Header Ads

2.3.07

Cerita Dari Lorong Jakarta

Malam kian larut. Jakarta tidak hujan. Bulan yang bundar berseri tak mampu menembus kerimbunan pepohanan di Jalan Latuharhary. Ruas jalan itu seumumnya tetap gelap. Remang hanya datang dari cahaya lampu teplok di lapak-lapak pinggiran jalan. Sesekali mobil dan motor melintas jalan ini.

Suara musik dangdut remix yang disetel di lapak-lapak memecah keremangan malam. Dari kejauhan terlihat tiga pasang lelaki dan perempuan muda menggoyangkan badan tak beraturan. Mengikuti alunan musik. Mereka tertawa renyah, dan sesekali berhenti berjoget. Mengambil minuman. Tak lama kemudian, mereka kembali bergoyang, larut dalam dinginnya malam dan dentuman suara musik.

Tak sulit untuk menemukan Jalan Latuharhary. Jalan ini terletak di kawasan elit, Menteng. Beberapa lembaga pemerintah seperti Komnas HAM berkantor pula di jalan ini, membuat Jalan Latuharhary semakin terkenal. Sedangkan lapak-lapak yang meriah oleh musik dangdut remix tadi terletak di sepanjang sisi kiri dan kanan rel kereta api yang melayani jurusan dari Manggarai ke Tanah Abang. Di antara Jalan Sultan Agung dengan Jalan Latuharhary mengalir Sungai Ciliwung.

Jalan Latuharhary diambil dari nama seorang seorang perintis kemerdekaan Indonesia asal Maluku, Johannes Latuharhary. Istri Latuharhary adalah anak Raja Kariu Jacob Pattiradjawane bernama Henriette Carolina.

Pukul 23.00 malam, saya memasuki jalan itu dari pertigaan jalan Blora di depan stasiun kereta Dukuh Atas. Laju sepeda motor diperlambat. Jalanan masih sepi. Memasuki Jalan Latuharhary, geliat kehidupan malam mulai tampak. Bukan hanya perempuan yang mejeng di sini, waria juga tak mau ketinggalan. Melihat sepeda motor datang, seorang waria berpakaian seksi dengan belahan dadanya yang menantang, berdiri sambil melambaikan tangan.

Tiga waria saya jumpai berdiri di sisi kiri dan kanan jalan. Beberapa meter dari tempat waria itu, di pinggiran rel kereta api, terlihat seorang perempuan ditemani seorang lelaki. Mereka berdiri berdampingan. Lelaki itu kelihatan iseng: tangannya “bergerilya”. Tak jelas juga sebenarnya apakah pasangan itu laki-perempuan, atau laki-waria. Tak cukup cahaya untuk memastikan identitas mereka.

Waria-waria lain umumnya tipikal. Mereka berpakaian sangat seksi. Banyak yang memakai rok mini hitam sepaha dan berbaju hitam. Wajahnya banyak yang putih pucat, berlipstik, dan rambutnya terurai melewati bahu. “Itu bencong,” celetuk teman saya. Saya terus mengamatinya. “Nggak mungkin ada cewek cantik kayak gitu, terus nongkrongnya di rel kereta api,” katanya lagi. Bencong adalah sebutan lain untuk waria.

Saya meneruskan perjalanan hingga ke pertigaan Jalan Cimahi. Di sini saya temukan beberapa pasang lelaki dan perempuan di sekitar lapak. Ketika melintasi perempatan Jalan Madiun, suara musik dari berbagai aliran bising berbaur: dangdut, disko, pop, bahkan rock jadi satu. Berbelok ke kanan, sekira 20 meter dari perempatan jalan itu, terletak Jalan Halimun.

Menurut Alwi Shahab dalam bukunya Queen of The East, Jalan Halimun tahun 1960-an, terkenal sebagai lokasi pelacuran terbesar. Tapi kini, seiring perkembangan dan pertambahan penduduk Kota Jakarta, Jalan Halimun sudah menjadi pemukiman warga. kemungkinan besar karena itulah para pekerja seks pindah mangkal di sepanjang Jalan Latuharhary.

Prostitusi di Jalan Latuharhary bukan untuk kalangan kelas elit. Di sini khusus bagi mereka yang datang dari kalangan menengah ke bawah alias kelas kantong kempes.

Menjelang dinihari, tak ada kendaraan pribadi yang singgah di sana.Hanya sepeda motor yang parkir di pinggir jalan protokol dan di tepian sungai. Semakin malam, kendaraan roda tiga alias bajaj semakin banyak mengantre. Gerobak pedagang ketoprak dan sepeda bermuatan buah rambutan juga ada.

Pada siang hari, kantor Komisi Nasional (Komnas) Perempuan yang terletak di Jalan Latuharhary itu menjadi tempat para aktivis pembela perempuan bekerja. Ketika malam tiba, tepat di seberang kantor itu, giliran perempuan pekerja seks yang harus bekerja keras menyambung nyawa dengan jalan menggadaikan tubuhnya.

Dari perempatan Jalan Teuku Cik Di Tiro, saya berputar menelusuri kembali jalan itu. Kali ini tidak melewati jalan besar, melainkan masuk menelusuri pinggiran sungai. Ada jalan setapak yang hanya bisa dilalui oleh sepeda motor. Jalannya terbuat paving block. Dari sinilah, wajah lelaki dan perempuan yang melewati malam bisa terlihat jelas dari sorotan lampu motor.

Itulah kehidupan mereka, para penikmat hiburan malam kelas pinggiran.

Tempat kencan mereka bukanlah restoran siap saji kelas tinggi, cukup di bawah naungan pohon saja. Di tepian sungai, beberapa pasangan terlihat beradegan romantis. Kalau “hajat” tak tertahan lagi, tak perlu check in ke hotel berbintang, cukup di gubuk-gubuk terpal yang pastinya superhemat bin murah.

Di tepian sungai terdapat beberapa gubuk, yang seluruh dinding sampai atapnya didirikan dari terpal plastik berwarna biru. Tak perlu bayar mahal untuk menyewanya.

“Mau pakai tempat itu (rumah terpal), biaya sewanya tergantung. Bisa Rp5.000 sampai Rp20.000,” ujar Rio, 18 tahun, salah seorang pengamen yang hari-hari mangkal di lokasi itu. Rio dan pengamen jalanan lainnya, menyebut kawasan itu KR” alias kamar rahasia. “Tarifnya, tergantung negosiasi aja,” katanya.

Gubuk-gubuk terpal itu biasa dijadikan tempat berkencan. Ukurannya, ada yang 3x3 meter dan ada yang 2.5x2.5 meter. Ruangan dalamnya pun super ala kadarnya: beralas kardus, dilapisi tikar. Lampu penerangnya dari lilin atau lampu minyak tanah.

Ramainya tempat itu, tidak hanya menjadi sumber kehidupan bagi pekerja seks dan pedagang saja. Kaum miskin lainnya, juga turut tumplek di sana. Ada pengemis yang keliling dari ujung jalan ke ujung lainnya. Kebanyakan pengemis di sini sudah tua.

Anak gelandangan dan pengamen, turut meramaikan tempat. Bahkan lebih banyak. Mereka datang silih berganti. Bernyanyi seenaknya sendiri, tak peduli pada pitch control. Maklum, alat musiknya pun cuma botol plastik yang diisi pasir. Lagi-lagi suara mintanya terdengar lirih, “untuk makan bang,” atau “adik saya sakit,”.

Saya singgah di sebuah lapak yang tak jauh dari seberang kantor Komnas Perempuan. Dua perempuan duduk di bangku kayu bersandar pagar sungai. Yanti dan Icha namanya. Yanti tingginya sekira 155 sentimeter, badannya agak gemuk dan berambut sebahu. Sedangkan Icha, tubuhnya kurus dengan tinggi kisaran 150 sentimeter dan berambut pendek.

Yanti mengaku berusia 19 tahun. Icha, 16 tahun. Keduanya bekerja sebagai pramusaji di lapak-lapak tersebut. Layaknya perusahaan besar, mereka pun punya status: pekerja tetap dan Freelance. Yanti berstatus pekerja tetap, sedangkan Icha memilih untuk jadi freelancer.

Beda status, beda pula penghasilan. Pekerja tetap mendapat gaji Rp100 ribu per bulan plus ongkos Rp5.000 per hari. Waktu kerjanya harus disesuaikan sampai jam tutup lapak pada pukul 04.00 subuh.

Sedangkan freelance, hanya memeroleh komisi dari jumlah minuman yang dibayar oleh tamunya. “Cuma dapat 20 persen dari minuman yang harus dibayar tamu yang ditemani. Kalau tamu saya bayar minuman seratus ribu, saya dapat komisi 20 ribu. Jam kerjanya, juga bebas,” tutur Icha.

Yanti mengajak setiap lelaki singgah di lapaknya, ditemani ngobrol, menuangkan minuman, dan membuat tamu senang. Tidak perlu berpakaian rapi atau diruangan sejuk. Kerjaannya, di tempat terbuka di bawah pohon yang berjajar di sepanjang bantalan rel kereta api Latuharhary.

Icha bekerja dengan salah seorang wanita berusia separuh baya. Berbadan gemuk. Panggilannya, Mami Dalem. Dari 60 lapak yang ada di kawasan itu, Mami Dalem dan keluarganya punya lima lapak yang jaraknya berdekatan. “Udeh puluhan tahun jualan di sini,” tuturnya.

Jangan sangka bisnis Mami Dalem ini tidak kena pungutan liar alias pungli. Dia menyebutnya Japrem alias “jatah preman”. Hampir setiap malam, harus mengeluarkan uang jasa preman. Untuk aparat kepolisian, brimob, tentara, bahkan satuan pamong praja, masing-masing Rp5.000 setiap malamnya. Sedangkan pengeluaran resminya, setiap hari harus membayar uang jasa tukang angkut lapak Rp30.000.

Lapak miliknya disimpan di sekitar Pasar Rumput yang berjarak kisaran 150 meter. Tukang jasa itu yang memasang dan membereskan lapaknya. “Kalau dihitung-hitung, banyak juga pengeluaran. Yang paling sering, ya,..aparat itu. Nggak satu kali aja datang, tapi sering kali,” tuturnya. Jika hujan, semua pedagang dan pramusajinya harus berteduh atau memasang tenda. Sudah pasti, dagangannya sepi pembeli.

Namun, dia tidak persoalkan pungutan itu. Yang paling terpenting kerjasama informasi. “Pas mau ada razia, ya…ada saja yang kabarin. Jadi Informan deh…istilahnya. Anak-anak (pekerjanya) yang tidak punya identitas, bisa tidak bekerja sementara,” ujarnya.

“Minuman di sini, banyak yang bilang mahal. Tapi, banyak juga yang mintah jatah preman. Aparat mau berantas karena haram. Eh..uang haram diminta juga,” ketus Mami Dalem.

“Iya…teman-teman juga ditangkap, ujungnya minta duit juga,” timpal Icha.

“Ngak aneh mas, kadang juga banyak aparat yang datang cuma minta minum gratis doang,” timpal Yanti. Mami Dalem yang asli Indramayu, hanya mengiyakan. “Bukan Cuma itu, udah minta duit, minta minuman gratis,” tutur Mami menambahkan.

Berdagang di kawasan Latuharhary, kata Mami, sudah lama dilakoni. Karena, wilayah itu banyak dikunjungi masyarakat dari golongan menengah ke bawah yang membutuhkan hiburan malam. Apalagi, suasananya juga terbuka dengan harga minuman yang sebenarnya bisa terjangkau kantong pengunjung.

Makanya, kata Mami, semakin malam maka semakin ramai pengunjung yang datang. Para pedagang, sebenarnya mengerti dengan kondisi rumah warga yang tak jauh dari tempat usahanya. Namun, mereka juga berharap warga sekitarnya memahami usaha yang dijalaninya.

“Kita ini orang miskin. Dari jualan ini, kita bisa bertahan hidup. Bukan pedagangnya saja, pekerjanya juga bisa mendapat penghasilan dibandingkan harus mencari hidung belang untuk berkencan di jalan-jalan,” ujar Mami.

Walaupun banyak juga pekerjanya yang nyambi menjual tubuhnya, Mami mengatakan, mungkin saja lagi banyak kebutuhan uang. “Tapi yang saya tahu, anak-anak (pekerjanya) tidak serta merta menerima (ajakan kencan) jika dagangan ramai. Kan udah dapat komisi dari hasil penjualannya,” ujarnya.

Tak selalu beruntung. Jika sial terjadi, pedagang pasrah dagangannya diangkut oleh aparat Trantib. Paling hanya diangkut gerobaknya saja. Yang harus diselamatkan terlebih dahulu, kata Mami, isi dagangannya. “Tapi jarang sih, paling pas bulan puasa saja. Trantib angkut hari ini, besok jualan lagi,” tuturnya.

Suara kereta api terdengar. Malam itu pukul 23.45 WIB. Dari kejauhan, terlihat lampu kereta menyorot. Sepasangan pria dan wanita berdiri dari bantalan rel. Hanya kepala gerbong yang melintas. “Jam dua atau jam tigaan, ada lewat lagi,” ujar Icha.

Pukul 00.00 WIB, seorang teknisi rel kereta api terlihat berjalan kaki di antara rel sambil membawa kunci inggris. Kepada saya, dia mengatakan, “sudah biasa lihat tempat ini ramai. Biarin saja. yang penting, tidak ada yang tertabrak kereta,” katanya, singkat.

Jakarta sudah larut malam. Waktu menunjukkan pukul 00.30 WIB. Bulan semakin terlihat terang benderang. Tak terlihat ada bintang. Suanana memang kian ramai. Suara musik, goyangan pinggul, sepasangan duduk beromantisan ria, dan kehidupan lainnya.

Tak mengenal malam, tidak saja milik jalan Latuharhary. Suasana seperti itu sudah tidak asing lagi di Jakarta. Di protokol jalan Pramuka, tak jauh dari Hotel Sentral, Jakarta, aktifitas malam yang sama persis juga terlihat. Penjaja seks komersial kelas jalanan berkumpul di sana. Berbeda dengan Kawasan Laturhary, tak ada musik atau sepasangan yang bergoyang.

Namun wajah pria dan wanita berusia muda, mudah terlihat. Apalagi, wilayah itu lampu jalan cukup terang. Sehingga, dengan mudah mengenalinya. Ramai. Wanita dan pria berusia belia, hanya duduk berkelompok. Terlihat wanita sedang asyik menikmati rokok dan bahkan saling berpelukan.

Saya singgah di tempat itu. Teman saya memperkenalkan seorang wanita berparas lumayan manis. Berambut panjang luruh terurai. Dia hanya bisa tersenyum. Wanita itu mengaku bernama Santi berusia 20 tahun. Hanya tamatan sekolah menengah atas (SMA) di Jakarta.

Hampir setiap malam, dia nongkrong di kawasan Hotel Sentral itu bersama teman sebayanya dari wilayah Utan Kayu, Jakarta. Baginya, nongkrong di malam hari punya keasyikan sendiri. Apalagi, tidak mempunyai pekerjaan. Selain berajojing ria di diskotik hotel itu, dia mengakui bisa bebas menikmati Jakarta di malam hari.

Stress. Itulah alasannya. Sebenarnya, dia ingin melanjutkan kuliah. Sayangnya, tak ada biaya. Orang tuanya saja, berharap dari berdagang sayuran. Dia jenuh, akhirnya memilih enjoy di malam hari. Jika menjelang pagi, dia pulang ke rumahnya. “Ya…tidur. Ngapain lagi,” tuturnya.

“Saya sudah banyak melamar pekerjaan. Jadinya, cuma sales doang. Terus, disuruh pakaian yang seksi. Bikin cape. Tetap aja, lagi-lagi jual pamer paha juga,” tuturnya kepada saya.

Bekerja di Jakarta untuk orang miskin, kata Santi, kayaknya lebih banyak dibegoin. Banyak aturan dan bekerjanya lebih berat daripada menjadi pembantu. Walaupun dirinya mengaku tidak bego dan tolol banget, namun katanya, itukan semua relatif dirasakan semua orang.

“Kalau yang kerja wanita, kayaknya lebih banyak dibohonginnya. Kan dibilang wanita ngak punya kekuatan apa-apa. Terus, kalau mau kerja di kantoran, emangnya bisa diterima. Kan pake duit sogokan. Nah…duit dari mane. Dari jual diri aja belum tentu cukup,” ketus.

“Mas…ini Jakarta,” lanjutnya. “Sebenarnya, dapat kerjaan jadi pembantu aja, udah syukur. Tapi, siapa yang sanggup. Katanya, kerja diluar negeri enak. Ngak tahunya, masih aja ada yang pulang dengan wajah memar terus diperkosa ama majikannya. Kan gila,” ujarnya.

“Terus, apa kalau nongkrong di malam hari bisa dapat penghasilan? Tanya saya.

Santi diam. Dia minta rokok. Teman saya membantu menyalahkannya. “Mas… mau bayar saya berapa? Saya kasih service yang mantap,” ujarnya. Saya menolaknya. Santi tertawa kecil dan tersenyum mengarah kepada teman saya. Service yang dimaksud, pelayanan kencan.

“Jangan kanget mas…kalau tiba-tiba ditanyain begitu. Disini ngak langsung pasang tarif. Kalau suka, ya…ayo kita nikmatin berdua. Kalau perlu bisa dapat service gratis. Tapi, ngerti dong kalau kita juga butuh duit untuk hidup. Buat beli lisptik dan minimal bisa beli pulsa (hendphone),” ujarnya sambil tersenyum.

Santi mengemukakan, semua orang yang bisa bekerja dengan enak, karena beruntung saja. Bahkan dia yakin, semuanya serba dengan uang sogokan, punya kenalan orang dalam alias koneksi dan juga lebih banyak jual tubuh mulusnya. Untuk menjadi artis top pun, lanjutnya, harus bisa dipakai (berkencan) dengan sutradaranya.

Dia mengatakan pernah mengikuti tes untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS) belum lama ini di Jakarta. Bidang yang diikuti, departemen informasi dan komunikasi. “baru daftar saja, sudah ditelpon untuk dibantu agar lolos menjadi pegawai. Mintanya gile banget, sepuluh juta. Sialan! Duit darimane,” ujarnya. Akhirnya menyerah dengan nasib. Tak kenal malam di Jakarta.

2 comments:

mutia said...

1.lumayan bagus,lumayan loh ya bukan bagus.
2.terlalu panjang sampai ngantuk saya

Rusman said...

thanks mutia, sampe membuat anda tertidur. tulisan ini memang panjang, karena hasil reportase beberapa hari untuk mengetahui cerita pelakunya. dari pagi ketemu pagi, harus aku jabanin untuk mendapatkan cerita yang menarik.

Comments System

Disqus Shortname

Search This Blog

My Link