Feature Story News

Setubuh kaku pria tak bernyawa di atas dipan. Kulit tubuh dan wajahnya sudah agak membiru. Tiga orang bernyawa hanya bisa memandangi tu...

Bercengkrama Dengan Mayat

Setubuh kaku pria tak bernyawa di atas dipan. Kulit tubuh dan wajahnya sudah agak membiru. Tiga orang bernyawa hanya bisa memandangi tubuh kaku sambil ngobrol berbisik. Tiada kesedihan yang terlihat dan juga keseraman. Hanya ada ketenangan. Kecuali, sesekali suara motor dan mobil dari luar gedung yang melintas.


Di pintu kedua yang tak jauh dari tubuh kaku itu, beberapa orang tertidur di ruangan yang dijadikan tempat sembahyang bagi umat Islam. Hanya ada beberapa bangku panjang yang sedang ditiduri dua orang pria. Ruang itu terasa pengap. Hanya ada satu cahaya neon dan satu kipas angin model gantung. Sisanya, penerang dan udara dari alam.

Ruangan itu, ada etalase kaca layaknya kios pedagang. Menjual sarung, celana dalam, minyak wangi, sampai kapur barus yang harganya bervariasi, dari yang harganya Rp5000-an sampai Rp85.000-an. Sunyi dan hanya sesekali saja, ada orang yang ngobrol sambil berlalu. Tidak terlalu panas. Bangunan itu, didesain dengan langit-langit sekira tingginya 10 meter.

Terus masuk lebih dalam, akan ditemui peti mayat bertumpuk dua susun. Hanya peti mayat, kosong. Ukuran panjangnya dua meter dengan lebar kisaran 50 centimeter. Warnanya kecoklatan tua, tampak masih rapi dan kokoh. Sebagian terselip di bawah lintasan jalan rata menuju lantai dua yang mengarah ke ruangan lemari mayat. Ada juga keranda mayat yang ditutupi kain berwarna putih.

Selain ditemui peti dan keranda mayat, beberapa tumpuk kayu nisan yang sudah diberi angka tanpa nama itu, tersandar di tembok yang tak jauh dari peti mati kosong itu. Saya membayangkan, kayu tak bernama itu untuk mayat-mayat yang dikenal.

Saya juga melihat ada tumpukan kayu nisan yang sudah diberi angka bernomor 037 tanpa dicantumkan nama. Kayu-kayu itu, tersandar di tembok yang tak jauh dari peti mati kosong itu. Saya membayangkan, kayu tak bernama itu untuk mayat-mayat yang dikenal.

Ada tangga besi dan jalanan menanjak untuk kereta dorong mayat, menuju lantai dua. Tempat itulah, yang menjadi penyimpanan mayat. Ruangan itu tertutup rapat. Di Dekat pintunya, ada keranda mayat yang ditutupi kain putih. Ada beberapa lobang ventilasi udara. Udara tidak terlalu panas, namun terasa pengap. Ruangan tertutup rapat. Ada lampu penerang.

Masih dilantai dua. Tak jauh dari tempat penyimpanan mayat, ada ruangan terbuka berukuran 4x4 meter, ada dipan kayu. Biasa dijadikan sebagai tempat pemandian mayat. Suasana sepi, mungkin yang menyebabkan ruangan itu menjadi menyeramkan. Tak ada bau apapun, seperti yang selama ini banyak diceritakan orang.

Itulah kamar mayat Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo (RSCM) yang berada di Jalan Salemba, Jakarta. Tertulis di bagian depan gedung itu, Instalasi Pemulasaraan Jenazah. Gedung bagian tengah terlihat sudah tua dengan bergaya arsitektur Eropa. Bagian gedung bekas peninggalan zaman penjajahan Belanda. Sedangkan bagian depan dan belakang, gedung yang dibangun tahun 1992.

Bagi Hasbullah, 47 tahun, suasana keseraman dan keangkeran kamar mayat RSCM, tidak ada pengaruh dengan pekerjaannya. Cerita horor yang membuat masyarakat takut, menurutnya, tidak beralasan. Dia mengatakan, “tidak ada yang seram dari kamar mayat ini.”

Sudah 22 tahun dia bekerja di instalasi jenazah, tidak pernah melihat hal yang aneh atau mendengar suara-suara menakutkan. Apalagi, ada cerita-cerita hantu gentayangan. Tidak hanya siang, suasana malam pun sudah terbiasa layaknya ruangan pekerjaan lain. “Selama ini tidak pernah ada yang aneh,” tuturnya.

Hasbullah kelahiran Bandung, Jawa Barat pada tahun 1959. Menikahi seorang gadis yang dikenalkan orang tua dikampungnya tahun 1990 dan tak lama kemudian, langsung dinikahinya. Dari perkawinannya, kini sudah memiliki tiga anak. Yang paling dewasa masih sekolah lanjut tingkat pertama (SLTP) kelas tiga.

