Feature Story News

SENJA di Jakarta, medio April. Di halaman sebuah gedung, di kawasan Cempaka Baru, Jakarta Pusat, anak-anak bermain riang. Satu baliho beruku...

Miss Tjitjih, Siapa Peduli Kamu?

SENJA di Jakarta, medio April. Di halaman sebuah gedung, di kawasan Cempaka Baru, Jakarta Pusat, anak-anak bermain riang. Satu baliho berukuran sedang, terpajang di atas pintu gerbang berpagar besi. Gambarnya cukup menyeramkan buat sebagian orang: hantu pocong. Malamnya, memang akan digelar pertunjukan drama panggung dengan judul ‘Setan minta cerai’.

Gedung itu dikenal dengan sebutan Miss Tjitjih. Nama ini diberikan untuk menghormati salah satu primadona panggung dari grup teater tradisi yang sering pentas di gedung itu. Nama Miss Tjitjih memang melegenda dalam seni pertunjukan di negeri ini, terutama di Jakarta dan Jawa Barat.

Orang-orang teater, sebut misalnya Jakob Sumardjo, selalu meletakkan grup teater yang dibintangi Miss Tjitjih ini sebagai salah satu tonggak teater modern di tanah air. Grup ini pastilah “megah” dan selalu meriah pada masanya. Kemegahannya kini masih tersisa pada gedungnya, yang nampak angkuh bertembok beton. Sekarang?

“Sudah sepi. Kalau dulu rame. Bangku bisa penuh. Sekarang mah, ada yang nonton kayak begini, sudah syukur,” kata Rohidin, lelaki berusia 47 tahun dengan logat Sunda. Sudah 18 tahun ia ikutan mengelola gedung Miss Tjitjih.

Ruang pertunjukannya cukup besar, tak kalah dengan ruang bioskop kelas mewah. Luas panggungnya mencapai 15 x 8 meter. Tapi penonton sepi. “Uang tiketnya, palingan cukup beli rokok pemain aja. Bisa dihitung mah, yang nontonnya,” kata Rohidin lagi.

Gedung kesenian Miss Tjitjih hanya menyajikan drama panggung, terutama budaya dan khasanah tradisi Sunda. Musik pun tembang sebelum pertunjukan, sampai dialog pertunjukan, semua bernuansa Sunda. Kesundaan itu memang tak lekang dari tokoh Miss Tjitjih yang berasal dari Sumedang, Jawa Barat. Sosok yang sedari awal berkarier memang ingin melestarikan kesenian Sunda.

Komunitas Miss Tjitjih kini masih bertahan walau seni tradisi sedang digusur jaman. Para awak panggung tetap bermain dengan profesional. Mereka tak kecil hati, walau jumlah penonton yang hanya hitungan jari.

Pun para awak panggung, tetap girang dengan pekerjaannya. Penata panggung setia memindahkan background sesuai dengan alur cerita. Ada yang bersibuk menaik-turunkan tirai. Penata lampu, penata rias, bekerja pada bidangnya masing-masing. “Seperti ini situasinya. Kami tetap semangat. Karena sudah teturunan. Penonton sedikit, kami tetap tampil serius,” kata Rohidin.

Dekade 80-an sampai 90-an, gedung ini masih selalu riuh dengan penonton. Pertunjukan jadi sering digelar. Sehari bisa dua kali pementasan. Sekarang, tentu sudah tidak sesering dulu. Kian sepi, seminggu hanya sekali pementasan. Memasuki tahun 2000-an, penonton makin surut. Pementasan akhirnya hanya sebulan dua kali, tiap minggu pertama dan keempat.

Nama Miss Tjitjih memang terukir dalam sejarah seni pertunjukan di Nusantara. Perempuan ini lahir di Sumedang pada 1908. Usia 15 tahun, ia sudah berkesenian, dan dikenal dengan panggilam Nyi Tjitjih.

Tahun 1926 ia bertemu Aboe Bakar Bafaqih, orang Arab keturunan Bangil, Jawa Timur, yang membawakan Opera Valencia. Nyi Tjitjih pun bergabung. Dua tahun kemudian, mereka merambah Batavia. Witing tresno jalaran suko kulino (sering bertemu melahirkan perasaan citna) kata pepatah Jawa. Akhirnya, Miss Tjitjih jadi isteri kedua Aboe Bakar.

Sepertinya Aboe Bakar terbakar asmara. Istri pertamanya yang bernama Nuriah, diceraikan. Nama perkumpulan kesenian mereka pun diganti menjadi Miss Tjitjih Tonell Gezelschap pada 1928.

Pada 1931, kelompok inilah yang kali pertama mengadakan pertunjukan sandiwara di Istana Bogor. Dan, hampir seluruh pendopo kabupaten di Tanah Sunda, mengorder Miss Tjitjih untuk manggung. Bahkan mereka punya jadwal tetap di Pasar Gambir Batavia, hingga tempat itu ditutup pada 1936.

Begitu tenarnya Mis Tjitjih, panggung akan terasa sunyi bila ia tak pentas. Ia bahkan tak pernah alfa manggung, walau penyakit TBC menggerogoti tubuhnya. Pada usia 28, Miss Tjitjih tutup usia saat mentas di Cikampek untuk lakon berjudul Gagak Solo dengan peran sebagai Tandak. Pertunjukan pun dihentikan di pertengahan cerita.

Miss Tjitjih mangkat. Seperninggalnya, Aboe Bakar tetap menebarkan nama istri keduanya itu. Sayangnya, perkawinan Miss Tjitjih dengan Aboe Bakar tidak dikaruniai anak. Untuk mengenangnya, nama besar Miss Tjitjih terus didengungkan, dan para penerusnya, mengabadikan gedung kesenian tempat mereka manggung dengan nama Gedung Kesenian Miss Tjitjih.

“Tapi itu kan hanya nama besar. Sedangkan kami yang masih bertahan hidup dari jaman ke jaman, tetap saja terancam tak sanggup melangsungkan hidup,” ujar Aib Muhammad, personel Miss Tjitjih yang lain.

Aib Muhammad adalah cucu terakhir almahum Aboe Bakar dari istri Nuriah. Ayah Aib bernama Sayid Harun, anak ketiga dari enam bersaudara. Aib sudah bertahun-tahun mengikuti perjalanan pementasan nama besar kelompok Miss Tjitjih.

Ia menuturkan, kelangsungan komunitas Miss Tjitjih berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Rumah-rumah peninggalan Aboe Bakar di Matraman, dijualnya. Kemudian mereka bermarkas di Jalan Angke, dekat stasiun kereta api Tanah Abang. Tanah untuk bikin gedung pertunjukan disewa dari pihak stasiun. Gedungnya terbuat dari papan dan kayu, dan tripleks sebagai dindingnya. Atapnya terbuat dari seng.

Masa itu, tahun 1970-an, penonton selalu penuh. Gedung berkapasitas 400 orang, tak pernah lenggang. Drama yang paling seru dan diminati berjudul Jembatan Shirotul Mustaqim. “Drama itu, sampai kita mainkan sehari dua kali selama sebulan penuh. Nggak pernah sepi. Pasti rame terus. Penonton sampai berhimpitan,” ujar Aib.

Tahun 1987-an, kelompok ini tergusur. Untuk bertahan hidup, akhirnya bernaung atas nama lembaga Yayasan Miss Tjitjih yang turut ditangani pemerintah DKI Jakarta. Komunitas Miss Tjitjih diberikan lahan di kawasan Cempaka Baru, Jakarta Pusat. Itulah gedung yang sekarang mereka gunakan.

Perpindahan itu ternyata tak membawa berkah. Kelompok Miss Tjitjih mulai sepi penonton. Apalagi memasuki awal 1990-an, ketika televisi swasta mulai tayang di negeri ini, penonton tambah jarang.

“Kita tetap berteguh pada keinginan orang tua, khususnya Miss Tjitjih, untuk tetap mempertahankan budaya dan kesenian Sunda di mana saja. Tapi sampai kapan kami bisa pertahankan?” ujar Aib.

Di tempat baru itu, mereka menempati kamar-kamar petak yang dijadikan mess Yayasan Miss Tjitjih, yang berada di belakang gedung pertunjukan. Mereka tak bisa bertumpu dari pementasan. Masing-masing akhirnya mengembangkan keahlian sendiri. Ada yang sering mendapat orderan perhelatan bermusik Sunda, sampai jadi dekor untuk acara pernikahan bergaya Sunda. “Kalau kayak begini, kerja jadi serabutan saja,” ujar Aib.

“Tidak ada sama sekali bantuan dari pemerintah Jawa Barat. Padahal, kita mengupayakan melestarikan budaya dan kesenian Sunda. Kami, mungkin hanya menanti waktu tergusur kembali,” Aib mengeluh.

Keagungan Miss Tjitjih kini pada gedung yang terlihat angkuh, namun sebenarnya rapuh di dalamnya. Tapi benarkah detik-detik kepunahan yang sedang mereka nantikan? Mereka hanya menanti waktu.

5 komentar:

Anonymous said...

Mas Rusman, saya Virgianty K. Produser Program Mata Angin Global TV/ MNC News. Kami tertarik untuk mengangkat drama miss tjitjih ini menjadi suatu liputan partisipatif mengenai traveling, budaya dan heritage. Apakah mas, masih memiliki kontak nomor mereka? terima kasih. Saya bisa dihubungi di vivi_virgy@yahoo.com

. said...

Mbak Virgianty, maaf kalau telat membalasnya. Untuk kontaknya, saya tidak punya. Anda bisa langsung datang saja ke Miss Tjitjih di daerah sumur batu. Tempat tinggal anak satu-satunya miss tjitjih, ada di belakang gedung pertunjukan. Di situ juga tempat para pemain dan keturunannya lainnya juga. Anda mungkin tinggal cari nama tokoh yang saya sebutkan dalam tulisan saya ini. Terima kasih.

Anonymous said...

Kalau dapat saya mau tau alamat Gedung Miss Tjitjih yang berada di Jakarta.Thk's Endang.S endangasm@gmail.com

denyISapri said...

Sekedar membantu,menurut data yg saya dapat dari google maps :

Miss Tjitjih Theatre
Jl. Kabel Pendek Cempaka Baru Kemayoran Jakarta Pusat DKI Jakarta
(021) 32321775 ‎

denyISapri said...

Sekedar membantu nih pak rusman, menurut data yang saya dapat dari google maps :

Miss Tjitjih Theatre
Jl. Kabel Pendek Cempaka Baru Kemayoran Jakarta Pusat DKI Jakarta
(021) 32321775 ‎