Feature Story News

Mereka dilahirkan untuk hidup, tetapi garis hidupnya bertempat yang tersisihkan. Mereka berbicara sendiri tanpa ada lawan bicara. Dijuluki s...

Sebenarnya, Siapa yang Gila?

Mereka dilahirkan untuk hidup, tetapi garis hidupnya bertempat yang tersisihkan. Mereka berbicara sendiri tanpa ada lawan bicara. Dijuluki sakit jiwa, bahkan orang gila. Kaum ini hanya bisa berdiam diri. Tidak selalu orang miskin yang menderitanya, tapi bisa diidap semua orang. Bahkan tidak disadari ada di samping kita sendiri.

******

Seorang lelaki berjalan tegap di atas trotoar. Sesekali kepalanya menunduk, memungut puntung rokok, lantas berjalan lagi. Tubuhnya hitam legam, baju kausnya yang putih sudah hampir jadi coklat. Hampir seluruhnya compang-camping. Bagian ketiak kanan kirinya berlubang. Entah sobek, entah jahitannya lepas.

Tak hanya bajunya yang nampak lusuh. Celana coklat yang dia kenakan tak lagi punya bentuk. Pinggul dan bagian dekat kemaluannya nyaris terlihat. Celananya hanya diikat tali plastik berwarna merah sebagai pengencang pada pinggang. Sesekali, tangan kirinya sibuk memegang celananya yang hampir melorot.

Hari itu awal Maret. Jakarta sedang musim penghujan. Berjalan tanpa mengenakan alas kaki, orang ini tetap saja menyusuri tepi Jalan Pramuka, Jakarta Pusat. Mulutnya berceracau sendiri tak pernah berhenti. Tak dipedulikannya bunyi klakson kendaraan atau cipratan air kotor bekas hujan tadi malam dari mobil yang melintas.

Dia duduk di atas trotoar. Puntung rokok yang baru dipungutnya, dinyalakan dari korek kayu yang tersimpan di gulungan celana dekat pusarnya. Sambil menghembuskan asap rokok, mulutnya terus berceracau. Bicaranya sangat tidak jelas dan tidak dimengerti. Seperti berkomat-kamit.

Saya menghampirinya sambil memberikan sebatang rokok yang masih utuh. Dia mengambilnya tanpa mengucapkan sepatah kata dengan kepala tertunduk. Mulutnya seperti berbicara, tapi tak terdengar ucapannya.

Bau tubuhnya sangat menyengat. Rambutnya nyaris cepak tak beraturan, nampak ada luka basah di dekat jidatnya. Bagian luka itu, sesekali digaruk dengan kukunya yang menghitam. Dia semakin tidak peduli ketika saya memberikan lagi sebatang rokok.

Saya menduga, usia lelaki ini belum genap 40 tahun. Tatapan matanya masih terlihat tajam. Otot tangan dan kaki masih nampak kencang dan kekar.

“Anak saya kemana, ya?” tiba-tiba dia mengucap. “Istri saya juga kemana, ya?” Suaranya terhenti. “Saya bangkrut, kok pada hilang,” lanjutnya.

Kemudian dia berbicara lagi. Kali ini, lontarannya tak kurang dari bahasa kotor. Dari menyebutkan kotoran manusia, hewan, dan kata umpatan lainnya. Bahkan melontarkan kalimat, “Pecat saja,”

Dia berdiam diri. Diisapnya rokok dalam-dalam. Dihembuskan lagi dengan kencang. Filter rokok digigit dan dikulumnya. “Ayo…kita makan sama-sama. Saya kan tidak salah. Saya antar sekolah lagi ya,” ucapnya lagi dengan suara yang nyaris tak terdengar. Dia seakan-akan sedang berbicara dengan orang lain dengan ekspresi wajah serius dan kerap tersenyum.

“Bapak tinggal di mana?” tanya saya.

“Diam!” dia membentak. Saya kaget dan mundur beberapa langkah.

“Anjing, kamu,” ujarnya sambil berdiri. “Dasar orang gila,” ujarnya mengarahkan matanya ke saya.

Dia langsung berjalan kembali menelusuri trotoar. Sekira 100 meter dari tempat duduknya tadi, tiba-tiba hujan deras. Dia tetap tidak peduli dan terus berjalan. Sesekali matanya menoleh ke belakang, ke arah saya dengan mulut tak berhenti berbicara. Akhirnya hilang di antara kendaraan yang melintas.

***

Satu mobil taksi berhenti di depan pintu Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Dharmawangsa, Jakarta Selatan. Satu orang yang duduk di samping supir terlihat buru-buru keluar mobil untuk kemudian masuk ke dalam bangunan RSJ Dharmawangsa. Dia memanggil seorang satpam yang sedang berada di dekat pintu resepsionis.

“Mas...mas…,pinjam kursi roda,” teriaknya dengan tergesa-gesa.

Kursi roda berpindah tangan. Dia langsung dorongkan ke dekat pintu taksi. Satpam tadi ikut membantu membuka pintu taksi bagian belakang. Dua orang laki-laki cepat keluar dari pintu belakang dengan wajah yang nampak ketakutan. Ternyata, tadi mereka duduk mengapit seorang lagi laki-laki yang sekarang sedang ditarik keluar taksi.

Kaki dan tangannya diikat dengan kain. Dia terus berontak, kakinya menendang-nendang. Dua orang pengapit itu bekerja ekstra keras menggotong, lantas meletakkannya ke atas kursi roda. Pria yang ‘ngamuk itu bertelanjang dada. Celananya terlihat kusam dan sobek-sobek. Oleh satpam, langsung didorong ke dalam ruangan. Orang tuanya mengikuti dari belakang.

“Waduh, masih pagi begini sudah melayani orang gila,” ujar Tarsono, supir taksi itu kepada saya. Kesal.

Tarsono mengambil kain dari dashboard taksinya. Dia basahi dengan air mineral dan langsung membersihkan bangku belakang taksinya. Tak lupa, ia semprotkan pengharum ruangan. “Takut apes,” tuturnya sambil tersenyum.

Penumpangnya itu naik dari kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Tarsono tak menyangka, penumpang yang memesan taksinya itu untuk mengakut orang tidak waras.

“Tadinya, saya pikir biasa saja. Eh, pas di tengah jalan, ngamuk-ngamuk. Gila, gue sampai ketakutan. Akhirnya diikat oleh keluarganya.” Tarsono kemudian bergegas pergi.

Satpam yang bernama Taufik, nampak lelah. “Ya, seperti ini, Mas, kerjanya. Ada saja pasien yang baru masuk. Dari yang bawaannya tenang sampai yang bawaannya ngamuk.”

Saya menemui orang tua pasien yang baru masuk tadi. Namanya Hadi. Dia mengenakan kopiah putih. Anaknya bernama Supri. Sudah dua bulan gelagat pikiran dan jiwanya agak terganggu. Stres akibat dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja.

“Semenjak kasus itu, Supri banyak berdiam diri. Tidak banyak bicara. Dia sudah mendatangi temannya menanyakan pekerjaan, tapi tetap tidak dapat. Ya…tiba-tiba teriak sendiri. Sesekali teriak. Sesekali juga kebanyakan diam.”

Karena sudah tidak bisa dikontrol lagi amarahnya, akhirnya Hadi memutuskan agar anaknya menjalani terapi di RSJ Dharmawangsa untuk menormalkan kembali pikirannya. “Kalau malam, kadang dia mengamuk,” tuturnya.

RSJ Dharmawangsa terletak di Jalan Dharmawangsa Raya, Jakarta Selatan. Tempatnya tak kelihatan seperti rumah sakit pada umumnya, melainkan seperti rumah tinggal yang mewah. Ini tempat untuk pelayanan bagi masyarakat yang membutuhkan perawatan kesehatan jiwa.

Tempat ini kelihatan lebih rapi, bersih, dan tidak sumpek. Suasana ini kebalikan dengan panti-panti rehabilitasi kejiwaan milik pemerintah. Tak terawat, kotor dan nampak ironis. Maklum, RSJ Darmawangsa merupakan rumah sakit swasta untuk kalangan menengah ke atas. Tak ada kocek cukup, rasanya sulit berada di situ. Pelayanan resepsionis saja cukup tertata.

Untuk masuk ke dalam ruangan konsultasi sangatlah sulit. Hanya ada satu pintu yang dijaga seorang satpam. Setiap orang yang masuk atau keluar, pintu langsung dikunci.

Saya ditemui Danang Widodo, Public Relation RSJ Dharmawangsa. Orangnya ramah. “Kerja di tempat begini, harus selalu sabar,” ujar dia.

“Dulu saya pernah kena bogeman tangan ke muka. Yang memukul ya orang stres gitu,” ujarnya.

“Gimana rasanya kena pukul?” tanya saya.

“Sakit banget. Tapi saya tidak boleh membalas. Harus sadar bahwa yang memukul adalah orang yang pikirannya terganggu. Kita beruntung tidak seperti mereka,” jawabnya.

RSJ Darmawangsa sudah berdiri sejak tahun 1961. Ini adalah RSJ tertua di Indonesia. Tempat perawatan pasiennya tergolong lengkap. Tersedia berbagai sarana dan prasarana penunjang perawatan, seperti ruangan aktivitas kerajinan, ruangan untuk berolahraga, dan ruangan musik. Kamar pasien dibagi dalam kelas dari kelas standar hingga kelas VVIP.

Jumlah pasien yang rawat inap mencapai 50 orang. Kategori gangguan jiwanya berbeda-beda, dari yang stadium rendah sampai tingkat gangguan jiwa yang paling parah. “Kita juga memberi peluang bagi masyarakat untuk mengonsultasikan kejiwaannya,” ujar Danang.

Angka pasien di RSJ Darmawangsa hanya sebagian kecil dari jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia. Data yang pernah dilansir Persatuan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa pada Juni 2007, diperkirakan 94 persen masyarakat Indonesia saat ini mengidap depresi.

“Depresi dapat menjadikan seseorang mengidap gangguan kejiwaan yang parah. Harus segera ditangani,” ujar Danang.

Peningkatan tajam pengidap gangguan jiwa terjadi pada saat krisis moneter, tahun 1997, saat segala aspek perekonomian mulai goyah dan kalangan usaha hancur. Yang sudah pada titik depresi akhirnya meningkat ke posisi gangguan jiwa parah.

Departemen Kesehatan memperkirakan, penderita gangguan jiwa meningkat setiap saat hingga mencapai 10 persen dari total penduduk Indonesia. Sepuluh persen kategori gangguan jiwa (depresi) disebabkan kehilangan pekerjaan, harta benda, atau anggota keluarga. Untuk kategori kecemasan hanya 3—5 persen.

Waktu terus berputar. Penyakit ini tetap tak mengenal waktu dan tempat. Mungkin saja orang di sebelah Anda juga berkategori pengidap gangguan jiwa.

***

Pagi, matahari belum memancarkan cahayanya. Di sebuah lorong di kawasan Cipayung, Jakarta Timur, tiga lelaki sibuk mengais sampah. Mereka tak banyak bicara. Satu orang yang mengenakan kaos coklat buram, membuka kantongan plastik warna hitam yang baru dipungutnya. Yang mengenakan kaos biru, berdiri sambil memandangi isinya. Dan seorang lagi yang mengenakan kaos putih, ikut membantu merogoh isinya.

Nasi dari kantong plastik sudah digenggam oleh lelaki berkaos putih. Dia melahapnya hingga bersih dari jari-jarinya. Dua lelaki lain melakukan hal yang sama. Melahap nasi yang baru dipungutnya.

Tak jauh dari mereka, masih di tempat sampah. Seorang lelaki duduk membelakangi jalan. Dia nampak serius menyantap potongan ayam yang baru ditemukan dari tumpukan sampah. Tak ada senyum. Tatapannya kosong. Dia sibuk mencuil sisa potongan ayam.

“Woi…masuk,” teriak seseorang dari kejauhan. Wajah mereka ketakutan dan langsung bergegas menuju arah orang yang memanggil. Hanya satu orang yang tidak peduli. Dia bersembunyi di dalam tempat sampah yang terbuat dari tembok sambil terus mengunyah makanan hasil kaisannya.

Pemandangan ironis ini mudah ditemukan setiap pagi di lorong sebelah kanan Panti Laras Harapan Sentosa II, Cipayung, Jakarta Timur. Ini adalah tempat penampungan penderita sakit jiwa yang diciduk dari segala penjuru jalanan Jakarta. Di situ juga berderet panti lainnya. Ada panti jompo, panti khusus balita, bahkan panti untuk kaum gelandangan.

Kelompok orang tak waras ini, begitu mudah ”meloloskan diri”. Setiap pagi, saat petugas akan memandikan, mereka dengan leluasa keluar sebentar mencari makanan atau puntung rokok yang berhamburan. Bahkan ada seorang yang dengan mudah berjalan ke arah keriuhan kendaraan di jalan utama.

Mereka lolos melalui tempat sampah panti. Sebagian lainnya, berdiri sambil berdiam diri di dekat gerbang yang terkunci. Ada yang duduk meringkuk dengan bertelanjang dada. Seorang perempuan dari balik kamar di lantai dua, terlihat tersenyum-senyum sendirian.

Panti Laras II berada di Jalan Raya Bina Marga, Cipayung. Mudah ditemukan, karena berada di sebelah kiri jalan besar arah Pondok Rangon. Ada gerbang dengan dua relief yang menggambarkan situasi yang dialami pasien di tempat itu.

Suasananya sejuk. Rindang oleh banyak pohon palem di dekat perkantorannya. Ditanami juga pohon rambutan dengan daunnya yang lebat. Di sana ada beberapa gedung. Gedung bagian depan dijadikan perkantoran untuk staf Dinas Sosial DKI Jakarta.

Gedung kedua adalah aula yang dipenuhi bangku dan kursi serta televisi yang tergantung di dinding. Tiga orang pasien perempuan berada di tempat itu. Satu orang tertidur dan dua orang lain menikmati siaran televisi.

Gedung ketiga berwarna hijau, terdiri dari dua lantai. Gedung ini menjadi tempat istirahat pasien. Di bagian kanan lantai satu jadi tempat makan dan dapurnya. Gedung ini berdekatan juga dengan ruang isolasi khusus bagi pasien ”liar” yang kerap mengamuk.

Bagian belakang lainnya dijadikan tempat tinggal untuk staf tenaga honor. Mereka bertugas mengawasi dan memandikan pasien di pagi hari. Tak jauh dari aula, ada rumah kecil seperti gardu. Biasanya dijadikan tempat untuk latihan menganyam.

Ada lapangan berukuran kecil yang tak jauh dari aula. Di sini biasa dijadikan tempat pasien berjemur. Mereka terlihat membisu dari balik jeruji pagar. Ada pasien lelaki yang berdiri bertelanjang dada, ada juga perempuan yang duduk meringkuk bersandar tembok aula.

“Yang di sini, tempat penampungan orang gila yang liar,” ujar Teteh, seorang warga setempat. “Kalau yang agak normal, penampungannya masuk ke dalam kampung lagi.”

Teteh tinggal di Cipayung sejak tahun 1980-an, karenanya tahu asal muasal Panti Laras. Dulu, cerita dia, wilayah Cipayung belum masuk listrik. Gelap gulita dan masih banyak pohon. Rumah-rumah penduduk belum banyak berdiri. Jalanan belum beraspal dan rusak parah.

Panti Laras belum sebagus saat ini. Sangat kumuh dan hanya dihuni 50 pasien, orang gangguan jiwa yang kena razia dari jalan-jalan di Jakarta. “Kalau ada pasien yang kabur, orang pada sibuk bawa lampu petromaks mencarinya. Pokoknya sampai dapat. Kalau tengah malam, kadang kedengaran mereka teriak-teriak. Kedengaran suara perempuan menangis. Sekarang sudah ramai, jadi agak tenang,” ujar Teteh.

Menurut data tahun 2007, jumlah pasien di tempat itu sudah mencapai 400 orang. Sebagian besar sudah hampir sembuh, dan ada yang masih terpaksa berada di ruang isolasi. Padahal, berdasarkan data dari dinas kesehatan DKI Jakarta, daya tampung tempat itu hanya 250 pasien.

Menjelang siang, seorang pasien yang mengenakan kaos oranye bergambar mantan Gubernur DKI, Sutiyoso, keluar dari gerbang samping Panti Laras . Dia berjalan ke arah warung, memesan teh botol dan mi ayam. Makannya sangat lahap.

“Sudah empat botol saya minum,” ujar dia. “Tadi pagi dua, sekarang tambah dua lagi,”

“Nama saya Asep,” sapa dia mengucapkan namanya.

“Umur kamu berapa,” tanya saya. Asep yang berada di sebelah kanan saya, menjawab dengan wajah bingung, “Lupa. Tanya aja ke petugas tuh.”

Pedagang mi ayam tersenyum dan menggelengkan kepalanya sambil memandangi wajah Asep.

“Yang kamu ingat?” tanya saya.

“Pokoknya, saya ditangkap sudah empat tahun,” jawab Asep. “Mas, saya sudah empat tahun kan, di sini?” ujar Asep mengarah ke pedagang mi ayam yang dijawab dengan anggukan kepala.

Penilaian dari Panti Laras, Asep sekarang sudah sedikit waras dan tidak seperti dulu. “Dulu saya suka ngamuk-ngamuk. Habis, bapak saya galak. Suka ’mukul. Akhirnya saya kabur. Eh…kena razia dibawa ke sini.”

Asep masih ingat tempat tinggalnya di Tanah Abang. Dia anak pertama dari enam bersaudara. Ayahnya kerap memperlakukan dirinya dengan kasar. Hampir setiap hari dia dimarahi dan dipukul orang tuanya. Kejadian ini membuat jiwa Asep terganggu.

Empat tahun lalu, saat dirinya tertidur di emperan Stasiun Jatinegara, Jakarta Timur, dia kena razia, tanpa tahu hendak dibawa ke mana. “Sampai di sini, langsung dimasukkan ke isolasi. Ada yang telanjang, ada yang diikat. Macam-macam,” Asep sambil menyantap mie ayam.

“Saya tahu penyebabnya ya pas diceritain sama penjaga. Tadinya, nggak tahu. Mana ingat semua? Kayaknya, dulu, bawaannya selalu ketakutan terus.”

“Saya betah di sini,” ujarnya. “Dikasih makan gratis, terus setiap bulan dikasih uang lima ribu. Kan saya diperkerjakan juga. Bersih-bersih tempat tidur sama nyiapin makan,” ujarnya.

Di sela itu, seorang perempuan berambut plontos dengan tubuh yang kurus, keluar dari gerbang. Dia berjalan lamban. Oleh Asep, perempuan ini dipanggil Erna. “Erna, mau difoto nih.” Erna tersenyum.

Erna mengambil pose berdiri. Dia tersenyum namun matanya tertutup. “Dibuka dong matanya,” kata Asep. Erna mengikutinya. Matanya terbuka sedikit saja. Usai difoto, Erna mendekati warung. Semangkuk mi ayam yang bukan pesanannya, disantap. Kemudian Erna masuk kembali.

“Lihat anak-anak sekolah, kangen sama adik-adik saya,” ujar Asep sambil berlalu menyusul langkah Erna. Pintu gerbang kemudian tertutup rapat. Menutup kisah Asep dan Erna pagi itu di luar pintu panti.

2 komentar:

Anonymous said...

sebagai pasien rs.jiwa dharmawangsa, saya sangat senang dengan artikel ini,dimana orang gangguan jiwa digambarkan juga sebagai manusia biasa

Anonymous said...

Saya termasuk orang yg setuju ttg pertolongan medis TETAP diperlukan untuk menolong penderita jiwa selain lewat bidang kerohanian. (penderita HIV, Hep. C, dan pasien rawat jalan RSJ Marzoeki Mahdi Bogor)