Sebelum menjadi penjaga mayat, dia menjadi supir oplet di Jakarta pada tahun 1980-an. Hanya tiga tahun, dia kemudian berhenti. Kemudian, beralih ke angkutan kota (angkot) lainnya. “Mobil jenis Colt” tuturnya. “Pagi, siang, malam, pokoknya cari penumpang. Waktu itu enak, belum kawin,” ujarnya.

Di tahun 1985, seseorang kawan menawarkan pekerjaan. Kebetulan sedang sangat dibutuhkan untuk tenaga baru. “Awalnya, tidak disebutkan sebagai pekerja mayat,” ujarnya. “Teman hanya bilang, pekerjaannya sehari-sehari melihat darah.”

“Ternyata kerjanya sebagai penjaga mayat. Teman menyarankan agar kesempatan itu diambil saja. Apalagi menyangkut masa depan dan akan mendapatkan status sebagai pegawai pemerintah. Punya dana pensiun,” kenangnya.

Dia bingung. Orang tuanya juga mendukung dan menyarankan agar pekerja itu diterima. Apalagi, kata Hasbullah, ibunya beralasan selama ini pekerjaan yang dilakoninya sebagai supir tidak punya penghasilan tetap. “Akhirnya, saya coba saja dulu,” tuturnya.

Awalnya di RSCM, dia tidak langsung bekerja di kamar mayat. Lagi-lagi sebagai supir. Bedanya, dia membawa mobil jenazah yang tiap hari antar jemput mayat. Jika malam hari, mau tidak mau, dia turut menemani teman sekerjanya di ruang mayat. Hanya diawal masuk saja, dia merasa tegang dengan suasana kamar mayat RSCM.

Tak lama kemudian, akhirnya diminta untuk turut memandikan mayat dan sekaligus bekerja penuh di ruang jenazah. Sebulanan dia harus menahan rasa jijik dan aroma bau mayat. Dia harus menahan muntahan. Namun lamban laun, suasana seram, jijik, dan angker, akhirnya menjadi teman hidupnya sehari-hari.

Biasanya memandikan mayat pakai sarung tangan, kini lebih leluasa tidak menggunakannya. Yang paling terpenting tangan bersih dan seusai memandikan mayat langsung mencuci tangan. Memandikan mayat atau melihat mayat dengan tubuh hancur tak berbentuk, baginya sudah bukan hal aneh lagi.

Saya menemuinya di ruang administrasi Instalasi Jenasah RSCM. Tempatnya, persis berhadapan dengan peti mati dan keranda tanpa mayat di lantai satu. Dia terlihat tenang. Lelaki ini, mengenakan kopiah hitam dengan baju dinasnya berwarna hijau bercelana katun hitam.

Diruangan itu, ada buku besar. Banyak daftar nama mayat yang dikenal maupun tak dikenal. Dua orang lelaki dari balik loket bertanya kepada Hasbullah tentang adanya mayat yang mati di laut. Lelaki itu ingin mengenali tanda-tanda mayat untuk memastikan korban dari keluarganya atau bukan.

Dengan pertanyaan itu, Hasbullah memberikan dua pilihan, menanyakan ke bagian forensik atau dipersilahkan melihat langsung tubuh mayat tak dikenal itu. Dari banyak orang yang diberikan pilihan itu, kebanyakan memilih yang pertama. “Supaya mereka tidak penasaran, kita tawarin lihat mayatnya. Asalkan jangan muntah saja pas lihat mayatnya,” tuturnya.

“Bukan apa-apa. Khawatir muntah saja. Kalau memang bisa bertahan untuk melihat mayat dan baunya, ya… kita persilahkan untuk mengenali mayatnya. Kita terbuka. Apalagi, mayat yang tidak dikenal,” ujarnya.

Mayat yang datang, tidak pernah mengenal waktu. Saat piket atau lelap tertidur ditengah malam, kadang ada petugas kepolisian yang datang membawa mayat tak dikenal. Kebanyakan, yang matinya kecelakaan atau sudah tergeletak tewas di trotoar. Bahkan, yang tubuhnya hancur dilindas kereta api.

Jika mayat yang tak dikenal dan sudah harus dikubur, karena tidak ada keluarga yang mengambilnya, Hasbullah mengatakan, harus tetap dimandikan. Tubuhnya dirapikan seperti biasa. “Biar tubuhnya sudah hancur, harus tetap dimandikan,” ujarnya. Dia tidak sendiri, ada beberapa teman lainnya. Khusus untuk mayat perempuan, dimandikan oleh penjaga mayat perempuan.

Menjelang petang, Hasbullah terlihat sibuk. Dia harus membuat surat jalan untuk mayat yang akan diambil oleh keluarganya. Pintu besi penghubung ruang forensik dengan ruang mayat, terbuka lebar. Seorang petugas forensik menuntun kereta dorong yang sudah tergeletak mayat tertutup kain putih. “Sudah tidak ada bau kan,” tuturnya, tersenyum sambil berlalu.

0 komentar: