Header Ads

30.7.07

Kano Tuntut Fisik yang Bugar

Bagi orang yang gemar bermain di atas air, tak ada salahnya mencoba olahraga perahu kano. Olahraga ini relatif aman tingkat kecelakaannya dibandingkan olahraga air lainnya.

Apalagi, biasanya kano dimainkan di air tenang, seperti danau. Namun jika ingin ditingkatkan lebih ekstrem lagi, bisa mencoba di arus deras.

Mendayung kano di air tenang, kelihatannya sangat mengasyikan. Perahu meluncur dengan tenang. Tinggal mengarahkan saja tujuan perahu. Pengendalinya, ada di dayungnya sendiri. Penggiatnya tinggal menentukan kekuatan ayunan tangan di kanan dan kiri paruhu kanonya.

Yang jelas, olahraga ini berbeda dengan permainan air lainnya. Pengendali dan lajunya tanpa menggunakan setir atau mesin. Semuanya serba kekuatan tubuh. Bagian terpenting berada di pergelangan tangan. Perahunya terbuat dari bahan fiber dengan panjang lima meter.

Walaupun terlihat sederhana, olahraga ini lumayan rumit bagi pemula. Kalau hanya sekedar mendayung, itu biasa. Tapi tingkat kesulitan ada pada saat akan membelokan perahu. Untuk ini ada teknisnya sendiri. Pendayung harus mengayuhkan arah berlawanan. Biasanya mendayung ke arah belakang, dan saat belok mendayung ke arah depan.

“Mungkin karena masih baru, jadi rada sulit. Pemula biasanya lupa teknis memajukan dan memundurkan perahu,” ujar Saptono, pengawas olahraga Kano di danau kawasan Ciputat, Tanggerang.

Selama ini, pemain kano yang diawasi adalah para pemula. Kebanyakan para orang tua yang ingin memperkenalkan kepada anak-anaknya. Walaupun hanya sekedar sebagai rekreasi, namun jika sudah dikenalkan sejak dini, akan terbiasa untuk menggeluti olahraga ini.

Dampak kelalainya hanya kecil. “Perahu biasanya terbalik,” ujar Saptono. Namun tidak perlu khawatir, penggiatnya harus dilengkapi pakaian terapung.

Saya mencoba permainan ini. Sebelum naik ke perahu kano, harus mengenakan baju perampung dan cara-cara yang harus dilakukan saat mendayung. Jika ingin maju dengan posisi lurus, dayung digenggaman tangan kanan dan kiri harus dikayuh ke belakang. Semakin cepat ayunan, semakin laju perahu.

“Jika ingin berbelok ke kanan, dayung di tangan kanan diayunkan maju. Semakin kencang ayunan ke air, semakin cepat perahu berbelok. Begitu sebaliknya jika belok ke kiri,” ujarnya sambil mempraktekannya di atas air.

Saya lalu mencoba untuk memainkan kano. Awalnya hanya melaju dengan pelan. Tetapi hanya butuh 10 menit saja sudah terbiasa. Sekali kayuh kanan dan kiri, cukup kencang lajunya.

Tapi ternyata bermain kano sangat mengandalkan kekuatan fisik. Semakin lama tubuh semakin lelah. Walaupun kekuatannya di bagian tangan, tapi terasa di bagian pangkal bahu dan punggung. Pada saat mengayuh, tulang punggung ikut terasa. Bagi saya yang baru pertama kali melakukan olahraga ini, kano ternyata sangat menguras tenaga.

Dari olahraga perahu kano ini, tenaga ekstra harus dikerahkan pada saat berbelok. Di saat itu, dayung harus lebih dalam ke air dan di kayuh ke depan. Apalagi, sebelumnya perahu meluncur dan tiba-tiba harus membelok. “Harus cepat di kayuh arah berlawanan,” kata Saptono kepada saya yang mendampingi dengan kano lain.

Bagi pemula, kata dia, akan didampingi oleh petugas. Atau didampingi oleh keluarganya sendiri yang sudah mahir. Hal itu dilakukan, menurut dia, agar dengan segera bisa menguasainya. “Untuk yang pemula, perahu kanonya memiliki dua lubang untuk dudukan. Bagian belakang untuk pengawasnya dan bagian depan untuk pemula,” ujarnya.

Jika Anda mencobanya di atas air tenang, mungkin biasa saja. Namun jika sudah mahir dan punya adrenalin yang tinggi. Penggiatnya bisa mencoba di arus yang kencang. Teknisnya tidak berbeda dengan kano. Bedanya, di arus deras hanya dibutuhkan kekuatan mental dan mampu mengendalikan perahu agar tidak beresiko menghantam berbatuan.

Untuk level ini, disebutnya kayak. Sudah pasti, tantangannya juga semakin sulit. Bayangkan saja, perahu melaju dengan kencang dan dikeliling oleh batuan yang tajam. Kita seakan terombang-ambing. Dayung hanya berfungsi untuk mengendalikan moncong perahu ke tempat yang aman dari benturan.

Sudah pasti, jenis perahunya juga agak berbeda. Kano biasanya dengan perahu bermoncong panjang sekira empat meter. Sedangkan untuk kayak moncongnya relatif pendek sekira tiga meter. Perbedaannya tidak hanya itu saja, bagian badan di jepit karet agar tidak lepas dari perahu.

Bagi yang belum mahir mengendalikan perahu kano, lebih baik jangan dulu mencoba olahraga kayak. Banyak hal yang harus dipelajari terlebih dahulu. Terutama memilih jenis kayak yang disesuaikan dengan kondisi tempatnya dan menguasai medan tempuh yang akan dilintasi.

Sebelum ‘terjun’ ke kayak, lebih baik memahirkan terlebih dahulu di level perahu kano. “Dasar tehnisnya di olahraga ini. Bedanya cuma kondisi air saja. Kalau kano di air tenang dan tidak berarus, tapi kalau kayak di air yang berarus. Teknis kayuh dayungnya sama saja,” ujarnya Saptono.

Tak ada salahnya mencoba. Yang penting, siapkan fisik agar bugar dan tidak cepat lelah. Karena saat melaju tenang di atas air, semua tenaga yang dikeluarkan akan terbayar dengan sepadan.

No comments:

Comments System

Disqus Shortname

Search This Blog

My Link