Feature Story News

Di lantai dua gedung belakang stasiun televisi RCTI terdapat satu ruang kerja ukuran kecil yang isinya agak padat. Dari lukisan, patung mini...

Menghadirkan Kenangan Masa Kecil

Di lantai dua gedung belakang stasiun televisi RCTI terdapat satu ruang kerja ukuran kecil yang isinya agak padat. Dari lukisan, patung mini terbuat dari plastik berwajah seram, koper unik, dan puluhan mainan anak-anak di belakang meja kerjanya. Tak ayal lagi, ruangan terbuka dengan pembatas separuh tinggi dinding itu tampak berantakan. Tapi bagi pemiliknya, itulah hobi.

Hobi yang digandrungi Denny Yuliandi adalah mengumpulkan mainan anak-anak yang bahan dasarnya mayoritas dari seng atau kaleng. Bayangkan saja, di usia 38 tahun, dia senang memburu mainan anak-anak yang sudah jarang ada di pasaran. Hobi yang sulit ditemukan di era digital saat ini.

“Anak saya saja lebih memilih mainan yang modern saat ini dibandingkan menyentuh koleksi ayahnya sendiri yang semuanya serbamainan anak-anak,” tuturnya.

Denny mulai menggemari hobi ini sejak sepuluh tahun lalu akibat seorang kolektor memberinya miniatur kereta api. Seperti terhipnotis, perlahan-lahan ia pun mulai tertarik. Apalagi ia merasa masa kecilnya tidak terlalu bahagia karena tak bisa berpuas dengan mainan. Denny kecil menghabiskan waktu senggang dengan berenang di sawah.

Di tahun 1997, di Parkir Timur Senayan sedang ada pameran otomotif. Awalnya ia sekadar ingin melihat mobil sungguhan, tapi justru tertarik dengan pedagang yang menjual mobil mainan berbentuk sedan. Harganya Rp75 ribu. Karena keunikan mobil itu dan dari sisi desainnya menarik, maka dibelinya. Itulah koleksi mainan pertamanya.

Lambat laun, koleksinya kian bertambah, dan kini diperkirakan sudah terkumpul 1000 unit dari 200 jenis yang berbeda-beda. Lemari khusus di rumahnya pun sudah padat terisi. Bahkan, sebagian lagi terpaksa disimpan dalam kardus, dan sebagian kecil menjadi pajangan di ruang kerjanya.

Denny memperlihatkan koleksinya. Ada miniatur mobil ambulance, pemadam kebakaran, pesawat, bus, robot-robotan, kapal pesiar, perahu dayung, helikopter, juga pistol-pistolan.

Semua adalah buatan luar negeri. Bentuknya unik dan sangat menarik. Rata-rata buatan Cina, Taiwan, Inggris, dan lainnya. Ia enggan mengoleksi mainan buatan lokal. “Buatan Indonesia sudah tidak ada lagi. Di luar negeri, pabriknya saja masih ada,” ujarnya. Tak hanya itu, mainan itu sebagian besar masih bisa difungsikan

“Buatan Indonesia, rentan berbahaya. Masih kasar dan khawatir melukai tangan. Sedangan buatan luar, sangat rapi dan mirip dengan yang aslinya. Yang menarik lagi, ada saja rancangan mainannya yang unik dan lucu,” ujarnya.

Nostalgia Denny memang punya alasan. Era tahun 1970-an, mainan anak-anak itu pernah jaya di tengah masyarakat Indonesia. Kemudian, hilang ditelan masa di era tahun 1980-an. Ketika itu, permainan anak-anak sudah mulai berubah. Hanya sebagian anak-anak kampung saja yang masih memilikinya.

Walaupun Indonesia sudah tidak memiliki pabrik pembuatannya, namun hampir semua kota punya tempat tersendiri yang menjualnya. Barang-barang itu didominasi oleh China. Bahkan di negeri itu, sudah memiliki museum sendiri untuk barang-barang seperti itu.

Soal harga, menurutnya hobi ini tidak banyak menghabiskan uang. Selama ini, kocek yang dikeluarkan rata-rata hanya Rp75 ribu sampai Rp150 ribu untuk membeli satu mainan. Koleksinya yang paling mahal seharga Rp750 ribu. “Ada juga yang dibeli dengan harga cuma Rp25 ribu,” tutur bapak tiga anak ini.

Sama seperti para kolektor lainnya, “berburu” bukanlah hal yang aneh lagi. Seperti bisnis, persaingan dan menjaga rahasia tempat penjualan, pasti terjadi hingga akhirnya kolektor mencari sendiri. Dia yakin, suatu saat barang ini harganya jauh lebih mahal dibandingkan sekarang.

“Pernah seseorang dari Prancis ingin membeli koleksi saya. Jelas, saya tolak. Suatu saat ini, barang-barang ini akan banyak dicari. Apalagi di luar negeri sudah ada museum yang khusus mainan anak-anak dari setiap generasi,” ujarnya.

Jika ke luar kota, dia menyempatkan diri mendatangi toko yang menjual mainan macam ini. Di rumah makan maupun tempat lainnya, dia kerap memasang mata dan telinga, siapa tahu dia mendapat informasi. Sejauh ini, Denny paling banyak mendapatkan koleksi saat berkunjung ke Pontianak, Kalimantan Barat. Sedangkan “area perburuan” terjauh adalah Inggris.

Dia pernah membawa mainan berupa mobil-mobilan dari Makassar, Sulawesi Selatan. Barang itu, kata dia, sudah kusam dan oleh pemiliknya sudah dibungkus rapi. Tiba di Jakarta, saat koleksi itu dibuka ketika akan diperbaiki, ternyata dari dalamnya keluar banyak sekali kecoa.

Dengan ribuan koleksi itu, dia masih berupaya untuk memperoleh barang lainnya. Masa kanak-kanak seperti waktu yang tidak pernah dilupakan. Mainan Denny kecil, mungkin tak sebanyak ketika dirinya sudah menjadi dewasa.

0 komentar: