Feature Story News

Senin, 8 Januari 2007, sekitar pukul 09.00 WIB, di kawasan Jalan Pakubuwono VI, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sebuah mobil kijang bak te...

Matinya Seorang Joki

Senin, 8 Januari 2007, sekitar pukul 09.00 WIB, di kawasan Jalan Pakubuwono VI, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sebuah mobil kijang bak terbuka berhenti di pinggir jalan ujung pertigaan Jalan Hang Lekir. Mobil itu milik petugas dari Dinas Ketentraman dan Ketertiban Provinsi DKI Jakarta, alias Trantib.

Seperti tentara yang hendak bertempur, tiga orang petugas melompat turun dari mobil. Mata mereka nyalang melihat seorang anak laki-laki yang masih berumur belasan berdiri di pinggir jalan.

“Tangkap!” teriak salah seorang petugas.

Seorang anak kecil laki-laki yang berdiri di bawah plang rambu jalan arah Slipi dan Blok M, persisnya di trotoar yang bagian bawahnya dilintasi kali, sontak cemas. Dia langsung lari melalui trotoar jalan, demi menyelamatkan diri dari petugas-petugas garang itu yang jaraknya hanya sekira 15 meter.

Baru berlari 10 meter, tiba-tiba satu mobil trantib lainnya berhenti di hadapan anak kecil itu, yang kini sudah berada tak jauh dari halte Kodim. Salah seorang petugas trantib yang mengendarai motor bebek buatan Yamaha type Jupiter langsung mencengkram leher si anak.

Ia berontak. Lengan petugas digigit. Cengkramannya nyaris lepas. Petugas itu membalasnya dengan mendorong kepala bagian belakang. Kemudian, telapak tangan petugas kembali dilayangkan dan mengenai otak bagian belakang. Tubuh anak itu oleng. Kemudian terjatuh.

Petugas lainnya, langsung bikin gerakan pagar betis, berusaha untuk menutup pemandangan dari lingkungan sekitar. Dua orang petugas langsung sibuk mengendalikan arus lalu lintas.

“Kenapa pak, anak itu? Heri, seorang supir ojek motor, bertanya. Ia sempat melihat anak kecil itu sedang dinaikkan ke atas mobil yang dikendarai para petugas trantib.

“Joki kurang ajar,” jawab petugas trantib.

“Jangan kasar kayak gitu. Kasihan anak orang. Mati tuh, anak?

“Ngak tahu. Tiba-tiba aja udeh pingsan. Silahkan jalan aja, Pak,”

Heri merasa iba pada anak itu. Sempat ingin marah, tapi dia tidak berani. Dia juga kerap melihat joki anak-anak maupun ibu-ibu yang dipukul kepalanya.

Motor menyala, Heri bergegas meninggalkannya. Sambil berjalan, Heri menyempatkan melihat lagi anak itu. “Kasihan tuh. Mati loh anak orang. Cepetan bawa ke rumah sakit. Jangan kejam-kejam kalau nangkap joki,” celetuknya.

*******

Sekira pukul 20.00 di pemukiman padat penduduk, RT 02 RW 01 Nomor B 18, Kota Bambu Utara, Tanah Abang, Jakarta Pusat. M. Nur Aris 30 tahun, kakak tiri Irfan, sedang berada di rumah, di sebuah kamar sumpek sekira 3 x 3 meter saja. Hanya ada kasur tipis dan radio tipe usang. Tak ada cahaya yang masuk. Pengap. Berlantai keramik. Tak jauh dari pintu kamarnya, seorang wanita sedang mencuci pakaian,

Aris sendiri sedang sibuk mempersiapkan bahan-bahan untuk skripsinya sebagai syarat menyelesaikan kuliah di Sekolah Tinggi Hukum Indonesia di Karet Tengsin, Jakarta.

Irfan tinggal sebelahan dengan Aris. Suasana sumpek dan pengap juga terlihat di kamar milik Irfan. Bahkan lebih parah lagi. Kamarnya padat dengan barang-barang rumah tangga. Ada kompor, lemari baju, ranjang dengan kasur kapuk yang sudah usang. Tembok kamar masih berbatu bata tanpa diplester semen. Ironinya lagi, kamar itu masih berlantai asli alias tanah.

Baju dan tas sekolah, terlihat berserakan. Irfan biasanya tidur seranjang yang diapit oleh kedua orang tuanya. Tak ada televisi. Tak ada cahaya matahari. Hanya lampu pijar 10 watt yang menjadi penerang kamar itu.

Kedua kamar itu, berada di lantai satu. Lantai dua, ada juga kamar milik keluarga Irfan lainnya. Kamar-kamar itu, berada dalam satu rumah yang belum selesai. Atapnya saja masih bolong-bolong.

Sekitar pukul 22.00 WIB, Bu Iis dan Pak Elang, pasangan suami istri yang mengais rejeki dari joki, datang menemui Aris. “Kemarin saya lihat ada anak-anak yang dibawa trantib. Kayak pingsan dan sedang diangkut kendaraan petugas trantib,” tutur Bu Iis kepada Aris.

“Saya lihatnya dari jauh. Mungkin saja Irfan,” ujar Bu Iis lagi.

Aris terdiam sejenak, sebelum akhirnya buka mulut. “Dibawa ke mana?” Pak Elang menyahut, “nggak tau,”

Dari informasi itu, Aris langsung punya firasat Irfan ada di rumah sakit. “Irfan mati,” firasat buruk itu tiba-tiba terbesit dalam pikirannya. Tapi, tak tahu rumah sakit mana. Dia langsung ingat Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Yang ditahunya, rumah sakit itu biasanya menjadi rujukan bagi mayat tak dikenal.

Bersama dengan temannya, Aris langsung meluncurkan motor ‘bebek” nya dengan kencang menuju RSCM yang terletak di jalan Salemba. Sepanjang perjalanan, wajah Irfan terus membayangi. Motor terus dilaju. Seekor kucing yang sedang menyeberang jalan, nyaris dilindasnya.

Sekitar pukul sepuluh malam, Aris tiba di RSCM dan langsung masuk ke gedung kamar mayat yang terletak di bagian belakang Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (UI). Motor langsung disandarkan.

Dia langsung bergegas ke loket petugas kamar mayat. Suasana menyeramkan. Lampu neon bercahaya terang. Peti mati terlihat jelas di bagian kanan. Aris langsung menanyakan ke petugas kamar mayat.

“Pak, ada anak kecil yang masuk ke sini? Mungkin sejak kemarin.”

Petugas kamar mayat, langsung membuka lembar demi lembar daftar mayat-mayat yang masuk. “Sebentar mas, dilihat dulu,” jawabnya.

“Ada anak kecil, tidak ada nama. Hanya tertulis Mr.X. Tahu ciri-cirinya? Tanya petugas itu.

“Saya tahu, pak”

Aris langsung ditemani petugas kamar mayat yang terletak di lantai 2. Lantai itu, tempat penyimpanan mayat-mayat. Petugas lupa nomor lemari mayat tubuh Irfan. Petugas itu, langsung kembali ke lantai 1 untuk memastikan nomor lemarinya. Aris dan temannya, ditinggal di kamar mayat.

Tak lama kemudian, petugas itu datang lagi. Kotak lemari, dibukanya. Aris langsung melihat tubuh seorang anak laki-laki yang sudah tak bernyawa lagi. Aris tidak mengenali wajahnya. Lampu di ruangan itu agak gelap. Dia hanya melihat, perut dan wajah anak itu membengkak. Tidak mengenakan pakaian. Hanya mengenakan celana dalam.

“Ada baretan (goresan) bekas luka di bagian mukanya,” ujar Aris sambil menunjuk bagian wajahnya sendiri di antara mata kanan dan kirinya kepada petugas itu.

“Ada juga bekas luka di dekat ketiak tangan kanan,” ujarnya lagi untuk meyakinkan petugas.

Petugas itu langsung melacak ciri-ciri tubuh mayat yang disebutkan Aris. Di tajamkan matanya ke bagian muka mayat itu. Ada goresan bekas luka. “Iya. Ini benar anak yang anda cari,” ujarnya.

Mayat itu, adalah Irfan Maulana. Anak laki-laki berusia 14 tahun yang masih duduk di sekolah dasar kelas 5 di SDN 02, Kota Bambu Utara, Jakarta Barat. Pengemar permainan play station (PS) ini, tubuhnya dikuburkan di pemakaman Karet Tengsin, Jakarta Selatan, Rabu 10 Januari 2007.

Sementara Aris mengidentifikasi mayat Irfan, kedua orang tua almarhum, pasangan

Sutihat (39) dan Ining (51), sedang tersaruk-saruk mencari anaknya yang hilang dan tak kunjung ditemukan.

Sepanjang siang mereka bergerak dari dari rumah teman anaknya sampai ke sanak saudaranya. Tak ada hasil. Sutihat cemas. Ining, ayah Irfan, tak tega melihat istrinya menangis berjam-jam.

Ining tak pantang menyerah. Esok harinya dia berangkat ke panti sosial Kedoya. Tempat ini biasanya dijadikan penampungan untuk masyarakat yang tertangkap untuk dibina. Ada pekerja seks komersial (PSK), pengemis, sampai pengais rejeki sebagai joki 3 in 1. Dari anak-anak dan orang dewasa sampai orang yang sudah tua.

Pencarian terus dilakukan. Semua tetangga sampai teman sekelasnya, ditanyai. Dia juga menelusuri Jalan Pakubuwono. Para Joki giliran ditanyai. Semuanya menjawab tidak melihatnya. Hingga malam hari, Ining terus mutar-mutar ke kawasan yang biasa dijadikan tempat nongkrong joki 3 in 1. Hasilnya nihil. Irfan tak juga ditemukan.

*******************

Pertengahan Februari 2007, saya berada di kawasan Jalan Pakubuwono VI, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Cuaca mendung. Di pagi hari, kawasan itu banyak joki 3 in 1 yang berupaya menjual jasa tumpangannya. Dari yang lelaki dewasa, anak-anak di bawah usia 17 tahun, perempuan sendirian sampai perempuan sambil mengendong anaknya.

Penerapan jalur 3 in 1 sudah diberlakukan DKI Jakarta sejak tahun 1992 berdasarkan SK Gubernur Soerjadi Soedirdja. Oleh Gubernur Sutiyoso, jangkauannya diperluas dan langsung dibuatkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 12 tahun 2003 tentang lalu lintas angkutan jalan, kereta api, sungai dan danau, serta penyeberangan di DKI Jakarta.

Kemudian secara rinci, aturan itu dijabarkan dalam Keputusan Gubernur nomor 2054 tahun 2004 tentang penetapan kawasan pengendalian lalu lintas dan kewajiban mengangkut paling sedikit tiga orang penumpang per kendaraan pada ruas jalan tertentu.

Penetapan kawasan pengendalian lalu lintas itu berlaku pada hari senin-jumat atau hari kerja, yaitu pukul 07.00-10.00 dan pukul 16.30-19.00. Keputusan Sutiyoso ini, juga mengatur arus kendaraan pengangkut barang yang memasuki ruas-ruas jalan yang telah ditentukan.

Apa boleh buat, semudah ketentuan diberlakukan, semudah itu pula disiasati. Warga yang dianggap miskin dan bodoh sekalipun, gampang menangguk untung dari aturan yang tak jelas ujung-pangkalnya itu. Mereka menjadi joki – istilah yang mula-mula populer di kalangan peserta ujian nasional.

Joki itulah yang dapat mengatasi kesulitan para pengguna kendaraan saat melintas jalur-jalur itu. Ketimbang ditilang keluar uang Rp 200 ribu, lebih nyaman mereka membayar joki yang hanya dibayar Rp 10 ribu.

Gampang mendapatkan joki. Pengguna kendaraan tinggal melihat mereka, yang biasanya memberi kode dengan lambaian tangannya ke setiap mobil yang akan melintasi kawasan 3 in 1.

Irfan hanyalah salah satu joki yang bernasib malang. Ia tak hanya tertangkap saat beraksi, tapi juga hilang nyawa.

Kematian Irfan tidak menyurutkan niat joki 3 in 1 lainnya untuk mengais rejeki. Setiap pedagang, tukang parkir, dan joki 3 in 1 yang saya temui di kawasan itu menyatakan, mendengar kejadian tewasnya Irfan. Dan semuanya menjawab seragam: dipukulin trantib.

“Di dekat halte, matinya,” ujar seorang pedagang di dekat pom bensin sambil menunjuk arahnya. “Sekitar 100 meter dari sini.”

“Di sini sering mobil ditilang polisi?” saya mengejar dia.

