Feature Story News

Kehidupan kadang lucu dan dapat membuat kita tersenyum sendiri. Tapi kehidupan juga kadang tak masuk akal. Hingga, kalau sinetron lepas ‘Uj...

Hikayat Ujang Pantry

Kehidupan kadang lucu dan dapat membuat kita tersenyum sendiri. Tapi kehidupan juga kadang tak masuk akal. Hingga, kalau sinetron lepas ‘Ujang Pantry’ yang ditayangkan televisi itu benar, sungguh dahsyat efeknya. Khususnya mengenai kesetaraan antara si miskin dengan si kaya, antara yang pejabat dengan kelas pekerja rendahan.

Dikisahkan, Ujang bak mendapatkan durian runtuh yang sangat manis dan harum, ketika bisa menaklukkan hati seorang gadis cantik, punya jabatan penting dalam sebuah perusahaan besar, dan kaya raya.

Padahal si Ujang, si lelaki dari kampung itu, masih hidup menumpang di rumah seorang temannya di Jakarta. Ia kerap memilih tidur di bangsal kantor, hanya untuk menikmati ruangan pendingin. Pekerjaannya hanya pembuat minuman untuk para karyawan di sebuah perusahan. Wajahnya lugu, namun ia paling kuat merokok.

Awal hubungan mereka bermula seperti ini. Si gadis cantik dan kaya itu, pulang malam usai pesta minum dengan teman sejawatnya. Dalam kondisi mabuk berat, ia kembali ke kantor untuk mengambil tas di ruangannya. Ujang dan si gadis berpapasan. Entah kenapa, tiba-tiba saja si gadis mabuk langsung memeluk Ujang, dan akhirnya terjadilah ‘hubungan’ yang mengasyikkan bagi Ujang.

Lucunya, sejak kejadian itu Ujang menyembunyikan panty alias celana dalam si gadis cantik. Jika sedang sendirian, dia akan membayangkan si gadis dengan mencium panty-nya. Dunia indah seakan jadi miliknya. Jika istirahat di rumah, panty itu pun dipajang di dinding kamar.

Kisah berlanjut. Si gadis hamil. Ujang ingin bertanggungjawab atas jabang bayi yang dikandung si gadis. Tapi si gadis cantik menolak. Ujang tak menyerah. Setiap pagi, dia menyiapkan jamu sehat dan minuman teh hangat bagi si gadis cantik.

“Apakah orang miskin tidak boleh jatuh cinta?” kata Ujang kepada kawannya yang selalu setia menampung ‘curhat’-nya.

Pertanyaan Ujang seakan mewakili isi hati setiap pekerja pantry. Dan cerita ini memang menjadi kiasan menarik. Seperti sengaja menyindir tembok sosial yang selalu membatasi antara hati dan perasaan berbagai manusia. Antara si orang kaya dengan si miskin, juga antara atasan dengan bawahan. Sebab, hikayat Ujang memang bukanlah peristiwa kebetulan yang terjadi di sekitar kita. Yang lebih dahsyat lagi bisa terjadi: antara pekerja pantry dengan direktur perusahaan.

Yang pasti, saya membayangkan sinetron ‘Ujang Pantry’ adalah sebuah kisah lucu, yang juga memperlihatkan bermacam nilai kehidupan. Apalagi sinetron sederhana itu konon pernah terjadi. Bahwa, meski ia hanya seorang petugas rendahan di kantor, yang pekerjaannya hanya membuatkan minuman bagi para pegawai, namun ia tetaplah punya hati dan perasaan. Mereka bisa jatuh cinta secara serius.

Dan tembok sosial pun seakan mampu mereka jebol, dengan mengatasnamakan tanggungjawab. Artinya, persoalan pemaknaan nilai dan tanggungjawab kehidupan, ternyata tidak hanya ada dalam cerita-cerita pahlawan seperti Robin Hood atau Romeo and Juliet .

Saya pun teringat perjalanan asmara seorang kawan yang senang membuat puisi dan cerpen. Namanya Wan Anwar. Sepuluh tahun lamanya kami tidak pernah bertemu, dan secara tak disangka-sangka kami bertemu di Teater Utan Kayu, Jakarta. Perjalanan cinta Wan Anwar kandas. Ia gagal meminang seorang gadis asal Solo. Dia sempat stress dan mabuk-mabukan. Masalahnya: orangtua si gadis ternyata tidak merelakan anak gadisnya menikah dengan seorang penulis. “Masa depannya suram,” kisah Wan Anwar.

Wan Wanwar tidak menyerah. Dia berupaya bertemu orangtua si gadis. Namun orangtua si gadis kemudian sudah menjodohkan anak gadis mereka dengan pria lain. “Kayak cerita Siti Nurbaya,” kata Wan Anwar.

Cerita-cerita seperti ini sering terjadi. Perbedaan kelas sosial menjadi latar belakang kegagalan sebagian percintaan. Hal yang kemudian menjadikan kehidupan membentang hanya sebagai pertanyaan-pertanyaan. Dari pekerjaannya apa, kekayaannya bagaimana, derajat keluarganya bagaimana, agamanya apa, ditambah sederetan simbol-simbol lainnya.

Membuat kehidupan hanya sebagai masalah yang semakin sukar diselesaikan. Tidak saja masalah si miskin dan kaya, pekerja rendahan dengan atasan, yang lebih rumit lagi adalah masalah agama. Antara yang beragama non-muslim dengan muslim, dll. Begitu seterusnya.

Padahal soal hati dan perasaan, atau agama, misalnya, bukankah itu menjadi tanggungjawab individu dengan Tuhan? Kenapa selama ini, kehidupan selalu dibatasi oleh simbol-simbol dan identitas. Hingga bisa dibayangkan, akan sukar bagi kita mendapatkan kehidupan yang tenang di tengah masyarakat, jika kita menikah beda agama.

Belum lagi bila kita kita tidak punya strata yang bisa dibanggakan. Seolah hidup sebagai kere hanya dapat dilalui dengan selalu menebalkan muka.

Semua kebutuhan hidup memang diperlukan dan harus dipenuhi. Apalagi bila kita hidup di Kota Jakarta. Fenomena orang susah, miskin, dan gelandangan menjadi pemandangan menyedihkan. Hingga, alangkah ‘nikmat’-nya mendengarkan kalimat terakhir sinetron ‘Ujang Pantry’. “Saya akan menyiapkan kopi buat kamu,” kata si gadis kaya dan cantik itu kepada Ujang.

0 komentar: