diberes-beres, masih ada lukisan yang tertumpuk,” ujarnya tentang ruang kerjanya.

Lelaki itu adalah Suprajitno Sutomo, Direktur Galeri Canna yang terletak di kawasan pertokoan Boulevard Barat Kelapa Gading, Jakarta Utara. Yang menjalani bisnis lukisan sehari-hari diserahkan sepenuhnya kepada istrinya, Inge Santoso. “Saya punya kerjaan lain, pabrik cat di Jakarta,” ujar Tommy, nama panggilan Suprajitno Sutomo.

Tommy gandrung lukisan sejak tahun 1993-an yang diperkenalkan oleh kakak kandungnya, Syamsul dan kakak iparnya, Anita yang lebih dulu pengemar lukisan. Tommy tertarik. Hampir setiap saat, ia sempatkan diri mengunjungi galeri lukisan di Kota Jakarta walau hanya sekedar melihat-lihat.

Kelamaan, hobi lukisan menular ke dirinya. Setiap berkunjung ke Bali, semua galeri didatangi. Tak hanya Bali yang menjadi tambatan hatinya untuk melihat-lihat lukisan, ia juga mengunjungi lukisan karya seniman Bandung dan Yogya. Karena pada masa itu, kota-kota itulah yang sudah berkembang karya lukis di Indonesia.

Ia juga mulai mengoleksi lukisan-lukisan asal seniman Bali. Tidak sekedar itu, lukisan asal Bandung, Yogya, bahkan China menjadi buruannya. Soal tema lukisan, ia abaikan. Yang penting, kata dia, menyenangkan hati saat memandangnya.

“Ya, paling sering ke Bali. Datangi kawasan Ubud dan sudah pasti tidak pernah ketinggalan kunjungi seluruh galeri hanya untuk melihat lukisan. Dan kelamaan jadi banyak kenal dengan pelukis-pelukis Bali,” ujar Tommy.

Dari penjelajahannya ke setiap galeri lukisan di beberapa daerah di Indonesia, pada pertengahan tahun 2000, Tommy berpikir untuk membuka bisnis galeri. “Bagaimana kalau kita buat galeri lukisan,” tutur Tommy kepada Anita, iparnya, yang langsung merespon dan mendukungnya.

Untuk rencananya itu, Tommy mulai sibuk mencari tempat. Untuk yang satu ini, ia harus berpikir strategis. Maklum, galeri adalah bisnis yang cukup menjanjikan. Hatinya tertambat di Jakarta Utara, persisnya di kawasan perdagangan Kelapa Gading.

Galeri miliknya, setara dengan rumah toko alias ruko. Tidak mewah-mewah banget. Ruang pamernya tiga lantai atau luasnya kisaran 500 meter yang bisa dipergunakan memajang lukisan untuk dipamerkan. Luas bangunannya 600 meter dan luas tanahnya 200 meter.

“Jakarta Selatan sudah kebanyakan galeri. Saya berpikir, kenapa tidak bikin di Jakarta Utara saja. Apalagi, Jakarta Utara belum ada yang memelopori galeri lukisan. Ya, tidak ada salahnya saya yang memulai,” ujar anak kedua dari empat bersaudara, dari pasangan (Alm) Lim Yu Ming dan Sri Hartaty Sutomo.

Selama enam bulan rencana itu sudah siap dimulai. Pada tahun 2001 Tommy, yang dilahirkan di Jakarta pada September 1965 ini, langsung mengibarkan nama Galeri Canna. “diambil dari nama bunga Canna,” ujar ayah Carlo dan Carina ini.

Tak mudah menjalani bisnis galeri lukisan ini. Tommy sulit membagi waktu antara pekerjaan menjalankan usahanya di pabrik cat dengan bisnis barunya. Akhirnya semua diserahkan kepada istrinya, yang mengelola setiap hari. Namun jika ada kesempatan, Tommy dan sungkan-sungkan untuk turun tangan membantunya.

Pada tahun pertama, , cukup sulit dijalaninya. Ia harus lebih banyak belajar mengenal lukisan yang layak untuk dipamerkan di galerinya. Yang harus dimiliki oleh seorang pemilik galeri, kata dia, adalah tingkat kepekaan dan keahlian untuk memahami karya seni.

Dari kemampuannya mengenal lukisan, ia punya kesan sendiri mengenai lukisan era tahun 1990-an dengan era tahun 2000-an. Tahun 1990-an, lukisan menjadi salah satu hobi oleh seniman maupun kolektornya. Lukisan menjadi hal yang ditasbihkan untuk dinikmati.

Namun memasuki tahun 2000-an, lukisan justru menjadi bagian dari bisnis investasi. Apalagi pada saat itu, lukisan berada pada puncak kejayaannya. Lukisan akhirnya menjadi satu keutuhan bisnis yang dijalani oleh seniman dan kolektornya. Dan akhirnya, semua karya berada pada titik komersialisasi.

Dan akhirnya, tidak semua orang bisa memunyai dan menikmati karya lukis. Hanya orang-orang yang kelebihan uang, karena bingung menyimpan kekayaannya. Akhirnya lukisan menjadi barang menarik untuk di investasi. Sebab, lukisan dianggap punya peluang untuk mendapat keuntungan. “Bahkan banyak cara agar lukisan yang menjadi barang investasi, bisa kembali punya nilai jual yang lebih tinggi. Dan akhirnya, seniman dan kolektor punya trik masing-masing,” ujarnya.

Kondisi inilah, yang membuat Tommy prihatin. Ia berkeinginan agar keberadaan galeri bisa dijadikan sebagai moderator yang fair antara seniman dan pecinta seni. Ada saatnya galeri memberikan kesempatan kepada seniman muda untuk memperlihatkan karyanya kepada masyarakat. Namun, kesempatan ini juga seharusnya dimanfaatkan oleh seniman untuk membuat karya lebih bagus lagi.

Tommy mengatakan, saat ini galeri memang punya peranan penting bagi kalangan seniman yang ingin ‘bertarung’ atas karyanya. Tapi, sudah pasti galeri tidak serta merta memajang karya yang tidak memunyai nilai seni. Galeri tetap punya penilaian sendiri. “Jujur, saya tidak peduli seniman muda atau senior yang akan pameran di Canna,” ujarnya.

“Yang terpenting karyanya saya senangi. Biasanya, saya melihat-lihat dulu karyanya. Saya amati dulu nilai seninya. Jika saya anggap cocok dan memang layak, langsung ajak berpameran. Tidak perduli seniman yang masih muda atau baru sekalipun,” ujarnya.

Pengalamannya bergelut di bisnis galeri seni, bukan hal mudah. Ia harus berhadapan dengan banyak kalangan, dari kolektor, kurator, bahkan para seniman itu sendiri. Yang kerap membuat dirinya resah adalah, tidak ada kesepakatan antara pihak galeri dengan seniman.

Seniman, menurut dia, terlalu sering melanggar kesepakatan jadwal pameran yang sudah ditentukan pada hari-hari sebelumnya, walau sudah dibuat secara tertulis. Padahal, galeri sudah membuat perencanaan jadwal yang sudah tersusun setiap tahunnya.

“Ada juga seniman yang diam-diam menjual lukisannya secara pribadi. Misalkan sudah sepakat yang dipamerkan 15 lukisan, ternyata hanya ada 13 lukisan. Yang dua sudah terjual tanpa sepengetahuan galeri. Ini sudah melanggar kesepakatan,” ujarnya.

Bisnis galeri ternyata tidak harus mulus. Tahun 2004, menjadi masa-masa sulit. Saat politik di Indonesia belum stabil dan bersamaan dilangsungkannya pemilihan umum (Pemilu) Presiden kali pertama yang diadakan secara langsung oleh rakyat. Konstelasi ini, sudah pasti punya pengaruh merosotnya bisnis kanvas ini.

“Orang yang punya uang, sudah pasti berpikir untuk mengeluarkan uang. Mereka harus berhati-hati belanja. Apalagi, situasi politik belum aman. Setelah situasi kembali normal dan aman, maka bisnis galeri lukisan kembali mencuat,” ujarnya.

Kini, Galeri Canna mulai punya banyak kesibukan. Di lantai satu galerinya, para pekerja sibuk membuat peti kayu untuk pengaman lukisan yang akan dikirim ke Vietnam. “Dasar penting punya galeri adalah hobi. Walau nantinya menjadi bisnis,” tuturnya.

1 komentar:

uwanna said...
This comment has been removed by a blog administrator.