Feature Story News

Minggu (22/7) pekan lalu, Langit Pantai Ancol, Jakarta , tiba-tiba meriah dengan beraneka bentuk layang-layang yang mengudara. Bentuknya uni...

Merakit dan Memburu Layang-layang

Minggu (22/7) pekan lalu, Langit Pantai Ancol, Jakarta, tiba-tiba meriah dengan beraneka bentuk layang-layang yang mengudara. Bentuknya unik-unik dan menggemaskan. Ada yang berbentuk kepala naga berekor panjang, nuklir, becak dengan pengemudinya, dan ada juga yang mengambil karakter komik Superman dan Batman. Yang berbentuk alat kontrasepsi kondom juga hadir.

Hari itu memang sedang ada perhelatan Festival Layang-layang Internasional 2007 . Di sini, para “arsitek” layang-layang berkumpul, yakni dari Indonesia dan beberapa negara asing. Suasana semakin meriah dengan musik tradisional Bali yang menjadi pendukung tim layang-layang dari Pulau Dewata.

Ternyata layang-layang tidak hanya digemari anak-anak, karena justru orang dewasa yang lebih banyak mendominasi. Mereka bahkan memburu untuk dijadikan koleksi. Tidak sedikit kocek yang harus disiapkan. Untuk membuatnya saja menghabiskan dana mencapai Rp3 juta. Jika memburunya, harus menyiapkan dana mencapai puluhan juta.

Semakin unik dan semakin tinggi tingkat kesulitan membuatnya, maka semakin mahal harga jual layang-layang. Namun demikian, tidak mudah para pemburu untuk memilikinya, kecuali jika pembuatnya sudah menyatakan bosan dan ingin merancang kembali. Maka layangan hasil kreativitas para layang-layang mania ini dapat diperjualbelikan.

Dari festival itu, layang-layang Indonesia mendominasi di udara dibandingkan milik negara asing. Begitupun tingkat kreativitas rancangannya.

Walaupun kelihatannya tidak sulit membuat layangan, ternyata untuk satu layang-layang dapat menghabiskan waktu satu sampai tiga bulan. Tingkat kesulitan merancang layang-layang yang unik terletak pada bagian arku atau rangka layangan. Di proses ini, pembuatnya harus teliti mengukur keseimbangan rangka serta teknik kekuatannya. Salah sedikit, maka hasilnya dinyatakan gagal dan harus memulai dari awal.

Teguh Susanto, misalnya. Tim asal Jawa Barat ini menampilkan layangan terbaiknya berbentuk tukang becak. Terlihat unik dan rumit. Ada becak dan pengayuhnya, persis becak sesungguhnya. Layangan ini dibuat selama dua bulan dengan menghabiskan dana Rp 3 juta. Teguh tidak sendiri, dibantu empat temannya.

Saking unik dan rumitnya, banyak pengunjung yang ingin berfoto di samping layangan becak buatannya. Bahannya terbuat dari parasut, rangkanya dari bambu, dan sebagian dari pancingan. Untuk menerbangkannya, dibutuhkan enam orang.

“Museum Prancis meminta layangan “becak” untuk dijadikan koleksinya. Saya tolak. Saya belum bosan untuk melepasnya. Penghargaan yang luar biasa jika ada layangan yang menjadi koleksi museum layangan di sana (Prancis),” ujarnya.

Teguh juga membuat layangan yang dinamai “Busana Nusantara”. Ada 27 tumpukan yang mengekpresikan pakaian Nusantara. Ada juga yang dinamai “Train”. Ada 40 tumpukan dengan panjang mencapai 100 meter. Untuk menerbangkan layangan yang terakhir disebutkan, harus ditarik oleh mobil. “Orang bisa diangkat terbang. Tidak boleh hanya satu atau dua orang yang mengendalikannya,” ujarnya.

Yang tak kalah menariknya adalah buatan tim Bali. Layangannya berukuran besar dengan memasang kepala naga di ujung kepala layang-layang. Lengkap dengan ekornya. Menurut pembuatnya, Made Bagus, dibuatnya hanya semalam. Ia terpaksa begadang agar layang-layang buatannya bisa ikut festival. Layangan tim Bali dinamai “Janggan”.

Tim Kota Cirebon menjagokan layangan bergambar mata uang Indonesia yang dibagi tiga tingkatan. Tingkatan pertama koin sen, kemudian 1 ½ ringgit, dan 10.000 rupiah. Sedangkan dari Kalimantan Selatan menjagokan layangan yang bentuknya seperti olahraga terjun payung.

Asran, 45 tahun, tim dari Kalimantan Selatan ini mengemukakan, hobi ini sudah digemari sejak lima tahun lalu. Awalnya, ia hanya jadi penonton. Lama-lama ia tertarik dan akhirnya belajar merakit layang-layang sendiri. Ia juga menjadi pemburu layang-layang unik. Koleksi yang dimilikinya sudah mencapai jumlah puluhan.

Ia membawa istri dan anaknya ke Jakarta hanya untuk ikut ajang festival layang-layang. Rencananya lagi, ia akan berangkat ke Yogyakarta untuk mengikuti event yang sama. “Ada kesenangan sendiri yang luar biasa bagi pengemar layang-layang, jika bisa ikut festival,” ujarnya.

Tim dari negara Malaysia membuat layang-layang berbentuk pesawat antariksa. Dari negara lainnya, ada yang membuat layangan dengan bentuk Superman. Bahkan ada yang membuat layangan panjang yang berukuran kecil sepanjang 100 meter. Bermimpi untuk terbang.

0 komentar: