Header Ads

1.2.07

Kota Arwah Dari Cilincing

Siang itu cuaca Kota Jakarta, panas. Tapi, suara ombak lautan dan tiupan angin perpohonan, membuat suasana terasa nyaman dan rindang. Kumandang azan zuhur dari berbagai penjuru, terdengar keras. Sepasang anjing rebutan seonggok daging. Seorang pengemis tua, meminta sedekah dengan tangan kanannya. Tangan kirinya menompang tongkat dari batang pohon lapuk.


Suasana itu kontras dari dalam ruangan besar sekira ukurannya 25x25 meter. Beberapa orang berdiri sambil menyanyikan lagu rohani dengan haru yang dipimpin oleh seorang pastur. Dihadapan mereka, sebuah peti mayat terbuat dari kayu yang sudah ditaburi bunga. Ada yang mati. Seorang lelaki, terisak sedih di bangku tanpa sandaran yang tak jauh dari mayat peti itu.

Usai nyanyian rohani, peti mati di dorong menuju sebuah oven bersuhu panas mencapai seribu derajat. Lampu sirene berwarna merah berkedap-kedip menandakan proses pembakaran oven sedang berlangsung. Satu jam setengah, barulah lampu sirene berubah menjadi biru, bertanda pembakaran berakhir. Tak hanya tubuh yang hancur, peti matinya pun sudah bercampur menjadi debu.

Begitu mengharukan. Seorang lelaki berusia lanjut dan beberapa orang lainnya, terisak tangis. Apalagi, ketika abu dari prosesi pembakaran sudah dipindahkan ke guci. Para keluarga membawanya menuju perahu untuk dibuangnya ke tengah lautan.

Suasana sedih juga terlihat dibangunan bagian depan. Prosesi pembakarannya berbeda dengan cara oven. Puluhan orang memadati ruangan pembakaran yang luasanya 4x4 meter. Sebuah peti mati, diletakkan di atas kayu bakar. Ada nyanyian dan upacara penyampaian suka duka.

Usai nyanyian rohani, keluarga jenazah menyingkir dari ruangan itu dan pintu besi ditutup. Hanya kebulan asap yang terlihat. Prosesi pembakaran ini mendapat pengawasan dari petugas pembakaran. Tiga sampai empat jam, barulah prosesi berakhir.

Itulah prosesi pembakaran mayat yang biasa dilakukan oleh masyarakat Tionghoa. Prosesi pembakaran oven dianggapnya cara yang modern dan sistem pembakaran dengan kayu, dianggap masih tradisional. Tetap saja ada persamaan, mengambil abu jenazah dan kemudian di buang ke laut atau disimpan ditempat penyimpanan abu.

Kawasan itu dinamai Crematorium Jenazah yang berada di wilayah Cilincing, Jakarta Utara. Sekitar lima kilometer dari pelabuhan petikemas Tanjung Priuk. Tak aneh jika tempat itu begitu rindang dengan perpohonan dan semilir angin laut membuat sejuk. Maklum, kawasan seluas lima hektar ini, berada di pesisir pantai Cilincing.

Tempat itu tak hanya menjadi tempat pembakaran mayat. Ada tiga ruangan tersendiri yang berfungsi untuk menyimpan abu jenazah. Pertama, yang berada di dekat pantai. Ada patung budha (Chu lai) besar bercat kuning. Khusus untuk kepercayaan Budha. Gedung itu, bangunan lama. berisi lemari kotak berukuran 30x40 sentimeter sebagai penyimpan abu. Foto yang meninggal bisa terlihat dengan jelas, karena dibagian depan kotak dipasangin kaca.

Banyaknya ribuan. Tersusun dari menyentuh lantai hingga mencapai langit-langit ruangan dengan tinggi 20 meter. Seperti biasanya, ada hio (menyan), sesajian buah-buahan, makanan dan minuman. Hanya diterangi satu lampu neon 20 watt. Sisanya, penerang lilin yang dipasang dekat kotak abu jenazah.

Penitipan kedua, yang bersebelahan dengan ruang oven pembakaran mayat. Ruangan itu bangunan baru. Satu ruangan yang ukurannya sekitar 7x12 meteran itu, khusus untuk penitipan abu jenazah nasrani. Ruangan itu terasa sejuk dengan pendingin ruangan. Persis ditengah ruangan, ada salib besar yang dikelilingi kotak abu jenazah.

Dan ruangan ketiga; gedung penitipan abu jenazah kepercayaan Budha. Bangunan baru dengan ukuran sekitar 10x15 meter. Kotak abu tidak sepadat di gedung lama. Masih banyak yang kosong. Ada kotak yang tak bisa terlihat isi bagian dalamnya dan ada juga yang terlihat.

Alex Saputra, 48 tahun, sedang sibuk menulis dengan huruf kanji di atas kertas yang dinamai Hong Thiuw. Tiga anak lelaki bersama istrinya, sedang melakukan ritual pemberian batangan emas dan perak dihadapan abu jenazah yang terpajang foto. Tak lama kemudian, istrinya membeli koper dan uang kertas untuk dipersembahkan.

Namun jangan sangka, semua barang itu hanyalah mainan terbuat dari kertas yang bentuknya mirip dengan barang yang akan diberikan kepada jenazah. Ada uang-uangan dollar, mobil-mobilan, emas-emasan dan barang-barang mewah lainnya. Bahkan TV mainan lengkap dengan VCD atau DVD, juga tersedia.

Untuk mendapatkan barang-barang itu, sudah tersedia untuk dibelinya. Harga terendah, Rp5000 untuk barang uang dollar. Sedangkan mobil-mobilan dijual seharga Rp75.000. Mau yang paling lengkap, juga tersedia. Harganya Rp2.5 juta, yakni rumah-rumahan lengkap dengan isi dan segala kebutuhan rumah tangga lainnya.

Alex kepada saya mengatakan, ritual yang dilakukan dengan kelurganya adalah tradisi kepercayaannya. yang sudah dilakoni setiap tahunnya. Hal itu, menurut lelaki bermarga liang, pemberian barang-barang mewah untuk keluarga yang sudah meninggal, sudah tradisi turun temurun.

Percaya atau tidak percaya, kata dia, harus tetap dilakukan sebagai wujud pemberian penghargaan bagi jenazah. Apalagi, yang meninggal adalah ayahnya yang telah membesarkannya. “Lebih cenderung bakti antara anak dan orang tua,” tuturnya.

“Katanya sih, kalau diberikan mobil-mobilan, agar arwah dialamnya sendiri, bisa jalan-jalan dengan mobil. Kemudian, kalau uang-uangan, agar arwah bisa belanja. Begitu juga barang-barang lainnya,” ujarnya, tersenyum.

Usai dipersembahkan di atas meja, barang pemberian itu kemudian tugu pembakaran yang berada dibagian kiri persis pintu masuk. “Katanya, harus dibakar supaya barang-barang itu bisa diterimanya. Namanya juga tradisi, ya harus dipercaya. Di kepercayaan Tionghoa, sudah dipercaya sejak nenek moyang,” tutur Alex.

Alex dan keluarganya mengunjungi Crematorium Cilincing, setahun bisa dua sampai tiga kali. Menjelang Imlek atau tahun baru cina di bulan Februari, menjelang hari Ceng Beng atau dibukanya pintu arwah untuk turun ke bumi di bulan April, dan Cio Ko atau sembahyang massal pada bulan Agustus.

Walaupun Alex dan keluarganya keturunan Tionghoa, namun dia tidak bisa menulis huruf kanji (huruf cina). Karena, pemerintah Indonesia pernah melarang segala aktifitas yang berbau Tionghoa. Jangankan menulis, ketahuan melakukan ritual saja sudah mendapatkan teror dengan ancaman akan dibunuh.

Namun dia bersyukur, saat ini Indonesia memberikan kebebasan yang luar biasa. Orang Tionghoa sudah leluasa melangsungkan acara keagamaan dan pendidikan juga sudah tidak lagi dibatasi. “Semua tradisi yang pernah dibatasi, akhirnya mulai kembali dilestarikan oleh keturunan kami (Tionghoa),” ujarnya. “Sehingga, arwah keturunan Tionghoa bisa meninggal dengan tenang.”

No comments:

Comments System

Disqus Shortname

Search This Blog

My Link