Feature Story News

Minggu pagi (4/2), Jakarta tidak diguyur hujan. Pukul 04.00 WIB, Sutiyoso akhirnya memutuskan: pintu air Manggarai dibuka. Tak ayal lagi, ...

Menelusuri Banjir

Minggu pagi (4/2), Jakarta tidak diguyur hujan. Pukul 04.00 WIB, Sutiyoso akhirnya memutuskan: pintu air Manggarai dibuka. Tak ayal lagi, air langsung meluber setinggi 50 sentimeter yang membanjiri sebagian kecil kawasan perumahan elit Menteng hingga Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.


Satu unit eskavator, terus meraup kayu-kayu yang tersangkut di pintu air itu. Hasilnya, tumpukan kayu setinggi 3 meter terhampar di pinggir bendungan. Banyak penduduk yang memungutinya. Sementara arus air semakin deras.

Malam harinya, saya meluncur ke kawasan Kampung Melayu, Jakarta Timur. Cuaca mendung. Dari atas jalan layang terminal Kampung Melayu, puluhan orang duduk di pinggir jalan sambil menyaksikan tingginya air di jalur utama. Persisnya di Kampung Melayu Besar. Lintasan yang menghubungkan Kampung Melayu dan Tebet hingga ke Casablanca, terputus terendam air hingga leher manusia.

Persis di atas jalan layang Kampung Melayu, saya berdiri. Lampu jalan dan rumah penduduk gelap gulita. Sepeda motor di sisi kanan jalan terendam. Yang terlihat hanya ujung kaca spion. Ada sebuah tenda terpal didirikan dan lima unit bajaj parkir. Semua kendaraan bebas melintas tanpa ada aturan.

Seorang pria berkopiah, duduk di tepi jalan. Namanya Gunadi berusia 18 tahun. Satu tas dipunggungnya berisi pakaian basah. Hari itu, dia baru kembali dari mondok di pesantren tradisional Tegal, Jawa Tengah. Ketika banjir Jakarta semakin parah, dia bergegas pulang ke Jakarta. Rumah keluarganya berada di pemukiman Bukit Duri Tanjakan, Jakarta Timur.

Siang hari, dia mencoba menerobos genangan air yang tingginya mencapai 1,7 meter. Dengan berpegangan pada besi pagar pembatas, dia berjalan merayap. Baru separuh jalan, air sudah mencapai lehernya. Dia tetap nekad. Tiba-tiba, arus dari sebelah kiri menghantamnya.

Gunadi berpegangan kencang. Dia nyaris tak sanggup lagi menggenggam besi. Beruntung, orang-orang di sebuah perahu karet menjemputnya. “Kalau nggak cepat dijemput, mungkin sudah terhanyut,” ujarnya.

“Tadi ada tetangga yang ketemu. Katanya semua keluarga selamat dan memilih tetap bertahan di lantai dua. Yang penting dapur sudah diangkat naik. Jadi, masaknya di atas juga,” tuturnya.

Pukul 20.00 WIB saya meninggalkan lokasi itu. Berniat berputar ke kawasan Tebet melalui Jalan Otista, Jakarta Timur. Ternyata jalan penghubung antara Kampung Melayu ke arah Bidaracina juga tergenang air. Jalur kendaraan dialihkan melalui Jalan Pedati, melintasi Otista I dan Otista II. Jalanan alternatif itu padat kendaraan. Macet.

Saya berputar kembali melalui Otista III. Banyak kendaraan yang melintas dan akhirnya bertemu underpass Cawang untuk melintas ke M.T Haryono. Lampu gedung dan perkantoran di kawasan itu padam. Rambu lalu lintas untuk satu jalur tidak berlaku. Tak aneh, kita berpapasan dengan kendaraan dari arah berlawanan.

Tugu Pancoran terlihat dari kejauhan. Lampu penerang kawasan itu terang benderang. Langit mulai terlihat memerah bersamaan dengan hujan rintik-rintik. Di jalur nontol, kendaraan jarang melintas. Pukul 21.45 WIB, barulah hujan deras terjadi.

Dengan mengenakan mantel, saya terus menelusuri jalan ke arah Bukit Duri. Penasaran. Di pemberitaan televisi sejak pagi, kawasan itu merupakan kawasan parah karena lokasinya tak jauh dari Kali Ciliwung. Kawasan itu juga bersebelahan dengan jalur utama ke arah terminal Kampung Melayu.

Dekat rel kereta api stasiun Tebet, orang-orang ramai. Aula Universitas Islam Attahiriyah dipadati ratusan pengungsi. Mereka tidur dengan alas seadanya. Lantai ubin dilapisi tikar dan terpal plastik. Di depan kampus, ada posko bantuan yang bersebelahan dengan satu unit mobil toilet.

“Di mana penampungan warga korban banjir lainnya?” tanya saya kepada seorang petugas posko banjir.

“Di kantor Kelurahan Bukit Duri juga bnyak warga yang ditampung,” ujarnya sambil menunjuk arah ke lokasi yang dimaksud.

