Feature Story News

Jakarta panas menyengat. Di bawah pohon akasia, Hasan (52) sibuk mengkelik kulit batang tebu dengan pisau parangnya. Dia berdiri dari te...

Hidup Tak Semanis Air Tebu

Jakarta panas menyengat. Di bawah pohon akasia, Hasan (52) sibuk mengkelik kulit batang tebu dengan pisau parangnya. Dia berdiri dari tempat duduk plastik warna hijau, menuju mesin pemeras tebu. Sejuntai tali dililitkan ke poros mesin bermerk Honda 150. Disentaknya. Brum….brum…! Mesin berputar.


Batangan tebu yang sudah dikelik dimasukan ke mesin pemutar. Hasilnya, tetesan sari tebu menetes dan tertampung di baskom berisi batu es yang diletakkan di bawah mesin pemeras. Proses itu berulang kali dilakukan sampai batang tebu tak lagi mengeluarkan sari manisnya.

Kemudian, sari tebu itu dituangkan ke sebuah kotak minuman berukuran 30x60 sentimeter yang disiapkan di atas meja dagangannya. Maka, sudah siap untuk diperdagangkan. Segelas dijual dengan harga Rp 2000. Rasanya manis dan dingin. Segar untuk dinikmati saat panas menyengat. “Manisnya dijamin tanpa ada tambahan gula,” tuturnya.

Begitu hari-hari Hasan sebagai seorang pedagang es tebu. Dagangannya berada di Jalan Tanah Mas 1, Jakarta Timur. Di atas trotoar yang sejuk di bawah pohon rindang, persis di depan sebuah bengkel taksi. Posisinya tak jauh dari bagian kiri arena pacuan kuda.

Banyak kendaraan yang singgah. Dari pejalan kaki, bersepedamotor, bahkan yang menggunakan mobil. Maklum saja, di Jakarta sudah sulit menemukan pedagang air tebu. Bahkan bisa tergolong langka. “Emang susah. Mungkin di Jakarta, cuma saya yang jualan es tebu,” ujarnya.

Soal perjalanan hidup, dia punya kisah yang akan terus membekas dalam dirinya. Jakarta baginya, mengandung cerita ironi yang pernah dialaminya. Semuanya serba dibayar dengan uang, dan banyak dengan tipuan. Yang akhirnya, membuat Hasan jera untuk melakukan usaha apa pun.

Tahun 1970-an, Hasan meninggalkan kampung halamannya di Tasikmalaya, Jawa Barat untuk berusaha di Kota Jakarta. Awalnya dia membeli dua unit angkutan umum jenis mikrolet. Dia punya dua anak buah sebagai supirnya. Bukan keuntungan yang diperolehnya, melainkan setiap hari banyak dana yang harus dikeluarkannya.

Uang pengeluaran, tidak hanya untuk membayar perbaikan mobil atau menggaji supir. Namun, lebih banyak pengeluaran tak terduga. Hasan menyebutnya: uang aneh-aneh. Misalnya, bayar polisi kalau ditilang, bayar pungutan, bayar restribusi, salah sedikit bayar lagi, dan begitu seterusnya.

“Pokoknya, pengeluaran. Lebih banyak bayar pungutan daripada buat beli bensin atau masuk ke bengkel. Dikit-dikit, ditilang polisi. Terus, bayar retribusi yang bikin bingung,” tuturnya jengkel.

Tahun 1974-an, dia akhirnya mulai berdagang tebu. Banyak tempat yang sudah disinggahi. Dari kawasan Jakarta Kota, Manggarai, Monas, dan hampir seluruh penjuru Kota Jakarta pernah disinggahi. Dia sendiri yang mendorong gerobak, membeli batangan tebu, sampai menjualnya.

Saat maraknya aksi penembakan misterius yang dikenal dengan sebutan petrus di tahun 1980-an, Hasan agak ketakutan. Setiap hari dia khawatir kena sasaran. Dengan kondisi Jakarta yang serba mencekam, dia memilih berjualan di pinggiran Jakarta.

Era itu, Jakarta memang sangat mengerikan dengan sering terjadinya penembakan misterius yang berakibat kematian. Targetnya, pelaku kriminal. Oleh pemerintahan Soeharto saat itu, operasi ini disebut sebagai shock therapy bagi penjahat kambuhan. Diperkirakan ribuan orang preman dan residivis, tewas.

Jakarta mengerikan dan semua orang ketakutan. Apalagi kayak saya yang jualan di jalan-jalan, mending cari aman dan tidak mau ambil resiko. Udeh gitu, yang nembak tidak ditahu keberadaannya,” paparnya.

Walaupun situasi menakutkan, tahun 1985 dia akhirnya menikahi seorang gadis sekampungnya bernama Fatmawati yang kini berusia 40 tahun. Selisih umur mereka 12 tahun. Untuk mereka, sebuah rumah petak berukuran luas 53 meter dibelinya di Jalan Balap Sepeda, Jakarta Timur. Saat itu dibeli dengan harga Rp 2 juta. Rumah itulah rumah pertama miliknya.

Dia bersyukur, hidup di Jakarta masih memiliki tempat tinggal. Hasan mengistilahkannya sebagai gubuk. Jika dibandingkan dengan pendatang lainnya di Jakarta, tidak sedikit yang tinggal di kolong jembatan. Tidur hanya beralaskan koran. Bahkan tidak sedikit yang tinggal di gubuk yang lebih reyot dari tempat tinggalnya.

Rumah itu mempunya kenangan manis dalam hidupnya. Di situ ia membesarkan tiga anak gadisnya. Sayangnya, hanya tamatan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Anak gadis paling bungsu masih sekolah SLTA, yang kedua belum bekerja, dan anak pertamanya bekerja di supermarket.

Dapat membeli rumah, baginya tak sia-sia datang ke Jakarta. “Asli 100 persen dari pendapatan berdagang tebu,” ujarnya. Sayangnya, dia tidak berniat menyekolahkan anaknya di sekolah tinggi. Pemikiran itu dilatari dengan banyaknya sarjana yang akhirnya menjadi pengangguran. Apalagi, Hasan hanyalah seorang pedagang tebu yang penghasilannya pas-pasan dan tidak punya koneksi di perusahaan manapun.

Untuk bekerja di Jakarta, menurut dia, jangan harap bisa diterima jika kita tidak punya uang dan koneksi. “Mendingan jadi pedagang saja. Banyak sarjana yang akhirnya nggak kerja. Cuma ngabisin uang,” ketusnya.

Akhirnya, pilihan hidup sebagai pedagang air tebu sudah harga mati. Bahkan dia berkeinginan berdagang air tebu sampai akhir hayatnya. Dia tidak perduli bila malam hari untuk mengangkut tebu sendiri. Mendorong mesin pemeras tebunya dari rumah menuju lokasi jualannya sejauh 500 meter.

Intinya, kata dia, batangan tebu adalah sumber hidupnya. Dari tebu, bisa membeli rumah, bisa menikah, bisa menyekolahkan anak, dan memenuhi kehidupan. Yang terpenting, lanjutnya, tidak ada yang kelaparan walaupun penghasilannya pas-pasan dengan hidup sekadarnya.

Batangan tebu dikirimnya setiap malam yang ditumpuk di bawah rel kereta api kawasan Sunda Kelapa, Jakarta Utara. Seorang warga Tionghoa, menjadi cukong tebu yang dikirim dari Tegal, Jawa Tengah. Hampir malam, Hasan membawanya berkarung-karung ke rumahnya di jalan Balap Sepeda, Rawamangun, Jakarta Timur.

Dia tidak pernah menghitung banyaknya batang tebu yang dihabiskan. Usai memerasnya, ampas tebu dikumpulkan di tempat sampah yang tersedia di belakang dagangannya. “Tapi, bayar sampahnya juga mahal. Di tempat lain, paling baying Rp 10.000. Kalau di sini, Rp 35.000 setiap bulannya,” ujarnya.

Hari sudah semakin siang dan panas kian menyengat. Istrinya datang membawa makanan dan ikut membantu menuangkan es tebu kepada pembeli. Hasan, tetap mengelik batang tebu. Mesin dinyalakan lagi. Sari tebu kembali tertampung. Digayungnya es tebu dan dituangkannya ke dalam gelas. Hasan meneguknya. Ia menikmati es tebu buatannya sendiri, yang jauh lebih manis dari hidupnya.

2 komentar:

Anonymous said...

Kepada Yth. Bapak/Ibu/Sdr/Sdri.

Saya Iko di Tegal,Jateng. Saat ini di Tegal sedang menjamur penjual es tebu. Kebetulan saya sendiri sudah punya 3 cabang dan 3 mitra usaha.untuk Mesin dan pasokan tebu jangan kuatir, karena di daerah tegal dan sekitarnya saya yang yang memasok. Untuk Info Silahkan klik www.estebu.blogspot.com Berminat silahkan call ke 081334202895.
Terima kasih atas perhatiannya.

Hormat saya
iko

Jati said...

Kalau anda mungkin berminat dengan gilingan tebu, kami ada sedia ready stock.
Silahkan mampir ke http://jatimegah.indonetwork.co.id/1414751/mesin-pres-tebupres-tebujuicer-tebugilingan-tebu.htm

Sedia pula suku cadang gearnya.

Terima kasih