Header Ads

24.5.07

Panjat Dinding

"Tak Hanya Stamina

Pagi. Lima anak muda sedang berusaha keras memanjat dinding yang terbuat dari kayu. Jari jemarinya mencengkram kuat. Sesekali harus melompat sambil tetap meraih cenongkan kayu. Sesekali juga, tangannya meraih kapur putih yang disematkan dipinggang. Setelah mencapai puncak, pria itu meluncur turun.

Olahraga ini tidak seperti yang lainnya. Selain bertumpu pada kekuatan tangan dan kaki, juga harus memiliki keahlian. Bagi orang yang fobia dengan ketinggian, alangkah baiknya olahraga ini tidak perlu diikuti. Kegandrungan merayapi dinding bak binatang cicak, seakan bukan hal yang aneh lagi.

Olahraga ini biasa disebut panjat dinding. Jika di alam terbuka dinamai panjat tebing. Panjang dinding, hanyalah latihan dasar agar suatu saat nanti bisa menikmati langsung kemampuannya di alam terbuka. Di Kampus-kampus, tak lengkap rasanya, jika tidak menyiapkan sarana ini. Banyak mahasiswa yang tidak sedikit ikut menikmati olaharaga ini.

Selain memerlukan stamina, olahraga satu ini dibutuhkan konsentrasi untuk menyiasati agar tangan dan kaki selalu menempel serta tidak terpeleset. Jika salah dalam menentukan posisi, maka resiko jatuh sangat mudah terjadi. Namun jangan takut, biasanya sudah diikatkan tali dipinggangnya. Sehingga, tidak langsung terjatuh.

“Kita perlu menjiwai terlebih dahulu titik-titik yang akan kita taklukan. Ini sebagai salah satu prosesi memanjat. Kekuatan otot tangan dan kaki, memang menjadi andalan, tapi ketrampilan juga menjadi penentunya,” ujar Wawan, seorang pemanjat dinding di Universitas Jakarta.

Titik-titik yang dimaksud adalah pinjakan poin. Pijakan ini terbuat dari batu buatan yang dipasang di dinding. Fungsinya untuk dijadikan pijakan atau pegangan pada saat ingin memanjat. Tinggi dinding, biasanya mencapai 20 meter.

Jika tidak mampu mengendalikan diri, biasanya atlet sulit untuk merayap lebih tinggi. Semakin tinggi dinding, maka semakin besar juga kekuatan tubuh untuk bisa mencapai titik puncaknya. Karena, semakin tinggi maka semakin kuat grativasi bumi. Sedangkan tumpuan kaki dan tangan manusia terbatas.

“Kalau jiwa kita sedang sulit mengendalikan diri, maka tidak mungkin bisa menaklukannya. Makanya, harus terus berlatih. Kalau perlu, menatap papan dinding harus dilakukan. Ini untuk membentuk kesabaran olahraga memanjat,” ujarnya.

Kenikmatan panjat dinding, usai penaklukan. Tanpa mental yang baik, seseorang tidak akan sanggup menikmati alam dari ketinggian yang antigravitasi ini. Jangan harap bisa berlenggang-lenggok di papan panjat. Yang melihat dari bawah, seperti liukan seni tarian yang indah.

Dinding yang dibuatnya, bervariasi tingkat kesulitan kelokannya. Ada yang dibuat khusus pemula dan yang profesional. Yang pemula, tingkat pijakannya berdekatan dan mudah diraih tangan atau kaki. Sedangkan yang profesional, lebih sulit. Biasanya, dibuatkan kemiringan dinding. Semakin profesional, maka kemiringan juga semakin terjal.

Olahraga ini, masih tergolong mahal. Selain memerlukan sarana dinding memanjat, juga harus memiliki peralatan yang cukup. Semakin berkualitas alatnya, maka semakin mahal harganya. Apalagi yang berlisensi dan sebagian besar masih impor dari luar negeri.

Beberapa alat wajib yang harus dipakai, yaitu figure of 8 (descender), harness, Gri-gri, carabiner screw gate, carabiner gate, carabiner bent gate, runner (dua carabiner gate dan bent gate yang disatukan dengan memakai quickdraw sling), sepatu panjat, helm, chalk bag dan magnesium karbonat yang berfungsi untuk menjaga tangan terhindar dari keringat

Soal alat, Wawan mengatakan, tidak harus lengkap untuk pemula. Yang paling terpenting alat-alat yang berfungsi untuk keselamatan. Faktor inilah, yang harus diprioritaskan. Pemula, kata dia, harus memahami alat dengan baik dan benar. Begitupun soal kecermatan penggunaan alat itu.

Intinya, kata dia, keberanian menjadi penentunya. Jika merasa takut, tidak akan bisa berhasil menaklukannya. Menurut dia, yang paling nikmat dari olahraga ini adalah berada di ketinggian. Sama seperti kehidupan. Untuk mencapai keberhasilan harus dimulai dari usaha dan kerja keras. “Itulah maknanya. Tidak mungkin mencapai puncak keberhasilan jika tidak kerja keras,” ujarnya.

“Itulah makna panjat dinding. Kita ingin melampiaskan semua persoalan dengan usaha dan kerja keras. Tidak hanya itu, kita bisa mensyukuri betapa luasnya alam ini, sehingga bisa tunduk dengan Maha Kuasa,” tuturnya.

Untuk yang fobia ketinggian, cobalah untuk mencobanya. Olahraga ini bisa dijadikan terapi alternatif. Lamban laun, ketakutan itu bisa dihilangkan. “Semua kalangan bisa mencobanya. Kesannya memang mahalan, padahal sangat sederhana. Orang yang takut ketinggian, jika terbiasa akan hilang dengan sendirinya,” ujarnya.

No comments:

Comments System

Disqus Shortname

Search This Blog

My Link