Hujan masih terus menguyur Jakarta. Di halaman kantor Kelurahan Bukit Duri, ratusan orang duduk beralaskan terpal plastik. Kantor itu terang benderang. Ada anak-anak sampai orangtua berusia lanjut. Ada dapur umum yang dipasang oleh warga yang terbuat dari terpal. Beberapa orang sudah terlelap.

Surtinah, seorang ibu berusia 42 tahun terlihat letih. Tangannya sibuk mengipas-ngipas lipatan Koran ke wajah anaknya yang tidur lelap. Anaknya itu diselimuti kain batik. Sementara hujan masih terus mengguyur Jakarta. Selama dua malam ini, Surtinah tidak dapat tidur pulas.

Sedangkan suami Surtinah, masih memilih berada di rumahnya yang berlantai dua di bantalan Kali Ciliwung untuk menjaga barang-barang mereka. Pada hari Kamis (1/2), saat ada informasi rumahnya akan tergenang air, ia memilih tetap di rumah. Menurutnya, Jakarta sudah terbiasa dengan banjir.

“Semua barang sempat diangkut naik ke lantai dua. Jadi, yang saya bawa selama di penampungan cuma pakaian seadanya saja,” tuturnya.

Yang dikhawatirkannya justru kesehatan anaknya yang masih berusia tiga tahun. Apalagi, cuaca di pengungsian sangat dingin. Lebih parah lagi jika hujan turun. “Makanya, tiap hari, saya minta posko kesehatan untuk memeriksa kesehatannya,” ujarnya.

Soal makanan, dia mengatakan, di posko pengungsian sebenarnya makanan cukup memadai. “Yang jadi masalah, warga yang masih bertahan di rumah masing-masing dan tidak mau keluar dari kepungan banjir,” ujarnya.

Berdasarkan pengalaman banjir besar yang melanda Jakarta tahun 2002, hanya beberapa hari kemudian air sudah surut. Kini dia kaget. Hingga Sabtu (3/2) air ternyata semakin tinggi. “Panik, kok air tidak biasanya tinggi hingga nyaris ke lantai dua. Akhirnya, minta langsung di pindahkan,” tuturnya.

Pada tahun 2002, banjir besar melanda Jakarta. Ribuan rumah tergenang air. Banjir itu dianggap sebagai banjir terhebat dari siklus lima tahun sebelumnya, 1997. Ternyata tahun 2007, bahkan lebih hebat lagi. Wilayah yang tak biasanya banjir, akhirnya ikut tergenang.

Seperti wilayah Kelapa Gading dan Kayu Putih, Jakarta Timur. Kawasan sentra bisnis dan perumahan elit ini, juga tergenang air. Bahkan banjir memasuki rumah-rumah mewah. Tak ayal lagi, warga dari golongan menengah atas ini kalang kabut menyelamatkan harta bendanya.

Era Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, kawasan Kelapa Gading pernah dirintis agar tetap menjadi jalur hijau. Karena kawasan itu menjadi tulang punggung wilayah resapan air bagi Jakarta. Penataan Jakarta itu disusunnya dalam Rencana Induk Tata Ruang 1965-1985. Ternyata impian itu kandas di tangan para penggantinya. Terjadi perubahan terhadap master plan yang sudah diatur Ali Sadikin dengan terbitnya Rencana Induk Tata Ruang 1985-2005.

Kini, perkembangan wilayah itu sangat dasyat. Tak ada sama sekali kawasan resapan air. Semua lahan berubah fungsi menjadi pemukiman rumah mewah, rumah makan, pusat pembelanjaan, pusat olahraga, pusat bisnis dan apartemen. Ironisnya, jika hujan besar terjadi, semua berharap banjir yang mucnul melalui dari Kali Sunter.

Bagi warga golongan menengah ke bawah, bencana banjir justru dijadikan kesempatan mencari uang. Untuk mengangkut barang, dikenakan uang jasa dari Rp 100 ribu sampai Rp 1 juta. Jika ingin gratis, bisa menumpangi kendaraan milik tentara. Tapi harus berdesakan dengan warga lainnya.

Semua akses jalan terkepung dan tidak berfungsi. Jalan layang tol Cawang saja, sudah berubah fungsi. Motor juga dibebaskan melintas. Untuk ke kawasan ITC Cempaka Mas dan Universitas Jayabaya, jalanan terkepung banjir dengan ketinggian satu meter lebih. Jakarta seperti kota tak memiliki rambu lalu lintas. Semua jalan semaunya digunakan.

Hingga akhir pekan lalu, dampak dari banjir Jakarta: 10 orang tewas, 15 stasiun kereta api tak berfungsi, 1.250 gardu listrik dimatikan dan 70 ribu sambungan telepon putus. Diperkirakan, bencana itu juga menyebabkan 12 juta penduduk tak bisa melakukan aktivitas. Tak hanya pemukiman, sekolah-sekolah juga banyak diliburkan. Diperkirakan, sebanyak 1.489 sekolah tergenang air.

Separuh lebih wilayah Jakarta menjadi hamparan air. Fenomena tak asing lagi bagi kota yang sudah kehabisan kawasan hijau. Jakarta terlihat semrawut. Lampu rambu lalu lintas dan rumah penduduk sampai perkantoran serta pusat pembelanjaan, padam. Jalan-jalan macet. Kehidupan seperti tersumbat.

0 komentar: