Feature Story News

27 Januari 2008 , Soeharto akhirnya meninggal dunia setelah menjalani masa-masa krisis luar biasa. Televisi, radio, media cetak, bahkan duni...

Teknologi: Antara Hidup dan Matinya Manusia

27 Januari 2008, Soeharto akhirnya meninggal dunia setelah menjalani masa-masa krisis luar biasa. Televisi, radio, media cetak, bahkan dunia maya alias internet alias situs berita serta alias-alias lainnya, marak menghiasi pemberitaan di semua negeri. Tak ada yang ‘lobang’ sedikit pun. Dari Soeharto dilahirkan, menjadi tentara, menikah, dia membacakan naskah pengunduran diri, sampai foto suram detik-detik kematiannya.

Semua cerita tentang Soeharto, begitu lengkap dibeberkan. Tak ada celah sama sekali yang tidak terungkap. Dari detik dan menit kejadian pun, media dengan mudah menemuinya. Bahkan foto-foto mantan penguasa negeri ini, sejak kecil sampai detik terakhir pun, mudah diperolehnya. Seakan-akan tidak sulit (lagi) untuk mendapatkannya.

Bagi banyak orang, cerita atau data yang dipasang media bukan hal yang aneh lagi. Pembaca mengira, bukan wartawan kalau tidak mengetahui kisah-kisah lawas siapa pun. Apalagi mengenai Soeharto yang menjadi sorotan media dunia. Padahal semua ini bergerak berdasarkan maraknya internet yang sudah mulai berkembang. Internet menjadi tumpuan harapan bagi semua pekerja jurnalis.

Makanya, saat ini pun muncul idiom-idiom yang membuat para jurnalis kerap dianggap bodoh saat tidak memperoleh data atau informasi yang diinginkan. Pasti akan mendapat jawaban, “Tanya saja dengan Mbah Google,” atau “Tuh ada Aki Yahoo,”.

Tanpa ini semua, media kelimpungan. Pun masyarakat yang ‘lapar’ informasi, akan pusing tujuh keliling mencari tahu tentang apa pun. Mungkin juga, kita tidak akan mengenal Onno Purbo yang saat itu masih menjadi ‘manusia biasa’. Atau Roy Suryo yang hanya mengenal teori-teori saja. Juga tidak mengenal situs netsains. Dunia maya pun, saat ini sedang trend menjadi ajang perjodohan.

Suatu hari, di tempat saya bekerja dulu. Perusahaan akan memberlakukan pemblokiran penggunaan email pribadi bahkan beberapa situs penting. Yang boleh digunakan hanya email yang dibuatkan dengan mengatasnamakan perusahaan dan hanya beberapa situs berita saja.

“Woi, kok ada peraturan begitu,” tanya saya yang hanya menjabat sebagai reporter biasa.

“Ini kebijakan,” jawab seorang penanggung jawab IT. “Kalau mau pakai email pribadi, jangan di kantor. Pergi ke warnet,” lanjutnya.

“Kamu tahu nggak. Email itu, hidup dan matinya manusia. Kalau Anda memberlakukan itu, lebih baik kalian tutup saja semua email dan kita bekerja memakai mesin ketik saja lagi,” ujar saya.

Ternyata bukan saya saja yang mengamuk. Seluruh bagian melakukan perlawanan yang sama. Dua hari kemudian, internet terbebas dari pemblokiran. Saya tersenyum dengan informasi ‘kebebasan’ itu. Dalam benak, internet itu sudah menjadi nyawa. Cobalah sehari saja kita tidak membuka internet. Separuh nyawa kita merasa hilang.

Saya ingin merunut kilas balik sedikit saja. Ini untuk mengenang lintas sejarah perjalanan teknologi informasi negeri ini. Jujur, saya mengenal internet pasca runtuhnya Soeharto. Saya bisa mengirim berita dengan email yang begitu cepat diterima. Situs berita pun, mulai satu persatu hadir dan saat ini satu persatu juga ikut ‘rubuh’.

Masa-masa rezim Soeharto, semua orang serba tak bisa mengenal teknologi maya. Apa itu internet? Apa itu Yahoo? Bagaimana wajah chatting? Pertanyaan ini kerap membuat buntu pikiran sendiri untuk menjawabnya. Yang bisa kita lakukan hanya, menelpon, menonton televisi, atau menanti surat kabar yang dilempar loper di depan rumah.

Begitu rezim yang dikenal Orde Baru itu ‘patah’ dari kekuasaan. Pelan-pelan begitu dahsyat internet berkembang. Data apa pun, pasti ikut berubah. Pada hari ini, 12 Februari 2008, pukul 10.00 WIB. Untuk mencari informasi tentang Indonesia saja di pencarian Google, jumlah yang terdeteksi mencapai 289 juta. Soeharto pada angka 1.140.000, dan Soesilo Bambang Yudhoyono hanya pada angka 22 ribu. Beberapa menit lagi, angka itu bisa saja berubah.

Sederhananya, internet begitu punya kekuasaan. Dia berjalan dengan sangat cepat. Setiap detik, pasti menemukan hal yang baru. Semua isinya, sangat sayang ditinggalkan atau dilewatkan begitu saja. Dia seakan menjadi nyawa bagi banyak orang. Candu.

.

1 komentar:

azzam said...

bener banget mas internet itu candu,satu hari gak surfing google itu seperti bernafas tanpa udara,tapi hati hati terlalu sering surfing bisa membuat kita menjadi gak fokus,seperti kelaparan yang semakin rakus melahap setiap dot com,haha.ini dari kacamata saya lho ! :)