Header Ads

10.11.07

Menanti Senja di Puncak Temboan

Angin sejuk bertiup dari Puncak Temboan yang terletak di Desa Rurukan Timur, Kabupaten Tomohon, Sulawesi Utara. Dari sini, kita bisa menikmati pemandangan alam nan memesona. Menatap dari kejauhan keindahan pergunungan yang diapit perbukitan, pohon yang hijau, dan Danau Tondano yang luas.

Saat itu awal September 2007. Saya berada di sana bersama beberapa media dari Jakarta dan staf Departemen Budaya dan Pariwisata dalam rangkaian acara Festival Bunaken 2007 yang sudah berlangsung beberapa pekan lalu. Sebuah kegiatan yang banyak menampilkan budaya dan tradisi Sulawesi Utara. Di sela kegiatan itu, rugi rasanya jika saya tak mengunjungi beberapa tempat wisata, Tomohon salah satunya.

Suasana di kawasan Puncak Temboan berada di ketinggian seribu meter dari permukaan laut itu benar-benar sejuk dan membuat saya menikmati setiap detik kesejukannya sambil menanti senja. Memandangi keindahan Gunung Klabat, Gunung Tangkoko, dan Gunung Dua Saudara. Dari Puncak Temboan juga tampak hijaunya Bukit Unima dan Bukit Makawembeng. Kesejukan dan keindahan panorama alam di sini membuat saya enggan beranjak pergi.

Desa Rurukan menjadi desa binaan pariwisata, sehingga oleh pemerintah setempat wilayah tersebut ditetapkan sebagai cagar budaya. Penduduknya bermatapencarian sebagai petani-penggarap kebun sayur-mayur.

Jika melintasi daerah Rurukan, bisa dijumpai suasana kota yang bersih. Tak hanya itu saja, tanaman segar, seperti wortel, kol dan lainnya, akan mudah ditemui sepanjang jalan. “Masyarakat di sini masih sangat menjaga tradisi,” ujar Benny Nungkan, staf Dinas Pariwisata Sulawesi Utara.

Untuk ke lokasi itu, kita akan melintasi kawasan perbukitan yang hijau. Menikmati Gunung Lokon yang berdiri gagah seperti hendak meninju langit. Dari Kota Tomohon ke Puncak Temboan berjarak tujuh kilometer dengan waktu tempuh sekira 15 menit. Sejumlah bukit hijau berdiri berderet di sepanjang jalan yang berkelok-kelok.

Tomohon dikenal sebagai ‘Kota Bunga’. Hampir setiap rumah penduduk menjadi pedagang bunga hias. Warna warni bunga yang masih segar, menghiasi sepanjang perjalanan. Di sini hawanya begitu sejuk dan bersih. Kendaraan tidak terlalu padat. Penduduk setempat lebih memilih menaiki Bendi (transportasi kuda).

Beraneka macam bunga hias yang ada di Tomohon; krisan, gladiol, aster, gerbera dan anthurium. Sedangkan bunga yang menjadi andalan dan bentuknya unik, yaitu bunga krackleli yang bentuknya seperti terompet dan bunga kracknahel yang mirip bunga mawar dengan kuntum lebih tebal.

Kota Tomohon akan semakin berhias dengan bunga. Tahun 2008 nanti, akan berlangsung pawai bunga dalam acara ‘Tomohon Flower Festival’ untuk menyongsong Visit Indonesia Years 2008. Dan tahun 2009, akan berlangsung ivent internasional; World Ocean Conference 2009’.

Untuk ke Tomohon dari Kota Manado menempuh jarak 22 kilometer. Harus melewati perbukitan yang berkelok-kelok dengan waktu tempuh sekira 45 menit. Namun jauhnya perjalanan, tidak terasa membosankan. Masih bisa menikmati panorama alam pergunungan yang hijau.

Dan cobalah sejenak berhenti di kawasan yang dikenal Puncak Tinoor. Dari sini, kita bisa melihat Kota Manado dari ketinggian dan Gunung Manado Tua dari kejauhan. Hawa sejuk dan udara yang bersih, membuat kita ingin berlama-lama menikmati suasananya.

Kawasan Tinoor tidak hanya menyajikan keaslian alam. Sesekali melintasi kucuran air dari bambu yang jatuh di pinggir jalan. Airnya jernih dan dingin. Di sepanjang jalan itu, banyak juga rumah makan yang berdiri di bibir tebing yang terjal. Dengan aneka makanan khas Manado, santapan semakin lengkap sambil memandang hijaunya panorama alam.

Hari menjelang senja. Angin dingin dari Puncak Temboan kian terasa. Alat musik kulintang dari satu rumah bangunan di tempat itu, mengalun. Dimainkan oleh dua orang pria, suasananya membawa saya jauh dari hiruk pikuk kota. Pelan-pelan, matahari mulai hilang dari balik Gunung Klabat. Senja akhirnya datang.

No comments:

Comments System

Disqus Shortname

Search This Blog

My Link