Feature Story News

Berhenti jadi ‘ojek’ Tahun 2004 . Hembusan angin dari perpohonan begitu sejuk. Seorang lelaki berbadan rada gemuk. Tidak tinggi-tinggi ...

Agus Sopian

Berhenti jadi ‘ojek’

Tahun 2004. Hembusan angin dari perpohonan begitu sejuk. Seorang lelaki berbadan rada gemuk. Tidak tinggi-tinggi banget. Duduk berlantai di sudut café Hotel Lido, Sukabumi, Jawa Barat. Ia dikeliling puluhan orang yang mendengarkan celotehnya dengan serius. Yang diomongi, jurnalisme melulu. Sesekali tangannya ikut dimainkan seirama dengan ceritanya. Sesekali tertawaan.

Sosok itu adalah Agus Sopian. Di tempat itu, sedang ada Workshop rencana penerbitan Majalah Pantau yang sempat mati. Saya salah satu orang dari banyak kontributor yang diundang. Pertemuan ini, kali kedua bertemu jurnalis profesional setelah pertemuan kongres AJI II.

Awalnya saya tidak banyak mengenal orang ini. Tapi dari mailist pantau dan cerita dari Andreas, ia adalah orang yang keras. Tapi soal jurnalisme, cukup disegani. Ia bahkan dijuluki, tukang edit yang menakutkan. “Tapi, banyak orang yang jadi, jika ditangani Agus Sopian,” kata Andreas menceritakan sedikit orang ini.

Di awal tahun 2007, saya mengenal langsung di Yayasan Pantau di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Saat itu, sedang ada rapat Pantau. Ada Andreas, Agus Sopian, Budi Setyono. Rapat serius. Hanya sesekali ada guyonan. Agus Sopian datang terlambat 30 menit. Ia bersama Yani, perempuan sedaerah dengannya, Bandung.

Kebetulan, saat itu Pantau disiapkan kamar di Apartemen Permata, Senayan. Masih satu gedung dengan Andreas Harsono. Orang dekatnya memanggil Agus Sopian dengan sebutan Kang Agus. Ia selalu membawa tas besar berwarna hitam. Isinya, laptop.

Saya selalu mengamati ketika ia mengetik. Matanya dekat dengan layar komputer. Rokok dan kopi tak pernah jauh darinya. Di tengah malam pun, saya lihat ia masih saja mengetik. Jika tidak sedang serius, ia selalu bikin guyonan. Garing tapi bikin orang tertawa.

Saya pernah mencoba meminta ia mengedit tulisan yang saya buat tentang Kalimantan Timur dan konfliknya. Yang disampaikan oleh Andreas tenyata benar. Ia dengan seenaknya memotong tulisan saya. Padahal yang diedit itu, sudah hasil pangkasan Andreas. Tapi hasil editan Kang Agus, membuat saya bengong. Ia potong dan dijelaskan dengan detail alasannya.

Sejak itu, akhirnya saya selalu dekat. Ia selalu menjuluki saya ‘ojek’. Itu disematkan, ketika saya sering mengantar ia dari apartemen ke kantor ‘selingannya’ Jurnal Nasional di Rawamangun. Saya tidak keberatan. Karena setiap hari juga, saya selalu melintasi kawasan itu untuk meluncur ke Bekasi, tempat liputan menjadi wartawan The Jakarta Post.

Selama menjadi antar jemputnya, orang yang paling banyak komentar selama saya memiliki motor adalah ia. Baru naik gas sedikit saja, ia langsung komentar dengan bahasa sindiran. “Anginnya kencang ya,” dengan logat Sunda. Terpaksa saya menurunkan gas motor lagi.

Jika macet, ia pun berkomentar, “Jakarta macet, ngeri euy,” itu tandanya saya tidak dibolehin nyelip kendaraan ke sela kendaraan lainnya.

Kalau pas melintasi rumah-rumah mewah di Patra Jasa Kuningan, Jakarta, ia selalu bikin saya tertawa dengan pertanyaan, “Orang di dalam rumah itu, lagi ngapain ya?” Saya palingan hanya menjawab, “lagi berenang dan nonton TV besar.”

Seadainya lihat rumah makan pinggir jalan dan banyak orang, ia selalu bertanya, ”emangnya enak makan di situ.” Itu tandanya, ia lagi lapar. Dan banyak pertanyaan dan sindiran yang dilontarkannya.

Waktu mencari kost untuk tempat tinggalnya di Jakarta, semua sudut rumah selalu ingin diketahui. Yang bikin melelahkan, ngobrolnya bisa berjam-jam. Masuk ke tempat kost satu, pindah ke kost lain. Begitu seterusnya. Akhirnya, ia kost di Utan Kayu. Ruangannya ber AC. Nyaman.

Selama kost di Utan Kayu, nasi uduk depan ISAI, Utan Kayu menjadi pilihannya. Lumayan enak. Apalagi, ada anak gadisnya yang ayu. “Man, ada anaknya. Cakep. Masih ABG,” kata dia suatu hari bikin penasaran. Soal makan, ia kena bagian bayarannya.

“Gue terus yang bayar,” kata dia.

Aku selalu menjawab, “kan gue yang bawa motor boncengin,”

Gadis yang dipromosikan, benar. Anaknya manis. “ Tuh, kan manis. Suka nggak lu,” ujarnya pelan-pelan sambil makan nasi uduknya.

Kini ia dapat mobil kantor. Ia juga pandah kost ke kawasan dekat kantor Jurnal Nasional di Rawamangun, Jakarta Timur. Saya juga gabung di media itu dan akhirnya tidak lagi menjadi ‘ojek’ motornya.

1 komentar:

terima kasih Rusman. Tulisan yang bagus, mengangkat sisi humanis Kang Agus yang akan selalu bikin mata ini berair mengingatnya-Vb