Feature Story News

SUATU siang di Jakarta, 2007. Rumah besar berpagar putih di sudut perumahan Muara Karang, Pluit, Jakarta Utara, kelihatan sepi. Di seberangn...

Hikayat Log Zhelebour

SUATU siang di Jakarta, 2007. Rumah besar berpagar putih di sudut perumahan Muara Karang, Pluit, Jakarta Utara, kelihatan sepi. Di seberangnya, yang terpisah oleh sebuah jalan, seorang pedagang warung nasi sedang sibuk menggoreng tempe. “Yang saya tahu, rumah besar itu, rumahnya Jamrud,” kata si pedagang. “Kalau nama pemiliknya nggak tahu. Katanya sih orang Surabaya.”

“Log Zhelebour?”

“Waduh! Nggak tahu. Kalo orang sini tahunya, rumahnya Jamrud. Jamrud sering datang ke sini sih,” ujarnya lagi.

Jamrud, kelompok musik beraliran rock asal Kota Bandung, Jawa Barat, sering wira-wiri ke sana. Bisa dipahami lantaran Log Zhelebour, orang yang berada di balik ketenaran Jamrud, tinggal di sana. Log produser cum manajer Jamrud.

Saya bertemu dia di ruang kerjanya yang terletak di sayap kanan rumahnya. Meja kerjanya cukup besar. Tak jauh dari sisi kanan tempatnya duduk, ratusan tumpukan kaset dan compact disk (CD) tersusun rapi di rak lemari. Saking banyak, tumpukan itu meruahi meja kerjanya.

Tak jauh dari rak, terdapat televisi layar datar berukuran sekira 29’. Sedangkan di belakang tempat duduknya, ada radio tape compo besar dan terpajang foto keluarga. Log menikah pada usia 39 tahun dengan gadis asal Jakarta, Novi Antasari, pada 1998.

Ruangan kerja Log ditaksir 7 x 5 meter. Tak hanya timbunan kaset dan CD, sebagian lagi dijejali karung-karung berisikan kaos dan topi. Karung-karung tersebut digeletakkan begitu saja di lantai.

“Tuh di gudang masih penuh bertumpuk. Isinya kaset ama CD,” ujar Log. Ia menunjuk sebuah gudang yang terdapat di dekat pintu masuk khusus tamu, persis di hadapan meja kerjanya.

Hari itu, ia berbusana santai: T-shirt yang kelihatan kusut dan celana pendek. Ia merokok, sekalipun ruangannya dilengkapi pendingin ruangan. Gaya duduknya, tidak seperti orang tenar. Ia hanya sedekapkan tangan di atas meja. Sesekali pandangannya dialihkan ke laptop. Matanya terlihat tajam di balik kacamata.

***

Log Zhelebour lahir di Kranggan, Blauran, Jawa Timur pada 16 Maret 1959. Nama Tionghoanya Ong Oen Log.

Blauran, sejak abad 17, berdasarkan hasil penelitian Tim 11 Von Faber Cagar Budaya Surabaya, jadi kawasan kaum China peranakan sekaligus pusat perniagaan ikan. Di sana, terdapat tembok panjang setinggi lima meter, yang memilah komunitas China dengan pribumi. Sarkawi B. Husain, dosen sejarah Universitas Airlangga, Surabaya, mengemukakan asal mula nama kampung itu adalah kata balur atau mbalur yang berarti mengeringkan ikan. Sebagai tempat mengeringkan ikan, warga lebih enak menyebut nama mbaluran.

Log Sekolah Menengah Atas (SMA) di St. Louis, Surabaya. Panggilannya ‘Selebor’. Agar nyentrik, ditulisnya Zhelebour. Panggilan itu disematkan karena berpakaian apa adanya. Selalu kusut dan tidak pernah rapi. Cara jalannya, juga tidak tegap-tegap banget. Kelihatan acuh dan persis orang selebor.

Sebelum menjadi promotor musik rock Indonesia, Log sering mengadakan lomba disko di Surabaya. Ia juga punya kelompok disko bernama Zhelebour. Tamat SMA tahun 1977, ia masih sibuk dengan kegiatan diskonya.

Rambut Log, dulunya gondrong. Ia ingin kuliah. Baru tahap mendaftar di Universitas Surabaya (Ubaya), Log mendapat tawaran menjadi disk jockey (DJ) di Beach Hotel Bali. “Ya! Akhirnya saya pilih jadi DJ aja,” tuturnya.

Tahun 1979, barulah ia mulai menggeber konser musik rock. Ia berhasil mementaskan grup-grup besar, yang kelak merajai blantika musik rock di Indonesia. Log memulainya dengan konser besar, bertajuk “Rock Power”, yang melibatkan dua kelompok jangkar asal Surabaya dan Bandung: SAS dan Super Kid. SAS dimotori oleh Arthur Kaunang, sedangkan Super Kid antara lain diawaki legenda musik cadas Indonesia, Deddy Stanzah.

Sukses menggadang mereka, Log menangani konser-konser besar lain, di antaranya penyanyi rock wanita Euis Darliah dan Sylvia Saartje. Ia juga menghadirkan kelompok musisi rock yang lebih manis semacam Farid Harja & Bani Adam serta grup Giant Step.

Di tahun yang sama, ia tertarik dengan grup rock God Bless yang divokali Ahmad Albar. Saat itu, God Bless usai merampungkan album Cermin. Log akhirnya konsentrasi penuh untuk mementaskan kelompok ini ke banyak kota di Indonesia. Hasilnya, memuaskan.

Barulah, di tahun 1980, Log memproklamirkan diri sebagai promotor musik rock. Sayangnya, ia kesulitan untuk mencari panggung konser musik rock yang layak. Ia bingung. Usai acara Festival Film Indonesia (FFI) di Bekasi, Jawa Barat, Log langsung memakai kembali panggung acara itu. “Tapi, alat musiknya masih belum standar pada saat itu. Seadanya saja,” ujarnya.

Sponsor pertunjukan Log datang dari pelbagai lapisan. Mulai perusahaan rokok, minuman, dan makanan, sampai perusahaan pakaian.

Pada tahap-tahap awal, ia mengatakan tak mudah mendapatkan sponsor. “Prinsipnya, harus berani rugi dulu. Agar sponsor berikan kepercayaan ke kita,” ujarnya, seraya mengungkapkan bahwa modal terbesar untuk meraih sponsor adalah tahan banting, selain selalu siap diri rugi besar.

Dengan konsep berpikir macam itu, lumrah jika Log sempat mengadaikan rumah keluarganya hanya untuk menutupi kekurangan semua biaya konser. Log jingin membuktikan, dengan dana seadanya ia tetap saja bikin konser.

Kegigihan yang makan waktu lima tahun, dan ia tidak sia-sia. Belakangan banyak pihak sponsor mulai meliriknya. Setiap Log bikin pertunjukan, sponsor langsung mengucurkan dana penuh. “Akhirnya, pelan-pelan semua barang yang saya gadaikan, ditebus lagi.”.

Konsernya tak selalu mulus. Tahun 1989, Log bersama perusahaan rokok Djarum mau bikin konser Iwan Fals di 100 kota. Izinnya gagal. Belum lagi saat hendak menggelar konser God Bless untuk album barunya, Raksasa, di Palembang. Izin keramaian gagal diperoleh.

Log tak menyerah. Ia merancang kembali perizinan hingga akhirnya kepolisian menyerah.

Ada ceriat menarik saat Log menggelar konser di Palembang. Penonton membludak. Petinggi kepolisian hadir di podium. Tapi, Log belum juga datang. Kepala Kepolisian Kota Besar (Kapoltabes) Kota Palembang saat itu, Soemarsono, sibuk mengatur anak buahnya untuk pengamanan di luar stadion.

Di sela kesibukan itu, Log baru tiba. Sambil mengayuhkan tongkat ke arah Log, Soermarsono terlihat jengkel dan mengatakan, “Kamu enaknya baru nongol. Kita di suruh jaga-jaga. Sudah ada Kapolda, Anda baru datang,” ujarnya.

Log hanya tertawa dan langsung masuk ke stadion. “Saya mana pernah mau nyerah. Prinsipnya, jangan takut untuk banyak gagal. Maju terus. Hasilnya, ya sekarang ini. Semuanya bisa dengan mudah diselesaikan.”

***

Berbagai festival musik rock lokal berhasil dilaksanakan. Log tak puas. Ia akhirnya berhasil membawa kelompok musik rock dunia datang ke Indonesia. Seperti Sepultura, Mr BIG dan White Lion. Yang terakhir, Hallowen. Walapun berhasil memboyong musik dunia, Log tidak bisa berbahasa Inggris. “Sampe sekarang,” ujarnya tertawa.

Kesibukannya sebagai produser konser tak urung membuatnya harus pulang pergi Jakarta-Surabaya. “Nginapnya di mana aja. Kadang di hotel, di rumah Ian Antono dan semua teman sudah jadi tempat nginap. Saya juga pernah nginap di Royal Hotel Jakarta sampai bertahun-tahun lamanya.”

Tahun 1988, Log merambah menjadi produser rekaman. Bersama Iwan Sutandi, ia mendirikan perusahaan rekaman berbendera Logiss Record. Debut kali pertamanya, membawa grup rock God Bless ke dapur rekaman pada album Semut Hitam. Log menjualnya hingga mencapai 60 ribu kaset. Angka ini cukup luar biasa di era tahun itu.

Tidak hanya God Bless yang ditenarkan, nama grup rock Boomerang dan Jamrud, dibesarkan olehnya. Tak aneh, banyak band yang berupaya mengirimkan lagunya untuk bisa diorbitkan. Setiap bulan, banyak kaset yang nyasar ke kantor Logis Record di Palmerah, Jakarta Barat.

“Siapa yang mau dengerin. Ada yang dimasukin gudang, ada yang ditumpuk aja,” ujarnya. “Memang tidak mudah untuk bisa rekaman sama Logiss. Tidak sembarangan kirim lagu. Grup musik harus mengikuti seleksi festival.”

Menjadi produser rekaman, ibarat bermain judi. Ia tidak ingin asal-asal untuk mengorbitkan grup rock. Apalagi saat ini, pembajakan semakin marak. Dari festival rock yang setiap tahun diadakan, belum tentu langsung masuk dapur rekaman. Alasannya sederhana, grup rock Indonesia masih punya kelas standar dan belum mampu menyamai musik rock era God Bless atau grup lawas lainnya.

“Belum ada yang berarti musik rock sekarang. Kalau dibandingkan sama yang dulu, rasanya masih lebih yang dulu. Musik rocknya lebih piawai dan banyak variasi musik yang ditonjolkan,” ujarnya.

“Musik rock identik dengan narkoba,” tanya saya.

Log mengiyakan. Musik rock memang selalu diindetikkan dengan minuman beralkohol dan narkotika. Ia sedang berupaya menghilangkan citra itu. Semua grup rock yang ingin besar ditangannya, kata Log, harus menghindar pemakaian Narkoba.

Ia mengatakan tak punya kemampuan untuk mengawasi seluruh musisi yang berada di bawah asuhannya. Ia berusaha memercayai anak asuhnya, meski kepercayaan seperti ini terkadang melahirkan situasi pahit. Ini misalnya dialami kelompok Jamrud, yang dua orang personilnya, Fitrah dan Shandy, over dosis dan tewas.

Log menyesalkan kejadian itu. Ia kecolongan. “Saya kaget. Siapa yang bisa awasi. Di depan saya, kelihatan segar, tapi di belakang, mana tahu,” ujarnya. “Sejak dari awal, saya selalu mewanti-wanti kepada semua kelompok rock untuk tidak pakai Narkoba. Saya punya aturan ketat untuk itu. Sudah pasti, saya tidak akan pernah mau orbitkan kelompok yang dekat dengan narkoba.”

Usia Log sudah tidak muda lagi, 48 tahun. Pengagum Don King, produser tinju dunia, ini masih ingin membesarkan musik rock Indonesia. Ia ingin membersihkan rock Indonesia dari narkoba. [end]


0 komentar: