Feature Story News

Matahari pagi belum terlihat dari peraduannya. Awal Oktober di bulan puasa, jalur utama empat lajur di Jalan KH. Mas Mansyur masih sepi untu...

Peluh Rejeki di Tenabang

Matahari pagi belum terlihat dari peraduannya. Awal Oktober di bulan puasa, jalur utama empat lajur di Jalan KH. Mas Mansyur masih sepi untuk dirayapi kendaraan. Yang melintas hanya beberapa sepeda motor dan sepeda pedagang roti keliling. Udara Jakarta, belum begitu menyengat oleh polusi kendaraan. Tapi, debu jalanan sudah berhamburan.

Jalur itu adalah jalan utama kawasan Pasar Tanah Abang. Ada juga orang yang menyebutnya Tenabang. Di situ pusat pembelanjaan grosir terbesar di Indonesia, bahkan salah satu terbesar di Asia. Banyak aneka barang yang dijual. Dari pakaian, karpet, busana muslim, bahan baju, dan ribuan jenis dagangan lainnya.

Dari catatan sejarah Kota Jakarta, pada tahun 1735 kawasan itu sebelumnya bernama Pasar Sabtu. Pasar ini untuk menyaingi Pasar Senen yang lebih dulu dijadikan pusat belanja Hindia Belanda. Konon nama Tanah Abang itu berasal dari kata ‘Nabang’, sejenis pohon palem yang dulunya banyak tumbuh di wilayah itu. Orang Belanda menyebutnya ‘de nabang’. Lidah orang Betawi menjadi: Tenabang.

Kini, menjadi pusat grosiran dengan harganya yang terkenal murah. Hampir semua pusat grosir di Jakarta dan banyak daerah di negeri ini, disuplai dari pasar itu. Tempat itu memiliki luas bangunan keseluruhan mencapai 82.386 meter persegi dengan ribuan kios-kios.

Di kawasan itu dapat dijumpai: rumah toko, pedagang kaki lima, rumah makan dan pusat pembelanjaan. Ketika Jakarta sepi, di pinggir jalan itu bertumpukan karung-karung berwarna putih. Orang dewasa berlalulalang mengangkut satu demi satu karung itu.

“Isinya pakaian return (pengembalian). Ini dari Padang,” ujar Rahman, salah seorang pedagang. Padang adalah ibukota provinsi Sumatera Barat.

"Berapa banyak karung yang dikembalikan dari daerah,” tanya saya.

“Setiap hari, sekitar 12 ton. Bukan cuma dari Padang. Ada dari Kalimantan, dan Sulawesi. Ya, setiap pagi bertumpukan,” ujarnya. Ia kemudian mendorong turun karung yang ada ditumpukan atas.

Orang yang di bawah Rahman sudah menantinya. Karung itu kemudian dipindahkan ke troli dan diangkut ke toko sesuai dengan namanya yang sudah tertera. Ada juga yang dijual terlebih dulu sebelum dikembalikan ke pabriknya di Bandung, Jawa Barat.

“Kalau nggak laku, dipulangkan ke Bandung. Tapi tunggu banyak dulu. Biasanya, pakaian yang kembali ke pabrik karena kondisinya rusak. Bahan-bahan kain saja yang tetap dijual,” ujar Rahman sambil menenggak air putih dari botol plastik.

Hari itu ia tidak berpuasa. Mukanya penuh peluh. Sejak pukul 04.00 dinihari, ia sudah mengantur karungan itu untuk diangkut oleh kuli pasar. Karung itu sendiri sudah ada sejak pukul 23.00 Wib, pada hari sebelumnya. Diangkut oleh truk-truk dan langsung ditumpahkan ke pinggir jalan itu.

Upah kuli panggul itu sebesar Rp10 ribu per karungnya. Setiap karung beratnya mencapai 50 kilogram. Haerudin misalnya, pria kelahiran Jakarta ini setiap harinya memeroleh upah mengangkut karung dengan trolinya sekira Rp30 ribu. “Paling banyak sampai lima karung,” ujarnya.

Kesibukan pagi hari dengan tumpukan karung terlihat di tempat lainnya. Ada juga di depan toko Agung Plastik yang bersebelahan dengan Blok A Pasar. Truk berisi muatan karung pakaian itu, baru saja diturunkan dan langsung diangkut para kuli.

Pagi hari, saat suasana jalan masih sepi, kawasan pusat grosir itu sudah meriah dipenuhi pedagang yang menyiapkan jualannya hampir di seluruh pinggir jalan. Dari tukang tambal ban, tukang kunci, pedagang mainan anak-anak, pedagang buah, sampai pedagang baju eceran. Padahal belum ada pembelinya.

Suasana yang sudah ramai terlihat di sepanjang Jalan Kebon Jaya yang berada di sisi kanan Blok A Pasar Tenabang. Semua pedagang sudah memadati seluruh ruas jalan. Untuk mobil, hanya disisakan satu jalur saja. Petugas Satuan Pamong Praja alias Satpol PP di ujung jalan, tidak bisa bergeming dari atas kendaraan operasionalnya Mereka hanya terlihat berjaga-jaga.

Semrawut, itulah yang terlihat. Bayangkan saja, ruas jalan selebar sekira 10 meter itu didereti tiga lapisan pedagang. Di sisi kanan dan kiri, serta tengah jalan. Sisa jalan untuk kendaraan melintas hanya sekira dua meter saja. Cukup dilintasi satu mobil. Apalagi biasa dilintasi angkutan kota mikrolet M-08 jurusan Tanah Abang-Kota yang jalannya melambat.

“Biasanya pas bulan puasa dan menjelang lebaran begini, banyak pedagang kaki lima dadakan yang membuka tenda-tenda dagangan,” ujar Hadi, pedagang baju yang sudah berdagang di jalur itu selama tiga tahun.

Bulan puasa dan menjelang lebaran, Pasar Tenabang menjadi sentra rejeki banyak orang. Di sana tidak hanya dipadati para pedagang, mengais rejeki menjadi kuli panggul menjadi warna kehidupan tersendiri.

Kuli panggul di sana, punya tanda sendiri untuk wilayah rejekinya. Blok A, kulinya mengenakan kaos berwarna hijau. Ada yang mengenakan kaos merah. Ini khusus kuli di Mall Metro yang berhadapan langsung dengan Blok A. Selain itu ada yang berwarna biru, biasa mangkal di depan JTTC alias Jembatan Tenabang Trade Center.

Warna-warna itu, disesuaikan dengan warna cat masing-masing blok rejekinya. Blok A didominasi cat tembok berwarna hijau, Mall Metro berwarna merah dan JTTC warna biru. Setiap kuli tidak diperbolehkan memasuki wilayah orang lain.

“Supaya pembagian rejeki sama rata. Nggak ada rebutan atau iri. Dari pagi kita sudah nyari rejeki. Sekali angkut upahnya Rp5.000,” ujar Rudin, 29 tahun, kuli panggul dari Blok A. Ia asal Banten, dan baru tiga minggu menjadi kuli.

Sentra grosir ini, tidak hanya pusat mengais rejeki pedagang kelas kecil. Di situ juga menjadi tempat mengais recehan untuk kalangan tak berduit yang menjajakan tenaga menjadi kuli.

****

Siang di Tenabang. Bau debu dan asap knalpot bertebaran bebas. Jalan KH. Mas Mansyur yang tadi pagi sepi, sudah semakin macet. Dari pertigaan KH. Fachrudin, laju kendaraan merayap. Walaupun sudah ada jalur under pass, tetap saja kendaraan berhimpitan.

Semua jalur terasa sesak. Kesemrawutan lalu lintas, membuat pusing para pengatur jalan. Dari petugas polisi sampai petugas pasar Tenabang, mereka turun ke jalan. Kesemrawutan yang paling terasa di perempatan KH Wahid dan Kebon Jaya. Dua jalan ini, lalu lintas sulit dikendalikan. Saya pun sesekali harus menyalip menghindari kemacetan.

Kondisi ini tak bisa dihindari di kawasan sentra grosir Tenabang. Semua orang berpeluh mengais rejeki di tempat itu. Setiap bulan Ramadhan, semua orang memilih Tenabang untuk membeli pakaian persiapan lebaran. Maklum, di situ dikenal dengan harga murahnya. Entah untuk dipakai sendiri atau dijual kembali,

Kendaraan saya parkir di sisi jalan dekat Mall Metro. Kondisi lalu lintas terlihat awut-awutan. Di sana seperti tak mengenal lokasi tempat berdagang. Pedagang buah-buahan memajang lapaknya di atas trotoar dan troli kuli pasar melintas di antara kemacetan dengan seenaknya,

“Bulan puasa atau nggak bulan puasa, sama aje. Tetep macet,” ujar petugas parkir motor kepada saya dengan logat Betawi.

Saya berjalan ke arah pasar Tenabang blok A. Sekira 75 meter dari tempat parkir motor. Sepanjang jalan melintas ke arah itu, suara bising klakson kendaraan bersahutan. Dua orang pengemis perempuan duduk sambil menadahkan tangannya ke setiap orang yang melintas.

Di pasar Tenabang blok A, banyak pengunjung beristirahat duduk di tangga-tangga dan bangku tunggu sambil menanti buka puasa. Di situ juga banyak pedagang. Dari pedagang makanan, lapak penjual buku, sampai pedagang yang menawari keranjang belanjaan.

Saya berdiri di atas jembatan under pass, persis di Tenabang blok A. Berada di antara pusat pembelanjaan grosiran yang terkenal itu. Sebelah timur berdiri Mall Metro dan bagian barat Tenabang blok A. Dua gedung ini diberikan jembatan penghubung. Suasananya riuh oleh pengunjung.

Walaupun kawasan itu dikenal macet, semrawut, dan cukup rawan dari hal apa pun, Tenabang tak juga bergeming dari sepi. Pengunjung tak juga lekang mendatanginya. Semua titik lokasi belanja di situ, selalu dipadati pembeli. Dari pedagang di pusat grosiran, sampai pedagang kaki lima yang lapaknya di pinggir jalan.

“Karena harganya memang murah. Beda dengan harga di tempat lain. Beli banyak malah semakin murah,” ujar Aidah, perempuan berusia 37 tahun asal Bogor. Setiap bulan Ramadhan, ia membeli busana perlengkapan muslim. Dari sajadah, sarung, sampai kopiah.

Berdasarkan pantauan, harga pakaian grosiran di Pasar Tenabang bisa berbanding 25 sampai 50 persen dari harga pasaran lainnya. Busana atasan muslim yang di pasaran sekira harganya Rp50 ribu, di sini hanya Rp19.000. Jilbab berhias bunga bordiran, harganya terendah cuma Rp15.000.

Kios Robby yang berada di lantai dasar Tenabang blok A, isi jualannya busana muslim. Sebelum bulan puasa, toko ini banyak menerima orderan dari beberapa daerah. Hampir setiap hari, ia harus melayani ratusan orang dengan membeli puluhan sampai ratusan barang.

"Walaupun pesanan banyak, di sini nggak seenaknya menaikkan harga,” ujar penjaga kios itu kepada saya.

“Kayak Jilbab,” sambil mengangkat salah satu penutup kepala muslim itu. “Harganya dari lima bulan lalu memang sudah tujuh belas ribu,” ujarnya. “Pedagang lebih memuaskan pelanggan. Yang penting sama-sama dapat untung.”

Tak lama kemudian, pemilik kios itu membenahi barang dagangan. Baju yang terpajang di luar kios, sudah bertumpukan di kios bagian dalam. Hari menjelang senja, kios-kios lainnya mulai menutup gerainya. Di teras pasar Tenabang blok A, orang masih ramai. Jalan terlihat semrawut. Saya kembali menikmati macetnya Tenabang, Jakarta.

1 komentar:

Ashia said...

wah ..
kira" pedagang di tenabang dapet omset berapa tuh yaaaa ..
:D