“Semestinya udeh lewat jamnya. Jalur itu satu arah cuma sampai jam 11 aja . Ini udah jam 11 lewat. Paling nyari duit,” si pedagang menjawab. “Kalau satu mobil kena Rp50 ribu dan motor kena Rp20 ribu. Berapa kali banyak tuh uang masuk polisi.”

Saat wawancara berlangsung, terlihat seorang petugas sedang kelabakan. Beberapa motor dan mobil yang disuruh minggir, kerap langsung mengecangkan lajunya. Polisi itu tidak mengejarnya. Ia sibuk memeriksa surat pengemudi yang sudah ditangkap sebelumnya.

Menurut pedagang tadi, kematian joki 3 in 1 diketahui dari sesama pedagang dan para joki 3 in 1. Media massa banyak mengutip keterangan mereka.

Tindakan kasar kerap berlangsung di sana. Tidak hanya anak-anak saja, perempuan pun kerap diperlakukan sama. “Rambutnya dijenggut,” ujarnya, seraya menjelaskan, “main pukul dan tendang, sudah biasa.”

Sebelum peristiwa yang terjadi pada Irfan, Sugiarti, ibu rumah tangga yang bekerja sebagai joki 3 in 1 juga menjadi korban trantib. Bulan September 2006, dia ditangkap trantib di kawasan Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat. Bukan bimbingan yang diterima, rambutnya malah digunduli hingga nyaris botak.

Pernah para joki 3 in 1 di kawasan itu marah. Seorang petugas trantib yang ditemui, langsung dipukul dan dibacok. Mereka kesal dengan cara penanganan trantib yang cenderung kejam. Kejadian itu dilakukan di persimpangan antara Jalan Pakubuwono dan Jalan Bumi.

Peristiwa itu nyaris terjadi lagi pascameninggalnya Irfan. Isu yang beredar menyebutkan warga Tanah Abang dan gabungan Joki 3 in 1 akan menyerang trantib yang bertugas di Kecamatan Kebayoran Baru. Mereka juga mengincar petugas trantib Kelurahan Gunung, Kebayoran Baru.

Situasi menegang. Beberapa pedagang didatangi seorang staf dari kecamatan agar menginformasikan jika ada orang yang mencurigai menyimpan senjata tajam atau apapun di got-got atau semak-semak taman. Mereka khawatir senjata itu dijadikan alat serang.

Kabar burung tak terbukti.

****

Saya berusaha menelusuri rute yang diperkirakan tempat terakhir keberadaan Irfan menjadi Joki 3 in 1. Halte itu dikenal: Halte Kodim. Di tempat itu, ada kios pedagang rokok, pedagang voucher ponsel dan perusahaan kontraktor. Di seberang jalannya, ada supermarket dan rumah makan.

Semua orang yang hari-hari berada di tempat itu, mengatakan sama: mendengar ada joki 3 in 1 yang meninggal. Informasi yang beredar, dipukuli trantib. Namun, mereka menyatakan tidak tahu persis kejadian pemukulannya.

Adi, seorang joki 3 in 1 mengatakan kejadian yang menimpa Irfan berlangsung begitu cepat. Dia hanya melihat Irfan sudah dipegang tangannya oleh trantib. Melihat itu, dia juga langsung lari kencang agar tidak ditangkap. “Cuma itu saja. Irfan dipegang, saya lari.”

“Kalau udeh dipegang gitu, biasanya langsung dipukul kepala. Terus baru deh dibawa. Biasanya juga, pas di atas mobil, dipukul lagi. Mereka (trantib) suka main pukul pake sikut,” tutur Adi yang baru satu kali ditangkap.

Beberapa minggu setelah kejadian, ada petugas dari kepolisian yang datang ke lokasi yang diduga menjadi tempat kejadian. Para polisi itu menanyai persoalan tewasnya Irfan kepada beberapa pedagang dan joki.

“Waktu kejadian, saya baru bangun. Jadi nggak tahu. Waktu ditanyai polisi untuk dimintai keterangan, saya juga cuma bilang begitu,” ujar Anto, joki yang setiap hari tidur di gubuk belakang pedagang.

Suherman, supir ojek motor, sebaliknya tak tahu ada orang meninggal di daerah operasinya. Ia kaget setelah saya menyampaikan isu perihal kematian Irfan, tepat di tempat mangkalnya. “Kalau memang tidak tahu, bilang saja tidak tahu,” katanya.

Dua hari setelah kejadian, dia sedang berada di kantor Kelurahan Gunung, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kantor pelayanan masyarakat itu ramai membicarakan adanya joki yang meninggal. Apalagi di media massa tertulis, Irfan tewas akibat pemukulan oleh petugas trantib setempat.

“Di kelurahan jadi omongan. Sampai saya dengar ada petugas yang marah dengan isi berita. Pokoknya ramai,” tuturnya sambil menirukan komentar salah seorang staf kelurahan, “ini ngak benar. Beritanya ngaco”.

Pukul 11 WIB, kawasan itu diguyur hujan deras. Tak ada lagi joki yang terlihat di pinggir jalan. Sejak terjadinya kasus Irfan, tak terlihat lagi ada razia yang dilakukan oleh aparat trantib.

Satu jam kemudian, saat hujan mulai reda saya mengendarai motor untuk meluncur ke arah Puskesmas Kelurahan Gunung. Sekitar satu kilometer dari tempat terakhir Irfan dibawa petugas trantib. Di Puskesmas itulah nafas terakhir Irfan berhembus.

Hanya ada dua petugas Puskesmas yang sedang berjaga. Satu orang pasien laki-laki sedang menunggu mendapatkan jatah obat. Tak seorang pun di sana yang mau membuka mulut.

M. Nur Aris, kakak tiri Irfan, yang saya temui di rumahnya di Tanah Abang, memperlihatkan foto Irfan saat sebelum diotopsi dan sesudah diotopsi. Dia memotretnya dengan menggunakan kamera telepon selular miliknya di kamar mayat RSCM.

Wajah Irfan sebelum diotopsi tampak bengkak. Daerah bagian hidung dan mulutnya, terlihat dengan jelas darah yang sudah mengering. Muka dan bagian dadanya membiru. Irfan tak berpakaian. Berceceran bekas darah di seprei putih tepat di bagian kepala.

“Waktu saya lihat kupingnya, ada darah kering,” tutur Aris.

Dalam buku catatan kamar mayat RSCM, tubuh mayat Irfan bernomor register 041. Masuk tanggal 8 Januari 2007, pukul 11.10 WIB dengan kode ML kependekan dari mayat luar. Berjenis kelamin L (laki-laki).

Nama jenazah tercantum ‘MX’. Kode ini dicantumkan bagi mayat yang tidak memiliki identitas nama. Kemudian diberi tambahan nama Irfan. Alamat yang tercantum, tidak ada. Hanya tertulis TKP/kepolisian Kebayoran Baru. Polisi yang menyerahkannya bernama Soegiono, Aiptu/62020416.

“Kasus Irfan harus tetap diselidiki. Ini insiden. Jangan mentang-mentang orang miskin, kasus matinya seperti tidak ditanggapi,” ujar Feri Setiawan, Koordinator pengacara gabungan dari Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum (LKBH) Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia.

Bersama dengan Asosiasi Advokat Indonesia (AAI), lembaganya masih mengawasi kinerja kepolisian dalam hal mengusut tuntas keterlibatan aparat trantib yang menjadi penyebab tewasnya Irfan.

“Siap digugat?” saya bertanya pada Wakil Kepala Dinas Trantib, R. Sitindjak.

““Kita siap,” kata dia. “Kita serahkan kepada pihak berwajib untuk melakukan prosedur penyidikan secara hukum dan itu memang kita yang minta. Kita tidak pernah melindungi hal-hal di luar aturan. Kita akan mengeluarkan sanksi terberat hingga pemecatan.”

Sitindjak tak terima pihak Trantib dikatakan sebagai biang kematian Irfan. “Hasil visumnya juga, anak itu memang sakit. Bukan pemukulan,” Wakil Kepala Dinas Trantib, R. Sitindjak. “Dan itu sudah dikatakan oleh tim dokter berdasarkan hasil forensik.”

Alih-alih melakukan pemukulan, menurut Sitindjak, anak buahnya justru berusaha menolong Irfan.

Penyidikan kasus ini, ibarat bola pingpong. Pindah sana dan pindah sini. Pertama ditangani oleh kepolisian sektor Kebayoran Baru yang menjadi tempat perkara. Kemudian pindah lagi ke Polda Metro Jaya. Terakhir, berkasnya kembali dialihkan ke kepolisian sektor Kebayoran Baru.

Kepala Polisi Sektor (polsek) Kebayoran Baru, Kompol Agus Risendi dihubungi melalui telepon selulernya pekan lalu mengatakan, sudah ada saksi tambahan dua orang yang berasal dari joki wanita. Saksi ini yang melihat kejadian itu, apalagi jaraknya cukup dekat. Irfan, menurut saksi itu, naik ke mobil tanpa ada tanda-tanda kekerasan. “Dia naik sendiri dan tidak ada pemukulan. Saksi itu juga dari joki ibu-ibu,” ujarnya.

Dia mengatakan, kepolisian mengutarakan fakta yang ada dan benar di lapangan. Sampai saat ini, pihaknya masih terus melakukan penyidikan. “Saya tidak pernah menutup kasus ini. Jangan pernah salah dimengerti.”

“Kalau memang benar-benar kita menemukan adanya tindakan kriminal atau tindakan kekerasan terhadap adik ini (Irfan), kita akan cari itu.”

“Bukan karena pelakunya dari trantib yang juga aparat pemerintah?” tanya saya

“Sama sekali. Sama sekali itu tidak ada. Kalau mereka (trantib) bersalah, ya kita sikat lah. Saya katakan begini; saya berdosa dengan almahum adik ini (irfan) apabila memang ada pemukulan dan tidak dapat pelakunya. Terus terang, berdosa saya. Secara pribadi saya bilang sama Anda.”

Agus terus berbicara. Dia mengatakan, tidak pernah kenal trantib dan tidak ada satu pun yang dikenalnya. Hingga saat ini, kata dia, memang belum menemukan satu bukti yang menyatakan adanya pemukulan.

“Saya berdosa, apabila memang dia dipukul dan tidak dapat orang itu.” Orang yang dimaksud Agus adalah tersangka pelaku.

Bagaimana dengan tubuh korban yang ditemukan adanya bekas luka pemukulan atau keluarnya darah?

Agus mengatakan, “Soal itu kan sudah disampaikan langsung oleh pihak RSCM. Termasuk detail soal hasil visumnya. Saya bukan ahlinya dalam hal penyampaian itu.”

****

Buku sekolah Irfan masih berserakan di kasur. Tas berwarna merah berisi buku pelajarannya, juga masih ada. Sepatu sekolahnya masih tergeletak di lantai. Begitu pun sepatu bola berwarna hitam, masih tersimpan. “Irfan suka main bola,” ujar Aris.

Gara-gara bola juga, dia nekad menjadi joki 3 in 1. Uangnya digunakan untuk menonton tim favoritnya berlaga, Persija. Sebelum meninggal, Irfan sedang bersusah payah mengumpulkan uang untuk menonton Persija bertanding di Yusuf Cup, di Makassar, Sulawesi Selatan.

Aris memperlihatkan foto Irfan sebelum meninggal. Foto itu, diperkirakan saat Irfan berusia delapan tahunan, satu-satunya foto yang dimiliki oleh keluarganya. Irfan sedang berpose dengan tiga teman lainnya. Dia terlihat tersenyum.

Tubuh Irfan kini sudah menyatu dengan tanah. Aturan 3 in 1 tetap jalan. Joki pun tetap marak. Satir yang entah kapan berakhir. [end]

3 komentar:

Begitulah, atas nama aturan rasa kemanusiaan tidak lagi menjadi bagian dari nurani bahkan tempatnya tergantikan oleh sebuah makanan sehari-hari bernama KEKERASAN.

Rusman said...

Negeri ini memang selalu mengatasnamakan ketertiban. Tapi tak pernah berpikir mencari solusinya. Kekerasan akhirnya menjadi selalu hal yang takzim.

Anonymous said...

Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji'un ..

selang sekian tahun ... tidak tahu apa yang terjadi kini .. apakah para pelaku dan para pelindung .. yang mungkin saja memiliki anak2 juga ...... apa yang terjadi dngan anak mereka .. ? apakah mereka mengira Allah tidak Maha Melihat dn tidak Maha Kuasa .. ??? anything possible ..

tidak terbayangkan apabila Allah menunjukkan kuasaNya kelak ..